Sabtu, 23 September 2017

Cerpen Kearifan Lokal Melawan Lupa Yang Nyata

Okezone news.
Kearifan Lokal Melawan Lupa Yang Nyata
Kerinduan masa-masa yang mengingatkan pada lamunan saya saat sendiri sunyi dalam gelapnya malam, masa yang terlewati sangat saya rindukan terasa hilang semua dibenak akal pikiran dibawah kesadaran teringat saat sunyi menghampiri merenungi masa yang terlewati hanya dengan seperti itu saya dapat menikmati apa yang terlupakan sangat berkesan dalam hidup yang tak pernah terhapus dengan lengkangnya waktu panjang.
Jalan hidup yang pernah saya lalui jejak langkah tidak akan terhapus tak mungkin yang telah terjadi membohongi, untuk menjadikan renungan yang nyata pada saat saya merindukan, masa sekarang membuktikan kalau sesuatu yang terlewati paling berharga karena sesuatu yang indah akan terasa jika sudah tiada. Sekarang saya putuskan untuk mengukir sejarah baru karena setiap perjalanan tidak akan melewati sejarah yang telah terjadi, saya ingat dan ingin belajar dari kearifan lokal untuk masa yang akan datang yang lebih panjang dengan menciptakan sesuatu yang lebih indah untuk saya sendiri dan bagi nusa dan bangsa. Teringat dengan apa yang pernah dipesankan oleh Cak Nun, waktu serasehan di Polinema Negeri Malang, hidup ini sangat luas dan demensi-dimensi persoalanya tak terhingga, untk itu diperlukan bukan sekedar wawasan yang luas dan pengetahuan yang terus dicari melainkan juga kearifan dan sikap leluhur yang konsisten dari hari kehari.
Bahwa jangan sekali-kali kepada anak muda terutama sebagai penerus bangsa untuk melupakan ke arifan lokal kita karena sudah menjadi bukti dan mendarah daging kepada diri kita, bahwa yang sudah terjadi itu cerminan sudah membuktikan yang nyata tidak pernah berbohong. Saya mengingat apa yang menjadi pesan karena setiap kata yang menjadi nasehat saya selalu mencoba renungi dari hari-kehari bahwa apa yang sampaikan oleh Cak Nun itu hal yang baik untuk saya sendiri dan kebaikan bangsa ini. Setelah itu saya putuskan bertanya kepada orang yang lebih tua yaitu orang tua saya sendiri.
“ Pak, kearifan lokal yang seperti apa yang harus dipertahankan. ?
“ Kearifan lokal itu pemahaman yang telah terjadi dimasa lampau terjadi, dan sampai sekarang itu harus masih harus dipertahankan. !
“ Seperti apa pak kearifan itu, “ Apa salah satunya kebudayaan adat masuk. ?
“ Iya itu masuk. “ Namun itu masih dalam ranah umum belum bisa kita tangisi, Bapak tangisi itu budaya perimbon.
“ Perimbon pak. ?”
Kebudayaan adat istiadat itu masih umum, membudaya tentang peringatan tahun baru ini, setiap tahun kita dapat menontonnya apalagi di Malang ini satu tahun sudah dua kali sehingga membuat jalan macet. Kearifan bukan hanya seperti itu saja, cinta terhadap budaya, primbon jawa tidak akan merubah pendirian Agama kita, dalam agama tidak ada penjelasan tentang primbon jawa, namun nenek moyang melakukan hal itu untuk pedoman lalu mengamalkan, namun itu semua pedoman nenek moyang kita yang nyata dari itu kearifan lokal yang terbukti jangan pernah ditenggelam oleh sisanya waktu ini.

