Sabtu, 12 September 2020

Cerita Kolektif Ganjil Masa Pandemi



Membaca buku ini, seperti memakan camilan kacang tanah “sekali memulai makan serasa tidak mau berhenti, sebelum habis”, Kalau bicara pengetahuan, pasti buku ini memberi sebuah pandangan, bahwa cerita kolektif ini menurut hematku. Mengingatkanku pada salah satu cerita pendek, yang terkumpul dalam satu buku kumpulan cerpen Martabat Kematian ditulis oleh Muna Masyari. Penulis asal Madura Pamekasan. Karangan Agus Noor berjudul Kisah-kisah Kecil & Ganjil, berisikan kisah 1001 pandemi, memiliki kisah gelisah bersama. Yang setiap tokoh atau naratornya memberikan sebuah pandangan akan hal pandemi yang menyelimuti negeri ini.

Sebagai pembaca memberikan pandangan paling sederhana; mulai dari bentuk buku minimalis serta cover yang begitu cerah namun tidak membosankan kala dipandang. Ketika dilihat bisa enak dipandang dikarenakan sebuah kombinasi warna merah dan abu-abu dan biru. Buku yang diterbitkan oleh Diva Press di tahun 2020. Agus Noor dalam pengantarnya menyebutkan bahwa bentuk kreatif menulis bukan hanya ingin memberikan sebuah ceramah akan hal kepenulisan semata, yang biasa dilakukan oleh sebagian banyak orang memberikan sebuah pemahaman kreativitas kepenulisan. 

Namun beliau memberikan sebuah cara bahwa memberikan pelatihan penulisan bukan hanya mengenai sebuah teori namun dengan cara memberikan sebuah objek dalam menulis dengan suasana kota, dan menawarkan kepada orang yang ingin mengikuti menulis bersama dengannya. Hasil dari semua tersebut dikembangkan kembali olehnya dijadikan cerita utuh dalam satu novel. Proses tersebut dilakukan oleh beliau bagi yang mengikuti menulis bersamanya tersebut; yaitu menulis di akun instagram. 

Aku duduk bermalas-malasan, selama beberapa bulan, kebosanan dilewati. Kepala ini, dan rasa ingin keluar tuk mengarungi dunia bebas, sebebasnya pikiran (bebas yang dikodratkan), terbendungkan, dengan narasi tunggal covid 19 menggegerkan dan gegarkan dunia, kondisi dunia baru seperti tercipta. Setelah terbit novel berjudul Kisah-Kisah Kecil & Ganjil karya @agusnoor_ isinya kumpulan fragmen menggugah naluri. Setelah saya pergi ke meja belajar membuka buku dan memulai mengarunginya. Kepala digedor-gedor dengan pemanis buatan malam 1001 pandemi, tuk menemukan kisah seolah-olah dunia ganjil yang membuat tanya. 

Kepalangan dan kepalangan; seperti halnya kisah seorang anak yang ingin sekali mencapai semua harapan-harapan besar. Namun, ketika berkaca di atas air yang bening, tapi sepertinya angin membuatnya bergoyang, kejelasan dari bentuknya wajahnya tidak jelas. Kota dan desa seperti sudah tidak indah lagi, kecuali rongga hati dan isinya menjadi kunci. Kisah-Kisah Kecil & Ganjil merepresentasikan jiwa zaman (zeitgeist), yang tidak dapat dipungkiri kegelisahan bersama dirasa, dalam buku mungil dan memukau ini. 

Sebuah masyarakat urban atau pedesaan, merasakan hal serupa; derita, lara, dan gegar. Bahkan, dalam per bab novel tersebut memberikan sebuah fragmen luka tergambar dalam narasi kolektif di dalamnya. Dan pada akhirnya ketunggalan akan tinggal seperti menjadi manunggaling gusti; ada yang gagal, ada pula yang berhasil mencapainya.Sebuah kisah yang akan memiliki nafas panjang nantinya; di masa akan datang peradaban dan menjadi kronik di masa mendatang, bahwa ada kalanya semua merasakan bahwa pandemi menjadikan dunia seakan ganjil menyimpan pertanyaan mengerikan atau membahagiakan. Kepala berbeda akan memiliki nostalgia berbeda; bukannya nostalgia sebuah derita paling mulia di kehidupan nyata. Pun, dengan pandemi ini menjadikan manusia jauh dari raga, padahal kegagalan tujuan dari Pencipta bahwa kembali pada Yang Tunggal, untuk merenungkan keramaian hidup yang seperti ganjal.

KUMANDANG YANG MALANG


“Mariyam, kamu mau kemana?”

“Saya mau ke kolam ingin redam, agar sedikit tenang, masak keluar jauh sekali-sekali tidak boleh bu”.

“Boleh nak, tapi jangan sendiri bahaya, apalagi ke kolam umum itu”.

“Iya bu, Iyam ajak Isa ya Bu”.

“Iya bawa adekmu itu”.

“Saya berangkat bu”.

Pagi yang cerah membuat Mariyam berangkat untuk berendam, anak jaman sekarang untuk menghilangkan penat redam ke kolam. “Padahal kolam itu tempat sangat berbahaya, apalagi anak jarang keluar seperti Iyam. Permintaan harus sedikit diberikan lantaran anak itu jarang meminta apa-apa, aku turuti saja”. Percapan hati seorang ibu setelah anak keduanya pergi ke kolam, dengan membawa motor peninggalan ayahnya. Coba saja Pak Yanto sebagai kepala keluarga masih ada akan ada liburan bersama dengannya dalam mengisi kekosongan. 

Berangkat dengan kekawatiran orang tua seorang ibu menjadikan sebuah gambaran akan ada apa, dan akan seperti apa?. Semua pada dasarnya berangkat dari mana manusia tidak hanya bertahan dengan sebuah ketidak berkembang ketika manusia selalu berada dalam genggaman orang tua. Jika mampu membawa akan senantiasa menjawab akan menjadinya anak sholeh dan sholehah diharapakan setiap orang tua. Jika tidak biarakan Tuhan menjawabnya. 

Berajalan tidak tahu kalau tempat kolam itu di mana terpenting kolam, katanya anak jaman sekarang nekad, Iyam dan Isa tanpa ada petunjuk sampai di tempat, perjalanan 7km dari rumahnya. Hanya mengandalkan Hp dan paketan tidak ada yang tidak mungkin dalam perjalanan, sudah sampai di kolam umum itu, sebagai mana Iyam jarang keluar rumah baru pertama kali ingin tahu mandi di kolam lantaran melihat teman-temannya di story gedged-nya ada di kolam, berangkat dari jaman sekarang bukan karena sebuah keinginan hati. Semua seperti ada stimulasi dari sebab moderniasasi. 

Isa sebagai anak cowok penurut tidak keluaran, tidak pernah tahu bahwa kolam itu seperti yang ada dalam bayangan ternyata hidup itu luas, sebagaimana ini salah satu ciptaan Tuhan dan salah satu kehendak-Nya. Malu-malu untuk menyewa baju renang, karena harus pake baju renang jika ingin mandi, bagaimana mau mandi kaum wanita dan laki-laki campur. 

