Jumat, 12 November 2021

MASA DEPAN DAN MODERNISME


"Apakah suatu saat nanti, di Abad 21, ketika ada seorang dengan tidak sengaja mencabut aliran listrik (saklar) robot, atau colokan. Entah seorang tuan yang punya robot, atau bukan akan mendapatkan hukuman (penjara). Karena secara tidak langsung manusia di masa depan akan berdampingan hidup dengan robot. Tidak dipungkiri konteks ini bisa saja terjadi pada 10-20 tahun akan datang di Indonesia, mau seluruh dunia. Bisa saja ada pasal jika manusia yang melukai robot akan dihukum, dengan pasal... !"

Anekdot di atas dapat dikatakan sebuah kritik terhadap kehidupan sekarang yang memiliki refleksi di masa depan. Tentu dalam konteks ini, tidak lepas dengan perkembangan teknologi-yang merupakan anak kandung dari modernisasi dan postmodernisasi-yang ditandai dengan pesatnya teknologi berkembang tak dapat diberhentikan bahkan tidak dapat dibendung, semua berselancar pendampingan. 

Perkembangan teknologi hari ini terjadi dapat dikatakan anak kandung modernisasi. Bukannya pengaruh perkembangan ini memiliki dampak negatif saja dalam kehidupan manusia yang berupa; peradaban, agama, budaya, dan mental. Secara personal di negara manapun tidak dapat dipungkiri fenomena tersebut. Bahwa kehidupan dan kemajuan teknologi akan sangat kental dengan kita. Begitupun juga tidak dapat dipungkiri akan mmemilik terdampak positif, hanya saja bagaimana manusia sebagai subjek sekaligus objek akan membawanya. Dibawa atau digerakkan ke arah kanan, kiri, dan bahkan di tengah-tengah: tugas subjek. 

Dalam jurnal berjudul "Pengaruh Modernisasi dan Globalisasi terhadap Perubahan Sosial Budaya di Indonesia" (2017), disusun oleh Robby Darwis Nasution, dijelaskan dampak positif dan negatif modernisasi, yaitu; 

Dampak Positif Modernisasi

1. Adanya transfer teknologi dari negara maju kepada negara berkembang sehingga berdampak pada kemajuan pembangunan. 2. Semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, 3. Adanya modernisasi membuat cara berpikir masyarakat berubah, semula irasional menjadi rasional. 4. Tingkat kehidupan menjadi baik karena berkembangnya proses industrialisasi. 

Dampak Negatif Modernisasi 

1. Budaya dalam negeri perlahan tergeser oleh budaya luar negeri karena kemudahan masyarakat untuk mengakses bu saya luar negeri tanpa adanya filter sama sekali. 2. Munculnya budaya hedonisme dan masyarakat konsumtif. Hedonisme adalah pandangan hidup yang menganggap bahwa tujuan hidup yang paling utama adalah kesenangan dan kenikmatan. Bagi penganut budaya ini, mereka menjalani hidup sebebas-bebasnya demi memenuhi hawa nafsu yang tanpa batas. 3. Sikap individualisme lebih mendominasi . 

Pandangan di atas merupakan reduksi dari kehidupan masyarakat secara personal di kalangan sosial. Positif negatif akan menjadi renungan bagi kita. Tidak hanya bicara tentang kemajuan diri yang mengambil peran nantinya. Hal tersebut tidak hanya bicara tentang hidup personal melainkan bagaimana mengembalikan kita pada ranah sosial yang memang hidup kodrati manusia (human society). 

Masyarakat yang merasakan modernisasi dan mampu menguasai, akan cenderung menikmati apa yang telah didapatkan. Tentu dampak tersebut berkaitan dengan cara menikmati, sebab dampaknya kembali pada diri, yang mampu mengendalikan teknologi. Kecakapan itulah akan menjadi nilai lebih di masa sekarang dan masa depan. Maka resep persiapan untuk abad 21 yang perlu digaris bawahi, dapat menemukan tujuan masyarakat yang kemungkinan dan kepastian yang akan datang tidak dapat dipungkiri terjadi krisis mental dan kaget teknologi.

Apa yang paling vital yang terdapat pada modernisasi perlu disiapkan oleh umat manusia. Pada intinya yaitu, gagap teknologi, mental, dan kemampuan literasi; Literasi digital, agama, dan budaya. Namun, ini juga perlu peran-peran positif mampu memberi dedikasi, kepada orang yang ingin memberi kontribusi dari. Hal tersebut perlu yang namanya revolusi diri dan direkonstruksi lagi dirinya.

Habib Fajar, di podcast Endgame, mengatakan  kurang lebih begini, "Generasi hari ini perlu pembangunan imajinasi yang kuat..." Perkataan tersebut dapat diartikan. Bahwa pembangunan logika berpikir secara substansi dan mencoba menyederhanakan agama yang begitu rumit jadi bisa dinalar dan rasional menjadi sederhana. 

Secara substansi redaksi tersebut, manusia secara tidak langsung dicipta dengan pemahaman non-rasional dengan keyakinan--yang perlu diingat-ingat kembali. Karena secara terdidik sering terjadi orang terdahulu mengajarkan sesuatu dari penguasaan imajinasi. 

Mundur kebelakang mengapa kini perlu namanya imajinasi, seorang ilmuwan Albert Einstein, lebih suka berimajinasi daripada belajar. Bahkan di dalam al-quran telah menjelaskan secara detail dan konkrit. Kurang lebih bunyinya seperti ini secara arti bahasa Indonesia, "berpikirlah sejenak menggunakan hati, sama halnya dengan sembahyang 100 tahun." Sangat indah makna tersebut jika direduksi secara pandangan general. Tidak ada sekat, kecuali kita diajak lebih banyaklah berpikir (penggunaan imajinasi).

Mundur ke belakang masa kecil kita, yang mana sudah jelas jika masa kecil kaum muslim hanya diberi percayaan dengan sebuah kekuasan bahasa dan harus iman-seimannya, ketika itu, kita masih kecil, bagi umat islam hanya disuruh baca syahadat dan yakin kalau kita beragama. Ini salah satu potret. 

Narasi ini jika dilacak secara pasaran (umum), bahwa masyarakat kita hari ini, ketika dibaca dimulai dari segi periodisasi tahun, dapat manusia yang lahir di tahun 2010-an hingga sekarang. Hemat penulis, generasi tersebut telah memiliki pergeseran pola pandang--yang dari konkrit ke abstrak. Berbeda dengan masa dulu 1990-an, pola tersebut dimulai dari pola pikir abstrak ke konkret, dulu. Jadi, logika hari ini cenderung dominan sudah tidak mengandalkan imajinasi, melainkan logika rasional yang objeknya dituntut material. 

Dalam pandangan rasional ke depan ini. Memandang masa depan akan kehidupan lebih berkembang tidak lepas dengan adaptasi teknologi, sains, dan kecakapan berimajinasi--yang dapat belajar sejarah agar kuat referensi perkembangan ke depan lebih terarah. Potensi hidup manusia yang tidak hanya mengedepankan intelektual melainkan spiritual rasional dan menjadi pengetahun. Beginilah. 


Rabu, 10 November 2021

TUGAS, INGATAN, DAN HAL-HAL YANG MEMBEKAS

catatan bukan sekedar ngopi, ke III


"Ariel Haryanto, mengutip YB Mangunwijaya, yang mengatakan Pidato Kennedy presiden Amerika ke 35 ditahun 1961, berasumsi kalau itu kutipan dari Cicero, mengatakan: andai politikus sedikit memahami puisi, dan penyair sedikit memahami politik, maka dunia akan menjadi tempat yang sedikit lebih baik." 

Kutipan di atas bentuk pesimistis terhadap pengetahuan politik. Tapi, paling sederhana saat memahami kutipan di atas mengajarkan kepada kita untuk memperluas pengetahuan, mempertajam, dan memperhalus pikiran. Dan pentingnya menulis puisi, yang dapat dijadikan terapi psikologi menghapus luka atau menangkap peristiwa menjadi tawa. 

Dan seorang teman bertemu dan berkata "ini tulisanku kemarin; puisi ditulis saat tidak bisa tidur dan mengiris-iris kenangan, lalu menuliskan puisi, ini jadi.!!" Begitulah percakapan dimulai. Begitulah pertemuan yang mungkin jadi jalan baik kita semua. 

