Kesunyian paling suci
Memahami sublim tentang diri
Elegi menjadikan sebuah arti
Pencarian tentang arti dan makna
Membawaku pada satu paragraf lekuk cahaya:
yang bernama cinta
Kabar berita yang derita
Dari cinta kepada manusia
Bernostalgia dengan sukma tanda tanya
Raut wajahmu mengngatkan aku pada puisi
Yang aku rangkai: dari saduran kelopak matanya yang tak pasti
Bahwa memahamimu ialah cara istimewa
Sebab dirimu mengalahkan keinginan dengan Tuan
Senin, 19 November 2018
Minggu, 18 November 2018
Menulis Puisi Sunyi
Aku menulis puisi saat sepi
Agar aku tau bahwa yang berisi saat menepi, saat kegelisahan bertabrakan
Saat ramai kau mati dan tiada lagi diri ini
Puisiku bukan tentang keadaan
Puisiku tentang cara mentittahkanmu
Pada dalamnya hati
Agar selalu dikaji dalam bentuk doa
Jika aku menulsikan puisi tentang Ibu
Aku tak bisa merangkai huruf menjadi kata untuk memiliki makna
Aku gali setiap sifatnya, aku temukan dalam tabiatnya: agarku tak membenci
Puisiku akan terus berjalan
Saat bukuku masih di tangan peminjam
Dari sepi aku bisa belajar
Dari sepi aku bisa bersyukur
Dari sepi aku bisa berpikir
Tentang sepi itu hati mampu menjadikan sunyi bisa lari menulis puisi
Lari menjabarkan gelap menjadi sebab, bahwa yang mencintai sepi mengangkap memori hari ini menjadi histori, yang nanti dirindukan kembali oleh pencinta sunyi bersama puisi
Agar aku tau bahwa yang berisi saat menepi, saat kegelisahan bertabrakan
Saat ramai kau mati dan tiada lagi diri ini
Puisiku bukan tentang keadaan
Puisiku tentang cara mentittahkanmu
Pada dalamnya hati
Agar selalu dikaji dalam bentuk doa
Jika aku menulsikan puisi tentang Ibu
Aku tak bisa merangkai huruf menjadi kata untuk memiliki makna
Aku gali setiap sifatnya, aku temukan dalam tabiatnya: agarku tak membenci
Puisiku akan terus berjalan
Saat bukuku masih di tangan peminjam
Dari sepi aku bisa belajar
Dari sepi aku bisa bersyukur
Dari sepi aku bisa berpikir
Tentang sepi itu hati mampu menjadikan sunyi bisa lari menulis puisi
Lari menjabarkan gelap menjadi sebab, bahwa yang mencintai sepi mengangkap memori hari ini menjadi histori, yang nanti dirindukan kembali oleh pencinta sunyi bersama puisi
Selasa, 30 Oktober 2018
Terompet R Sarumpaet: “Kebajikan Media”
Kopi yang pahit tak sepahit rasa
yang keluar dari terompet Ratna Sarumpaet,yang tidak merasa bahwa itu adalah
terompet manusia harus dijaga; terompet manusia lebih berbahaya daripada
terompet Malaikat Irofil yang ditiupkan pada saat hari akhir. Rasa-rasanya hari
ini terlalu banyak manusia mempermainkn terompet yang telah dikudrotkan
oleh-Nya, seharusnya dijaga dan ditiup pada saat dibutuhkan saja; bahkan
peniupannya juga perlu aturan, karena terompet menjadi media manusia
berkomunikasi.
Malaikat
Isrofil ialah malaikat yang memiliki tugas untuk meniupkan terompet: pada saat
hari akhir nanti atau kiamat nanti. Peniupan terompet tersebut disebut dengan
peniupan terompet sangkakala. Ketika terompet itu telahh dibunyikan manusia akan
mengalami kegaduhan penyesalan tentang dosa serta penyesalan yang telah
dilakukan pada masa lalunya, namun semua itu sudah terlambat dalam proses
pengampunan dan pengakuan atas dosanya, di dalam pelajaran Islam masa kecil
masih ingat: pada hari akhir ketika sudah tiba tidak ada pengampunan baginya.
Akhir-akhir
ini sudah banyak dari manusia senantiasa sudah melakukan peniupan terompet
dirinya, yang seharusnya dijaga. Jika akhir-akhir ini terjadi di negeri ini
kegaduhan dengan permainan terompet manusia, dalam istilah peribahasa yang
sangat familiyar “Mulutmu adalah
harimaumu” peribahasa tersebut menunjukkan bahwa bahasa itu sangat berbahaya,
jika tidak perlu dikatakan alangkah baiknya diam, jika diam memberikan
ketenangan alangkah baiknya diam, daripada berbicara memberikan kegaduhan, manusia
dianjurkan diam: maka terompet kita perlu menjaganya.