***
Saya merasakan apa yang telah terjadi dengan apa yang diucapkan oleh Cak Nun dan Orang tua saya sendiri, keadaan akan terlupakan akan tenggelam oleh perkembangan zaman akan merasakan tanpa arah untuk melangkah untuk lebih maju ketika kearifan lokal terlupakan dan tidak di amalkan. Sesuatu akan terbukti jika itu sudah mengalami sendiri, bicara orang akan menjadi bicara yang tak nyata, jika itu hanya indah di dengar saja. setelah apa yang saya dapatkan itu ialah pengetahuan yang dapat saya dengar dari orang-orang hebat menurutku, hari-hari demi hari renungan sering saya lakukan, karena dengan merenung saya mendapatkan jawaban yang menjadi pertanyaan dalam hati, walaupun itu tidak puas dengan hasil yang pasti ketika pikiran sejenak dengan menggukan naluri. Sarasehan Cak Nun sudah beberapa bulan ini berlalu kini saatnya lagi bertemu dengan beliau hati senang, walaupun beliaunya tidak senang dengan keberadaanku, senang bisa mengikuti dan mendengarkan setiap kata yang terangkai indah beliau utarakan keapada kita yang ada terutama kepada saya sendiri meninspirasi, keinginan banyak berbicara kepadanya namun rasa malu mengalahkan semua keinginanku, karena saya memang orang kurang percayaan diri untuk bersuara. Lagi-lagi yang belum tuntas menjadi pembahasaan kearifan lokal yang belum tertuntaskan beberapa bulan lalu, saya berbaharap apa yang ada dipikiran ini beliau tanpa menyuruh audien bertanya akan menjelaskan apa yang menjanggal dipikiran saya apa kearifan lokal yang bapak sampaikan persis dengan apa yang dijelaskan nanti oleh Cak Nun, beberapa menit saya sudah menunggu beliau datang keruangan kantin yang sederhana menjadi tempat beliau bersinggah di Polinema Negeri Malang, walaupun beliau sering di malang saya tidak pernah punya kesempatan mengundang beliau ke kampus saya Universitas Islam Malang. Semoga seuatu saat keinginan ini tercapai amien. Pembicaraan sudah dimulai panjang lebar oleh beliau belum ada titik jawaban yang menjadi harapan saya, ternyata selang beberapa menit kemudian ketika sudah satu jam lebih tiga menit beliau mengingat tentang pembahasan yang bulan lalu sehingga kearifan lokal yang harus dipertahankan bukan hanya budaya yang bertajub hiburan pulau jawa banyak mempunyai ke arifan lokal lainnya yang lebih penting yaitu yang membetuk karakter anak muda semua bangsa ini tidak mengalami kebingungan, dalam melangkah ke dapan kearifan itu perimbon jawa jangan sampai dilupakan, melainkan harus mengamalakan. Serentak beliau menanyakan apakah kalian tahu perimbon jawa itu. ?
” Tidak cak” serentak secara bersama menjawabnya
“ Waduh yang jawa tidak kenal dengan kearifan lokalnya” payah kalian Nak, menangis Nenek moyangmu sekarang ketika kalian menjawab “TIDAK”. Payah-payah ini.
Senyum dan malu saat dikatakan namun saya tidak begitu malu karena saya bukan orang jawa hehe dalam hati berkata. Setelah ada pertanyaan siapa yang mengetahui hitung naptunya hari dan naptu pasaran lima, saya syukur masih dapat menjawab apa yang beliau katakan walaupun semuanya itu seperti katak kesiram air, tidak ada yang paham apa yang di katakan Cak Nun, mungkin baginya asing apa yang beliau tanyakan.
***
Setelah saya menjawab bahwa hari dan pasaran itu bisa juga di sebut Perhitungan Weton, kalau Senin Kliwon, Selasa Manis, Rabu Pahing, Kamis Pon, Jum’at Wage dan seterunya kembali ke perhitungan awal setiap weton itu kita hitung lagi naptunya hari Senin naptunya 4, selasa 3, rabu 7, kamis 8, jum’at 6, sabtu 9, minggu 5, dan sedangkan pasaran Jawa, Manis 5, pahing 9,  pon 7, wage 4, kliwon 8, setelah saya menyebutnya dengan ragu-ragu tapi kata beliau benar setelah itu beliau menyuruh saya mengamalkan, kamu Mahasiswa yang penuh perhitungan kalau di amalkan kamu tidak akan kebingungan dalam menjalankan hidup, saya masih bingung jawaban beliau dan teruslah saya penasaran karena yang penasaran membuatku lebih paham jika saya menemukan penasaran tersebut.
Setelah beberapa waktu saya ada tugas dari kampus kebelulan perbitan majalah sudah mendekati waktu singkat, terutama saya dibutuhkan oleh UKM kampus untuk mengambil data dari desa ke desa yang ada di pelosok desa untuk mengambil foto dan cerita jawa yang sudah tenggelam dalam persimpangan arus. Beberapa budaya yang terlupakan dari itu karena saya lebih memilih sejarah dan juga bagian dari penikmat sejati sejarah, teman-teman percaya pada saya kalau saya bisa mengisi majalah yang akan di terbitkan bulan depan yang bertema Di Persimpangan Arus. Agar  dapat memberikan inspirasi yang kuat kepada semua pembaca sehingga budaya kearifan lokal bukan hanya bahasa dan tradisi saja yang masih kita kenang, masih banyak pula budaya lokal seperti perimbon yang masih dibutuhkan di zaman modern ini, sehingga tidak seakan-akan Tuhan mati di zaman modern, sehingga kearifan lokal yang pada dasarnya semua dari tuhan, sehingga manusia mampu mengplikasikan dalam kehidupannya, sehingga memberikan maanfaat pada pembaca majalah yang nantinya terbit.
Pagi ini saya bergegas berangkat ke desa Alasrajah, Bangkalan yang terletak di pelosok dan desa ini penuh menyimpan mistik yang kuat, dalam hal yang Negativ membahayakan mulai dari hipnotis dsb, namun selalu ingat dengan pesan Cak Nun selain berdoa menita kepada Tuhan, perhitungan yang kamu pahami kamu itu gunakan manfaatkan (Perimbon Nak) hitung pembrangkatan pertamamu dengan cara menghitung dan berankatlah sebelum hari pas kelahiran, keluarlah dari rumah kalian semua sebelum mentari terbit, sehingga hindari dua hari dari kelahirannya kalian, ketika berhadapan dengan orang diantaranya harus ada menghadapi bicara empat mata, jika kamu lahir hari sabtu pahing, kamu tempati harus dari arah utara menghadap ke arah barat, maka apapun urusan kamu diluar dengan apapun akan berjalan dengan lancar, tak gentar dengan apa yang terjadi nanti yang penting saya dapatkan data untuk Majalah.