Adalah mereka bertiga. Bisa dikatakan, mereka teman yang baru. Tidak dengan Deri yang sudah lama akrab, bahkan pertemuan ketiganya tak hanya duduk tapi ada banyak hal yang telah dilakukan dari beberapa pertemuan; mengerjakan tugas kuliah atau diselingi dengan pembicaraan tentang puisi, perasaan, dan logika sosial, bahkan material. Lebih menarik lagi rasan-rasan masa depan. 

Setiap pertemuan dan kejadian di dalam hidup hanya ada dua; pertama memiliki kesan yang kedua pesan. Akan tetapi, tidak semua punya keduanya, tentu ada yang sekedar sampah yang perlu didaur ulang, ada pula yang paling ideal tak sampai membicarakan, atau paling tidak baiknya bicarakan hal-hal buruk orang lain. 

Jika tentang self improvement, penulis Indonesia pernah menuliskan, "tetaplah melangkah, cintai semua jangan ada yang dibenci" masih saja happy dan masih mengingat hal-hal buruk dan baik saat melangkah sudah bagian dari hidup. 

Pertanyaan tentang self improvement itu tak akan pernah dijawab dengan baik. Sebab masih saja perlu banyak memahami lagi tentang diri dan perkenalan kepada diri agar punya energi positif, dan apalagi tentang hujan yang kini belum selesai, dan ia masih saja dalam kondisi baik-baik saja. Begitulah. 

***

Namanya Umi Latifah, katanya ia sedang belajar menulis puisi. Pertama kali bertemu di malam itu, ia menyodorkan tulisan. Awalnya ragu-ragu malu karena masih menyangka kalau puisi yang awal ditulis hasilnya buruk, tapi ia tetap memaksa karena tujuannya belajar. Mula-mula ragu. Tapi, dia percaya dengan puisinya kalau hasilnya baik dan dapat jadi trapi hidupnya. Saat dibaca memposisikan sebagai pembaca. Puisi yang berjudul 4,5. Dari judul puisi tersebut sudah merepresentasikan perjalanan hidup bersama dengan-nya (yang menjadi objek puisi). Si aku lirik dalam puisi mencoba mereview ringkas perjalanannya, situasi tersebut bukan kondisi baik-baik saja, tapi psikologis sedang berusaha membiasakan semuanya (berdamai dengan diri). Puisi yang diciptakan saat gelisah insomnia akan lebih subjektif, karena si aku lirik bukan menggambarkan situasi, melainkan keadaan diri digambarkan lebih personal. Bagi penulis puisi awal wajar dan bagus, patah hati jadi produktif. 

Mengingat dengan absurd yang di dalam puisi. Kata "debu" secara personal masih memiliki personal. Dalam puisi dikenal dengan penggunaan metafora. Kata "debu" dalam puisi itu menggunakan metafora alam yang memiliki perluasan makna bisa menutupi hal kecil pada sebuah lukisan dan tidak membuat bagus lukisan, lantaran debu tersebut. Penulis menjawab puisi tersebut debu sebuah usaha debu menutup segala lukisan indah dan buruk. Jika pendapat personal sebagai pembaca kata "debu" bisa dijadikan debu pembalut luka. Sebab itu mewakili segala kecewa di masa lalu. 

Sebagai teman tongkrongan hanya berkata dan berharap "lekaslah sembuh dan berdamai dengan semua, sebab bukan hanya rasa cinta yang mengaburkan semuanya, masih banyak hal yang dapat diambil hikmah dari peristiwa, dan janganlah seperti laron-laron dalam bermimpi di bumi, dianggap setiap sinar akan menjanjikan bahagia, sayap-sayap laron sering patah karena menganggap sinar lampu dianggap menjamin mimpinya." Analogi tersebut mereduksi puisi di atas, berupa gambaran sederhana mengenai luka dibalutnya. 

Adalah Deri, ia kawan yang kemapun dapat dan mudah direpotin. Awal mula kenal akrab tidak ada titimangsa yang jelas, tapi kita kenal baik. Di pertemuan ini ia punya ide untuk bermain edukatif. Menyusun pertanyaan mengenai buku-buku sastra, ya walaupun awal mulanya kita ingin mengerjakan tugas. Ia punya cara sendiri untuk menyelesaikan tugas, tidak hanya di warung kopi, katanya. 

Saat perpindahan tempat ngopi. Saat itu, semuanya memfokuskan tugas segera selesai. Lalu singkat kondisi itu, dimulailah game tebak-tebakan tersebut. Saya hanya melihat dan senang mereka seperti itu. Tidak ikut karena malu, mungkin tidak game ini ikut, tapi di lainnya bisa ikutan. Tapi, sangat edukatif permainannya. Jadi referensi sata mengajar. Saat bosan dengan pertemuan ini, ini salah satu ice breaking saat bosan mengerjakan tugas. 

Namanya Liya, mungkin diantara teman sangat sering bicara serius mengenai tugas. Sebagai seorang yang biasa-biasa tidak rajin. Ya, harus membaur dengannya agar tertular. Mungkin itu cara baik seorang teman. Tapi, jika dipandang dari gerak semangat semuanya perlu ada, karena seorang yang malas juga bisa terdorong temannya. Dan itu salah dua kelebihan, dari ia yang selalu gupuh dengan tugas dan perfek untuk segera selesai. 

Adapun sebagian terkadang menyelesaikan tugas untuk segera selesai dan intinya selesai. Dari lingkaran pertemanan di setiap pertemuan punya semangat berbeda. Dari perkumpulan itu tidak sekedar melainkan menghasilkan beberapa tugas selesai. Ya, berkah diskusi atau sekedar ngopi sambil bicara santai, sambil meluangkan waktu bercanda agar tidak cepat tua.

Adalah Ayu, yang mungkin dipandang sosok orang paling serius terus, ternyata tidak juga. ia juga suka bercanda. Namun setiap perkumpulan seperti ada ambisi pokok bisa menyelesaikan tugas. Membangun kultur sehat dan budaya baik di setiap pertemuan itu baik saat berkumpul: berhasil menyelesaikan tujuan awal. 

Malam di pertemuan ini, tidak banyak ia bercerita. Karena suasana bukan tentang cerita, melainkan tugas serta permainan edukatif ide Deri. Dan usaha produktif bukan sekedar ngopi, ya usaha kecil semoga saja jadi jalan baik yang besar, dan kita semua--yang akan segera menyelesaikan tugas akhir. 


***

Kita, sangat bersyukur dengan perbedaan yang ada dalam diri. Ia yang pandai bercanda dan juga pandai membuat sekeliling orang-orang tertawa. Baik ataupun buruk selalu menghadirkan tawa. Dan setiap pertemuan selalu punya pesan dan kesan. 

Pesan terdahulu yang dapat dibagikan. Ternyata mereka punya cara paling sederhana memperlakukan pertemanan. Sederhananya tak punya sekat serta lentur memberikan canda yang merupakan menjadi anak kandung dari tawa. 

Kesannya, saat berkumpul memang kadang kita tidak terasa apa yang dihasilkan. Tapi, saat dipikirkan itu tidak benar. Narasi itu saya reduksi kalau setiap pertemuan dengan teman yang berkumpul dengan niat baik berdampak baik: karena tujuan mengerjakan tugas, membuat psikologis terdorong untuk segera selesai tugas dan semuanya secara tidak langsung, dan teman yang secara tidak menggurui mengajarkan banyak hal tentang pola dan gaya hidup, dan itu perlu disaring. 

Dan pertemuan tersebut, ditutup dengan pertanyaan Umi yang seperti heboh, tapi membekas, tentang "ilfil terhadap lawan jenis." Sederhana, ada yang menjawab 1). Akhmad, "saat kita serius berteman dengan lawan jenis kita tahu baik buruknya, hanya ada dua membenahi bertahan atau meninggalkan." 2). Deri,  sombong, 3) Liya, pamer, dan 4) Ayu, tidak menghargai saat memasak, dan berkata "hanya masak ini"... dan 5)  "mengatur-ngatur hidup..." mungkin begitu dulu. 


