Minggu, 30 September 2018

MASHAB NGOPI



“Tuhan, ampuni kekhilafanku untuk telah terlambat menunaikan ibadah Ngopi, setelah ini aku berjanji untuk bertekad tidak melakukan perbuatan tak senonoh itu lagi (Usman Arrumy).

Ngopi aktivitas sangat pintar bagi yang arif, orang sawah sepertiku hanya berusaha membawa aroma kopi waktu pagi menjadi berarti, sebagai bukti penikamat kopi memberikan sari pahit atau manis mampu diterjemahkan, Dikatakan ngopi pintar, ketika bisa membuktikan dengan mencangkul ladang membuahkan hasil, hasil dari aroma ladang dari usaha menyelesaikan, setiap pekat penuh dengan rasa gelap. Namun di sini bukan filosofi kopi yang saya tuliskan, karena sudah dituliskan, oleh penulis terkenal Dee Lesatari dengan judul novel Filosofi Kopi.
Rasa-rasanya sudah bukan waktunya membahas kopi lebih dalam, mengenai kopi dan ngopi di era modernisasi. Sudah banyak paham sebelum dijelaskan, potret kehidupan modernisasi yang telah terjadi.  Sebab sudah banyak di kampus-kampus, bahkan area kota pendidikan sangat biasa tempat ngopi atau dikenal, dengan ngonkrong pintar sambil ngopi, ngopi menurut bahasa dalam makna secara umum memiliki arti meminum kopi, walau tidak bagi dalam bahasa namun itulah bahasa sifatnya arbiter. Orang yang menimun kopi, penikmat kopi mungkin ngopi memiliki arti beda dari setiap pembentuk rasa.
Banyak mahasiswa yang gemar meminum kopi, entah itu menikmati atau hanya mencari hiburan diri dikarenakan terlalu sakit dirundung sepi. Sehingga ngopi menjadi tempat paling digemari, penggemar kopi bukan saja dimiliki kaum tua yang biasanya mencangkul, membajak dan memanjat di ladang, kopi yang biasanya disandingkan dengan singkong, dinikmati saat pagi bersama matahari menyapa dengan cahaya estetik yang tak terasa hampa walaupun keringat hangat, tetap saja semangat bersama kopi hangat.
            Penggemar kopi di era modernisasi tidak dapat lagi tolak lagi. sebagai aktivitas ngobrol pintar sambil nyeruput kopi, “katanya”. Aroma kopi seperti apa yang menjadi penggemar kopi di kalangan kaum muda milenial hari ini. Sangat tidak tahu dalam menafsirkannya, kaum muda penggemar kopi di era sekarang. Namun tempat mengopi sekarang sangat beranekaragam, ada yang rumah kontrakan dijadikan tempat ngopi, seperti halnya Omah Diksi, ada Kafe sebagai tempat favorit menimati kopi. Sangat banyak cara dan tempat penikmat kopi di era modernisasi.
            Hingga pada akhirnya mereka meminum kopi dengan cara berbeda untuk menemukan kenikmatan dari kopi, ada pula tidak merasakan meminum kopi tapi hanya eksistensi mengikuti apa yang telah dilakukan teman-temannya, seperti halnya Didi rasakan. Setelah mendengar temannya “Rudi”, berbahasa dengan bahasa dengan baik dan benar bahkan tersetruktur saat di dalam kelas. Didi mengidentifikasi apa benar Rudi bisa karena suka ngopi. Bertanya pada hatinya. Ia bisa seperti itu karena ia setiap malam suka ngopi sampe larut malam “katanya”. Sehingga menganggap memiliki mashab kopi yang membuat bisa hijrah dari sebelumnya tidak tahu apa-apa, hingga sangat signifikan sekarang sudah bisa. Namun tidak mengetahui saat ngopi itu apa yang dilakukan, dikerjakan dan dibicarakan Rudi, berpikir bahwa ia seperti teman pada umumnya kalau ngopi, meragukan kalau hanya ngopi yang bisa membuat revolusi, jika ngopi meningkatkan rasa sosialis menurutku itu nyata, serta tidak ada mashab ngopi darinya yang diikuti olehnya.
            Mashab ngopi apa yang dilakukan seorang untuk bisa memaparkan penjelasan di depan itu?, di tempat minum kopi banyak mashab kopi yang harus ditiru, era modernisasi ini harus pandai-pandai menyaring mashab ngopi. Lah setelah mengetahui mashab, itulah kesadaran kita sebagai orang penikmat kopi bisa menjadi seorang penikmat cerdas, penikmat cerdas bukan penikmat rasa kopi saja, namun bisa menemukan pahit dalam isi kopi dijadikan sebagai mashab diri yang mampu membuka siapa diri kita. “Bahwa kudrot kopi pahit, kutdrot gula manis, dan kudrot diri kita bisa menemukan kodrot diri-Nya”.
