Jumat, 02 Juli 2021

MEMAHAMI KOTORAN PROSA

 



PROSA[1]

--Bahas Kotoran Prosa

bukan materi, tapi hanya narasi stimulus diskusi

Teruntuk Disbud Hmj-Pbsi Unisma[2]

Malang, Jumaat 02, juli 2021

 

Adalah bulan juni dan hujan. Tak akan selesai saat berdikusi mengenai musim, kecuali menggap inilah fenomena alam. Namun, tidak untuk kenangan yang belum ikhlas, akan hilang. Tidak akan selesai dalam ingatan. Sebagai penikmat sastra sekaligus berusaha mengukir, berusaha mempertajam asa, walaupun masih di atas kepala. Ia sambil menikmati rokok saat hujan berlangsung, bahkan lebat, Ia sambil duduk, ingat dengan memoar ‘Hujan di Bulan Juni’ yang ditulis oleh maestro Indonesia sastrawan—yang berpulang belum genap satu tahun.

Mula-mula saat duduk di warung kopi –pesan watshap masuk di laptop—dengan bahasa sederhana, menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Dia berkenalan dengan bahasa formal. Sebelum dibuka, Ia melihat, siapa yang mengirim pesan. Sambil diam dan melajutkan sebbatan yang sisa beberapa hisapan. Petang menyatu dengan dingin menukik tembus ke pori-pori sepi—memaksaku memasang jaket pemberian perempuan yang telah dimakan malam minggu sebelum—ku sendiri menikmatinya. Waktu itu sudah bersamanya.

Sebagai Ia biasa-biasa saja. Kadang saja ada yang menganggap luar biasa. Ia melanjutkan baca pesan dari seseorang itu. Padahal dari setiap pesan yang diharapkan bukan tawaran, melainkan jawaban. Jawaban dari seorang  yang ditunggu, di malam sebelum minggu Ia tidak sendirian. Sambil merunduk Ia membaca pesannya, kurang lebih begini isinya “Assalamualaikum, Mas Mohon maaf mengganggu waktunya. Saya Syahrizal Fanani Achmad dari HMJ PBSI UNISMA ingin meminta Mas untuk menjadi pemateri di acara diskusi budayadengan bahasa sederhana, Ia menolaknya, menawarkan hal yang lebih pantas dan layak—saat tahu kalau berbicara tentang prosa.

Sebagai seorang pendidik, ia  berharap ada hal yang dapat dipelajari dari tawaran seorang yang mempercayai. Memaksa dengan menolak akan melahirkan luka. Apakah keberanian akan menjadi kekonyolan? Pada suatu tindakan—Ia sepertinya percaya pada satu tokoh eksistensialis dari Prancis Jeans Paul Sartre bahwa manusia bebas itu kurang lebih dalam kajian yang penah Ia ikuti, ia dengar dan ingat “kebebasan manusia itu perlu mempertanggungjawabkan” kebebasan manusia perlu, tapi mempertanggungjawabkan. Hal itulah Ia jadikan pedoman tuk memberanikan diri menjadi berbicara, meski berharap akan tersesat nantinya, entah Ia atau semua.

***

Mula-mula Ia duduk di warung kopi. Sambil menyeruput kopi. Waktu  itu, Ia berpikir ulang, dan berpikir ulang. Sambil berpikir menyalahkan rokok Chief. Rokok yang diberi oleh perempuan berkerudung, yang beberapa hari lalu bertemu di jalan saat itu si perempuan mendorong motor meticnya—yang kehabisan bensin. Senja yang telah menjalarkan ke bumi begitu samar-samar dari ufuk barat, elok elegan berwarna kuning keemasan. Akan tetapi, tlah tak seindah yang telah dibungkus Sukab dan diberikan kepada Alena[3] seperti Ia itu kondisinya. Saat Alena menolak pemberian senja. Begitulah kondisi hatinya. Dan berpikir sambil bergumam dalam hatinya “apakah ada yang lebih tidak tahu apa-apa, dari seorang  yang sangat telat baca Pramoedya Ananta Toer yang triloginya, bahkan belum menyelesaikannya. Lantaran saat Ia harus pergi ke kamar mandi menyelesaikan cucian baju—yang sudah dua minggu di ember warna hitam. Sambil terseok-seok dengan bahasa hiperbola, Ia belajar maksimal sembari menyelesaikan urusan kamar mandi pribadi yang belum selesai. Ia terus berpikir sambil lalu mencari cara. Bagaimana bisa menyampaikan dengan baik “tentang prosa.” Membaca dengan baik secara teratur serta benar masih belum rapi dan fokus. Sesekali Ia membaca buku terbaik dunia, agar Ia bisa seperti penulis terbaik dunia itu, bahkan bisa mengalahkan. Kata temanya, Ia berkata dan  bermimpi seperti penulis yang telah terkenal itu. Apakah benar? Ia hanya tersenyum dan selalu berusaha—bagaimana bisa menyampaikan ketidak teraturan berpikirnya di depan umum. Setelah itu, Ia pergi ke tempat yang katanya buat bahagia. Toko buku diskonan. Ia pergi niat mencari buku Martin Surya Jaya judulnya “Kiat Sukses Hancur Lebur” mula-mula tertarik karena sempat nguping pembicaraan seorang professor di salah satu kampus negeri. Pembicaraan itu di Kafe Pustaka yang dekat dengan perpuskataan. Kalau buku itu buku sukses jadi penulis. Pergi bergegas untuk segera mencarinya. Berharap setelah dapat buku itu dapat mempelajari dan bisa memahami sehingga punya bahan pembicaraan, untuk bahan dikusi. Bukunya tidak ketemu, malah bertemu dengan perempuan yang disukai bergandengan tangan di toko buku, persis di rak buku sastra dan budaya. Bukunya dapat bahagia, seketika sirna ada bunga dibalut darah merah, seperti bunga. Ia seorang pembaca dan pernah membaca buku  karangan  Schopenhoer filosof dari Jerman—misoginis karena sakit hati pada perempuan, tapi Ia sadar bukan itu yang dipelajari, melaikan mengkontruksi itu. Menjadikan kebencian jadi semua orang dicintai, tapi tidak semua harus dimiliki. Setelah itu, Ia membuka bukunya, lalu membaca. Setelah membaca Ia menemukan kekecewaan dengan buku yang dibacanya—isinya dikira tips menulis pada umumnya, melainkan isinya seperti tips buku sukses ternak lele—sebagai pembaca, Ia tidak terlalu lama kecewa. Ia langsung membaca buku  karangan Rintik Sedu, walaupun bukunya tidak punya tapi dengarin Youtube, sambil berselencar di geogle mencari buku karangannya. Baca resensinya, berharap bukunya diresensi oleh Subagio, HB. Jassin, atau Nirwan Dewanto Shunli Alekxander. Ohh iya, bukan zamannya almarhum berdua, tapi walaupun Nirwan Dewanto masih tahu karya tersebut, kok juga tidak ada yang meresensi. Tidak kecewa tapi Ia hanya berpikir. Ia sudah menemukan sedikit pandangan mengenai apa yang akan disampaikan. memperdalam hal yang masih tidak tenggelam, masih dangkal tentang pemahaman, memperaktikkan saja masih memegang buku seorang sastrawan lama—dibaca belum selesai. Nama penulis Indonesia yang sangat diakui karyanya Aswendo Atmowiloto judulnya, “Mengarang itu Gampang” baru itu, sedikit percaya. Walaupun itu akan mampu menjadi rujukan dan bukan tolok ukur berhasilnya menyampaikan materi. Ternyata sebagai seorang penikmat dan ingin mengangkat segala keresahan kecingnya yang sederhana bisa jadi luar biasa, tak cukup hanya satu buku. Prosa itu bagi Ia, hanya cerita narasi. Di bangku Sekolah Dasar sudah diajarkan, Ia menyadari puisi lebih sulit dari prosa. Itu bukan kesimpulan dari pemahaman atau pengalaman menulis. Itu hanya sedikit keberanian—lahir dari ketakutannya saat membaca—menulis tanpa berpikir seperti seorang menanam jagung, kacang, singkong, tela, dan tananam di bawah tanah lainnya. Bukan seperti itu, juga bukan sejenis lainnya, untuk menikmati. Ia hanya terus berusaha berlatih, mengingat menulis merupakan jenis salah dua dari keterampilan, yaitu; menulis dan membaca. Masuk keterampilan produktif. Latihan dan latihan adalah cara menikmati. Seorang atlit selalu berlatih, nikmatnya bukan prestasi saja, melainkan juga sehatnya.

