Jumat, 07 Oktober 2022

BUKU, SAYA, DAN SISWA (I)






Seorang siswa (i) memiliki jiwa kritis terhadap di dunia sekolah sudah menjadi hal wajar semestinya. Bukan malah disalahkan atau ditegor dengan narasi etiked. Seorang siswa (i) di dalam dunia pendidikan ruang menkritik, perlu di luaskan atau dibuka. Karena semestinya siswa (i) sebagai objek sekaligus subjek di ruang pendidikan belajar merasakan dan tahu hal perlu diharapakan.

Jika disalahkan dan dianggap kurang tepat. Karena belum tahu merasakan sebagai pendidik, padahal untuk mengukur baik buruknya pendidikan terletak pada siswa (i)—yang terlibat di dalamnya. Bukannya sangat baik sekolah mendapat kritik. Karena dengan seperti itu tahu letak  kekurang atau kelebihan penerapan sistem pendidikan ideal.

Ravi Azzamy sebagai siswa dan teman-temannya, kalau tidak semua siswa (i) di Indonesia, mewakili siswa—perlu dilibatkan di setiap perumusan kebijakan sekolah. Agar setiap kebijakan akan sesuai dengan relevansinya kebutuhannya. Selain itu, kalaupun perlu mendatangkan orang tua agar relevan.

Dalam buku “Buku Panduan Melawan Sekolah” Meraboks (2022). Merupakan representasi dari seorang siswa saat menemukan kejanggalan dalam dunia sekolah. Judul buku tersebut memang provokatif, tapi bukan secara esensial ada hal buruk di dalamnya. Melainkan sebagai seorang siswa menulis menuangkan argumentasinya ke dalam  bentuk teks (buku), bentuk pencapaian luar biasa.

Meminjam perkataan Okky Mandasari di instagram Omomong.com, saat membincangkan tulisannya, berkata “apa benar kamu masih anak SMA, menulis sebagus ini… aku tak menganggap pendidikan di Indonesia ini buruk, kalau siswa sepertimu ini, tuliannya bagus!” sekurang-kurangnya cuplikan obrolan tersebut bermula, si Ravi tranding dengan  narasi; “ada siswa SMK (i) menulis buku ‘Panduan Melawan Sekolah’—bahkan  dikatakan siswa tidak patuh terhadap dunia pendidika, dan ba-bi-bu…” dengan ramainya itu ada hikmah di Indonesia dunia pendidikan diramaikan dengan perpektif akan SMK kritis.

Mungkin banyak Ravi-Ravi di luar sana, tapi tidak sama dengan cara melakukan perlawanan terhadap pendidikan. Banyak pula di antara siswa(i) memiliki kegelisan berbeda-beda; gelisah karena ingin pacaran tapi ditolak, galau karena putus cinta, cering caper kepada teman kelasnya, dan sering pula ditemukan asyik dengan dunia romantisme. Tidak dipungkiri masa-masa sekolah. Hanya naikmat itu dirasakannya.

Rafi Azzamy siswa (i) memiliki perbedaan dengan teman-teman lainnya. Selain memang menjadi siswa rajin memabaca. Klaim ini saya memposisikan diri Ravi sebagai teman. Kita berteman semenjak mengikuti Kelas Filsafat Dasar (KFD) 2021 pada saat dia kelas XII di SMK. Mengenal Rafi sebagai teman bukan membaca karyanya.

Memandang siswa (i) seperti Rafi awalnya tidak percaya. Secara karakter memang pandai berbicara, serta memiliki selera humor tinggi. Saat di dalam kelas dia memang sambil membaca dan mencatat hal-hal penting di dalam buku catatannya. Bahkan juga ada oret-oretan di stiki note-nya juga.

Awal mula perkenalan setiap peserta kelas. Ada  mahasiswa di dalam kelas tersebut sudah biasa di telinga, tapi tidak dengan siswa mengikuti kelas ini. Dan pembiacarannya lancar serta terstruktur. Dikejutkan lagi, karena alasannya ikut kelas filsafat dasar ini ingin memperdalam  baca pengangtar buku-buku filsafat sejak Sekolah Menenag Pertama (SMP), alasan yang begitu mencengangkan serta punya fokus dalam membaca buku.

Lagi-lagi saya mengenal Rafi bukan dari karyanya terdahulu, melainkan dari didi sebagai personal yang sama-sama memiliki motovasi belajar. Selain itu, Ia juga menjadi teman diskusi yang seru saat jam istirahat kelas. Obrolan yang dingat di benakku, ketika menyebutkan salah satu buku Open Socety karya Karl Poper. Katanya, Dia sudah membaca buku tersebut. Bahkan setiap berbicara pijakan dasarnya Karl Poper, awal-awal. Sebelum mengenal Jaques Lacan.

RAFI DAN BUKU YANG DITULIS

Sebagai pembaca tentu ada konsep paling menarik untuk saya terapkan dalam diri. Ada tiga hal; 1) mebaca sebagai pembaca  teks, 2) membaca tokoh/penulis buku, 3) pembaca sebagai konteks pribadi ‘kira-kira membaca buku ini ada kaitan dengan pribadi/menjadi kebutuhan’. Setidaknya dasar membaca seperti itu, ketika membaca buku “Buku Panduan Melawan Sekolah” ditulis oleh Rafi Azzamy.

Membaca  buku Rafi, memandang cara kritis seorang dalam melakukan perjuangan atas hal-hal fundamental di dunia sekolah. Pendidikan yang sepertinya membebaskan ternyata  sebagai siswa memiliki perspektif berbeda. Tidak sama dengan apa yang diharapkan pendidik dan peserta didik. Hal tersebut dalam buku “Penduan Melawan Sekolah” tidak lain membuat seorang pendidik perlu mengevaluasi adanya kebijakan—yang setidaknya kurang sesuai dengan keinginan siswa yang inging sekolah.

Menurut Prof Djoko Saryono guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) dan Pakar Pendidikan, yang memberikan testimonya di buku tersebut menuliskan dalam kutipannya “Rafi mengajak kawan-kawannya melawan sekolah yang penuh kepalsuan dan ingkar janji kepada generasinya”. Kutipan tersebut terpapang di depan buku. Dari kutipan tersebut perlu mereduksi sekaligus merefleksikan diri apa yang disampaikan oleh seorang pakar dan professor tersebut.

Sederhannya. Ada kejanggalan perlu disadari secara bersama. Terkhusus bagi seorang pendidik—yang tidak memberi peluang atau mengukung siswa untuk tidak berkreasi, kratif. Sekurang-kurangnnya kemerdekaan atas dunia belajar tidak dibatasi (siswa yang memang memiliki jalan baik dengan dirinya sendiri perlu punya jalan akan hal baik akan pilihannya, perlu difasilitasi, bukan dibatasi). Jika belajar merupakan tempat belajar yang nyaman, siswa pelu diberi kebebasan serta bisa menggali potensi-potensi dirinya.