            Banyak cara menemukan mashab ngopi yang baik. Kita bisa menafsirkan dengan baik sebelum tidur sepulang ngopi, bisa menemukan sebuah arti dari pahit dan manisnya kopi. Mungkin saja mashab ngopi hanya dimiliki oleh orang-orang pecinta kopi, walau mereka yang tidak suka ngopi merasakan, rasa kopi sesungguhnya. Apalagi mereka yang memiliki mashab kopi sawah/ladang. Kopi sawah bukan dibedakan dari bentuk kopinya atau komposisinya, namun letak dalam menemukan filosofinya membenturkan dengan realita, pada saat capek, lemas bahkan sudah tidak merasakan apa-apa dari apa yang ada dalam kehidupannya. Kecuali lesu dan keringat hangat menyengat membuat kopi pahit menjadi manis, yang manis menjadi pahit, sebagaimana menyandingkan kopi dengan singkong rebus, kacang rebus, bahkan pisang rebus. Mashab itu menjadi instalasi cakrawal ilmu tentang hidup akan tumbuh untuk penikmat kopi yang berada di sawah.
             Suasana ngopi di sawah akan berbeda dengan suasana ngopi di kafe, warung kopi paling signifikan ketika senang ngopi di pinggir jalan, mungkin mirip dengan ngopi di sawah sabab di pinggir jalan akan menemukan sebab, banyak investasi pengetahuan dalam menganalisis, menerjemahkan setiap perjalanan manusia hidup sebagaimana dijadikan refleksi untuk kembali. Sambil lalu menyeruput kopi “hereuupp”, kenikmatan kopi terasa ketika apa yang dirasa menyatu dengan suasana. Mashab ngopi di kafe akan merasakan ngopi yang beda dengan mashab ngopi di sawah.
            Ada pula suasana ngopi paling cerdas, cermat dan hemat. Ngopi di kos atau di kontrakan teman, paling beruntung ngopi di kos, jika yang main ke kos teman dan dibuatkan kopi, kopi pahit menjadi manis yang pahit menjadi manis. Mungkin saja itu rejeki atau memang itu dicari, ketawa Didi. Mungkin Itu ngopi paling dicari walaupun mashab dari keduanya tidak ada, sama halnya kita memahami hidup tidak hanya memahami siang dan malam, namun dalam hidup juga perlu memahami senja sore, serta senja pagi sebelum subuh nanti, memiliki nilai estetik yang antik, tapi belum pernah ditemukan cara memilikinya.
            Mashab ngopi di kafe atau ngopi di sawah, harus bisa mengetahui, memahami bedanya ngopi pada saat malam, bahwa ngopi pada saat pagi dan siang memiliki kerangka imajinasi beda jika menikmatinya. Jika ngopi malam hanya akan bisa menemukan rumus atau cara menyusun konsep hidup untuk esok. sebab hidup di masa akan datang penuh tanda tanya?, perlu konsep yang tercatat untuk bisa dirancang dengan baik, walau tetap tak bisa menjadi yang tepat apa yang telah tercatat.  Ngopi pada saat pagi hari. Sebagai manusia cerdas sudah bisa melakukan sebuah konsep yang telah dirangkai semalaman suntuk untuk bisa mengerjakan perancagannya.
Pada saat pagi dan siang itulah “ngopi” yang hakiki bisa dirasakan, dilakukan, dinikmati walau kadang racikan kopi tak sesuai dengan ukuran pahit dan manis yang ditemukan dalam secangkir kopi itu. Kopi sebagai teman dan ngopi satu kesatuan dari apa yang dibenci menjadi rindu dan rindu menjadi benci. Tugas manusia yang suka ngopi bisa memiliki mashab sendiri dari yang terjadi hari ini, menerima pahit dan mencari yang pahit untuk menjadi sahid.
Terpenting mashab ngopi di sawah jangan berhenti mencangkul, membajak dan menanam. Begitupun sebaliknya yang mashab ngopi di kafe tetap membaca, mendengarkan, dan menuliskan. Apapun bentuk kopinya yang penting nikmati, resapi jangan ditawar lagi. Itulah kudrot kopi yang awalnya hanya ada di hutan ditemukan diperuntukkan, kecuali hewan Landak yang memakannya menjadi hasil yang dikenal dengan luwak kopi yang bagus (luwak kopi), menjadi biji kopi yang dicari, padahal keluar bersama dengan kotorannya, mengapa masih menjadi kopi yang dicari?, renungkan saja sebelum tidur nanti.
            Bagi mashab ngopi yang cerdas akan memilih dan memilah apa yang ada, bukan menerima apa adanya, dari apa yang sudah ada namun tidak ingin menikmati kopi, sesuai dengan apa yang dirasa dan dibisa, luwak kopi berharga karena ia pandai menelan biji kopi. Sebab kopi tidak pernah menjadi subjek dari kehidupan kita untuk bahagia. Namun tetap pencipta mashab kita sebagai manusia menjadi subjek. Selamat berbahagia bagi penikmat kopi, selamat beribadah ngopi bagi yang dirundung sepi, mulailah bukan menjadi penikmat namun pencita nikmat.