Selasa, 09 November 2021

TANAH LIAT DAN SUARA PEDALAMAN

  

Kita berjalan dengan pelan sambil lalu berbicara ceria agar setiap sengsara tak terasa. Begitupun cara-cara bahagia saat melangkah bersama, hanya suka bisa ditawarkan kepada mereka tuk bisa hadirkan; tawa dan sedikit merawankan cerita bahagia. Dan kaki-kaki yang kecapean dari bawah, kuat menahan licinnya tanah yang melekat. 

Saat tiba, kita dihadapkan dengan sosok yang tegar dan kuat. Sambutan mereka kepada mereka kepada kita, antusias. Ya, walaupun saat itu berita kita kepadanya sekedar berita berisi informasi dan pengetahuan, bukan bisa menyelesaikan. Mereka yang sibuk di ladang, pulang ketika kita datang. Kita merasa menggangu atau sekedar membuat mereka tanpa cemas sebab kedatangan kita. 

Dalam hal ini ternyata, ia punya adat menyambut orang asing dengan cara berbeda, yaitu menghormati. Saat mereka menganggap kita luar biasa dari raut wajah dan kita, mahasiswa, dianggap menjanjikan. Padahal kita hanya ingin menawarkan cara menyembuhkan luka lama mereka--yang telah lama menjadikan ia lebih merdeka, dan tanah mereka dapat dijadikan tanah milik. Mungkin saja pandangan mereka sangat berlebihan, sebelum mengetahui lebih dalam kita hanya bisa bersuara dan menawarkan cara, untuk menyelesaikan kembalikan kepadanya. 

Ibarat seorang pejalan kaki di rimbun gunung tanpa ada jalan alternatif, saat itu kita memberikan peta kepadanya. Dengan pandangan  serta arah secara teoritis dan praktik. Baik atau buruk selalu saja diberikan secara arah yang diusahakan mendekati ke arah kebenaran, yaitu pembebasan lahan tanah--yang pada saat itu telah ingin diakuisisi lantaran dulu tempat tinggal merupakan gunung tidak ada penghuni, pada 2002 ada salah satu orang, yang awal mula membawa mereka ke tempat tersebut untuk bisa bertani dan bercocok tanam tujuan keberhasilan. 

Alasan mereka tetap mengambil dan mau menempati sederhana. Mereka ingin menempati tempat tersebut lantaran sudah bingung akan bertahan hidup di mana lagi, saat itu mereka mendengar informasi di chanel televisi. Perkataan yang mengasah pada pengelolaan lahan, yaitu presiden keempat Indonesia Gus Dur, yang kurang lebih punya statement di forum "jika masyarakat bingung dengan semuanya mengenai penghasilan masyarakat Indonesia, maka lahan kosong boleh dimanfaatkan." Perkataan tersebut menuai kontroversi, baik secara umum dan tidak dibenarkan secara praktik di lapangan, bahkan saat ditanyakan ke perangkat desa setempat tidak diamini, masih perlu adanya kebebasan yang terikat. Contohnya saat disuruh menanam padi di tempat tersebut, boleh. Akan tetapi, perlu bagi laba penghasilan dengan perangkat desa terdekat. 

Namun, masyarakat ada yang menerima dan juga tidak. Mereka bisa menerima saat ada jaminan bahwa alas atau ladang yang dulu telah dibenahi. alasannya bisa jadi hak milik resmi olehnya, ini soalnya tempat (tanah yang dikelola oleh diri sendiri di hutan itu). Akan tetapi, itu  berbanding terbalik dengan aparatur di daerah tersebut tidak bisa melakukan atau membantu. 

Mengambil hikmah kisah cerita tersebut. Ternyata kita bisa banyak belajar hidup sederhana mereka hidup dari keramaian tapi sunyi dan sepi dari sistem, masih dapat pertanyaan saja bagi masyarakat kepada desa--yang awalnya disuruh tempati, tapi malah responsif berdampak negatif, yaitu masyarakat harus tetap bayar berupa upah  dan separuh hasil diberikan  kepadanya. Inilah yang tidak diharapkan masyarakat di Wonogoro, Malang Kabupaten. Mungkin.


Minggu, 07 November 2021

MEDAN PEMBATJA

 CATATAN MEDAN PEMBATJA: ULASAN BUKU

Foto: Cak Pendek/Merjosari 

Minggu, 7 Nopember 2021 

Moderator: Mas Zul 

Pencatat: Akhmad Mustaqim 

Pengulas buku: Cak Pendek, Mas Aan, Akhmad, Mbak Mutmainnah, Mbak Fafa, Mas Zul, dan Mas Ali. 

Kita duduk melingkar sambil minum kopi. Lalu moderator dan pewncatat ditunjuk. Setelah siap, moderator membuka. Dengan doa keyakinan masing-masing. Ia menggunakan bahasa yang baik dan benar serta secara terstruktur, dengan rapi membuka pertemuan ini, ia membukanya. Lalu untuk memulai, dimulai dari arah kanan, dimulai dari Cak Pendek, sebagai kepala suku Sabtu Membaca, dikenalnya… Ia memulainya. 


Judul novel:Tarian Bumi 

Karya: Oka Rusmini 

Pengulas: Cak Pendek 

Novel ini berbicara tentang strata sosial di Bali. Ada Brahmana, Ksatria, dan Sudra dsb. Pada dasarnya novel ini menarasikan seorang perempuan menikah dengan seorang raja atau dikenal kasta Brahmana. Tokoh yang bernama Telaga, yang punya hobi menari. Di novel Tarian Bumi kental dengan membahas tentang kasta, ritual, cinta, dan tradisi, berlatar Bali. 

Sebagai perempuan normal tertarik kepada laki-laki. Ia bernama Telaga. Selain itu dia juga pandai menari. Sehingga ada kesempatan kalau tokoh tersebut menari di depan raja-raja dan punya peluang menarik hatinya. 

Ternyata, seorang penari yang baik atau bagus akan mengangkat nasib baiknya, bahkan mengangkat derajatnya. Itulah yang tertanam dalam diri Telaga, selain memang hobi atau memang gen (keturunan dari seorang penari hebat). Untuk itu, banyak yang tertarik menggemari menari. 

Siapa yang tidak ingin diangkat derajatnya. Tokoh novel bernama Telaga punya keterampilan tarian bagus. Bukan karena berlatih kepandaiannya, ternyata ia juga keturunan dari seorang penari--yang ternyata dulu ibunya dinikahi oleh raja karena, tariannya. Tidak kaget jika tergambar dan terbukti kalau anaknya bisa dan handal, menari. 

Ternyata, penari pada dasarnya juga boleh ditiduri oleh raja. Ini sebuah tradisi yang salah tapi juga menghasilkan dampak positif dalam hidup seorang. Selain seorang Sudra dapat mengubah nasibnya dengan cara menari dan jika beruntung dapat disukai oleh raja, dan itu nilai lebih bagi setiap kaum Sudra. 

Maka, di masyarakat posisi penari tersebut menjadi perebutan banyak orang, khususnya para perempuan di masanya sangat diinginkan dan bersyukur beruntung. Untuk menjadi seorang penari yang baik dan bisa disukai oleh raja.  

Ternyata, Telaga punya perbedaan dengan kakeknya Telaga. Kakeknya itu, digolongkan Sudra--yang pada dasarnya juga punya harus pacaran dengan seorang Sudra, tidak boleh golongan sudra dengan Brahmana dan Satria. Sebuah nasib baik ternyata berpihak ke keluarga tersebut, yaitu mengangkat derajatnya. Itu disebabkan keterampilan kesenian mampu mengubah nasibnya. 

Setelah itu, Telaga sebenarnya punya kelas Sudra, tapi karena dapat keturunan kakeknya dan Ibunya yang dinikahi oleh kaum raja, maka kastanya baik, walaupun aliran darah itu, Sudra. 

Konflik ini muncul, saat Telaga suka dengan salah satu orang golongan sudra--yang seharusnya tidak boleh. Percintaan Telaga itu, menuai kontroversi di kalangan Brahmana di kerajaan. Saat itu, ia harus memilih antara "Cinta atau Kasta." 

Ternyata memilih dari keduanya tidak mudah baginya. Telaga yang seharusnya pilih cinta kepada seorang Sudra, sedangkan ia masih berstatus kasta Brahmana. Memilih cinta berarti menentang kasta yang mengikat dirinya. 

Adapun untuk penurunan kasta menjadi sudra ada ritual khusus. Begitupun sebaliknya. Jadi, tidak dengan mudah seorang kasta berpindah. Inilah novel "Tarian Bumi" karya Oka menampilkan tradisi Bali yang kental dengan kasta. 

