Sabtu, 23 September 2017

Artikel Agama Nusantara, Bukan Arabisasi



gambar: nusantara.com
Agama Nusantara, Bukan Arabisasi

Agama suatu kontrol dan pondasi jiwa raga manusia untuk hidup untuk mengukur dirinya untuk hidup, budaya sebuah kesempurnaa dalam beragama. Menurut Emile Durkhiem salah satu pencetus sosiologi medern, Agama sebagai hasil dari Budaya jika Budaya tidak ada maka Agama pun tiada.   
Indonesia ialah negara yang mewajibkan setiap warga negaranya, harus beragama, karena agama menjadi dasar untuk hidup di Indonesia. Dengan beragama manusia akan memiliki kontrol diri, jika hukum tak mempunyai kekuatan yang segnifikan maka Agama akan menjadikan kontrol. Namun Agama bukan tempat mencapai kekuasaan, yang berkuasa untuk mencapai seasuatu kebanggaan dirinya. Agama harus dipisahkan dengan kepentingan-kepentingan pribadi, terkecuali kepentingan kepada Sang Khalik. Dalam melangkah esensial untuk mencapai kehidupan bernegara di indonesia memiliki Agama, di tanah meraah putih yang dari berbagai kultur ras, suku, dan budaya yang di kenal dengan Bhinika Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu dalam negeri tercinta Indonesia.
Memiliki agama apa yang diyakini, seharusnya memahami esensi darar-dasar agama setiap keyakinan dalam beragama dalam teologi keimanan dalam menjalani, seharusnya visioner dalam bernegara dengan landasan Agama yang melekat dalam jiwa raga, bukan hanya sekedar beragama dengan eksestensi untuk memberantas segala hal yang menggap orang lain yang berbeda Agama melanggar norma dan menghadirkan radikalisme dalam negeri sendiri. Mengapa ada budaya dalam kehidupan beragama, dengan budaya akan memperindah dan menyempurnakan Agama kita dengan Agama apapun yang diyakini, yang Islam akan menyempurnakan keislamannya, yang Hindu menyempurnakan kehiduannya, yang Kristen akan menyempurnakan Kristenya, dan Agama-agama lainya. Karena budayalah yang akan menjadikan kita menjadi bersatu, budaya Nusantara yang kaya raya, akan membuktikan bahwa negeri ini tempatnya keindahan dan kedaimaian. Karena budaya dan Agama Nusantara ini memiliki kekuatan besar dalam kehidupan manusia Indonesia. Dalam filsafat Yunani sepakat bahwa orang yang berfilsafat ialah cinta terhadap kebudayaan atau kebijaksaan.
   Agama bukan hanya bertujuan untuk mengkafirkan orang lain. Namun Agama menajadikan kontrol pola pikir dan senantiasa berpikir setiap kejadian akan bepikir sebab dan akibat. Agamamu, Agamamu. Agamaku, Agamaku, kita hidup di negara berbangsa yang memiliki suku-suku, dan budaya yang kaya raya. Maka hal yang modernisasi senantiasa memberikan satu kesatuan denga suatu perbedaan yang selalu, menyatukan suatu perbedaan dengan suatu tujuan bersama hidup di negara Indonesia, yang bertujuan aman dan sejahtera yang hidup di Indonesia.
  Negera Indonesia memiliki lambang, dua warna merah dan putih, yang dapat saya filosofikan merah adalah aliran kehidupan di dalam tubuh yang mempu membangkat semangat yang kuat dan berani, dengan menyatukan satu kesatuan suatu budaya degan budaya yang lain, Putih memliki kekuatan untuk bangun dari segala hal, yang akan menjadikan semua yang terjadi yang dialami, dengan keyakinan Agama yang diyakini, dengan mengumpulkan semua  ,dapat berdiri tegap sehingga dua-duanya tidak dapat dipisahkan atau dilunturkan dari perpaduan antara merah dan putih. Filosofi yang kedua bisa direnungkan sejenak kombinasi dari marah dan putih bahwa dalam negara indonesia ini tidak ada sekat antara suku yang putih dan suku yang hitam, ataupun yang menggukan peci saat beribadah atau yang tidak menggukan peci, esensial dalam negeri ini tidak harus diberikan sekat-sekat terutama dalam Agama, mengngat dengan istilah HOS Cokroaminoto dalam buku Islam dan Sosialisme manusia boleh mempunyai prinsip, namun dilarang keras fanatik. perbedaan dari kombinasi bendera itu sebuah bentuk perbedaan yang sangat memberkikan warna yang indah secara kokrit. Sehingg tercipta suatu kekuatan yang sangat kuat tanpa ada yang bisa membinasakan, terkecuali bangsa sendiri.
Jika indonesia ini adalah hidup dari beberapa suku dan beberapa Agama. Maka bermakna dalam hidup di negeri yang sangat memiliki perbedaan kaya raya, daripada negera-negara lain, maka perbedaan indonesia ciptakan dan jadikan perbedaan yang menabjubkan dari apa yang ada dalam bangsa Indonesia, jangan hanya mempermasalahkan dengan suatu permasalahan perbedaan yang menjadikan perpecahan dalam mencapai segala keinginan leluhur untuk Indonesia yang sangat kita harus bangga. Menghargai menempati di mana negeri kita mengabdi, kontribusi yang dapat menghasilkan sesuatu yang baru, bukan berseteru dengan sesama sedarah merah putih, bersenada dengan jiwa raga lagu Indonesia bersatu dari perbedaan yang satu dengan yang lain, dalam satu rumah Indonesia.
Manusia diciptakan dengan perbedaan yang memberikan keindahan dalam satu dunia, warna yang memberikan rasa humanis, agama yang tidak hanya fanatik terhadap agama lain, jika memiliki prinsip kita bisa menempatkan di mana kita berada, bukan sekat perbedaan yang menjadikan keruh perpecahan, dengan dasar-dasar Agama yang memiliki norma yang tidak mudah mengkafirkan orang lain. Nabi Muhammad Saw. Tidak pernah membangun negara Islam semasa hidupnya, beliau membangun negara yang berbangsa. jika kita Islam jadilah Islam nusantara, bukan Islam arabisasi, jika menjadi hindu janganlah jadi india, kalau jadi orang kristen janganlah jadi yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat yang beradap dan budaya yang kaya raya (Soekarno)***.