Keseimbangan seorang peserta didik dan pendidik perlu dijunjung tinggi, bukan ada realasi kuasa atas pendidik. Semestinya seorang pendidik memiliki relasi sama sebagai seorang—yang belajar hubungan mengajar mentransfer pengetahuan saja, tapi juga ada proses  saling belajar. Jika tidak sama-sama belajar akan  ada ke-akuan yang diangkap kalau ‘siswa merupakan wadah kosong perlu diisi’. Padahal tidak demikian.

Ravi  dalam hal ini tidak sejutu dengan apa yang ada dalam sistem demikian. Maka paling penting untuk membuka kran itu semua, yaitu mengubah kesadaran seorang pendidik tidak menganggap bahwa siswa merupakan manusia tidak memiliki kesadaran terhadapa tujuan belajar. Tapi pelajar sebagai subjek dari proses mengajar dan belajar. Sehingga secara esensial  pendidikan itu mencerdaskan sekaligus membuka kesadaran atas dirinya.

Untuk melakukan cara-cara efektif tersebut tidak perlu jauh-jauh melakukan rapat panjang lebar. Cukup buku yang ditulis memiliki skema yang sesuai sekaligus relevan bagi kaum milenial. Selain itu, buku Ravi memberikan sebuah konsepsi atau tolok ukur relevan. Karena secara langsung Ravi terlibat di dalamnya. Hal ini termasuk namanya pengalaman pribadi.

Pendidikan dan Bagi Siswa yang Tak Sadar Kebutuhan Belajar

Kesadaran siswa (i)  secara luas akan memiliki perbedaan. Tidak semua siswa berada di atas rata-rata se-Ravi jika perlu menyebutnya itu ideal, tapi ada pula siswa bersekolah lantaran tekanan dari orang tua. Bukan keiinganan sendiri, hal ini menjadi masalah pribadi dan kompleks juga. kaitannya akan dengan motovasi belajarmnya.

Jika di dalam kelas ada 10 siswa (i) seperti halnya Ravi dalam semangat belajarnya. Maka jangan kwatir akan ada perbuhan signifikan di dunia pendidikan. Namun tidak bisa mengukurnya dengan cara hal-hal paling ideal, karena ideal akan identik special. Dan special itu tak akan banyak. Apakah akan nanti?

Pertanyaan tersebut masih bersifat ideal, sedangkan di dunia ini tidak ada yang idaeal. Kecuali hal-hal praktikal akan susuai dengan kebutuahan manusia terealsiasikan. Dunia siswa (i) penuh beragam, begitupun motovasi belajarnya. Hal ini akan menjadi bukti bahwa konsep belajar siswa (i) berbeda-beda. Sebagai orang yang ingin menawarkan perpektif ideal diterapkan ada dua: 1. Konsep menerima, 2. Konsep mencari.

Konsep tersebut mereduksi dari kisah di epos Mahabarata di dalam dua tokoh paling menarik jika kita terapkan di dunia pendidikan. Bahkan teruntuk kepada orang-orang yang ingin belajar secara seirus. Tokoh tersebut perlu diikuti cara kehidupan dalam konetks belajar yaitu: Karna dan Arjuna.

Dalam kisah tersebut. Walaupun mereka berdua merupakan saudara, tapi tidak diketahui kalau mereka berdua bersaudara. Namun penulis tidak mencaritakan panjang lebar kedua tokoh tersebut dari segi persaudaraannya. Akan berbusa-busa saja… karena paling penting ialah cara belajar mereka berdua—yang hemat saya mereka secara tersirat punya konsep perlu ditiru bagi siswa di Indonesia.

1.   Karna sebagai sosok orang yang meneripak kopsep belajar mencari. Dalam kisahnya dia tidak diakui sebagai murid dari seorang Drona, lantaran secara politik beranggapan kalau dia akan menjadi muridnya, akan mengalahkan seorang ponakan bernama Arjuna. Walaupun tidak dianggap murid dia tetap takdim kepadanya, bentuk keta’dimannya itu membangun patung lalu setiap kali berlatih memanah berdoa di depan patung Drona—yang dianggap gurunya. Serta dia akan belajar dengan banyak mencari cara menjadi pemanah terhebat. Cita-cita tersebut berhasil dan Karna menjadi pemanah terhebat, dalam kematiannya pun dia, dikarenakan dia tidak memegang senjata. Dan sejarah membaca kalau Karna  sebagai kasatria pemanah terbaik di dunia terbunuh lantaran tidak memegang senjata. Seandainya senjata dipegangnya tidak akan terbunuh, malah sebaliknya akan terjadi.

2.   Arjuna sebagai sosok tampan dan sakti madraguna. Kelebihan yang dimiliki adalah sama dengan Karna yaitu memanah. Dia salah satu murid paling disayangi oleh guru Drona sekaligus sebagai kakeknya. Selain itu dia hanya menerima konsep menerima dari belajarnya. Setiap saat  hanya berlatih apa yang diajarkan oleh gurunya, tanpa menambah ilmu dari lainnya. maka secara tidak langsung akan kalah dengan Karna dalam kesaktian, lebih unggul. Bahkan di dalam peperangan pertama Arjuna hampir kalah dalam petarungan di salah satu perebutan permaisuri. Dan masyarakat sadar kesaktian Karna lebih unggul, seandainya kasta tidak dipandang di epos tersebut.

Pada konsep tersebut perlu menyadari dan perlu mengambil konsep tersebut. tanpa memberikan label kepada Ravi dalam konsep belajar digunkan, ketika membicarakan cara belajar Karna dan Arjuna. Namun hal ini menjadi tawaran kepada kita semua bahwa dalam belajar perlu memiliki penerapan: mencari atau menerima.

 


Selasa, 04 Oktober 2022

YANG TERSISA DI BULAN JULI, AGUSTUS, DAN SEPTEMBER



Mula-mula saya duduk di pelataran tempat tinggal di perantauan, di kos sederhana, tempat di mana setiap lelah atau suka duka, serta  senang tertampung. Jika dianggap sebagai saksi bisu, memang benar  sebab banyak hal dirasa selama lima tahun menempati tempat ini. Selain itu, ruang paling  bisa mengantarkanku ke dalam banyak hal pemikiran. Entah itu baik dan juga buruk terpikirkan.

Tiga bulan ini memang ada hal paling berkesan. Salah dua kesan paling terasa, ketika orang-orang bahkan teman dekat memberikan kepercayaan kepada saya untuk berbicara. Berbicara tentang apapun kadang diberikan saja terus kesempatan itu. Tanpa berpikir bisa atau tidak, menguasai atau tidak. Mereka hanya menyuruh saja tanpa berpikir menguasai.

Dari kejadian tersebut, saya berpikir. Kalau memang asumsi di luar kepala itu beragam. Ternyata tidak hanya hitam dan putih saja, melainkan juga ada warna coklat. Dan bahkan abu-abu, sangat liar dan begitu liar pola pikir manusia. Keliaran berpikir itu mungkin sangat dianggap benad di kepala mereka tentangku. Padahal tak ada paling benar anggapan berlebihan tersebut, kecuali bagiku ini masih terus belajar. Belajar apapun akan hal sesuai kebutuhan sendiri atau berkaitan dengan orang lain.

