Senin, 07 Oktober 2019

Literasi dan Evolusi




Semakin tinggi bacaan manusia semakin rendah pula termakan profokasi manusia.  Hal ini menjadi bukti bahwa literasi sebagai alternatif dalam menerima informasi, yang tidak mudah teprofokasi. Ketika ingat dengan metamorfosisnya seorang Filsuf Jerman Friedich Nietzsche dalam buku Zarathustra (Nietszche, 2017:1) bahwa yang terberat adalah merendahkan dirimu sendiri agar melukai kesombonganmu dan membiarkan kegilaanmu keluar agar mengejek kearifanmu.
Hal itu menunjukkan bahwa setiap kearifan manusia akan melahirkan sebuah kerendahan diri dan tidak akan meninggikan dirinya. Sehingga dalam keadaan seperti itu manusia memerlukan kontrol yang dapat mengatur dirinya agar tidak terjerumus akan jurang-jurang kehancuran. Dan tugas dari apa yang telah dilakukan bagaimana bisa mengontrolnya dan mengembangkan agar terus berkembang. Literasi dan manusia bagaimana terus berkembang dalam kehidupan kita dari lingkungan hidup kita.
Saat hujan menyapa dengan sebuah tanya, tanpa maksud apa-apa pada saat itu  sebagai manusia bertannya pada diirinya “apa hari ini sebuah cita-cita masa depanku?”. Sebuah perjalanan akan menyisakan kesan pada setiap peralanan, alam selalu mempersembahkan  apa yang telah dititahkan ketika memaksakan untuk mengikuti perputaran alam. Suasana pertemuan dalam sebuah perjemuan pada sebuah ilmu pengetahuan sangat banyak jalan untuk menempuh.
            Pada saat kuliah aktiv sebagai mahasiswa akan mengemban beberapa banyak tanggung jawab “katanya”, ketika kita yang lain sibuk dengan tugas tanggungjawab laporan, yang akan diserahakan kepihak sekolah, suasana kos sudah tidak kondusif. Banyak dari antara buku dalam rak hanya menjadi instalasi pemandangan yang menuai estetika pencitraan ketika mengmbil buku hanya berdebu dalam rak buku yang telah terkumulkan.
Rasa-rasanya kemaraian itu menunda kegelisahan serta menguji bahwa literasi sebagai pondasi sudah tidak dihiraukan kembali, dengan  keadaan manusia dalam menciptakan sebuah karya ketika sudah menjadikan kita untuk lebih bermakna dalam membaca. Ketika Unisco melakukan penelitian pada 2016  mengenai tingkat literasi di Indonesia dikategorikan rendah dan lemah, karena hasil dari data bahwa rata-rata dari 1.000 orang Indonesia yang suka pada literasi hanya 1 orang. Proses penelitian itu dilakukan dengan peringkat baca; Koran, majalah, dan buku sangat rendah dalam hasil dan pembelian atau koleksi buku orang Indondesia.
            Sifat malas adalah kudrot dalam diri manusia, jika nyaman dengan sebuah keadaan bersiaplah untuk digilas oleh peradapan. Peradapan  lebih kejam dari kejahatan para kriminalisasi ketika perjalanan tidak pernah memberikan sebuah marwah terhadap kisah tuk masa akan datang. Dengan proses membacalah manusia bisa Berjaya serta bisa berkarya, berbuuat baik manusia akan bisa dicipta namun sebuah cara terbaik yang mampu memberikan hak cipta pada kehidupan manusia. Kemalasan itu hanya bisa dilawan dengan sebuah keinginan, dengan seperti itu maka akan meruntuhkan sebuah kemalasan.
            Pada suatu hari yang lalu saya mendapatkan pesan watshap, berbunyi permintaan untuk menjadi pemateri 19, September 2018 di Fakultas Kedokteran Unversitas Brawijaya (FK-UB), kala itu saya sangat kaget karena merasa belum siap, dikarenakan  saya sendiri masih semester VII, karena itu adalah pilihan untuk bisa belajar dengan apa yang berkan kepada saya mungkin saja itu amanah. Dan saya rasa itu sebuah titahan dari Allah Swt diberikan agar saya bisa belajar lebih giat mengenai teori serta tetantang kehidupan. Setelah itu saya putuskan untuk menerima apa yang sudah menjadi pilihan yang penting niatkan untuk belajar.
            Banyak hikmah yang dapat saya ambil dari apa yang dapat saya bagikan nantinya. Langkah awal saya mengambil data-data peringkat literasi yang ada di Indonesia, karena materi yang diminta yaitu mengenai literasi “Budaya baca, Diskusi dan Menulis”, sebuah keresasahan dan kebahagian lantaran ini menjadi tantanangan kepada kompetensi pada diri sendiri serta bagaimana mental bisa memberikan pandangan pada mahasiswa FKUB yang dalam klasifikasi disiplin ilmu tergolong pada disiplin ilmu eksaskta. Sehingga tugas saya sebagai orang yang nantinya bisa memberikan stimulus dan peserta bisa merespon apa yang bisa saya sampaikan, harus lebih siap dengan persiapan mateng. Setelah mencari serta mendapatkan data dari apa yang ditemukan sangat memiriskan karena peringkat negara palinng rendah Negara Indonesia berada diposisi paling bawah nomor 2 di atasnya Bostwana. Ini permasalahan sangat memilukan dari tahun ketahun 63 tahun yang lalu kata Taufik Ismail negara kita.
            Paling menarik dalam literatur menemukan data mengenai pentingnya literasi. Tulisan itu ada di dalam risetnya media tirto.id bahwa Francis Bacon sorang filsuf Inggris mengatakan bahwa “Pengetahuan adalah kekuatan, siapapun pelakukanya”. Kalau kita mennjau lebih dalam mengenai sejarah, pada saat berjayanya seorang Fir’un Berjaya bukan semata-mata dengan kekuatan militernya, Fir’un memiliki perpustakaan sendiri yang mengoleksi buku 20.0000 buku. Hal itu menjadi refleksi dalam kehidupan dalam pentingnya literasi baca. Membaca adalah kekuatan manusia ketika mampu menguasai apa yang telah dibaca. Dengan seperti itu pula saya bisa sadar atau kritis atas pentingnya membaca bukan hanya memberikan dampak pada diri sendiri namun akan memberikan dampak pada kehidupan kemaslahatan ummat serta membantu atas kemajuan perkembangan sains sebagai sumbangsih mengenai pentingnya perkembangan zaman, dengan pengetahuan yang dimiiki akan memberikan dampak terhadap fungsi orang lain serta punya nilai estetik.
            Setelah mendapatkan di sini saya mempersiapkan diri mengenai teknis bagaiamana nanti bisa menyampaiakan mengenai budaya literasi, dengan keadaan yang jarang istirahat secara teratur. Ketika sudah sudah siang pergi ke Perpustakaan Pascasarjana untuk baca-baca literatur yang berkaitan dengan kesehatan literasi, setalah menemukan sangat menarik, karena kesehatan literasi sangat penting pada kehidupan dalam membangun kognitifitas serta psikomotorik dalam perkembangan hidunya. Otak akan selalu sehat ketika keterampilan membaca, diskusi, serta diskusi (dunia literasi) diintensifkan dengan serius. Ketika masyarakat cerdas bersiaplah negara akan berkelas.
            Ketika semua bisa dilakukan dengan baik dalam mengelola sebuah wadah baca maka akan  ada dampak positif yang mampu diterima oleh mahasiswa khususnya. Sehingga literasi akan menjadi sebuah kebutuhan bagi calon kaum intelektual. Membaca sebagai tugas manusia yang telah menjadi anjuran kita dalam hidup. Dan itu sudah menjadi anjuran Allah SWT dalam Al-Quran surat Al-allaq ayat 1 artinya “Bacalah dengan menyebutkan nama Tuhanmu”. Hal itu menjadi bukti bahwa kita hidup anjurannya yaitu membaca, dan menulis bentuk bonus.