***

Ia selalu mencari materi yang pas—untuk kegiatan temannya. Tidak pernah berpikir kalau bisa dikuasai apa tidak, tapi bisa menyampaikan dan mengamalkannya. Seketika saat malam menyetuji kesendirian adalah prestasi kala menulis puisi baginya. Sambil mencari penulis Indonesia yang Ia tahu kalau pernah menulis buku kreatif menulis. Ia sudah bosan berpikir keras, hasilnya tak hasil, tak mengahilkan uang maksudnya. Makanya Ia bermalas-malasaan di kursi depan kost, bahkan untuk menghilangkan penat pergi ke kopian. Katanya sih, mencari inspirasi. Tapi ternyata tidak ada inspirasi, adanya hanya hal-hal dibenci terjadi, teman biasanya main judi pinjam uang. Bukan meminjamkannya yang dibenci, tapi mencari inspirasi—dapatnya hal dibenci uangnya habis. Lagi-lagi mencari tips mendatangkan inspirasi di Youtube. Ia mencari di Youtube, ternyata muncul di berandanya, ada Dee Lestari beri tips menangkap ide, berkata “inspirasi jangan ditunggu, melainkan ditangkap di sekeliling kita dan dikelola, itulah proses kreatif gue”, dengan bahasa anak urban, ke barat-barataan jawa—jakarte. Sambil mengangguk-ngangguk seperti Albert Camus menemukan ide mengenai karya Mesthe Sisifusnya. Tidak berpikir lagi, apa yang dapat Ia sampaikan saat diminta menjelaskan prosa. Selain, Ia harus mencerita kegagalan dalam proses menulis. Ia tambah yakin, sambil berpikir. Ia lebih baik bicara pengalaman kecil gagal dicoba. Banyak comooah, hinaan, dan pembantaiaan karyanya; Ia bahagia. Hanya itu mungkin Ia bisa menyampaikan sesuatu berharga kepada orang yang percaya kepadanya—walaupun dirinya masih belum apa-apa—masih saja sibuk mencari menyelesaikan urusakan ekonominya, dengan menjual beberapa yang berharga. Hingga pada akhirnya hanya beberapa yang tahu dan ingin Ia mengenalnya, lantaran hanya derita saat bersamanya. Katanya. Ia selalu bahagia, karena belum tahu apa-apa, temannya sudah bisa hanya Ia yang masih saja, begitu saja. Menikmati senja yang yang tak pernah bermakna bagi orang lain. Bahkan Ia pernah dikutuk oleh ibunya, untung tidak dikutuk jadi batu, tapi dikutuk aja, katanya “jadi manusia saja.” Ia sambil tertawa sesaat dikutuk itu. Lalu Ia memandang ke arah utara gunung dekat rumahnya, bagaimana bisa nanti Ia bisa mengubah gunung tak berfungsi bagi kehidupan secara materil. Ia malah membuat cerita dengan menamakan nama Gunung itu dalam karangannya “La Barka”. Dengan bahagia mengubah segala dalam ceritanya. Setelah selesai, Ia ingat kembali. Bahwa sebenatar lagi apa yang bisa dipaparkan kepada orang-orang yang percaya dirinya bisa. Bisa menulis prosa dan menjelaskannya. Baru itulah Ia bergetar dadanya—dirinya berlatih bicara tidak gugup saja dulu, materinya tidak tahu. Sambil lalu, setiap pagi memainkan kentrung dan gitar di kopian, bermain sesuka hati, terpenting bernada, tanpa berpikir baik buruknya nada dan suaranya saat bernyanyi. Untungya Ia punya guru di luar kelas di kampusnya. Tempat di mana, Ia belajar bersama empat orang. Guru bertanta “katanya kamu akan ngisi prosa di kegiatan organisasi, kamu tahu yang akan kamu sampaikan, itu?” dengan nada sura mengejek dan mimik mukanya menjengkelkan. Ia menjawab “hehe Ia Pak, bingung sudah kadung iya-in, bingung ada refrensi yang bisa saya baca, Pak?”  guru yang baik, selalu memberikan jalan. “Baca bukunya Kang Sulak, yang itu yang pernah ku kirim pdf-nya, sudah selesaikan!” langsung menjawab. “Iya sudah, tapi lupa karena sudah lama bacanya hehe, aku lemot belajar menulis.”  Lalu Ia langsung bergegas dan mencari di filenya, ternyata masih ada. Di bawah inilah, yang akan disampaikan nanti, oleh Ia yang berharap ada pengalaman dari hal yang pernah diambil—baik maupun buruk tetap—dilakukan dan tetap dilakukan. Berikut ini Ia melampirkan kiat-kiat menulis fiksi dari Si Sulak[4].

 


 

Anda Hanya Perlu Action. Itu Saja![5]

Hasrat semata tanpa tindakan akan membiakkan penyakit.

William Blake (1757–1827),

penyair Inggris

Jadi anda ingin menulis? Menulislah, apa pun bakat anda, apa pun kesukaan anda.

Mulailah sekarang juga.

Seorang remaja sering tiba-tiba menjadi penyair yang produktif ketika sedag jatuh cinta. Ia memompa kekuatan imajinasi, mengerahkan seluruh kepiawaian berbahasa, membuat pengandaian dan metafora, dan melahirkan setumpuk puisi. Seorang mahasiswa yang jatuh cinta juga tiba-tiba bisa menjadi penulis makalah yang produktif dan selalu siap menuliskan makalah atau tugas-tugas kuliah untuk orang yang sedang dia incar. Keduanya mungkin akan menjadi pemabok ketika cinta mereka ditolak. Jika anda ingin menulis karena mencintai dunia penciptaan, menulislah dalam suasana hati apa pun: ketika sedang jatuh cinta, ketika sedang patah hati, ketika sedang puyeng, ketika sedang bahagia, ketika sedang gelisah, atau bahkan ketika sedang tidak punya ide.O, tunggu dulu! Bisakah menulis tanpa ide? Bisa saja, yang tidak bisa ada menulis tanpa kemauan. Nanti kita akan sampai juga pada bagian tentang menulis ketika tak punya ide. Tentu saja setiap tulisan, seremeh apa pun, pasti mengandung ide. Dan, anda tahu, ide tidak datang sendiri. Setiap penulis, sehebat apa pun ia, tidak pernah hanya ongkangongkang kaki di teras rumahnya, menunggu didatangi ide yang luar biasa. Ia tetap harus memancing datangnya gagasan itu, menangkap, dan mengembangkannya. Menulis apa saja ketika sedang tidak punya ide sebenarnya adalah salah satu cara untuk memancing datangnya ide. Prinsip menulis tak pernah berbeda dari hal-hal lain dalam hidup kita. Ia harus tetap berjalan dalam kondisi apa pun. Seorang tukang kayu harus tetap menjadi tukang kayu yang baik kendatipun pikirannya sedang kalut. Ia tetap harus menyelesaikan pekerjaannya. Seorang bankir tetap bekerja sebagai bankir sekalipun sedang dihajar berbagai persoalan di rumahnya. Seorang polisi lalu lintas harus tetap berdiri di perempatan jalan mengatur lalu lalang kendaraan, entah hatinya sedang sedih, entah sedang bahagia, atau ketika sedang tidak punya ide. Begitu juga dengan pemain bulutangkis, pelayan restoran, atau tukang pos. Kenapa harus berhenti menulis hanya karena sedang puyeng atau sedang tertekan oleh suatu masalah? Kenapa harus berhenti menulis karena tidak punya ide? Apa jadinya jika tukang pos suatu saat menolak mengantarkan surat atau polisi lalu lintas tidak mau berdiri di perempatan jalan karena "tidak punya ide"?

Karena itu, yang diperlukan sesungguhnya hanya action. Jangan biarkan pena anda menganggur, mesin ketik anda karatan, layar komputer anda kosong melompong, dan kertas anda menguning tanpa isi.

Oke, satu... dua... tiga... menulislah sekarang juga. Dan jika anda setuju terhadap seruan ini, saya ingin menambahkan lagi: menulislah yang buruk.

 

Menulis Buruk

Orang yang tidak pernah melakukan kesalahan biasanya tidak menghasilkan apaapa.

Edward John Phelps (1822–1900),

diplomat dan ahli hukum Amerika.

Saya tidak sedang berolok-olok ketika menyarankan kepada anda agar menulis buruk. Terus terang, saya sendiri selalu menulis buruk untuk menghasilkan draft pertama tulisan saya. Artinya, draft pertama saya pasti melompat-lompat, alurnya kacau, kalimatkalimatnya mungkin tidak indah sama sekali, dan sebagainya. Tapi, menurut saya, sesuatu yang kacau pun tetap lebih baik ketimbang tidak ada sama sekali. Saya berpikir bahwa lebih baik menghasilkan draft tulisan yang buruk ketimbang hanya merenungi kertas kosong selama berjam-jam. Biasanya saya membuatdraft pertama dengan tulisan tangan, baru kemudian saya salin di komputer. Ini memudahkan bagi saya karena saya bisa bekerja di mana saja asal ada kertas dan pena.

Dengan draft yang buruk, anda memiliki kesempatan berikutnya untuk membuatnya menjadi lebih baik. Akan tetapi jika kertas anda tetap kosong, anda hanya memiliki kesempatan berikutnya untuk bengong lagi. Saya tahu bahwa anda, seperti banyak orang lain yang berminat menulis, pasti ingin menghasilkan tulisan yang baik. Oke, itu keinginan yang baik. Paling tidak, anda ingin menulis sebagus karya-karya para penulis yang anda sukai. Itu jika anda memiliki penulis idola, sebab ada juga satu dua yang ingin melahirkan karya yang orisinil, sehingga mereka tidak mau membaca. Orang-orang jenis terakhir ini takut bahwa membaca akan mempengaruhi karya mereka dan itu artinya tidak lagi orisinil menurut mereka. Ini pandangan yang aneh sekali dan menyalahi prinsip pergaulan secara umum. Tentang kaitan antara membaca dan prinsip pergaulan ini, anda bisa membacanya di bagian lain buku ini yang membicarakan tentang membaca. Sekarang kita kembali dulu ke topik pembicaraan tentang menulis secara buruk. Saya tentu saja ingin sekali melihat anda menghasilkan karya terbaik anda. Dan anda pun ingin menulis sebaik-baiknya. Karena itu saya menganjurkan kepada anda agar tidak takut menulis buruk. Saran ini memang berubah seratus delapan puluh derajat dari saran saya sebelumnya.


 

 

[6]GEMAN SANGKOLAN MBAH KASIYA

 

Mereka mendapat pesan tersirat, mengenai Geman1 Mbah Kasiya. Bunyi pesanya; “Jangan pernah meletakkan geman tersebut  ke tumbuhan”. Sekarang Geman Sangkolan2 dari Mbah Kasiya dipegang bernama Nilam. Ia, sering kali ingat dengan pesannya. Datangnya bingung itu karena hanya tahu dari cerita orang-orang. Dan hingga sekarang masih penuh dengan tanda tanya. Ia sambil memandangi geman yang digantungkan seperti hiasan dan pazzel-pazzel indah. Hal itu dilakukan disetiap bulan suro, tanggal satu. Geman itu diambil lalu dimandikan dengan bunga tujuh warna serta minyan. Sudah dua puluh lima tahun belum merasa ada tanda-tanda kesaktian nyata.