Kamis, 21 September 2017

Catatan Pemuda Lunturnya Roh Ensensi Mahasiswa

Gambar: Ilmuan Rusia Konstantin Korotkov
LUNTURNYA ROH ESENSI MAHASISWA
 Jangan sampai keberadaanmu sama halnya dengan ketiadaanmu
Mahasiswa sebagai orang yang memiliki pendidikan tertinggi, yang berada di Universitas tempat berekpresi, mengeluarkan ide kreatif, menggali potensi, dan menggapai pengetahuan yang belum dikatahui, akan dipahami dan dipelajari di dalam namanya Kampus, kemerdekaan yang sangat terasa kaumlah muda pada saat menggapai pendidikan ketika menjadi mahasiswa, impian semua pemuda di luar sana banyak yang ingin menjadi mahasiswa namun problematika dalam kehidupan beranekaragam. Kita sebagai mahasiswa bersyukur masih bisa melangkah dan jelajahi dunia pendidikan lebih jauh yang dikenal dengan dunia perkulihaan yang leberal kemerdekaan kaum muda. Ketika berkulih akan bertemu juga dengan banyak pilihan dalam membangun karakter dan emosi diri sehingga konsep diri terbuka dan menjadi mahasiswa yang seperti apa, Idelais kah, Akademis kah, Organisatoris kah, Apatis kah hanya ingin kuliah, Hedonis kah, hanya individual yang akan menentukkan pilihan itu.
Idealis wajib dimiliki oleh mahasiswa, walaupun perspektif idealis dalam lingkup mahasiswa jelek, esensi dari idealis bercita-cita tinggi melampaui batas dari pikiran orang lain, idealis itu akan menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang lain sehingga menciptakan hal yang menekjubkan jika idealisme tersebut dikembangkan dalam suatu serikat, yang salah ketika idealis itu hanya berdikari tanpa mengiplemintasikan opsinya kepada kepentingan manusia banyak. Hal tersebut harus dipahami betul oleh mahasiwa yang harum dan akademis, esensi mahasiswa idealis tentu sudah akademis, namun akademis belum tentu idealis karena mahasiswa yang hanya memikirkan cita-citanya sendiri untuk mencapai suatu tujuan tanpa memikirkan yang ada disekelilingnya. Sebagai mahasiswa hanya wangi dan berpakaian bagus dan apatis terhadap esensi mahasiswa, (mahasiswa Hedonis), sehingga lupa standarisasi Tri Darma perguruan tingginya, dan lupa akan kewajiban sebagai mahasiswa di mana mahasiswa yang hanya memperhitungkan pencapaian nilai IPK tinggi. Di mana mahasiswa yang memiliki suatu sebutan agent of change dan social control, perubahan apa yang akan diberikan oleh mahasiswa yang hanya memikirkan dirinya sendiri (akademisi), Roh Tri Darma perguruan tinggi yang seakan-akan luntur dari peradapan mahasiswa, budaya mahasiswa, yang sejatinya mahasiswa paham arti tanggungjawab, bukan hanya memikirkan nilai, idealisme mahasiswa yang hanya menjadi tolok ukur mahasiswa untuk perubahan diri sendiri dan dapat memberikan kontribusi pada orang lain dan kepada masyarakat, yang menjadi tanggungjawab bersama sebagai mahasiswa dan standarisasi Tri Darma perguruan tinggi, yang harus diresapi, renungi, pahami, dan implementasikan, apakah kita menghinati, jika hanya sibuk dengan penelitian untuk memperoleh nilai bagus, dan Hidonis tanpa melihat apa yang ada disekeliling kita banyak hal fenomena yang dapat gugurkan esensi roh mahasiswa yang sejati.
Berdialektika bahwa mahasiswa yang memiliki tingkatan paling tinggi pendidikannya dari siswa, yang mendapatkan afiks Maha menjadi mahasiswa yang memiliki arti paling tinggi. Apa yang menjadikan kebanggan dalam diri mahasiswa yang hanya harum dan bagus bajunya, apakah akan memberikan penampilan yang akan berbeda dengan yang lain, yang bukan mahasiswa, ketika sudah berada di masyarakat akan miris dan menyedihkan untuk direnungkan. Mahasiswa yang hedonis, akan munafik dengan pencapaiannya karena mahasiswa tersebut melupakan apa yang menjadi kewajibanya seharusnya