Minggu, 12 Mei 2019

Fragmen Membaca; Toreh Maos

Foto.M.Charis Hidayat

Fragmen Membaca: Toreh Maos

Kita buka baca gratis memiliki tujuan tidak lain tidak bukan untuk membuka jalan baru pada penggemar baca, yang tidak atau yang belum bisa membaca dunia dengan detail kita dianjurkan baca buku.

Milan Kundera novelis Rusia pernah menuliskan untuk menghancurkan sebuah negara sangat mudah hancurkan saja buku-bukunya, maka negara akan hancur.

Membaca membuat lupa luka; luka yang pernah dilakukan mantan atau luka atas menemukan hidup yang tidak sejalan atau tidak sesuai dengan harapan. Bagi yang sering luka dan melukai bacaannya masih perlu ditingkatkan agar luka segera lupa dan tidak melukai karena lupa untuk memikirkan melukai sebab rasa itu dicerna apa yang akan diharapkan pembaca perlu lebih rajin buka mata dan hati menerima beberapa bacaan seperti baca koran, novel, biografi, sejarah, dan filsafat.

Adapun beberapa salah duanya luka hati obatnya baca, baca lingkungan, baca harapan dan terakhir baca AlQur'an atau baca buku. Dalam Al-Qur'an iqrok menjadi anjuran dan surat pertama kali turun itu, sebagai bukti bahwa pentingnya baca, bukan sekedar baca Al-Quran, kitab, dan buku, tapi juga baca diri, keadan, kehidupan. Tentunya ada hal yang paling digemari dari salah duanya itu untuk membuka diri menerima apa yang harus diterima oleh diri; hingga tidak lepas dari esensi membaca, yaitu; membuka, mencerna, mendengar, dan mengamalkan.

Kreteria rekomendasi bacaan saat mengalami ketidak tahuaan tentang hidup; pertama kita perlu baca sejarah, selanjutnya ketika kegelisahan dengan mantan baca buku Madilog, dan ketika bingung dengan arah aalurnya politik kembalikanlah ke rakyat. Mungkin yang luka akan mantannya segera lupa, dan mengingat apa yang dibaca.

Jika dilihat dari otak kira kita bekerja sebagai pengingat kuat yang ada pada masalalu, ketika diisi dengan baca otak kiri akan berkerja dan akan terkontaminasi dengan apa yang diterima dalam naluri apa yang dibaca dan otak kiri sibuk menerima apa yang telah masuk hingga akan cenderung melupakan semua, kecuali teks yang diterima menghasilkan bahasa dan bermakna.

***
Fragmen tujuan buka teman baca;
Angin akan terus berdesir salagi rasa masih ada janji memahami
Angin yang lain tidak tahu mungkin saja peristiwa masih belum dirasa
tumpukan kertas berisi kata dan kalimat sempurna, anak kalimat bertemu dengan induk kalimat. Konjunsi telah memiliki arti lengkap pada kalimat selanjutnya: menunduk memahami teks adalah kerja manusia akan menemukan peristiwa bahasa, bisa menerima atau bisa juga tidak walau refrensi dalam lambang jelas; bermakna

Tulisan ini adalah fragmen
yang dibuka oleh beberapa shabat perjuangan menemukan peristiwa makna pada teks dalam kehidupan dan pada buku.
Ada: Rudi Harikusuma, M.Charis Hidayat, dan Dani Alfian.

berangkat kosong pulang kosong bukan kehidupan manusia: minimal pulang tidak kosong walau keburukan atau paling berarti berupa oleh-oleh kebaikan,
kala semua lupa akan semuanya yang menjelma makna tak akan abadi maka peristiwa abadi dalam bentuk Satu kata berawalan (A), Azimatku

Masuk pada fragmen 29/04/2019 Senin kemarin.
Kegiatan ini diberi nama gratis baca ini akan dibuka setiap hari Senin di depan Gasebo FKIP gedung C Unisma. Tujuan ini tidak lain tidak bukan bertujuan tentang esensi kemanusiaan dan siapa pencinta sebenarnya.

Setelah melakukan hal maka apa yang dirasa dan bisa diberi apa oleh manusia lain; hadiah pujian bukan menjadi tujuan, kalau ada yang muji sembur aja pakai abu karena itu akan menjerumus kita pada dunia kesombongan. Hal itu akan menjadi momok bagi kehidupan yang tidak sejalan dengan dunia literer.
"Membaca bertujan memperhalus perasaan, mempertajam wawasan, dan menemukan kemerdekaan dalam diri yang diitervensi oleh bacaanya"

Melakukan hal seperti ini memiliki keuntungan bagi diri kita sendiri: hal sederhana memahami judul buku walau tidak terlalu baca isi bukunya. Karena hal itu salah satu praktik-praktik intelektual yang dilakukan oleh para orang-orang besar berjiwa kemanusian dan ketuhanan tinggi.
Meminjam istilah apa yang telah ditulis oleh Francis Bacon (1561-1626) beberapa buku harus dicicipi, beberapa harus ditelan, dan beberapa lagi dikunyah dan dicerna.
Hal terbut memberikan artian bahwa dalam membaca kita harus bisa mengambil intisari dari kebutuhan kita, tidak harus semua dibaca dan dicerna tapi lebih tepatnya menyesuaikan kebutuhannya. Analoginya seperti hal seorang petani tidak akan butuh baca buku Marxis, Madilog, dan buku Ekonomi Kerakyatan. Yang berbicara tentang tatanan sosial dan masyarakat, seorang petani hanya perlu buku yang berisika tentang bercocok tanam yang baik seperti apa dan mendapatkan hasil lebih banyak ketika menggunakan pupuk A dan akan lebih kecil hasilnya kala menggunakan pupuk B.

Dinamika itu akan memahami bedanya mencangkul dan akan memfasilitasi cangkul: kita serasa beruntung dan bisa saja Tuhan telah memberikan jalan kepada ketika untuk bisa lebih berguna pada manusia yang tidak sekolah seperti kita. Kita mahasiswa banyak sebutan pada kita salah duanya yang kita kenal agent off change, agent off control, dsb. Hal itu seperti halnya kita mahasiswa punya banyak beban moral. Keberuntungan kita itu masih bisa belajar mengejar apa yang akan diaharapkan di depan kita. Maka dengan membaca akan dikenalkan apa yang bisa membuka cara-cara baru, bukan sekedar berpangku pada cara yang lalu.