Yakin saja setiap jalan yang penuh perhitungan tidak akan tuhan membiarkan. setelah perjalanan sudah panjang jauh dari kota waktu adzan Dzuhur berkumandang, saya belum menemukan Masjid atau tempat shalat lainya. Saya dengan kamera tas yang di ransel yang saya kalung kamera untuk pengambilan gambar, setiap berbicara dengan orang lain saya berbalik posisi ke arah barat untuk berhadapan dengan orang tersebut, karena memang orang desa sini menyimpan banyak mistik, teringat dengan orang yang berpesan desa sebelah hati-hati setiap berhadapan dengan orang mengajak bicara ketika menatap mata lawan bicaranya akan hilang ingatkan (hipnotis) otomatis barang berharga yang dibawa harus saya jaga dengan teman-teman, namun saya percaya kepada Allah SWT, dan perimbon yang tuhan berikan kepada manusia agar mempelajari dan diamalkan hingga perjalanan ini penuh perhitungan, saya anggap rintangan pertama sudah saya anggap lewati. Perjalanan sudah larut malam dan berada di hutan desa Alasrajah yang terletak di pulau Madura Bangkalan mendengar nama desa saja sudah mengerikan, waktu sudah mengalir desir angin menusuk kulit yang berlapis kain tak setebal kulit kijang menghangatkan, saatnya beristirahat untuk menunggu senja di ufuk timur teman-teman sudah merasakan lelahnya perjalanan perbedaan cuaca dingin ke cuaca yang lebih panas dari Malang-Madura, adapun teman diatara kami mengalami meriang yang mengakibatkan kurang sehat setelah sampai di tengah alas hutan Alasrajah saya dan yang lain mencoba memberikan obat agar cepat sembuh.
Mengambil data untuk memberikan fakta dalam memberikan berita pada pembaca sebuah tanggung jawab seorang jurnalis tanggung jawab dalam berita yang nyata dalam kehidupan dan lingkungan yang dekat dengan kita, teringat dengan kepercayaan saya Agama Islam dalam konteks seorang jurnalis menginformasikan suatu kebenaran dan membela serta menegakkan kebenaran itu. (Al-Qur’an dan As-sunnah). Mengingat kata yang ada di dalam pedoman kita saya memberanikan terjun di bidang menjadi seorang jurnalis (pemberi berita kebenaran, dan hak setiap manusia mempunyai hak mengetahui kepentingan publik) karena kebenaran yang nyata harus dipertahankan untuk umat yang harus mengetahui. Senja sudah menghiasi gelapnya malam jarum jam menunjukkan pukul 3:56 WIB, sudah memasuki Shubuh teman-teman yang lain pada pergi ke kali dekat hutan dan teman mahasiswa yang sudah pernah mengetahui tempat ini sebelumnya mengarahkan mereka, saya sebagai penanggung jawab mendapatkan tugas harus menjaga mereka semaleman rela mata tidak memejamkan mata, ayam sudah berkokok bersamaan dengan terbitnya matahari yang indah dari arah timur, jarang-jarang dapat menyambut pagi yang indah, baru kali ini tidak telat menyambut keindahan di pagi hari. Setalah pukul 7:15 WIB, warga sekitar sini banyak sudah beraktivitas mulai dari membajak, menam padi, serta suasana yang sangat asing di mata saya dan teman yang lain, ibarat sekarang saya hidup di zaman 80an, sapi yang masih akrab dengan sipengembalanya membajak masih menggunakan sapi, Saya berkata pada teman saya.
“Lutfie di malang pernah menemukan orang membajak tah. ?”
“Nemu sihh tapi gak pake sapi. “ di sana sudah modern, pake mesin kale hehe.
“Sama lut, di kampung aku itu bajak dan yang nanam padi sudah mesin yang kerja, ini kampunya siapa Maja. ?” hehe
“Lut dan Mai, kalian itu jangan keras-keras kalau bicara, kedengaran para petani itu bisa di bacok kamu hehe, kita orang baru di sini. Ini kampungnya samsul hehe”
Kami berempat sedikit bergurau tentang perkembangan teknologi yang sangat masih jauh dengan di Malang, namun kerukunan dalam berkerja sama mereka tanpak jelas untuk di contoh kepada kita, setelah tertawa kita bersama-sama sudah kita tiba ke tujuan kita Bapak Maulana yang banyak dengan pengetahuan jawanya (Primbon jawa) objek penelitian untuk membuktikan semua itu bahwa kearifan lokal sangat relevan jikalau kita gunakan dalam kehidupan yang sudah modern ini. Setelah sampai disinilah saya dan teman-teman yang lain mengajak berbicara dengan Bapak Maulana yang sudah berumur 67 tahunan, menanyakan dan kearifan lokal yang harus kita unjung tinggi di negeri ini. Teringat dengan Cak Nun yang beliau katakan, kearifan lokal yang benar-benar kita perlukan dalam hidup kita untuk membangun bangsa kita ini agar kekuatan negara tidak hanya memiliki SDA yang diandalkan yang menurut kita SDA sangat masih jauh dari negara-negara lain, dengan kearifan lokal ini kita punyai kekuatan, negara lain yakin tidak mempunyai kearifan lokal Weton Perimbon peluang besar dengan ini yakin membangun negara dengan penuh perhitungan akan menciptakan hasil akhir yang baik pula. Pak Maulana berkata,
Perembun (perimbon) ini ada buku (kitab kuno wali sembilan) bapak pesan kalian semua amalkan ini. kalian penerus bangsa kalau tidak mempunyai dasar hidup yang kuat kalian belajar pada sejarah  yang sudah terjadi karena sejarah yang tidak pernah bohong nak.!” “Wejangan Weton ini kalau bukan kalian siapa yang akan mengamalkan karena kalian semua orang jawa semua nenek moyangmu percaya dengan Weton ini dan kepada Alloh SWT.!”
“Enggeh pak, serentak menjawab bersama. !”
“Kalian akan dapat membuktikan kearifan lokal ini Perimbon Weton ini mulai dari zaman Wali Songo sudah menggukan perimbon ini.!”
Data sudah saya dapatkan untuk majalah yang akan siap kami terbitkan, kamipun berepat begegas kembali ke malang dengan rasa senang banyak hal baru yang di dapatkan, bukan hanya data kita dapatkan, tapi mendapatkan pengetahuan dan pengalaman hidup yang akan sulit saya lupakan. mereka membangun Indonesia dengan besar dengan penuh perhitungan Perimbon karena jikalau tidak menggukan hidup ini serasa mengalami kebingungan, namun perimbon ini sebuah keyakinan namun saya yakin karena sejarah telah membuktikan.