“Diam itu emas, ketika bicara
itu berharga maka berbahasalah selagi itu memberi makna”
Pada
saat tanggl 03/10/2018 tidak asing di telinga kita mengenai isu tersebut: media
semua memberitakan, hal terkait dengan pembohongan publik lumayan menghebohkan dan
masyrakat Indonesia, terjadi karena Terompet1 Ratna Sarumpaet bahwa
telah mengaku telah dipukuli oleh oknum pro
kecebong (Pendukung Pak Jokowi Capres), hal tersebut mendapat respon luar
biasa oleh masyarakat khususnya oleh pihak pro
kampret (pendukung Pak Prabowo Capres).
Hal
tersebut menjadi perseteruan antara dua belah pihak, kita semua mengetahui
bahwa tahun 2018 ini adalah dikenal dengan tahun politik, tapi mari jangan
menciderai kepercayaan masyarakat, khususnya para figur. Kejadian tersebut
menjadi sorotan publik bahwa di antara kedua belah pihak saling melontarkan
argumen bahkan ada yang tidak terima dan melaporkan kepihak berwajib.
Kronologi kasus tersebut bermula dari apa yang
dilakukan oleh Ratna Saumpaet (RS), selaku tim kampanye salah satu Capres 2019,
wanita yang ingin membenahi atau melakukan perawatan wajahnya: nasib baik tidak
berpihak sehingga terjadi ketidak sesuaian dari harapan dan berdampak lembab
pada pipi kirinya. Setelah lembab anak dari RS tersebut menanyakan mengenai
lembab, dan RS mempermainkan terompet dirinya dan mengaku dipukuli orang yang
tidak dikenal. Dengan permainan terompet tersebut membuat petaka seharusnya
tidak meniupkan terompetnya tanpa kontek karena sangat rentan sangat berbahaya,
seharusnya dijaga apalagi orang yang memiliki power figur.
“Bahasa dan
kata-katanya akan dipertanggung jawabkan: apalagi kebijakan dan tindakannya”
Hal
tersebut menjadi refleksi diri kita semua. Namun hal tersebut tidak perlu
mempemasalahan dan membahas terlalu dalam, biarkan kita semua dan masyarakat
menghakimi kejadian ini lebih arif dan bijak. Yang menjadi persoalan hari ini
ada sisi lain dari apa yang harus diketahui.
Sebagai
rasa kemanusia yang sangat dalam, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),
saudara kita di Palu-Donggala butuh perhatian pemerintahan kita mengalami
bencana, yang kedua adanya pertemuan International Monetary Fund (IMF) dan Bank
Dunia (World Bank) di Bali yang telah dilakukan pada Senin tanggal 08/10/2018),
dengan pertemuan tersebut seharus kita semua paham dan mendoakan dengana
harapan tidak ada hal yang tidak diharapkan yang terjadi pada Negara Indonesia.
Kita
semua seharusnya perlu merenungkan permasalahan yang dihadapi oleh negera kita,
yang akhir-akhir ini menjadi kegundahan bersama pemerintah perlu dukungan lepas
dari kepentingan kelompok, individu untuk
mengatasi ketiga permasalan tersebut yang lagi menimpa. Kita perlu mendukung
dari beberapa elemen masyrakat yang cinta terhadap tanah air (nasionalis): jika
orang kecil (rakyat) ikut serta mendoakan, jika orang besar (pemangku
kebijakan) yang memiliki wewenang harus lebih memperhatikan dampak serta
menyelamatkan negara kita, jangan mendahului politik, apalagi politik tidak
mendidik.
Sehingga
peran media hari ini harus menjadi kontol yang serius untuk memberikan nilai
edukasi serta informasi sebagai asas dasar dalam praktik jurnalistik, sehingga
karya dari jurnalis (berita yang ditulis) akan memberikan nilai edukasi pada
masyrakat untuk bisa lebih mengetahui secara verifikasi tentang keadaan negara
kita. Daripada memberi edukasi politik
tentang keadaan negara yang memiliki kecenderungan tidak memberi dampak positif.
