Minggu, 22 September 2019

Musim Panas di Indonesia; Kunci Masyarakat Madani

Foto; PPMI-Malang

Musim Panas di Indonesia; Kunci Masyarakat Madani

Masyarakat madani akan selalu memiliki kesadaran tinggi, kesadaran akan sebuah kebijakan, keadaan,  dan melakukan sebuah tindakan, hal itu menjadi impian di setiap negeri, bahwa masyarakat akan sadar dengan dirinya sebagaimana ia berperan sebagai tiang dari sebuah Negara bahkan menjadi pondasinya. Negara bisa diistilahkan bagaikan bangungan rumah pondasi dan tiang-tiangnya adalah masyarakat, untuk membangun rumah bukan hanya butuh indah, melainkan perlu kokoh. Maka hal ini berkaitan dengan kepercayaan dan para pemangku kebijakan bisa memukan apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Seingga terbuka untuk mencipta sebuah peradapan.

Musim  panas negeri ini merupakan  hal yang wajar, karena iklim dan negera dengan  letak geografis lurus dengan katulistiwa memiliki dua musim. Namun, panas hari ini tidak seperti musim panas pada umumnya. Seharusnya kita semua tetap merasakan apa yang patut dirasakan  untuk kehidupan kita.  Namun panas ini merupakan keadaan negeri dalam keadaan tidak biak, tugas  warga yang sadar perlu untuk bisa mengambil peran aktiv, serta memberikan fungsi pada kehidupan. Ada apa dengan negeri ini, keadaan  negera harus memahami apa yang telah lakukan pemangku kebijakan.

Setiap kebijakan tentu akan menimbulkan pro dan kontra. Banyak perseteruan apalagi dalam menyikapi sebuah keputusan yang berkaitan dengan orang banyak. Pro dan kontra sebuah hal biasa, namun menjadi kekhawatiran keputusan melahirkan keos. Hari ini sepertinya Indonesia mengalami musim panas berkepanjangan. Beberapa keputusan melahirkan sebuah konflik kerkelajutan. dan musim ini membuat air tambah kecil sumbernya. Terutama mengenai apa yang telah menjadi pertimbangan  penguasa kita. Akhir-akhir ini pro dan kontra yang terjadi mengenai keputusan yang telah dilakukan oleh para kepentingan birokrasi kita, hal itu merupakan sebuah ujian besar bagi kaum kecil dan terpelajar kita hari ini.

Kesdaran calon cendikia yang berada di perguruan tinggi tidak semua kejaman berpikir dan mau memperhatikan negeri ini tidak terlalu banyak. Mungkin saja anggapannya tidak perlu memikir negeri ini karena sudah ada yang mengurusnya.pemikiran itu bukan sebuah pemikir seorang cendia yang berada di perguruan tinggi dan dianggap agent perubahan agent of change mahasiswa bukan hanya itu, namun memiliki peran konrtol serta menyadarkan masyrakat akan fenomena sosial.

Dalam hal ini tentunya harus kita pahami  secara realistis. Berasumsi jika masyarakat tidak akan terlalu dan banyak merespon kejadian negeri ini, ketika telah terpenuhi kebutuhan mereka. Dan kadang berpikir apatis dengan keadaan negeri ini. Namun tidak semua bisa memahami secara detail mengenai itu semua. Masyarakat hanya merasakan dan menjadi pelaku pula, walau ada dengan bijaksana menerima atau dengan bijaksana tidak menerimanya.

Di kehidupan masyarakat berpikr tidak akan pernah peduli siapa pemimpin kita, siapa yang di atas kita, terpenting kebutuhan mereka yang empat hal telah terpenuhi; seperti sandang, pangan, gedong, dan papan, dalam bahasa Indonesia sandang “baju”, pangan “makanan”, gedong “tempat”, papan “petunjuk/pengetahuan”. Ketika semua itu telah terpenuhi masyarakat terkadang akan apatis dengan semua yang terjadi dengan keadaan negeri ini. Sebab kebutuhan  primier manusia itu. Namun, bagi yang yang terdidik tidak hanya menerima apa adanya dengan apa yang ada di kehidupan serta lingkungan kita.

Selaras apa yang telah ditulis oleh Ir. Soekarno dalam bukunya berjudul “Dibawah Bedera Revolusi” bahwa sebagai Aria Bima-Putera, jang lahirnya dalam zaman perdjoangan, maka Indonesia Muda inilah melihat cahaya cahaya matahari pertama-tama dalam zaman yang rakyat-rakyat Asia, lagi berada dalam perasaan tak senang dengan nasibnya. Tak senang dengan dengan nasib-ekonominya, tak senangn dengan nasib-politiknya,  tak senang dengan segala nasib lain-lainnya. Maka harus sadar bahwa “Senang dengan apa adanya adalah masa lalu” di zaman baru; zaman muda, sudahlah datng sebagai fajar yang terang cahayanya (Hal 01;1963).

Hal itu menunjukkan bahwa masa lalu yang telah berlalu dengan apa yang sudah apa adanya dalam menerima tentang hidup. Hari ini cahaya telah terang banyak cara manusia melakukan sesuatu untuk bisa membuka ruang untuk kehidupan baru hari ini. Dan berperan dalam keadaan hari ini banyak cara bagi kaum muda yang ingin berperan dan menemukan fungsinya.

Musim panasdi Indonesia sekarang ketika kita lihat, bukan sebuah cuaca melainkan sebuah rentetan sebuah peristiwa pasca pemilu yang begitu sangat memilukan dan membingungkan. Untuk berkata seperti apa dalam menyikapi dengan bijaksana. Namun sebagai orang yang cinta terhadap tanah air bukan hanya diam dengan menikmati apa yang terjadi, kaum terpelajar mencoba untuk merekam dan bisa menemukan sebuah keadaan negeri ini. Dan yang terjadi akhir-akhir ini yang sepertinya menjadi konflik horizontal, kita lihat rentetan keadaan negeri ini. Dimulai dari adanya keputusan  Presiden perpindahan Ibu kota, pengesahan UU KPK oleh DPR yang baru-baru ini dilakuakan, Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RKUHP), Kebakaran Hutan, dan Konflik Agraria di Kebumin. Semua itu  merupakan sedikit yang terekam, lalu bagaimana menyikapi hal itu semua?, pertanyaan itu mungkin akan menjadi kajian tersendiri dalam setiap elmen, organisasi, dan bahkan orang-orang individu yang memiliki pendapat sendiri mengenai hal ini semua.