Biografi
Akhmad, Mahasiwa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (FKIP-UNISMA), Aktiv di LPM Fenomena, HMJ PBSI, dan Komunitas Gerilya Literasi.

Minggu, 06 Oktober 2019

Mengasingkan dari Demonstrasi Mahasiswa; Bedengan

Foto:LV.A

Minggu- minggu ini memang suasana paling rumit dalam hidup. Bekerja sudah merasa bosan kadang melelahkan. Menulis rasanya sudah seperti menemukan kegagalan. Maka saya awalnya ingat dengan Mas Alif teman yang sudah lulus mengajarkan saya mengenai kehidupan bebas, makanya beberapa hari lalu seperti menggebu segera berangkat ke Bedengan tempat yang pernah saya singgahi bersamanya, dan kini merasakan aroma Itu kembali merindukan, mau mengajaknya sekarang ia Umroh. Dan pada saat itu saya mengajak Deri dan Iqbal, ternyata Dek Lia mau ikut juga. Pada saat itu serasa kurang etis kita berangkat bertiga sedangkan akan ada perempuan. Namun ketika ada Hamif dan ia datang mengajak Ifa pacarnya, dan bersyukur ada temannya, agak tenang.

Saya memang ada rencana untuk pergi ke tempat sunyi. Mencari tempat sunyi untuk bisa memahami diri. Tepat bersama dengan kemaraian Kota Malang dan seluruh kota lainnya, Semua Mahasiswa (i) turun ke jalan. Menuntut kebijakan DPR RI yang membuat undang-undnag baru, RUU KPK dan RUKUHP dsg. Sudah satu minggu ini mulai dari tgl 23-26 bahkan ada tambahan dengan tgl 27 aksi Kamisan. Dalam pikiranku begitu sangat kacau melihatnya, dan pada masa itu saya ikut serta juga walau secara signifikan tidak akan memberikan fungsi. Tapi sebagai Mahasiswa sepertinya saya tidak akan rela dengan keputusan berdamai denhan diri sendiri, tanpa ada partisipasi. Walau pada saat datang itu hanya memilih sampah dikala demonstrasi sudah selesai, membersihkan potongan rokok, karena aku sadar kalau Itu bagian dari demonstrasi damai dan bersih.

Kala itu tgl 29 September 2019. Saya, Deri, Lia, Mbak Iva, Diky, dan Hanif. Akan segera berangkat. Bedengan menjadi opsi pertama kali, lalu tepat setelah Asar kita berangkat. Bermalam di sana.

Semalannya kita bicara tentang banyak hal. Ada yang direncanakan ada yang tidak rencanakan, hanya kondisional. Tujuannya tidak lain, dan tidak bukan, bahwa dari beberapa itu melebur jadi satu. Meminum kopi bersama berbicara tentang banyak hal, mengenai pengalaman sendiri, dan pengenalan orang lain.

Kala pagi sudah tiba memasak kopi dan menyalahkan api, mencari kayu ke dekat tenda yang telah kami buat. Setelah melakukan perjalanan ke arah dataratan tinggi melakukanlah, setelah selesai bergegaslah pulang.
_________________________________

Perempuan Yang bergonceng kepada saya itu memang membuatku ringkuh dan bingung bicara apa kepadanya. Lalu berapa kepadanya ia mengajak berbicara tentang semuanya.
"Aku seorang pemikir dan waktu itu aku terkontaminasi dari pemikirannya Kiran seorang tokoh dari salah satu novel Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur Karya Muhidin M. Dahlan."
Pada saat berboncengan, di atas sepeda motor sepulang dari salah satu tempat yang sedikit hutan, dan pas berangkat pada tgl 29 September 2019.Waktu itu saya Mahasiswa semester akhir. Dan perempuan Itu masih semester VI. Masih teringat dengan pembicaraannya, dan berkata.
"Mas anak itu asik ya." ucapnya perempuan itu.
"Iya asik!, Tapi ya gitu urakan agak ngawur." jawabku padanya.
"Tidak masalah Mas, lebih suka dengan orang seperti itu, lebih jujur dan apa adanya, terpenting anak seperti itu tidak munafik, kalau memang gak suka dia bilang gak suka." Dengan nada tidak terima menjawabnya.
"Iya memang Dek, anak seperti itu akan lebih memahami mengenai perempuan mana yang baik dan mana yang tidak, dan akan lebih teliti Pada perempuan, biasanya anak seperti itu akan senantiasa melindungi." dengan nada keras karena ada desir angin di atas motor untuk bisa terdengar.
"Iya Mas, saya malah senang dengan berteman dengan anak seperti mereka. Saya Ini tidak suka pada teman-teman yang klim anak seperti mereka itu tidak memiliki kebaikan sama sekali. Padahal saya ini menjadi saksi dari anak-anak seperti mereka, mereka itu pernah mabuk dihadapanku sendiri di dalam kontraknya, tapi aku tidak mempermasalahkan dengan hal itu, saya hanya menjawab kalau berteman bukan dari segi kebaikan dan keburukannya. Tapi memang karena ingin berteman dengan seseorang." ujar kepadanya kepadaku.
Angin berdesir mengikuti hati yang menanti pertanyaan-pertanyaan darinya. Dari malam sudah banyak menimpan jawaban yang ingin ditunggu. Dan mengenai pemikiran dan pendiriannya dalam berteman. Hatiku berkata, perempuan ini hebat dan tidak disangka pemikirannya seperti ini. Lalu berhentilah motor yang kutunggangi ini bersamanya, lantaran teman-teman yang pada ingin makan. Berhentilah, di penjual bakso. Makanlah mereka semua kecuali aku yang tidak makan.



Akhmad 2019
Cerita pada saat di Bedengan ngecamp bersama; Lia L, Deri, Hanif, Ifa, dan Dikky.

Kamis, 03 Oktober 2019

Bertemu Soesilo Toer; Bercerita Tentang Humanisme dan Nasionalisme

Foto: Hanifulloh

Aku memohon maaf pada masa lalu yang ku buang bersama waktu yang hilang, aku meminta pada masa depan menyangkan ingin mencipta jadi asa, aku ingin berjanji pada waktu yang sebentar lagi akan hilang dan tak kembali, aku ingin merasa bahwa yang dicita menjadi peristiwa bahagia. Dan kini tiba yang masih sangsi akan makna dan arti, yang hanya ada dada, aku minta maaf pada rasa ingin memiliki yang belum bisa berbentuk kata dan bahasa. Aku Hanya berharap doa dari waktu memukul kepalanya dan memahaminya.