 


Semua berharap ketika perang usai bisa membawa pulang bunga. Namun, jikalau bisa tidak perlu perang tuk mendapat bunga. Ketika ada pilihan semua tidak pernah berharap ada musibah. Walaupun setiap musibah itu akan memberikan dampak baik atau buruk, tentu akan dirasa oleh manusia. Sekecil apapun peristiwa yang namanya musibah. Namun, tetap ada dua cara pandang; satu ujian, dua penderitaan dampak dari diri sendiri. Mengapa itu bisa terjadi pertanyaan itu jawabannya dihati. Karena samahlanya dari mana datangnya pikiran apakah dari langit atau bumi.

Nilam sadar apa yang harus dilakukan selama beberapa tahun. Ketika sadar pada awalnya berpikir tentang makna dan manfaat. Dan berpikir dari mana bisa mendapatkan manfaat dari apa yang dijaga, bisa dirasa dikehidupan nyata. Pada saat itu jenuh memuncak. Tak ada hal nyata dirasa selama menjaga sangkolan. Menjaga sesuatu hanya menemukan kebosanan ketika  berharap banyak yang berbentuk materil.

**

Nilam, kala itu mengambil jeruk ke rumah Mosleh. Ia salah satu pemilik jeruk keris. Setiap tahun selama dua puluh lima tahun pertahun, dilakukan secara rutin. Ketika akan tiba malam satu suro. Aroma kemenyan bertebaran di rumahnya tetangga tidak akan kaget.  Walau terkadang hingga mengebul asap kental dan tajam. Asap kental itu sehingga menutupi atap rumahnya ketika dilihat dari jarak seratus meter.

Ketika jeruk sudah siap. Ritual memandikan geman, seperti ritual setiap tahun bersifat  wajib. Kalau tidak dilaksanakan akan mengingkari apa yang telah diamanahkan.  Tentu, mengecewakan pemilik geman. Geman yang dibuat dengan proses bertirakat. Perlu, bahkan, harus, dirawat kala pembuat sudah tiada. Karena di dalam besi bukan hanya besi biasa tapi ada hoddam3, memandikan membuat tambah ampuh khasiatnya karena ada sesuatu didalamnya yang perlu diperhatikan.

 

***

Nilam pada suatu ketika dalam mimpi didatangi  oleh orang berambut  putih. Sosok tersebut Mbah Kesiyaa. Pembuat geman itu. Dalam mimpi tersebut berpesan lagi, untuk tetap dijaga gemannya. “jaga dengan baik geman itu”, hanya kata seperti itu yang datang.

Kala itu, dalam dirinya Nilan sebenarnya sudah mengalami keraguan, mulai tidak yakin, akan adanya benda mati yang memberi fungsi. Apalagi pada kehidupan yang masih begini-begini. Kehidupannya dari dulu dari awal di sangkoli geman.  Tidak ada perubahan. Masih saja cukup rejeki Tuhan untuk bertahan hidup dan mengembangkan hidup. Dan walau harus perlu menjemput dengan keras, bekerja keras untuk mendapatkan.

**

Setelah usai memandikan geman. Diletakan kembali disertai dengan bau kemenyan bertebaran baunya. Keraguan pada geman itu datang lagi. Dalam hatinya terbesit hasrat ingin mencobanya.  Bergegaslah ke belakang rumahnya, yang dekat dengan bukit, pepohonan rindang bergoyang kencang ketika siang dan angin membuka dirinya dengan menggoyangkan. Dalam hatinya ingin mencobanya ke tumbuhan yang ada, karena ingat dengan pesannya, jangan diletakkan pada pohon, dan sebab akibat dari dampak jika meletakkan ke pohon itu tidak tahu. Bergegaslah akan disandarkannya, tapi rencana gagal, Nilam bertemu dengan mbah Kair, gagal percobaan tersebut. Lalu mencari cara lain dengan membawa pulang geman tanpa slotong3

“Jangan kamu coba-coba dengan geman peninggalan itu Lam”,  Ujar Mbah Kair kepadanya.

“Enggeh Mbah…”, tersipu malu, karena ia mertua dari saudara almarhum. Nilam seperti ingin segera beranjak.  

Seperti bangun kesiangan di rumah mertua. Bertemulah dengan Mosleh setelah bertemu dengan Mbah Kair. Dengan Geman yang digenggam. Dengan tanda tanya besar yang ada didalam dirinya, mengenai keampuhan geman tersebut. Pada saat bersamaan, tepat bertemu, dan bertanya.

Teh4 Geman ini tidak buktinya,” ungkap, kepadanya begitu serius ke Ghutteh Mosleh mengenai kekecewaanya.

            “ Apa yang dibingungkan Lam?” dengan santai meresponnya.

“Geman ini,,!!, Mbah Kasiya, kemarin datang dalam mimpi berpesan jaga sangkolan ini, aku tak dapat apa-apa jaga ini teh.

“Geman ini, geman keselamatan Lam” dengan sigkat menjawabnya, lalu bergegas tidak menghiaraukan Nilam.

“Keselamatan dunia akhirat?” Ohh iya, apa benar Teh Mosleh, punya gengsean semantan5,  yang katanya sepasang dari geman ini?”

“Bukan, tapi gengsean itu, mempertajam dari geman buatan dari Desa Kajjan, menajamkan buatan para pendahulu yang ada di wilayah Blega, khususnya daerah Desa  Kajjen, yang konon pusat peradapan pembuatan geman seperti; keris, calok, clorek, dan todik.”

 

Pembicaram Nilam dengan Musleh mengarah pada sejarah geman yang kebetulan sejarahnya datang dari daerahnya dan mengaitkan dengan gensean  semantan6, bahwa sebagai penyeimbang dibuat untuk mempertajam geman hasil pembuat para pendahulu itu. Karena harus sepasang, jika tidak, dikwatirkan yang pegang geman tersebut tidak kuat dengan keganasaanya. Nilam tambah dihantui penasaran besar terpatri setiap selesai ritual tanggal satu Suro.  Dengan kebenaran cerita yang pada awalnya hanya bingung dengan manfaat dan fungsi geman peninggalan Mbah Toyyib bapak Nilam. Dan, sepertinya kini keling-lungan bertambah lagi, kini bertambah bahwa dari mana datangnya geman itu. Dan bagaimana bisa tercipta, dilihat saja seperti mengerikan. “Kelebihan orang-orang pendahulu berkarya bukan sekedar berkarya, namun bisa membawa kemuliaan”.

***

Nilam pergi tempat tahlil. Ia sudah tidak biasa membawa geman, sebagai sekeb8 yang  biasa dibawa. Pertama kali ini membawa geman. Peninggalan yang tidak pernah dibawa. Apalagi sebagai sekeb. Di tempat itu sudah biasa membawa benda tajam, karena sudah menjadi tradisi, tidak ada kesangsiaan terpenting tetap beradap. Bahkan dalam tradisi kuno, konon ada anggapan kalau keluar rumah tidak membawa benda tajam, maka dianggap sombong.  Tradisi yang meleburkan diri dengan datangnya modernisasi akan menjadi pertarungan antara tradisi kuno dengan modernisasi. Dulu hanya geman kini sudah ada yang pistol. Keduanya sebagai pelindung “katanya”.

 

***

Kekerasan fisik yang jelas-jelas akan terjadi akan membuka ruang manusia, bahwa tidak ada manusia didalamnya kecuali ketidak sadaran akan dirinya. Kurang berperikemanusian sebagai anggapnnya akan terjadi. Awal mula yang tidak bisa disengaja lalu siapa yang akan disalahkan. Pohon pisang menguning daunnya, lalu mongering mati. Setelah dapat tiga hari setelah  acara tahlil desa sebelah dihebohkan dengan matinya pohon kumpulan pisang yang bergerempek lima batang pohon pisang. Dan ada anggapan gara-gara rombongan dari kampung sebelah. Sensitiv karena tepat di pohon pisang tersebut Nilam dan yang lain meletakkan geman di tempat tersebut, dan menyangka kalau matinya pohon disebabkan mereka.

Biasanya para pembawa geman, tentunya tidak akan dibawa masuk ke dalam teras tuan rumah berduka, geman tetap disimpan di luar pagar rumah.  geman diletakkan di pohon sudah biasa. Karena tuan berduka akan memberikan tempat penyimpanan geman bagi para warga yang datang, tempatnya pun dibeda-bedakan.

Dan bisa memilih. Tempat yang disediakan; khusus para Kiyai, depan menghadap ke Selatan, khusus para rakyat biasa menghadap ke dapan menghadap pada Kiyai. Bagi anak kecil ya bebas kalau beruntung akan strategis kebagian tempat, biasanya strategis itu bisa berkumpul bersama dengan yang tua, hingga mendapatkan porsi makanan yang sama, dengan yang tua. Namun namanya juga amarah yang didahulukan hingga kebaikan tidak terlihat olehnya.

***

Fatoni pemuda yang lahir di era 1995-2010 an. Yang tidak mempercayai dengan hal mistik berangkapan bahwa pohon yang kering dan mati itu, disebabkan  racun, dan pelakunya warga sebelah. Fatoni bahasanya, memperkeruh keadaan duka yang belum terhapus. Pemuda  dari sebelah berambut merah, lulusan SMA dari Kota. Suara kerasnya terdengar oleh kampung Konyik. Yang menyangka kalau kejadian itu disebabkan oleh salah satu orang yang datang tahlil. Prasangka buruk semua tidak akan menerima apalagi anggapan tidak baik.

Niat baik terkadang tidak pernah berbiak baik, kadang ada saja berteriak tidak baik. Ujar Nilam.

***

            Mosleh yang berbicara dengan Nilam, menanyakan pada saat tahlilan ke-5 hari lalu membawa Geman Mbah Kesiya. Nilam mengaku bahwa membawanya, kecurigaan Mosleh, sebab matinya pohon pisang tersebut karena geman-nya. Warga Kampung Lajing seperti termakan asumsi  Fatoni yang menceritakan peristiwa 20 tahun lalu, kalau ada orang dari daerahnya pernah meninggal oleh orang Kampung Konyik. Apa yang telah terjadi pada saat itu kita harus tahu, pada saat itu kita ini menelan kekalahan.

Lebih baik pote matah derih padeh pote tolang8 ” ucap Fatoni.