Banyak cara untuk bisa memberikan peran dengan mendoakannya, dengan memberikan peran langsung dengan turun ke jalan, menuliskan, dan bahkan para para pemimpiin yang memang serius menangani tanggungjawabnya. Semoga panjang umur dan tanggungjawab moral tentang negeri ini secara bersama bisa dicipta dan tidak adalagi keos berkepanjangan. Terpenting tidak hanya pasrah dengan apa yang ada dan yang terjadi,  mari bersama-sama saling membenahi sesuai dengan disiplin ilmu yang digeluti.

Sehingga cita-cita menjadi negeri madani tercipta; dengan kesadaran  masyarakatnya dari bawah menuju ke atas. Tidak ada kesangsiang kalau dari atas ke bawah, sebab jarang dari atas akan ke bawah lagi karena telah nyaman di atas. Maka mencipta masyarakat madani hanya dengan membuka kesadaran atas diri untuk bisa mengembangkan apa yang menjadi langkah awal peradapan baru dalam negeri ini.

Biografi
Akhmad, Mahasiswa bahasa dan sastra Indonesia (PBSI) FKIP-UNISMA,aktiv di LPM Fenomena, HMJ-PBSI, dan kamunitas baca gratis Gerilya Literasi.

Jumat, 20 September 2019

Meneladani Alm. BJ. Rudy Habibie; Teknokrat, Negarawan, Humanis, Spritualis


Gambar: Lpmsiar.um


Beberapa hari lalu tepat tanggal 11/09/2019. Indonesia kehilangan sosok inspiratif, sosok tersebut bernama Alm. BJ. Rudi Habibie meliliki jiwa negarawan, teknokrat, setia, humanis, dan spritualis dan tentunya banyak kelebihannya yang patut menjadi teladan. Khuususnya pada generasi bangsa, jika kita tidak bisa meniru ke jeniusan berpikir teknokratnya, namun semangat-semangat yang positif lainnya itu diteladani sebagai generasi hari ini. Mulai dari semangatnya serta ketekunannya.

Beberapa hari lalu ada yang bertanya; apa yang harus kita ambil dalam mempelajari sejarah, apalag menegenai biografi seorang tokoh? Belajar sejarah samahalnya dengan belajar filsafah. Filsafah apa yang harus kita pelajari, apa yang harus kita ambil dari pelajaran filsafah. Keduanya sama-sama memberikan dampak positif, walau secara objektif akan memiliki dampak positif negativ. Keduanya akan menjadi subjektif ketika dikembalikan ke setiap individu. Namun yang paling penting dari sejarah yaitu mempelajari pengalaman dan semangatnya. Jika falsafah mengenai cara berpikir yang bijaksana.

Dalam tulisan kali ini kita akan mempelajari biografi dari sosok tokoh republik Alm. BJ. Babibie yang pernah menjadi bagian dari Indonesia pada tahun 1998 pada saat Indonesia mengalami goncangan besar. Dan pasti akan tercatat dalam sejarah negeri ini. Beliau beberapa hari lalu telah berpulang kerahmatulloh. Semoga diterima di sisi-Nya dan ditempatkan di surga-Nya.
Sosok yang memiliki jiwa yang patut kita teladani dalam bentuk membangun jiwa kesadaran diri dalam membangun intelektualitas, kreatifitas, dan spritualitas. Hal ini berkaitan dengan sebuah perjuangan yang humanis, nasionalis, dan teknoktratisme. Beliau hadir dalam menyembuhkan Negara dalam bahasa kasarnya, yang pada masa itu bisa dikatakan dalam keadaan sakit keras kronis. Pada tahun 1998 negara  Indonesia memiliki rekam jejak sejarah besar tentang banyak peristiwa Negara Indonesia. Mulai dengan aksi massa mahasiswa, serta kesuksesaan masyarakat, militer dalam menumbangkan rezim yang dianggap tidak sesuai dengan asaz-asaz negara. Masyarakat mengalami kesengsaraan akan segala kebijakan. Hal itu menjadi jalan paling sukses dalam pergerakan mahasiswa dalam menurunkan rezim, kurang selaras diterapkan. Beiau datang dengan begitu bijak dalam salah satu wawancaranya berkata. “Saya datang dan menjadi presiden bukan tentang jebatan, namun tentang keadaan negeri ini”. Ujar pada saat diwawancarai oleh R. Toto Sogiharto dalam buku yang berjudul Dari Malari Ke Reformasi biografi BJ.  Habibie.
Alm.Habibie memimpn negeri ini tidak disangka-sangka. Karena secara jabatan tidak ada ambisus jabatan bahkan ke ambisi berpolitik. Ia datang sebagai sebagai orang teknokrat yang bercita-cita ingin menjadikan negeri ini nantinya maju dari segi teknologi. Namun tugas presiden bukan hanya itu, banyak hal lain yang harus dikerjakan. Dan sebagai pengganti seorang Soharto dalam kondisis paling kacau negeri ini bukan dengan mudah membalingkan kincir angina.

Sebagaimana dalam sejarah Indonesia telah menorehkan sejarah baru. Seorang yang memiliki jiwa teknokrat yang selama hidupnya lebih banyak di luar negeri, tepatnya di Jerman. Menyelesaikan studi di Jerman dan mendapatkan posisi dalam pekerjaan bisa dikatakan lebih nyaman. Namun jiwa nasionalisnya jika tidak ada panggilan jiwa untuk kembali ke Indonesia untuk ikut andil dalam mengembangakan negeri pada saat itu kondisi caruk maruk. Mulai dari bangungan serta penerapan pemimpin, tidak sejalan dengan masyarakat sehingga masyrakat tidak menyimpan kepercayaan terhadap negeri ini, degradasi perpikir positiv. Pecahlah reformasi 1998,  bentuk ketidak puasaa masyarakat.