***
Catatan:
·         Perembun dalam bahasa madura, namun pada dasarnya perimbon hanya orang jawa yang memilikinya, satu-satunya kearifan lokal yang dimiliki indonesia terutama di jawa, dan perimbon inilah yang sekarang kebanyakan orang jawa tidak mengetahui apa kearifan lokal yang harus dibudayakan.
·         Weton penghitungan dalam bahasa indonesia setiap hari mempunyai naptu, dan setiap pasaran lima punya neptu. Kearifan lokal ini yang banyak orang memiliki.
·         Tulisan ini saya terinspirasi dari kearifan lokal satu-satunya yang hampir terlupakan, saya masih bersyukur mempunyai orang tua yang selalu memperhitungkan saya setiap langkah saya untuk selalu berusaha tidak melupakan kerafian lokal primbon, dengan ini langkah saya selalu penuh dengan perhitungan dengan seperti ini Alloh selalu memberikan cahaya setiap langkahku.

Artikel Agama Nusantara, Bukan Arabisasi



gambar: nusantara.com
Agama Nusantara, Bukan Arabisasi

Agama suatu kontrol dan pondasi jiwa raga manusia untuk hidup untuk mengukur dirinya untuk hidup, budaya sebuah kesempurnaa dalam beragama. Menurut Emile Durkhiem salah satu pencetus sosiologi medern, Agama sebagai hasil dari Budaya jika Budaya tidak ada maka Agama pun tiada.   
Indonesia ialah negara yang mewajibkan setiap warga negaranya, harus beragama, karena agama menjadi dasar untuk hidup di Indonesia. Dengan beragama manusia akan memiliki kontrol diri, jika hukum tak mempunyai kekuatan yang segnifikan maka Agama akan menjadikan kontrol. Namun Agama bukan tempat mencapai kekuasaan, yang berkuasa untuk mencapai seasuatu kebanggaan dirinya. Agama harus dipisahkan dengan kepentingan-kepentingan pribadi, terkecuali kepentingan kepada Sang Khalik. Dalam melangkah esensial untuk mencapai kehidupan bernegara di indonesia memiliki Agama, di tanah meraah putih yang dari berbagai kultur ras, suku, dan budaya yang di kenal dengan Bhinika Tunggal Ika, berbeda-beda namun tetap satu dalam negeri tercinta Indonesia.
Memiliki agama apa yang diyakini, seharusnya memahami esensi darar-dasar agama setiap keyakinan dalam beragama dalam teologi keimanan dalam menjalani, seharusnya visioner dalam bernegara dengan landasan Agama yang melekat dalam jiwa raga, bukan hanya sekedar beragama dengan eksestensi untuk memberantas segala hal yang menggap orang lain yang berbeda Agama melanggar norma dan menghadirkan radikalisme dalam negeri sendiri. Mengapa ada budaya dalam kehidupan beragama, dengan budaya akan memperindah dan menyempurnakan Agama kita dengan Agama apapun yang diyakini, yang Islam akan menyempurnakan keislamannya, yang Hindu menyempurnakan kehiduannya, yang Kristen akan menyempurnakan Kristenya, dan Agama-agama lainya. Karena budayalah yang akan menjadikan kita menjadi bersatu, budaya Nusantara yang kaya raya, akan membuktikan bahwa negeri ini tempatnya keindahan dan kedaimaian. Karena budaya dan Agama Nusantara ini memiliki kekuatan besar dalam kehidupan manusia Indonesia. Dalam filsafat Yunani sepakat bahwa orang yang berfilsafat ialah cinta terhadap kebudayaan atau kebijaksaan.
   Agama bukan hanya bertujuan untuk mengkafirkan orang lain. Namun Agama menajadikan kontrol pola pikir dan senantiasa berpikir setiap kejadian akan bepikir sebab dan akibat. Agamamu, Agamamu. Agamaku, Agamaku, kita hidup di negara berbangsa yang memiliki suku-suku, dan budaya yang kaya raya. Maka hal yang modernisasi senantiasa memberikan satu kesatuan denga suatu perbedaan yang selalu, menyatukan suatu perbedaan dengan suatu tujuan bersama hidup di negara Indonesia, yang bertujuan aman dan sejahtera yang hidup di Indonesia.
  Negera Indonesia memiliki lambang, dua warna merah dan putih, yang dapat saya filosofikan merah adalah aliran kehidupan di dalam tubuh yang mempu membangkat semangat yang kuat dan berani, dengan menyatukan satu kesatuan suatu budaya degan budaya yang lain, Putih memliki kekuatan untuk bangun dari segala hal, yang akan menjadikan semua yang terjadi yang dialami, dengan keyakinan Agama yang diyakini, dengan mengumpulkan semua  ,dapat berdiri tegap sehingga dua-duanya tidak dapat dipisahkan atau dilunturkan dari perpaduan antara merah dan putih. Filosofi yang kedua bisa direnungkan sejenak kombinasi dari marah dan putih bahwa dalam negara indonesia ini tidak ada sekat antara suku yang putih dan suku yang hitam, ataupun yang menggukan peci saat beribadah atau yang tidak menggukan peci, esensial dalam negeri ini tidak harus diberikan sekat-sekat terutama dalam Agama, mengngat dengan istilah HOS Cokroaminoto dalam buku Islam dan Sosialisme manusia boleh mempunyai prinsip, namun dilarang keras fanatik. perbedaan dari kombinasi bendera itu sebuah bentuk perbedaan yang sangat memberkikan warna yang indah secara kokrit. Sehingg tercipta suatu kekuatan yang sangat kuat tanpa ada yang bisa membinasakan, terkecuali bangsa sendiri.
Jika indonesia ini adalah hidup dari beberapa suku dan beberapa Agama. Maka bermakna dalam hidup di negeri yang sangat memiliki perbedaan kaya raya, daripada negera-negara lain, maka perbedaan indonesia ciptakan dan jadikan perbedaan yang menabjubkan dari apa yang ada dalam bangsa Indonesia, jangan hanya mempermasalahkan dengan suatu permasalahan perbedaan yang menjadikan perpecahan dalam mencapai segala keinginan leluhur untuk Indonesia yang sangat kita harus bangga. Menghargai menempati di mana negeri kita mengabdi, kontribusi yang dapat menghasilkan sesuatu yang baru, bukan berseteru dengan sesama sedarah merah putih, bersenada dengan jiwa raga lagu Indonesia bersatu dari perbedaan yang satu dengan yang lain, dalam satu rumah Indonesia.
Manusia diciptakan dengan perbedaan yang memberikan keindahan dalam satu dunia, warna yang memberikan rasa humanis, agama yang tidak hanya fanatik terhadap agama lain, jika memiliki prinsip kita bisa menempatkan di mana kita berada, bukan sekat perbedaan yang menjadikan keruh perpecahan, dengan dasar-dasar Agama yang memiliki norma yang tidak mudah mengkafirkan orang lain. Nabi Muhammad Saw. Tidak pernah membangun negara Islam semasa hidupnya, beliau membangun negara yang berbangsa. jika kita Islam jadilah Islam nusantara, bukan Islam arabisasi, jika menjadi hindu janganlah jadi india, kalau jadi orang kristen janganlah jadi yahudi, tetaplah jadi orang Nusantara dengan adat yang beradap dan budaya yang kaya raya (Soekarno)***.