Bahasa yang memiliki salah presepsi, ketika konteks tidak dipahami, makna tersebut memberi doktrin dari masa-kemasa yang salah, walau tidak diperhatikan salah penerepannya.

Emosi yang memuncak, akan terjadi carok akan dimulai, karena ketidak terimaan seorang yang dianggap telah merendahkan kampong Lajing, mendatangi salah satu cara klarifikasi. Anggapan Kampung Konyik yang  berpura-pura baik tapi malah menaburkan racun ke tumbuhan mereka. Tiga orang datang ke Nuralim tokoh masyarakat di Kampung Konyik meminta penjelasan atau bentuk klarifikasi apa yang terjadi. Dianggap punya itikad tidak baik, kepada Kampung Lajing.

Pembicaraan di rumah Nuralim dan tiga orang dari Lajing. Datang menanyakan padanya, dan membicarakan tentang permasalahan Nilam yang datang ke rumahnya Maluha itu,. Kebaikan menaburkan duka. Kecurigaan yang terjadi di masa lalu. Semua mata tidak bisa dilihat di masa lalu tentang keburukan, yang seperti halnya ikan di laut, kita jangan wadahi semua, dalam logika apakah kita bisa. Ikan di lau akan diwadahi kan tidak akan muat. Begitupun air yang bening jangan harap akan selalu bening pasti ada kotornya. Ketika pertama melihat cucu dari bernama Nilam yang tidak pernah menginjak kakinya ke rumah Maluha. Mulai tragedi 20 tahun lalu.  Itu memang cucu Kholil. Tapi Nilam tidak keluaran, karena beda dengan bapaknya dia hanya menjadi tukang rumah tangga memilih jadi perantau. 

Angin yang berdesir kea rah rumahnya. Suara pembicaraan itu didengar oleh Nilam.  Kaget merasa tidak terima kalau Nuralim didatangi. Yonggein9 bergegas segera membawa geman sangkolannya bersama Musleh. Karena keadaan dianggap sudah darurat. Tamu yang datang dengan membawa geman ke rumah orang, terdengar dengan pembicaraan yang ramai itu, memiliki prasangka buruk. Kaget itu sudah biasa dalam tradisi kampung Konyik didatangi tamu pembawa geman kekawatiran itu hanya takut kalau nanti dia apa-apakan. Nuralim sebagai sepupunya dan tokoh masyrakat. Bergegaslah sepulang dari cari rumput.

Ketiga tamu dari kampung sebelah kaget dengan datangnya Nilam. Dengan genggaman tangan kiri geman Mbak Kesiya, bawaan yang dibawanya itu sudah akan siap tanpa slotong, dengan rasa takut berbisik Fatoni, Fatoni yang paham dengan asal usul Geman tersebut tahu kalau itu garapan Mbah Kesiya yang sangat melegenda. Siapa yang tidak tahu para bejingan-blater10  bahwa  geman itu dari di Desa Kajjen. Desa yang memiliki bujuk 11 41, hanya desa yang memiliki bujuk lebih dari 41 dijaga oleh para bejing lawas se beleter dijaga, sebab pusat penggarapan geman yang ampuh tiada tanding.

 

***

Nilam berbahasa dengan intonasi tinggi. Karena dianggap kebaikannya dianggap buruk. Diaggap  kematian sesuatu yang ada di dunia disebabkan ulah manusia. Tidak paham akan Pencipta dengan kehendak-Nya, bahwa semua makhluk hidup pasti mati. Sindiran Nilam di hadapan mereka seperti menonjok kepala Fatoni yang ketakutan. Ucapannya kasar didengar di telinga Nilam, mengenai anggapan buruk padanya. Keberuntungan masih berpihak pada ketenangan Mosleh pemegang gengsean semanten. Bersama dengan Nuralim pamanya. Parto dengan nada rendah, dan ketakutan disebabkan melihat bawaan Nilam calok geman Mbah Kesiya dengan lorekan pamor12 lengkap di lapisan besinya.

 Mereka seperti kadok disiram oleh air. Fatoni dengan ego langsung menciut, suaranya biasanya nyaring dengan geman sangkolan  meninggikan dirinya seperti anggapan air kobokan sebagai air laut samudera, langit memiliki tiang pohon pisang. Ia hanya bawa Geman gerapan Mbah Mursina. Mereka saling berbisik pada paman yang satunya kalau gemannya tidak akan mampu melawan geman yang dipegang Nilam buatan Mbah Kesiya, konflik 20 tahun yang membuat meninggal Kakek karena adanya Geman itu. Melihat Nilam bicara suaranya yang seperti ada kekuatan dari pamor bungkem13.

 

“Tidak ada dendam dariku yang dibawa. Bertahun-tahun saya bertani bekerja bangunan ke sana ke sini tidak ada masalah baru kali ini ada masalah!”. Ucap Nilam

“Diduduk dulu Lam.!” Nuralim menyuruh untuk duduk, Nilam mendengarkan ucapan pamannya itu.

“Tidak, Man, ini bab adab manusia beranggapan, sebelum menuduh harus menanyakan, dulu. Kerena saya datang ke tahlilalan kemarin itu dianggap kalau, kematian pohon pisang itu diracun orang sini, tidak terima kalau tidak ada bukti”. Dengan nada tinggi emosi.

“Iya, paham, mari duduk musyawarahkan dulu.” Menenangkan dengan bahasa yang lembut Nuralim.

“Iya tidak terima aja Man, kelakuan baik dibalas seperti ini.”

“Yawes, mau tanya apakah kamu pada saat tahlilan kemarin itu membawa geman yang dibawa itu?” tanya Nuralim kepadanya.

“Iya, Nilam itu membawanya Lim.” Saut Musleh yang mengetahui itu semua dari awal.

“Terjawab sekarang, jadi sebab matinya pohon pisang, tidak lain dan tidak bukan, bukan karena diracun, tapi saya yakin penyebabnya karena geman Mbah Kesiya yang dibawa oleh Nilam, karena dalam sejarahnya geman tersebut tidak boleh disentuhkan ke benda-benda yang hidup seperti pohon, kalau tidak kuat akan mongering dan mati pohon tersebut”. Ucap Nuralim kepada orang yang menemuinya di rumah tersebut.

Permasalahan itu mulai terpecahkan, dan ketiga pihak telah sadar, karena sangkolan itu tidak boleh disandarkan ke pohon kalau disandarkan pohon itu akan kering dan mati. Dan sangkolan itu pula memberikan keselamatan bagi para pemegang.

Perdamaian terjadi pada tahun 2019, Februari, 25. Suasana dendam yang telah mati sudah tidak ada lagi, sangkolan geman memang tidak pernah memberikan keburukan kepada pemegangnya, akan selalu memberikan sebuah keberkahan serta kebaikan. Berkah pelantera geman itu, dengan dampak geman pula bisa tercipta sesuatu yang tidak diharapkan. Kejadian dulu geman itu tidak ikut menyentuh geman lawan sama sekali, hanya dibawa saja, yang memakan korban 20 tahun bukan geman Mbah Kesiya yang dipegang Nilam sekarang, tapi clorek. Geman seperti halnya jimat tidak lain dan tidak bukan, diharapkan hanya keselamatan, kramat yang mengandung rahmat dari Sang Pencipta.

 

 


 

Catatan

1. geman: pusaka

2. sangkolan; peinggalan yang telah meninggal

3. slotong; tutupnya pusaka

4. ghutteh/ teh; paman

5. gensean; alat mempetajam benda tumpul

6. gengsean semanten; penajam pernikahan yang memiliki arti perdamaian

7. sekeb; bawaan yang disembunyikan

8.  lebih baik pote matah dareh pada pote tolang; lebih baik putih mata daripada putih tulang. 

9. yonggein; disamperin ke rumah bentuk tidak terima.

10. bajingan-blater; orang berpengalaman tokoh yang disegani karena menjadi orang yang ditakuti juga.

11. bujuk: makam yang kramat

12. pamor: lorekan dalam pusaka yang dipercayai memiliki makna dalam hidup manusia.

13 pamor bungkem: lorekan di geman memiliki kekuatan yang buat orang tunduk dengan suaranya.

 

 

 

 

 

 

 



[1] Prosa berasal dari bahasa latin yaitu “terus terang”

 

[2] Tulisan yang belum selesai dalam benar atau tidak secara subtansi, tapi tulisan ini sabagai upaya dari yang tidak tahu apa-apa bisa sedikit menemukan pencerahan tentang apa yang akan dibicarakan. Jika ada yang kurang tepat dan kurang jelas mari kita pelajari bersama, bukan memposisikan orang yang lebih tahu, melainkan yang masih ingin mengetahuinya.

 

[3] Tokoh dari cerpen  Sepotong Senja untuk Pacarku, 2002, Gramedia.

[4] As. Laksana Creativer Writing Menulis Fiksi dan Prosa

[5] Ambil bagian dari buku As. Laksana Creative Wrieiting

[6] Cerpen ini sudah terbit 2021 dalam kumpulan Cerpen Tragedi Cinta Bai Lima

Senin, 12 April 2021

PUISI

 Ramadan dan Vaksinasi 

:setelah mengantar papak kos


Mula-mula ibu kost datang ke kamar kost, menawarkan saya untuk mengantarkan bapak kost untuk divaksin. Selang beberapa menit, saya langsung menawarkan ke bapaknya "Mau saya antar, pak?" dengan rasa takut, ia seperti ragu-ragu dengan dalih "Saya ini sehat Mad, dan  saya sudah sering kerja keras. Saya naik ke lantai dua kamar kost-mu ini sudah berkeringat. Apa masih perlu divaksin!" Dalih sebenarnya, ia takut aja. Namun saya berpesan sambil menanyakan kembali apakah sudah yakin dan mau divaksin, njengan puasa kah pak?" Cengar-cengir seperti rasa malu dan senang karena tidak akan mokel. Setelah selesai ngobrol, langsung bergegas berangkat mencari rumah sakit yang menerima vaksinasi, bagi warga yang berumur 60-70-an.