Sebagai anak santri yang pulang karena liburan, mengingatkan Isa pada kehidupan di pesanteren, menemui hanya hamparan sungai menggunakan sarung atau tidak gunakan polosan pada saat mandi tidak masalah. Paling beda air yang mengalir hilir, bukan hanya seperti kolam diam tapi diombak-ombak oleh manusia, akan membahayakan badan serta kulit.

“Hmm Ini bagaimana mbak?” dengan malu-malu menyampaikan.

“Ahh tak usahlah malu ayo mandi”, 

“Terlalu rame mbak”.

“Sepi itu kali di pesantrenmu adanya lab-balap1 hehe”.

“Mbak dapat ide dari mana mandi di tempat seperti ini?”

“Sudah, ayo foto dulu mbak!”, setelah itu foto bareng dek”.

Jika hari libur menguntungkan bagi pemilik kolam, suasana gembira senang bersama anaknya ada juga, ada yang senang bersama kekasihnya, ada yang gembira dengan pacarnya, semua searasa dalam keindahan dalam kesat mata. Isa dengan kecemasannya. Ada yang bergelombol orang laki-laki kaum muda. Tidak tahu apa yang dilakukan banyaknya manusia di dalam kolam sebesar 21 m x 25 m x 5cm khusus dewasa. Semuanya mandi dengan gembira.

Setelah beberapa jam sudahlah bergegas untuk kembali dan pulang ke rumahnya, Iyam dan Isa langsung ke rumahnya. Setelah sampai di rumah seorang ibu menyiapkan makanan dengan lauk telur, tiram, dan pisang. Makanan itu seperti biasanya ibu siapkan oleh kepada anak-anaknya. Setelah makan langsung bergegas semuanya untuk beristirahat. 

(***)

Siang dan malam telah menjadi hukum dunia dalam merasakan disetiap kehidupan manusia untuk bisa, menikmati setiap karya-karya dari manusia, ada yang menderita dengan caranya serta menderita dengan keadaanya, serta berbahagia dengan fungsinya. Semuanya ada dalam siang dan malam. Gelap dan terang tempat manusia, membaca, mengarang, menuliskan bahkan menunjukkan. Suasana mengajarkan sebuah karya yang dikerjakan. 

Hidup itu sebuah penyesalan ketika paham akan sebuah keadaan, akan tetapi itu pilihan bagaimana manusia, akan tetap bertahan? apa akan menyerah dalam kehampaan, mengengai hidupnya, bahkan mengeluh untuk memperhalus perasaan menyerah akan memperkeruh keadaan maka itulah kehidupan dan keduanya sebuah pilihan. 

Mariyam kini menemukan kematian dalam kehidupan, merasakan penyeselan dalam kehidupan, yang pernah terpikirkan namun tak pernah merasakan, bahkan tak disangka akan merasakan segalanya dengan penyesalan sangat dalam. Menanggung malu keluarga, warga desa, hingga tahta seorang wanita, bahkan pada agama, ternyata kewajaran seorang wanita hamil muda itu hal biasa akan tetapi bukan biasa ketika hamil tanpa siapa yang mendzolimi, menyetubuhi, bahkan tak mengetahui kapan bisa terjadi proses sel opum perempuan dengan sperma laki-laki bersatu, proses fertilisasi, proses pembelahan sehingga terbentuk menjadi bayi. 

Hanya terasa pada saat Mariyam mual dan merasakan apa yang dirasakan orang hamil. Seorang ibu yang merasa hancur, terpukul, bahkan merasakan hal tak berharga namun itu bermakna, malu terasa ada di atas benalu yang tak tahu siapa yang mengkui dirinya dan anaknya. Merasakan kematian dalam kehidupan Si Mariyam. 

Setelah mendatangi ke dokter, dokter menjelaskan bahwa anak Ibu Warni hamil, bukan hal yang bahagia karunia itu sebagai bencana, bagi keluarga, desa, bahkan seluruh dunia dengan agama yang dibawanya. Ketika ibu harus mempenjarakan seorang Mariyam dari penjara suci, padahal penjara suci selalu menjadi tamingnya, sebagai pondasi selain agama, cara, serta pelarangan pacaran sebelum waktunya. Pada siapa akan menyalahkan, Tuhan hanya menciptakan bahkan segala kehidupan sudah dipasrahkan bagaimana manusia bisa membawa dunia dan kehidupannya, surat-surat berupa cara Tuhan sudah menjelaskan 

Tuhan tidak akan merubah nasibnya suatu kaum kalau tidak mengubah sendirinya.

  Masihkah menyalahkan dan membeci Tuhan sebagai mana telah diberikan sebuah ketidak wajaran dalam hidupnya. Ternyata manusia selalu hidup dan bisa berkembang sesuai dengan keadaanya. Sebagaimana manusia berada pada zaman sekarang. Bahwa modrnisasi sebagai kebanggan dan sebagai kewaspadaan, karena pada zaman 1980-an masih belum ada orang hamil tanpa suamianya. Kecuali zaman Bunda Mariyam Ibu Nabi Isa AS.

(***)

Setelah diproses dalam kandungan Mariyam, karena isu warga sudah sampai ke desa sebelah, serta warga sekelilingnya sudah tahu kalau Mariyam belum menikah, tapi hamil. Pergilah salah satu warga paman dari Mariyam untuk mendatangi kepala desa, melaporkan kejadian ini kepada kepala desa. Pak lurah itu kaget setelah dengar fenomena itu, bahwa ada yang hamil di luar nikah. Bapak lurah sebagai kepala desa bergegas untuk segera mengurus siapa yang menghamili Mariyam. “Bukannya sosok dia orang bisu dan tuli sebagai perempuan baik1”, sambil gelengkan kepala desa Jamal itu. Masalah itu dilaporkan ke polisi sebagai pihak berwajib untuk segera menuntaskan masalah ini, segera menelfon pak polisi.

“Selamat siang Pak, saya kepala Desa Alasrajah, Kampung Konyik, di sini ada masalah, minta bantuannya pak”.

“Siang, iya, masalah apa pak?

“Ada orang hamil tapi suaminya tidak bertanggungjawab”.

“Saya catatat segera menuju ke desa bapak. Kronologi itu diperkosa dan yang pasanganya tidak bertanggungjawab atau melarikan diri?”

“Saya tunggu, nanti akan dijelaskan di desa saja pak”.

Bergegaslah menuju ke desa itu, untuk menemui si korban. Perkumpulan desa itu membuat gaduh desa itu, serta seorang ibu dan Mariyam tidak henti-hentinya mengalirkan air matanya, bahwa kandungan sudah berumur 3-4 bulan, Tuhan telah menitipkan nafas pada janin seorang yang hamil. Seharusnya menjadi kebanggan, Namun tangis itu bukan kebahagian. Menangis tidak akan menyelesaikan masalah, bahwa dalam hamilnya itu, Mariyam menjadi bahan olok-olok setiap hari ramai datng ke rumahnya. Wajah dari orang yang datang memiliki paras beraneka ragam dalam perasaan ibu, Ada yang menjenguk dengan rasa iba, ada pula dengan rasa empati, ada pula dengan rasa malu dengan rasa percaya dirinya paling benar, sehingga menghina pun sudah akan menjadi terimaan oleh batin Mariyam dan keluarganya. 