Tepat pada 22 Mei 1999 sejarah baru dibuka kembali. Alm. BJ. Habibie resmi dilantik menjadi pemimpin republik ini. Tanpa ketidak siapan dalam bidang politik. Namun mau tidak mau-mau, jika mengingat dengan apa yang dilontarkan Soekarno bahwa seorang pemimpin terbaik terkadang datang tanpa direncanakan. Hal itu membuktikan bahwa negeri ini secara cepat butuh pemimpiny yang dimiliki olehnya dan itu sudah disepakati oleh para tokoh dan pemangku kebijakan pada masa itu. Jiwa nasionalis serta negarawan di sini secara signifikan dirasakan oleh warga Negara Indonesia harus kita berikan kepadanya. Walau pada akhirnya akan terjadi pro dan kontra atas ke pemimpinannya; namun ketika berpikir positif hari ini beliau orang yang bijaksana.
Karakter yang dimilikinya menjadi refleksi terhadap generasi hari ini dan meliputi jasa yang dilakukan olehnya, patut kita pahami agar tetap memberikan pandangan postif atas kemajuan negeri ini. Dan beliau bukan nabi atau malaikat yang tidak memiliki rasa salah, tetap sebagai manusiawi. Jasa beliau yang sangat signifikan yang bisa dirasakan samapai hari ini. 
1.      Tidak memiliki ambisi politik kekuasaan

Ketika memandang dari segi ke ambisiusan dunia politik dalam dirinya tidak terpatri. Namun dalam dirinya terpatri ingin mengembangkan negara melalui perkembangan tekhnologi, tentunya yang akan dikembangkan pesawat. Pada dasarnya Alm. BJ. Habibie tidak ambisius terhadap jabatan dilihat dari wawancara yang telah dilakukan oleh Raden Toto Sugiharto dalam buku berjudul Dari Malari Sampai Reformasi. “Menjadi Presiden, bukan segalanya bagi saya, tetapi yang terpenting apa yang terbaik bagi bangsa ini.” (2006:450).
2.      Rasa Humanisme dan jasa pada HAM di Timur-Timur
Jasa pada negeri ini terletak pada referendum Timur-timur yang dilepaskan. Dan menjadi negara sendiri bukan tanpa alasan yang tidak kuat melepaskannya. Menyetujui referendum yang diajukan oleh masyarakat Timur-Timor tidak berbicara tentang afiliasi politik namun secara kebijakan yang dilakukan sesuai dengan dasarnya, hal itu dilakukan dan disetujui untuk merdeka dari Indonesia, karena pada dasarnya Indonesia pada saat Proklamasi Soekarno-Hatta 1945 tidak memasukkan wilayah tersebut.

3.      Pembebesan UUD Pers Pasal

Kini tidak ada lagi pemberedelan yang dilakukan secara terang terangan oleh penguasa. Berbeda dengan Orla dan Orba. Mochtar Lubis pernah mengatakan dalam esainya yang berjudul Pers masa sekarang dan masa lalu, sangat berbeda Orla pers hanya dikendalikan oleh para aparatur atau presiden di Orba lebih parah dalam memperlakukan pers melakukan pemberedelan terhadap media tidak diberi izin. Padahal pada saat itu pula Pers sebagai pilar ke-4 Demokrasi mengapa semua menjadi paradox. Dan pasca reformasi tahun 1999 Habibie dengan tegas membuka ruang kebebesan pers dan berpendapat dimuka umum, yang kini dirasakan hingga saat ini.
4.      Teknokratisi

Kejeniusan orang Indonesia yang terlahir dari wilayah timur tepatnya Pare-pare tidak dapat diragukan kembali dikancah nasional dan internasional. Hal itu bisa dibuktikan rekam jejak pada saat Habibie masih muda hingga dewasa. Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng adalah Presiden Republik Indonesia yang ketiga. Sebelumnya, B.J. Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia ke-7, menggantikan Try Sutrisno. B. J. Habibie menggantikan Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan presiden pada tanggal 21 Mei 1998. Wafat 11, September 2019 di RS. Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta.

Hal tersebut bukan tidak mungkin beliau seorang manusia sempurna. Keputusan yang dilakukan terkadang banyak pula yang tidak menyetjuinya, hal itu bisa dikatakan pada memutuskan dan mengesahkan referendum menuai pro dan kontra dan konflik yang horizontal terhadap militer dan masyarakat yang sipil yang memiliki prespektif tidak tegas dalam menyikapi persoalan tersebut hingga pecahlah Timur-Timur menjadi negera sendiri.




Biografi
Akhmad, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP- UNISMA. Aktiv di LPM Fenomena, HMJ-PBSI, Komunitas baca gratis Geriliya Literasi.   

Sabtu, 14 September 2019

Rutinitas dan Kreatifitas

Rutinitas dan Kreatifitas

Akhir-akhir ini saya tidak sengaja dan walaupun kadang disengaja jalan-jalan ke perpustakaan pascasarjana sebutkan saja kampusnya Unisma. Memandangi setiap rak-rak kaget ada yang berwarna hitam, coklat, merah, dan kuning. Ada pula buku-buku yang dibedakan dengan itu semua, sempat duduk sebentar lalu berpikir apa yang membedaakan dari keduanya?, pertanyaan itu seperti tertunaikan dalam diri sendir dan lucunya ya menjawab sendiri, walau kadang merasa tidak tepat kawabannya. Tawaku dalam hati ketidak tahuan itu membuat lucu dan bahagia. Makanya manusia dicipta dengan ketidak tahuan (tidak langsung kata 'Kun' Allah berikan), akan ada kesempurnaan manusia yang tidak akan menajdi sebuah kebahagiaan. Bergumam dalam hati.

Dan, sempat pula saya berpikir apakan bisa saya membaut seperti itu. Tanya dengan diri sendiri. Dijawab sendiri, ditumakan kebosanan tak berkesudahan. Dalam hati bergumam lagi melihat orang-orang merunduk memabaca buku ada pula yang membaca WA, tidak tahu mana yang baik menurutku tidak bisa disimpulkan. Biarakan saja, saya hanya berusaha dan berpikir bagaimana di tangan mereka nanti bisa membaca karyaku. Seperti buku yang dipegang oleh Profesor La Fianiata dipojok itu, dia asik sepertinya membaca Mochtar Lubis terpampang judul bukunya'Senja Di Jakarta', saya pernah baca dulu minjam juga dalam waktu singkat dan itu sangat ingin tahu isi dari buku itu karena ada perempuan yang meminta tolong carikan buku itu, setelah dapat saya berikan dan sebagai imbalannya saya meminjam untuk membacanya. Namun berbeda dengan buku yang ku pegang yang satu penulis. Di tangan saya berjudul 'Jalan Tak Ada Ujung' saya memang lambat kalau baca. Sepertinya Prof itu andai ingin berbagi cerita tentang isi buku yang dibacanya, mungkin saja saya mau karena waktu saya baca belum bisa memahami secara detail. Tapi sepertinya tidak mungkin dia menabrak keinginan dan bisa menbaca apa yang saya inginkan.