Kamis, 21 September 2017

Catatan Pemuda Lunturnya Roh Ensensi Mahasiswa

Gambar: Ilmuan Rusia Konstantin Korotkov
LUNTURNYA ROH ESENSI MAHASISWA
 Jangan sampai keberadaanmu sama halnya dengan ketiadaanmu
Mahasiswa sebagai orang yang memiliki pendidikan tertinggi, yang berada di Universitas tempat berekpresi, mengeluarkan ide kreatif, menggali potensi, dan menggapai pengetahuan yang belum dikatahui, akan dipahami dan dipelajari di dalam namanya Kampus, kemerdekaan yang sangat terasa kaumlah muda pada saat menggapai pendidikan ketika menjadi mahasiswa, impian semua pemuda di luar sana banyak yang ingin menjadi mahasiswa namun problematika dalam kehidupan beranekaragam. Kita sebagai mahasiswa bersyukur masih bisa melangkah dan jelajahi dunia pendidikan lebih jauh yang dikenal dengan dunia perkulihaan yang leberal kemerdekaan kaum muda. Ketika berkulih akan bertemu juga dengan banyak pilihan dalam membangun karakter dan emosi diri sehingga konsep diri terbuka dan menjadi mahasiswa yang seperti apa, Idelais kah, Akademis kah, Organisatoris kah, Apatis kah hanya ingin kuliah, Hedonis kah, hanya individual yang akan menentukkan pilihan itu.
Idealis wajib dimiliki oleh mahasiswa, walaupun perspektif idealis dalam lingkup mahasiswa jelek, esensi dari idealis bercita-cita tinggi melampaui batas dari pikiran orang lain, idealis itu akan menciptakan sesuatu yang berbeda dengan yang lain sehingga menciptakan hal yang menekjubkan jika idealisme tersebut dikembangkan dalam suatu serikat, yang salah ketika idealis itu hanya berdikari tanpa mengiplemintasikan opsinya kepada kepentingan manusia banyak. Hal tersebut harus dipahami betul oleh mahasiwa yang harum dan akademis, esensi mahasiswa idealis tentu sudah akademis, namun akademis belum tentu idealis karena mahasiswa yang hanya memikirkan cita-citanya sendiri untuk mencapai suatu tujuan tanpa memikirkan yang ada disekelilingnya. Sebagai mahasiswa hanya wangi dan berpakaian bagus dan apatis terhadap esensi mahasiswa, (mahasiswa Hedonis), sehingga lupa standarisasi Tri Darma perguruan tingginya, dan lupa akan kewajiban sebagai mahasiswa di mana mahasiswa yang hanya memperhitungkan pencapaian nilai IPK tinggi. Di mana mahasiswa yang memiliki suatu sebutan agent of change dan social control, perubahan apa yang akan diberikan oleh mahasiswa yang hanya memikirkan dirinya sendiri (akademisi), Roh Tri Darma perguruan tinggi yang seakan-akan luntur dari peradapan mahasiswa, budaya mahasiswa, yang sejatinya mahasiswa paham arti tanggungjawab, bukan hanya memikirkan nilai, idealisme mahasiswa yang hanya menjadi tolok ukur mahasiswa untuk perubahan diri sendiri dan dapat memberikan kontribusi pada orang lain dan kepada masyarakat, yang menjadi tanggungjawab bersama sebagai mahasiswa dan standarisasi Tri Darma perguruan tinggi, yang harus diresapi, renungi, pahami, dan implementasikan, apakah kita menghinati, jika hanya sibuk dengan penelitian untuk memperoleh nilai bagus, dan Hidonis tanpa melihat apa yang ada disekeliling kita banyak hal fenomena yang dapat gugurkan esensi roh mahasiswa yang sejati.
Berdialektika bahwa mahasiswa yang memiliki tingkatan paling tinggi pendidikannya dari siswa, yang mendapatkan afiks Maha menjadi mahasiswa yang memiliki arti paling tinggi. Apa yang menjadikan kebanggan dalam diri mahasiswa yang hanya harum dan bagus bajunya, apakah akan memberikan penampilan yang akan berbeda dengan yang lain, yang bukan mahasiswa, ketika sudah berada di masyarakat akan miris dan menyedihkan untuk direnungkan. Mahasiswa yang hedonis, akan munafik dengan pencapaiannya karena mahasiswa tersebut melupakan apa yang menjadi kewajibanya seharusnya dibanggakan dengan suatu sebutan agent of change dan