Niat bertemu dan akan pergi ke sana beberapa tahun lalu, namun apalah daya belum bisa diizinkan oleh waktu. Pada awalnya yang tidak pernah disangka, berawal dari stori salah satu teman literasi kalau di rumahnya ada Soesilo Toer, ketidak sangkaan lagi niat mengambil tenda untuk pergi ke Bedengan ngecep (bermalam di hutan). Saya melihat beliau yang duduk seperti orang kosong pikirannya. Terus saya berhenti untuk membeli makanan buatnya.

Dari itu berpikir bahwa keinginan manusia akan selalu ada ada jalan akan, dan akan itu suatu saat kadang akan tiba apa yang menjadikanya impiannya. Ketika tidak akan menjadi cerita sendiri, setidaknya bermimpi jika tidak maka akan jatuh pada antara bintang-bintang. Dan impian untuk bertemu dengannya itu seperti halnya mimpi yang jatuh di antara bintang Itu.

Setelah saya berhenti dan memulai bercakap kepadanya. Dengan senyum awal dipersembahkan. Dan salam kepadanya tanpa berpikir agamanya.

"Assalamualaikum pak"
"Iya nak."
"Bapak lagi apa?"
"Lagi nunggu mati" dengan senyum dan menjelaskan bahwa hidup kan hanya menunggu, menunggu yang pasti atau yang tidak pasti. Katanya.
"Sudah berapa lama Pak?"
"Sudah 5hari dan besok pukul 5 akan kembali ke Blora"
"Ini Pak, kami bawa makanan, monggo Pak".
"Bapak sibuk apa sekarang?"
"Tetap kesibukan sebagai Rektor di jalananan melihat kehidupan nilai kemanusian yang dapat bapak temukan, hanya dengan menjadi pemulung bagiku tahu tentang hidup". Ujuranya dengan bangga.
"Dengan kondisi seperti ini apa yang berat dalam hidupnya Bapak?"
"Tidak ada yang berat dalam hidup ini, semua akan ada kehidupan, kehidupan yang memiliki banyak peristiwa, sebagai pemulung ini kerja kemanusian, setiap keindahan yang aku jalani ini bentuk kecintaan akan manusia lain, dengan membersihkan sampah dan dijadikan uang, itu nikmat hidup yang ku jalani, tidak perlu menjadi apa, karena hidup bukan bahagia, tapi tentang nikmat."
"Bagaimana dengan Perpustakaan Pateba?'
"Tetap, aku hanya merawat dan aku menulis tentang Pram 9buku"
"Apakah buku Pram di sana lengkap?"
"Tidak, Karena Pram berpesan jangan memaksa sempurna yang ada saja dijaga, buku cukup yang ada dijaga"
"Insyaallah suatu saat saya ke sana Pak"
"Silahkan, boleh kok menginap, terbuka untuk umum dan sudah kurang lebih dari 4-5 negera yang telah berkunjung ke Pateba. Di negeri ini sangat banyak seniman tidak dirawat, beda dengan Malaysia yang sangat baru merdeka tapi negara sana sudah lebih maju dari negeri ini, tidak ada bangunan di sana besar, dan sejahtera, itu aku rasakan ketika aku di undang jadi pembicara ke Malaysia, di Indonesia malah tidak dijaga padahal seni kerjaan orang yang mulia, contoh Pram tidak pernah dihargai karyanya oleh negeri sendiri, malah sebaliknya dianggap yang aneh-aneh Pram itu."
"Terus gimana Pak, Bapak pernah dapat apresiasi dsri masyarakat sekitar Bapak?"
"Iya ginilah hidup, tidak perlu meminta dihargai dan dihormati dengan apa yang kita miliki, semua akan tahu nanti sejarah akan membuktikannya, sekarang Aku hanya menerima, dan seperti ini hidup itu lebih bebas tanpa terikat"
"Iya Pak, apa di sana Bapak hidup bahagia?"
"Bahagialah, karena pemulung Itu yang membuat kita bahagia, karena tidak ada tekanan, dan paling nasionalis bagiku yaitu saya ini yang tidak hanya bicara tapi lebih memperhatikan keadaan, memilih sampah dengan gembira, di sana itu kurang lebih di Blora itu 56 orang, perorang akan mendapatkan 1glansi, kalai seperti aku dapat 3glansi kadang, jadi total setiap hari kurang lebih 30ton sampah di Blora aja, itu perhari bayangkan saja nak, siapa yang akan berpikir kalau wadah makanan dari para pejabat, bahkan Presiden dan Taperware yang adik bawa ini salah satu hasil dari daur ulang sampah yang aku pilih, itulah paling sederhana bahagia bicara makna"
"Bapak semoga sehat selalu." dengan senyum dan haru berbagi cerita kemanusian bahagia dan makna.
"Iya Nak, kalau kamu mau jadi manusia kadilah manusia yang tidak hanya tertawa dan bisa diberikan kepada manusia dalam bentuk apapun, karena hidup bukan tentang hari ini nak. Kamu mau ngecamp akan mencari apa di gunung?'
" Bukan gunung Pak, tapi hutan lepas biasanya tempat mengasingkan diri dari ramainya keadaan negeri yang sepertinya, sudah saatnya menyendiri di hutan, mengkoreksi diri tentang apa yang telah terjadi dan yang pernah saya lalui, dengan aksi kemarin demonstrasi bersama Dengan teman-teman Mahasiswa."
"Oh gitu ya caranya Nak, iya sudah Nak, tapi jangan lupa dengan segala keinginan yang dibangun bukan hanya untuk sendiri tapi kepentingan orang banyak, dan ketika Nanti jadi penguasa jadi yang bijaksana dan tahu tentang manusia."
"Iya pak terima kasih. Seharusnya seperti apa dalam pahlawan yang benar ada di negeri ini?"
"Banyak jasanya temanku Dan orang-orang yang berperan pada saat proklamasi tapi sekarang tidak jadi apa-apa, seharusnya menjadi pahlawan, seperti penulis teks prokalasi, penggerek bendera, dan pengebar bendera, sekarang tidak dimasukkan ke pahlawan nasional padahal itu wajib masuk karena telah berperan atas kemerdekaan."

Setelah pembicaraan sudah sampai dan itu sudah selesai, saya dan teman berpamit untuk berangkat ke bedengan. Karena Lia Lavenita, Deri, Ifa, dan Dicky sudah menungguku. Dan pesan itu saya ingat dan direkam dengan mendokumintasikan foto bersamaanya, Soesilo Toer adek dari Penulis ternama di Indonesia Pramoedya Ananta Toer.



Akhmad Mustaqim 2019
Cerita ini saya tulis di Bedengan 29, September 2019 disimpan dalam note Hp, dan selesai pada 2 Oktober. 

Minggu, 22 September 2019

Musim Panas di Indonesia; Kunci Masyarakat Madani

Foto; PPMI-Malang

Musim Panas di Indonesia; Kunci Masyarakat Madani

Masyarakat madani akan selalu memiliki kesadaran tinggi, kesadaran akan sebuah kebijakan, keadaan,  dan melakukan sebuah tindakan, hal itu menjadi impian di setiap negeri, bahwa masyarakat akan sadar dengan dirinya sebagaimana ia berperan sebagai tiang dari sebuah Negara bahkan menjadi pondasinya. Negara bisa diistilahkan bagaikan bangungan rumah pondasi dan tiang-tiangnya adalah masyarakat, untuk membangun rumah bukan hanya butuh indah, melainkan perlu kokoh. Maka hal ini berkaitan dengan kepercayaan dan para pemangku kebijakan bisa memukan apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Seingga terbuka untuk mencipta sebuah peradapan.