Karena walau bagaiaman pun, penyelesaian tidak akan menyelesaikan masalah, sehingga dosa berzina sedikit pun tidak dirasakan oleh Mariyam, sebagai mana katanya zina itu nikmat, karena diberi bumbu oleh setan. 

Sebagai mana datang kembali ke rumah Mariyam seorang polisi bersama kepala desa itu. Bahkan isu itu terdengar oleh media sehingga wartawan dan warga yang suka dengan menyebar luaskan berita tanpa verifikasi datang untuk mendatangi, serta menggali informasi untuk mejadi citizen jurnalism atau dikenal jurnalisme warga, tanpa memikirkan praktik jurnalistik oleh warga masuk pada karya jurnalistik. 

Pertanyaan yang dilontarkan menguyak-ngoyak batin Mariyam, seperti halnya wawancara dengan narasumber yang tidak ingin bicara karena kebingunan dan tekanan. Sebagai orang periang polos dan jarang keluar dari rumah ternyata hamil di luar nikah. Setelah ditanya dan seorang Mariyam dengan deraian tangisan dengan menyumpah akan dirinya bahwa tidak berdosa atas terjadi menimpa dirinya yang hamil. Warga ada yang percaya akan apa yang dibicarakan oleh Mariyam karena jawaban yang histeris dengan tangisan. 

Warga serta kepala desa saling mencari cara bagaimana bisa, jika tidak terjadi persetubuhan bisa hamil. Pertanyaan di lontarkan kembali mengenai yang terjadi pada Mariyam apa pernah bermimpi aneh, seperti halnya cerita-cerita Bunda Mariyam bermimpi ada bulan masuk keperutnya.

“Sebelumnya pernah bermimpi apa Mariyam ada yang aneh kah?”

“Jawabannya tidak pernah bermimpi apa-apa”. 

Semua pikiran sudah dikerakkan, bahwa dengan apa lagi ini bisa dipecahkan isu semakin luas, perkembangan media massa. Menjadi trending topik di sosmed-sosmed, kehidupan sekarang tidak bisa menyimpan aib sedikit, semua warga serta aparatur negara bisa mengkomsumsi apa yang menjadi informasi, banyak yang memposting ke Ig, youtube, twiter dll. Semua orang dengan mudah menerima informasi. 

Salah satu warga pergi ke dukun untuk menanyakan tentang permasalahan yang menimpa pada Mariyam. Jawaban seorang dukun agar tenang dan ditemukan siapa yang menghamili Mariyam, seorang dukun ternyata sama saja dengan dukung yang lain, suruh mandikan dengan kembang tujuh rupa, maka akan ketemu siapa yang menghamili, resep itu resep umum dilakukan dukun. 

Semua serasa menjadi usaha sia-sia yang nyata. Bagi batin yang tidak kuat akan melakukan bunuh diri ditimpa seperti ini. Harus dipenjarakan jika si pelaku ditemukan lalu mempertanggungjawabkan. Semua orang memberikan pendapat seperti itu.

(***)

Setelah sampai beberapa hari, mendatangi dokter kandungan untuk memastikan kehamilannya, tidak diragukan ternya 100% sudah berbentuk bayi. Sebuah karunia dan keajaban Tuhan dalam memberikan sebuah keajaiban anugerah. Karena yang baik tidak akan memikirkan kejelekan akan sennatiasa mengembalikan bahwa setiap kejadian bukan keberuntungan bisa terjadi kalau tidak ada campur tangan Ilahi. 

Polisi serta warga setiap hari meramaikan rumah kediaman Mariyam, ketiga kali datang polisi mendatangi ibu dari seorang Mariyam, menanyakan mengenai aktivitas kesibukan Mariyam, serta kesehariannya, 

“Mariyam pernah keluar ke mana saja bu?”

“Sebagai anak rumahan dan selain keluar ke langgar3 sebelah rumahnya, jika keluar hanya ke warung semenjak lulus SMA tahun lalu, setelah itu Mariyam masih dalam pingitan4”.

“Terakhir kemana ibu dia keluar?”.

“Lima bulan yang lalu dia terakhir keluar jauh, ke kolam umum bersama adeknya Isa”.

“Isa selama keluar mbaknya pergi kemana saja?”

“Tidak, kemana-mana pak kami berdua pada waktu itu kita hanya pergi mandi di kolam umum 5km dari sini, di sana kami hanya 2jam aja, setelah itu pulang pak”.

“Benaran itu?...

“Benar berani bersumpah pak”.

Sebagaiman mana ketidak wajaran akan senantiasa menjadi manusia selalu berusaha akan menemukan sebuah tanda tanya itu, menyesuaikan apa yang terjadi dalam hidup manusia dari hari-hari bukan saja memberi dan menerima saja, namun manusia bisa dituntut untuk mencari yang menjadi tanda tanya, siapa tahu akan berharga dan menjadikan manusia lebih bijaksana atas apa yang diketahuinya. 

(***)

Penyelidikan dimulai dari itu tempat kolam umum itu, tidak ada tanda apa-apa sebagai kesat mata. Setelah mendatangi staf penjaga kolam itu, Isa ikut karena sabagai saksi, setelah memulai dari bukti kedatangan ke tempat itu, pertama seorang polisi mengecek pada tanggal berapa, pada di tanya Mariyam dan Isa lupa, namun polisi menanyakan apa ada foto pada saat di kolam itu, ternyata ada Isa memberikan foto dan polisi cek pada tanggal berapa berfoto, di pengaturan foto program tanggal aktiv, setelah itu polisi menemukan tercatat tanggal 25, Februari 2018, setelah mendapatkan foto pada waktu berselfie bersama Isa, setelah jelas tercantum seperti di atas. Polisi mendatangi tempat kolam tersebut. 

Setelah sampai di tempat mendatangi staf penjaga kolam itu, dan menanyakan pada tanggal 25, Februari 2018. Proses pencarian itu untuk membuktikan bahwa kekuasaan Tuhan samapi di mana, masih Tuhan berikan dalam kehidupan modernisasi, masih saja di zaman sekarang ada hamil tanpa ada suaminya. Fenomena itu mengingatkan pada terjadinya Lahirnya Yesus Kritus tanpa memiliki ayah, dan menjadi sebutan anak Tuhan karena karunia dilimpahkan. Jika bukan kehendak Tuhan siapa lagi sebagai manusia sadar akan terus berusaha mencari ada apa kok bisa?. Sebagai tugas manusia sadar akan keadaan dan ciptaan.

“Permsisi mau tanya pak.”

“Iya pak mau tanya mengenai apa?”