Saat tiba di tempat tersebut, bukan saja orang berumur yang telah disebutkan di atas. Namun yang se-umuran saya ada mengantri. Padahal saya sebagai mahasiswa belum melakukan vaksin, entah karena saya memang belum pernah ke kampus dan menemukan pihak yang bersangkutan. Dalam pikiranku setelah melihat antrian panjang seperti terlihat orang-orang pada dasarnya sangat sangan dengan tubuhnya ketika sudah tua. Tidak pernah berpikir tentang usia yang sia-sia, terpenting hidup. Begitulah kehidupan merkan, setelah beberapa hari ini membaca karya Albert Camus tentang hidup yang gelap (kalau Albert Camus berpendapat 'absurdis') yang berharga dari hidup ya, masih bisa hidup sehat dan bisa melakukan praktik-praktik hidup. Tanpa memikirkan nilai dari hidup dan kegelisahannya. 

Saat mereka semua gelisah, menurutku mereka menjalani hidup dengan serius. Bayangkan kalau dari banyaknya antrian itu tidak mendatangi Rumah Sakit tersebut, tak akan membantu tukang parkir mencari naskah di bulan Ramadan ini. Haislnya kalau dilihat dari antrian dari tarif setiap motor -cukuplah buat buka puasa- dengan keluarga yang tujuh orang di rumah. 

Bapak kost yang minta ditinggal, karena sudah mau menunggu. Setelah saya langsung mendaftarkan dirinya, untuk mengambil antrian. Gumam hati, semoga selalu sehat, karena sakit itu sangat mahal. Menunggu antrian tidak semudah mengambil antrian di kantor bank. Ternyata kesehatan itu sangat penting, saking sangat pedulinya toko-toko sembako, bahkan warung kopi ditutup dengan horden separuh dan hanya kaki terlihat dari luar, dengan gerak senang. Saat menyetir motor sekilas berpikir, kalau itu bentuk dari kepedulian kesehatan mereka. 

Selamat menunaikan ibadah puasa di bulan ramadan dan menunaikan jaga kesehatan kapan-pun. 


Minggu, 07 Februari 2021

The Old Man

 The Old Man 

: Selamat ulang tahun Pram


Mula-Mula aku memandang tumpukan buku itu. 

Di tumpukan buku itu, ada gambar lelaki tua yang terlihat samar-samar.

Nama tulisan, tertutup tangan perempuan yang mendekap buku ke dadanya: dan saya mengira itu tokoh di dalam buku itu. 


Hari demi hari, pertanyaan selalu menyelimuti.

Pejalan kaki tak dapat dipelang lagi, waktu terus maju. Pandangan masih bertanya-tanya, tentang pria tua itu.

Penasaran itu; ku amplas dengan banyak baca buku, mencari tahu siapa lelaki itu.


Keesokan hari, ku bergegas ke ruang diskusi. 

Berharap sesekali beruntung, ketika melihat lelaki berkepala plontos membawa buku warna kuning cerah, gambar, serta tulisan nyaris persis dengan pertama kali ku lihat. 

Geram pikiran dan harapan, dan hati berkata "Semoga bapak itu, bisa menjelaskan tentang lelaki tua yang di gambar buku itu!".


Sepulang diskusi, di kepala terngiang-ngiang dengan kutipan dialog dari lelaki berkepala plontos, yang disadur dari buku yang di tangannya:

"Aku ingin jadi manusia bebas, tidak diperintah dan juga tidak memerintah!".

Ku, tercengang sebentar dengan berpikir panjang tentang, tentang fungsi dan posisi manusia.


Saat berjalan, aku mendongak ke langit lepas, bernafas, berpikir keras. "Pikiran keras belum tentu berkelas dan bernilai, jika hanya berpikir!" Begitulah kata bijak dari motivator.


Dan terlihat lampu-lampu kota bergemerlap terang, Suasana memancarkan dari dalam: aku melatih diri tuk menulis sepertinya,  walaupun bapak dan ibu sangat keras melarangnya. Karena romantik revolusioner 'katanya!' 


Pram namanya, bukan nama pena

Semua orang banyak mengira Minke adalah ia. Dan awalnya-pun ku menyangka seperti itu. 

Setelah sadar bahwa setiap peristiwa tak harus dipandang dari sudut angka dan di mana iya belajar seni. 


Selamat ulang tahun Bung 

Kau tlah abadi di tanah indo


Ide-idemu yang tertuang dalam buku Bumi Manusia tak henti-hentinya menari lalu mengilhami. 


Dan kata bijak yang terukir di dalam jiwaku yang ku sadur dari karyanya. "Manusia terdidik harus bebas, bebas sejak di dalam pikiran!". Semoga hal baik menyertaimu Pram!. 



Malang 2021

Minggu, 27 Desember 2020

Kiat Sukses Menjadi Kritik Sastra

 


Buku berjudul Jalan Kritik Sastra Aplikasi Teori Poskolonial hingga Ekokritik (Intrans 2020). Ketika selesai membaca, saya teringat dengan nama  H.B. Jassin. Nama yang tak asing bagi jurusan sastra Indonesia. Karya esai kesusastraan beliau selalu menjadi rekomendasi para pegiat sastra khususnya yang ingin mendalami kritik sastra. Biasanya dosen, mewajibkan baca karya-karyanya. Begitupun, dengan karya Yusri Fajar penulis Jalan Kritik Sastra Aplikasi Teori Poskolonial hingga Ekokritik, buku tersebut sangat baik jadi pendoman memahami karya sastra lebih dalam. Karena mengkritik tujuan membangun intelektual lebih baik, tentu dengan cara sehat intelektual pula. Begitulah, yang pantas saya utarakan setelah membaca.

Yusri Fajar seroang akademisi menjadi dosen di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) di salah satu kampus terbesar di Jawa Timur yaitu Universitas Brawijaya Malang. Tulisan berjenis esai kritik terhadap karya sastra yang tertuang dalam buku, Jalan Kritik Sastra Aplikasi Teori Poskolonial hingga Ekokrtik. Merupakan representasi dari seorang penulis akademisi sekaligus seorang sastrawan. Sehingga tulisan tersebut memberikan sebuah dedikasi secara tidak langsung, bagaimana seorang bisa mengkritik secara baik tanpa ada unsur menghujat, bahkan secara naratif disampaikan dengan teks bahasa yang baik, tepat, dan sesuai dengan logika berbahasa. Nyaris patuh dengan disiplin ilmu linguistik.

            Buku ini membuka pengalaman, pengetahuan, dan bagaimana melakukan kritik terhadap karya sastra. Jalan kritik dengan cara-cara baik dalam mengkritik sebuah karya sastra. bukan hanya mengkritik teks sastra namun non-teks pula. Dalam buku tersebut dikemas dalam bentuk esai kritik dengan judul buku Jalan Kritik Sastra Aplikasi Teori Poskolonial Ekokritik (Intrans, 2020).

1.      Kritik Karya Sastra Kumpulan Cerpen

Kritik sastra memiliki peran penting dalam dunia kesusastraan, menginterpretasikan, menilai dan mengkaji banyak karya sastra. Karena posisi penulis dan karya satra telah terpisah. Hal ini selaras dengan apa yang telah dikatakan oleh Roland Barthes (1965), dalam esai Sapardi Djoko Damono berjudul Interteks, Inter-teks. Bahwa pembaca teks akan melibatkan tiga pihak: teks, pengarang, dan pembaca. Maka pentingnya seorang kritikus teks sastra maupun non-teks, bertujuan mengungkap bahasa tekstual yang memiliki multitafsir, contoh dalam Kumpulan Cerpen berjudul Semua untuk Hindia (KPG, 2014) dengan kutipan “Hindia Belanda seperti negeri ajaib yang senantiasa menawarkan penjajahan  spiritual.” (Iska Banu, 2014:33). Makna sebenarnya dalam dialog tersebut: Kedatangan orang-orang Belanda ke Indonesia membawa dampak hibriditas dan budaya. ( Yusri Fajar, 2020:01).

2.      Kritik Karya Sastra Puisi Gastronomi

Namun, dari sisi karya sastra lain berupa puisi. Yusri Fajar memberi dedikasi perihal kritik bagaimana bisa mengkritisi sebuah puisi, tergambar jelas dalam esai kritik sastra berjudul Makanan, Relasi Sosial, dan Identitas: Menikmati puisi-puisi dalam “Dapur Ajaib” Karya Alfian Dippahatang. “Kamu adalah yang kamu makan” merupakan representasi dari apa yang ada dalam penggalan puisi yang dijadikan contoh. Sehingga karya sastra puisi tersebut masuk pada ciri puisi gastronomi, sastra berkaitan dengan makanan. “Aroma kebahagiaan itu tercium dari tumis/ bumbu  yang sedang kuhirup dari racikanmu/hawa panas dari perapian membuat wajahmu/ yang keringatan dan berminyak kian bermuar (Dppahatang, Sibuk di Dapur, 2017;57). Inilah bukti bahwa buku  ini juga memiliki sebuah kompleksitas membahas tentang puisi yang tajam dengan mengambil sisi lain dari yang umum, yaitu sastra gastronom Prancis, Jeans Anthelme Brillant-Savarin (sebagaimana dikutio Rahman, 2016:13) menganggapnya sebagai indera yang terhubung dengan sensasi kenikmatan di mana tubuh menyadari sensasi itu. Sensasi dalam puisi itulah diambil yang memiliki kaitan  dengan rasa dan tubuh.

3.      Kritik Karya Sastra Novel

Dalam hal ini Yusri Fajar memberikan  dedikasi melalui kritik karya sastra novel dengan judul Neokolonialisme dalam Novel ”The God of Small Things” Karya Arundhati Roy: Hegemoni Ekonomi, Sistem Kasta, dan Para Elit Lokal. Tergambar dalam sebuah karya sastra tersebut dengan sebuah pemasalahan kompleks di India masa setelah kemerdekaan negara tersebut. Narasi berbentuk teks yang disampaikan oleh Arundhati Roy (Fajar, 2020,18); Setelah kemerdekaan, mereka (kasta rendah yang tidak dapat disentuh) mendapati bahwa mereka tidak berhak atas tunjangan pemerintah apa pun seperti reservasi pekerjaan atau peminjaman bank dengan tingkat bunga rendah, karena secara resmi, di atas kertas, mereka adalah orang Kritsen, dan karenanya tidak memiliki hak (1997:74). Dalam hal ini jelas ada ketidak seimbangan dalam memperlakukan manusia, walau pada dasarnya sudah merdeka. Namun, kasta rendah masih belum merasakan kemerdekaan tersebut, selain itu dikarekan masih ada perbedaan dalam beribadah antara kasta rendah dan atas.