Musim  panas negeri ini merupakan  hal yang wajar, karena iklim dan negera dengan  letak geografis lurus dengan katulistiwa memiliki dua musim. Namun, panas hari ini tidak seperti musim panas pada umumnya. Seharusnya kita semua tetap merasakan apa yang patut dirasakan  untuk kehidupan kita.  Namun panas ini merupakan keadaan negeri dalam keadaan tidak biak, tugas  warga yang sadar perlu untuk bisa mengambil peran aktiv, serta memberikan fungsi pada kehidupan. Ada apa dengan negeri ini, keadaan  negera harus memahami apa yang telah lakukan pemangku kebijakan.

Setiap kebijakan tentu akan menimbulkan pro dan kontra. Banyak perseteruan apalagi dalam menyikapi sebuah keputusan yang berkaitan dengan orang banyak. Pro dan kontra sebuah hal biasa, namun menjadi kekhawatiran keputusan melahirkan keos. Hari ini sepertinya Indonesia mengalami musim panas berkepanjangan. Beberapa keputusan melahirkan sebuah konflik kerkelajutan. dan musim ini membuat air tambah kecil sumbernya. Terutama mengenai apa yang telah menjadi pertimbangan  penguasa kita. Akhir-akhir ini pro dan kontra yang terjadi mengenai keputusan yang telah dilakukan oleh para kepentingan birokrasi kita, hal itu merupakan sebuah ujian besar bagi kaum kecil dan terpelajar kita hari ini.

Kesdaran calon cendikia yang berada di perguruan tinggi tidak semua kejaman berpikir dan mau memperhatikan negeri ini tidak terlalu banyak. Mungkin saja anggapannya tidak perlu memikir negeri ini karena sudah ada yang mengurusnya.pemikiran itu bukan sebuah pemikir seorang cendia yang berada di perguruan tinggi dan dianggap agent perubahan agent of change mahasiswa bukan hanya itu, namun memiliki peran konrtol serta menyadarkan masyrakat akan fenomena sosial.

Dalam hal ini tentunya harus kita pahami  secara realistis. Berasumsi jika masyarakat tidak akan terlalu dan banyak merespon kejadian negeri ini, ketika telah terpenuhi kebutuhan mereka. Dan kadang berpikir apatis dengan keadaan negeri ini. Namun tidak semua bisa memahami secara detail mengenai itu semua. Masyarakat hanya merasakan dan menjadi pelaku pula, walau ada dengan bijaksana menerima atau dengan bijaksana tidak menerimanya.

Di kehidupan masyarakat berpikr tidak akan pernah peduli siapa pemimpin kita, siapa yang di atas kita, terpenting kebutuhan mereka yang empat hal telah terpenuhi; seperti sandang, pangan, gedong, dan papan, dalam bahasa Indonesia sandang “baju”, pangan “makanan”, gedong “tempat”, papan “petunjuk/pengetahuan”. Ketika semua itu telah terpenuhi masyarakat terkadang akan apatis dengan semua yang terjadi dengan keadaan negeri ini. Sebab kebutuhan  primier manusia itu. Namun, bagi yang yang terdidik tidak hanya menerima apa adanya dengan apa yang ada di kehidupan serta lingkungan kita.

Selaras apa yang telah ditulis oleh Ir. Soekarno dalam bukunya berjudul “Dibawah Bedera Revolusi” bahwa sebagai Aria Bima-Putera, jang lahirnya dalam zaman perdjoangan, maka Indonesia Muda inilah melihat cahaya cahaya matahari pertama-tama dalam zaman yang rakyat-rakyat Asia, lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnya. Tak senang dengan dengan nasib-ekonominya, tak senangn dengan nasib-politiknya,  tak senang dengan segala nasib lain-lainnya. Maka harus sadar bahwa “Senang dengan apa adanya adalah masa lalu” di zaman baru; zaman muda, sudahlah datng sebagai fajar yang terang cahayanya (Hal 01;1963).

Hal itu menunjukkan bahwa masa lalu yang telah berlalu dengan apa yang sudah apa adanya dalam menerima tentang hidup. Hari ini cahaya telah terang banyak cara manusia melakukan sesuatu untuk bisa membuka ruang untuk kehidupan baru hari ini. Dan berperan dalam keadaan hari ini banyak cara bagi kaum muda yang ingin berperan dan menemukan fungsinya.

Musim panasdi Indonesia sekarang ketika kita lihat, bukan sebuah cuaca melainkan sebuah rentetan sebuah peristiwa pasca pemilu yang begitu sangat memilukan dan membingungkan. Untuk berkata seperti apa dalam menyikapi dengan bijaksana. Namun sebagai orang yang cinta terhadap tanah air bukan hanya diam dengan menikmati apa yang terjadi, kaum terpelajar mencoba untuk merekam dan bisa menemukan sebuah keadaan negeri ini. Dan yang terjadi akhir-akhir ini yang sepertinya menjadi konflik horizontal, kita lihat rentetan keadaan negeri ini. Dimulai dari adanya keputusan  Presiden perpindahan Ibu kota, pengesahan UU KPK oleh DPR yang baru-baru ini dilakuakan, Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP), Kebakaran Hutan, dan Konflik Agraria di Kebumin. Semua itu  merupakan sedikit yang terekam, lalu bagaimana menyikapi hal itu semua?, pertanyaan itu mungkin akan menjadi kajian tersendiri dalam setiap elmen, organisasi, dan bahkan orang-orang individu yang memiliki pendapat sendiri mengenai hal ini semua.

Banyak cara untuk bisa memberikan peran dengan mendoakannya, dengan memberikan peran langsung dengan turun ke jalan, menuliskan, dan bahkan para para pemimpiin yang memang serius menangani tanggungjawabnya. Semoga panjang umur dan tanggungjawab moral tentang negeri ini secara bersama bisa dicipta dan tidak adalagi keos berkepanjangan. Terpenting tidak hanya pasrah dengan apa yang ada dan yang terjadi,  mari bersama-sama saling membenahi sesuai dengan disiplin ilmu yang digeluti.

Sehingga cita-cita menjadi negeri madani tercipta; dengan kesadaran  masyarakatnya dari bawah menuju ke atas. Tidak ada kesangsiang kalau dari atas ke bawah, sebab jarang dari atas akan ke bawah lagi karena telah nyaman di atas. Maka mencipta masyarakat madani hanya dengan membuka kesadaran atas diri untuk bisa mengembangkan apa yang menjadi langkah awal peradapan baru dalam negeri ini.

Biografi
Akhmad, Mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia (PBSI) FKIP-UNISMA,aktiv di LPM Fenomena, HMJ-PBSI, dan kamunitas baca gratis Gerilya Literasi.