Membaca adalah memiliki tujuan baru tanpa mengurangi kebaikan yang dulu yang masih berlaku hari ini. Membaca belajar sejarah untuk memahami arah ketika dimasa lalu ada hal yang sama dengan hari ini bisa saja bisa dibenturkan dengan sekarang yang mungkin saja masih bisa diterima oleh apa yang bisa menyelesaikan. Dan bisa menjadi refleksi dari berapa yang ada di masa depan kita.

Dalam diri manfaat baca juga akan cepat melupakan luka, luka terhadap cinta, akan lupa akan mantan hehe Karena dalam membaca akan ada pertarungan dan pertukaran logika dan naluri yang dirasa akan menjadi dialog panjang dalam diri dari apa yang diterima oleh logika dan naluri dari objek yang dibaca. Membaca ialah cara paling istemewa bagi para pemuja kesepian.

Katika buku sudah tidak ada yang mau dibaca, mari datang ke tempat kita ditoreh maos di gasebo depan gedung C FKIP Unisma. Setiap Senin membuka wahana baca, jika ada yang cocok bisa beli buku juga ada. Mari baca agar kita mengerti arti merdeka dalam jiwa.

Akhmad 2019

Sabtu, 11 Mei 2019

Cerita Seorang Penulis dan Pengemis



Menulis dan Mengemis

Gus Dur pernah berkata dalam fatwanya tingkat manusia itu ada tiga tahapan. Pertama manusia berada ditahapan paling rendah yaitu tingkatnya ada di Oral, kedua mendengar, ketiga menulis. Pada tahapan manusia ini memiliki kecenderungan harus memahami tingkatan ini mengukur refleksi diri. Evaluasi diri bahwa dasar manusia hidup dan manusia memfungsikan dirinya, bukan sekedar berada pada tahapan satu dan dua.
Tahapan ketiga ini akan menjadi tahapan paling akhir sebab manusia akan senantiasa mencipta; dari berbicara dan mendengar semua itu akan terangkum dan bisa mencipta sebauah dampak estetika pada manusia.

Dalam filsafat ilmu kita mengenal mulai dari Epistimologi, Ontologi, dan Aksiologi. Hal itu akan menjadi tujuan manusia terakhir tanpa disadari untuk bisa membuka ruang baru. Hingga memperhatikan sebuah evolusi yang tidak hanya memiliki dasar target tentang kebaikan dan memperhatikan nilai guna, namun di sini penulis berbicara tentang estetika.

Ketika semua hasil tercipta, menerima dari semua akan jadi harga sampai mana peristiwa dijadikan kesan: berharga manusia bukan akhir tujuan akhir, evolusi akan selalu bertahap mencipta sebuah revolusi, paling sederhana dalam diri mencipta, membuka cara baru dari sebuah realita yang nanti akan dijadikan kisah berharga cata-cara memberi nilai rasa kemamusian, hewan, dan Tuhan.

"Kegagalanku ketika tulisan belum selesai dari tujuannya"

Menulis kegiatan melukiskan, merekam sesuatu, menangkap apa yang ada dalam pengap, menghasil teks. Dari sisi lain menulis juga salah memasukkan naluri pada naluri kehidupan lain untuk memahami siapa dia dan masuk pada diri. Menulis meminjam apa yang ditulis Franz Kafka manulis merupakan ketegangan anatara menemui bahasa dan menemukan bahasa.
Bahkan dalam prosesnya menulis seperti halnya pengemis, mencari-cari sisa para manusia berharga. Jika uang berharga, tapi pengemis bukan sekedar mengukur adanya uang, mengukir adanya kepuasaan diri dan mencaci orang-orang yang tak bersimpati dan empati.

Tujuan dari mengemis mengikiskan grimis yang teriris. Rasa akan lebih tajam pada memahami menerjemahkan hidup. Menghirup udara didunia buta nostalgia hanya tersandar pada nuansa, pasrah menjadi arah arwah para dewa berbahasa.

Menulis dan mengemis akan memiliki cara melakukan praktik yang nyaris sempurna. Menghasilkan rasa tujuan utama dan memadukan. Pengemis mengumpulkan harga menjadikan kebutuhan diri agar mengalir kekuatan. Mencari sebuah apa yang ditampa agar bahagia. Menulis menemukan sabab kebahagian dengan sebutan luka bahagia. Membuka untuk membagi luka yang melahirkan bahagia.

Menulis sebagai akhir membagi rasa. Memberikan sebuah peristiwa dengan bahagia teks seorang penulis memberikan garis. Menebarkan estetika dari hasil oral dan mendengar. Bahagia menemukan luka dirasakan menceritakan dalam teks dan pembaca membuka bahasa pada yang diterima.

"Yang abadi bukan puisi, yang terjadi pada puisi"

Akhmad 2019

Jumat, 10 Mei 2019

Perempuan Pengoceh di Bulan Suci: Realisme Magis


Foto:Akhmad/buku ini salah satu karya realisme magis

Pertanyaan; Realisme Magis

Suasana kelas yang begitu pengap. Baju putih berkicau seperti burung paksi keluarnya seperti mentari bercahaya dikegelapan. Mahasiswa mengembara dalam dara pikirannya memaksa dibulan suci. Mengerti hati para caci maki dihati perempuan pengoceh tentang cerpen di depan. Ditekan dengan lancarnya air mengalir dari air liurnya pada kata-katanya. Proses kreatif dibahasakan bukan dipraktikkan.

Lontaran kata seperti angin yang menembus hatinya perempuan yang seperti halnya metologi Yunani sisipus. Hati diselimuti patri perjalanan. Hasrat melampaui batas-batas pikirannya cekcok hati dengan logika membuka rasa, rasa benci pada mahasiswa yang bertanya.
"Apa yang membedakan antara cerpen realisme, surualisme, dan absurdisme?"
"Realisme sesuatu yang diangkat secara rill dalam kehidupan di sosial, seperti contoh novel Pramodeya AT bejudul Tragedi Banten Selatan" dan contoh yang Surialisme karyanya Danarto Melati di Sayap Jibril, dan yang terakhir bahas tentang Absurdisme yang dibuat contoh cerpen jalan tegak lurus karya Iwan Simatupang".
Ucap dalam presentasinya dengan pengetahuannya yang disampaikan kedua perempuan di depan.
Jawaban itu menutuprasa malunya. Pembantaian habis-habisan kepadanya yang dilakukan oleh seorang yang punya kuasa di ruang kelas C303 dengan mengatur semua seperti halnya dewa mengutuk raja mendorong batu ke atas bukit tinggi dan menurunkan ke bawah dengan mendorongnya pula, kutukan ini istilah dengan miste sisipus.