Dalam benakku berkata lain. Kenapa semua orang bisa merasakan dan menikamti hasil teks yang dipersembahkan penulis, caranya apa. Dan itu membuatku berkeinginan bisa pula membuat karya yang memukau seperti buku yang dipegang oleh mereka, dan mempengaruhi pikirannya dengan apa yang bisa berikan. Apakah itu impian seorang penulis semua banyak orang miliki, kalau itu memang betul semoga saja nanti Tuhan lagi tersenyum mentitahkanku bisa menulis, karena saya berpikir lagi di masa lalu yang gelap dan suram. Tak ada cahaya hingga sekarang dalam hati, minimal seperti lentera kecil yang tebuat dari botol kratindeng, diberikan sumbu dan minyak tanah lalu dinyalahkan, dan hati bisa terang paling sederhana. Mungkin dengan menulis itu bisa mengikat dan bisa memberikan sedikit terang bagiku. Dan bisa menulis untuk sebuah tebusan dosa-dosaku, orang tuaku, temanku, dan para pemimpin bangsaku. Dan setiap tulisan bentuk lain dari ucapan dan ucapan bentuk lain dari doa, kala tulisan tercipta saya berpikir kalau dibaca oleh orang banyak pasti mereka samahalnya mendoakanku sebagai penulis. Mungkin harus memulainya dulu.

Beberapa bulan kemudian. Telah tiba suatau masa di mana manusia akan menemukan rasa kebosanan, dan saya manusia pasti alami itu semua. Dan sempat berpikir menulis itu senang karena dalam keseharian itu mencoba merekam banyak peristiwa apa yang bisa ditanggap oleh jiwa. Menuangkannya pada buku dalam betuk, puncak kebosanan itu saya rasakan kala menulis bukan hanya menyimpan ide, melainkan menggabungkan paragraf satu ke paragraf lain, memulai dari kata dan menyususunnya, memilih diksi yang mudah dipahami dan semua bisa mengerti. Belajar bahasa lagi dalam bentuk tulis, dan bahkan sering kehilangan inspirasi harus baca buku lagi. Hal itu ditemukan; bahwa menulis seperti merasakan kebosanan kadang kehilangan inspirasi bahkan kala pernah coba menekuni itu semua, kehidupanku berbeda dengan teman-teman yang lain, kadang harus mengasingkan dari keramaian dari kost dan pergi mencari tempat baca paling tenang, lalu menuliskan, dan teman diskusi jarang ada yang l sejalan yang tentunya bisa memerikan masukan dan memujilah tulisan agar ada greget terus dalam belajarnya, hal itu dirasakan kala semua kebosanan bahkan kehilangan inspirasi, dibawa meminum kopi pergi ke tempat ngopi ada inspirasi tapi bukan tentantang itu semua yang terjadi dalam diri, hanya perbincangan antara teman mengenai hidup dan fenomena yang ada menjadi objek pembicaraan. Hal itu ada baiknya juga kala sendiri ketika pulang itu ide yang dibicarakan menjadi objek tulisan. Dalam kesimpulannya menulis tidak semudah yang dipikirkan, ketika sudah membawa kertas kosong dan sudah memulai menulis kertas yang telah terisi penuh tulisan itu akan menjadi apa, dibaca, atau hanya hilang tanpa ada maksud apa-apa tiba-tiba hanya menjadi tumpukan dalam kardus yang semakin tahun ke tahun menjadi lembab dan menguning bersyukur bisa dimakan oleh rayap, kalau hanya terhapus dengan sendirinya tanpa ada yang menyentuh dan membacanya, apa yang telah ku tuliskan.

Dalam kesendiran yang sunyi malam-malam itu pikiranku dihampiri oleh ide. Dan seperti ia berkata; "Banyak kehidupan di luar begitu luas, apa yang dirasakan olehmu tidak pernah dirasakan oleh orang lain ketika itu dituliskan maka akan melahirkan sebuah pengetahuan baru bagi kehidupan orang lain, apakah kamu tidak mau jadi manusia yang berguna bagi kehidupan, menulis memang membosankan tapi harus ada yang menuliskan karena di luar sana masih banyak yang merindukan untuk membaca tulisanmu, tugasmu menulis untuk jangan memikirkan pembaca, persembahkan saja tulisannya untuk keluarga dan anaknya kelak kalau kau gagal jadi penulis, yang bisa hidup dengan karyanya dikenal oleh banyak orang dan tulisannya dibaca oleh ribuan orang, seperti Gabriel Marques, Borges, Shaskpire, Mislawa, Hemingwey, Mo Yan, dan penulis Indonesia seperti Pramodeya At, Hamzah Funsuri, Eka Kurniyawan, Chairil Anwar, Mochtar Lubis, Tirto, Laskmi Pamunjak, dsb. Maka menulis saja dulu" percakapan itu ditutup dengan kata perintah "menulislah dulu", dan menyimpulkan bukan ketenaran atau kebahagiaan menjadi tujuan menulis tapi bagaimana fungsi manusia bisa dirasa oleh makhluk hidup lainnya, dan keabadian akan hanya ada dan dimiliki manusia yang membaca.

Banyak dari para pakar dan para pemula memimpikan keduanya segera selesai dalam berkarya. Memahami ambisi itu tentunya tidak bisa melaskan keseriusan komitemen diri; terdapat dalam bentuk Aktivitas dan Rutinitas; kedua tersebut kata yang tertanam dalam diri harus kita semua amini, sebagaimana bisa kita syukuri dalam bentuk hasil yang sekiranya itu bisa maksimal. Manusia tentunya akan bisa memaksimalkan semuanya tapi tidak akan lepas kelemahan dan kelebihan itu ada.

Karya bentuk lain dari hasil pemikiran manusia yang keluar dari akan budi, yang lahir tanpa ada intervinsi, hal itu hanya dimiliki kreatifitas diri. Kreatifitas dalam proses mencipta merupakan kerja-kerja naluri manusia tanpa intervesi kecuali imajinasi dan walau kadang ilusi untuk bentuk kerja manusiawi mengabdi pada diri sendiri; yang perlu mengasingakn untuk bisa mencipta. Seperti halnya buku yang ada di dalam gabar berjudul 'Jalan Tak Ada Ujung' karya Mochtar Lubis. Karya sastra berupa novel itu merupakan hal lain dari kerja-kerja kemanusian yang humanis; adapun pasti selain tentang itu semua yaitu mengenai spritualis, eksklopedis, sains, dan humaniora. Semua itu kadang masuk karya yang meliputi karya-karya sastra lebih universal masuk di dalamnya. Praktik-praktik keduanya merupakan sebuah kebebesan yang terpatri dalam diri sebagai bentuk implemintasi kerja kemanusiaan, bakan hanya dituntut bisa tapi kreatif, solutif, dan berimajinatif.