Sabtu, 29 September 2018

Tiba dengan Kisah Sejarah

Matahari telah tiba dengan setiaEmbun pagi telah tiada tanpa disengajaBurung-burung pagi telah pergi mencari asi anaknyaNuansa malam telah tenggelam dalam leburan kalam-kalam doa tentang-NyaGambaran cerita dari seorang sahabat menghambat pola pikir yang kikir atasnyaAku tak pernah menyangka kalau ia akan merasaAtau aku yang terbawa suasana yang tidak direncanaKeadaan yang hari kemarin menjadikan aku rindu atas namamu yang membekasMembekas dalam benak dan pikirankuMembekas dalam naluri dan jiwaMembekas dalam karma manusiaBahwa cinta itu yang suci dan murni atas segalanyaKetika pertama kita berjumpaKekosongan dalam diri terisi ketika hati telah menataMemaksa dengan keadaan yang sangat keterbatasan atas ketidak selarasan dengan adanyamuBahwa denganmu pagi itu akan lengkap dengan adanya secangkir kopi hangatBerkeringat asmara kita dalam cita-cita manusia yang paling sederhana;Yaitu atas nama Cinta yang masih berhak atas segalanya yang tidak sesuai dengan adanya.


30, Sepetember 2018

Romusa di Kafe Elele



Robusta yang ku takar tak dapat kukira saat dirasa
Hitamnya masih saja setia
Kudrot pahitnya saja diganti
Yang pahit ku sulam dengan manis
Lantai yang masih saja bermakna ketika kaki menjelma di atasnya menjadi perkenalan beberapa kali
Mengenal manis dan pahit robustra bukan terpaksa bukan menerima namun mencerna robustra cita rasa dunia
Dengan apalagi aku mengenal rasa kalau tak mencicipi disini
Secangkir kopi robusta tercipta dari namamu
Nama yang aku dambakan yang kuanggap penawar
Dari pahit dan manisnya robustra  yang sesuai cita-cita bisa dirasa bahwa itu cinta
***
Setelah robustra dingin rasa itu berbeda, tidak tau kenapa
Memaksa bahwa senja disulam dengan robustra akan tetap terasa sama; kecuali hati telah memaksa
Sebab membenci samahalnya menderita
Senyum samahalnya bahagia yang menunda derita.

Malang 29, September 2018

Selasa, 25 September 2018

Kopi yang Mengabdi




Ku ketuk pintu saat pagiAku dengar lagu Melly Goslaw Ratusan PurnamaAku dengar itu dengan nyanyian dalam rasa bukan sekedar maknaAquarium bergoyang dengan estetika menggodaku tuk pendiriankuSerulingnya berdebu seperti abu memasuki ke dalam kelopak mata mengajakku pada cakrawala baruSorot mata itu masih saja terpancar jelas seperti matahari pagi yang laluAku tak tahu kalau seseorang yang aku bayangkan itu hanya sekedar dalam jiwa menyalakan api setelah membiarkan api membakar kayu “kau tak tau jika nanti api akan hanya sekedar membakar”Selamat pagi kau yang disana dengan rasa kopi pagi yang tetap ku berdiri disini bersama naluri mengabdikan aku padamu yang tanpa tau akan menjadikan aku dan kau Satu.


Malang 25 September 2018

Sabtu, 14 Juli 2018

Buku Antologi Puisi Gerilya deraian sajak-sajak






Pengantar


            Bukan hanya tentara yang dapat bergerilya. Semua orang dapat bergilya, bahkan dengan cara sembunyi-sembunyi, tanpa membawa banyak senjata di tangan kanan dan kiri atau di pundak dan ransel. Namun senjata yang paling kuat adalah hati, meski luka, terhina, tercabik. Darah yang mengalir dari mata tak akan berarti apa-apa, sayatan pedang menghantam langkah kaki, hingga kepala terhimpit batu besar, tetapi selagi nyawa masih dalam raga gerilya tetap harus dilanjutkan.
            Gerilya ini tidak banyak melawan musuh namun hanya ada satu nama. Nama yang sekian lama memenuhi ruang di kepala, nama yang puluhan tahun selalu membuat hati bergetar ketika didengar, hingga nama itu menjadi tujuan utama dari perjuangan ini, yaitu ibu. Ia menemani sembilan bulan lamanya, hingga rasanya tak ada satu haripun terlewatkan dari lembut sapuan tangannya. Namun waktu mampu memisahkan balita dari pelukan seorang ibu.
           