Saat itu, ketika  tidak mengatahui arah perjalanan hidup di perantauan. Sepertinya butuh sendiri untuk menemukan sesuatu hal pasti menentukan langkah baik dalam versi sediri. Terkadang kalau masih belum menemukan cara atau langkah baik ke depannya, menemui seorang mentor atau guru untuk meminta solusi. Langkah baik apa dapat dilakukan dalam kondisi seperti ini saja seperti dulu.

Ternyata jawaban tersebut membuat diri sendiri memahami kalau semua kepercayaan perlu ditampung lalu mengambil keputusan, jika segala itu  niatkan untuk belajar. Sebab  hanya dengan seperti itu kita tak punya beban apapun tentang penyampaian diharapkan seorang pembicara. Setidaknya tawaran ketika bicara memperhatikan sebuah kondisi serta konteks sesuai kebutuhan entah secara praktikal dan esensial sesuai. Sisa dari penyampaian mampu diterima  serta direduksi oleh setiap pendengar.

Ketika menyampaikan tentu kita perlu memberikan sebuah pandangan. Hal ini perlu dilakukan dua pandangan secara esensial atau secara praktikal. Secara esensial sesuai dengan kebutuhan atau permintaan. Secara praktikal akan menyesuaikan dengan kemampuan pribadi serta improvisasi pengalaman serta pengetahuan secara pribadi.

Tiga bulan ini mendapat pengalaman luar biasa dari perantauan. Saat melakukan proses kadang juga diberikan sebuah posisi berbicara. Pada dasarnya ini bagian dari hal tak pernah diharapkan, tapi sepertinya fungsi ini berjalan tidak sesuai pikiran sendiri. Ada hal di luar kendali menimpa dan itu baik serta menjadi pengalan tersendiri dalam hidupku.

Terkadang beribicara dengan banyak orang di luar sana membuat kita lebih mudah menerima dan melemparkan ide. Entah terkadang dilema dengan ucapan sendiri, apakah memang pantas bicara seperti itu, atau sesuai tidak dengan pengalaman pribadi. Hal itu krap kali muncul bertubi-tubi ketikan bicara di depan. Bahkan terkadang merasa gemetar berbicara di depan hingga struktur penyampaiaannya tidak sesuai  dengan isi kepala. Jika semua orang menganggap, kalau ada pembicara di depan kita itu benar. Tidak dengan diriku sebagai posisi pribadi bicara, atau pada saat mendengarkan. Selalu skeptis.

Dari pengalaman secara pribadi belum tentu dapat diterima, kalau tidak pandai mereduksi setiap kejadian. Bisa saja setiap persoalan mampu diatasi dengan cara-cara sederhana virsi kita, akan tetapi tidak dengan orang lain. Dan itu bisa selesai dengan cara-cara kita.

Kira-kira cara kita mampu menjadi umum atau hanya menjadi khusus? Tiga bulan ini seperti membuat eksperimen dari banyak diketahui oleh kehidupan sehari-hari kita dan bisa membuat tambah dewasa secara biasa menemukan sesuatu dari banyak kepala mereka-mereka. Hal tersebut menjadi salah satu cara untuk bisa menemukan perbedaan pola setiap peristiwa, dan menemukan cara terbaik diri sendiri sendiri, tanpa  intervensi.

Jika ada hal mengesankan di setiap perjalanan, tentu bersyukur dengan cara melakukan sesuatu hal wajar dilakukan. Bentuk syukur salah satu seorang bisa memaknai bahasa  sekaligus menyesuaikan kebutuhan manusia. tidak dapat kita memperlakukan sesuatu tanpa suatu tanggung jawab. Mungkin.









Sabtu, 23 Juli 2022

INTERPRETASI TEKS, INTERTEKS, DAN SASTRA: NAWAL EL SAADAWI

Saya duduk sambil menikmati  kopi di malam hari, di tangan ada buku  karya Ayu Utami berjudul “Simple Miracles”[1]—yang sesekali membaca lalu di letakkannya. Saat membaca pesan di watshaap, diminta untuk membedah buku. Saat itu, pesan itu dijawab dengan Bahasa Indonesia ‘menolak untuk mau membedah buku ditawarkan pengirim pesan,’ alasannya sederhana, karena merasa belum memiliki kopetensi di novel bergenre seperti itu. Dan  melanjutkan lagi membaca—karena seharusnya  perempuan lebih pantas membicarakannya.—Karena, merasa kurang enak hati, sebab  narasi pesannya ‘memaksa harus membedahnya dari perspektif kaum adam’—baik atau buruk kuterima dengan terpaksa membaca ulang karya magnumopus[2] Nawal  El Saadawi.

Adalah karya sastra dari arab yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, oleh Amir Sutaarga. Terjemahan ke Indonesia diambil dari alih bahasa juga yaitu bahasa Inggris, "Women at Point Zero", terbit 1983, bukan diterjemahkan dari  bahasa ibu—yang pertama kali seorang penulis (Nawaal El Saadewi) menulis. Dengan menggunakan judul "emra'a enda noktas el sifr", berbahasa Arab terbit pertama 1975. Membaca secara singkat dan mencoba menangkap teks,  interteks, dan Nawal itu sendiri.

Nawal secara pribadi lahir dan tumbuh besar di keluarga yang cukup. Mengapa demikian, dapat dibaca secara latarbelakang pendidikan. Dia mengambil jurusan kedokteran. Sehingga cita-cita menjadi seorang dokter berjalan sesuai harapan, dapat dikatakan begitu sukses.

Membaca sastra tentu memposisikan diri sebagai pembaca yang mampu menerima segala apapun pada teks. Membaca sastra tentu ada dua hal perlu disadari; satu sebagai pembaca menangkap teks, dua, membaca di luar teks (interteks). Pada hal ini penulis berusaha menggunakan keduanya agar menemukan pandangan secara general menegnai gagasan universiltas karya dan penulis.

Konsep  ini tentu menjadi dasar yang dilakukan tokoh dari Prancis, dapat disebut sebagai semiologi, filsuf, dan dan krikus sastra, dikenal umum, Roland Barthes[3] (1956), mengatakan kurang lebih seorang penulis karya saat dibaca oleh pembacanya, maka sudah lepas penulis ‘bahkan disebut penulis sudah mati’ tidak ada lagi kaitannya makna di kepala atau  yang ditangkap oleh pembaca, dengan makna yang diingin disampaikan penulis.’ Walaupun berbeda otoritas makna terletak pada pembaca.

Pada pandangan di atas tentu pembaca punya hak untuk menangkap setiap makna ditangkapnya.  Selain itu juga menjadi sebuah tanggungjawab pembaca saat karya lepas dari penulis. Pertanyaan? Apakah kita akan mampu menangkap bahkan membaca dengan baik teks—yang telah dianggap sudah selesai oleh penulis.

Karya sastra berlatar sejarah, pengalaman; apreori atau aposteori, tetap masuk kategori fiksi. Sastra sebagai alternatif belajar sejarah, biografi, atau pengalaman prosonal dan ditulis dengan mengatas namakan sastra tetap dikatakan karya sastra—yang punya tolok ukur sesuai yang berlaku.