Jumat, 20 September 2019

Meneladani Alm. BJ. Rudy Habibie; Teknokrat, Negarawan, Humanis, Spritualis


Gambar: Lpmsiar.um


Beberapa hari lalu tepat tanggal 11/09/2019. Indonesia kehilangan sosok inspiratif, sosok tersebut bernama Alm. BJ. Rudi Habibie meliliki jiwa negarawan, teknokrat, setia, humanis, dan spritualis dan tentunya banyak kelebihannya yang patut menjadi teladan. Khuususnya pada generasi bangsa, jika kita tidak bisa meniru ke jeniusan berpikir teknokratnya, namun semangat-semangat yang positif lainnya itu diteladani sebagai generasi hari ini. Mulai dari semangatnya serta ketekunannya.

Beberapa hari lalu ada yang bertanya; apa yang harus kita ambil dalam mempelajari sejarah, apalag menegenai biografi seorang tokoh? Belajar sejarah samahalnya dengan belajar filsafah. Filsafah apa yang harus kita pelajari, apa yang harus kita ambil dari pelajaran filsafah. Keduanya sama-sama memberikan dampak positif, walau secara objektif akan memiliki dampak positif negativ. Keduanya akan menjadi subjektif ketika dikembalikan ke setiap individu. Namun yang paling penting dari sejarah yaitu mempelajari pengalaman dan semangatnya. Jika falsafah mengenai cara berpikir yang bijaksana.

Dalam tulisan kali ini kita akan mempelajari biografi dari sosok tokoh republik Alm. BJ. Babibie yang pernah menjadi bagian dari Indonesia pada tahun 1998 pada saat Indonesia mengalami goncangan besar. Dan pasti akan tercatat dalam sejarah negeri ini. Beliau beberapa hari lalu telah berpulang kerahmatulloh. Semoga diterima di sisi-Nya dan ditempatkan di surga-Nya.
Sosok yang memiliki jiwa yang patut kita teladani dalam bentuk membangun jiwa kesadaran diri dalam membangun intelektualitas, kreatifitas, dan spritualitas. Hal ini berkaitan dengan sebuah perjuangan yang humanis, nasionalis, dan teknoktratisme. Beliau hadir dalam menyembuhkan Negara dalam bahasa kasarnya, yang pada masa itu bisa dikatakan dalam keadaan sakit keras kronis. Pada tahun 1998 negara  Indonesia memiliki rekam jejak sejarah besar tentang banyak peristiwa Negara Indonesia. Mulai dengan aksi massa mahasiswa, serta kesuksesaan masyarakat, militer dalam menumbangkan rezim yang dianggap tidak sesuai dengan asaz-asaz negara. Masyarakat mengalami kesengsaraan akan segala kebijakan. Hal itu menjadi jalan paling sukses dalam pergerakan mahasiswa dalam menurunkan rezim, kurang selaras diterapkan. Beiau datang dengan begitu bijak dalam salah satu wawancaranya berkata. “Saya datang dan menjadi presiden bukan tentang jebatan, namun tentang keadaan negeri ini”. Ujar pada saat diwawancarai oleh R. Toto Sogiharto dalam buku yang berjudul Dari Malari Ke Reformasi biografi BJ.  Habibie.
Alm.Habibie memimpn negeri ini tidak disangka-sangka. Karena secara jabatan tidak ada ambisus jabatan bahkan ke ambisi berpolitik. Ia datang sebagai sebagai orang teknokrat yang bercita-cita ingin menjadikan negeri ini nantinya maju dari segi teknologi. Namun tugas presiden bukan hanya itu, banyak hal lain yang harus dikerjakan. Dan sebagai pengganti seorang Soharto dalam kondisis paling kacau negeri ini bukan dengan mudah membalingkan kincir angina.

Sebagaimana dalam sejarah Indonesia telah menorehkan sejarah baru. Seorang yang memiliki jiwa teknokrat yang selama hidupnya lebih banyak di luar negeri, tepatnya di Jerman. Menyelesaikan studi di Jerman dan mendapatkan posisi dalam pekerjaan bisa dikatakan lebih nyaman. Namun jiwa nasionalisnya jika tidak ada panggilan jiwa untuk kembali ke Indonesia untuk ikut andil dalam mengembangakan negeri pada saat itu kondisi caruk maruk. Mulai dari bangungan serta penerapan pemimpin, tidak sejalan dengan masyarakat sehingga masyrakat tidak menyimpan kepercayaan terhadap negeri ini, degradasi perpikir positiv. Pecahlah reformasi 1998,  bentuk ketidak puasaa masyarakat.

Tepat pada 22 Mei 1999 sejarah baru dibuka kembali. Alm. BJ. Habibie resmi dilantik menjadi pemimpin republik ini. Tanpa ketidak siapan dalam bidang politik. Namun mau tidak mau-mau, jika mengingat dengan apa yang dilontarkan Soekarno bahwa seorang pemimpin terbaik terkadang datang tanpa direncanakan. Hal itu membuktikan bahwa negeri ini secara cepat butuh pemimpiny yang dimiliki olehnya dan itu sudah disepakati oleh para tokoh dan pemangku kebijakan pada masa itu. Jiwa nasionalis serta negarawan di sini secara signifikan dirasakan oleh warga Negara Indonesia harus kita berikan kepadanya. Walau pada akhirnya akan terjadi pro dan kontra atas ke pemimpinannya; namun ketika berpikir positif hari ini beliau orang yang bijaksana.
Karakter yang dimilikinya menjadi refleksi terhadap generasi hari ini dan meliputi jasa yang dilakukan olehnya, patut kita pahami agar tetap memberikan pandangan postif atas kemajuan negeri ini. Dan beliau bukan nabi atau malaikat yang tidak memiliki rasa salah, tetap sebagai manusiawi. Jasa beliau yang sangat signifikan yang bisa dirasakan samapai hari ini. 
1.      Tidak memiliki ambisi politik kekuasaan

Ketika memandang dari segi ke ambisiusan dunia politik dalam dirinya tidak terpatri. Namun dalam dirinya terpatri ingin mengembangkan negara melalui perkembangan tekhnologi, tentunya yang akan dikembangkan pesawat. Pada dasarnya Alm. BJ. Habibie tidak ambisius terhadap jabatan dilihat dari wawancara yang telah dilakukan oleh Raden Toto Sugiharto dalam buku berjudul Dari Malari Sampai Reformasi. “Menjadi Presiden, bukan segalanya bagi saya, tetapi yang terpenting apa yang terbaik bagi bangsa ini.” (2006:450).
2.      Rasa Humanisme dan jasa pada HAM di Timur-Timur
Jasa pada negeri ini terletak pada referendum Timur-timur yang dilepaskan. Dan menjadi negara sendiri bukan tanpa alasan yang tidak kuat melepaskannya. Menyetujui referendum yang diajukan oleh masyarakat Timur-Timor tidak berbicara tentang afiliasi politik namun secara kebijakan yang dilakukan sesuai dengan dasarnya, hal itu dilakukan dan disetujui untuk merdeka dari Indonesia, karena pada dasarnya Indonesia pada saat Proklamasi Soekarno-Hatta 1945 tidak memasukkan wilayah tersebut.