Novel ini, secara latar belakang cerita, tidak menampilkan tahun kapan novel ini dikisahkan. Tidak tercantum titimangsa sanya. Namun pembaca hanya menyampaikan, kalau kisah novel tersebut potret berlaku di era sekarang. Kasta di dalam buku ini kasta dan sistem berlaku di Bali hingga kini. 

Pembaca memberi kesimpulan, jika pada dasarnya kasta di Bali hingga kini, yang berlaku masih terkungkung penuh dengan kontroversi atau memang sangat kental dengan budaya tidak semua menerima atau bisa terima dengan lapang. Dan hubungan cinta yang dibatasi dengan  kasta. Ini jadi kelemahan dari kasta yang tidak menjadi manusia bebas. 

Moderator memberi kesempatan berat, lalu. Pertanyaan yang ditanyakan oleh Mutmainnah "apakah orang islam menikah dengan orang Bali akan menurunkan kasta?" ujarnya. 

"Pandangan ini akan mengarah dengan apa yang dialami oleh Bung Karno, kalau ia juga lahir dari keluarga Jawa dan Bali. Yang mana seorang laki-laki mempengaruhi kaum perempuan. Dari segi dominasi yang berlaku. Lalu tak semua dapat dibenarkan, namun tetap jadi pandangan pasangan yang sering terjadi dan berlaku demikian, walaupun tak signifikan secara antropologi!"


Judul buku: Tuhan di Hatimu 

Karya: Husen Jafar Al-Haidar 

Pengulas: Mas Tri Syafaan 

Berangkat dari kegelisahan yang ada di kehidupan membaca buku ini, ia membaca. Sebenarnya buku bukan suatu hal baru baginya, karena pengulas sadar kalau ini kebutuhan dirinya. Dimulai dengan pembukaan statement secara subjektif. Buku ini bercerita tentang beragama yang sangat mudah tidak susah. Bahkan di bab awal ini merupakan kehidupan orang ingin hijrah. Ini disampaikan pada bab awal. Kalau seorang hijrah bukan--yang dari tidak krudungan, menjadi kerudung, melainkan menganggap Islam itu indah. 

Buku ini, ditulis oleh seorang Habib Jafar, seorang yang pernah menempuh di jurusan filsafat, tidak kaget kalau yang disampaikan tidak keluar dari logika, estetika, dan etika, yang berlaku di dalam filsafat. Cara ini seperti tergambar darinya, kalau penulis sudah biasa menulis sejak SMA dan punya teknik, penyampaian yang baik. 

Di pengantar awal buku ia sudah melakukan pengamatan di masa sekarang. Masa pandemi ini penulis termotivasi membuat (menulis) lalu menjadikan buku. Berpendapat kurang lebih "tuhan ini perlu intim" atau kita perlu dekat denganya. 

Bahkan ditegaskan ulang kalau "Tuhan tidak ada di Masjid dan di Gereja, melainkan di Hati. Maka judul buku ini "Tuhan di Hatimu" Kata penulis, ketika vatikan dan masjid sepi, maka tulisan yang ada  di sosial media atau yang pernah dimuat, diambil. Ketika merasa relevan dengan yang akan ditulis, jadikan buku ini. 

Pandangan buku ini, secara subjektif sebenarnya sangat relevan dengan  kehidupan  beragama. Bahkan dalam hidup beragama tidak hanya bicara tentang sholat, tapi katanya tidak hanya ibadah paling tinggi, namun paling tinggi yaitu kebaikan-kebaikan kepada manusia. 

Buku ini secara substansi juga mengambil kutipan-kutipan filsuf, entah itu kutipan kata bijak dari filsuf islam maupun non-islam, dari dulu hingga kini.  Sudah ada. Dengan penggunaan bahasa yang baik dan populer buku ini sangat baik penyajiannya, dan akan dengan mudah diterima oleh kalangan milenial sekarang. 

Bahasa yang ringkas dan ringan. Buku ditulis dengan menonjol pandangan Islam dalam kehidupan yang sangat kental. Bahkan menekankan bagaimana kita beragama dengan baik dan bijak. Narasi serta contoh dengan mudah diterima oleh setiap kalangan. 

Buku ini sebenarnya juga ingin menyampaikan kalau agama Islam itu, merupakan cinta. Agama yang penuh dengan cinta. Dalam buku ini, menampilkan Islam cinta bagi para pemeluk dan sekitarnya. Dan Tumbuh menimbulkan kebaikan, damai, dan kesejahteraan.  

Dalam buku ini berbicara tentang keindahan beragama yang dapat diterima secara logika. Selain itu juga bisa diterima di era sekarang. Bahkan bagaimana kita menyebarkan agama dengan mudah, yaitu melalui seni. 

Dalam hal ini dipraktikkan ketika ia berdakwah. Di era sekarang figuritas menjadi penting. Sehingga ia pernah mengajak para musisi, stand up comedy, dan lainnya. Itu menjadi penting. Mencoba mereduksi dalam melakukan pendakwaan dengan pendekatan seni. 

Inilah yang dikatakan. Kalau berdakwah melalui seni sangat diperbolehkan. Buku lebih mudah diterima anak muda. Mendeskripsikan sesuatu hal tidak ribet dan sulit. Itu yang dilakukan oleh beliau sebagai pendakwah Islam milenial. 


Judul: Novel Guru Aini 

Karya: Andrea Hirata 

Pengulas: Mbak Mutmainnah 

Buku yang bercerita tentang kisah seorang guru bernama Desi. Ia guru matematika yang galak dan perfeksionis. Namun, pada dasarnya ia guru yang ingin menyederhanakan pandangan belajar matematika yang rumit. 

Tokoh bernama Aini, Nun, dan Saadah. Namun yang menonjol dalam kisah ini berfokus pada Aini. Sosok yang sangat bebal dalam belajar. Serta keluar dari zona nyaman lantaran selalu dibujuk untuk tidak usah belajar matematika yang rumit dan sulit. Akan tetapi, ia mampu memilih dan mengambil jalan baik, baginya. 

Novel "Guru Aini" ditulis Andrea Hirata. Tokoh Aini yang jadi sorotan penceritaan. Ia seorang yang bebal tidak mudah menerima pelajaran matematika. Bahkan tidak suka awalnya. Lantaran gurunya sangat galak. Pada dasarnya ia juga paling tidak suka dengan pelajaran berbau perhitungan. 

Pengulas mengatakan, novel ini sangat rilit dengan kehidupanku, ujarnya. Karena tokoh Aini tidak suka pelajaran yang menghitung. Begitupun saya, sama. Makanya suka baca buku ini. Selain setting novel ini satu daerah dengannya, yaitu Sumatera. 

Awal mulanya ketika Aini, yang suka matematika. Saat merasakan kehidupan yang tragis dalam hidupnya, bagi tokoh utama itu melihat ayahnya yang sakit sedikit-dikit ke rumah sakit. Ia termotivasi kalau besar nanti akan jadi dokter. Sejak itu menggantungkan cita-citanya. 

Lambat laun berpikir. Syarat untuk jadi dokter apa saja. Saat tahu kalau harus pintar, dan menganggap kalau matematika itu adalah tolok ukur siswa pintar. Setelah SMA ia berniat lanjut studi, ambil jurusan dokter. Sejak itu dengan giat belajar matematika ke ibu guru Desi sangat keras dan sangat tidak disukai oleh banyak siswa. Tapi, ia harus menerima semua itu. Karena butuh tahu dan bisa matematika. 

Keinginan tinggi karena dorongan kuat. Ia sering menghadiri pelajaran dan mengikuti bimbingan pribadi bu Desi. Ternyata termotivasi dengan perkataannya, "belajar matematika dengannya harus ikut peraturan dan metode yang dilakukannya." Perkataan tersebut membuat ia tambah giat keluar dari taman yang malas belajar matematika. 

Perjalanan yang dilakukan oleh gurunya berhasil. Aini yang ternyata sudah bisa matematika bahkan mencapai nilai sesuai. Setelah lulus ia mendaftar di salah satu perguruan tinggi di Lampung. Diterima di Fakultas. Namun nasib tidak baik menimpanya, ia yang harus membayar untuk awal masuk kuliah. Ternyata keluarga tak mampu dengan nominal yang tertera. 