dibanggakan dengan suatu sebutan agent of change dan sebagai social control, dan tidak lupa dengan Tri Darma perguruan tinggi yang terdiri dari 3 butir, yaitu: 1. Pendidikan dan Pengajaran 2. Penelitian dan pengembangan 3. Pengabdian kepada Masyarakat. Jika yang butir satu dan dua sudah menjadi aktivitas sehari-hari dalam civitas akademika, sudah sangat familiar dengan hal dua tersebut, apakah yang butir ke tiga telah dilakukan oleh mahasiswa yang hanya hedonis dan akademis, tentunya masih jauh dari kata pernah melakukan pengabdian kepada masyarakat ketika masih belum melakukan aksi (tindakan), yang bermanfaat pada masyrakat. Apa yang ingin kita aksikan sikap kita pada masyarakat, Harus digaris bawahi dalam menafsirkan arti aksi dalam bahasa inggris tersebut diartikan dalam bahasa indonesia “suatu tindakan”, bagaimana tindakan yang positif dalam menafsirkan itu, kontribusi turun ke jalan sebuah sikap yang kadang menimbulkan keanarkisan dan mengganggu ketentraman lalu lintas, namun hal itu harus kita tinggalakan ketika hal itu tidak menjadikan orang lain tidak nyaman,banyak cara dalam memberikan kontribusi pada masyarakat, dengan menyadarkan masyarakat dengan sosialisasi pentingnya pendidikan, bakti sosial, membangun tempat belajar, perpustakaan, membagikan buku-buku di tempat mereka senang berinteraksi, sosialisasikan tentang beasiswa dari pemerintah fasilitas pemerintah, dan menyadarkan masyrakat hak-haknya yang harus dinikmatinya, kecemasan tentang pendidikan masyrakat awam akan membinasakan anak-anak bangsa untuk tidak bersekolah, maka regenerasi anak bangsa akan pupus, karena menggap pendidikan sangatlah mengerikan soal dana untuk sekolah. bahwa bahwa dalam UUD 1945 yang berbunyi, mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka pendidikan dan pengajaran harus menjadi pokok dan sumber utamma dalam mencapai diri perguruan tinggi.
Kepada siapakah tugas ini disuarakan kepada mahasiswa sebagai agent of change dan social control, setidaknya dapat melakukan hal yang sederhana namun berguna, Salam Mahasiswa.

Catatan Pemuda Melampaui Batas-batas Tuhan

Melampaui Batas-batas Tuhan
  
Manusia kuat karena ia mampu melaupaui batas apa yang dilakuakan dengan mimpinya, tak akan melihat apa akan terjadi yang akan dialaminya, hari ini aku tak tau harus bagaimana lagi, jika aku tak memiliki suatu mimpi besar dari apa yang ada diluar kemampuan keadaan saya, dan hari ini dan masa yang panjang akan datang berharap lebih luas dan lebih berkeringat semnagat dalam melangkah jauh sekarang ini, sekeras apapun saya tak peduli nanti atau esok, hari ini adalah hari sekarang untuk yang terbaik bukan yang terburuk, dan suatu saat nanti saya dapat menjadi diantara bintang yang bersinanr dalam kegelapan yang sangat pekat dimanapun saya berada, yang akan hanya menjadikan saya hidup dalam di dunia selamanya, keyakinan dan sebuah kematian nanti akan membawaku pada waktu dan tempat yang berharga yang berbahagia bersama Muhammad SAW. Jika mungkin saya adalah yang terburuk dalam alam yang luas, namun mentari masih bersinar dan rasa cinta masih nyata dalam diri saya. Jika nanti akan menjadikan kematian saya ini membuat saya berani tuk mati, dengan cara-caraku yang akan mengembangkan segala manusia tersenyum dengan caraku yang akan memberikan manusia satu untuk terbentuk menjadi manusia yang akan lebih luas manusia yang ada di Nusantara dan Dunia, sehingga mata yang selalu tertutp nanti dan seluruh pancarindra ini tak berfungsi kembali. Dan menjadi manusia yang darinya tiada menjadikan manusia tiada.                                                                                                                    