Perempuan Titik Nol karya Nawal El Sadewi, merupakan karya berlatar pengalaman sendiri. Tepat di wilayah kelahiran Mesir, kehidupan getir serta  pengalaman hidup  dijadikan kisah paling epik dalam sejarah dunia, bukan saja di Arab. Tapi di luar Arab punya napas panjang.

Narasi novel tersebut memiliki narasi kuat membicarakan hidup seorang perempuan. Namun tiidak memiliki otoritas tentang perempuan penuh getir dalam menghadapi budaya patriarki, sex, dan kultur di Mesir—yang detail menarasikan ketimpangan sekaligus kelebihan dalam narasi panjang zaman.

TOKOH DALAM KARYA SASTRA: SKIZOFORNIA  

“Firdaus yang menelan pil hidup penuh dengan kegetiran, retak. dan di mana tuhan mencipta bahagia

di kepalanya dunia tak dicipta dari tanah liat, melainkan dari batu  yang dipanggang tiga hari dan  ia hidup di dalamnya.”

Tokoh dalam novel “Perempuan Dititik Nol” karya Nawal El Sadewi, Obor (2004) Firdaus, seorang yang menjadi narator dalam novel mungil ini. Tokoh yang memiliki karakter kuat dalam menghadapi hidup. Selain itu tokoh menjadi manusia paling getir semasa hidup.

Sejak kecil telah mendapatkan pelecehan seksual oleh kerabat sendiri yaitu pamannya. Seorang anak yang lahir dari keluarga sederhana, selalu mendapatkan nasib getir. Dapat dikatakan menelam asam garam, dan pahit kehidupan sejak kecil. Sosok paman diharapkan menjadi sosok paling diharapkan menjadi orang paling utama menampung segala kepedihannya, namun tidak dapat dirasakan oleh Firdaus—yang mungil malah mendapat pelecehan seksual.

Traumatik tersebut memiliki pengaruh terhadap kehidupan masa  depannya. Hal ini dapat dikatakan tokoh mengalami skizofronia, bahwa tokoh tersebut pada dasarnya mendapat gangguan yang memengaruhi kemampuan seorang untuk berpikir merasakan, dan berperilaku baik, ada perubahan sikap. Hal ini terjadi pada saat menjadi seorang pelacur dan memegang uang sendiri, seolah-oleh dirinya itu bukan dirinya sendiri, awal mulanya traumatik terhadap hubungan seksual malah memanfaatkan itu untuk menghasilkan.

ARAB DAN INDONESIA: DEKONTRUKSI

Zeitgest[4] yang berada di negara Indonesia dan Arab, nyaris tidak memiliki kesamaan, kecuali dari segi kultur agama yang sedikit memiliki kesamaan dari segi. tataran ini masyarakat Arab, memiliki kemiripan dalam taraf transisi, juga dalam proses medernisasi. Masalah-masalah nilai-nilai tradisional masih merupakan masalah yang  belum terselesaiakan, bahkan di  berbagai masyarakat pada taraf ini terasa seakan-akan amat sulit terselesaikan.

Masih  banyak abu-abu di negeri ini menerima hal-hal modern. Secara modernitas akhir-akhir ini akan menjadi narasi paling sulit dalam menyelesaikan pandangan konservatis berlaku di Indonesia. Bagaiamaa hal tersebut perlu secara bersama melaukan sebuah gaung bersama tentang kritik besar terhadap modern.

Gagasan  Nawwal secara tersirat ingin membuka kran pola pandang masyarakat Mesir, mengenai gerakan feminism dengan menulis menggaungkannya. “Menulis adalah senjata untuk melawan sistem—yang memperoleh otoritasnya dari kekuasaan autokratis yang selama ini dipraktikkan oleh penguasa negara negara, juga ayah atau suami dalam keluarga. Bagiku, kata-kata tersurat serupa pemberontakan terhadadap ketidakadilan yang dilakukan atas nama agama, atau moral, atau cinta.”[5]

Sejalan dengan apa yang digaungkan oleh seorang filsuf dari Prancis, walaupun ‘narasi kecil’ kata Jeans Francois Lyotard.[6] Ditujukan kepada kritik modern, menurutnya “bahwa saat ini, kita sudah masuk ke era postmodern. Ditandai oleh runtuhnya nilai-nilai yang terasosiasi dengan modernitas seperti mitos-mitos (gran  narratives) yakni pembebasan manusia melalui ilmu pengetahuan, keyakinan akan unversalitas dan telos akan ilmu, dan mitos-mitors lain (ekonomi, demokrasi, dan seni).

FEMINISME DAN GENDER: GERAKAN PEREMPUAN

Pada dasarnya feminisme yang disuarakan oleh Nawal, merupakan femenisme generasi kedua yang menuntut ketidakadilan perempuan dan laki-laki di mata hukum, peran dalam keluarga, lingkungan kerja, hak-hak reproduksi, dan seksualitas. Adanya gelombang 2 karena disebabkan oleh ledakan ekonomi setelah perang dunia II (1939-145). Di Amerika dimulai dari 1960-1980an. Secara aliran radikal kiri, kanan liberal.

Membicarakan feminism perlu meluruskan tentang kesetaraan gender, yang berkaitan dengan jenis kelamin. Dalam hal ini saya mengambil cotoh gender ini pada seorang Bissu[7] yang ada di Bugis—yang begitu dihormati, secara raut wajah dan penampilan tidak berbanding lurus, secara pandangan biologis pria namun secara penampilan seorang perenpuan. Sehingga Indonesia memiliki keunikan dalam membicarakan feminis.

Gerakan perempuan di Indonesia dalam penelitian Cora Vreede de Stuers berjudul “ Sejarah Perempuan Indonesia”[8] menguangak permulaan kebangkitan gerakan perempuan di Indonesia terutama pada abad ke-20. Studi tersebut sebuah refleksi berbagai masalah pergerakan perampyan; ideologi politik sejaman, dan masalah-masalah penting untuk memahami Indonesia. Cora meneliti pergerakan perempuan sebelum modern, mucul.

FIRDAUS DAN KIRANI[9] TOKOH DALAM SASTRA YANG HAMPA

Dua tokoh tersebut sama-sama melaupuan kegetiran hidup dengan tarap berbeda-beda. Firdaus dengan latar Mesir yang menghadapi kehidupan penuh dengan patriarki. Secara konteks dan latar belakang berbeda memiliki narasi posisi perempuan yang berbeda. sedangkan Kiran, perempuan  Indonesia yang berada di kultur hidup budaya berbeda jauh dengan namun mendapatkan kehidupan yang gelap lantaran agama konservatif.

Firdaus memperjuangkan hak-hak sebagai perempuan yang membela dirinya sendiri. Tapi tidak dapat perlakuan kurang pantas. Hal ini dapat dikatakan berkaitan dengan seorang laki-laki memposisikan seorang perempuan  nomor dua daripada pria.

Sedangkan Kiran, mendapat perlakukan di Indonesia digunjing karena tetap menyalahkan seorang perempuan salah. Karena dianggap mau diganggu oleh seorang dosen dan berhubungan. Kontruksi sosial kalau seorang melakukan hubungan laki-laki dan perempuan, dan aib itu terletak pada perempuan (buruk di mata orang, sedangkan laki-laki dianggap biasa, bahkan hanya cukup bertanggungjawab dianggap sudah aman).