V
Ibu bukan hanya sebuah kata yang dipuji-puji saja, ia adalah pelestari manusia-manusia di dunia. Jika disimbolkan, ibu seperti air yang menghidupi manusia, lalu seperti matahari yang membuat terang, atau mungkin seperti udara yang membuat manusia hidup. Tapi diantara kata-kata itu tidak satu katapun yang mampu mengibaratkan seorang ibu. Lalu bagaimana bila manusia hidup tanpa ada air, matahari dan udara? Apakah masih mampu bertahan hidup? Mungkin bisa namun tidak sekuat yang hidup dengan tiga benda tersebut.
Antalogi puisi ini hadir dikala jiwa sedang tergoncang, hati sedang gelisah dan dada terasa sesak. Kemudian ia menjadi penyejuk yang menyegarkan, hangat diantara senyum mentari, lalu sebagai sinar yang masuk diantara bilik-bilik rumah. Tak akan mati oleh banyaknya masa,karena ia bukan manusia. Saya terkejut ketika membaca judul-judul puisi yang indah dalam antalogi ini, dari mahasiswa yang sedang berjuang dengan badai yang sudah menunggu di depannya.
Antalogi puisi ini adalah kronologis peristiwa yang menarik untuk diapresiasi. Bagaimana penyair mampu bermain-main dengan kata. Kata-kata yang mampu menari-nari diantara bait puisi, seperti: perih, tertatih, Mandasari, Shopia, semediku, alif, Ibu dan Tuhan (azimat), siklus, putih, melati dan kamboja, dan puisi lainnya.
Hitam putih tanpa letih perih, bertatih, berlerai darah demi mimpi dirinya, bukan diimpikan mereka, dunia rasanya berat mengancamku tuk menyerah.
Perisai perangku....
Perisai rasa cinta pada mereka bagaikan berlapis-lapis baja
Senjataku....
Pedang cita-cita yang diselimuti rasa cinta, pada mereka
Nahkodaku....(Puisi Perisai Perangku)
Puisi diatas yang berjudul Perisai Perangku bagaimana ia merasakan perih, tertatih, dan berlerai darah demi mimpi dirinya adalah ungkapan ekspresi dari penyair yang menyiratkan kesakitan yang sedang ia rasakan ketika bergerilya. Puisi tercipta dari imajinasi yang berasal dari realita dan ia mampu membuat pembaca mengerti isi hati dari sang penyair. Puisi mampu menjadi wadah sebagai luapan perasaan seseorang. Tidak tercipta dari tangan orang-orang yang senang, melainkan dari mereka yang sedang perang. Kata-katanya mungkin berupa khayalan dari kenyataan, mungkin harapan, kekecewaan, kemarahan atau kebahagiaan. Ia memiliki berbagai penafsiran.
Antalogi puisi ini walaupun memiliki tema yang sama namun disetiap judul memiliki karakter sendiri-sendiri. Setelah saya membaca antalogi puisi ini, saya mampu menafsirkan betapa rindunya seorang penyair terhadap sosok ibu. Contohnya terdapat dalam puisi Perempuanku.
PerempuanKu…                                                                             
Aku merindukanmu, kau yang pernah mesra kau pernah benahi kancing kemejaku dan merapikan rambutku
PerempuanKu…
Menunggu di depan pintu saat aku tak meminta tunggu, dengan mesra kau tanyakan aku “Nak sudah makan?”
Dengan mesra kau suapi saat pisau mengirisi hati yang menyepi.
            Dari penggalan puisi diatas saya mampu mengambil simpulan bahwa perempuan yang dimaksud sang penyair adalah seorang ibu. Yang menandai adalah kalimat “Nak sudah makan?” siapa orang yang berkata demikian di rumah selain seorang ibu? Mungkin ada orang lain tapi itu jarang. Puisi diatas mampu melukiskan rasa kerinduan penyair terhadap seorang ibu.
           
             

“Gerilya” sebuah judul untuk pengantar antologi puisi ini. Judul tersebut sebagai penekanan bahwa penyair sangat merindukan sosok ibu. Betapa seorang ibu tidak dapat digantikan keberadaanya dengan siapapun. Dalam kerinduannya mencari sosok ibu, penyair tidak hanya berdiam diri. Tetapi ia tetap bergerilya menjejaki bumi untuk menemukan sosok itu tak peduli badai apa yang akan menerjang.


Inggit Esa Pawestri
Penulis Novel Bintang di Langit





Catatan Penulis
Buku ini edisi revisi sudah cetakan kedua, dengan banyaknya masukan membuat saya berpikir tentang originalitas sebuah karya, Cita-cita dari seorang anak muda yang sangat senderhana untuk menerbitkan antologi puisi dengan judul buku Geriliya dituliskan dalam waktu yang panjang dengan penyusunan yang penuh perjuangan, dari tempat-ke tempat. Senantiasa mengembara dalam kata-kata, sehingga dengan izin Alloh Swt, dengan kejenuhan dan kemalasan saat menuliskan segala jalan hidup dan alam yang senantiasa selalu memberikan inspirasi.
Menulis rasanya sangat membosankan dan menjenuhkan sehingga dalam jalannya sangat tidak mungkin Tuhan tak berperan atas segala terciptanya kumpulan dari sajak-sajak ini, dalam setiap perjalanan panjang ini selalu saya jadikan rangkaian kata dan bahasa yang bermakna ini sedikit berxerita untuk memberikan makna pada pembaca. Sehingga tercipta cita-cita anak muda untuk memberikan suatu harapan menjadikan segala impian anak muda membanggakan yang berada di belakang kertas-kertas kosong,