4.      Kritik Karya Sastra Teks ke Media Audio Visual

Kritik karya sastra Indonesia tentu banyak yang bertansformasi dari ke teks sastra ke bentuk Audio visual (difilimkan). Masih belum lama adaptasi karya sastra seperti; Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer (diflimkan 2019), Laila S. Chudori yang Laut Bercerita (difilmkan 2018) dan Dilan 1990 (diflimkan 2019), dan Tinggalamnya Kapal Van Der Wijck karya Buya Hamka (diflimkan 2013). Dari yang telah disebutkan flim di atas tidak asing di Indonesia. Jika anda berpikir bahwa adaptasi hanya berhubungan dengan novel-novel dan flim-flim, anda salah. Orang-orang era Victoria telah memiliki tradisi mengadaptasi banyak karya dengan berbagai kemungkinan arah: puisi, novel, drama, opera, lukisan, lagu-lagu , tarian, dan “Telbeux vivants” telah diadaptasi dari satu medium ke medium lainnya, dan sebaliknya. (LEnda Huetcheon, 2006:IX). Hal ini dapat memberikan sebuah pandangan bahwa relasi antar bidang seni ‘bersinergi’ secara dinamis bersama dengan teknologi. (Fajar, 2020: 66).

Dapat disimpulkan, bahwa buku ini adalah jalan mudah dalam memahami karya sastra secara luas. Kita ketahui sangat sedikit kritikus sastra di Indonesia. Namun tidak semua pembaca diajak menjadi kritikus, tapi sebagai pembaca sastra interpretasi, apresiasi, suatu karya sastra sangat penting. Dan buku ini menjadi pedoman dengan mengkritik karya sastra, ini merupakan jalan tengah paling bijak, adanya kritik sastra merupakan bentuk pertanggungjawaban diri dan masyarakat (HB. Jassin, 1956; 47).

 

Kamis, 24 Desember 2020

PERGI MISA

 

Foto: Khusnul Hanasanah

Pada saat Bunda Maryam, pergi ke Gereja saat pagi yang cerah secerah wajahnya dengan gembira dan dengan wajah yang mempesona yang menggunakan busana rapi, Bunda yang tidak pernah lupa pada teman hidupnya yang sangat disayangi ia bersama Adik Toni, dan Maja mereka setiap minggu tidak pernah telat untuk datang ke tempat mulia Gereja melakukan kewajibannya sebagai manusia untuk melakukan pemujaan kepada Tuhannya biar ada perbedaannya dengan pencipta dan yang menciptakannya, yaitu tuhan yang maha pengasih dan maha penyayang, saat sudah memasuki tempat mulia itu ia sudah bisa mencurahkan semua yang ada dalam hatinya di tempat itu Bunda dan Toni dan Maja mendekatkan dirinya pada Tuhannya, dihadapkan tuanNya yang nyata itu tidak ada rasa malu meminta apa yang ada yang ingin dipinta, bahkan tiada rasa ragu mereka yakin jika apa yang akan diminta akan dikabulkan olehnya, sebab tuhan itu maha pengasih dan maha penyayang pada umatnya yang mendekatkan dirinya padanya.

“Puji syukur Tuhan”.

Saat waktu sudah berjalan yang tak terasa matahari sudah tinggi dan panasnya sudah bukan panas sehat lagi mereka bertiga keluar dari tempat pemujaan itu, dan ia meninggalkan tempat itu, irama bunyi kaki yang seperti biola yang berdawai pelan-pelan pada saat itu pula menuju kursi yang ada di sebelah gereja yang beratap pohon beringin mereka bertiga duduk sambil menunggu taksi, pada saat itu pula Bunda bertanya pada Adek Toni yang masih kelas lima SD lebih muda daripada Maja yang sudah SMA kelas dua belas yang semuanya kuliah di sekolah katolik yang favorit.

“ Toni sayang bunda tanya, saat berdoa tadi berdoa apa dek.?”

“Doa...? Doa minta pada tuhan keluarga Toni sejahtera dan bunda sehat selalu.”

“Hmm pintar Doanya. Terus kakaknya tidak didoakan. ?”

“Hmm iya dong anaknya siapa dulu. Iya untuk kakak doanya semoga cepat lulus dan bisa kulia di luar Negri sesuai cita-citanya kakak dan tidak mengecewakan Bunda.!”

“Iya dek, terimakasih doanya semoga doanya diterima tuhan,”puji syukur.!”

“Amien-amien kakak.”

“Doanya mulia dek, terus Adik sendiri tidak berdoa untuk adik sendiri.?”

“Adek Cuma berdoa yang terbaik kepada tuhan yang diberikan pada Toni, Bunda,!”

“ Amien anak Bunda pintar. !”

“Kan, Bunda yang mengajarkan hehe.”

Dengan senyuman yang indah Bunda merangkul kedua anaknya seraya tidak terbendung tetesan air mata bahagia mengalir di pipi yang tidak sengaja terbawa haru oleh anak-anaknya bersyukur mempunyai anak yang seperti mereka dan merasa bangga dengan keduanya itu, merasakan kenyamanan dalam menjalani hidup walau hanya bertiga tiada kebahagiaan yang harus dicari lagi ketika saat mereka bertiga bersama, terasa surga yang tuhan ciptakan itu bisa merasakan di dunia, tidak harus menunggu lama, dan waktu lama itu belum tentu merasakan surga tuhan, jika matahari bersinar karena tuhan yang yang berkehendak, Toni dan Maja yang menyinari keluarga ini,taksi sudah datang dan bergegas untuk meninggalkan tempat itu, tiba di rumahnya itu yang sederhana Bunda menyiapkan makan buat mereka yang tersayang. waktu yang sudah tidak terasa minggu yang lalu UN, Maja yang sudah mendapatkan surat pengumuman dari pihak sekolahnya bahwa ia dinyatakan lulus dengan predikat yang terbaik sehingga iya mempunyai kesempatan untuk bisa melanjutkan sekolah di luar Negeri dengan beasiswa dari sekolahnya, sangat senang Maja pada saat membuka surat tanda kelulusan yang ada lampirannya berhak berkuliah di luar Negeri, dengan puji syukur dan memeluk Adeknya tidak menahan kebahagian yang tiada disangka, ia berlari ke dapur untuk menyampaikan ke Bundanya, ia langsung memeluk memegang bahu bundanya dan berkata dalam hatinya doa yang Toni doakan tompo hari itu menjadi nyata.

“Kalau doa Adik Toni didengar oleh tuhan Bun.!”

“Iya Nak, akan tetap ia, dan yang Bukan dipikirkan dan Bunda cemaskan.!”

“Apa yang Bunda cemaskan, bukan bukannya harus gembira dengan apa yang Maja dapatkan ini.!”

“Bunda sangat senang dengan apa yang kamu dapatkan itu semua dan itu mimpimu Nak.!”

“Lantas apa yang Ibu khawatirkan lagi, ?

“Itu semua memang tuhan rencanakan dan semua yang terjadi tuhan mengetahui apa yang belum kita ketahui.”

“Maksudnya Maja tidak paham Bun.?”

“Kamu akan keluar Negeri kuliah disana, perasaan Bunda itu bahkan ada cahaya yang bercahaya kelak, di dalam keluarga kita ini, entah itu cahaya kebenaran apa, kebaikannya Maja, “Bunda hanya berdoa dan meminta yang terbaik buat Maja dan keluarga ini,”

“Iya Bun dapuji Tuhan.” Jangan doakan yang buruk untuk Maja, biar hasilnya tidak buruk pula Bun, sebab dorongan doa bundalah yang bisa mengantarkanku Maja seperti apa yang Bun dan harapkan, danMaja impikan.!”

“Iya Maja sudah berterimakasih pada Toni, kan dia juga mendoakanmu.” Dan kapan itu pemberangkatannya.”?

“Iya sudahlah Bunda sudah sekalian Maja peluk tadi hehe.!” Minggu depan sudah harus siap pemberangkatan dari pihak sekolah H-2 akan ada dikabarkan Bunda katanya,!”

Waktu berjalan tidak terasa pagi, siang, sore, dan malam sudah terlewati oleh waktu yang tidak berbentuk yang tidak terasa hanya keadaan dan perasaan bisa merasakan waktu yang terlewati, angin berhembusan yang tak ber berbentuk memberikan rasa tenang tidak terasa.

Tiba sudah saatnya ke Gereja lagi dengan hari yang sama, waktu yang sama, dan suasana yang berbeda, hati yang sama, perasaan yang tidak sama, bentuk yang berbeda memiliki tujuan yang berbeda dengan cara yang berbeda.

Mereka bertiga dengan tujuan yang sama namun tidak suasananya sudah berbeda, wajah seorang Bunda yang mempesona dan ceria sudah tidak tampak untuk Minggu yang sekarang ini, keindahaan Bunda layu bagaikan bunga melati mekarnya di siang hari, dengan waktu yang sama yang ceria banyak tertawa Toni terdiam dari tiga hari sebelumnya mengiringi Bunda yang memang sudah minggu yang lalu ia terbelenggu dalam batin yang dihantui rasa cemas dan kekhawatiran yang sangat ditakutkan, wajar saja seorang Ibu akan mengalami ketidak nyamanan jikalau diantara teman hidupnya akan pergi jauh, dan harus berapa lama yang akan menunggu Maja yang hingga akhirnya surat dari sekolahnya telah sampai di rumahnya, sehingga ia sudah mengetahui kapan harus berangkat. Seorang Ibu semakin terbelenggu dengan tekanan batin yang membuatnya ia harus terdiam dan tidak bisa berbahasa terlalu banyak pada saat mendengar isi amplop yang dari sekolah itu. Maja yang senyum berbeda melihat sang Bunda yang sudah tidak tersenyum seperti biasanya ia harus menghampirinya dan membalas senyuman kuat pada sang Bundanya dan berkata lagi.