Matahari tersapu redup horden jendela membawa tanya: bahwa terang matahari diselimuti awan putih menjadi perih hingga memerah seperti akan tiba reinkarnasi matahari. Gelap akan tiba sebelum total matahari diselumuti oleh sari-sari malam. Akhir kuliah telah akan berakhir pertanyaan dibuka kembali, tapi lontaran itu hanya pengusa itu menanyakan kembali kepada air yang masih mengeruh.

"Apa akan ada pertanyaan lagi, sebelum kita akhiri?"
Pemuda duduk santai dengan berbaju coklat mengangkat tangan, dan bertanya.
"Apa ada kaitannya pembahasan hari ini dengan realisme magis Pak?"
"Tentunya ini ada, tapi karya realisme berkaitan dengan fakta dan berkaitan dengan pola pikir logika dan magis dengan mitos budaya atau bisa saja kaitan kebiasaan yang menjadi  kebudayaan. Pembicaraan disambung lagi mengenai kebudayaan yang ada di Indonesia, mengenai asumsi dokrinisasi pada istilah hantu salah satunya berada pada anggapan adanya hantu; di Indonesia menu kok beberapa hantu yang dikenal seperti pocong, gendrowo, dan tuyul, sedangkan hantu di luar negeri ambil contoh di China ada Jiang Shi, di Mesir ada Mumi, di Rumania ada Drakula, di USA ada Zombi. Semua mitos di atas menjadi kebudayaan yang mendokrinisasi kita sebagai generasi paham akan itu.

Hal tersebut tidak lain tidak bukan; lahir dari banyaknya hasil anak tinta mengembara dalam diri manusia, mengalir pada otak dan naluri mamusia, hingga terbentuklah mitos tanpa disadari walau pada bentuk asli tidak dapat dibuktikan dengan sains secara signifikan tidak ada namun logika menerima, dan dalam raga membuka kepercayaan adanya hantu yang dibentuk oleh tradisi baca manusia yang masih ada.

Dalam suasana kuliah yang sudah tidak menjadi semangat bersama pertanyaan tentang Realisme Magis itu menjadi petaka bagi para mahasiswa yang benci akan pemahaman baru, atau memang membeci dengan tugas, dalam hati salah satu mahasiswa berkata mengapa masih kuliah kalau tidak mau tahu tentang pengetahuan. Bukannya pengetahuan intisari dari adanya kita semua duduk di ruang C0303 yang setiap hari pengap dan ada susu putih mengalir dari para sumber.

Salah satu mahasiwi langsung berkata
"Ini gara-gara pertanyaanmu itu, kita mendapatkan tugas baru menbuat cerpen yang beraliran realisme magis"
Penyesalan dan merasa malu ia; lalu berpikir tugas itu dikawatirkan akan semua bisa dan sabagai penanya juga tidak tahu menahu bahkan tidak bertanya karena tidak tahu.
Perkataan terakhir menutup akhir kuliah dari sang penguasa selama durasi 70menit dengan Sks.

Akhmad 2019

Minggu, 21 April 2019

Esay Flim Sekxy Killers Perspektif Bill Kovack dan Roesstille di Sepuluh Elemen Jurnalisme

Hmj,Pbsi.Unisma


 
Pembunuhan Cantik
Flim Sekxy Killers Perspektif Bill Kovack dan Roesstille di Sepuluh Elemen Jurnalisme

Ketika semua kebenaran diungkap secara
gamblang maka dunia akan mudah hancur
(Mahbub Djunaidi Pendekar Pena di Kompas)