Kedua masuk pada sebuah karya yang begitu mengerikan, tapi juga tidak begitu setiap hasil karya memeng butuh sebuah pengorbanan. Kadang pula kita harus mengasingkan diri dari keramaian, dan bisa dicap kalau indivdualis. Itulah proses panjang manusia bisa mencipta perlu memaksa, bahkan bisa menderita. Namun sebuah skripsi yang bisa pula karya dari kita khusus biasanya orang-orang akademisi, jika menganggap kalau semua karya ini bentuk dari kerja-kerja beraktivitas, bukan kreativitas; sebab hanya keinginan yang final (the goal of achieving happiness), hal itu kadang menjadi terget akhir dan berpikir tujuan sebuah final dari karya.

Kedua karya tersebut merupakan kerja-kerja keabadian; sebab menulis merupakan bukan suatu yang mudah memutarkan kincir angin dan bisa berbaling-baling ditiup angin. Semua perlua namanya ketekunan, kerajinan, konsisten, dan kreatif. Sebagai bentuk karya yang nanti bisa mengabadi, dan diambikan. Dan nanti bisa dirasa oleh lingkungan, membukakan ruang penderitaan makhluk hidup dengan sebuah karya tersebut, dibuat oleh manusia yang berjiwa besar, melewati batasan-batasan yang transenden.



Akhmad Mustaqim 2019
Di tulis di Perpustakaan Pascasarjana


Kamis, 12 September 2019

Mengenal Kepribadian Alm. BJ. Rudy Habibie

Gambar: karya Eka Dina Fitri

Berdamailah dan Tumbuhlah; Kesetiaan, nasionalis, speritualis.
BJ. Habibie semoga tenang di alam sana dan bertemu di surga bersama Ibu Ainun.

Negeri ini digemparkan dengan kehilangan sosok negerawan yang menginspiratif banyak orang. Teringat pada masa kecil dulu, dengan masa kecil kala ditanya akan jadi apa ketika besar nanti, pastiku menjawab. Akan seperti Bapak Habibie yang bisa membuat pesawat. Masa itu saya tidak tahu sosok seperti dia, mengapa semua mendambakanya, bukan hanya mengaguminya tapi kepribadian yang nyaris sempurna sebagai manusia. Sosok yang setia, nasionalis, dan spritualis. Hal ini yang akan jarang dimiliki oleh seorang pimimpin besar negeri ini. Kecerdasan yang memang jenius. Teori masih digunakan di Jerman dan relevan tak lekang zaman.

Penemuan pentingnya itu mengantarkan Habibie menduduki jabatan sebagai wakil presiden Messerschmitt Boelkow Blohm Gmbh (MBB) di tahun 1969. MBB merupakan industri pesawat terbang besar di Jerman. (CNN 11/09/19)

Selama berada di Jerman, Habibie secara tekun mengembangkan temuannya tersebut yang kemudian dikenal dengan sebutan 'Teori Habibie' dan 'Metode Habibie'. Teori temuannya tersebut telah dipatenkan dan diadopsi untuk kemajuan teknologi kedirgantaraan. (CNN 11/09/19)

Teringat, pada dua tahun lalu awal masuk kuliah pada saat itu teman mengirimkan sebuah foto dan potongan tulisanya BJ. Habibie, karena berangkapan keputus-asaan yang menabrakku kala itu tidak ada harapan kuliah lagi, dan sadar kalau teman bertujuan agar tidak ada rasa putus asa lagi atas apa yang telah menjadi pilihanku.

Semoga bunga bentuk kata akan terbalaskan hari ini bisa berada di luar alam semesta bisa diterima dan harumnya merona. Selamat jalan Bapak BJ. Habibie. Semoga tenang di sana dan bertemu dengan Ibu Ainun.

Hari Rabu tepat tanggal 12, September 2019. Presiden ke 3 Indonesia menghebuskan nafas terakhir. Ingin sekali membuat puisi padanya. Karena beliau salah satu orang yang menghampiri pikiranku pada awal-awal masuk kuliah, menjadi sosok mengispirasi. Pada awal kuliah 2015 temanku, Namanya Lutfi dia teman dekatku, dan dia menjadi salah satu orang yang pertama memperkuat tekad Untuk kuliah. Samping itu ia juga sering mengirimkan kata-kata motivasi kepadaku, kata-kata yang dikirim, yaitu pemikiran dari Alm. BJ. Habibie. Dari kata-kata yang banyak dia kirimkan kepada saya dan selalu diingat "Kuliah bukan tujuan akhir dari belajar kita harus terus belajar, dan yang ke-2 saya ingat hingga akhir ini, qoutesnya beliau paling umum dibuat andalan mahasiswa; "Kesuksesan bukan dilihat dari nilai IPK tapi dari keseriusan dan usaha" hal itu menjadi penguatku di awal kuliah yang begitu dilema karena menjadi orang yang dikatakan tidak bisa apa-apa dan patokannya hanya qouet tersebut.

Sekarang telah tiba di mana akan menjadikan rindu padanya, dan akab menjadi orang paling menginspirasi. Semoga ketiadaannya akan menjadikan kita semua tahu tentang arah pemikiran, dan bisa berbiak dalam diriku, semangatnya serta ketekunannya, serta bacaan bukunya konsisten.

Tepat sekarang saya telah semester IX kuliah mampiku dulu. Dan ketika melampaui jalanku hingga kini. Bisa dikatakan kalau semangat yang saya bawa berkat kata-katanya beliau. Dan ketika beliau sudah tiada semua masih seperti biasa kata-kata menghantuiku bukan tentang waktu untuk menyelesaikan studi, memang target namun di luar itu hidup sebuah perjalanan panjang, di mana setiap langkah tidak pernah tertip kadang, dan tidak serapi ketika kita berpikir tentang hidup dan menuliskan tentang konsep hidup. Hari ini terjadi maka mulailah berjalan.

Sekarang saya memperjuangkan skripsi bisa segera selesai. Karena penuh perjuangan dalam mengambil mata kuliah ini. Mulai dari biaya, dispensasi, dan sampai-sampai ingin menggadaikan buku bacaan. Hal itu menjadi pertimbangan dalam menyelesaikan intinya segera selesai dan tidak mengecewakan seorang teman yang telah menungguku bisa lulus bersama. Dan keluarga di rumah.

Kembali lagi dengan sosok BJ. Habibie sosok paling tekun, dalam pandaganku menganggap bahwa setiap apa yang ada sebuah peristiwa yang pasti. Dalam hidupnya pernah menonton flimnya, mengenai beliau. Masih teringat keberanian dan kekuatan spritualnya. Sosok yang kuat dan cerdas akan menjadi salah kelebihannya. Pada saatnya meninggal kurang lebih umur di bawah 10 tahun, meninggal tepat melakukan sholat berjemaah, pada sujud terakhir langsung menghembus nafas terakhir, sepontanitas karena lama tidak bangun, BJ. Habibie mengingatkan dengan sebutan Subhananllah berkali-kali tetap sujud, ternyata ayahnya meninggal kala melakukan sujud. BJ. Habibie tahu kalau sudah dia melewati kesadaran Kakak dan Ibunya, untuk menggantikan Imam dalam keadaan yang tetap sujud dan jatuh terkapar, sholat tetap diselesaikan.