“Bunda jangan senyumnya mana hehe. ?” lusa harus berangkat Maja bun pasti akan kangen terus disini dengan senyumannya Bunda.

“Hemm iya Nak,” kamu siap-siap dan sudah Bunda masukkan semua apa yang dibawa.”

“Iya Bunda.!”

Seseorang sebenarnya tidak kuat harus jauh dengan orang yang paling disayangi apalagi seorang yang mengantarkan ia ke bumi, biasa bersama bertiga dan hidup selalu bertiga sejak umur satu tahun ditinggal seorang ayahnya dan keadaannya itu ada namun hilang dalam kebenarannya, sehingga harus berjuang untuk bertahan hidup dengan mengharapkan pemberian dari tuhannya.

Sudah saatnya dan waktu sudah sampai ia harus bergegas untuk berangkat ke Perancis untuk meneruskan perguruan tinggi disana, dengan mendapatkan beasiswa.

“Bunda bila ke Gereja doakan Maja ya.!

“Iya kamu jaga diri, dan sering-sering kabari Bunda ya.!”

“Siap Bunda, Toni jagain Bunda, dan sering-sering doakan Kakak ya. !

                “Iya kakak.!”

Sudah biasa tempat baru memberikan aroma baru dan suasana baru pula dan harus beradaptasi dengan apa yang ada di hadapannya, dengan orang-orang yang baru sehingga tercipta teman yang baru dari berbagai penjuru Dunia, Maja yang pendiam dan membawa sikap yang memang dari asal Negara-nya itu terdiam dengan murah senyum jika setiap bertemu teman barunya, Ia mempunyai banyak teman dan iya juga mempunyai teman baik dari luar kampusnya, dan ia sangat nyaman dengan orang itu walaupun iya berbeda Agama dengannya, sehingga ia lupa dengan kebiasaan yang pada ia lakukan setiap Minggu yang biasa ia lakukan bersama Bunda dan Adeknya pada saat di Negara-nya sendiri Indonesia, yang terletak di Flores kampung halamannya, dengan kebiasaan bersama dengan teman barunya yang dari Palestina yang sangat akrab Rokok satu menjadi dua, makanan satu menjadi dua, sudah tidak ada perhitungan saat ia merantau di Negaranya orang harus besar hati, dan berani berkorban yang terpenting tidak pernah sering hidup menggantungkan pada Tong sampah yang ada di pinggir jalan Kota Paris.

Awalnya beradaptasi dengan lingkungan susah namun yang terpenting dalam waktu yang sudah lumayan lama sudah hampir satu tahun Maja sudah melewati semester dua dan sudah melangkah semester ketiganya, waktu yang panjang terasa sebentar karena menjalani dengan rasa senang dengan seorang sahabatnya, yang selalu menjadi teman di setiap hari-harinya.

Dengan teman yang selalu bersama, walaupun tidak ada suatu perdebatan walaupun jelas dalam agama ia berdua sangat berbeda, sudah berjalannya waktu bersama sehingga ia lupa dengan agamanya sendiri, terhipnotis oleh sikap seorang yang tekun dan istiqomah itu dalam melakukan ibadah, sehingga hanya senyum dan keindahan yang Maja terlihat dari seorang islam yang tekun itu, namun perjalanan mereka berdua sangat memberikan pelajaran yang sangat baik saat di perancis, sahabat bagaikan saudara jika saling memahami karena saat jauh, bukan keluarga yang bertanya namun hanya Lutfi yang selalu bertanya tentang keadaanku, teman yang dari palestina yang selalu memberikan arahan yang baik tentang pahitnya hidup tanpa membedakan agama dia tulus berteman dengan seorang yang berbeda agama, yang sangat bangga ia tidak pernah menggantungkan hidup pada orang lain, yang terpenting hidup itu tidak pernah merepotkan orang lain. Sudah sampai empat tahun selama di perancis dan kuliah lulus dengan mendapatkan nilai yang bagus, sehingga ia harus kembali ke Indonesia ke tempat lahirnya di Flores dan membawa gelar S1.

“Lut, saya besok sudah boleh pulang ke Negaraku. !”

“Iya Maja semoga apa yang didapatkan disini memberikan manfaat pada dirinya sendiri dan bermanfaat bagi keluarganya, dan Nusa dan Bangsa Amien.!”

“Iya Lut Amin ya rabb.!” Semoga ridho Allah bisa bersama dengan saya.

“Iya Amin, jangan lupa selalu doa kan Bendanya dengan agamaku yang sekarang, jadilah orang yang selalu bercahaya dalam keluarganya, dan Bunda-mu pernah berkata akan ada cahaya dalam keluarganya, buktikan bahwa cahaya itu adalah kamu Maja.!”

“Iya Lut.” berkahmu saya seperti ini bisa mengerti sebuah arti kehidupan yang hakiki, dan mengerti ketenangan hidup yang lebih jauh indah dari sebelumnya.!”

“Bukan karena aku tapi berkah Hidayah dari Allah SWT, Maja. Karena tanpa Hidayah kamu tak akan seperti yang sekarang ini, dan akan menjadi sejarah untukmu dan sejarah semua ini tak akan terulang, untuk yang membaca sejarah mu. !”

“Iya saya pulang ya, suatu saat harapanku kamu bisa ke Indonesia, sehingga sejarah akan terulang kembali pada saat ku ada di Kota Paris ini. !”

“Amien Maja, sampaikan salam ku ke Toni ya. !” sejarah tak akan terulang lagi. kamu hati-hati ya, aku akan segera menyusul untuk pulang juga.!

 Pada saat sampai ke tempat ke tempat tinggal lahirnya banyak perubahan yang terjadi dalam kehidupan Adiknya, dan rumah halaman yang sudah berubah dengan empat tahun yang lalu, sekarang rumah yang empat tahun yang lalu hidup di rumah itu ada tiga orang sekarang berubah menjadi empat orang yang ada di rumah itu.

Namun nama yang empat tahun lalu itu yang sering diucapkan untuk meminta makanan, dan dapur itu tidak sepi saat senja mentari yang belum terbit, sehingga meja dapur setelah ayam sudah ramai berkokok sudah ada hidangan makanan di meja makan rumah, sekarang sudah berbeda tempat makan itu sudah tak bersuara, dengan nama Bunda lagi.

“Toni bagaimana dengan kuliahmu sekarang, kok sudah ada perempuan di Rumah ini, sejak kapan.?”

“Masih kuliah kak, dan itu istri saya kak, sudah dua tahun ini menikah dengan Warni itu, maaf tidak pernah menceritakan pada kakak takut terlalu ribet kalau masih bilang sama kakak, yang terpenting dia sudah Mualaf kak, dan ku menikah dengan membaca syahadat dan aku menikah di Masjid KUA kak. !” maaf kak, daripada aku berzina aku putuskan menikahi Warni itu. Karena dalam islam untuk tidak berbuat dosa itu mudah, bahkan menikah adalah sebagian dari ibadah dan mendapatkan pahala juga hehe.!”

“Ia kalau begitu syukur, kamu sudah paham tentang Agama, jaga istrimu dengan baik dan nafkah kan sehingga kamu menjadi seorang suami yang baik. !”

“Iya kak, Toni sudah punya pedoman dalam menjalani hidup ini yaitu Alquran dan Hadist sehingga ku ingin menjalani hidup ini akan perpedoman pada itu kak. !”

“Kak aku percaya bahwa Islam itu bertuhan Allah SWT, dan Muhammad SAW utusan Allah. Tapi kenapa aku belum yakin kak dengan Islam yang aku jalani ini, aku dari dulu belajar dan aku sampai aku berhasil menghafalkan tafsir Al-qur’an namun dalam hati masih belum meyakini dengan agama islam ini kak. Aku hanya melangkah dan selama ini aku kuliah di tempat kampus Islam agar aku bisa menambah ilmu pengetahuan sehingga aku bisa meyakini Islam ini adalah Agama yang benar dan yang mengantarkan ku ke surganya Allah yang diciptakan untuk orang Islam.!”

“Toni kakak paham apa yang kamu rasakan orang seperti kita ini memang susah untuk meyakini tentang islam ini, karena Allah yang kita kita sembah tidak jelas wujudnya. Namun harapan kakak kamu segera mendapatkan Hidayah dari Allah sehingga kamu bisa menjadi orang yang islam yang Hakiki, intinya kamu bisa mendapatkan Hidayah sehingga hatimu yang bimbang dengan Islam ini kamu bisa menjadi tidak ragu dengan Islam yang hakiki ini, karena islam itu gampang dek, islam itu toleransi, jalani saja sabar dan ikhlas, sehingga kamu bisa menemukan puncak yang memang kamu membuat bimbang itu sehingga mendapatkan Ridho Allah SWT.!”

“Iya kak, Amien kak. Kakak pernah ingat dengan ucapan Bunda yang diucapkan di depan meja ini empat tahun lalu bahwa akan ada cahaya dalam keluarga ini, mungkin ini yang dimaksud Bunda kak, dan cahaya itu kakak, dan Gimana dengan Bunda. ?”

“Bukan kakak saja namun adek juga tapi belum saja kamu mendapatkan Hidayah. Iya doakan saja yang terbaik buat beliau dek. Kakak ini seperti ini karena tuhan sudah membukakan pintu hidayah padaku !”

Semua manusia tujuan sama dan merasa benar, dalam agamanya masing-masing dan mempunyai tujuan hidup yang sama, namun cara  membedakan dan keyakinan itu kadang manusia tidak merasakan, kebenaran adalah sebuah nilai, dan kebaikan itu sebuah sifat dan kebenaran adalah iman. Sehingga kita itu hanya mengharapkan tuhan bersama kita ini dan menjadi satu dalam jiwaku dengan raga menjadi satu, tuhan akan lebih dekat dengan urat nadi kita, dalam islam semua mengharapkan rahmat dan Hidayah dari Allah SWT.