Dari kedua tokoh tersebut dapat disimpulkan bahwa narasi akan patriarki di manapun di Indonesia dan Arab akan sama. Sebab narasi di bangun sangat kuat dan bersifat patriarki. Untuk melakukan perlawan paling ideal yaitu memerangi dengan kekuatan narasi, sebab hanya narasi tersebut mampu menyadarkan setiap; laki-laki dan perempuan, agar memuliakan dan sadar peran lak-laki dan perempuan terletak pada nilai.

Persamaan pada konteks apa? yang ideal, dalam tatanan hidup; konsep, tindakan, atau sekedar  pikiran. Namun ‘emasipasi’ yang disuarakan Kartini, hematku paling ideal terletak pada pembebasan dan perbudakan dari segi pendidikan ‘pendidikan itu perempuan harus tinggi’…” sekurang-kurangnya pandangan seperti itulah paling diperjuangkan.

 

 

*Esai resesnsi ini ditulis hanya satu kali, merupakan draf awal dengan tujuan menjadi bahan diskusi dibincang buku “Perempuan Di Titik Nol” anggitan Nawal El Saadawi, Rabu 20 Juli 2022. Jika ada hal perlu dikritik silahkan, sangat senang mari berdialektika!

 

 



[1] Novel karya Ayu Utami membahas mengenai spiritual kritis. Buku yang diasumsikan sebagai buku realisme magis dalam beberapa penelitian.

[2] Magnum Opus: merupakan karya seorang dianggap paling terbaik selama pengkaryaannya.

[3] Esai Sapadardi Djoko Damono berjudul “Teks, Interteks, mengutip dari pandangan Roland Barthes peneliti selagus filusuf dari Prancis

[4] G.W. Hegel dalam teori ‘roh zaman’ bahwa dalam suatu negara yang memiliki pengaruh terhadap zaman memiliki pengaruh. Mengapa negara Indonesia memiliki kesamaan, zamannya yaitu modernitas negara yang transisi.

[5] Disampaikan oleh Nawal El Saadawi dalam memoir A Daughter of Isis (1999). Sumber diambil dari artikel Tirto.id

[6] Seorang filusuf dari Prancis Postmodernsme

[7] Bissu adalah kaum pendeta yang gendernya dipandang sebagai campuran laki-laki dan perempuan masyarakat Bugis dan Sulawesi Selatan Indonesia

[8] Penulis: Cora Vreede de Strurs, ‘Gerakan Perempuan Indonesia’ penerbit Komunitas Bambu, 2016.

[9] Novel  ‘Tuhan Izinkan Aku Jadi Pelacur” karya Muhidin M. Dahlan 2003

Jumat, 01 Juli 2022

MELIHAT PENULIS MUDA KOTA MALANG

 Pergilah ke dalam dirimu sendiri. Temukan alasan yang mendorongmu untuk menulis; lihatlah apakah alasanmu itu telah mengembangkan akar-akarnya ke dalam dirimu sendiri.

Kutipan di atas merupakan surat yang ditulis Rainer Maria Rilke, lokasi di Paris, pada 17 Februari 1903. Surat tersebut berisi kritikan terhadap puisi berjudul “My Soul” dan “To Leopardi”—yang dianggap karya tersebut tidak memiliki bentuk terhadap diri penulis. Selain itu, memberi komentar terhadap proses menjadi penulis.

“Pengarang sebagai sosok agung.” Rainer  Maria Rilke menuliskan. Agung disini  memiliki orientasi kehidupan kompleks memandang dunia, sehingga penulis punya rasa tanggung jawab atas dirinya sendiri. Kritikan terhadap kota merupakan pertanggungjawaban atas dirinya.

Tulisan ini tentu ingin merespon tulisan yang berjudul “Melihat Malang yang Tidak Ramah Sastrawan” ditulis Dani Alfian, di omongomong dimuat 25 June 2022. Bahwa ‘tidak ramah’ di sini merupakan pandangan subjektif. Sangat banyak penulis muda di Malang, entah pendatang atau memang asli Malang tak mempermasalahkan, itulah identitas sebuah kota. Dari itu semua bisa terus belajar dengan giat dengan getir menjadi penulis.

Tulisan ini sebenarnya tidak ingin membeda-bedakan antar kota. Di mana kita perlu bersyukur karena masih diberi kesempatan belajar. Akan tetapi, lebih ingin merespon pandangan lain bagi seorang yang berproses di Malang. bahwa iklim belajar di sini berbeda dengan lain pada ranah kesenian khususnya.

Saya rasa ada perbedaan sangat signifikan secara kultur dan sturuktur iklim kota dengan sistem yang berlaku. Ada yang memang memiliki kultur kreativitas yang didukung oleh lingkungan, sehingga ruang diskusi dapat menemukan dengan mudah (kota tersebut berinisial J).

Padangan Dea Anugrah terhadap Kota J, pada saat diwawancarai oleh “Main Mata” diawal menulis, saat tiba di Kota J, iklim di sana sangat punya support terhadap keinginan menulis terhadap dunia menulis. Sangat diuntungkan saat senior di kota tersebut membimbing, mau membaca karya anak yang mau belajar, bahkan tidak segan-segan ingin memberi komentar serta rekomendasi buku bacaan.

Dani Alifian, pada tulisannya menarasikan kalau Kota Malang ada senioritas dalam berkarya. Tapi, pada konteks apa memunculkan senioritas; berproses, kritik, atau mengatur-ngatur atau menjegal untuk tidak masuk ke komunitas lain selain miliknya. Pada kondisi seperti ini pasti membingungkan tuk menyikapi, tapi perlu disyukuri karena berada di ruang lingkup sehat, yaitu tradisi saling kritis.

Pada tulisan Dani Alfian, menarasikan esainya kurang lebih ‘kalau kota Malang gagal menciptakan iklim orang-orang berproses di Malang seperti Felix K Nezi, Dwi Ratih, dan Royyan Julian, dikenal ketika masih di Malang’. Pada konteks ini kerangka berpikir seperti apa pijakan bahwa Malang gagal membangun iklim sehat. Padahal pada sisi lain Malang hanya menjadi tempat penggodokan.

Berproses bukan ditentukan dari dikenalnya karya-karyanya. Malang seperti tempat penggodokan atau tempat berproses. Entah itu pada proses menulis atau proses yang lainnya.

Kawah candradimuka. Pantasnya Malang meminang sebutan seperti itu. Karena, selaras dengan para pendatang ke kota ini bertujuan untuk belajar. Tidak lain belajar dengan tujuan menimba ilmu sekaligus bisa hidup, serta menghidupi atau bisa saja dengan berkarya bisa hidup.

Senada dengan perspektif di atas, Malang seperti kawah candradimuka. Tempat penggodokan memenangkan sesuatu keahlian diri atau ada harapan besar diinginkan yang dicari. Sehingga pada saat di Malang. Kata ‘Malang’ dengan menggunakan awalan huruf kapital, tidak harus disedihkan menjadi diri sendiri, sedangkan malang dengan menggunakan awalan huruf kecil.