Kesempurnaan manusia tidak akan bisa dimiliki secara signifikan, namun dalam hal metafisika manusia tidak akan bisa kita justifikasi baik dan buruknya. Karena dalam kehidupan manusia tidak bisa mengkotak-kotakkan sebuah penghakiman terhadap manusia. Parameter kehidupan ada dalam dampak bagaimana manusia memiliki danpat dan fungsi kepada kehidupan yang lain.
Dalam flim pembunuhan cantik ini, dalam perspektif penulis akan membuka cara berpikir yang mutakhir, walau tidak akan ada penyelesaian dalam berpikir, kecuali dalam pemikiran akan melahirkan sebuah tindakan, maka akan bisa melahirkan sebuah dampak dan dampak dari itu bisa kita apakah  akan memberikan nilai estetika atau cara-cara yang bisa manusia dirasa. Dalam teori kemanusian mempelajari Ilmu pengetahuan dampak paling sederhana dari tidak tau menjadi tahu, itu tahapan manusia belajar, yang kedua kita mampu mengimplemintasikan apa yang dipahami atau yang ditahu mengenai pengetahuan social bagaimana bisa berdampak pada social, namun ketika dalam pengetahuan tentang Tuhan bagaimana kita bisa mendekatkan diri dengan cinta, dan pengetahuan mengenai alam bagaiamana alam bisa kita jaga memeberi dampak padanya.
Flim Sexy Killers (Pembunuh Sexy) akhir-akhir ini menjadi sorotan kita. Membuka mata untuk bisa tahu mengenai konflik kemanusiaan yang didampakkan oleh kaum kapitalis atau orang-orang bermodal. Dalam flim ini kita mungkin akan merasa sangat iba dan simpati ketika melihat penderitaan rakyat kecil secara seginifikan yang harus menanggung kerusakan hutan, ekosistem, dan bahkan pada habblum minal-alam (hubungan dengan alam), dengan merasakan dampak dari keruskan hutan. Kita malihat hal itu tidak terlihat jelas, dampak itu hanya memberikan dampak tidak baik ketika memang kita memfreming dari segi ekologi dan kemanusiaan yang menanggung semua itu.
Sebenarnya kita tau yang namanya mengembangkan hutan, kala hutan masih bisa diambil manfaatkan  dengan cara baik-baik oleh manusia maka tidak akan memberikan dampak negative, maka pemerintah sangat memperbolehkan mengelola hutan. Karena rakyat kecil tidak ingin dipersulit asalkan lingkungan bisa menjamin dan tetap tidak merusaknya. Kala kita melihat orang Dayak yang hidup di tengah hutan tidak pernah ada kasus mengenai hutan. Ketika kita cermati mereka lebih menjaganya. Dan ketika mengingat dengan pidato Bu Megawati yang dipertegas oleh Alm. Gus Dur mereka mengatatakan pada tahun 2000 kalau tidak salah “Kala negara mengalami krisis kita boleh mengelola hutan dengan baik mengelola mengambil hasil dari hutan”, hal itu akan menjadikan kerangka berpikir kita. Ketika kita benturkan dengan yang ada dalam flim Sexy Killers ini. Ketika semua jelas kita ini teleh memberikan atau mempersembahkan serta dampak apa?, mari refleksikan bersama.
Mahbub Djunaidi pernah menuliskan tentang kebenaran dalam dunia yang merupakan data. Dalam tulisannya mengatakan: ketika di dalam kehidupan manusia memaparkan kebenaran secara gamblang maka  kwatir dunia akan mudah hacur. Dengan kalimat yang ditulis tersebut, kita bisa mengambil kesimpulan dalam flim tersebut ketika kita menemukan hal yang nyata tapi akan melahirkan cidera dalam berpikir, ketika menghakimi, bahkan akan membenci.
Namun kebenaran saja dalam hidup tidak harus diimbangi dengan kerja naluri. Dan naluri ini ketika ketika penulis benturkan dengan  jurnalisme warga hak-hak saja seorang Dandy Dwi Laksono itu haknya, dalam instansi Negara legalitas dalam projek flim ini juga jelas akan dilindungi oleh media, karena sudah menjadi lembaga secara legalitas.
Melihat proses ini dimualai dari 2015. Sebenarnya dalam flim bisa dikatakan eskpedisi Dandy Dwi Laksono, mereka sebelumnya juga seorang jurnalis Tv. Cerita singkatnya sebelum berhenti dari seorang jurnalis ia mengumpulkan uang untuk melakukan perjalanan untuk membuat flim dokumentar bersama dengan temannya namanya Ucok Saparta. Ekspedisi ini dikenal dengan Indonesia Biru karena banyak hal akan diceritakan mengenai Indonesia.  
Flim ini dalam pandangan jurnalisme tidak ada masalah dan dalam UUD 1945 di ayat 28E berbunyi setiap warga Negara Indonesia memiliki hak kebebasan berbicara mengkritik dan memberikan saran.   
Dalam Jurnalisme kita juga mengenal yang namanya sepuluh elemen jurnalistik yang dirumuskan leh Bil Kovack dan Rooesstile seorang jurnalis dari USA meriset dan wawancara mengenai kurang lebih dari 1.000.000 wartawan di dunia, untuk merumuskan itu. Bahkan rumasan sepuluh elemen itu menjadi dasar jurnalis di setiap Negara karena sangat relevan. Ketika kita bentrukan dengan salah satu isi dari dasar jurnalisme yang dirumuskan jadi sepuluh elemen jurnalisme. Yang pertama berbunyi “Kebenaran” dan yang terakhir “Hati nurani” hal ini akan menjadi pertentangan dalam flim ini.
Penulis mencoba menganalisa dari hal kebenaran hal ini akan menjadi pertanyaan dan akan menjadi jawaban kita kala manusia bisa memahami arti kebenaran yang secara jurnalisme adalalah kebenaran fungsional bukan kebenaran teologi atau secara atau kebenaran dalam ilmu eksakta (sains). Kedua dengan naluri manusia akan menghakiminya dan akan lebih ribet lagi karena setap naluri manusia bisa saja menerima bisa saja tidak. Namun dalam garis besarnya naluri manusia bekerja sesuai dengan kerja dan dampak manusia itu sendiri dalam mengenadalikan dirinya akan kemana menentukan objek?




Catatan kecil: akhmad mustakim
Dalam pemikiran yang penulis paparkan hanya ulasana sebagai pembaca. Jika ada salah kata mari diskusikan dan mari 
belajar bersama sehingga apa yang kami tulis sebagai bentuk pembelajaran bukan untuk menggurui atau sok tahu. Mari 
berpikir agar kita agar leluasa dan ketika leluasa kalau Ingin merdeka mari kita berdialektika dan saling menerima.


 

Rabu, 06 Maret 2019

Tiba Sebelum Berangkat





Buku judul: Tiba Sebelum Berangkat
Karya: Faisal Oddang
Tebal: 216 hlm; 13,5x20cm
Penerbit; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
ISBN: 978-602-424-351-7

            Dalam buku ini menceritakan tentang tragedi tahun 1950 latar belakang yang dijadikan cerita di Sulawesi Selatan. Menceritakan tentang sebuah penghianatan. Setelah Indonesia merdeka ternyata banyak lagi tragedy yang terjadi, mengenai DII/TII yang memiliki misi menjadikan Indonesia ini Negara Islam. Sehingga nantinya di Sulewesi Selatan akan ada konflik besar karena adanya sebuah kejanggalan di sana dalam gender, dalam fakta sejerah Bugis, di sana memiliki lima gender, berbeda dengan wilayah lain dan keadaan pada masa itu, ada pembantaian mengenai perbedaan budaya di Indonesia, khususnya harus sama dengan agama islam sesuai dengan zaman pada waktu itu.

            Lima gender di Sulawesi ini terdiri dari 1. Cewek, 2. Cowok. 3. Cewek berperan cowok. 4. Cowok berperan cewek.5. Bissu. Kelima gender ini akan menjadi pertentangan sangat besar pada tahun 1950, karena sebuah budaya dan tindakan yang dianggap tidak lazim di dalam kehidupan beragama Islam. Jadi rentetan knflik ini akan menuju pada tokoh dalam buku ini yang memiliki gender Bissu, yang memiliki posisi mulia di mata orang bugis dan orang dihormati. Karena seorang Bissu orang yang selalu mengantarkan kedua jalan seorang laki-laki kepada perempuan dan laki-laki kepada perempuan. Sebuah kisah di dalamnya juga menceritakan bahwa Bissu tersebut orang yang sangat di Muliakan, walau dalam segitu fisik biologis ia seorang laki-laki, namun laki-laki tersebut memiliki keanggalan dalam kepribadiaannya yang suka kepada kedua jenis.

            Dalam cerita buku ini, sebuah penghianatan, penyiksaan, dendam, kematian, amarah dan cinta yang muram diikisahkan  oleh seorang yang sedang berda dalam sekapan. Seorang tokoh Mapata yang memiliki reprsentasi dari kehidupan manusia yang tidak memiliki apa-apa, walau pada dasarnya seorang hidup itu memiliki pasangan yang katanya telah ditakdirkan. Namun Mapata tidak dia selalu mendapatkan reprsifitas dalam dirinya, semenjak kecil ia dirampas identitasnya.