XX
dan saya jadikan semua deraian tinta hitam ini menjadikan senyum indah yang membanggakan bagiku, serta bagi manusia pegiat leterasi membaca sastra ini, terutama pada manusia kecil yang tak mampu berpikir.
Antologi puisi ini. beberapa lama saat saya berada dan mengetahui dunia lepas dan dunia terikat, yaitu pendidikan formal (saat belajar diperkuliahan). Berusaha mengumpulkan kata-kata. Sehingga saya harus berhenti belajar di kelas di bangku kuliah, saya harus istirahat dengan cuti kuliah, sehingga belajar di dunia lepas dan bebas dengan bahasa, serta kata-kata dan keindahan bukan hanya ada dalam kelas dan buku. Di luar kelas pun tercipta beberapa pengetahuan yang dapat dipahami, tentang pengetahuan serta rasa cinta yang membentuk keindahan.
Antologi puisi pertama ini akan saya persembahkan kepada seorang yang saya rindukan, selama saya mengenalkan dunia dengan arti cita-cita serta manusia mengenal cinta, kepada semua dan arti siapa diri ini. Dan kehidupan ini duntuk apa. Syukur Alhamdulilah Tuhan izinkan saya terbitkan antologi puisi dengan judul Kumpulan Puisi Geriliya, sehingga cita-cita ini sebelumnya nanti lulus kuliah. Bisa bertemu Mama dan saya dipersembahkan karya sederhana ini kepada Mama, Bapak dan sahabat-sahabat dan serta Guru SMA Negeri 01, Blega Pak Faisal AS, Lutfianto, Lora Marzuki, Indri Dwi Jayanti, Siti. Aisyah, Rudi H.K, Samsul, Moh. Khusnul Yaqin, Moh. Taufik, Ismail, Ach Sahrul, Moh. Fadlon, Jafar Sodik, Aprilia Nur Wulandari,Wa’anamariana Arbak, yang selalu memberikan dukungan serta masukan dan membantu memotivasi sehingga dengan lancar buku ini tersusun dan bisa diterbitkan.
Sosok seorang Nenek yang selalu mengadirkan diksi-diksi gelap yang berkeringat sehingga semangat menjalani hidup dalam kesepian yang sunyi. Memberikan dorongan untuk menulis. Walaupun menulis rasanya sangat membosankan bahkah kehilangan inspirasi, akan tetapi saya merasa sangat senang, saat saya dapat bisa mengkisahkan segala keadaan kekayanku, dalam kata-kata yang berkeringat, tersusun dalam kalimat dengan harapan sedikit memberikan manfaat. Pada setiap sair yang dibacakan. Setiap insani, sehingga kesetiaan dan komitmen menulis ini walau tak semanis pada pemuda yang lainnya. Ketika hanya melangkah dengan jalan yang manis dan lurus. Dengan goresan pena yang deraian kata-kata pahit menjahit jeritan arti perjuangan.
Tidak mudah dalam melangkah menggaris lurus segala apa yang harus dilakukan, jika antologi ini dapat memberikan kata-kata manis serta bermakna beberapa lama, beberapa tahun telah merencanakan segala mimpi, sehingga saya sekarang dapat menuliskan beberapa sajak sejak estetik, sejak saya mengenal cinta dan keindaahan hidup. Kini sudah sampai pada saatnya buku ini tercipta, dan menuliskan beberapa kata-kata dari tahun lama dalam kertas-kertas kosong. Kini telah sampai saya di pendidikan dan sekarang telah semester V seharusnya. Tapi terhalang oleh keadaan yang tidak diharapkan sehingga harus (cuti kuliah). Sehingga kini masih semester IV, serta menjadi mahasiswa tidak aktif di Universitas Islam Malang (Unisma).
 Sehingga saya berharap puisi-puisi ini dapat memberikan sedikit manfaat. Dan persembahan kepada manusia dan anak bangsa yang hidup berutung, serta membuka pikiran tentang sastra dan estetik dunia dengan kata-kata yang bermakna, dengan rangkaian yang bercerita. Sehingga bahasa sebagai cara kita berkarya, sastra sebagai mencapaikan cita-cita tinggi manusia.

Sehingga mengenal sastra sebagai ekspresi, bercerita dengan refleksi, meditasi, imajinasi, serta berpikir elektis dalam memandang manusia bercita-cita tinggi, sastra masih berkuasa, dalam kehidupan nyata, akan lebih signifikasi cita-cita penulis ketika buku ini memberikan manfaat, makna positif dan jelas kepada pembaca.