4-06-17 Malang

Senin, 18 September 2017

Catatan Pemuda Barisan Pemuda Penebus apakah Penerus?

Barisan Pemuda Penebus apakah Penerus?

Barisan telah dirapatkan kaumlah muda masih tanda tanya, akan kemana dan akan seperti apa nantinya inilah proses perjuangan kaumlah muda bercita-cita, banyak mahasiswa baru dihadapan kita, banyak wajah-wajah baru, wajah baru bagaikan daun muda yang hijau, masa ini, di mana masa ini adalah masa di kembalikan seperti halnya anak kecil belajar berjalan lagi, wajah merona dari anak muda kaumlah muda mudi bagaikan Bisma dan Srikandi penerus bangsa dan terlihat wajah-wajah pemuda yang berbaris rapi di depan gedung-gedung tinggi menghiasi kampus yang mereka banggakan, raut wajah masih saja terlihat asing ketika masih belum mencicipi dunia kehidupan perkulihan yang sejatinya. Ada yang menggap bahwa Kampus yang meraka pilih adalah tempat menyogok Tuhan untuk memenuhi kehidupannya yang dikiblatkan, ada yang mengganggap jika Kampus adalah tempat Ia mendapatkan apa yang mejadi impian dan cita-citakannya menjadi orang-orang besar yang bergelar, ada yang menggap bahwa ini surganya kaumlah muda dalam merayakan kehidupan (tempat hidones).
Semua terlihat indah dari wajah-wajah pemuda yang memaksa dirinya untuk menjadi manusia yang lebih bermakna dalam memberikan apa dan bagaimana untuk dirinya sendiri dan pada nusa dan bangsa sehingga merasa dirinya akan menjadi bagian bukan berbicara posisi, namun berkomitmen akan menjadikan dirinya sebagai fungsi sebagai manusia yang senantiasa selalu berusaha menjadi manusia yang memperindah tempat yang dijadikan teduhan singgahan. Sehingga selalu merasa setiap bersinggah atau berteduh selalu merasa itulah tempat terindah dan menciptakan tempat itu lebih indah, sebagaimana naluri manusia diciptakan oleh Tuhan menjadi kholifah di bumi, menjaga dan merawat semua isinya sehingga dapat menciptakan dunia baru dalam menganggap dunia sebagai amanahnya sebagaimana harus bisa mengmbangkan dan menciptakan sebuah keindahan yang didasari dengan kecintaan.
Penebus Apakah Hanya Menjadi Penerus?
Penerus dan penebus bangsa akan berlomba-lomba dari sekian banyak teman yang memiliki cita-cita dan keinginan sedikit banyak hampir mirip, walaupun pada hakikatnya tidak akan lepas dari tujuan material kelangsungan hidupnya dari cita-citanya sama, serta ingin menciptakan dan merayakan kehidupan ini dengan rasa kesenangan, akan tetapi semua ini memiliki cara dan bagaimana melangkah dan menjalani sebuah proses yang menjadikan dirinya sebagai pemeran dalam dunia yang berada di temapat yang penuh sandiwara (dunia panggung sandiwara), menjalani bagaimana melakoni hidup ditempat manusia beritelektual yang sering disebutkan mahasiswa, sehingga akan merangkai, merumuskan kehidupan untuk kehidupan lebih baik, dan menjadikan langkahnya sebagai kaum muda yang memiliki integritas diri yang sangat tinggi dan menjunjung diri jika tiada yang lebih baik namun hal itu lebih identik memilih hidup yang lebih baik dengan cara melepasakan dirinya sebagai manusia yang pandai merumuskan kehidupan mempelajari apa yang  belum pernah dirasakan dan mempelajari bagaimana cara untuk bisa memakasakan dirinya keluar dari sendi-sendi kehidupan dirinya untuk mencari siapa dirinya apakah akan menjadikan dirinya sebagai penerus sendirinya, pada arah yang sejalan dengan sebelumnya, dan apakah akan memperjuangkan dirinya untuk sebagai penebus dirinya dan penebus dosa-dosa para pemimpin yang tak memahami arahnya revolusi diri dan revolusi negeri bangsa ini, maka seorang yang akan menemukan semua itu sebagai penerus dan sekaligus penebus, seharusnya daun muda bangsa pemuda Indonesia yang menyandang nama mahasiswa memiliki jiwa sebagaimana jiwa itu adalah sebagai penerus dan penebus, penerus untuk dirinya sebagai mempertahankan kebudayaan kearifan lokal dan kearifan modernisasi yang selaras dengan negeri bangsa Indonesia untuk dirinya, dan penebus untuk negeri serta menanamkan  naluri intelektual, spiritualitas sebagai tonggak pengukuh untuk dirinya dan negeri ini akan ke mana akan melangkah.
Wajah-wajah itu adalah memancarkan harapan tidak kepastian dan menemukan beberapa keadalian dari wajah baru mereka semuanya terasa sangat memberikan paras isyarat keberanian yang sangat bersih, akan tetapi esensial mahasiswa dengan wajah seperti itu akan memberikan jawaban pada tindakan (aksi) mereka nantinya bagaimana mereka berperan sebagai posisi apakah sebagai fungsi yang mereka bawa, dalam melakukan eksistensi, berekpresi memerakan lakonnya di dalam Kampus yang diharapkan akan menjadikan manusia yang lebih baik dan manusia yang lebih berarti, namun semua wajah-wajah itu terkombansi dalam pancaran naluri dari para mereka yang memaksa yang selalu ingin hidup dalam memerdekakan dirinya, dan memerdekakan orang lain, peran itulah sebagai bukti. Semua terpancar dalam wajah-wajah indah mereka dalam memaksakan dirinya keluar dari nalurinya sehingga menderitakan dirinya pada kepentingan bersama, sehingga itulah puncak dari keberhasilan dalam menempuh bahwa dirinya adalah kaumlah muda penerus dan penggerak dalam sendi-sendi dunia dengan memanusiakan manusia (Humanisme), terutama dalam memberikan peran terhadap masyarakat sebagai generasi bangsa yang akan dilatih sebagaimana menjadi seorang yang peka atas keadaan dan menjadi penyeimbang Negara Indonesia sebagai generasi emas bertindak dalam kebijakan dan penerus, penebus yang telah tidak sesuai dengan kehendak alam.
Esensial Mahasiswa