            Dalam psikologi pembaca akan menemukan sebuah reprsentasi dari apa yang ada dalam cerita ini. Sejarah Indonesia di masa 1950 setelah kemerdekaan akan melahirkan sebuah konflik besar lagi, bukan lagi berbicara merdeka mengenai sebuah Negara namun sebuah kemerdekaan diri kita, kghususnya pembaca akan menerima bahwa pada masa lalu negera kita ada hal yang penting juga kita pahami dari budaya dan suku serta pembantaian terhadap kaum yang dianggap minoritas dalam beragama.

            Dalam psikologi penyair, bahwa Faisal Oddang ingin sekali tidak ada dikotomi, dan dari latar belakang Bugis bukan masalah agama menjadi hal tidak penting, namun agama sebagai abdi diri yang tidak perlu diberitakan mengenai agama kita. Bahkan dalam hal ini penulis ingin memaparkan sebuah Pratik-prakti agama yang akan dipersembahkan pada kehidupan yang baik, tercipta dalam karya, sehingga penulis senantiasa membawa dirinya serta karya pada ranah social kultur wilayahnya. Sehingga selalu tidak melepaskan zaetgaest jiwa zaman dalam karyanya.

            Psikologi karya sastra, dalam karya Faisal ini menawarkan hal kebaruan di era yang sangat moderniasasi bisa dikatakan ini karya kontemporer dikala karya-karyanya dikaitkan dengan sebuah budaya dan sejarah. Kedalam dalam mengemasnya Faisal sangat detail dan rinci. Sehingga karya-karyanya kaya meliputi karya fakta yang dijadikan fiksi sebagaiannya, hal ini bisa dikatakan Tiba Sebelum Berangkat ini karya yang meliputi sejarah, percintaan,  dan penderitaan yang tidak pernah dapat di nalar oleh manusia ketika masa sekarang.  Sehingga psikologi sastra dalam pegemasannya, bisa dikatakan menggunakan cara psikologi di bawah alam sadar yang dituliskan oleh Freud. Karya meliputi dari pengemasan psikologi tokoh dan narasi yang dibangun dalam ceritanya.


Kamis, 28 Februari 2019

Ulasan buku Sepontong Senja untuk Pacarku



Buku Sepontong Senja Untuk Pacarku
Karya: Seno Gumira Ajidarma 

Dalam buku ini menceritakan dua insan yang memliki sebuah prinsip besar. Tokoh yang bernama Alena dan Sukab. Kebesaran seorang pria (Sukab) memiliki perasaan yang begitu besar terhadap orang yang dicintai. Dalam potongan cerpennya mengatakan "Aku Memberikan Sepontong Senja ini untuk Alena, sebagai kebesaran cintaku padamu, aku memberi bukti tidak hanya memberikan kata-kata atau bahasa, aku menganggap semua kata-kata tidak ada gunanya lagi sekarang semua orang bisa berkata-kata dan berbahasa, tanpa mendengarkan kata-kata orang lain, maka aku persembahan sepotong senja ini untukmu Alena sebagai bukti", pembuktian dari seorang laki-laki kepada pasangannya begitu besar namun kefatalan kala hal itu berlebihan, apapun yang berlebihan tidak baik. Kebesaran berlebihan kadang menutupi kekurangan diri bahkan membutakan hati seorang untuk persembahan seorang yang diyakini bahwa Alenalah membuat hidupnya berwarna.

Seorang Alena dengan komitmen tinggi tidak menerima apa yang diberikan kepadanya, sebab cinta tidak harus memberikan sebuah persembahan yang istimewa kepada seorang, cukup apa adanya untuk bisa membuat bahagia walau besar persembahan, namun belum tentu menjadi keinginan hati. Dan ketika tidak diharapkan maka bukan kebahagiaan didapatkan namun kesengsaraan bagi orang banyak terhadap apa yang dilakukannya. Membutakan hati manusia jangan terlalu berlebihan dalam mencintai. Dengan seperti itu akan ada kerugian besar atas cinta yang harus dibagikan ke manusia, alam, dan hewan maka di dunia ini manusia harus bisa memiliki rasa kasih sayang yang sama untuk diberikan kepadanya membagi atas ketika yang disebutkan itu. Sebab manusia memiliki hak membagi karena manusia yang sempurna mampu mencipta dunia dan membawa dunia.

Kekuatan rasa yang ditunaikan oleh Sukab terbentuk karena dipengarui latar kehidupan Sukab yang ada di pesisir, yang setiap sore melihat keindahan senja berwarna kemerah-merahan. Sehingga terbentuk keinganan besarnya, dengan jiwa zaman dirinya memiliki kekuatan atas segala yang ada pada jiwanya yang terus hidup. Sebuah perjalanan untuk mencapai sebuah tujuan utama Sukab mempersembahkan cintanya pada Alena dengan memberikan persembahan yang berbeda dengan manusia lainnya, ketika semua orang mempersembahan cinta dengan cara berbahasa Sukab menghindari hal itu, dengan tujuan membawa dirinya mencapai kebahagiaan walau semua orang mencari apa yang dicuri kala sore itu.

Beberapa lama Senja berada ditangan tukang post, dan semua manusia mencarinya senja tersebut. Ketika itu menjadi idaman semua manusia keindahannya, dan semua orang mencarinya ketika senja itu hilang. Seluruh manusia di dunia merindukan dan semua ingin merasakan senja tu.Ketika senja itu hanya diberikan kepada satu orang, manusia yang lain akan merasakan estetika apa ketika itu dipersembahkan pada orang yang special, tentunya seorang Sukab sangat egois. 

Dalam artian sederhana dalam karya Seno Gumera Ajidarma itu Sepotng Senja untuk Pacarku bahwa jangan terlalu berlebiha dalam mencintai. Namun interpretasi lain dari Sepotong Senja ini, bisa dikatakan ini memberikan sebuah tafsir lebih dari sebuah pengorbanan dan senja sebagai alat merayu. Bisa pula senja yang dimaksud oleh penulis berbeda makna. 

Beberapa kali melakukan diskusi mengenai karya SGA yang Sepotiong Senja untuk Pacarku. Senja yang diberikan kepada Alena, itu bukan alat merayu dan bukti memberitahukan rasa. Melainkan senja itu ialah sebuah keadilan yang harus bisa dinikmati oleh banyak orang dan semua orang banyak yang menginginkannya dan semua orang harus merasakannya. Jadi, Sukab tidak boleh memberikan keadalilan tersebut pada satu orang saja, karena keadilan ialah tujuan semua manusia bisa rata. 