3.      Pembebesan UUD Pers Pasal

Kini tidak ada lagi pemberedelan yang dilakukan secara terang terangan oleh penguasa. Berbeda dengan Orla dan Orba. Mochtar Lubis pernah mengatakan dalam esainya yang berjudul Pers masa sekarang dan masa lalu, sangat berbeda Orla pers hanya dikendalikan oleh para aparatur atau presiden di Orba lebih parah dalam memperlakukan pers melakukan pemberedelan terhadap media tidak diberi izin. Padahal pada saat itu pula Pers sebagai pilar ke-4 Demokrasi mengapa semua menjadi paradox. Dan pasca reformasi tahun 1999 Habibie dengan tegas membuka ruang kebebesan pers dan berpendapat dimuka umum, yang kini dirasakan hingga saat ini.
4.      Teknokratisi

Kejeniusan orang Indonesia yang terlahir dari wilayah timur tepatnya Pare-pare tidak dapat diragukan kembali dikancah nasional dan internasional. Hal itu bisa dibuktikan rekam jejak pada saat Habibie masih muda hingga dewasa. Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Sebelumnya, B.J. Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-7, menggantikan Try Sutrisno. B. J. Habibie menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Wafat 11, September 2019 di RS. Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta.

Hal tersebut bukan tidak mungkin beliau seorang manusia sempurna. Keputusan yang dilakukan terkadang banyak pula yang tidak menyetjuinya, hal itu bisa dikatakan pada memutuskan dan mengesahkan referendum menuai pro dan kontra dan konflik yang horizontal terhadap militer dan masyarakat yang sipil yang memiliki prespektif tidak tegas dalam menyikapi persoalan tersebut hingga pecahlah Timur-Timur menjadi negera sendiri.




Biografi
Akhmad, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP- UNISMA. Aktiv di LPM Fenomena, HMJ-PBSI, Komunitas baca gratis Geriliya Literasi.   

Sabtu, 14 September 2019

Rutinitas dan Kreatifitas

Rutinitas dan Kreatifitas

Akhir-akhir ini saya tidak sengaja dan walaupun kadang disengaja jalan-jalan ke perpustakaan pascasarjana sebutkan saja kampusnya Unisma. Memandangi setiap rak-rak kaget ada yang berwarna hitam, coklat, merah, dan kuning. Ada pula buku-buku yang dibedakan dengan itu semua, sempat duduk sebentar lalu berpikir apa yang membedaakan dari keduanya?, pertanyaan itu seperti tertunaikan dalam diri sendir dan lucunya ya menjawab sendiri, walau kadang merasa tidak tepat kawabannya. Tawaku dalam hati ketidak tahuan itu membuat lucu dan bahagia. Makanya manusia dicipta dengan ketidak tahuan (tidak langsung kata 'Kun' Allah berikan), akan ada kesempurnaan manusia yang tidak akan menajdi sebuah kebahagiaan. Bergumam dalam hati.

Dan, sempat pula saya berpikir apakan bisa saya membaut seperti itu. Tanya dengan diri sendiri. Dijawab sendiri, ditumakan kebosanan tak berkesudahan. Dalam hati bergumam lagi melihat orang-orang merunduk memabaca buku ada pula yang membaca WA, tidak tahu mana yang baik menurutku tidak bisa disimpulkan. Biarakan saja, saya hanya berusaha dan berpikir bagaimana di tangan mereka nanti bisa membaca karyaku. Seperti buku yang dipegang oleh Profesor La Fianiata dipojok itu, dia asik sepertinya membaca Mochtar Lubis terpampang judul bukunya'Senja Di Jakarta', saya pernah baca dulu minjam juga dalam waktu singkat dan itu sangat ingin tahu isi dari buku itu karena ada perempuan yang meminta tolong carikan buku itu, setelah dapat saya berikan dan sebagai imbalannya saya meminjam untuk membacanya. Namun berbeda dengan buku yang ku pegang yang satu penulis. Di tangan saya berjudul 'Jalan Tak Ada Ujung' saya memang lambat kalau baca. Sepertinya Prof itu andai ingin berbagi cerita tentang isi buku yang dibacanya, mungkin saja saya mau karena waktu saya baca belum bisa memahami secara detail. Tapi sepertinya tidak mungkin dia menabrak keinginan dan bisa menbaca apa yang saya inginkan.

Dalam benakku berkata lain. Kenapa semua orang bisa merasakan dan menikamti hasil teks yang dipersembahkan penulis, caranya apa. Dan itu membuatku berkeinginan bisa pula membuat karya yang memukau seperti buku yang dipegang oleh mereka, dan mempengaruhi pikirannya dengan apa yang bisa berikan. Apakah itu impian seorang penulis semua banyak orang miliki, kalau itu memang betul semoga saja nanti Tuhan lagi tersenyum mentitahkanku bisa menulis, karena saya berpikir lagi di masa lalu yang gelap dan suram. Tak ada cahaya hingga sekarang dalam hati, minimal seperti lentera kecil yang tebuat dari botol kratindeng, diberikan sumbu dan minyak tanah lalu dinyalahkan, dan hati bisa terang paling sederhana. Mungkin dengan menulis itu bisa mengikat dan bisa memberikan sedikit terang bagiku. Dan bisa menulis untuk sebuah tebusan dosa-dosaku, orang tuaku, temanku, dan para pemimpin bangsaku. Dan setiap tulisan bentuk lain dari ucapan dan ucapan bentuk lain dari doa, kala tulisan tercipta saya berpikir kalau dibaca oleh orang banyak pasti mereka samahalnya mendoakanku sebagai penulis. Mungkin harus memulainya dulu.

Beberapa bulan kemudian. Telah tiba suatau masa di mana manusia akan menemukan rasa kebosanan, dan saya manusia pasti alami itu semua. Dan sempat berpikir menulis itu senang karena dalam keseharian itu mencoba merekam banyak peristiwa apa yang bisa ditanggap oleh jiwa. Menuangkannya pada buku dalam betuk, puncak kebosanan itu saya rasakan kala menulis bukan hanya menyimpan ide, melainkan menggabungkan paragraf satu ke paragraf lain, memulai dari kata dan menyususunnya, memilih diksi yang mudah dipahami dan semua bisa mengerti. Belajar bahasa lagi dalam bentuk tulis, dan bahkan sering kehilangan inspirasi harus baca buku lagi. Hal itu ditemukan; bahwa menulis seperti merasakan kebosanan kadang kehilangan inspirasi bahkan kala pernah coba menekuni itu semua, kehidupanku berbeda dengan teman-teman yang lain, kadang harus mengasingkan dari keramaian dari kost dan pergi mencari tempat baca paling tenang, lalu menuliskan, dan teman diskusi jarang ada yang l sejalan yang tentunya bisa memerikan masukan dan memujilah tulisan agar ada greget terus dalam belajarnya, hal itu dirasakan kala semua kebosanan bahkan kehilangan inspirasi, dibawa meminum kopi pergi ke tempat ngopi ada inspirasi tapi bukan tentantang itu semua yang terjadi dalam diri, hanya perbincangan antara teman mengenai hidup dan fenomena yang ada menjadi objek pembicaraan. Hal itu ada baiknya juga kala sendiri ketika pulang itu ide yang dibicarakan menjadi objek tulisan. Dalam kesimpulannya menulis tidak semudah yang dipikirkan, ketika sudah membawa kertas kosong dan sudah memulai menulis kertas yang telah terisi penuh tulisan itu akan menjadi apa, dibaca, atau hanya hilang tanpa ada maksud apa-apa tiba-tiba hanya menjadi tumpukan dalam kardus yang semakin tahun ke tahun menjadi lembab dan menguning bersyukur bisa dimakan oleh rayap, kalau hanya terhapus dengan sendirinya tanpa ada yang menyentuh dan membacanya, apa yang telah ku tuliskan.