Sehingga seorang mahasiswa itu tidak lupa akan dirinya sebagai agent of change dan social control, sebutan keduanya itu jadikan renungan paling dalam sebagai awal masuk menjadi mahasiswa berkontemplasi dengan kedua sebutan itu terhadap mahasiswa, serta menanyakan pada dirinya apa, bagaimana, dimana, untuk menuanaikan kedua hal tersebut dan peran mahasiswa itu, memerankan dirinya pada siapa perubahan akan diciptakan, jika tidak merenungkan sejenak tidak akan memahami, perubuhan yang signifikan membentuk atau mengubah dirinya sendiri, dengan ilmu yang dipelajari akan pasti dan berarti dalam membebani dirinya sebagai perubahan indiviuaslis dan secara universal dan kontrol sosial terhadapa lingkungan hidup dan pada masyarakat terdekat serta meluaskan dirinya dalam memperhatikan pendidikan dalam berperan dalam hal positif yang aktif, peran itu akan didambakan oleh para masyrakat dan para pemimpin-pemimpin negeri yang telah mendahului kita, mereka sebagai pahlawan perjuangan. Sebagai mahasiswa juga harus tidak lupa akan dirinya pada Tri Darma Perguruan Tinggi yang menjadikan dirinya tinggi dan dijujung olehnya, bukan dijunjung oleh Perguruan Tinggi yang dijalani hari ini hingga nanti lulus mendapatkan sebuah nama tambahan yang dikemas dalam bahasa menyandang gelar yang menunjukan bahwa telah menjadi kaumlah intelektual tinggi disetigmakan memperoleh Ilmu seintisme, dan menemukan sebuah pemikiran-pemikiran baru tentang kosmologi, hanya yang terakhir apakah segala yang diperoleh memberikan kontribusi pada Tri Darma yang butir ketiga pengabdian pada masyrakat, memanfaatkan pengetahuannya mengkorelasikan pada kepentingan bersama dalam masyrakat terkecil hingga pada masyrakat terbesar, menciptakan sebuah gagasan dan tindakan dalam sendi-sendi berpikir yang elektis kreativ serta visioner, melunturkan pola pikir primitiv dalam paradigma kehidupan sosial masyarakat. Semua bentuk keberhasilan sebagai kaulah muda berilmu sebagai penerus dan sekaligus penebus Bangsa yang hiruk maruk dalam perjalanan  revolusi, semoga kita berada dibagian apa yang dicita-citakan dan diharapkan Tuhan.  