Dalam potongan cerpen lain, Alena menanggapi pengorbanan Sukab sesuatu yang tidak baik "tolol" ucapnya. Yang dilakukan kepadanya bukan sebuah peruangan yang konyol, persembahan senja itu tidak hanya harus dimiliki seorang saja, semua orang harus memiliki. Pengorbanan yang seperti itu bukan membuat saya suka kepada Sukab kata Alena malah menganggap Sukab tidak memiliki sikap yang apa adanya, dan tidak memahami perasaan Alena, kalau pengorbanan besar merugika orang lain tidak pantas dilakukannya. Karena jelas Alena tidak menerima pemberian itu dan pada potongan cerpennya mengatakan bahwa "Aku tidak mencintaimu Sukab". Cara itu malah membuat tambah marah besar, kebahagian bukan diukur dari ukuran yang besar namun dilihat dari ketulusan, Sukab mencoba menutupi diri bahwa pengorbanan luar biasa menganggap hal itu sempurna. Semua itu salah dan Alena membenci lantaran ketidak jujuran dan pengorbanan cintanya merugikan orang. 

Terima kasih ini ulasan buku sederhana mengenai apa yang saya baca. 

Sabtu, 16 Februari 2019

Catatan Kecil



[17:49, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Ia yang menolak bukan karena hatinya mungkin karena keadaanya.
Kegelisahanmu membuatku berpikir, berpikir tentang cinta yang belum bisa ditentukan pada objeknya, lantaran masih saja dalam kerumitan hati yang berdamai dengan diri. Untuk hari ini yang lagi patah hati bahasa romatisnya. Namun itu bukam keseriusan dalam hidup bahkan bukan ke fatalan dalam hidupnya. Cinta masih saja berada dalam sela di mana kita masih bernyawa dan akan selalu memberikan kesempatan tatkala kita masih berada dalam paling sunyi dan sepi.
Jangan jadikan hari ini terakhir dari sebuah persoalanya apalagi mengenai cinta. Jika Buya Hamka pernah menuliskan hanya orang-orang besar yang mengalah dalam percintaan, dan orang itu akan lari ke politik, menulis sair, dan mengarang buku. Apakah kita akan berada dalam keadaan paling kejam menganggap semua ialah akhir.
[17:50, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Dek nitip tulisan hp ini mau dikembalikan ke orangnya. Jangan dihapus ya.
[17:50, 1/18/2019] Komariyah: Ok ok kak
[17:50, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Yang telah pecah mencoba merampungkan kembali, tapi tak mungkin kembali sempurna:apalagi harus mengembalikan kesucian diri yang telah dicemari kebejatan mereka yang ganasan nafsu tak beradap dan bersahadat.
Paling panas dan ganas pada mereka yang punya hak memecahkan deritaku, tapi narasiku dipenggal tanpa berpikir pangkal cikal bakal masalah, ditanyakan.
Aku pergi mencari jaksa bijaksana tak memukan, padahal di rumah sendiri: hanya pandai membuat sistem bagi pelanggar kesalahan, namun enggan mau tau persoalan yang akan diselsaikan.
Bahkan ada yang berkata akan menjadi citra rumah kita.
Aku merasa harus Membenci, mencaci yang tau tapi membisu. Dan aku coba cari pensuci diri, dari mereka kuli tinta pers mahasiswa.
Dengan kata yang tak mampu menyelesaikan, namun membuka mata hati manusia tentang fenomena.
Hingga pada akhirnya semua berdiskusi berpuisi, sebagai bukti, bahwa dirimu masih suci pada haknya sebagaimana manusia, kata-kata tenaga akan selalu berpihak padamu yang disandra biang pendosa.
[17:50, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Kesempurnaan sejati bukan ada dalam bentuk diri. Banyak dari diri sempurna masih merasa jauh dari kata paling bahagia dengan apa yang dimilikinya. Tapi, semua manusia bisa melihat apa yang dimiliki dan dipunya secara material.
Ril bukan tentang akan dirinya yang menganggap begitu ada pada manusia.
Kesempurnaan hidup ada dalam setiap rasa paling sederhana memaknai sebuah perjuangan. Perjalanan ialah cara terbaik setelah hasil yang dianggap paling baik, pertanyaannya akan ada diantara mereka hasil sebuah perjalannya.
Bukan Stefen Hawking, keadaan nyaris sama dan kesempurnaannya ada pada dirinya yang semangat ketika menjalani hidup. Ketika membayar kopi dengan saku yang terbuka dan dompet miliki sendiri, diriku merasa bahwa aku masih jauh dari sempurna dalam bentuk, namun semangat dan pikirannya jauh sepertinya ia lebih sempurna.
Lebih baik belajar dari orang-orang yang sepertinya kekurang kaki, serta fisik, dan cara berbicara. Karena mereka yang begitu bebih sempurna dari pada kehidupan manusia normal.
Anggapan dan cara pandangnya sangat tajam merasuk dalam relung palling dalam, bagi manusia yang begitu menggap tidak seperti manusia lainnya.
[17:51, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Saat jalan sudah ditemukan dikala telah melewati rimba, lahirlah bayi baru dalam rasa paling dalam. Kekejaman mereka sebagai manusia merasa bahwa tersial berumur tua.
Hari dianggap paling keji, aliran air telah tak dianggap lagi kehabsahan arti.
[17:51, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Akhir-akhir ini saya Milankolis dan sejenak berpikir tentang fenomena yang dibuat manusia, Ada artis yang terkena kasus porstitusi, ada pula pilpres tahun ini tidak kalah hebohnya. Ada pula yang paling menyedihkan, pembantaian atas buku-buku yang dianggap bahaya.

Ada daerah ingin cerdas anak mudanya, namun cara menghormati sumber tak bijak: buku baru disita, apakah ada rasa phobia pada buku, kwatiranku belum membaca satu pun dan tidak tau isinya, menghakimi bahwa sumber buku itu adalah aliran keras dan bahaya, membahayakan pikiran dan negara.

Bahaya?, yang tak tau arti dari bahaya buku, bahaya tidak baca, apakah bahaya dalam ketakutan berpikir, apakah tidak suka membaca sehingga menyandra. Milan Kundera seorang novelis Rusia pernah menuliskan "Mudah ketika menghancurkan negara, cukup hancurkan buku-bukunya, maka negara tersebut perlahan akan hancur"

Bahaya ada dalam diri terbentuk dari dalam, ketika buku dibaca akan tidak menjadi bahaya, sebab manusia akan membawa dirinya pada taraf IQ yang tinggi menyaring setiap yang dibaca: bukan dihanguskan bukunya dan mempersempit baca, lebih kejam ketakutan manusia yang belum baca.