“Malang tetap menjadi tempat belajar yang sehat,  jika mau mencarinya!”

Tulisan ini berpijak pada surat-surat Rainer Maria Rilke yang berjudul “Surat-Surat Kepada Penyair Muda dan Sejumlah Sajak”, diterjemahkan Tia Setiadi (2020), terbitkan, penerbit JBS. Buku tersebut tidak membicarakan letak geografis yang strategis. Sedangkan ada sisi lain dari melainkan memberikan pesan dalam dunia kreatif khusus dalam menulis. Mengarah pada pesan-pesan secara personal dengan tawaran persoalan-persoalan di dalam diri seorang penulis, pengarang, dan penyair.

“Penulis muda perlu berpikir pesimistis. Pesimistis tersebut memiliki kesadaran akan dirinya merasa kalau hidup menjadi penulis itu hidupnya tidak baik-baik saja, maka perlu melakukan pekerjaan yang lain untuk menjadi penulis bagus. Di Indonesia penulis yang bagus karya-karyanya reratanya mereka bekerja di profesi lain, seperti; seorang guru, peneliti, dosen, dan penerbit….! Ujar Mahfud Ikhwan dengan Bahasa Indonesia yang baik, saat membincangkan bukunya “Melihat Pengarang Tidak Bekerja”.

PESAN CARLOS FUENTES PADA PENULIS MUDA

Sepuluh “Perintah Kepada Penulis Muda” ditulis oleh Carlos Fuentes (2000). Tulisan tersebut merupakan presentasi di El Colegio Nasional, dalam seminar "Literatura: Creaciòn y tradiciòn?". Presentasi tersebut menjadi jalan baik dan refrensi bagi setiap penulis, untuk memotivasi diri sebagai seorang penulis. Tak pernah berpikir penulis itu baik atau buruk, bahkan ada kegetiran saat menjalani proses belajar.

Tulisan ini ingin merespon tulisan Dani Alifian dengan judul "Melihat Malang yang Tak Ramah Sastrawan". Mungkin respon ini agak sedikit bersikap intelektual, bukan hanya menghujat atau ramai-ramai bergumam tanpa dasar. Sebab ada kegelisahan tersendiri akan tulisan berjudul tersebut.

Narasi tulisan Dani, memposisikan diri sebagai orang diaspora di Kota Malang. Dia sebagai mahasiswa memiliki proses belajar gigih selain di kampus. Tapi semangat untuk menjadi penulis, sastrawan, dan sebutan lainnya lagi tak tahu. Intinya berkecimpung bersilat tangan mencipta sesuatu gagasan melalui tulisan.

Sebagai orang yang senantiasa berproses. Tidak menutup kemungkinan membutuhkan seorang mentor atau teman belajar—yang sekiranya menjadi pembaca sekaligus pengkritik terhadap karyanya. Alih-alih agar mengetahui letak salah serta baiknya karya tersebut bisa dibaca serta diterima oleh pembaca, sebelum dilemparkan kepada dunia bebas, pembaca.

“Seperti orang belajar pada umumnya, butuh seorang guru agar ada mentor terhadap prosesnya.”

Adapun hal tersebut telah menjadi pilihannya. Sudah semestinya Dani dalam proses melakukan pencarian kepada siapapun. Menemui atau ditemui untuk bisa diajak teman belajar atau sekaligus mentor dalam proses belajar.

Tulisan Dani, secara garis besar mencoba ingin menyampaikan kalau para kaum muda perlu diperhatikan oleh para kaum tua. Bukan sekedar diperhatikan, melainkan butuh dibimbing agar terdapat  iklim kota yang sehat. Ketidakramahan terhadap dunia sastrawan perlu dihapuskan. Sekurang-kurangnya begitu. 


Senin, 20 Juni 2022

EKONOMI KERAKYATAN DAN TURBA

Mula-mula saat itu, saya mendengar obrolan Faisal Basri, salah satu menteri, kalau tidak salah intelijen zaman presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sekarang pengamat ekonomi. Membicarakan ekonomi di Indonesia yang begitu chaos secara sistem. Entah itu terkontaminasi dari sistem produk kolonialis-imperialis atau hanya kolonialis--yang menciptakan sistem ekonomi di negeri ini dengan produk niat baik atau buruknya. 

"...Ekonomi di Indonesia yang sepertinya perlu adanya sebuah evolusi dari setiap daerah. Khususnya sektor-sektor kecil dilakukan dengan penerapan sistem menyesuaikan dengan pemasukan pemasukan daerah dan sesuai dengan letak geografi serta sumber daya alamnya. Tidak berpatokan sistem dibuat oleh pemerintah dan ditentukan dari atas. Hal ini menimbulkan ketimpangan dan sentimentil." Ujarnya sekurang-kurangnya dan lebihnya begitu dibicarakan mengenai ekonomi kerakyatan konsep idealnya. 

Faisal Basri, membicarakan itu semua memposisikan sebagai seorang ekonom dan negarawan, bahkan secara peneliti dengan pisau analisis fenomenologi Edmund Husserl 'kesadaran dan pengalaman. 

Kurang lebih dalam hemat saya, paling sederhana.  Pandangan paragraf dicetak miring tersebut memang reduksi dari konsep pandangan Moh. Hatta dengan konsep ekonomi kerakyatannya. Dengan pada saat itu, kondisi negara yang begitu kompleks permasalahannya. Dan sektor ekonomi paling sentral, itu perlu diatasi terdahulu. Dalilnya 'ekonomi sebagai masalah negeri ini perlu dituntaskan lebih dulu...' narasi tersebut seolah-olah kita menyoroti Indonesia bermasalah sangat tragis. Sehingga sudut pandang kita selalu materialistik. 

Pisau analisis sederhana menggunakan analisis subjektif. Mungkin memang kurang pantas dan tepat, bahkan mengarah pada sebuah pandangan utopis serta normatif saja. Tapi perlu disadari jika masyarakat kita memiliki kesadaran urusan ekonomi urusan paling sentral dulu iya benar. Di era sekarang mungkin kurang tepat di era sekarang. Kita amini di Orde Baru kalau ekonomi perlu disadari. Saat itu, terpenting ada konsep yang begitu kental akan kemajuan akan selalu jadi pilihan ideal pada saat itu, jalani: entah baik ataupun buruk, karena kondisinya. 

Adapun era sekarang ekonomi kita sebenarnya atau mungkin sudah sedikit membaik. Walaupun pemerintahan sekarang sedang banyak hutang. Namun jangan sinis kalau tidak dapat diselesaikan, cukup psimis saja 'tetap melakukan usaha baik yang tak berhenti-henti'. Sehingga paling baik yang perlu kita tangani dari problem kita yaitu SDM (Sumber Daya Manusia). Agar kita bisa melakukan dengan seksama dengan kesadaran yang sama kalau keadaan kita tidak baik-baik saja. Pertanyaan dengan apa? Salah satunya yaitu dengan membuat kualitas pendidikan--yang memang perlu diperhatikan untuk dedikasi dan membangun kesadaran masyarakat yang kritis secara kolektif dan kreatif. Hanya dengan itulah ekonomi akan berkembang sesuai dengan harapan negara. 