Cita-cita terputus lantaran biaya kuliah mahal. Ditambah orang tuanya yang sudah tidak sehat lagi, bapaknya yang menjual mainan. Ekonominya sangat miris. Ia tidak berkuliah melainkan menggantikan orang tuanya yang jual mainan. 

Novel yang sangat mengajarkan kita untuk memiliki keinginan kuat akan bisa mencapainya pasti bisa. Itulah yang dilakukan oleh Aini. Dan mengorbankan apa menjadi berat, yaitu belajar matematika mengejar cita-cita, tapi pupus gara-gara biaya. 

Bagi pengulas yang berkesan. Aini yang awal mulanya orang paling tidak diperhitungkan  di kelas tidak unggul. Ia memutuskan untuk beralih ke kelas unggulan. Di situlah perjuangan ia di SMA dilakukan dan berhasil. Dan adanya tokoh di dalam novel Nun, dan Saadah. Kedua tokoh hanya pelengkap secara karakter tidak suka pelajaran matematika. 


Judul: Hansel dan Gretel 

Penulis: Murvy  

Pengulas: Mbak Fafa 

Novel ini berlatar  di Jerman yang sangat kental dengan konflik Nazi. Novel sejarah ini dibuat secara fiksi sejarah. Entah kisah nyata atau tidak. Tapi buku ini sudah ada dongengnya dan filmnya. 

Sebenarnya buku ini berkisah tentang konflik orang Jerman dengan darah keturunan Yahudi. Hansel dan Gretel berdarah Polandia--yang dianggap punya darah keturunan Yahudi, sehingga mereka harus dibasmi. Begitulah kisah era Nazi di bawah kepemimpinan Hitler. 

Buku Fiksi sejarah ini, berkisah tentang hidup perjalanan dua anak yang hendak dibunuh oleh tentara Nazi. Untungnya, ia bertemu dengan Magda seorang nenek yang hidup sendiri  di tengah hutan. Saat itu, ia bertemu dengan seorang dua anak tersebut. 

Awal mula, kedua tokoh tersebut merasa capek dikejar-kejar oleh tentara untuk dibunuh. Tanpa berpikir panjang mereka menghilangkan jejak dengan pergi ke hutan, di hutan bertemu dengan Magda, nenek tua. Nanti peran Magda jelas untuk menyelamatkannya. Salah satu usaha saat mengubah KTP. Dalam pengubahan identitas mereka sebagai warga masyarakat Jerman, sangat sulit. Selain memang ia dicari. 

Upaya dilakukan itu, sebuah usaha menyembunyikan  identitas. Intinya menyelamatkan kedua tokoh tersebut. Karena Nazi saat itu sangat tidak peduli dengan orang yang berdarah Yahudi. Bahkan  tak segan oleh masyarakat jerman atau Nazi saat itu dipimpin oleh Hitler, tidak peduli dengan orang berdarah Yahudi, harus dihapuskan. 

Ternyata kedua anak itu sudah beridentitas Jerman. Usaha memberi warna rambut keduanya berhasil. Sehingga berhasil jadi warga negara Jerman. 

Magda yang meninggal karena dibakar oleh tentara Nazi. Meninggalnya Magda karena melindungi Gretel dan Hansel. Di mata kedua anak tersebut sangat berjasa. Tak dapat berbuat apa-apa ternyata. 

Kisah fiksi yaitu anak yang ada di dalam kisah. Kisah fakta latar belakang di Nazi yang dikisahkan  kekejamannya. Mungkin itu simpulan dari novel tersebut. Selain itu juga berlatar belakang perang dunia.


Judul: Power Vs. FORCE 

Penulis: David R. Hawkins 

Pengulas: Mas Zul 

Perkembangan manusia yang semakin kesini semestinya tambah meyakini kalau energi alam memang ada dalam kehidupan. Bahkan jangan meremehkannya, jika kita dapat di artikelkan. 

Kadang pandangan kita masih playing victim, yang beranggapan "orang kaya akan menguasai budak" semua kesan tersebut tidak baik. Seorang harus punya pendirian kuat lagi dan memandang lebih tinggi agar psikis kita kuat dan punya kekuatan. 

Tingkat kesadaran manusia paling penting buku berjudul "Power Vs Force" karya David R Hawkins, menganjurkan logika yang dilakukan oleh seorang untuk bisa membantu hidup lebih baik. Karena berangkat dari niat yang nanti membuat lebih baik. Serta punya pola pikir postif terus akan menjadi kuat. 

Buku ini juga meneliti Perang Mahatma Gandhi. Ia yang punya "alignment" tinggi, sangat memberi pengaruh serta keyakinan bagi manusia lainnya, dan itu berhasil mengalahkan penjajah inggris. Lantaran ia meyakini dirinya dengan dasar yang sama, sebagai manusia. 

Kekuatan yang tidak disengaja secara tidak langsung. Bagaimana seorang dipuji tanpa diberitahu akan punya kekuatan. Dan itu punya kekuatan dalam diri manusia. Begitupun kebalikannya yaitu, ketika dirasani jelek akan berdampak pada kelemahannya. Semakin tinggi alignment seorang semakin kuat, ia menjalani hidup. 

Kata-kata yang punya punya mantra. Pola pikir yang sangat perlu dibangun. Pak Susanto pakar marketing. Bahwa kita perlu punya motivasi yang positif agar luarannya juga hasil baik.

Dalam hasil penelitian. Saat ada orang sakit dan dijenguk kadang itu malah tambah parah. Karena yang dihadirkan kalibrasi yang positif. Merasa hanya kasihan dan sebagainya. Ini sering membuat, seorang sakit memiliki dampak tidak baik. Kalau yang datang bawa semangat tidak baik. 

Kita sadar terkait energi dalam hidup manusia. Kesadaran itu perlu dikembangkan dan bisa dirawat. Karena itu akan punya dampak dalam hidup, baik. 

Di Injil "berikan keluar akan memiliki dampak pada dirinya" sadar akan pemberian kepada manusia. Penjelasan secara partikel. Hidup sebenarnya sudah qudrat iri namun bagaimana kesadaran kita, akan membentuk. Sehingga kalau memang perlu dilakukan menguasai energi. Jangan sampai energi jelek muncul" berpikir positif akan semua hal. 

Salah satu rahasia marketing. Kalau marketing membangun market dengan baik, tentu akan menghasilkan dampak positif. Begitulah logika para mentor pemilik bisnis besar. 

Empati harus punya pandangan lebih tinggi jangan kebawah. Perlu memiliki pandangan lebih tinggi jangan rendah. Kita harus punya energi "kekuatan yang bisa dikalahkan" orang yang punya kekuatan akan memiliki kekuatan, pola pikir tidak berbuat baik dan yang lemah itu, maka harus berbuat baik agar tidak lemah. 

Semakin banyak berbuat baik akan punya energi kuat. Kalibrasi dapat alignment dapat dipelajari dan dilakukan dalam kehidupan manusia. Kepercayaan energi manusia ke tokoh-tokoh besar, mereka punya pandangan positif semua. Maka belajar dan meyakini kalau kalebrasi itu dapat diperbuat baik. 

Kekuatan dan Paksaan kalibrasi kesadaran  yang diambil secara partikel. Secara logis dapat diterima. Dan itulah manusia bisa hidup nyaman dan tenang. Tanpa ada rasa benci sebab benci sudah ada dalam diri, jangan kembangkan lagi. Berbahaya akan diri.



*Catatan sesuai pengulas buku




Sabtu, 06 November 2021

LUKISAN

 Cerpen ini

Nominasi pertama

 Di LPM Display FILKOM Uviversitas Brwawijaya Malang 

Sumber gambar grafiti-gogle: Simone De Beauvoir 


Ia melukis. Tidak pernah menjawab kalau ditanya arti dari lukisan-lukisannya. Kalau dibanding-bandingkan malah marah, bahkan tak segan-segan melukai orang yang membanding-bandingkan. Hanya tersisa satu lukisan di rumahnya, lukisan saat ia mengikuti lomba saat masih sekolah.

Lukisan di depan ruang tamu. Satu-satunya lukisan yang pernah dibuat oleh dia, semasa mudanya. Masa muda yang berapi-apinya menggeluti seni lukis, sebelum memutuskan menjadi seorang guru. Tak ada yang tahu lukisan perempuan itu siapa. Dan tak ada yang bisa menjelaskan. Begitupun semua keluarganya.