Akhmad



Sabtu, 07 Juli 2018

Dingin Itu Pesan Tuhan

sahabatinisia.com


Kota Malang yang dingin kini menjadi bukti, bahwa manusia tak mungkin tahu sebab kecuali itu rasa.
Ada yang berkata bahwa hari ini sangat dingin, bahkan suhu sudah memberi bukti menunjukkan 14celsius.
Ada yang berkata dengan bahasa Kota Malang tak seperti biasanya, hanya rasa yang ada selalu sama ketika rasa cinta berbicara kepada apa yang ada dalam lubuk hatinya.
Dingin kudrot dari angin ketika kita masih ada rasa sebagai manusia. Rasa dingin kota ini menyelimuti naluri, dan berkata rindu.
Di mana, keduanya tak berbentuk, lantaran rindu dan dingin metafisik yang mengusik kadang mengerikan, kadang menjadikan. Bahwa aku masih saja tak bermakna dari apa yang ada pada manusia.
Angin mengutuk, bahwa dingin menitip salam dari pencipta agar dirasa ciptaannya
Salam itu aku terjemahkan sepatah kata bahasa kita Indonesia “rindu”. Mengapa rindu?, rasa itu aku nukil dari rasa bahwa setiap pencipta mampu mambaca dan memahami bahwa setiap hembusan nafas bukan saja sekedar malam dan siang, ada gelap dan terang dipahami, namun ada dingin yang memiliki makna jika diterjemahkan melalui naluri.
Dingin pun bagian dari-Nya yang dirindu saat ku rindu dan benci, dingin pun masih saja berada pada dada penciptaNya berbahagia jika tak dirasa, akan bangga ketika ada manusia mampu membahasakan dingin berkeliaran.
Mungkin saja itu bahasa Tuhan, bahwa dingin 14celsius, kita merasa bahwa itu bukan apa-apa dari pencipta.
Muskil Tuhan mencipta tan sebab.
Rindu mungkin saja bahasa bahasa, yang lahir dari kata menjadi frasa, bahkan kalimat. Dan bertkata. Bahwa..
Rindu hanya cerita dari diri sendiri, yang dimengerti oleh hati bahwa..
Rindu, rasa yang pernah tahu namun lama tak bertemu, mungkin saja, itulah kata rindu.
Apakah Tuhan salah menciptakan rindu itu sendiri agar rasa manusia yang tak pernah bertemu menemukan substansi dari rindu yang lagi pilu.
Menerjemahkan bahwa kata dingin itu bagian dari rasa ingin yang dicipta dari angan, bahwa manusia menjadi terlahir dari apa yang menjadikan.
Sungguh aku sangat dusta merindukan apa yang tak pernah kau pahami dari sebuah salam itu.
Dingin 14 celsius, aku patenkan bahwa aku masih saja tidak tahu bahasa itu, hanya aku hakimkan itu adalah salam rindu bukan hanya untuk aku, namun mereka yang ada di bangunan tinggi, dalam roda dua dan empat, sampai mereka yang berada di kolong jembatan, atau mereka yang tidur pulas di atas becak di pinggir jalan dekat basar besar kota Malang.
Rasa dan kata lebih dulu rasa
Sebab dan akibat lebih dulu akibat
Dingin dan angin lebih dulu dingin.