Selamat kepada pecinta buku, mungkin akan tidak pernah mati muda dikala buku yang dibaca nilai guna dirasa manusia dan membangkitkan rasa cinta lebih tajam terhadap pencipta, manusia, dan lingkungan sekitar kita.
[17:51, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Tetangga pulang dari Jakarta tatkala bertemu berkata yang pernah menyusuimu sudah tiada, kau tak perlu menuliskan puisi padanya tiada dan berharga, kau di sini aja bersama yang membesarkanmu.

Otak dan Naluriku pecah bukan hanya puisi yang ku tulis menjadi sakti dalam karya tulis: azimat dalam kata suci yang menembus langit tujuh merayu Tuhan itu membuatku tak tahu arah.

Perasaan cinta dikala seorang laki-laki hebat tiada kalah, namun kata-katanya yang mampu menembus langit tujuh arsy dalam jiwa dipertanyaan menuntut. Masih bisakah tanpanya berjaya dan bagaimana membalasnya.
Bukan tentang cinta tapi mengenai jasa
[17:51, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Anak kecil berkerudung pink, lucu
Berbahasa Inggris dengan ibunya: membauat ketinggian diri dan iri anak muda yang menggenggam buku Ziarah Karya Iwan Simatupang terbakar ketinggianya, terlalu kerdil menganggap dirinya.

Perpustakaan 12/01/2019

Menunggu cara terbaik, menguji kesabaran dan menjadikan kita belajar kesukarelaan: tersial yang ditunggu hilang dan tak ada kabar yang datang, Yang paling menyakitkan berjanji tuk datang setelah dzuhur malah hilang. Perpustakaan obat paling mujarab saat berharap menunggu janji.

Dari lamanya menunggu banyak pengetahuan baru, pengetahuan karakter yang ditunggu dan berartinya waktu.
Menunggu ialah pilihan bagi yang selalu toleran, meminta maaf dengan mudah sebenarnya membuat dirinya celakah.

Lama-lama akan menyesal dan akan melahirkan pilihan.
[17:52, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Diskusi banser di pinggir jalan pecah lantaran otak dan jalannya itu satu arah.
Dedaduanan hijau tak berbunga, air mengalir bersinyalir dengan perjalanan anak muda yang berjuang bagaimana, belajar di kelasnya segera berakhir.

Kucing menatap tajam, pikiran mulai suram jalan aspal berwarna pelangi bukan estetika terpancar melainkan percikan nostalgia bunyi kucing merengek "Kau manusia tak pantas putus asa"
[17:52, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Berlari alang kepalang bagaikan dikejar-kerja anjing dikala sakit, tapi akan lebih kencang berlari, walau rasa sakit serasa mati rasa lupa akan semua: pada akhirnya umurnya luka dikala tanpa tanda tanya, dan sementara akan sia-sia dengan dusta berdamai dengan suasana.

Teman-teman masih berkata dengan bahasa kau masih muda tertawamu lebih banyak dari deritamu, dan tidurmu masih lebih banyak dari kerjanya.

Siang lupakan umurnya ingatlah kerjanya
Malam lupakan tidurnya ingatlah kekejaman malam sebab bukan dalam mata gelap saja malam bisa dirasa: tatkala masa muda kita banyak mencerna buku sebagai sumber pendewasaan akan tua lebih awal kita, dikala berlari walau masih penuh tanda tanya tapi rasa akan selalu ditagih pada ia yang menunggu.
[17:52, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Lari-lari dikira ada yang mengejar, bunga-bunga di pinggir jalan banyak. Namun tak ada yang seharum di otak manusia.
Jalan Dinoyo macet jarum jam tangan menunjukkan pukul 14:35 mahasiswa semuanya masih harum,

Ada janji di perpustakaan hari ini, sepertinya tak ada usaha karena dianggap tak penting, jalan terlalu ramai dan semua budek. Mending ku lari pergi ke danau menyelamkan diri agar tidak tau ombak di atas sana dengan keramaian tanpa arahnya.

Bukan ku apatis atau egois tapi hanya dengan seperti ini umurku terasa
[17:53, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Aku menyapa alam dengan kata
Aku menyapa laut dengan kata
Aku menyapa bumi dengan puisi
Menyapamu dengan isi hati yang dikemas dengan puisi
[17:53, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Bung Hatta pernah berkata merdeka itu tengang rasa ketika sudah merasa dengan rasa paling nyata maka itulah merdeka
[17:54, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Bahagia tidak sederhana karena tidak ada parameternya
Yang paling sederhana suasana dan rasanya
Saat getaran hati merasa tenang itu puncak manusia menemukan arti dan makna dalam hidup
Bukannya yang redup selalu tak pernah diaanggap
Yang tanggap itu sesuatu
[17:54, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Membaca teks memperluas pengetahuan
Membaca konteks mempertajam perasaan
Membaca persoalan memperdalam pengalaman
Membaca kebijaksanaan mempertajam perasaan.
[17:54, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Sepi adalah kebahagiaan bagi yang mencinatai kemerdekaan
[17:54, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Pada pelajaran memahaki warna hanya biru yang aku tau. Jika hijau menjadi menjadi biru daun sedangkan hijau berapa lama kala menghijau?, berapa lama kau bertahan diinjak tetap menghijau, warnamu akan memudar saat keadaan yang dipandang. burung pipit menyapa dengan bahasa dingin dikala matahari menutnjukkan kudrot dirinya: dengan rasa sempurnanya. berapa lama rasa cinta bertahan dengan warnanya  yang penuh tanda tanya.

Mengahdapi kriput yang tak istimewa lagi
Mengahdapi keramaian anak yang ramai merisaukan lantaran bapak belum bekerja yang cukup
Menghadapi, Menghadapi, Menghadapi. yang menyedihkan
Ada yang berutung saat menghadapi.

Kala itu pula warna hanya menjadi pelengkap nama yang utama seberapa warna itu berada
[17:55, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Saat aku bersabda melalui puisi; akan menanti sebuah arti yang lahir dari puisi
Kata dan diksi yang dibacakan dengan rima yang diterima pembaca,  memanjakan aku yang menulisnya.

Saat aku bersaksi Allah Tuhanku; akan menanti anugerah apa yang Tuhan beri.
Saat aku bersaksi Nabi Muhammad nabiku sebagai panutanku; akan menerima kelembutanmu, namun tak sama dengan kelembutanku.