Jumat, 16 Juni 2017

Puisi Untuk Sahabat Nadiku

Untuk Sahabat Nadiku 

Untuk Shabat hati yang ada di sini, yang paling dekat dengan nadiku, dalam hal apapun saat ku tersenyum dan menangispun kau tetap ada disini beridiri.

Keberadaanmu bukan hanya ada pada meteri namun dalam pemikiran pun selalu ada.

Saat aku berjalan ke Sawah kau melangkahkan kakinya membuntuti langkahku, menghapuskan jejak-jejak langkah kaki yang kotor kacau balau.

Sawahku mulai keruh, kau menyalurkan air ladangnya. 

Ku tertawa kau tersenyum, ku duka lara, kau tertawa dengan laraku.

Kau ku anggap malaikat namun kau tak bersayap, dan aku takut mortad menggap kau malaikat.

Aku terjatuh, kau angkat aku, ku mulai tertidur kau bangunkan ku, dan berkata kalau ini magrib janganlah tidur, saat kau terbentur kau harus atur tidurmu.

Kau datang bukan hanya dalam tidurku namun kau datang dalam dunia nyataku, hadir datang tuk menghibur, mebaur, membaca ku yang tak ada dalam buku, namun memahami setiap segelintir debu-debu jalanku.

Kalau dunia ini kosong, kau dengan sendirinya muncul tanpa siapa yang memerintah, kematianmu ku tak mengerti. 

Namun saatku berhenti berlari dan pikiranku sudah tak berfungsi, kau hilang bersama detak nadiku.


Rabu, 14 Juni 2017

Artikel Mahasiswa Sebagai Gajah Mada Bangsa




gamabar; gjm
Mahasiswa Sebagai Gajah Mada Bangsa
  
Mahasiswa perspektif secara umum ialah orang yang berada di Pendidikan paling tinggi setelah siswa, dan mengambil sebuah keputusan untuk membentuk konsep diri sebagai manusia yang lebih mandiri mempelajari ilmu sosial, dan sains secara luas, sehingga didalam diri mahasiswa terbangun pola pikir visioner, dengan sifat idealisme berbeda yang memiliki makna dan cara dalam menjalani dan bertindak melakukan hal positif mahasiswa akan beranekaragam.
Mahasiswa yang berada di perguruan tinggi akan mempunyai pilihan, dalam mengampuh yang menjadi pilhan. Memutuskan mengambil Prodi (jurusan), yang menurutnya Fakultas itu ialah pilihan naluri nuraninya, sehingga akan menjalani dengan girang menikmati pilihannya, sehingga untuk berusaha selalu berkeinginan besar memahami esensi mahasiswa, sehingga merasa mampu dengan apa yang dipilih. Sehingga untuk berproses dan mendalami apa yang mejadi pilihan. Mahasiswa sampai dimana puncak proses akan memperjuangkan dalam kehidupan Kampus, belajar yang namanya mencintai proses. Akan menemukan dan mendapatkan wadah untuk berproses lebih serius untuk mencapai suatu tujuan. Mahasiswa akan mengenal yang akan namanya esensi sebagai mahasiswa, yang ada dalam Tri Darma Perguruan Tinggi. Dalam istilah lain mahasiswa adalah aset suatu perubahan. Mahasiswa dituntut selalu bisa mengingat mengenal dan memahami Tri Darma, sehingga dapat mengaplikasikan sesuai apa yang menjadi tanggungjawab insan mahasiswa. Langkah dan cara untuk mencapai konsep diri, komitmen diri dengan assas yang telah ada dalam setiap perguruan tinggi.
Mahasiswa untuk menyempurnakan konsep diri, menjadikan dirinya seorang idealis, dalam memperjuangkan sesuatu, namun tidak hanya beronani dengan sikap idealismenya. Dengan apa yang dicita-citakan, idealaisme yang individualis sehingga apatisme akan menjauhkan dari mengenal dan mengekprsikan sebagaimana esensi mahasiswa, dan tidak tau apa yang terjadi disekitar. Seharusnya itu bagian dari tugas mahasiswa untuk memahami dan memprrhatikan sosial dan rakyat proletar. Kita harus kritis namun tidak hanya kritik yang dilontarkan, perlu menyertakan dengan solusi yang serasi kreatif, inovatif, komprehensip, sehingga peran mahasiswa memberikan kontribusi tindakan konkrit. Sebagai mahasiswa yang telah menyandang kehormatan sebagai agent of change (suatu generasi perubahan). Suatu impian rakyat dan harapan bangsa sebagai generasi. Pertanyaanya apakah yang akan diubah, oleh mahasiswa?”, seorang Gajah Mada bangsa, telah diberikan kesempatan oleh Tuhan menjadi insan mahasiswa, menggapai ilmu lebih luas, guna dapat memberikan kontribusi terhadap bumi dan isinya. Sehingga mahasiswa memiliki intelektual yang dapat merawat dan memelihara bumi dan seisinya dengan baik, sehingga pengetahuan itu dapat memberikan manfaat pada lingkungan hidup sekitar. Akan tercipta manusia yang berjiwa sosial kembali pada esensi manusia humanisme siciety.