Malang, 07, Juli 2018



Sabtu, 30 Juni 2018

Meminjam Surga Untuk Ainun

sumber gambar: eangelhododia.com


“Terasa malu aku bicara deganmu anak muda, karena derajatku, denganmu, beda masih di bawah bapak, ada di bawahmu”
“Di sini bapak lagi apa, rumahnya di mana?,
“Aku tak memiliki rumah, tinggalku di kuburan, nak”
“Kuburan mana pak?,
“Makam pahlawan dekat Malang Town Square”, dengan tersendat-sendat bahasa yang dilontarkan dengan getaran bibirnya, fonologi artikulasi kata Twon Square  dalam bahasa penyampaiannya tersendat-sendat.
            Terasa malu lantaran tidak pernah bersekolah, merasakan perbedaan jauh bahwa manusia yang berada di gedung tinggi adalah orang memiliki derajat lebih tinggi pula. Serasa akan menjadi seorang yang gila, melihat raut wajahnya melukiskan wajah orang yang hidup di rumah sudah mencarikan dan memberikan aku belajar di sini, terlukiskan kehidupan yang dangkal dari secengkal harapan dariku yang masih belajar, bahwa masih banyak sendi-sendi kelas dalam pandangan hidup manusia, berharga itu dilihat dari yang nyata. Padahal aku tadinya juga berdosa dibatalkan puasa oleh yang kuasa, lantaran surga itu masih saja aku nikmati sendiri.
Cerita itu terhenti lantaran tidak kuat untuk diceritakan, matanya memecahkan cahaya air, bibir yang kering lantaran seharian berpuasa, hari ini bulan puasa, berpuasa dengan yang kuasa pula. Beruntulah Ainun masih bisa berpuasa, mungkin ini yang dinamakan yang beruntung matI muda, yang tersial berumur tua yang pernah dituliskan Soe Hok Gie dalam puisinya diambil dari tulisan filsuf Yunani.
Bapak Ainun, berkata tatkala berpuasa takut batal puasanya. Yang kuasa bukan tidak melihat tangisanmu dalam perpuasa hari ini, akan tetapi tangisan apa yang dirasakan itu. Puasamu apakah tetap berpuasa akan kuasa Ilahi, hingga nanti berbuasa dengan yang kuasa di rumah yang di puasai hari ini.
Saya masih ingat, pada bulan puasa masih kecil dulu, terhadap kalimat“kalau puasa itu tidak boleh nangis, kalau nangis akan batal puasanya”. Katanya yang masih 20thn yang lalu masa kecil dulu, ternyata bapak Ainun tidak bisa menahannya, sehingga tidak ingin menceritakan lanjut perjalanannya.
Berangkat dari rumah untuk mencari kerja, yang lebih berharga.
Bahasa raut wajah yang linglung, tidak pernah dimerngerti dengan semua yang dijalani “katanya dalam bahasa hatiku”, dengan sebuah keputusan hari ini terjadi, apa harus menyalahkan Tuhan (Allah), atau kah dengan keputusan sendiri yang dijalani hari ini, yang harus aku salahkan?.
Katanya semua yang terjadi semua ini adalah perjalanan dari yang Tuhan rencanakan, yang semua sebab dan akibat itu Tuhan rencanakan.
“Kamu di sini ngapain nak, sekolah ya?”
“Iya pak, sekolah”.
“Berarti kamu tinggal didekat sini nak?”
Pertanyaan dan bahasa tutur yang digunakan mencerminkan pada saat saya ingin meminta tolong, mengingat pada saat diperjalanan tahun 2014 di Cilacap, semua mata dan semua manusia serasa Tuhan ingin disembah, ingin sekali merayunya untuk bisa menolongnya. Getaran bibirnya, ketidak tahuan mengenai penyesalan hidup, mengenai pendidikan. Sekali lagi matanya pecah dengan tersendat-sendatlah kata yang keluar. Kebingungan, keadaan, yang mengajarkan sebuah arti dari hidup yang dijalaninya. Menyimpan banyaknya pertanyaan mengenai hidup yang dibawa, pekerjaan yang dimimpikan sudah hilang sudah tidak jadi harapan, temnnya sudah hilang tidak tahu kemana, lantaran teman yang menjanjikan sudah tidak ketemu.
Di rumah Tuhan ini merasa malu, di sini tempatnya orang yang pintar-pintar, tidak seperti bapak, “katanya”, tidak bersekolah, sehingga dalam proses mencari kerja sulit, apalagi di kota, seperti di sini. Orang-orang itu sangat rapi, sedangkan pakaian bapak itu hanya seperti ini di masjid ini tempat suci. Kesucian tidak bisa berada dilihat oleh mata, tapi hati. Tidak semua suci, karena tidak semua di tempat suci manusia bisa berpuasa, dalam masjid ini pun tidak semua suci, ada yang berangkat dengan niat bersih dan suci, sebelum ke masjid belum tentu dia suci sesuai dengan pandangamu dan pekerjaan puasa itu. Manusia berbanggalah masih bisa bernafas dan hari ini bisa berpikir seperti bapak Ainun.
***
Keberadaan manusia bukan dilihat dari tempatnya, tempat ini bukan saja tempat orang yang berpuasa, jika kau anggap ini tempat surga. Sebentar lagi tempat ini ada kajian kitab Ihyahulumuddin (menghidupkan kembali ilmu agama), karya Al-Ghazali. Bapak yang diajak untuk bisa mengikuti kajian itu, setelah itu berbukalah puasa di sini.
Kalau pun di sini ada surga, surga itu bukan untuk mereka saja, karena rumah suci bukan tempat ia juga. Yang berada di pojok seperti kita melihat dan mendengarkan orang pintar memberikan pengetahuan, sebagai orang awan mendengarkan saja.
“Masuklah pak”
“Malu nak”
“Berbukalah di sini”
“Boleh?”
“Sangat boleh”
Bukannya masuk, bergegaslah kembali keluar dari tempat yang dianggap suci itu. Pemuda itu terasa kehilangan, simpati atas ceritanya, masuklah untuk mendengarkan isi dari tulisan Al-Ghazali. Terdengar ada tiga tingkatan kreteria puasa manusia “katanya”, pertama puasa orang awam yang umum menahan lapar dan minum, yang kedua puasa orang khusus menahan lapar dan minum serta puasa badannya, yang ketiga puasa orang tingkat tinggi Khoasun Khowas puasa selain lapar dan haus, naluri serta dohir dan batin berpuasa. Terdengar jelas rangkaian kalimat yang dirangkai Al-Ghazali, dengan apa yang ada di tempat suci itu.