sebagai social control, dan tidak lupa dengan Tri Darma perguruan tinggi yang terdiri dari 3 butir, yaitu: 1. Pendidikan dan Pengajaran 2. Penelitian dan pengembangan 3. Pengabdian kepada Masyarakat. Jika yang butir satu dan dua sudah menjadi aktivitas sehari-hari dalam civitas akademika, sudah sangat familiar dengan hal dua tersebut, apakah yang butir ke tiga telah dilakukan oleh mahasiswa yang hanya hedonis dan akademis, tentunya masih jauh dari kata pernah melakukan pengabdian kepada masyarakat ketika masih belum melakukan aksi (tindakan), yang bermanfaat pada masyrakat. Apa yang ingin kita aksikan sikap kita pada masyarakat, Harus digaris bawahi dalam menafsirkan arti aksi dalam bahasa inggris tersebut diartikan dalam bahasa indonesia “suatu tindakan”, bagaimana tindakan yang positif dalam menafsirkan itu, kontribusi turun ke jalan sebuah sikap yang kadang menimbulkan keanarkisan dan mengganggu ketentraman lalu lintas, namun hal itu harus kita tinggalakan ketika hal itu tidak menjadikan orang lain tidak nyaman,banyak cara dalam memberikan kontribusi pada masyarakat, dengan menyadarkan masyarakat dengan sosialisasi pentingnya pendidikan, bakti sosial, membangun tempat belajar, perpustakaan, membagikan buku-buku di tempat mereka senang berinteraksi, sosialisasikan tentang beasiswa dari pemerintah fasilitas pemerintah, dan menyadarkan masyrakat hak-haknya yang harus dinikmatinya, kecemasan tentang pendidikan masyrakat awam akan membinasakan anak-anak bangsa untuk tidak bersekolah, maka regenerasi anak bangsa akan pupus, karena menggap pendidikan sangatlah mengerikan soal dana untuk sekolah. bahwa bahwa dalam UUD 1945 yang berbunyi, mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka pendidikan dan pengajaran harus menjadi pokok dan sumber utamma dalam mencapai diri perguruan tinggi.
Kepada siapakah tugas ini disuarakan kepada mahasiswa sebagai agent of change dan social control, setidaknya dapat melakukan hal yang sederhana namun berguna, Salam Mahasiswa.

Catatan Pemuda Melampaui Batas-batas Tuhan

Melampaui Batas-batas Tuhan
  
Manusia kuat karena ia mampu melaupaui batas apa yang dilakuakan dengan mimpinya, tak akan melihat apa akan terjadi yang akan dialaminya, hari ini aku tak tau harus bagaimana lagi, jika aku tak memiliki suatu mimpi besar dari apa yang ada diluar kemampuan keadaan saya, dan hari ini dan masa yang panjang akan datang berharap lebih luas dan lebih berkeringat semnagat dalam melangkah jauh sekarang ini, sekeras apapun saya tak peduli nanti atau esok, hari ini adalah hari sekarang untuk yang terbaik bukan yang terburuk, dan suatu saat nanti saya dapat menjadi diantara bintang yang bersinanr dalam kegelapan yang sangat pekat dimanapun saya berada, yang akan hanya menjadikan saya hidup dalam di dunia selamanya, keyakinan dan sebuah kematian nanti akan membawaku pada waktu dan tempat yang berharga yang berbahagia bersama Muhammad SAW. Jika mungkin saya adalah yang terburuk dalam alam yang luas, namun mentari masih bersinar dan rasa cinta masih nyata dalam diri saya. Jika nanti akan menjadikan kematian saya ini membuat saya berani tuk mati, dengan cara-caraku yang akan mengembangkan segala manusia tersenyum dengan caraku yang akan memberikan manusia satu untuk terbentuk menjadi manusia yang akan lebih luas manusia yang ada di Nusantara dan Dunia, sehingga mata yang selalu tertutp nanti dan seluruh pancarindra ini tak berfungsi kembali. Dan menjadi manusia yang darinya tiada menjadikan manusia tiada.                                                                                                                    



4-06-17 Malang

Senin, 18 September 2017

Catatan Pemuda Barisan Pemuda Penebus apakah Penerus?