Perspektif lain perlu kita reduksi pandangan Aidit

Konsep ini yang ingin ditawarkan kepada kita sebenarnya pandangan seorang tokoh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) D.N Aidit mengatakan yang jelaskan dalam wawancara Hersri Setiawan sekretaris  Lekra Jawa Tengah di Majalah Tempo bahwa Lekra pada tahun 1959, telah melakukan kampanye  konsep Metode Turba secara perspektif berkarya sastra mengikuti prinsip 1-5-1--yang diartikan; 1. Asas politik adalah panglima; 5. Pedoman penciptaan yaitu meluas dan meninggi, tinggi tentu ideologi dan tinggi mutu artistik, memadukan tradisi dengan keyakinan revolusioner, kreativitas individu dan kearifan massa, memadukan realisme revolusioner dengan romantisme revolusioner, dan 1. Cara kerja yaitu turun ke bawah (Turba) (Aidit, 1965:53 dalam Fikri, 2022: 73-74). 

Pandangan di atas lebih berfokus pada bagaimana kesadaran kritis kita yaitu (Turba). Konsep tersebut perlu dilakukan secara pelan-pelan sebab perlu adanya kesadaran kolektif yang bahu membahu memulai dari bawah. Masyarakat perlu adanya kesadaran kolektif yang sekurang-kurangnya analisis kritis terhadap ekonomi kita. 

Sehingga dapat disimpulkan sistem yang lahir dari Eropa, Latin, dan Nusantara. Atau dilahirkan dari kolonialis-imperialis perlu adanya analisis kritis bagi kita dengan menawarkan sebuah pandangan sekaligus tawaran lebih baik. Paling idealnya para intelektual dunia pendidikan membuka gerbang dan kecerdasan para politisi kita. Tentu politis yang menganggap bahwa politik sebagai panglima (Aidit, 1964:54). 

Bisa saja masyarakat kita menganggap kita baik-baik saja dari banyak sektor; ekonomi, politik, dan pendidikan. Jika tidak memiliki kesadaran dibangun dari dalam diri. Atau tidak bisa membuat para generasi menutup mata terhadap masalah di sekitar kita. Point pentingnya kesadaran kritis dilahirkan dari pengalaman. 

Selain itu, juga menyadari praktik-praktik kurang sehat yang disadari terhadap sistem atau aturan lahir dari kolonialis-imperialis. Bahwa kesadaran kalau kolonialis ada yang memberikan sistem baik terhadap negeri ini sesuai dengan apa yang telah dilakukan oleh seorang Douwes Dekker (Multatuli nama samaran) dalam novel berjudul 'Max Havelaar' memberikan kritikan terhadap orang pribumi yang termakan dengan janji manis kolonialis akan jabatan strategis dengan disetir dari belakang layar. Selain itu, imperialis penjajah yang lebih kejam menghisap darah pribumi tanpa memikirkan kemanusiaan dan untung kepada pribumi. Sangat kejam dan keji, kalau imperialis. Mungkin.


Selasa, 14 Juni 2022

MEMAHAMI PROSES DAN TANDA BACA


Mula-mula tulisan ini terinspirasi dari kegetiran  seorang berproses untuk menjadi penulis. Banyak kegiatan yang telah dilakukan sebagaimana seorang ingin menggapai sesuatu untuk mencapai hal diharapkan. Seperti seorang ingin menggapai sesuatu, seperti seseorang ingin sampai ke puncak gunung, sudah semestinya melakukan perjalanan jauh serta menemukan, merasakan, dan berat melangkah. Banyak rintangan di bawah untuk menuju ke puncak.

Seorang yang bermimpi menjadi penulis akan selalu melakukan latihan setiap hari menulis. Namun paling penting yaitu membaca dalam proses menulis perlu membaca dan terus haus membaca banyak hal khususnya buku-buku yang berkualitas. Tentu yang sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, bergumul dengan orang-orang yang se-frekuensi, yang bersemangat belajar menulis. Biasanya di dalam akademik sering berkumpul dengan orang-orang pegiat literasi berdiskusi. Paling beruntung dapat mengikuti diskusi secara gratis, paling beruntung seminar dengan pemateri penulis keren dan hebat—yang sudah diakui karyanya, sangat senang mengikuti.

Seumuran 20—30 masa-masa yang kita saat bertemu dengan teman-teman seperjuangan akan memunculkan obrolan berbeda. Tentu banyak hal yang dibicarakan mulai; proses yang dilakukan, konsep ke depan, dan hal-hal yang telah menimpa menjadi pelajaran atau sekedar dianggap sia-sia. Seperti muncul kegetiran hidup muncul seketika dengan mengevaluasi hal-hal yang telah terjadi. Ini ada yang mengatakan quarter life crisis.

Proses panjang yang diberi kesempatan dalam belajar perlu disyukuri. Karena diluar sana masih banyak orang-orang memimpikan  seperti kita berada di ruang diuntung yaitu kuliah di perguruan tinggi—yang mungkin kalau tidak dapat memanfaatkan secara baik akan memunculkan kegetiran di masa depan—yang tak menjanjikan. Paling tragisnya  masih bingung akan masa depan setelah lulus.

Memang benar dengan apa yang telah disampaikan oleh salah satu seorang mentor dadakan. Mentor dadakan tersebut memberikan pandangan begitu kompleks pada saat saya awal mula tiba di kota perantauan Kota Malang. merasa diuntung pada saat datang ke Malang di Bus pada tahun 2016 bertemu dengan seorang mahasiswa angkatan 1993 di UMM-Malang. beliau berbicara banyak tentang itu, selain merekomendasikan bacaan buku kepadaku sebagai mahasiswa baru.

Pesan tersebut masih membekas “hanya ada dua mas yang akan ditemukan pasca lulus nanti; kamu dibutuhkan atau membutuhkan!” pernyataan itu terngiang-ngiang selama kuliah. Namun ada lanjutan setelah berbicara seperti itu, “setelah sadar itu dek,,, kamu harus berproses dengan siapapun selama kuliah; organisasi, komunitas, dan ruang belajar manfaatkan sebaik mungkin. Minimal kalau kamu tidak dibutuhkan, tapi temanmu kamu butuhkan… terus berproses!.” Ujarnya tiga tahun lalu, yang diingat.

Dalam proses. Sebagai seorang yang belajar di perantauan. Mungkin akan berbeda dengan seorang mahasiswa lainnya yang hanya menunggu (menerima) setiap pelajaran. Namun sebagai yang tidak hanya menerima—kita kadang harus merelakan di kota perantauan menunda urusan romantisme untuk tetap fokus dengan tujuan menjadi dasar, mengubah segala hal di rumah dengan cara-cara sendiri.

Mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia tidak pernah sengaja secara sistematis. Apalagi ada embel-embel akan jadi apa dan sudah diarahkan oleh lingkungan, jika ambil jurusan ini akan menjadi seorang pendidik, sastrawan, wartawan, ahli bahasa, dan editor. Tidak pernah ada dalam konsep hidup saya—yang memang secara latar bukan dari dunia pendidikan. Seorang anak yang tubuh besar serta berekembang dengan keadaan getir menjadi semangat mendalami suatu bidang disenangi “Pendidikan dan Sastra”.