Memang, semasa muda ia selalu merantau. Keluar dari rumah, bukan tuk bisa lebih ramah tentang banyak hal. Setelah lulus Sekolah Menengah Atas, ia langsung memutuskan tuk jauh dengan keluarga, terutama ayahnya. Kekecewaan terbesar, ketika pernah melontarkan pertanyaan kepada bapaknya,yang belum sempat dijawab olehnya. Selalu membekas di hatinya, merah dan selalu bikin resah saat diingat.

Saat ia berumur delapan tahun. Bapaknya pulang dari perantauan yaitu Jakarta, sudah biasa di daerah itu. Merantau jadi pilihan hidup –tak merantau tak berkembang- nyaris pemuda di daerah tersebut berumur 20-an banyak keluar rumah untuk merantau. Katanya mencari rezeki dengan menjemputnya. Mondar mandir pulang ke rumah menjadi rutinitas, walaupun tak lama. Setiap pulang dari perantau hewan-hewan semakin bertambah banyak seperti; burung dara, ayam, dan burung ketitir. Di rumah itu kecuali macan, monyet, dan ular tidak ada. Satu dua dengan kebun binatang. Waktu itu bapaknya bukan hanya hewan dibawa pulang, tapi juga istri barunya.

Sebagai orang tua, akan terus memantau perkembangan anaknya, baik ataupun buruk, terurus atau tak terurus selalu di lihat. Dari pola hidup dan sikap kesehariannya. Sebagai orang desa tak begitu memahami tentang kelebihan yang baik, kecuali membanding-bandingkannya, hidup dia dengan anak bosnya, yang di Jakarta. Namun perbedaan mencolok dari anaknya.

Saat ia, melihat gambar kaligrafi di masjid Baiturrahman, hatinya berbunga-bunga dan berpikir positif.  Kalau anaknya punya kelebihan, yaitu melukis. Dan keperluan sudah selesai. Lalu berangkat lagi ke perantauan.

***

Ia Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebagaimana anak pada umumnya. Tak ada hobi lagi kecuali menggambar. Bahkan di sekolah dengan terpaksa mengikuti ekstrakulikuler membuat batik. Lantaran tak ada lagi ekstra yang mendekati dengan hobinya. Setahun kemudian setelah naik ke kelas XI, ada guru baru alumni sekolah tersebut menjadi guru seni di mata pelajaran Mulok. Secara cepat guru tersebut  menawarkan diri sebagai guru belajar melukis. Ia sebagai siswa yang ingin mengembangkan skill yang menjadi hobi dibidang tersebut, akhirnya ada wadahnya.

Dengan berjalannya waktu… Guru baru itu, masih muda, selalu berinovasi. Saat melihat ada perkembangan selama mengajar melukis. Saat itu melihat perkembangan satu anak tersebut. Guru baru yang muda selalu dituntut mengembangkan potensi anak didiknya, sehingga inovasinya itu mengajak siswanya ikut  lomba. Melihat anak-anak didiknya yang punya potensi di ikutkanlah lomba tingkat kabupaten. Saat ditawari ke Ia, sebagai murid tidak dapat menolaknya. Lomba itu, tema melukis bebas. Ia selalu punya pandangan yang akan dilukis.

“Minggu depan perlombaan akan dimulai, kamu siap ya?”

“Iya baik, siap pak.” Dengan bahasa ibu yang halus, ia menjawabnya.

Tawaran tersebut membuat berpikir. Ia selalu mencari objek yang akan digambar, semua isi rumahnya tak ada yang menarik. Semua seperti biasa saja, kecuali satu-satunya yang berharga sobekan foto, yang ditemukan di plastik berisi sampah. Ia menyimpan di tempat yang aman.

Ternyata mendekati perlombaan dimulai. Sebelum perlombaan dimulai. ia pergi ke dukun sebagai bentuk ritual bisa tenang dan menang. Dari dukun ternyata dapat bungkusan permen, disuruh disimpan di dompetnya. Tanpa berpikir panjang apa yang telah dikatakan olehnya langsung dilakukan. Lalu bersalaman memakai amplop.

Lomba besoknya sudah dimulai. Ia sudah memiliki kepercayaan lebih. Saat ia berpikir dan memulai untuk melukis. Canvas serta peralatan lainnya sudah siap, begitupun peserta lainnya. Waktu telah berjalan dan ide masih belum berkembang, namun terus saja Ia memulai tanpa memikirkan hasilnya.

Tanpa memandang perbedaan dengan peserta lain, ia mampu menyelesaikannya. Lomba telah selesai hasil pembuatannya sangat tidak stabil. Gambar yang dibuat hanya dapat dipandang dari satu sisi, tak ada nilai lebih baginya. Kekecewaan saat mencoba masuk ke dalam gambar yang memang telah jadi harapan akan terjadi dan berjalan sebagaimana mestinya kuas melukis wajahnya. Setelah selesai ia berkata.

“Maaf pak tidak maksimal.” Dengan wajah menunduk, ia berkata.

“Tidak apa-apa nak, tunggu saja nilai dari para dewan juri dulu. Terpenting kamu sudah usaha maksimal, hasilnya diterima saja. Apa ada kesulitan tadi?”

“Wajah yang kuharapkan itu sebenarnya sudah muncul, saya melukis wajah pak. Tapi semakin ku menyempurnakan  sketsa rautnya, tidak bisa sempurna pak.” Dengan wajah serius… raut wajah kecewa terpancar darinya.

“Tidak apa, hasilnya sudah bagus kok, nanti kamu ambil bawa pulang itu lukisan wajahnya, bapak akan urus pengambilan lukisanmu”

“Iya pak, terima kasih.”

Ia menunduk sambil berjalan menuju ke guru satunya, bersalaman. Terpancar wajah dan jalannya tak seimbang karena kecewa. Ia hanya bisa menerima, dari apa yang diusahakan—dan hasil didapatkan tak pernah terlalu diperhatikan, namun tetap menatap dengan senyum ke semua yang memandangnya. “Selamat, semoga lancar…” seperti ada suara dari salah satu teman dekatnya dari jarak jauh.

***

Setelah pulang dari tempat lomba, langit seperti akan menjanjikan hujan. Ketika sampai di rumahnya.  Saat ceritakan proses melukis saat di lokasi lomba, neneknya hanya tersenyum.

“Saya sudah selesai lombanya nek, tapi sepertinya tidak menang.” Wajah kecewa dengan bahasa ibu yang lembut ia berkata.

“Wes Lah… Nak, sudah. Terpenting kan sudah selesai. Senang, berarti jimat dari dukun manjur. Sini makan dulu”

“Saat perlombaan itu, saya mencoba melukiskan wajah  ibu yang di foto, tapi kenapa semakin usaha menggambarkan wajhnya semakin gelap, tambah gak jelas, seperti bingung sendiri. Dan jimat itu tak berfungsi Nek!”

“Sudah nak, lupakan!” Dengan nada tidak pernah memberi dukungan kepadanya, untuk mengetahui lebih jelas, apalagi mengingat.

Tak ada cara lain untuk membuktikan. Bahwa seorang yang sangat sayang dirindukan dengan cara sederhana itu bisa dipersembahkan, karena hanya gambar dapat dilakukan. Kalau tidak memandang fotonya yang sudah buram, apalagi.

Tiba-tiba tanpa diberitahu kalau pulang, Ia datang. Bapaknya menghampiri lalu bersalaman. Dan anaknya menyampaikan kalau pernah mengikuti lomba, di luar sekolahnya. Tanpa antusias lebih, hanya berkata,

“Juara berapa nak?”

“Masih tahap penjurian, tak tahu juara berapa. Saingannya banyak.

“Kata guru, tak perlu berpikir menang untuk awal mengikuti lomba, jadikan pengalaman. Karena saingannya banyak- mungkin untuk menang sangat kecil.” Sambil meletakkan baju seragamnya di belakang pintu, untuk dipakai lagi besok.

“Untuk jadi pelukis handal, harus sabar nak!” perkataan itu menutup pembahasaan tentang lomba. Bapaknya langsung menyuruh ia melepas burung dara dan ambil ayam sabung.