“Menegai tergedi ibu hamil tanpa suami tanpa berhubunga intim.”

“Pada tanggl 25, Fenruari 2018 yang lalu ada kejadian aneh di kolam bapak?”

“Aneh bagaimana pak?, tidak ada apa-apa seingat saya pak, karena pada waktu siang kebetulan shif itu yang menjaga saya. 

“Aneh ada hal yang tidak dapat kita jangka dalam pikiran.”

“Tidak ada pak, seingat saya!”.

“Ada pak masalah pada saat itu!” ada salah satu kariyawan teman pak Rudi.

“Silahkan jelaskan Pak”, saut pak polisi memberi kesempatan.

“Waktu itu, saya dan Pak Rudi menemukan pemuda mandi di kolam ini melakukan hal yang tidak senonoh. sebelum pukul 9:00, sekitar pukul 7:45WIB, kami meringkus dan mengusir pengunjung muda itu”.

“Lantaran apa diusir membuat onar kah?” saut paman Mariyam.

“Tidak buat onar. Tapi anak muda itu melakukan hal yang tidak senonok di kolam kami, waktu itu ternyata pemuda itu melakukan onani di kolam kami, kita berdua mempergoki tingkah laku orang itu, dengan gerakannya yang aneh kami pantau dengan petugas yang lain, jika tidak percaya bapak bisa melihat di CCTV kolam ini. Maka dari itu kami melakukan pengusiran pada pemuda itu, hanya kejadian itu yang menurut kami masalah pada tanggal itu”.

“Ohh iya terima kasih atas penjelasannya”.

(***)

Setelah mendapatkan informasi itu bergegaslah kembali, menemui dokter untuk meminta penjelasan bahwa, bukti konkrit tidak ditemukan, tapi seorang paman dan polisi yang terus mengurus kasus hamilnya Mariyam. Namun dari hasil itu memeberikan tanda tanya dari data yang dipadapat, walaupun itu hanya bukti ambigu tapi sebagai dokter spesialis akan paham prosesnya sel opum dan sperma berkembang pada janin perempuan. 

“Dok, apa bisa orang yang tidak berhubungan intim manusia bisa hamil?”

“Tidak bisa pak, akan tetapi bisa seorang perempuan sehat akan bisa hamil jika sperma aktiv subur menyatu dengan sel telur perempuan dengan proses yang ringan, ketika sperma itu bisa masuk ke dalam varji’5 maka akan menjadi bayi dan menjadi seorang perempuan itu hamil, hal itu tidak lepas atas keajaiban Tuhan, Kenapa memanganya pak?”

“Bisa jadi Mariyam korban dari apa yang dikatakan dokter ini”.

“Iya bisa jadi pak”, karena sapi di tetangga saya bisa hamil dan punya anak tanpa dikawinkan, lantaran sapi tetangga disuntik.

“Hukum apa yang akan diberikan pada pemuda itu, kesalahan apa memang karena sebuah kekuasaan Tuhan yang Maha Esa, apa-apa yang tidak nyata akan menjadi fakta dan nyata. Polisi dengan menggelengkan kepala atas kuasa dan bagaimana hukum ditendakan pada pemuda itu.

“Manusia pun bisa melakukan suntik kehamilan tanpa harus berhubungan intim, terpenting sperma sehat bertemu dengan sel opum sehat, akan terjadi kehamilan.

Fenomena yang ada pada modernisasi tidak lepas campur tangan yang Ilahi apapun yang tak mungkin menjadi mungkin, karena dunia adalah campur tangan. Modernisasi tidak akan mematikan Sang Ilahi6, sebagaimana Tuhan dan perkembagan tidak diam, alam bergerak manusia pun ikut bergerak serta Tuhan akan juga ikut, kekawatiran seorang Ibu akan bahaya pergi ke kolan memberi bukti, kekawatiran seorang ibu memiliki campur tangan Tuhan.


REVOLUSI PENDIDIKAN MASA PANDEMI


Masa pademi semua orang akan merasakan sebuah kegelisahan bersama, tanpa terkecuali. Khususnya di negara Inggris, iItalia, dan Indonesia masih belum mengalami penurunan hasil membaik. Banyak cara telah dilakukan, berharap akan tetap lebih baik dengan cara paling dilakukan secara bersama. Mungkin semua orang telah tahu kalau virus corona ini berasal dari Wuhan China kini telah menyebar ke seluruh dunia. Kehadiran pandemi ini memberikan dampak luar biasa, paling signifikan dari sektor perekonomian mulai dari ekonomi mikro hingga makro akan mengalami degranasi, jika tidak stabil krisis, mari kita semua melakukan refleksi pasca pandemi ini diantisipasi. 

Namun, dalam tulisan ini bukan perihal per-ekonomi melainkan mengenai dunia pendidikan yang tentu menjadi perhatian paling sentral. Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan  Bangsa Bangsa (PBB) Unisco merilis ancaman kepada masa depan anak sekolah seluruh dunia 300 juta siswa terganggu terhadap kegiatan sekolahnya dan terancam hak-hak pendidikan mereka di masa depan. 

Dampak besar pada dunia pendidikan akan terjadi kepada dua objek menurut hemat saya. Pertama psikologis anak akan terganggu, paling sederhana sekolah tidak akan maksimal dengan dunia anak adalah bermain tidak dipungkiri di rumah anak biasanya harus bermain, kali ini harus belajar. Tentu, akan memberikan ketidak nyamanan kepada orang tua yang harus terus membagi waktu kerja sambil mendampini anak untuk sekolah secara daring. Kedua kepada guru (tenaga pendidik) yang akan mengalami gegar pendidikan mengapa demikian, tidak dipungkiri setiap guru tidak akan semua bisa mengoprasikan media sosial, atau lebih tepatnya memahami aplikasi yang bisa dijadikan wadah mengajar. Sebagian guru, khusus yang berada di desa bukan tidak ingin mengajar muridnya. Namun, ada yang tidak bisa mengoprasikan hp, laptop, dan sejenisnya. Kepanikan pada elektronik pasti akan terjadi pada sebagian guru.

Sekolah dalam bentuk virtual tentu ada nilai postif dan negatifnya. Sebab jika dipandang dari segi positifnya dalam konteks pendidikan sekarang sudah masuk pada suatu di mana orang tua memang betul-betul menjadi guru pertama mengajarkan anaknya, karena pemerintah telah menginisiasi mengenai penyebaran covid 19 dengan cara tidak keluar rumah. Dari dampak negativ seorang kepala keluarga atau ibunya, akan merasakan apa yang telah terjadi kepada per-ekonomian tidak setabil secara internal, serta arus terus mendampingi seorang anak sambil bajalar dengan membelikan kouta untuk menyambukan ke internet. Hal tersebut akan menjadi pekerjaan sangat berat dan ganda. 