Pada saat belajar di jurusan yang telah dipilih. Tanpa ada penyesalan. Mengambil awal mula tidak tahu akan menjadi apa, hanya berkuliah saja. Saat belajar linguistik umum dan Bahasa Indonesia. Pada saat pelajaran konstruksi sintaksis ada yang berkesan, saat belajar tanda baca dalam bahasa.

Memahami Tanda Baca

Kalau ditanya mengenai tanda baca yang paling disukai. Dari sekian banyak tanda baca, saya lebih memilih tanda baca 'tanda tanya' (?). Karena bentuknya yang paling aneh melengkung seperti celurit. Mengapa suka bentuk seperti itu. Sangat sederhana, mungkin salah satunya karena masa kecil saya begitu dekat dengan orang-orang yang pencari rumput. Detailnya tak mungkin seorang pencari rumput tak bawa clurit. Analoginya sederhana seperti seorang belajar alatnya; buku dan bolpoin.

Secara esensi, tanda baca (?) ini bermakna tanda tanya. Sebagaimana konsep hidup. Kalau orang selalu merasa perlu banyak hal dipertanyakan, kita merasa kalau perlu merendah hati tidak tahu apa-apa. Maka selalu bertanya akan hal. Konsep sederhananya belajar terus jadi penting. Mungkin makna ini bersifat subjektif atau secara pribadi. Bahwa selalu merasa tidak tahu apa-apa, itu lebih baik. Daripada sok. Dan merasa kalau semua dipenuhi tanya karena tidak tahu apa-apa, bentuk bijaksana kalau dalam filsafat.

Sebenarnya secara bentuk saya merasa lebih bagus tanda baca 'tanda seru' (!)—yang bentuknya seperti pentungan. Seperti alat yang penuh dengan simbol kekerasan. Bahkan asumsi sederhana, sering terjadi ditemukan para pihak-pihak pekerja berseragam pegang pentungan. Seringkali dibuat untuk melakukan kekerasan tanpa ada melakukan perundingan.  Secara esensi tanda seru diletakkan diakhir ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah menggambarkan kesungguhan, kepercayaan, atau emosi yang kuat.

 Dari konsep seseorang memilih hidup tentu memiliki cara berbeda-beda. Ada pula seorang bisa memilih selalu menanyakan apa yang terjadi dengan pertanyaan-pertanyaan –yang ada ada, bahkan menimpa. Jika disadari bahwa pelajaran seumur hidup terdapat konsep mencari, bukan menerima. Mungkin. 


Kamis, 02 Juni 2022

PANDAI MENDENGAR PANDAI BELAJAR HIDUP

"Kepada masa lalu yang tak menjanjikan apa-apa, tapi menawarkan kisah-kisah panjang melatih hidup masa depan, masih absurd..." 

Masa silam yang terjadi akan memiliki sebuah keunikan hidup di masa akan datang atau sekarang yang terjadi. Saat dulu kita terus ditawarkan dengan konsep baru akan kehidupan yang ideal, sesuai dengan kehidupan manusia bijaksana. Hal itu tak akan menghilangkan sebuah keadaan kesadaran manusia akan dirinya. Bahwa suatu sederhana yang luar biasa mampu diterima oleh indera pendengar. Tentu menyimpan kejelasan pembicaraan mengenai nilai. 


Saya yang memang ngantukkan dari kecil. Sehingga teman-teman tidak suka bersamaku kalau melihat pengajian-pengajian di kampung. Karena mereka tak ingin disusahkan lantaran harus menggendong bawa pulang. Apalagi bagi teman yang biasanya tak hanya datang ke pengajian untuk mengambil berkah kyai, melainkan mereka salah satunya juga ingin bertemu si doi, yang telah dikabari melalui sms atau facebook kepadanya. Sangat tidak akan mau kalau denganku kemana-mana. 


Daerah terkecil itu membuat hidupku kini yang memiliki pandangan atau kekuatan akan terus melakukan perjalanan jauh hingga kini. Walaupun orang-orang menganggap selalu buruk masalah masa lalu seorang. Sehingga apa-apa yang terjadi selalu dianggap buruk. Dalam hal kecil ini, saat di perantau sangat membantu dari dalam berupa dorongan seperti motivasi diri, karena ada kecintaan atas proses. 


Di perantau, ternyata tak pernah jauh dari kehidupan masa lalu di latar belakang keluarga, lingkungan teman, dan lingkungan kampung kecil, itu terjadi. Hal paling sederhana terjadi yaitu dari cara bertahan hidup, yang bagaimanapun terjadi bisa tetap hidup, tanpa meminta-minta atau berbagi nasib kepada orang lain. Paling sederhana pada saat memakan dengan memakan yang ada, makan nasi hanya dengan kerupuk serta ditambah royco. 


Cerita saat itu, seperti menjadi nikmat tersendiri jika diceritakan pada diri sendiri. Atau memang mau bercanda dengan seorang teman. Berharapnya, bisa menghibur mereka. Karena saat bercerita awal kuliah belum ada teman. Saat bercerita sendiri juga tertawa, terbahak-bahak bersama teman di kopian. 


Ceritanya saat memakan nasi dengan royco. Jika ingin makan nasi+ayam, cukup membeli royco rasa ayam. Jika ingin rasa sapi, juga beli royco rasa sapi. Saat bercerita dengan narasi dan wajah tertawa, mereka senang. Saya merasa secara pribadi kalau tak ada penderitaan terus-menerus terjadi. 


Kejadian tersebut tak lepas dengan apa yang telah terjadi di kampung kecilku di masa lalu. Karena sejak Sekolah Dasar (SD), saya sudah mencari uang dengan menjual es lilin keliling. Saat itu sederhananya ingin punya sangu dan bisa beli mainan sendiri, tak perlu minta ke nenek. Walaupun ada pula yang menganggap kalau hidup itu buruk. Karena jika dilakukan secara bersamaan belajar dan juga bekerja. Namun bukan itu yang kini bisa dirayakan, tapi bagaimana pelajaran hidup di masa lalu dengan banyak mendengar dan berbicara akan tetap terus hidup secara baik. 


Kejadian masa lalu itu terjadi bukan karena hanya karena kondisi. Akan tetapi, karena mendengar apa yang disampaikan nenek, paman, dan tetangga kalau hidup tak begitu diuntungkan bagi saya dan nenek, yang saat itu menjual krupuk hasil racikan  sendiri. Saat dijual tidak terlalu banyak peminatnya. Pesan saat mau subuh itu masih terngiang-ngiang di kepala hingga sekarang dan sangat relevan dikehidupan di perantau. Pesannya, "kalau hidup itu terus sadar akan diri, dan jangan hanya menyisakan uang untuk disimpan, tapi memang harus ambil khusus disimpan untuk masa lebih lama dan jangka panjang... jangan terlalu banyak makan di luar, makan di rumah dan jangan sering keluar 'keluyuran' sebab sekecil apapun nominal akan keluar!" Mungkin.