Barisan Pemuda Penebus apakah Penerus?

Barisan telah dirapatkan kaumlah muda masih tanda tanya, akan kemana dan akan seperti apa nantinya inilah proses perjuangan kaumlah muda bercita-cita, banyak mahasiswa baru dihadapan kita, banyak wajah-wajah baru, wajah baru bagaikan daun muda yang hijau, masa ini, di mana masa ini adalah masa di kembalikan seperti halnya anak kecil belajar berjalan lagi, wajah merona dari anak muda kaumlah muda mudi bagaikan Bisma dan Srikandi penerus bangsa dan terlihat wajah-wajah pemuda yang berbaris rapi di depan gedung-gedung tinggi menghiasi kampus yang mereka banggakan, raut wajah masih saja terlihat asing ketika masih belum mencicipi dunia kehidupan perkulihan yang sejatinya. Ada yang menggap bahwa Kampus yang meraka pilih adalah tempat menyogok Tuhan untuk memenuhi kehidupannya yang dikiblatkan, ada yang mengganggap jika Kampus adalah tempat Ia mendapatkan apa yang mejadi impian dan cita-citakannya menjadi orang-orang besar yang bergelar, ada yang menggap bahwa ini surganya kaumlah muda dalam merayakan kehidupan (tempat hidones).
Semua terlihat indah dari wajah-wajah pemuda yang memaksa dirinya untuk menjadi manusia yang lebih bermakna dalam memberikan apa dan bagaimana untuk dirinya sendiri dan pada nusa dan bangsa sehingga merasa dirinya akan menjadi bagian bukan berbicara posisi, namun berkomitmen akan menjadikan dirinya sebagai fungsi sebagai manusia yang senantiasa selalu berusaha menjadi manusia yang memperindah tempat yang dijadikan teduhan singgahan. Sehingga selalu merasa setiap bersinggah atau berteduh selalu merasa itulah tempat terindah dan menciptakan tempat itu lebih indah, sebagaimana naluri manusia diciptakan oleh Tuhan menjadi kholifah di bumi, menjaga dan merawat semua isinya sehingga dapat menciptakan dunia baru dalam menganggap dunia sebagai amanahnya sebagaimana harus bisa mengmbangkan dan menciptakan sebuah keindahan yang didasari dengan kecintaan.
Penebus Apakah Hanya Menjadi Penerus?
Penerus dan penebus bangsa akan berlomba-lomba dari sekian banyak teman yang memiliki cita-cita dan keinginan sedikit banyak hampir mirip, walaupun pada hakikatnya tidak akan lepas dari tujuan material kelangsungan hidupnya dari cita-citanya sama, serta ingin menciptakan dan merayakan kehidupan ini dengan rasa kesenangan, akan tetapi semua ini memiliki cara dan bagaimana melangkah dan menjalani sebuah proses yang menjadikan dirinya sebagai pemeran dalam dunia yang berada di temapat yang penuh sandiwara (dunia panggung sandiwara), menjalani bagaimana melakoni hidup ditempat manusia beritelektual yang sering disebutkan mahasiswa, sehingga akan merangkai, merumuskan kehidupan untuk kehidupan lebih baik, dan menjadikan langkahnya sebagai kaum muda yang memiliki integritas diri yang sangat tinggi dan menjunjung diri jika tiada yang lebih baik namun hal itu lebih identik memilih hidup yang lebih baik dengan cara melepasakan dirinya sebagai manusia yang pandai merumuskan kehidupan mempelajari apa yang  belum pernah dirasakan dan mempelajari bagaimana cara untuk bisa memakasakan dirinya keluar dari sendi-sendi kehidupan dirinya untuk mencari siapa dirinya apakah akan menjadikan dirinya sebagai penerus sendirinya, pada arah yang sejalan dengan sebelumnya, dan apakah akan memperjuangkan dirinya untuk sebagai penebus dirinya dan penebus dosa-dosa para pemimpin yang tak memahami arahnya revolusi diri dan revolusi negeri bangsa ini, maka seorang yang akan menemukan semua itu sebagai penerus dan sekaligus penebus, seharusnya daun muda bangsa pemuda Indonesia yang menyandang nama mahasiswa memiliki jiwa sebagaimana jiwa itu adalah sebagai penerus dan penebus, penerus untuk dirinya sebagai mempertahankan kebudayaan kearifan lokal dan kearifan modernisasi yang selaras dengan negeri bangsa Indonesia untuk dirinya, dan penebus untuk negeri serta menanamkan  naluri intelektual, spiritualitas sebagai tonggak pengukuh untuk dirinya dan negeri ini akan ke mana akan melangkah.
Wajah-wajah itu adalah memancarkan harapan tidak kepastian dan menemukan beberapa keadalian dari wajah baru mereka semuanya terasa sangat memberikan paras isyarat keberanian yang sangat bersih, akan tetapi esensial mahasiswa dengan wajah seperti itu akan memberikan jawaban pada tindakan (aksi) mereka nantinya bagaimana mereka berperan sebagai posisi apakah sebagai fungsi yang mereka bawa, dalam melakukan eksistensi, berekpresi memerakan lakonnya di dalam Kampus yang diharapkan akan menjadikan manusia yang lebih baik dan manusia yang lebih berarti, namun semua wajah-wajah itu terkombansi dalam pancaran naluri dari para mereka yang memaksa yang selalu ingin hidup dalam memerdekakan dirinya, dan memerdekakan orang lain, peran itulah sebagai bukti. Semua terpancar dalam wajah-wajah indah mereka dalam memaksakan dirinya keluar dari nalurinya sehingga menderitakan dirinya pada kepentingan bersama, sehingga itulah puncak dari keberhasilan dalam menempuh bahwa dirinya adalah kaumlah muda penerus dan penggerak dalam sendi-sendi dunia dengan memanusiakan manusia (Humanisme), terutama dalam memberikan peran terhadap masyarakat sebagai generasi bangsa yang akan dilatih sebagaimana menjadi seorang yang peka atas keadaan dan menjadi penyeimbang Negara Indonesia sebagai generasi emas bertindak dalam kebijakan dan penerus, penebus yang telah tidak sesuai dengan kehendak alam.
Esensial Mahasiswa