Bersyukurlah kepada anak yang memiliki orang tua kreatif. Sebab akan selalu menampung cara sebagaimana seorang anak tetap bisa belajar dengan baik di rumah. Jika tidak membuat nyaman kondisi di rumah jangankan untuk belajar, sekolah pun akan menjadi bosan. Sebab anak sekolah terkadang bukan karena butuh pengetahuan, namun lebih ingin banyak bermain di sekolah bersama dengan temanya, jika itu tidak dimaksimalkan dengan baik akan merasakan stress, tidak mau belajar di rumah karena tidak ada temannya. Seorang anak tidak akan terlalu tahu banyak dengan detail apa yang terjadi pada dunia yang mengalami gonjangan besar, menghadapi pandemi ini. 

Masyarakat telah melakukan usaha kecil dari bawah telah dimulai. Maka dari atas perlu ada ketentuan serta ada standarisasinya, sebab ekor akan selalu mengikuti kepala di mana berjalan. Kecuali memang kepalanya tidak melangkah dengan baik. Apalagi masih bersikap anak kecil saling menyalahkan. Ada yang menyalahkan pemerintah ada pula yang menyalahkan masyarakat karena tidak saling sinergi. Maka kebijakan pemerintah sangat menjadi penting dalam kondisi seperti ini. Pandemi covid 19 ini akan mengganggu kesetabilan dunia pendidikan. 

Menteri pendidikan baru periode kedua Presiden Joko Widodo mengkampanyekan kemerdekaan belajar di tahun 2020 hingga jika tidak diubah lagi yang disuarakannya tersebut Unas khusus sekolah di Indonesia ini tidak akan dilakasanakan atau dihapus. Namun, semua itu terkendala dengan adanya pandemi ini maka tidak lain perjalanan program kerja tidak akan maksiamal. Dunia pendidikan hari ini tentu diseluruh dunia mengalami hal serupa. Maka yang harus menjadi pekerjaan menteri pendidikan, segera menyusun kurikulum darurat pendidikan, sehingga revolusi pendidikan harus terjadi. 


Kurikulum Darurat Pendidikan

Perubahan seharusnya  terjadi dari segi pendidikan ini. Sebab jika tidak ada, progresif pendidikan kita tidak akan samapai pada final atau stabil dengan baik, secara praktik di masyarakat. Seorang guru masih bingun dengan cara-cara apa harus dilakukan, karena tidak semua guru bisa menguasai alat-alat yang tersedia sekarang, atau bahkan masih tidak biasa menyampaikan pelajaran dengan cara jarak jauh. Ada yang menganggap guru harus bisa memberikan sentuhan secara verbal. 

Revolusi pendidikan sebuah cara paling baik untuk bisa meng-cover jalannya stabilitas pendidikan. Harus ada cara yang bisa memberikan standariasi mengajar seorang guru yang baik sebab tidak bisa dipukul rata dengan sistem awal yang khusus keadaan normal yang seorang guru masih bisa bertatap muka dengan muridnya, permasalahannya itu tidak bisa terjadi pada tenaga pendidik kita hari ini. Kondisi seperti memang harus ada jalan alternative agar kondisi lebih membaik khusus di dunia pendidikan. 

Hal ini harus ada kerja kolektif saling sinergi antar guru, wali murid, dan pemerintah. Untuk menanggunali atau mengatasi gegar pendidikan yang tidak pernah terjadi di masa-masa sebelumnya. Jika tidak ada gerakan seperti itu, yakin dedikasi pendidikan di Indonesia akan mengalami sebuah ancaman pada generasi emas yang katanya ada demografi pada tahun 2040, jika persiapan anak-anak didik sekarang tidak dipupuk dengan baik, tidak akan bisa menikmati bonus demokrafi. 

Sebab keadaan ini tidak dapat diprediksi kapan pandemi ini berakhir. Semua masih dalam tanda tanya akan masa depan diri sendiri apalagi negeri ini. Ekonomi serta virus corona masih belum menemukan keseimbangan atau bahkan mana yang harus didahulinya, masyarakat bingung akan kejelasan maka jalan paling baik sistem segera menjadi alternatif untuk menjadi jalan paling efektif dalam memeberikan keseimbangan dalam proses belajar mengajar masa pandemi menghadapi covid 19. 


Selasa, 18 Agustus 2020

Pandemi Kado Kemerdekaan Indonesia

 


Selamat Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke 75 tahun. Ibarat umur sudah tidak dianggap  muda dan bahkan tua lagi, melainkan sudah lanjut usia (Lansia). Bahkan negera sudah dianggap sudah berkembang. Pada umur kemerdekaan yang ke tahun ke 75 ini Indonesia mendapat ujian besar yaitu datangnya coronavirus. Sehingga kemerdekaan tahun ini memiliki nuansa perayaan (mensyukuri kemerdekaan negeri ini) berbeda, dengan tahun-tahun sebelumnya. Maka rasa nasionalis di Indonesia bisa dikatakan diuji.

Ujian setiap warga negara dimanapun sama, mulai dari perekonomian, pendidikan, dan pengangguran. Ketiga sektor tersebut pasti merasakan hal serupa. Sebab negara-negara yang tak terhindarkan dari coronavirus merasakan kegelisahan bersama. Tanpa memikirkan anggapan-anggapan mengenai konspirasi ataupun menyalahkan satu sama lain. Sebab  yang pada hal ini berfokus kepada dampaknya; selain dari ketiganya yaitu mengenai rasa nasionalis.

Secara artian umum kata nasionalis ataupun nasionalisme memberi definisi cinta tanah air dalam hal paling sederhana. Cinta tanah air merupakan suatu hal yang perlu ditanamkan sejak dini, dalam diri masyarakat bernegara. Sebab masyarakat telah memiliki wewenang serta kebebasan hidup di tanah sendiri, menemukan serta merasakan kemerdekaan. Sehingga memiliki sebuah rasa ingin melindungi, menjaga, dan merawatnya. Dengan cara-cara paling lembut atau ekstrim, secara internal maupun eksternal.

Dalam kondisi seperti ini, ataupun keadaan negara seperti dirasa sekarang ini. Nasionalis menjadi ujian tersendiri. Upacara bendera membanggakan sebuah negara menjadi langkah paling penting, karena mencerminkan tindakan paling sederhana melakukan serta menghargai para pejuang terdahulu yang telah menjadikan sebuah negara merdeka. Di Indonesia dikenal dengan upacara pengibaran bendera merah putih biasanya dilakukan pada tanggal 17, Agustus. Tanggal dan bulan tersebut memiliki sejarah tersendiri di negara ini. Tepat pada 17, Agustus 1945 pada zamannya, sudah 75 tahun. Kemerdekaan negara ini telah dikumandangkan dan simbol bendera merah putih sebagai bukti bahwa tidak ada penjajahan di atas bumi pertiwi.

Jika Bung Karno pernah memberikan sebuah pandangan kepada masyarakat Indonesia. Dengan sebuah statement fenomena hingga sekarang. Bahwa memerdekakan Indonesia dengan melawan orang asing itu lebih mudah, yang lebih susah melawan bangsa sendiri. Hal tersebut menjadi dedikasi dalam bernegara bahwa dalam mencapai sebuah kemerdekaan suatu hal sulit, namun lebih sulit menjaga, merawat, dan membenahi. Merupakan suatu hal yang lebih sulit. Karena jenis kulit serta karakternya pun sama.