Ketangkasan ke jeniusannya menjadi edukasi tersendiri. Bahwa dalam mengambil sikap akan menjadi salah satu cara dan jalan baginya. Sebagaimana bisa dalam benak anak berumur segitu. Hal itu tidak akan lepas dari lingkungannya, ayahnya, Ibunya, dan saudaranya memiliki peran penting baginya dalam menjadikan dirinya sebagai pribadi yang pantas diteladani.

***
Tengah malam tepat setelah saya pulang kerja. Di Kedai Kofe Elele namanya di mana saya bekerja. Pada malam itu pula saya dan Mas Nuzul, Mas Pram, disusul kurang lebih akan selesai diskusi datang Nasai. Kita me diskusikan mengenai gerakan literasi di Malang khususnya di Unisma Kampus di mana saya kuliah.

Pada awalnya saya hanya membahas skripsi Mas Nuzul, bisa dikatakan konsultasi. Judul skripsi yang dibawa agak rancu bagiku, "Konflik Lakon Utama dan Novel Revolusi dai Secangkir Kopi", dibuka dengan hal itu saya memberikan masukan agar lebih spesifikkan judulnya dengan menambahkan "konflik tokoh utama" hal itu telah lancar akan dibahas besok ketika sudah di Perpustakaan.

Pembicaraan berlanjut. Mengenai tulis salah satu teman menanyakan bagaimana tulisan bisa masuk ke media, Koran, sepertinya teman-teman LPM Fenomena mudah. Saya langsung menjawab jika ingin masuk koran dan tulisan dimuat palajari dulu karakter tulisan di media tersebut. Untuk di koran media cetak ada batasan bukan hanya tulisan bagus tapi batasan jangan dilanggar, tulisan bagus tapi melebihi karakter tidak akan dimuat. Begitu pun di media daring panjang tulisan ada yang mempermasalahkan ada pula yang tidak. Kebijakan media berbeda.

Pukul 01:30 Wib. Waktunya pulang kerja. Setelah tiba di kos, saya langsung membuka laptop dan Hp. Ingin sekali melihat biografi BJ. Habibie. Berberapa kemudian ada salah satu teman mahasiswa dari Universitas Negeri Malang UM Namanya Kevin. Di chat saya dan menanyakan mengenai sepak terjang BJ. Habibie yang peran UU Pers, apakah saya tahu, dan dijawab tahu tapi baca bukunya belum selesai. Ternyata dia meminta menjadi pemateri di (Dinar) Diskusi Nusantara dilaksanakan biasanya pasa saat hari Senin 2 Minggu sekali. Dalam waktu dekat saya sendiri harus belajar lagi dan mencari Buku BJ. Habibie.

***
Hari semakin terang. Keadaan perkulihan sudah aktiv banyak dari sekian banyak mahasiswa baru dengan semangat baru. Ketika saya melewati tempat yang biasa seperti saya menjadi mahasiswa paling lama. Apa semua mahasiswa akhir berpikir seperti itu, tentunya itu hanya hati saja yang membawanya. Sebenarnya tidak ada masalah. Semua akan tiba pada suatu masa di mana hal yang akan dirasa akan segera berakhir, dan akan berganti hari lain. Semoga panjang umur perdamaian dan persoalan segera terselesaikan.

Dalam jiwa akan ada nama pejuang sosok seperti dia yang akan selalu membawa nilai-nilai kemanusian serta semangat nasionalisme dan kesetiannya. Membuka dan menggedor hati generasi kini yang seperti suka dihidangkan sifud-sifud yang mengalir dalam darah semangat, melembekkan dan meresahkan kala semua tlah tak menemukan peryaan paling manusia rasa sempurna.


Akhmad Mustaqim 2019
Menulis di Perpustakaan Pasca Sarjana, sambil baca novel Kubah karya Ahmad Tohari.

Rabu, 11 September 2019

Jalan Tak Ada Ujung |Karya Mochtar Lubis

Ulasan buku: Jalan Tak Ada Ujung karya Mochtar Lubis ditebitkan di Pustaka Obor 1992.

Buku jalan tiada ujung karya Mochtar Lubis merupakan karya yang memberikan pandangan dan pengalaman baru mengenai Kota Jakarta pasca kemerdekaan awal-awal, tepatnya pada tahun 1947.

Dalam novel ini menceritakan sebuah kondisi pemuda pejuang kemerdekaan, dengan kesatuan tentara Jepang yanh menunggu kedatang tentara sekutu, karena pemuda masa itu mengumpulkan persenjataan dari pasukan Jepang, dan ketegangan dalam hati seluruh rakyat Indonesia mengenai siapakah yang akan datang pertama dari tentara sekutu, tentara Inggris, atau Belanda. Itulah setting dalam novel Jalan Tak Ada Ujung ini, yang mengisahkan pejuang-pejuang seperti tokoh Hamzil, pemusik yang bersemangat berapi-api, Guru Isa yang lembut hati dan tidak suka pada kekerasan, istirahatnya yang merindukan kasih lelaki. Perlawanan terhadap tentara Belanda yang hendak menjajah Indonesia, kehangatan cinta, semangat perjuangan berkobar, ketakutan, kejahatan manusia terhadap manusia, penemuan diri di bawah siksaan, dan kemenangan manusia dalam pergaulan dengan dirinya, dan kekejaman peperangan.

Setting waktu yang digunakan setelah pasca kemerdekaan, tentunya akan memiliki perspektif secara subjektif. Bahwa dalam sejarah masa itu merupakan pemerintahan Soekarno sebagai proklamatkor Presiden pertana Indonesia. Bahwa di dalamnya menceritakan sebuah salah satu Guru Iza, Hamzil, dan Fatimah.

Secara visual buku ini merupakan potret sejarah yang dikemas dengan fiksi. Tepatnya ini sebuah Prosa yang memukau atas ada nilai filantropi yang telah dilakukan oleh Guru Isa ke Hazil. Serta nilai semangat tentang memberikan pandangan tentang kecintaan terhadap budaya, demokrasi, pandangan hidup, dan perjuangan. Perjuangan atas dirinya dan perjuangan atas negeri sendiri.