Sehingga seorang mahasiswa itu tidak lupa akan dirinya sebagai agent of change dan social control, sebutan keduanya itu jadikan renungan paling dalam sebagai awal masuk menjadi mahasiswa berkontemplasi dengan kedua sebutan itu terhadap mahasiswa, serta menanyakan pada dirinya apa, bagaimana, dimana, untuk menuanaikan kedua hal tersebut dan peran mahasiswa itu, memerankan dirinya pada siapa perubahan akan diciptakan, jika tidak merenungkan sejenak tidak akan memahami, perubuhan yang signifikan membentuk atau mengubah dirinya sendiri, dengan ilmu yang dipelajari akan pasti dan berarti dalam membebani dirinya sebagai perubahan indiviuaslis dan secara universal dan kontrol sosial terhadapa lingkungan hidup dan pada masyarakat terdekat serta meluaskan dirinya dalam memperhatikan pendidikan dalam berperan dalam hal positif yang aktif, peran itu akan didambakan oleh para masyrakat dan para pemimpin-pemimpin negeri yang telah mendahului kita, mereka sebagai pahlawan perjuangan. Sebagai mahasiswa juga harus tidak lupa akan dirinya pada Tri Darma Perguruan Tinggi yang menjadikan dirinya tinggi dan dijujung olehnya, bukan dijunjung oleh Perguruan Tinggi yang dijalani hari ini hingga nanti lulus mendapatkan sebuah nama tambahan yang dikemas dalam bahasa menyandang gelar yang menunjukan bahwa telah menjadi kaumlah intelektual tinggi disetigmakan memperoleh Ilmu seintisme, dan menemukan sebuah pemikiran-pemikiran baru tentang kosmologi, hanya yang terakhir apakah segala yang diperoleh memberikan kontribusi pada Tri Darma yang butir ketiga pengabdian pada masyrakat, memanfaatkan pengetahuannya mengkorelasikan pada kepentingan bersama dalam masyrakat terkecil hingga pada masyrakat terbesar, menciptakan sebuah gagasan dan tindakan dalam sendi-sendi berpikir yang elektis kreativ serta visioner, melunturkan pola pikir primitiv dalam paradigma kehidupan sosial masyarakat. Semua bentuk keberhasilan sebagai kaulah muda berilmu sebagai penerus dan sekaligus penebus Bangsa yang hiruk maruk dalam perjalanan  revolusi, semoga kita berada dibagian apa yang dicita-citakan dan diharapkan Tuhan.  

Jumat, 16 Juni 2017

Puisi Untuk Sahabat Nadiku

Untuk Sahabat Nadiku 

Untuk Shabat hati yang ada di sini, yang paling dekat dengan nadiku, dalam hal apapun saat ku tersenyum dan menangispun kau tetap ada disini beridiri.

Keberadaanmu bukan hanya ada pada meteri namun dalam pemikiran pun selalu ada.

Saat aku berjalan ke Sawah kau melangkahkan kakinya membuntuti langkahku, menghapuskan jejak-jejak langkah kaki yang kotor kacau balau.

Sawahku mulai keruh, kau menyalurkan air ladangnya. 

Ku tertawa kau tersenyum, ku duka lara, kau tertawa dengan laraku.

Kau ku anggap malaikat namun kau tak bersayap, dan aku takut mortad menggap kau malaikat.

Aku terjatuh, kau angkat aku, ku mulai tertidur kau bangunkan ku, dan berkata kalau ini magrib janganlah tidur, saat kau terbentur kau harus atur tidurmu.

Kau datang bukan hanya dalam tidurku namun kau datang dalam dunia nyataku, hadir datang tuk menghibur, mebaur, membaca ku yang tak ada dalam buku, namun memahami setiap segelintir debu-debu jalanku.

Kalau dunia ini kosong, kau dengan sendirinya muncul tanpa siapa yang memerintah, kematianmu ku tak mengerti. 

Namun saatku berhenti berlari dan pikiranku sudah tak berfungsi, kau hilang bersama detak nadiku.