Dalam kesendiran yang sunyi malam-malam itu pikiranku dihampiri oleh ide. Dan seperti ia berkata; "Banyak kehidupan di luar begitu luas, apa yang dirasakan olehmu tidak pernah dirasakan oleh orang lain ketika itu dituliskan maka akan melahirkan sebuah pengetahuan baru bagi kehidupan orang lain, apakah kamu tidak mau jadi manusia yang berguna bagi kehidupan, menulis memang membosankan tapi harus ada yang menuliskan karena di luar sana masih banyak yang merindukan untuk membaca tulisanmu, tugasmu menulis untuk jangan memikirkan pembaca, persembahkan saja tulisannya untuk keluarga dan anaknya kelak kalau kau gagal jadi penulis, yang bisa hidup dengan karyanya dikenal oleh banyak orang dan tulisannya dibaca oleh ribuan orang, seperti Gabriel Marques, Borges, Shaskpire, Mislawa, Hemingwey, Mo Yan, dan penulis Indonesia seperti Pramodeya At, Hamzah Funsuri, Eka Kurniyawan, Chairil Anwar, Mochtar Lubis, Tirto, Laskmi Pamunjak, dsb. Maka menulis saja dulu" percakapan itu ditutup dengan kata perintah "menulislah dulu", dan menyimpulkan bukan ketenaran atau kebahagiaan menjadi tujuan menulis tapi bagaimana fungsi manusia bisa dirasa oleh makhluk hidup lainnya, dan keabadian akan hanya ada dan dimiliki manusia yang membaca.

Banyak dari para pakar dan para pemula memimpikan keduanya segera selesai dalam berkarya. Memahami ambisi itu tentunya tidak bisa melaskan keseriusan komitemen diri; terdapat dalam bentuk Aktivitas dan Rutinitas; kedua tersebut kata yang tertanam dalam diri harus kita semua amini, sebagaimana bisa kita syukuri dalam bentuk hasil yang sekiranya itu bisa maksimal. Manusia tentunya akan bisa memaksimalkan semuanya tapi tidak akan lepas kelemahan dan kelebihan itu ada.

Karya bentuk lain dari hasil pemikiran manusia yang keluar dari akan budi, yang lahir tanpa ada intervinsi, hal itu hanya dimiliki kreatifitas diri. Kreatifitas dalam proses mencipta merupakan kerja-kerja naluri manusia tanpa intervesi kecuali imajinasi dan walau kadang ilusi untuk bentuk kerja manusiawi mengabdi pada diri sendiri; yang perlu mengasingakn untuk bisa mencipta. Seperti halnya buku yang ada di dalam gabar berjudul 'Jalan Tak Ada Ujung' karya Mochtar Lubis. Karya sastra berupa novel itu merupakan hal lain dari kerja-kerja kemanusian yang humanis; adapun pasti selain tentang itu semua yaitu mengenai spritualis, eksklopedis, sains, dan humaniora. Semua itu kadang masuk karya yang meliputi karya-karya sastra lebih universal masuk di dalamnya. Praktik-praktik keduanya merupakan sebuah kebebesan yang terpatri dalam diri sebagai bentuk implemintasi kerja kemanusiaan, bakan hanya dituntut bisa tapi kreatif, solutif, dan berimajinatif.

Kedua masuk pada sebuah karya yang begitu mengerikan, tapi juga tidak begitu setiap hasil karya memeng butuh sebuah pengorbanan. Kadang pula kita harus mengasingkan diri dari keramaian, dan bisa dicap kalau indivdualis. Itulah proses panjang manusia bisa mencipta perlu memaksa, bahkan bisa menderita. Namun sebuah skripsi yang bisa pula karya dari kita khusus biasanya orang-orang akademisi, jika menganggap kalau semua karya ini bentuk dari kerja-kerja beraktivitas, bukan kreativitas; sebab hanya keinginan yang final (the goal of achieving happiness), hal itu kadang menjadi terget akhir dan berpikir tujuan sebuah final dari karya.

Kedua karya tersebut merupakan kerja-kerja keabadian; sebab menulis merupakan bukan suatu yang mudah memutarkan kincir angin dan bisa berbaling-baling ditiup angin. Semua perlua namanya ketekunan, kerajinan, konsisten, dan kreatif. Sebagai bentuk karya yang nanti bisa mengabadi, dan diambikan. Dan nanti bisa dirasa oleh lingkungan, membukakan ruang penderitaan makhluk hidup dengan sebuah karya tersebut, dibuat oleh manusia yang berjiwa besar, melewati batasan-batasan yang transenden.



Akhmad Mustaqim 2019
Di tulis di Perpustakaan Pascasarjana


Kamis, 12 September 2019

Mengenal Kepribadian Alm. BJ. Rudy Habibie

Gambar: karya Eka Dina Fitri

Berdamailah dan Tumbuhlah; Kesetiaan, nasionalis, speritualis.
BJ. Habibie semoga tenang di alam sana dan bertemu di surga bersama Ibu Ainun.

Negeri ini digemparkan dengan kehilangan sosok negerawan yang menginspiratif banyak orang. Teringat pada masa kecil dulu, dengan masa kecil kala ditanya akan jadi apa ketika besar nanti, pastiku menjawab. Akan seperti Bapak Habibie yang bisa membuat pesawat. Masa itu saya tidak tahu sosok seperti dia, mengapa semua mendambakanya, bukan hanya mengaguminya tapi kepribadian yang nyaris sempurna sebagai manusia. Sosok yang setia, nasionalis, dan spritualis. Hal ini yang akan jarang dimiliki oleh seorang pimimpin besar negeri ini. Kecerdasan yang memang jenius. Teori masih digunakan di Jerman dan relevan tak lekang zaman.

Penemuan pentingnya itu mengantarkan Habibie menduduki jabatan sebagai wakil presiden Messerschmitt Boelkow Blohm Gmbh (MBB) di tahun 1969. MBB merupakan industri pesawat terbang besar di Jerman. (CNN 11/09/19)

Selama berada di Jerman, Habibie secara tekun mengembangkan temuannya tersebut yang kemudian dikenal dengan sebutan 'Teori Habibie' dan 'Metode Habibie'. Teori temuannya tersebut telah dipatenkan dan diadopsi untuk kemajuan teknologi kedirgantaraan. (CNN 11/09/19)

Teringat, pada dua tahun lalu awal masuk kuliah pada saat itu teman mengirimkan sebuah foto dan potongan tulisanya BJ. Habibie, karena berangkapan keputus-asaan yang menabrakku kala itu tidak ada harapan kuliah lagi, dan sadar kalau teman bertujuan agar tidak ada rasa putus asa lagi atas apa yang telah menjadi pilihanku.

Semoga bunga bentuk kata akan terbalaskan hari ini bisa berada di luar alam semesta bisa diterima dan harumnya merona. Selamat jalan Bapak BJ. Habibie. Semoga tenang di sana dan bertemu dengan Ibu Ainun.