Ada disalah satu ciri yang mana, sebagai manusia?. Dari apa yang lakukan bapak Ainun itu, bahwa surga ini hanya untuk orang-orang yang rapi dan yang ada dalam tempat suci. Saya sendiri tidak tahu dengan itu semua serasa sudah keluar dari itu semua. Hingga beduk berbunyi.
***
Ainun mengambil keputusan sesuai dengan pilihan hati, sesuai dengan keadaan pula.  Keadaan yang mengajarkan tetang hidup, hidup bagaiamana ia bisa mendapatkan gaji lebih besar dari pada pekerjaan yang ditinggalkan di Ponorogo. Hidup bersama keluarga yang sederhana, yang ditinggalkan menahan kegelisahan atas keberangkatan si tulang punggung. Pergi dengan keberanian tidak memperhitungkan sebuah kejadian, hanya saja apa kata yang terjadi nantilah.
Keluarga anak dan isteri, ditinggal dengan ketidak tahuan mengenai Kota Malang. Rudi yang menjanjikan gaji setiap bulan 50rb di kota ini, tidak ditemukan di kota ini. Tidak mengetahui bahwa Rudi itu sudah membohonginya, penyesalan itu datang ketika tujuan utama tidak dapat diterima dengan keadaan yang sekarang.
Ainun meninggal pekerjaan yang pasti di Ponorogo, dengan gaji yang jelas 30rb, namun manusia yang selalu dikudrotkan oleh Tuhan bahwa rasa yang kurang terus atau rakus, mengenai meterialis. Harapan 50rb sehari pupus, Rudi sudah tidak ketemu, kegelisahan dan keputusan untuk tinggal di kuburan, yang diperhitungkan hari ini keluarga yang ditinggalkan, bagaimana untuk pulang, sedangkan untuk dimakan pun harus menunggu suara adzan dan menyamperi mahasiswa yang membagikan takjil di lampu merah.
Mahasiswa yang diajak berbicara mendengar cerita darinya, masih memikirkan panjang menganai  sekarang yang ingin mencari. Merasakan malu lantaran merasakan bahwa dalam kehidupan manusia dibedakan melalui tempat serta estetika penampilan. Padahal manusia berharga tetap bukan dari yang ada di depan mata, akan tetapi sebuah cara dan sebuah pengetahuan yang bisa dinikmati seperti orang-orang di pinggir jalan seperti bapak Ainun.
Bapak Ainun kembali menunggu apa yang akan terjadi esok, jika Sang Ilahi memberikan jalan kepada Ainun, lantaran tidak bisa pulang perantara mahasiswa, maka bersyukurlah ada manusia yang masih bisa diberi kesempatan akan sadar bisa membantunya.
Kuburan sudah sangat mengerikan, yang biasanya hanya kesedihan. Lantaran makanan serta pegangan sudah tiada lagi di selengkangan serta saku. Keberadaan siang dan malam serasa sempit. Neraka serasa makin dirasa dalam kehidupan, surga hanya berada di saat tidurku yang lelap. Sebuah penyesalan telah datang dari beberapa waktu lalu ketika Rudi sudah tidak bisa ditemui.
Ainun mengundang setiap perjalanannya diselimuti oleh perjuangan yang disesalkan, karena buah hati dan bidadari ditinggal untuk merantau, tidak tahu akan mati atau tidak, yang dirasa dari keluarga hari ini bisa makan apa tidak di sana. Mungkin saja Tuhan akan memberikan kebijakan, jika manusia belum tentu kepikiran ke sana, karena terlalu banyak, termasuk Ainun yang hanya memikirkan dirinya sendiri, daripada memperhatikan kehidupan manusia lain. Kecuali rasa itu sudah Tuhan bentuk dan dituliskan di laufilmahfud1 akan dipertemukan dengan manusia yang diperuntukan mengobati kegelisahanmu.
Bercakapalah kembali dengan mahasiswa itu, bahwa mahasiswa itu melihat bentuk ciptaan Tuhan yang kuat, dengan rasa itulah perjalanan ingin saja diakhiri, di dunia pendidikan, terasa gagal sebagai manusia sadar serta berpengetahuan tapi belum bisa seperti apa menyikapi kehidupan seperti Ainun, belajar dengan alam dan keadaan hingga kaya sebuah pengetahuan. Apapun yang terjadi tidak bisa diulangi kecuali hal itu dipelajari apa yang telah terjadi itu.
“Aku malu dengan dirimu nak, aku tak menyalahkan Tuhan, aku yang salah karena aku tak bisa menerima apa yang sudah jelas”.
“Enggeh pak, esok ketemu di sini surgaku ini juga surgamu”.
“Terima kasih nak”, tapi bapak malu nak”,
“Tidak usah malu pak, ini surgamu juga, berbuka puasalah di sini lagi!”,
“Malu nak”, bapak hanya mikir pulang, karena kerja sudah tidak dapat”, kembalii pecah air mata bapak itu.
“Jika esok bapak Ainun ke sini ketemu di sini, untuk ongkos pulang akan ada pak”.
“Terima kasih nak”.
“Untuk malam ini, biarkan kamu pulang dengan sedikit yang telah dimiliki”.
“Aku doakan dirimu nak”.
“Doakan dirimu lebih dulu pak, setelah itu kau bisa berdoa untuk manusia, alam, serta Tuhan.
            Esoknya sudah tiba, namun tidak ada tanda-tanda dari gerak gerik bapak itu. Ciri dari bapak yang berkopiah coklat. Kemana kah bapak tersebut, serasa puasaku akan batal seumur hidup, karena surga yang dijanjikan tidak bisa dinikmati juga, kemanakah akan dicari. Sebagai perantau berjiwa kemarau saat musim hujan badai tetap saja ada dalam derasnya hujan. Surga itu baru didapatkan dari seorang yang teman, saat paginya, saya pinjamkan untuk bapak Ainun.
1.        Bagaimana Allah menuliskan sekenario kehidupan manusia di bumi serta alam semesta. Lauh Mahfuzh (Arab:لَوْحٍ مَحْفُوظٍ) adalah kitab tempat Allah menuliskan segala seluruh skenario/ catatan kejadian di alam semesta. Lauh Mahfuzh disebut di dalam Al-Qur'an sebanyak 13 kali.