Mengkaji Memahami Tri Darma Perguruan Tinggi
Intelektual yang telah dimengerti mahasiswa, apakah hanya berfungsi untuk dirinya sendiri. Kesalahan fatal mahasiswa idealisme yang individualis, saya rasakan pada awal semester tiga, saya menggap mereka hanya beronani dengan Ilmunya tanpa guna pada insan yang lain, hanya dapat berfungi untuk dirinya. tanpa memberikan hikmah pada orang lain. Mainset mempreoritaskan untuk mendapatkan suatu nilai IPK, impian untuk membanggakan orang tua dengan suatu nilai, yang mudah untuk digapai. kebanggaan yang sederhana dalam diri mahasiswa, jika hanya nilai. Dengan berjalannya waktu mahasiswa di Kampus, saya merasa kuliah ini hanya disibukan dengan pelajaran yang ada di dalam buku-buku, yang sangat mudah untuk dipelajari dan dipahami, jika mahasiswa serius untuk belajar. Dan saya juga sering melakukan penelitan untuk melengkapkan tugas yang diberikan dosen, hal ini sederhana dapat saya kerjakan dalam tiga hari dan bisa juga lebih, dan walaupun dalam penelitian keliru, saya juga diberikan teleransi untuk merevisi oleh dosen, sebuah tugas sederhana mahasiswa dan saya rasa semua mahasiswa tidak asing hal ini. Hal yang dialami selama Semester I dan II, namun ada kejanggalan dalam benak  saya, tanda tanya sederhana, pada saat awal semester III, saya merenung pada saat mendengar sumpah mahasiswa pada awal penerimaan Mahasiswa Baru (MABA), yang dipimpin oleh Ketua Presma (Presiden Mahasiswa). Dan pada saat rektor menyampaikan Tri Darma perguruan tinggi pada penerimaan mahasiswa baru, ada butir Tri Darma yang belum saya lakukan  semenjak menjadi mahasiswa, Tri Darma yang ada pada butir tiga, tentang pengabdian pada masyarakat. Apa saya dan mahasiswa yang lain sudah melakukan ini, tentunya “Tidak”. Hal ini membukakan hati saya dan merasa bahwa telah melanggar janji sebagai mahasiswa, jika orang yang melanggar janji sama halnya munafik. Karena dengan janji-janji pada awal masuk Kampus dan sudah menjadi mahasiswa, ”Sumpah Mahasiswa”, telah di denyangkan dengan keras-keras dengan hati.
Ada mahasiswa akademis menjawab pertanyaan saya saat diskusi, tentang Tri Darma perguruan tinggi, pengabdian yang berada di butir-butir Tri Darma, suatu saat nanti pada akhir kuliah, kita lakukan, sering dikenal, PKL (Praktek Kerja Lapangan) dan KKN (Kuliah Kerja Nyata). Hal itu tentunya “bukan”, karena itu suatu program perguruan tinggi, suatu hukum keharusan mahasiswa untuk lulus, apakah itu suatu ketulusan mahasiswa mengabdikan pada masyarakat. Saya tegaskan “tidak”, nurani mahasiswa akan terbentuk jika mahasiswa itu selalu menyuarakan hati rakyat dengan niat positif demi kemaslahatan bangsa, selaras dengan Pancasila pada sila kelima. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Mahasiswa selalu ikut serta dalam kepentingan masyarakat dan bangsa.
 Mahasiswa masih beruntung jika sering melakukan BAKSOS (Bakti Sosial), kegiatan sosial dan rakyat proletariat. Kerugian terbesar mahasiswa jika melakukan pengabdian masyrakat, masih menunggu masa akhir kuliahnya, akan melakuka hal apa selama kuliah dalam masa yang amat panjang ini. Akan banyak waktu yang akan terbuang sia-sia dalam jiwa mahasiswa, banyak cara dalam beraksi melakukan pengabdian pada masyrakat. Manfaatkan waktu singkat ini untuk memenuhi kewajiban kita sebagai mahasiswa, yang ada dalam Tri Darma dan Sumpah Mahasiswa.  
Mahasiswa sebagai Gajah Mada bangsa, dalam negeri Indonesia yang berasas Pancasila. Mahasiswa berperan di tengah diantara negara dan masyarakat. Jika Gajah Mada dalam Kerajaan Majapahit sebagai seorang Patih. Mahasiswa di Indonesia sebagai Patih yang harus bisa memahami dalam keadaan negeri ini, akan dibawa kemana negeri ini?, maka tumpuhan sebagai “Patih”, harus bisa memberikan harapan yang visioner untuk negeri, sebagai insan yang berintelektual luas, yang memiliki idealisme yang akan menciptakan inovasi, inspiarasi cemerlang. Objek dapat memberikan kontribusi terhadapat rakyat. Kepada siapa lagi Indonesia bertumpu, jika bukan pada patih yaitu mahasiswa sebagai patih bangsa ini.
  Mahasiswa sebagai patih di negeri ini, akan senantiasa mengabdikan diri untuk masyrakat, tidak hanya apatisme dengan keadaan sosial, terutama pada masyarakat proletar, dan berperan sebagai patih yang pernah berjanji pada sumpah mahasiswa, dalam Tri Darma perguruan tinggi diamanahkan pada kita. Sebagai mahasiswa istilah yang sering disebutkan dan dibanggakan mahasiswa, sebagai social control, (pengendali sosial). Terutama pada rakyat proletar, apa eksistensi mahasiswa untuk masyarakat akan selalu menjaga kesetabilan hak-hak rakyat, selalu mengimplemintasikan tindakan yang konkrit, aksi dengan turun jalan dalam menyuarakan hati rakyat, dan menyuarakan dengan tulisan apa yang dirasakan rakyat, dan selalu mengajak masyrakat untuk sadar atas pentingnya pendidikan, dengan bersosialisasi tentang pendidikan, bahwa Perguruan Tinggi, bukan hanya meluaskan lapangan pekerjaan, namun Pendidikan akan membuka paradigma primitif dan kekerdil kita. Dalam Pendidikan akan diajarkan bagaimana rakyat dapat menikmati hak-haknya, yang seharunya untuk dimiliki dan dinikmati, Pendidikan itu bersifat visioner, mempelajari sesuatu hal yang belum pernah kita jalani, merencnakan masa yang akan datang.