Menjadi nasionalis tidak sulit, pun tidak mudah pula dalam kondisi seperti ini. Sebab ada yang secara internal diri secara tidak langsung melakukan praktik-praktik nasionalis; dengan terus mengamalkan budaya-budaya Indonesia yaitu mengenakan baju merah putih ketika upacara dan mengangkat tangan dengan hormat kepada bendera merah putih ketika digerek ke tiang, serta mengibarkan bendera merah putih di depan rumah sudah dianggap nasionalis. Sebab  hal yang tampak dari apa yang telah ada bentuk esensial dan  eksistensial.

Kondisi seperti hari ini membuka kita semua pada sebuah kondisi ujian terbesar umat manusia dalam menjalani kehidupan. bagi masyarakat yang merasakan sebuah kegelisahan akan sebuah kondisi kota dengan adanya sebuah pandemi. Namun, tidak untuk negara yang terhindarkan dari corona  virus tersebut. Bisa beruntung negara yang tidak terkena coronavirus.

Koran  Kompas telah menulis negara-negara yang tidak terkena coronavirus. Negara yang hingga kini, terdapat 15 negara dari 193 negara anggota PBB yang belum melaporkan kasus infeksi Covid-19. Adapun negara-negara tersebut, yaitu: Korea Utara Komoro Lesotho Turkmenistan Tajikistan Kepulauan Marshall Mikronesia Kiribati Pulau Nauru Kepulauan Solomon Samoa Tuvalu Tonga Vanuatu Sebelumnya, masih terdapat 18 negara yang terbebas dari virus corona, termasuk Sudan Selatan, Sao Tome dan Principe, serta Yaman. Namun, dalam beberapa hari terakhir tiga negara tersebut melaporkan adanya kasus infeksi Covid-19.

Kemungkinan hidup normal di negara tersebut tidak ada  sedikit perubahan. Kalau kepanikan tentu pasti ada, kecuali yang telah melakukan persiapan diri dengan baik. Kepanikan negara-negara besar tentu akan mengalaminya. Sehingga rasa nasionalis akan seperti biasanya terus menjadi jalan paling baik dalam kehidupan  negara-negara tersebut. untuk menyalahkan serta mengkambing hitam satu sama lain tidak ada, karena kehidupannya masih kondisi baik-baik saja.

 

Minggu, 16 Agustus 2020

Dekonstruksi Cendikiawan Konservatif

 

Pemahaman terkadang tidak difahami ketika dalam tindakan, konteks tidak digunakan walaupun itu memiliki nilai kebaikan. Memahami konteks dalam melakukan keputusan perlu bagi seorang cendekiawan. Albert Einstein memberikan sebuah pandangan kepada manusia dalam menjadi self driving ketika melakukan perubahan, bahwa persoalan perubahan yang dihadapi manusia bukanlah mengadopsi hal-hal baru, melainkan sulitnya membuang kebiasaan-kebiasaan lama.

Dalam hal ini selaras dengan sebuah pandangan sebelumnya dalam memberikan kontribusi terhadap apa yang terjadi dalam dinamika kehidupan sehari-hari apalagi berkaitan dengan keyakinan; harus bisa menyelaraskan dengan sebuah kebaruan yang ada dalam kehidupan, untuk menjadikan sebuah pandangan kreatif serta manusia terus berkembang,  bukan stagnan atau bahkan lebih parahnya berada di pinggir jurang. Namun, bukan menghilangkan tradisi lama, melainkan kontruksi ulang untuk dipadukan agar lebih baik disesuaikan dengan konteks zaman dengan tujuan berkembang.

Kepakaran seseorang tidak dapat dilihat dari apa yang dibicarakan. Semua orang dapat membicarakan apa yang tidak dapat dipastikan. Bahkan lebih fatalnya lagi hanya bisa memahami apa yang ada dalam temuan-temuan dari hal-hal tidak sehat. Dalam hal tersebut hanya mendengarkan nasehat yang masih memberi stigma orang lain tidak benar (menyebutkan si a tidak baik, dan b itu baik), biasanya ditemukan di ceramah-ceramah agama di youtube yang kurang bijak dan tidak tepat, dalam memberikan pendapat. Peran paling sentral ialah keterbukaan informasi serta maraknya digitalisasi yang tidak dapat dibendung lagi. Semua orang bisa mengambil akses apapun yang ada dalam dunia maya, sebuatanya.

            Semua orang dengan baik bisa belajar tanpa ada gurunya. Dalam hal ini tantangan bagi kaum dewasa bukan  lagi sebuah kemampuan menemukan intisari. Sebab dewasa ini manusia telah sangat mudah mempelajari sesuatu dan bisa menemukan sesuatu hanya dengan mengetik kata kunci dicari akan ada. Namun lebih baiknya bagaimana intisari tersebut dapat dikembangkan dan dapat dijadikan bahan sebagaimana nanti mampu memberikan dampak positif kepada dirinya sendiri dan bersyukur kepada orang lain. Maka berpikir sejenak dengan menggunakan hati salah satu jalan paling tepat dalam menghakimi sebuah kebenaran tanpa ada gurunya, lalu mengkorelasikan dengan sebuah perspektif orang sekitarnya, seperti guru, teman, dan keluarga. Hal itu pun harus hati-hati juga untuk menyaringnya.

            Beberapa hari lalu ada pertanyaan terlontar kepada saya. Pertanyaan itu ditanyakan pada saat keramaian pernikahan sanak family. Sebut saja namanya Sobir, ya ia seorang santri serta pengetahuan akan agama serta hadist-hadistnya sudah diluar kepala, bahkan tidak dapat diragukan kembali setiap apa yang dikatakan kemungkinan telah dilakukan. Jika dilihat dari penyampaian dengan tenang tanpa memaksanya, lebih tepatnya sangat memberikan pandangan akan sebuah pertanyaan hal seperti itu.

            Pertanyaan tersebut memberikan sebuah pasangan akan jati diri dan pendirian. Hal tersebut mengenai self ‘buku apa yang telah dibaca ketika memilih berbeda dari orang lainnya, sufikah, sastrakah, dan atau politikkah?’ pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan memberatkan bagi orang yang biasa saja. ‘jawabnya sederhana bagaimana mungkin bisa memahami buku tersebut, jika berbicara ku masih belepotan (tidak teratur)’. Dalam hemat saya, pertanyaan itu lahir dengan adanya sebuah keramaian di daerahnya dengan begitu banyak orang-orang membangun sebuah fanatic-fanatic kuat yang tidak tepat konteksnya. Pun, tidak dapat dijadikan sebuah prinsip yang tersimpan dalam dirinya, dan semua hanya menjadi umbaran (pembicaraan panjang lebar hingga tidak bernafas, tapi tidak ada dasar begitu jelas).