Fenomena pada tahun 1947 tersebut akan selalu menimbulkan konflik dan mendapatkan peristiwa-peristiwa baru. Dan seorang Mochtar Lubis sangat memukau dan satir menyampaikan sebuah peristiwa yang bisa dirasa oleh pembaca. Hal paling sederhana bisa diterima. Satir tentang apa yang terjadi melakukan sebuah kritik kepada Soekarno ketika pada masa itu tertawakan oleh banyak orang tentang kemerdekaan. Setelah sampai pada kemerdekaan tiba pada masa itu, masyarakat Tionghoa berlumur darah itu disatirkan dalam mimpi seorang Guru Isa.

Guru Isa tidak tahu apabila dia jatuh tertidur. Ia bermimpi penembakan du Jalan Asam Lama kembali. Melihat seorang Tionghoa berlumuran darah. Lalu terbangun.Terang sebagai menonton bioskop (hal 34-35).

Hal tersebut paling unik dalam menyampaikannya. Bagaimana fenomena sejarah Tionghoa akan menjadi mampi buruk nantinya yang ada di Indonesia. Dan masyarakat hanya menjadi penonton seperti halnya di bioskop. Bahwa nilai kemanusian tercipta di sana secara futuristik, bahwa di mana zaman nanti Tionghoa akan mengalami rasa sakit yang luar biasa, dan masyarakat yang tidak berkepentingan hanya bisa menontonnya, apalagi hanya seorang guru.

Mengenai Perjuangan Manusia
Dalam percakapan Hazil dengan Guru Isa selalu membuka pertacapakan yang memberikan sebuah pengetahuan mengenai perjuangan Hazil penyuka musik bahwa perjuangan.
 "Manusia semenjak zaman dahulu perjuangan memburu kebahagian. " (hal 45).

Pada kutipan di atas menunjukkan bahwa setiap perjuangan manusia dari zaman dulu hingga sekarang tidak lain dan tidak bukan merupakan perjuangan yang sangat umum, perjuangan kebahagian merupakan hal yang akan dirasakan oleh manusia dan semua manusia pasti merindukannya. Dan hal itu merupakan titah, karena sejak kecil hingga dewasa kebahagian akan menjadi final manusia, sejak kecil manusia tidak berpikir sempurna menrindukan hal tersebut apalagi yang sudah dewasa memiliki pemikiran sempurna, tentunya akan lebih ambisius. Dengan perjuangan seperti Itu manusia akan membuka diri, apalagi sudah bisa membaca tentunya akan melahirkan banyak cita-cita bahagia.

Makna Revolusi
"Manusia seorang-seorang. Tidak engkau maksudku? Bagaimana harusku terangkan? Perjuangan manusia yang bukan dalam gerbolan. Bukan selak serigala kawanan yang melakukan pemburuan, tetapi salak dan salak dan geram, sedu-sedan, dan teriak nyaring serigala seekor yang merebut hidup. Bagiku individu itu adalah tujuan, dan bukan alat mencapai tujuan. Kebahagian manusia adalah dalam perkembangan seorang-seorang yang sempurna dan harmonis dengan manusia lain. Negara sebagai alat. Dan individu bukan diletakkan di bawah negara. Ini musik hidupku. Ini perjuanganku. Ini jalan tak ujung yang kutempuh. Ini revolusi yang kita mulai. Revolusi Hanya alat mencapai kemerdekaan. Dan kemerdekaan juga hanya alat memperkaya kebahagian dan kemuliaan penghidupan manusia-manusia." (hal 46-47).

Percakapan Hazil merupakan sebuah satire terhadap kemerdekaan diri, bukan dicapai dengan cara gerombolan malin kemerdekaan diri tercipta oleh seorang individualis. Maka mencintai musik bentuk kemerdekaan paling suci tanpa ada embel-embel kepentingan. Dan kemerdekaan individu sebuah tujuan, alat bentuk representasi dari bahan darinya. Dengan pencapaian Itu akan merasakan kebahagian.



Akhmad Mustaqim 2019

Selasa, 10 September 2019

Perempuan Membawa Bunga Sebelum Perang Usai


Pagi telah berlalu
Mahasiswa pada memulai pelajarannya
Semangat baru akan segera tiba dan berlalu seketika ketika melihat dunia luar begitu luas
Pemuda pergi ke toko buku mencari sesuatu ingin mencipta peristiwa cerita dibait-bait kata terangkum dalam benak, untuk tidak lupa memfoto, menuliskan, dan membenturkan dengan keadaan dirinya.
Buku-buku yang dulu pernah ku tidak tahu banyak berserakan menggairahkan; ingin sekali membawa dan membacanya dalam begitu cepat tapi bisa memahami, bukan sekedar cepat namun tidak bisa mengunyah dengan sempurna.
Bahagia dari pemuda bagi yang pernah punya peristiwa besar di tempat yang pernah dikunjungi dan itu ada karena ada kenangan di sebuah toko buku Togamas, sebelum berangkat berangkat ketika naik sepeda motor kala masuk ke dalam, wajah perempuan itu datang tiba-tiba di lantai 2 di rak paling barat tepat 1 tahun lalu dia menyamperin kala itu membaca buku Eka Kurniawan dan bukunya Budi Darma.
Wajahnya begitu jelas, di tambah dengan satu buku kesukaannya ia yang pernah memesannya punya Mochtar Lubis judulnya Senja di Jakarta, buku itu pernah dicicil kepada yang selalu mendambakan dalam doanya hidup selalu ada dan ada di posisi setelah semua paling penting, dia seperti menjadi yang penting pula karena disebut tidak paling belakang.

Sebelum berangkat hari ini ia datang dan ingin sekali bisa memahami apa yang terjadi dengan naluri. Dan ada kepadanya untuk bisa dipahami bahwa ini bentuk rasa penasaran paling dalam, dan paling ku benci kala hanya ia mengkasihani. Wajahnya pernah ku membayangkan kalau ia berkepala tanpa otak yang transparan.

Pagi-pagi namamu menabrak menyiksaku untuk bisa berkata namun tidak bisa meberi makna, bergumam dengan sendirinya tidak bisa berkata hanya jiwa meronta hati berdialog tentanmu terus menerus, hingga pada akhirnya apa yang akan terjadi wallahuahlam. Kau sempurna dalam benakku mengapa itu terjadi apa ada rencana terselubung Tuhan.

Aku pernah bersama dengan yang lain, tiba-tiba otakku tanpa keinginan terbentur wajahmu. Kau seperti bunga di depan rumah tidak ada aroma dipersembahkan kau menjadi keindahan. Namun keindahan masih sangsi dengan semua yang terjadi dengan diri ini. Mengabdi untuk abadi dengan menulis untuk menjadi abadi tak ku sadari tak bisa menjadikan abadi, kesakitan hati ingin melupakan hanya luka berceceran darah merenggut sepi dari sunyi paling abadi bagiku.