Saat sabda-sabda nabi dibaca aku hanya mampu menerima bahwa kata indah itu mampu membawa pada suasana tenang.
Layaknya embun pagi yang menanti kami masih sibuk dengan menunggunya estetika

Sedangkan pagi masih saja belum dinikmati, telat dalam menyambut surga di saat pagi.
Menanti itu hal yang dengki bagi yang membenci, mempermainkan sepi dengan kerja tak berarti
Ibu; masih saja ada dalam sanubari bekerja dengan doa berkasih dengan kisah berbuah dengan tumbuh
[17:55, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Mendidik generasi dengan literasi
Maka negeri tidak akan mudah mencacimaki
[17:55, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Saat pagi datang seperti ada yang kurang bahwa matahari belum tepat waktu datang.
Saat koran datang tak ada kabar ada yang kurang dalam pagiku
Kala pagi telah dapat dinikmati maka akan ada pelengkap yang ddiharap: mengenai kopi yang mampu aku nikmati.

Dengan kata saat pagi berharap akan ada kata yang estetika dari yang paling ditunggu disaat pagi bahwa yang paling di nanti dalam hati ia yang selalu menyimpan rindu padanya.

Zikirku terganggu oleh namamu
Tuhanku terganggu oleh serpihan tatapan matamu
Nabiku aku saksikan ada dalam etikamu padaku

Namun tiada Cinta selain Engkau
Tiada yang menggantikan Engkau
Sebab Cintaku melampaui batas manusia yang bukan hanya pagi yang bisa dirasa; namun sore dan petang dirasa Cinta karena substansi dari Cinta.
[17:55, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Kau masih saja seperti halnya puisi:
Setiap yang aku tulis berbunyi tentang hati
Bersedu mengadu pada kertas kosong bagaikan ayah darinya
Seandai manusia paling bisa adil cinta akan menjadi bijaksana

Kau masih saja seperti hati yang suci membahasuhi kekurangan diri memiliki rasa saling melengkapi
Untuk bersikap lembut dengan objek

Setiap pagi kau masih saja bersigema dengan angan bersama secangkir kopi
Dan berharap kau: akan seperti cangkir kopi tanpa disadari akan selalu menerima pahit, manisnya kopi yang  murni

Kombinasi kopi dan gula sudah hal biasa yang luar biasa kopi tanpa gula kau masih seperti halnya cangkir menampung setiap ampas sisa kopi yang rasanya tanda tanya; namun masih saja ada dari makna ampas kopi
[17:56, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Sore ini menggoreskan hati
Detik akan menyambut mega setelah fajar
Badai akan berlalu berdamai dengan persoalan
Mengenai rasa dan suasana
[17:56, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Sunyi itu perlu terkadang buntu
Sunyi itu sama halnya rindu kadang kelabu
Sunyi itu keadaan cinta harus memaksa
Sunyi itu rasa harus menerima
Ketika sunyi dipahami hati yang ada bahagia.
[17:56, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Bahagia itu sederhana memaknaimu dalam rasa dan cipta dalam cara itu luar biasa
Bahasa sederhana paling bahagia mengetahui keadaanmu keabrabanku seperti hujan dan airnya
Seperti cinta dan caranya

Berbeda menjadi sama
Bersama menjadi lama
Jauh tersingkuh
Kau datang dalam keringat cinta yang dibanggakan saat usahaku kau akui
Atas dasar cinta
[17:56, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Ketika aku cinta denganmu aku menitip rasa padamu
Ketika aku titipkan rasa padamu aku mengutip cita namamu dalam puisiku
Ketika aku melingkarimu dengan rantai cinta aku menitip ketidak bebasan atas cintaku lagi kecuali sang ilahi.
[17:57, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Ada di antara kita ingin hidup berapa lama dengan cita-cita bahagia
Ada di antara kita ingin berharga dengan cara beragama
Ada di antara kita bernostalgia dengan cinta hingga lupa esensi bahagia
Pertama yang berharga, kedua berestetika, ketika beretika
[17:57, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Aliran air dalam tubuh saksi dalam langkah
Mengalah untuk melawan keadaan
Memperjuangkan tanpa mempersoalkan
Langkah kaki yang berbeda akan selalu kedapan dalam kepastian.
Keringat makna dari semangat
[17:57, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Hidup bukan tentang bagaimana tapi bisa merasa: cinta adalah cara yang paling mulia.
Diriku lemah dan sombong atas bahasa itu.
Semoga Tuhan akan menghapus rasa itu padaku: apa memang itu dicipta untukku
[17:57, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Tempat yang nyaman yang mampu memberi kenangan
Ketenangan pucak tawa manusia bersama dengan goyangan rumput serta desir angin yang berangkat dari ingin lahir dari angan.

Suasana adalah cara belajar: belajar mencintai dan dicintai
Keadaan adalah perjalanan yang selalu hadir dalam waktu yang terkadang tidak setuju bahwa masa lalu keadaan tentang masa lalu yang menjadikan aku tanpa menjadi kau:
Kini hanya kenyaataan yang selalu ada bersama cinta tanpa derita atas nama cinta yang selalu bernostalgia dengan elegi bersamamu
[17:58, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Butuh satu malam untuk jatuh cinta
Butuh sepertiga malam untuk memahami cinta
Memahami sunyi malam yang berarti
Perlu pengasingan dari orang-orang: meleebur dengan yang dicinta pencapaian terakhir: setelah cara
[17:58, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Kau datang tanpa kabar
Kau mengisi tanpa arti
Kau ada tanpa sebab
Dirimu berarti aku disini menyendiri
Mendekte hati telah berapa banyak kau telah kusebut "nyaris" setiap aku lihat wanita aku baca wajahmu.
[17:58, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Saat ku mesra dengan alam
Aku lupa dengan hilir air mengalir

Keindahan alam menjadi seram
Keindahan perjalanan terobsesi pada kekejaman Tuhan

Aku yang harus disalahkan
Apa aku yang harus membelah hati: memeriksa jiwa memaknai arti menjiwai apa yang dicari

Apa lantaran hati terlalu busuk hingga sayang, cinta dan nikmat tak terjawa jawab oleh hati
[18:00, 1/18/2019] Kak Ahmad Feno: Wajahmu masih suci untuk menyerap ilmu yang pasti
Rengean kesahmu membuka tabir kecemasan dalam jalan hidupku
Ku masih beruntung bersyukrlur atas yang dimiliki
Pendidikanku masih kah dibutuhkan saat keadaan ia sangat memiriskan
Dengan keadaan: sekolah seolah hanya mengisi kekosongan

Wonokoyo 2018