            Pada mulanya hal tersebut dibuka dengan sebuah pandangan agama. Bagaimana seorang bisa menyuarakan sebuah pandangan dengan baik, jika kebijaksanaan dalam memberikan sebuah pandangan tidak dalam bentuk berpikir, melainkan bentuk sebuah doktrin. Agama pada dasarnya doktrin untuk kehidupan masa kini, namun dalam dewasa ini jadikan agama sebagai objek yang dapat dikembangkan oleh subjek (manusia) sesuai dengan ketentuan yang ada namun tetap berpaku pada sebuah dasar yang telah ada, tanpa mengurangi atau melebihkan; pun, jika akan perlu dilebihkan untuk bisa dikembangkan kembali untuk lebih baik hematku tidak masalah.

            Menjadi masalahnya sebuah konteks tidak dapat dipahami oleh banyak orang. Bahwa agama bisa menjadi sebuah dasar baik jika bisa memadukan keduanya. Budaya serta agama. Walau pada dasarnya sebuah perbedaan yang signifikan, doktirn sifatnya agama, dan tradisi (kebiasaan) sifatnya budaya. Dalam hal ini jika dijadikan satu dari budaya dan agama akan menjadi sempurna dalam hidup berdampingan manusia di dunia ini, dalam agama Islam rahmatan lil alamin. Hidup berdampingan dengan rasa suka cita mencapai sebuah harapan bersama tanpa saling mencela dan membenarkan diri.

            Jika ada perkataan mengenai Islam liberal harus dijadikan sebuah pelajaran kedepannya mengenai kebenarannya. Bagaimana mungkin agama tidak bebas dalam berpikir dan menutup diri tanpa ada penerimaan terhadap agama lain, bahkan mengenai sebuah kesalahan paling sederhana terjadi kepada kita sebagai manusia. semua yang ada dimuka bumi memang saling menyempurnakan dan melengkapi dengan perbedaan pemikiran yang ada dalam diri manusia dengan latar hidup serta budaya yang ada.

            Indonesia memiliki banyak agama tidak dapat dijadikan sebuah patokan satu akan kebenaran. Semua memiliki dasar akan kebenarannya akan Tuhannya. Tidak dapat dijadikan sebuah masalah perbedaan agama akan dasarnya. Namun akan menjadi masalah ketika sesama agama namun tetap memberikan dampak negatif terhadap budaya  serta apa yang ada dalam hokum negara. Kita bermasyarakat memiliki bapak yaitu negara yang diperintah oleh manusia yang sedikit banyak memiliki niat baik untuk mengembangkan serta tetap melakukan langkah-langkah sesuai dengan yang ada dalam negara tersebut.

            Agama itu istilah dapur bagaimana penganutnya tidak memberi tahu proses pembuatan masakan yang  ada di dalam dapur, melainkan penikmat (orang yang berbeda agama, budaya, serta, kepercayaan). Namun, nanti bisa merasakan masakan yang dihasilkan oleh para penganutnya dipersembahkannya. Analoginya urusan agama yang berkaitan dengan Tuhan jangan sampai diberitahukan kepada orang lain, namun beritahukanlah cara-cara dirinya sebagai orang yang memiliki Tuhan, dengan memiliki sifat-sifatnya. apa-apa yang diharapkanNya, bahwa orang lain bisa merasakan bahwa agama Islam memiliki cara baik dalam memanusiakan manusia.

 

 

Sabtu, 25 Juli 2020

KEPADA EYANG SAPARDI DAN SASTRA INDONESIA
















Terima kasih telah berkarya sepenuh hati kami bisa menikmati serta mengambil intisari dari kesusastraan Indonesia; bukan hanya karya puisi namun karya sastra lainnya. Minggu 19, Juli 2020 diksi baru tercipta. Berkabung atas meninggalnya penyair besar Indonesia. Bahwa telah gugur abadi sosok dikenal menulis puisi Hujan di Bulan Juni.  Untuk sapaan lainnya SDD atau nama lengkapnya Sapardi Djoko Damono. Semasa hidupnya telah memilih jalan paling tepat yaitu berkarya banyak karyanya, Keberadaan tetap ada dalam teks ciptaanya. Telah banyak karya yang diberikan kepada generasi muda khusus di dunia sastra.
Setelah dipastikan tiada (meninggal) semua berkabung telah  banyak masyarakat telah memberikan respon positif atas mendiang Eyang SDD. Nyaris seluruh sosial media di Indonesia memberitakan ketiadaan serta memberitakan penyair yang menuliskan puisi “Hujan di Bulan Juni” yang selalu menjadi perbincangan. Tentu tidak asing bagi masyarakat pegiat sastra di Indonesia akan puisi tersebut. Bahkan, Semua akan tahu  puisi tersebut; mulai dari para pegiat sastra maupun yang tidak suka terhadap sastra. Semua merasa kehilangan tokoh besar Indonesia dalam sastra, memberi sebuah gambaran bahwa masyarakat Indonesia gemar akan keindahan.
Taburan bunga serta ucapan telah diberikan atas penghormatan terakhir jasadnya dan tidak akan berkarya kembali. Antusias kehilangan penyair SDD. Hal tersebut dapat dilihat secara signifikan dari ketiadaan  seorang penyair akan selamanya tidak akan bisa dinikmati kembali karyanya. Khususnya penyair besar Alm. Sapardi Djoko Damono. Ketika semua orang telah meyakinkan serta memberikan penjelasan bahwa kematian telah tiba pada Eyang SDD. Semua orang merasakan sebuah sajak-sajak yang berjudul “Pada Suatu Hari Nanti” ditulis pada tahun 1991 jika dibayangkan sekarang puisi tersebut berumur 29 tahun. Isi puisi tersebut berisi sebuah rasa kematian yang telah dirasakan oleh penulis disampaikan dengan begitu detail dan halus, kata tersebut sesuai dengan adanya situasi sekarang, sudah jelas hanya jasadnya yang akan sendiri ‘kata-kata’ dibiarkan dibiarkan sendiri. Begitu banyak masyarakat memberikan penghormatan dengan sebuah puisi. Beginilah puisi lengkapnya:

Pada Suati Hari Nanti
: Sapardi Djoko Damono

pada suatu hari nanti
jasadku tak aka nada lagi
tapi dalam bait-bait sajak ini
kau takkan kurelakan sendiri

pada suatu hari nanti
suaraku tak terdengar lagi
tapi di antara larik-larik sajak ini
kau akan tetap kusiasati

pada suatu hari nanti
impianku pun tak dikenal lagi
namun di sela-sela huruf sajak ini
kau takkan letih-letihnya kucari
(1991)   