***

Sebelum berangkat mencari rumput ke ladang, Ramli kerap datang ke rumahnya. Sangat beruntung saat bertamu ke orang baru datang dari perantauan.

“Beh, kapan datang bung?”

“Tadi, ikut ojek dari terminal, tak bawa apa-apa, hanya ini rokok buat kamu bung!’.

“Ya, harus kalau rokok. Sampoerna kretek ini kesukaanku”

“Wess… tahu, kamu suka rokok itu!”

Tak lama kemudian, ia melanjutkan aktivitasnya. Sambil menyalakan rokoknya, dan asap rokok yang menggulung-gulung ke udara. Asapnya masih tersisa di teras rumahnya, serta baunya yang kental.

Sepulang dari aktivitasnya, Ramli datang lagi. Seperti rumah sendiri. Masuk ke dapur lalu mengambil nasi untuk sarapan. Tak ada masalah baginya dan keluarga di situ. Ia makan dengan nyaman. Lalu ia menyapa,

“Ke mana bapakmu?”

“Tadi bawa ayam yang di samping kandang depan pak, lalu keluar” sudah biasa ia memanggil bapak, sejak kecil yang sering menemani Ia, dan menganggap itu bapaknya juga.

“Wah, kalau bapakmu ini sibuk terus, paling ke sabung ayam itu, tak pernah berubah dari zaman Soeharto hingga sekarang Presiden Jokowi. Kelakuannya tetap. Masih suka datang ke tempat sabung. Padahal anaknya sudah besar!”

“Tidak tahu pak, tadi hanya bilang mau keluar.”

“Yowes, aku pulang dulu. Paling bapakmu langsung berangkat ke Jakarta, kalau ba’da magrib gak pulang.” Setelah makan lalu bergegas pulang.

Hanya lukisan yang dilukis saat mengikuti lomba itu, masih tersisa. Lukisan yang dibawa pulang dan dipajang di depan ruang tamu. Walaupun lukisan itu, tak enak dipandang—raut wajah tak jelas, ia terus berpikir—dan menganggap kalau dukun itu, tidak dapat menjamin hidupnya masa itu. Hasilnya belum tahu, pengumuman masih ditunggu tak ada kejelasan. Di rumah hanya melakukan latihan melukis dan membenahi hidup lebih baik.  




 

Jumat, 05 November 2021

LANCAR DAN SIMBOL

 

Pesan seorang nenek mengapa ketika mau pergi jauh sering mengatakan "hati-hati semoga lancar." Begitulah perkataan tersebut lebih nilai filosofis, bukan hanya secara harfiah. Kata "lancar" merupakan kata yang mengarah ke sukseskan sebuah tujuan: baik ataupun buruk, sekiranya. Namun kenapa tidak dengan semoga sukses saja. Ternyata ada hal yang dirahasiakan dari kata "lancar" punya arti serta tujuan lebih kompleks. 

Saat mau berangkat kuliah. Dulu seorang nenek yang selalu banyak pesan bahasa disampaikan. Otak saya untung masih mampu menampung rekaman petuah tersebut yang tanpa batas. Untung saja tidak RAM di otak ini kecuali memang banyak uang di pikiran berseliweran, hingga pernah hal penting terlupakan. 

Biasanya yang sering terlupakan tahun, serta wajah orang-orang yang hanya satu kali bertemu. Namun, tetap saja dalam hidup moment indah dapat dipertanggungjawabkan segala ingatan yang bisa dirasakan oleh manusia lain. Intinya seperti seorang punya dampak baik walaupun pernah melupakan momen lantaran hanya sekali bertemu secara wajah saja. 

Dalam ingatan yang masih bertanya-tanya itu adalah kata "lancar"--yang pernah disampaikan oleh orang tua. Ternyata kata lancar, secara makna sangat sederhana. Akan tetapi, tidak hanya makna kalau ingin makna "lancar" karena itu, makna tersebut jadi ilmu pengetahuan. Yang bisa memecahkan masalah; individu dan universal di luar dirinya. 

Jika kita ingin memaknai kata "lancar" itu, ternyata memiliki makna kompleks. Bahkan lebih tinggi daripada sukses atau pencapaian seorang dalam menggapai cita-cita. Secara kompleks kata "lancar" punya tujuan kesuksesan seseorang mencapai tujuan yang melewati baik buruk perjalanannya, sehingga lancar dapat dikatakan kompleks. 

Kata "lancar" dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) punya arti, tidak tersangkut-sangkut; tidak terputus-putus. Sangat sempit makna tersebut jika tidak digandengkan dengan kata lain, tidak akan jadi makna yang luas dan bermanfaat saat kita memilih perjalan, panjang dan sampai. 

Maka sangat beruntung saat seorang dikelilingi orang baik disekitar--yang selalu mendoakan dan menitip pesan, saat melakukan perjalan didoakan dengan kata "hati-hati dan lancar." Sehingga orang yang didoakan berharap semua bisa melalui lika liku perjalan hidup dari masalah yang kompleks. Dan bisa menikmati masa kehidupan. Mungkin.


Rabu, 03 November 2021

BICARA MISTIS, BUDAYA, DAN CINTA: YANG MEMBEKAS

 CATATAN PERTEMUAN KE II 

:ngopi bukan sekadar ngopi, tapi tukar tangkap inspirasi 

foto:Umi Latifah/Kolebri 


"Kita duduk di sofa dengan bermalas-malasan. Saat tugas kuliah begitu banyak, saat deadline tugas besok harus selesai, saat bersama dan berkumpul agar bisa saling bersemangat, melakukan kebaikan bersama. Tapi, kita berlima saling berbicara banyak hal. Pada akhirnya, pengumuman deadline pengumpulan tugas diundur. Tentu senang! Deri yang meminum kopi dan Umi minum es maca, sambil berbicara." 

Saya memandang keluar dengan riuh motor mondar mandir. Sambil lalu mengetik di laptop tanpa semangat menggebu. Memandang wajah-wajah semangat kawan-kawan belajar, berharap saat nanti pulang terngiang di kepala mengambil hikmah dari setiap pertemuan yang disengaja atau tidak ini. 

Setiap perkumpulan selalu ada hal menarik, saat berkumpul tidak habis tenaga dan bicara kita dengan bicarakan orang lain, rasan-rasan. Hal ini yang akan membuat kita bisa banyak belajar dari banyak kepala orang-orang. Bahkan teman sendiri yang beragam dari latar belakang kultur dan budaya. 

Mengingat dengan pandangan Al-Ghazali, kalau tidak salah. Salah satu filosof Islam mengatakan seperti ini, "Dalam perkumpulan manusia yang baik dan positif saat bubar dari perkumpulan tersebut ada di kepala kita terngiang-ngiang terpikirkan, dan menimbulkan sebuah pertanyaan atas apa yang dipikirkan, itulah baiknya dalam sebuah perkumpulan," begitulah yang dirasakan oleh penulis mengenai setiap pertemuan, entah baik atau buruk perlu dalam ingatan dibawa pulang. Tentu ini berbeda dengan yang lain. 

Mula-mula awal mula pertemuan hanya sekedar mengajarkan tugas-tugas tanggungjawab di kampus. Namun tidak hanya demikian saat berkumpul dan sekedar bicara ke sana-kemari tentang dunia mereka dan kultur budaya, bahkan pengalaman luka. Jika direduksi ke dalam pikiran paling dalam lalu diambil hikmahnya, melahirkan sebuah pengalaman luar biasa dari yang awalnya di awal hanya 'sekedar kumpul, sibuk, tapi produktif'--yang bagi penulis merasa ada banyak hal diambil hikmahnya. Dan itu, jalan paling sederhana dalam belajar. Saat otak tak diam dan berhenti mencari solusi atau sekedar membagikan kondisi: luka dan tawa. 

Cerita awalnya dilakukan oleh teman-teman perempuan yang memang selalu membuka dengan pandangan secara subjektif. Bagi Lacan, berpendapat itu adalah gejala-gejala dalam formasi alam bawah sadar yang tinggal dalam diri hasrat tersembunyi di alam bawah sadar, pada no satu "Gejala-gejala," sebuah gejala wanita dalam bab satu yang mempunya phobia tempat terbuka dan umum berkhayal jatuh di jalan. Dalam proses analisis tampak bahwa ia menderita rasa bersalah dan malu, sebagai akibat kegiatan seksualnya, dan ia tidak mau "terlihat sebagai wanita terjatuh." Hasrat yang tak disadari wanita ini "berbicara" dengan gejala yang mengambil bentuk suatu ungkapan, bahasa (2002:34-35). 