Perempuan yang membawa buka sebelum perang usai. Harapan apa yang akan diharapkan selagi hanya memberikan sebuah penderitaan bukan keharuman. Tunggu saja pada suatu masa akan ada keharuman bisa dirasa secara sempurna. Pernah aku ingin bermimpi pada malam ada yang membawa bunga bangun pagi menyicipi keringat hangat keluar secara liar. Lalu keluar bersama pagi bertepatan dengan selesainya matahari terbit.

Bunga yang dibawa akan lalu, namu setelah usai perang telah diambilnya nikmati saja segala peristiwa ketika semua sudah tiada. Dan kampung pecah menampar luka.

Minggu, 08 September 2019

Kata-kata Membunuh Sepi; Miss You


Kata-kata Membunuh Sepi; Miss You
Ada sebelum dunia tercipta, rasa ada kala hanya bahasa tercipa. Manusia ada karena ada cahaya sebelumnya. Cinta datang sebelum rasa.

Hari semakin cepat semua teman-teman ada yang menjauh ada pula yang mendekat. Hari ini seandainya bisa saya rayakan akan menjadi hari bahagia yang dapat saya sakralkan, namun bagiku itu tidak akan menjadi hal paling penting untuk bisa membuka segala kegelisahan.

Hari yang tenang yang paling untuk dikenang. Tgl 5, September 2019 akan menjadi hari paling bisa saya rekam secara detail, tanpa menulis sepertinya akan menjadi jalan sejarah paling senang tuk dikenang, bagiku itu akan menjadi sesuatu cerita mengenai rasa yang paling saya tidak tahu mengapa ia tercipta dalam diriku, dan itu tidak bisa salahkan. Perasaan hanya bentuk dan dia sebagai objek dari apa yang bisa dirasakan. Namanya tidak dapat disebut namun suaranya lebih lembut dan bisa menembus dimensiku.

Namanya Iqbal dan Deri, teman satu jurusan dalam perkulihan jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Sekarang dia melakukan praktik pengalaman lapangan dikenal dengan PPL. Tentunya banyak carita dari apa yang pernah dirasa di sekolah tepatnya SMP. Dan banyak masalah bagi anak-anak siswa sekolah tersebut, tentunya hal biasa Seumuran itu.

Hari ini Iqbal menelfon dan mengajak bertemu dengan nada kalau ia memaksa bertemu, padahal pada saat itu saya ingin sekali tidak dikasihai seseorang. Bagiku minta dikasihani hanya membentu masalah baru, walau pada dasar yang sadar bisa menjalninya. Hidup terlalu luas dan tanpa ada batas.

Bertemulah kita dengan mereka salah satu tempat, tempat yang sederhana di mana saya bekerja. Dalam harapan kalau kesunyian ini akan menjadi ramai. Kala ada yang didamba darinya yang bersuara kala Iqbal menelfon. Ia itu bertanya dan suara dari orang itu "Miss you Mas". Suara membuatku bertanya dasar apa keluar dari bahasa itu.

Bahasa bentuk eskpresi dari intuisi. Suara akan bentuk representasi dari gerak hati. Pertanyaannya dari mana datangnya bahasa apakah sebuah pengalaman perasaan hingga keluar menjadi bentuk kata. Eksistensi Itu ada dalam bentuk ekspresi yang nanti akan dinikmati oleh para pendengar komunikasi mengenai kontak batin, dan hal itu dalam filsafat sebuah antropologi metafisika, ketika semua menanyakan tentang hasilnya makna.

***

Ketika datang di tempat itu, tidak datang pemilik suara yang lembut menyambut, ternyata pulang. Suara Itu hanya datang kala teman menelfonya. Lalu, dia berkata kalau tidak bisa ke sini. Hanya berkata istirahatlah dulu lalu lanjutkan bicara dengan yang awal menelfon. Sodoran uang itu diberikan saya hanya bertanya.
" Uang, apa Ini? "
"Uang yang kakak butuhkan, ini dari sebuah komunitas pake dulu buat kebutuhannya."
"Saya tidak mau, kebutuhan sudah kelar, dispensasi sudah selesai." dengan rasa tidak mau direpotin dan dikasigani.

Semua perjalanan akan menjadi langkah setiap siapapun. Dan apapun yang menjadi jalannya patut dirayakan dan kalau perlu direnungkan agar semua yang ada bisa dicipta sesuai keadaan manusia. Hidup adalah sebuah persoalan kalau dipikirkan, namun kerumitan tercipta dalam alam pemikiran Haideger bahwa ada dalam diri manusia, manusia bisa lebih manis kala ide manusia tidak terlalu menangasi apa yang terjadi. Kesangsian semua itu tercipta manusia yang membentuk. Apa Tuhan, tentunya tidak sejahat itu membuat sesuatu, Tuhan hanya mencipta agar manusia yang bisa membawa sebuah peristiwa yang bukan hanya diderita, kerumitan ada karena manusia ada.

Hal itu dirasakan oleh manusia yang hanya bisa tertawa tanpa mau menerima. Perjanjian dengan diri sendiri menjadi jalan sunyi kita dalam melakukan sesuatu yang sesuai. Sejarah yang ada hanya ada kala manusia bisa menemukan rekam jejaknya. Pengalamanya akan ada dalam diri manusia yang metafisika dalam filsafahya.

Kegandurangan hari ini hanya mencipta sebuah hal baru menemukan sesuatu. Entah susuai atau usai dari yang ada hanya membawa peristiwa sederhana manusia rasa. Representasi dari bahasa hanya akan membuat manusia paham dengan dirinya, dia Tidak akan berkata sebagai manusia perkerjaannya manusiawi. Mengabdi seperti sisifus dalam menjani hidup samahalnya menusia yang mengabdi tanpa ada rasa, karena manusia dicipta sesuai dengan kesalahan manusia oleh Allah Swt nabi Adam As dihukum karena melanggar memakan larang yang telah ditentukan.

Aku pernah bertanya pada kebahagian yang pertama telah diberikan kepadaku pada saat di Nirwana, mengapa di depan ada foto yang kosong memfoto bumi pada saat galap dan cahaya di tengahnya jelas begitu absrud. Aku berpikir bahwa sebelum saya masuk ke sini ada makhluk hidup bukti foto ini siapa yang melakukannya.


Akhmad Mustaqim 2019

Ditulis di Kedai Elele tempat kerja dan di Perpustakaan Kota Malang