Tindakan Kokrit Mahasasiswa Sebagai Gajah Mada Bangsa
 Membangun sesuatu yang nyata untuk masyrakat, dengan mengumpulkan buku-buku yang masih layak untuk dibaca, membangun perpustakan sederhana untuk memfasilitasi anak-anak desa, jika ada mahasiswa “satu” sebagai Mahasiswa berjiwa Patih Gajah Mada, maka didalamnya itu kita. Tindakan harus diapresiasi oleh saya sebagai mahasiswa yang akademis. Saya mencatat pada tgl 17, Februari, 2017 aksi  mahasiswa yang melakukan hal konkrit pada masyarakat, yang  dilakaukan di desa saya sendiri. Ternyata teman kelas PBSI-FKIP Universitas Islam Malang (UNISMA). Tindakan ini dilakukan bukan secara individu namun secara bersama dalam kelompok yang diberi nama Pemuda Visioner. Saya selalu berpikir bahwa yang idealis, kritis, sosialis, tulis, itu memberikan suatu perbedaan yang berharga dan bermaakna, senada dengan staitmen salah satu mahasiswa yang ada di kolompok tersebut. Idealisme harus, Kritis, Tulis, dengan menulis dapat menyuarakan hati rakyat, Sosialis dekat dengan mahasiswa yang satu dengan yang lain dan masyrakat. Serta mengemban dalam kepentingan orang lain, tidak hanya beronani dengan cita-citanya. Tidak apatis terhadap masyarakat, sehingga tidak buta dengan esensial mahasisiswa.
Mahasiswa sebagai patih gajah mada, akan selalu ada dibagian bangsa dan masyrakat, terutama di tanah Indonesia, karena mahasiswa adalah rakyat, jika memahimi dirinya rakyat, akan merasa bahwa suatu saat akan kembali dan hidup bermasyrakat, maka esensi sebagai mahasiswa jangan sampai luntur, dan melupakan sejarah dan latar belakang, untuk mencapai masa depan, dengan memperhitungkan manusia yang satu dengan manusia yang lain, dan tercipta mahasiswa humanisme.

Akhmad 
Penulis Buku Antologi Puisi Gerilya deraian sajak-sajak. 
Aktivitas di Lpm Fenomena Universitas Islam Malang
Semester III Tulisan ini ikutkan lomba di UGM Jogjakarta