Hari Rabu tepat tanggal 12, September 2019. Presiden ke 3 Indonesia menghebuskan nafas terakhir. Ingin sekali membuat puisi padanya. Karena beliau salah satu orang yang menghampiri pikiranku pada awal-awal masuk kuliah, menjadi sosok mengispirasi. Pada awal kuliah 2015 temanku, Namanya Lutfi dia teman dekatku, dan dia menjadi salah satu orang yang pertama memperkuat tekad Untuk kuliah. Samping itu ia juga sering mengirimkan kata-kata motivasi kepadaku, kata-kata yang dikirim, yaitu pemikiran dari Alm. BJ. Habibie. Dari kata-kata yang banyak dia kirimkan kepada saya dan selalu diingat "Kuliah bukan tujuan akhir dari belajar kita harus terus belajar, dan yang ke-2 saya ingat hingga akhir ini, qoutesnya beliau paling umum dibuat andalan mahasiswa; "Kesuksesan bukan dilihat dari nilai IPK tapi dari keseriusan dan usaha" hal itu menjadi penguatku di awal kuliah yang begitu dilema karena menjadi orang yang dikatakan tidak bisa apa-apa dan patokannya hanya qouet tersebut.

Sekarang telah tiba di mana akan menjadikan rindu padanya, dan akab menjadi orang paling menginspirasi. Semoga ketiadaannya akan menjadikan kita semua tahu tentang arah pemikiran, dan bisa berbiak dalam diriku, semangatnya serta ketekunannya, serta bacaan bukunya konsisten.

Tepat sekarang saya telah semester IX kuliah mampiku dulu. Dan ketika melampaui jalanku hingga kini. Bisa dikatakan kalau semangat yang saya bawa berkat kata-katanya beliau. Dan ketika beliau sudah tiada semua masih seperti biasa kata-kata menghantuiku bukan tentang waktu untuk menyelesaikan studi, memang target namun di luar itu hidup sebuah perjalanan panjang, di mana setiap langkah tidak pernah tertip kadang, dan tidak serapi ketika kita berpikir tentang hidup dan menuliskan tentang konsep hidup. Hari ini terjadi maka mulailah berjalan.

Sekarang saya memperjuangkan skripsi bisa segera selesai. Karena penuh perjuangan dalam mengambil mata kuliah ini. Mulai dari biaya, dispensasi, dan sampai-sampai ingin menggadaikan buku bacaan. Hal itu menjadi pertimbangan dalam menyelesaikan intinya segera selesai dan tidak mengecewakan seorang teman yang telah menungguku bisa lulus bersama. Dan keluarga di rumah.

Kembali lagi dengan sosok BJ. Habibie sosok paling tekun, dalam pandaganku menganggap bahwa setiap apa yang ada sebuah peristiwa yang pasti. Dalam hidupnya pernah menonton flimnya, mengenai beliau. Masih teringat keberanian dan kekuatan spritualnya. Sosok yang kuat dan cerdas akan menjadi salah kelebihannya. Pada saatnya meninggal kurang lebih umur di bawah 10 tahun, meninggal tepat melakukan sholat berjemaah, pada sujud terakhir langsung menghembus nafas terakhir, sepontanitas karena lama tidak bangun, BJ. Habibie mengingatkan dengan sebutan Subhananllah berkali-kali tetap sujud, ternyata ayahnya meninggal kala melakukan sujud. BJ. Habibie tahu kalau sudah dia melewati kesadaran Kakak dan Ibunya, untuk menggantikan Imam dalam keadaan yang tetap sujud dan jatuh terkapar, sholat tetap diselesaikan.

Ketangkasan ke jeniusannya menjadi edukasi tersendiri. Bahwa dalam mengambil sikap akan menjadi salah satu cara dan jalan baginya. Sebagaimana bisa dalam benak anak berumur segitu. Hal itu tidak akan lepas dari lingkungannya, ayahnya, Ibunya, dan saudaranya memiliki peran penting baginya dalam menjadikan dirinya sebagai pribadi yang pantas diteladani.

***
Tengah malam tepat setelah saya pulang kerja. Di Kedai Kofe Elele namanya di mana saya bekerja. Pada malam itu pula saya dan Mas Nuzul, Mas Pram, disusul kurang lebih akan selesai diskusi datang Nasai. Kita me diskusikan mengenai gerakan literasi di Malang khususnya di Unisma Kampus di mana saya kuliah.

Pada awalnya saya hanya membahas skripsi Mas Nuzul, bisa dikatakan konsultasi. Judul skripsi yang dibawa agak rancu bagiku, "Konflik Lakon Utama dan Novel Revolusi dai Secangkir Kopi", dibuka dengan hal itu saya memberikan masukan agar lebih spesifikkan judulnya dengan menambahkan "konflik tokoh utama" hal itu telah lancar akan dibahas besok ketika sudah di Perpustakaan.

Pembicaraan berlanjut. Mengenai tulis salah satu teman menanyakan bagaimana tulisan bisa masuk ke media, Koran, sepertinya teman-teman LPM Fenomena mudah. Saya langsung menjawab jika ingin masuk koran dan tulisan dimuat palajari dulu karakter tulisan di media tersebut. Untuk di koran media cetak ada batasan bukan hanya tulisan bagus tapi batasan jangan dilanggar, tulisan bagus tapi melebihi karakter tidak akan dimuat. Begitu pun di media daring panjang tulisan ada yang mempermasalahkan ada pula yang tidak. Kebijakan media berbeda.

Pukul 01:30 Wib. Waktunya pulang kerja. Setelah tiba di kos, saya langsung membuka laptop dan Hp. Ingin sekali melihat biografi BJ. Habibie. Berberapa kemudian ada salah satu teman mahasiswa dari Universitas Negeri Malang UM Namanya Kevin. Di chat saya dan menanyakan mengenai sepak terjang BJ. Habibie yang peran UU Pers, apakah saya tahu, dan dijawab tahu tapi baca bukunya belum selesai. Ternyata dia meminta menjadi pemateri di (Dinar) Diskusi Nusantara dilaksanakan biasanya pasa saat hari Senin 2 Minggu sekali. Dalam waktu dekat saya sendiri harus belajar lagi dan mencari Buku BJ. Habibie.

***
Hari semakin terang. Keadaan perkulihan sudah aktiv banyak dari sekian banyak mahasiswa baru dengan semangat baru. Ketika saya melewati tempat yang biasa seperti saya menjadi mahasiswa paling lama. Apa semua mahasiswa akhir berpikir seperti itu, tentunya itu hanya hati saja yang membawanya. Sebenarnya tidak ada masalah. Semua akan tiba pada suatu masa di mana hal yang akan dirasa akan segera berakhir, dan akan berganti hari lain. Semoga panjang umur perdamaian dan persoalan segera terselesaikan.

Dalam jiwa akan ada nama pejuang sosok seperti dia yang akan selalu membawa nilai-nilai kemanusian serta semangat nasionalisme dan kesetiannya. Membuka dan menggedor hati generasi kini yang seperti suka dihidangkan sifud-sifud yang mengalir dalam darah semangat, melembekkan dan meresahkan kala semua tlah tak menemukan peryaan paling manusia rasa sempurna.


Akhmad Mustaqim 2019
Menulis di Perpustakaan Pasca Sarjana, sambil baca novel Kubah karya Ahmad Tohari.