Dalam bukunya Prof. Franz Magnis Suseno berjudul pemikiran Karl Marx hal:73-73
mengatakan bahwa edukasi sosial lebih penting daripada edukasi politik. Penulis
memberi asumsi pada tulisan di atas; negara kita tidak perlu memberikan pendidikan
politik secara gamblang, karena politik tanpa dipelajari masyarakat dengan
sendirinya kan tahu, yang paling penting pendidikan sosial: pendidikan sosial
tersebut mengenai permasalahan yang mengacu pada degradasi sains, litarasi,
kejadian fonomena alam bahkan yang paling penting ialah dunia pendidikan, yang
menjadi cekokan pada masyarakat, sehingga pola pikir manusia akan lebih arif
dengan sendirinya.
Peran
tersebut bukan hanya menjadi peran salah satu pilar demokrasi nomor empat
(pers), namun perlu seluruh elemen bersinergi, pemerintah serta media ikut ada
di dalamnya, untuk memberikan nilai yang abadi memberikan edukasi kepada masyarakat.
Sehingga yang menjadi tekanan bagi kita semua negara tetap memberikan asas
keterbukaan terhadap apa yang terjadi pada negara sehingga masyarakat ikut
andil setidaknya memberi dukungan doa.
Namun
semua itu tidak lepas dari sistem kerja pilar ke-emapat domokrasi kita yaitu:
Media daring, Koran, Telivisi dll. Dengan seperti itulah membantu masyarakat
untuk memberi nilai-nilai edukasi, bertujuan mencerdaskan masyarakat serta
generasi bangsa.
Peran
media memberi bahkan terus menjaga kepercayaan masyarakat, ketika ada hal yang
masih menjadi pertanyaan mengenai kepentingan publik. Permasalahan Ratna
Sarumpaet tidak perlu diperpanjang lebarkan oleh awak media, sebab masyarakat
tidak hanya perlu informasi itu saja, walaupun hal itu menjadi kebutuhan
publik. Tapi masyarakat juga perlu tujuan serta hasil dari pertemuan IMF dan
World Bank dan benacana yang menimpa pada saudara-saudara kita di Palu.
Semoga NKRI seantiasa
ada dalam lindungan Allah SWT.
Selasa, 16 Oktober 2018
Pertanyaan Bunga “Tak Diharapkan”
Seandainya aku bunga;
kau mengira ku akan sempurna
Ketika sempurna kau
mengira ku akan mencipta estetika
Ketika estetika tercipa
kau tak menerima:
Lantaran akulah bunga
yang kau tak harapkan tumbuh
#
Saat kau mencium harum
bunga, kau bercita-cita memilikinya
Ketika sudah disertai-Nya,
kau membiarkan tak mau tau keberadaannya
Aku tak tahu harus bagaimana dan harus apa?
Apa betul harum dan
bentukku tidak kau cintai.
#
Ketika ku bangun cinta
padamu, kau tak memberitahu; kemana dirimu
Apakah kau lupa pada
saat ada dalam dirimu bersatu dengan segumpal darah yang dingin menjadikan aku
Ku tiba, tanpa sadar
kau tiada saat ku butuh bersandar.
Ketika aku antarkan
Suara tangisku kau
masih hafal betul tangisan pertamaku, kau yang kurasa aroma lemak air susu itu,
ketika hari ini kutemui wanita cantik dengan anaknya; kau biarkan aku tak ada
di sampingnya lagi
23 purnama: aku masih
sering bertanya tentang ciri dan tanda mengenai raut wajahnya
Bahwa mengenalmu adalah
cita-citaku; untuk kumiiki membangun prasasti surga di meja makan.
Kau masih saja tak
selembut dulu memaksaku meminum susu
Kau mewariskan tanda
tanya dalam jiwaku
Keberadaanmu adalah
keberadaanku
#
Katika cinta telah
tiba, kau berangkat tanpa perangkat dan iktikad tanda.
Dan apa masih membuka
rasa bangga “baginya” yang diharapkan
Apakah cita-cita
manusia hanya ada dalam angan
Serta naluri tanpa mencari
sebab:
Bahwa hilangmu adalah
hadirmu yang bersanding dengan rindu:
Yang ada dalam
sanubariku
Kau yang tak pernah
diharapkan tapi kau yang selalu datang saat fajar dan senja tiba
Malang
2018
Minggu, 07 Oktober 2018
Senja di Saku Mandasari
Jika jalan
sudah gelap, langkah kaki sudah tak menemukan makna, maka aku melihat yang ia
di bawah ranting pohon hijau itu
Kekuatan doa
hanya mereka yang tak kenal bosan, panas, bahkan sering menyapaku, di lampu
merah dengan bahasa "Aku yang sudah berapa hari tidak makan".
Aku iba bukan karena rasa, namun
karena keadaan.