Berdasarkan temuan dalam tulisan puisi tersebut. Sebagai pembaca seperti membaca kondisi sekarang yang telah tiba masanya. Eyang SDD dalam menulis puisi tersebut seperti halnya membaca kematiannya sendiri bahwa ketiadaan itu akan abadi. Namun, sebuah teks kata yang dipersembahkan itu akan abadi menemani seorang pembaca.  Gambaran tersebut memberi sebuah bukti bahwa ketiadaan seseorang akan menjadikan seorang akan merasa sebuah kehilangan, namun karya itu akan menemani semua kecuali yang tidak membaca. Jika masih memiliki rasa membaca karya-karya akan selalu hidup dalam jiwa pembaca.
Kematian seorang  penyair akan  dirasakan oleh para pembaca. jasabnya akan dirasa ketiadaannya namun ide, akan menjadi penentu manusia mengambil, bahkan mencoba menghidupkan kembali di dalam pikiran pembaca. Karena secara tidak langsung semua pikiran secara keras masuk ke dalam teks, pembaca akan dengan mudah menyerap apa yang ada dalam teks hasil si penulis.
Pembaca akan memaksa menghidupkan kembali secara tidak langsung mengajak penulis untuk menjelaskan secara baik harapan tersebut dimiliki pembaca yang kritis sehingga senantiasa mencoba mengendus-endus isi kepala  dengan yang ada dalam temuan teks (memahami sebuah isi buku). Kerja naluri dan otak tergambar jelas. Pun, jika tidak ada maka akan dijadikan sebuah catatan luas untuk menjadikan sebuah kronik hidupnya  pembaca.
Mengapa setiap penulis mati akan menjadi sebuah kesan luar biasa. Semua orang tidak bisa begitu saja sebab penulis memiliki rekam jejak dalam bentuk teks. Kehidupan teks akan mengikuti pola zaman serta pola pikir manusia yang telah ada bahkan dalam hal tersebut, semua masih dalam taraf meneliti keberadaan penulis untuk menelusuri lebih dalam.
Alm. Eyang Sapardi bukan seorang nabi. Namun, dalam karya sastranya telah memberikan sebuah ilham. Pembacaannya dalam berusaha menemukan pola bahkan dasar-dasar dalam berkarya menjadi sebuah kekuatan ada pada karya-karyanya. Pembaca akan selalu menjadikan dirinya sebagai penulis puisi yang rapi dan soft (lembut). setiap puisi akan mengajak kepada pembaca sebagaimana seperti seorang anak mendengar kan  si pencerita. Dengan seperti itulah penulis akan merasakan kehidupan dalam kematian.

Sabtu, 18 Juli 2020

Senjakala Kreativitas Penulis

gambar:ayufa.sirigar

Lika-liku perjalanan seorang anak muda dalam menjalani proses kreatif. Semua serasa menjadi sebuah perjalanan paling mengesankan. Setiap orang pasti memiliki kisah berbeda-beda disetiap membuat kisah-kisah. Hannah Arendt telah memberikan gambaran dalam hidup manusia itu dijelaskan  dalam tulisan Julia Kristeva memberikan sebuah perbedaan lalu terkumpul dalam judul buku "Hannah Arendt sebagai Sebuah Narasi" "Bahwa hanya narasi yang paling mengerikan, namun dengan narasi itu sendiri semua kegelisahan akan terobati, begitupun sebaliknya sesuatu hal mengerikan adalah narasi" Bahkan dalam sebuah kisah lain dalam filsafat  kebahagiaan sebuah kisah narasi bisa dibunuh dengan sebuah dekontruksi (membongkarnya ulang) apa-apa yang ada dalam kisah untuk bisa mengembalikan serta mengambil peran dari kisah tersebut, menjadi lakon.

Beberapa hari ini, bukan hanya hanya hari ini.  Namun sudah tiga bulan lebih, selain sibuk dengan kondisi kota disebabkan adanya sebuah goncangan besar adanya pandemi covid 19. Yang menyusahkan orang banyak bukan hanya orang Indonesia namun juga seluruh dunia merasakannya. Permasalahan tersebut sebenaranya permasalahan secara global seharusnya kalau tidak ingin ambil pusing tidak harus ikut memikirkannya. Sebab masih banyak masalah sendiri belum kelar. Bahkan, bisa dikatakan masih kacau semuanya.

Apa saja yang kacau, ya. Kalau boleh jujur masalah study belum saja selesai. Walau dalam waktu dua bulan ini sudah rampung tugas  akhirku (skripsi). Dalam hal ini sebenarnya masuk kategori permasalahan kecil dalam hidupku, sebab hanya berkutit sebuah harapan-harapan belum jelas ketentauanya. Jelas ketetuan tersebut akan bisa tidak mempertanggungjawabkan segalanya. Mengenai skripsi serta studi disiplin Ilmu yang digeluti. Pertarungannya kan nanti pasca lulusnya. Untuk masalah tersebut saya belum bisa menghakimi gagal sebab masih belum menjalani secara rill di masyarakat nantinya. Siap tidak siap, tentu harus siap.

Setelah dipikirkan semua yang ada dalam perjalanan masa study di Malang ini masih belum terasa secara signifikan. Mengapa demikian, karena masih belum memberikan kontribusi apa-apa dengan apa yang ada dalam realita. Walau secara segala perjalanan panjang tersebut banyak secara pribadi membanggakan hal tersebut. Mulai dari menulis buku mengumpulkan banyak buku dari hasil penjualaan dan bahkan hasil kerja dapat gajian menyisihkan untuk membeli buku. Hingga pada akhirnya sudah banyak buku, kurang lebih sudah 250 judul buku dimiliki. Paling  membanggakan yaitu mengenai pembuatan lapak baca Gerilya Literasi di gasebo FKIP Unisma.

Dari perjalanan tersebut mencoba membuka gerbang lagi menemukan serta menyelesaikan tantangan yaitu menyelesaikan skripsi. Menyelesaikan bentuk dari sebuah langkah baru studi dan tentu kan menjadi jalan paling tepat nanti dalam realitas ada dalam masyarakat. Sehingga sebuah langkah kisah akan menjadikankita menjadikan lebih dewasa karena di masyarakat lulus study akan dijadikan tolok ukur dirinya mengenai fungsinya.

Setelah memutuskan dan untuk bisa memilih jalan panjang dalam hidup tentu harus bisa menjadi sebuah asing dari beberapa tempat, atau mengasingkan diri. Mengambil jalan kreativitas yaitu menulis dan menekuni membaca pula. Jalan tersebut diupayakan untuk dilakukan setiap hari bisa ditekuni. Sebab dalam diri merasa bahwa jalan tersebut bentuk kreativitas kerjanya ada dalam diri kita (naluri). Sedangkan kratifitas ini disaat seperti ini, study masih aktif (belum lulus), yaitu melawam sebuah rutinitas yang menuntut kita bisa mengerjakans sesuatu ditentukan oleh orang lain (dosen) atau bahkan tuntukan kampus.

Membaca buku khusus refrensi skripsi bimbingan harus mengikuti intruksi. Sedangkan terkadang dipaksa oleh dosen, walau seharusnya tidak sesuai dengan keinginan hati. Ya, terpaksa mencoba mengikuti membaca buku tersebut. Namun, untuk memenuhi semua itu harus mengukuti agar study bisa segera diselesaikan (merangkupkan skripsi). Namun dalam proses belajar ini serasa sangat membantu dalam proses kreatif teori juga perlu dilakukan.