Pandangan di atas menggambarkan jika perempuan dalam forum seringkali akan selalu mendominasi saat bicara pengalaman "yang terjatuh atau bicara tentang deep wound." Asumsi atau fakta tapi ini merupakan  kisah sederhana saat berkumpul berbincang, saat itu bersama secara tidak teratur dan sistematis dirancang saling melakukan kisah satu sama lain. Entah awal mula dibuka dengan sebuah budaya lokal dari daerah masing-masing. 

Dalam perkumpulan tersebut kami terdiri dari lima anak. Sebagai penulis satu yang dari Cilacap blasteran Madura, ada Deri Wildianto (Kalbar-Kayong), Ayu (Kaltar), Umi (Gersik), Liya (Banyuwangi), dan Tri Syafaan (Malang). Mula-mula tidak sengaja mereka berbicara dimulai dari kaum hawa. Perkataan Lacan dan Freud di atas mengenai 'Empat Formasi Alam Bawah Sadar' dominan dari konsep diatas fokus pada gejala-gejala, yang mana itu akan dibuka oleh kisah luka teman perempuan, bernama Ayu dari  Kalimantan Utara. Mula-mula dibuka dengan pengalaman apriori bahkan ke pengalaman aposteori tentang banyak hal budaya dan masa lalu yang membekas: baik atau buruk diceritakan, sebagai pengalaman--yang bertujuan tidak dapat dialami oleh teman sekitarnya, yang baik. Kurang lebih demikian. 

Selanjutnya, seorang yang banyak bercerita tentang kisah mistis di daerahnya, dapat ditebak. Yaitu Liya yang dari Banyuwangi. Dia sudah menegaskan tidak percaya awal mulanya narasi yang dibuat oleh masyarakat daerahnya, mengenai dunia magis dan mistis. Sebagai mahasiswa yang merantau hidup di luar daerahnya terkontaminasi budaya luar--yang mempengaruhi tapi tetap perlu menyadari lingkungan keluarga yang sangat kental dengan dunia mistis--yang perlu dipercayai, lambat laun perlu adaptasi dengan tradisi tersebut. Berkisah panjang lebar tentang mistis yang terjadi dari kecil hingga dewasa. Bahkan hingga sekarang membekas memori masa lalu yang masih bocah, dia ingat harus melakukan ritual keselamatan bersama keluarga di tengah malam di salah satu tempat di tengah hutan tengah malam mengaji dan mandi, bunga serta--hal yang tak wajar daerah lain ditemukan, di situ ingatan ia kuat. Dari Banyuwangi sebagai tempat tinggal bersama keluarga dan keluarga berdarah madura, ia selalu bertanya tentang watak keras atau tidaknya, wilayah tersebut. Selain itu, ia juga sedikit menceritakan hal yang berkaitan dengan indigo. Kerap kali menemukan dan terjadi hal aneh dalam hidup mengenai hantu dan hal mistis lainnya. 

Adapun sedikit berseliweran pembicaraannya dibumbui dengan bahas tentang makanan. Jadi lengkap dari pembicaraan mistis, budaya, dan kuliner. Disampaikan olehnya, dengan singkat dan lambat juga, saat kopi dan minuman kita sudah pada mau habis. 

Dilanjutkan oleh Deri dari Kalimantan Barat, ia menceritakan tentang hal-hal lokal budaya. Bukan hanya budaya melainkan kuyang. Selain itu, ia juga memberikan sebuah pandangan yang subjektif mengenai anggapan miring sinyal internet tidak maksimal "padahal tidak demikian," ujarnya. 

Ia juga melanjutkan kisah-kisah kecil bermain serta keyakinan orang-orang sana mengenai weton pernikahan. Secara pribadi ia tidak percaya akan hal tersebut karena terlalu ribet. Karena nalar yang ada tidak dapat dijelaskan secara baik dan benar kalau dipandang secara kasat mata. Begitulah hidup, simple. Tidak perlu adanya asumsi kalau weton tidak cocok rejeki dan jodoh itu tidak bisa diatasi "terlalu ribet" katan, dalam bahasa sederhana dan lugas, membantah statemen berlaku di daerah di luar daerahnya. 

Adalah Umi Latifah, perempuan yang sangat meyakini weton dan hitung-hitungan istilah jawa; sandang, pangan, gedong, lara, dan pati. sedikit hafal. Walaupun sedikit belepotan saat menyebutkan. Tapi usahanya menjelaskan dapat diterima. Ia meyakini budaya jawa ini memang benar-benar ada dan perlu dipercaya. 

Ia melontarkan adagium jawa dengan bahasa ibunya berkata "emben onok wakul pasar seng dalan dewe!" Dengan mengutip dari petuah para petuahnya, dilontarkan sebagai penjelasan kalau budaya jawa juga perlu dipercaya, tidak semua itu semu. Secara dewasa menggunakan bahasa Indonesia berkata. Lalu ia juga berstatmen lagi, "waton jawa itu, semestinya jadi kekuatan bagi diri sendiri dan melindungi kelemahan sendiri." Begutulah disampaikan olehnya. 

Mas Aan, dari Malang. Sepertinya ia seorang yang pandai memilah baik dan buruknya, untuk memetakan weton jawa yang perlu dipikirkan oleh kita, "ada weton yang cocok dan tetap berlaku di kalangan kita seperti; weton pernikahan dan pindahan rumah, sisanya tidak diyakininya!" Serunya dia menyampaikan dengan santai dan membuat berpikir. Sambil tersenyum bercerita panjang lebar. Selain itu juga bicara tentang buku yang dituliskan dikisahkan ke Umi. 

Pandangan tersebut menyerempet ke arah pernikahan dan batalnya seorang teman di lingkaran itu, batal tunangan dengan orang jawa. Kisah itu membekas sangat kuat. Dan suasana penceritaan ke arah serius. Walaupun penceritaan dengan santai dan sambil tersenyum sederhana, yang menghibur. 

Terakhir saya. Sebagai seorang yang tidak begitu banyak hal yang disampaikan. Namun, perlu juga menyampaikan apa-apa yang telah teman lain sampaikan. Dengan santai menjawab pertanyaan serta menceritakan mindset miring di daerah latar belakang saya hidup. Selain itu, saya hanya menceritakan tentang kesalahpahaman tafsir ayat suci dalam penerapan. Bahwa tradisi carok yang dasarnya, salah. 

Contoh yang dapat sedikit sampaikan yaitu, kalau di daerah madura tentang carok yaitu; ada tiga yang wajib dibunuh 1. Perempuan yang selingkuh, 2. Agama yang direndahkan, 3. Harta. Tiga hal tersebut seringkali salah tafsir dalam hemat sederhana terjadi salah tafsir. Pada dasarnya kita tidak boleh melakukan pembunuhan kalau masalah tersebut masih dapat dirundingkan terdahulu. Tidak perlu penghakiman dianggap benar. 

Namun, tradisi tersebut dalam pandangan sekarang sudah berbeda. Jika pernah baca buku Kuntowijoyo berjudul "Madura" terbit 2002. Sejarah tersebut dibuka dengan periodisasi madura di abad ke XIX. Yang mana mana secara tradisi sudah banyak bergeser. Paling terasa pernikahan dini dan carok yang seperti setiap minggu dulu ada saja, kini sudah tidak ada. Hal ini ditandai dengan majunya pendidikan dan para anak-anak masyarakat di madura memiliki pendidikan tinggi. Pendidikan sangat memberi dapat sangat signifikan. 

Terakhir, saat bicara tentang jodoh dan idealnya pasangan. Tidak ada yang ideal dalam paras mata yang hanya mengandalkan logika dan hal material, untuk pasangan. Simpulan panjang lebar dibahas. Bahwa pasangan ideal bagi perempuan, lelaki, dan waria, hanya bisa ideal kalau kita bisa menemukan pasangan yang karakternya itu cocok dengan dirinya. Karena selain itu cinta hanya bicara tentang hasrat dan nafsu--yang saat sudah tercapai tersisa bekas baik buruk memperlakukan dengan memuliakan rasa. Begitulah.