Andai senja dalam saku mampu
mambantu maka ia akan bahagia sertwa tertawa dengan suasana.
Tanpa bahasa yang aku dapat rangakai dalam hati hanya satu kalimat bahasa "Kau diciptakan bukan untuk tidak merdeka”.
Tanpa bahasa yang aku dapat rangakai dalam hati hanya satu kalimat bahasa "Kau diciptakan bukan untuk tidak merdeka”.
Kadang kau
melupakan cara yang terbaik,
Jangan berharap
nasib terbaik bisa dicicipi, sangguh muskil Tuhan ciptakan pada ihwal, jika
kesempurnaan “iya”.
Nasib terbaik tidak pernah diciptakan namun cara terbaik telah Tuhan diberikan.
Nasib terbaik tidak pernah diciptakan namun cara terbaik telah Tuhan diberikan.
Hari ini telah
berlalu, kau tak perlu benalu terus menjadi hantu. Jika esok bertemu di
persimpangan lampu merah lagi, jangan sampai ranting-ranting jadi kenyaman yang
menjerumuskan.
Semesta masih
saja dalam suasana tanda tanya yang luar biasa. Langkah yang tak hanya satu
jalan, satu setan pun tak tahu.
Kelemahanmu tak
melatih dirimu tuk berani, Jika kau tak mengerti, maka teruslah melangkah dan
berdoa, siapa tahu bumi memehami panasnya kakimu yang berbau anyer, membuahkan
sebuah hasil.
Percayalah
langkahmu akan membawamu.
Selamat tahun
baru yang selalu kau rindu nanti ketika aku telah kembali mengenyam pendidikan,
kau sumber dari caraku.
Selasa, 02 Oktober 2018
Sekali Lagi
Bukankah aku yang
menanti
Bukankah aku yang
memberi
Selamat pagi dirimu
yang aku isi puisiku dengan raut wajahmu sebagai pelengkap kopi di sampingku
Aku tanyakan aroma
kabar barumu yang pada pagi ini, yang datang kabar Koran berita
Harum aroma kamu masih
saja tersimpan di dalam lantunan puisiku
Saat matahari
menyinari bumi
Saat itu pula rindu
mengadu tentangmu
Kau yang sekali lagi berarti
saat sepi
Tak tahu kalau sepi
tanpamu, akan hanya ada puisi yang sunyi tanpa arti
Senin, 01 Oktober 2018
Aroma Buku dan Kamu
Aroma buku pertama harumnya tercerna dari
sendi-sendi bahwa semesta ada di dalamnya
Menanyakan bahwa semesta perlu banyak hal yang
harus dipahami
Jika kau ingin belajar dari semesta bukalah
buku itu
Sebab buku buah hasil dari kehidupan manusia
yang memahami semesta
Dengan proses apa kita bisa
Tanpa ada rasa hambar aku mencoba mencerna
aroma
Isinya yang semua ditukil melalui rasa hingga
lahirlah dirimu
Dari estetika yang metafisika
Ketika tenggelam terkadang rasa dalam jiwa datang
Menerjemahkan senja
Merasakan senja
Menikmati tanpa memiliki
Dirimu yang elok nan berseri-seri dalam negeri
kecil ini
Ku rasa semesta dicipta olehnya
Lantaran lekuk alis matamu seperti hanya
menatap semesta
Ada hal yang tak dapat aku cerna
Ketika diselimuti rasa semua tak senada dengan
aroma buku itu
Bahkan semesta membawaku pada taraf jumawa
Sebab diriku dicipta bukan hanya dari tanah
A B C
A: adalah aku
B: adalah buku
C: adalah Cintaku
Aku tafsir dengan caraku
Aku terjemahkan dengan rumusku
Aku ialah yang angkuh hanya lima dari dua
puluh empat jam bersimpuh menempuh hidup dengamu
Mungkin itulah kegagalan merebut cintamu saat
sepertiga malam ku selalu merayu
Buku ialah tempatku berkelana menemukan cara
terbaik untukmu
Cinta ialah rasa yang aku kukuhkan dengan
“aku” yang angkuh “buku” yang ku temukan masih saja mempertanyakan rasa apa
yang dipersembahkan
Kesempurnaanmu masih saja tergambar melalui
estetika alam yang misterius seperti halnya rasaku padamu
Aroma buku dan kamu masih saja penuh tanda
tanya
Walaupun aroma merona mempesona
Dirimu masih tak ada tara diantara sebab kuasa
itu ada dalam jiwa
Yang setiap saat itu meronta bahkan berontak
tidak merima
Malang, 2018
Langganan:
Postingan (Atom)