Diluar itu yang sangat bertoleransi dengan semua manusia yang ingin tidak memandang Agama atau suku, ras, dan suatu organisasi hanya hati yang membenarkan dan tuhan yang maha tahu.

Selasa, 22 Desember 2020

MEMBACA SENJAKALA KEBUDAYAAN


"Andai, ketika membaca di dalam buku dikagetkan dengan hantu sedang sholat, pasti saya rajin baca buku. Mungkin itulah pandangan orang agamis jika ingin menemukan sesuatu beda, berhubung saya tidak begitu punya anggapan seperti itu, ya biasa-biasa aja, dan kaget menemukan sesuatu itu harapanku" 

Tidak pernah dapat penjelasan tepat dan jelas, perihal pertanyaan seni dan sains. Apalagi ada yang anggap kedua tersebut suatu kelompok disiplin ilmu eksakta dan humaniora. Perdebatan tersebut tidak dipungkiri dari dulu hingga sekarang masih tetap jadi hal seksi, khususnya di kalangan diskusi sastra yang masih baru dan selalu bertanya manfaat perihal ilmu pengetahuan. Tidak salah, namun kurang tepat saja jika dalam belajar masih melakukan bicara nilai siapa yang bawa nilai itu sendiri. Secara, tidak perlu adanya pandangan kalau sastra dan sains setara, juga tidak perlu adanya sebuah stigma jika sastra ilmu yang teorinya masih sama saja dari hulu kehilir. Sebagian orang mempermasalahkan, padahal tidak perlu dan tidak juga harus; bertanya perihal keluar dari karya. Jika Martin Suryajaya berpendapat dalam chanel youtubenya yang bahas sains dan seni, bahwa terlalu sempit medan makna jika hanya seperti yang telah disebut di atas mengenai sains dan seni. Sains katanya sering dimaknai oleh banyak orang kerja logika (otak) untuk menghasilkan objek pengetahuan, sedangkan seni dimaknai kerja hati yang berporos pada objek tersebut mengelolahnya adalah naluri (hati). Istilah kedua tersebut tidak perlu dipermasalahkam karena dari kedua ada alasan logis dan reflektif. Namun, dalam buku Nirwan Dewanto berjudul 'Senjakala Kebudayaan' (OAK. 2017) memberi perpektif baru perihal keduanya. Hal itu tercerahkan dari hasil bacaan buku tersebut, yaitu sebagaimana seni dan sains jangan pernah disamakan dalam sebuah parameter pencapaian. Kita tahu sains akan menghasilkan teori baru dan bisa dibuktikan dengan pembangunan, dan juga sangat begitu dekat dengan realitas sosial dan sangat tampak contoh kecil mesin yang pada abad ke-16 telah menemukan mesin ketik di Jerman. Semua orang berlomba-lomba menyambutnya dan ingin memgethaui kontribusi kepada kehi , begitulah gambarnya. Tapi seni tidak pernah terlihat secara pacaindera melainkan secara pola pandang dan sikap. Sehingga dalam kehidupan sehari-hari sains dan seni satu kesatuan yang ada dalam bentuk paraktik di lapangan. Mari refleksikan, bahwa setiap bangunan juga ada seninya (cara yang baik dalam membangun), memperhatikan bentuk yang ada apa objek tersebut. Contoh dalam membuat HP, jika hanya kerja sains dan tidak ada seni-nya maka tidak akan menghasilkan HP yang bagus dan enak dipandang. Maka simpulan ada pada cara membentuk suatu objek untuk menghasilkan manfaat kepada manusia. Selaras tujuan dari ilmu pengetahuan. Kan, puncak akhir dari pengetahuan itu adalah bermanfaat kepada orang lain, agama, dan peradapan dunia, (berfunsi pada kehidupan), bisa memerdekan, dan bisa memanusiakan manusia sesuai dengan rill jalan hidupnya. Sebab tidak akan ada guna memperpanjang banyak diskusi mengenai kedua Ilmu tersebut jika keduanya tidak memberi sebuah fungsi dalam kehidupan dan peradapan dunia. 

Kamis, 10 Desember 2020

Perjalanan Penulis, dan Tugas Seorang Akademis

  

  

Judul: Ibu di Wajah Purnama

Karya: Khoirul Muttaqin

Penerbit: Lakeisha

Cetakan: Pertama Juli 2020

Tebal: viii+110

ISBN: 978-623-6573-03-7

Genre: Sastra


Di tangan seorang perempuan yang rajin, ia akan melipat baju dan meletakkan di lemari dengan rapi. Begitu pula di tangan penulis akademis, akan menulis dengan menggunakan bahasa yang manis, sistematis, dan logis, tanpa ada sedikit kekacauan, kesangsian dalam mengemas sebuah kisah. Nyaris, rapi menggunakan bahasa yang baik dan benar, Barangkali itu yang tepat untuk menyimpulkan dalam kumpulan cerpen, ditulis oleh dosen Khoirul Muttaqin, berjudul “Ibu di Wajah Purnama” diterbitkan Lakeisha 2020.

Dalam kisah Narcissus, seorang pemuda yang berdiri di atas telaga salama hidup, sambil berkaca ke dalam air di telaga itu. Lalu, nasib buruk menimpanya jalan yang telah ditentukan yaitu umurnya. Ia meninggal karena  terpeleset  pada saat berkaca. Semua orang menangisi kematiannya, air telaga yang murni tawar berubah menjadi asin, lantaran banyak air mata masuk ke dalam telaga. Kisah tersebut diambil dari dalam novel Sang Alkemis ditulis oleh Paulo Celho di tahun 1984 dalam tokoh Santiago menceritakan pemuda tersebut.  begitulah yang pantas untuk mengemukakan kumpulan cerpen berjudul “Ibu di Wajah Purnama”. Sebagai bentuk lain dan  kisah lain namun tujuannya sama.

Khoirul Muttaqin sebagai penulis seperti ada ambisi menunjukkan sebuah identitas diri dalam karya ini. Identitas tersebut berupa lokalitas serta seorang akademis. Sebagai orang yang berada di tengah masyarakat urban sekarang. Namun, sebelumnya tidak. Latar belakang dirinya dibawa ke kehidupan lebih luas dengan sebuah pencapaian menuliskan dalam bentuk cerpen. Nyaris isi dalam cerpen tersebut memiliki setting sangat dekat dengan dirinya, yang sangat kental budaya dengan tradisi jawa, pola pikir jawa, dan sikap jawa. Sebagai seorang akademisi sekaligus dosen yang memberikan dedikasi kepada pembaca, apalagi seorang  dosen di jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ia memberikan sebuah tata cara menulis yang manis, sistematis, dan logis. Tergambar dalam cara mengisahkan cerita, narrator dalam cerpen  seperti orang terdidik yang sudah mengerti ilmu bahasa Indonesia.

Kumpulan cerpen ini memberikan tiga hal terkait isi yang akan disampaikan penulis yaitu; lokalitas, jiwa zaman (Zeitgeist), konsistensi tokoh, Ini, menurut hemat saya.  Bahwa  dalam tiga hal tersebut yang tergambar jelas pesan moral dalam latar sosial budaya bahwa moral merupakan suatu hal yang dapat dikatakan baik maupun buruknya ajaran yang dapat diterima oleh masyarakat perihal perilaku maupun tata krama yang dilakukan oleh seseorang. (Nurgiyantoro, Burhan,  429: 2015).

Terkait dengan sebuah budaya lokalitas yang ada dalam cerpen tergambar dalam judul “Menunggu Kupu-Kupu”. Dalam tradisi kampung pada umumnya, jika ada kupu-kupu masuk ke dalam rumah ada tanda baik berupa tamu datang ke rumah yang ditempati. Aku selalu sabar menunggu kupu-kupu datang ke rumahku. Aku relakan waktu bermainku yang pendek karena terpotong oleh rutinitas sekolah dan ngaji ku yang terasa amat panjang bagiku (hal.61 2020).

Jiwa zaman (Zeitgeist dalam bahasa Jerman), memberikan sebuah gambaran paling sederhana. Ketika karya sastra berupa kumpulan cerpen dibaca hingga sepuh dan dua puluh tahun akan datang, jiwa zaman yang akan dijadikan bukti kalau di masa lalu ada namanya virus corona yang  ketika merasuki ke dalam tubuh manusia, akan membahayakan bahkan hingga meninggal, bahkan jasad meninggalnya akan diperlakukan berbeda umumnya. Hal ini dibuktikan dalam cerpen berjudul “ Risalah Kematian” dengan dialog sebagai berikut; “Orang-orang sekarang pada panic” ujarnya salah satu tokoh, “Panik kenapa?”, sautnya, “Bagaimana tidak. Pak Rokam kan pasien positif corona.”. hal ini menjadi bukti bahwa suatu saat nanti, zaman akan membuktikan bahwa terdahulu masa-masa sulit telah dilalui.  

Konsistensi tokoh yang sangat jawasentris. Tergambar dalam tokoh beramana Kek Amin, representasi dari penulis. “Setiap sampai di rumah, Kakek Amin terus saja mengumpat dan mengutuk dirinya yang selalu saja tak mampu mempertahankan pendiriannya. Dalam hal ini memberikan sebuah bukti kalau konsistensi tokoh menunjukkan bahwa ada sebuah keseriusan dalam penggarapan karya sastra. Bahkan  dalam membentuk sebuah pendirian orang tua sangat wajar ketika sangat kuat tidak plin-plan sangat memberikan dedikasi yang relevansi.

Kesuksesan seorang akademis senantiasa menulis dengan begitu rapi. Tidak dipungkiri karena sesuai dengan disiplin  ilmu yang digeluti, sesuai dengan jurusan masa kuliah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan sekarang menjadi dosen di jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Unisma.

Akhirul Kalam, tulisan ini sangat baik mengemas cerita dengan sebuah lokalitas. Terkontaminasi latar belakang sosial budaya. Namun tidak mengurangi kenikmatan membaca “Tiba Sebelum Berangkat” (Gramedia 2018) karya Faisal Oddang.