Rabu, 15 November 2017

REFLEKSI SUMPAH PEMUDA ERA MILENIAL



www.indoices.com


Akhmad

Sumpah Pemuda 28, Oktober 1928
Pertama. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe,
Tanah Indonesia.
Kedua. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mengakoe Berbangsa Jang Satoe,
Bangsa Indonesia.
Ketika. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia,
Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean,
Bahasa Indonesia.
Beberapa hari lalu telah terlewati oleh kita tanggal 28, Oktober 2017. Di mana hari itu kita dikenal dengan hari Sumpah Pemuda dan lahirnya Bahasa Indonesia, yang mana para pemuda-pemuda yang merasa dirinya harus mengenang sejarah dan tidak enggan melupan sejarah. Status dalam sosial media ramai dengan mendengungkan hari sumpah pemuda, diantara dalam status pemuda Indonesia di Sosmed WA, IG, FB, BBM, Twiter, sbg. Itu sebuah bukti cinta pada sejarah secara eksistensi.
Kaum muda menghafal dan mengerti dengan Sumpah Pemuda, kaum tua rasa-rasanya sudah tidak begitu mengerti, entah apa mereka enggan mau memahami, itu karena tidak mementingkan eksistensi. Dalam hal ini penulis mengamati dari Sosial Media (Sosmed), hasil kaum tua itu lebih sedikit, dari yang menyuarakan tentang Sumpah Pemuda. Akan tetapi semua itu dianggap tidak penting yang terpenting adalah esensi dari sumpah pemuda.  
Bagaimana manusia menemukan cara, dalam logika membangun cita-cita tidak lupa dengan apa yang nyata dalam sejarah, yang ada pada masa lampau terjadi, yang harus ditunaikan secara signifikan pada diri pemuda sekarang semangat 28/10/1928, untuk mengambil refleksi dari apa yang telah terjadi. Jika tempo dulu kaum intelektual mencita-citakan semangat muda untuk melawan kolonial Belanda, era ini berbeda semangat melawan diri sendiri yang menjerumuskan pada kebobrokan yang merisaukan, tanpa penajajahan mengenaskan. Tujuannya untuk menghindari apa yang telah terjadi di masa yang tidak baik, sehingga hal yang baik akan menjadikan sesuatu yang terjadi, sebagai evaluasi diri, dalam sejarah memiliki cara melalui perjalanan lebih baik. Serta untuk mencapai cita-cita, serta masa cara manusia yang telah ada dalam metarialis historis.
Untuk melalui segala hal yang terjadi dengan menghadapi apa yang akan terjadi, melalui cara manusia pada kudrotnya, dengan mengambil cara, dari apa yang ada atau yang telah terjadi, karena keterbatasan manusia dalam menciptakan ide fundamental yang dapat difungsikan dengan cara baru. Disebabakan lemahnya kaum muda Indoensia membaca.
 Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.
Riset berbeda bertajuk "Most Littered Nation In the World"
Sehingga ide pemuda era milenial tak memiliki kekuatan dalam merumuskan segala hal, maka seorang dewasa tidak akan dapat melogikakan apa yang akan dilakukannya, dengan kebebasan yang baik serta kreatif.
Sumpah pemuda yang dingungkankan dalam acara-acara mahasiswa di kampus-kampus dalam diri mahasiswa khususnya dalam Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, bahkan ada reflelksi yang sangat menyimpang dari apa yang akan dilakukan oleh mahasiswa, dalam melakukan sebuah perayaan atau ajang eksistensi mahasiswa. Maka mereka melakukan konsolidasi dengan melakukan aksi-aksi di pinggir jalan dalam memperingati “Sumpah Pemuda”. Dengan embel-embel untuk melakukan rekfleksi Sumpah Pemuda serta mengkrtisi para birokrasi negeri untuk malakukan aksi.
 Banyak cara untuk memperingati seorang pemimpin kita, dengan menggunakan kekreatifan diri dengan menggunakan kebebasan yang kreatif, entah itu yang di namakan esensi atau eksistensi sumpah pemuda di era milenial miris dalam merefleksikan cara yang diharapkan oleh Muhammad Yamin sangat tidak selaras yang dicita-citakan, bahwa di dalam diri kaum muda sekarang semangat kebersamaan dalam menciptakan semangat visioner untuk melawan kegersangan hati yang dijajah oleh diri sendiri, dalam mengaplikasikan semangat sumpah puda bagi pemuda kaum Z ini .
Sehingga mahasiswa dalam era melineal hanya pemuda berbaris untuk memeratakan barisan untuk sebuah ancaman bagi para pemerintahan, dalam memiliki pemikiran kaum muda khususnya para mahasiswa yang memerdekakan dirinya dari istilah kebebasan manusia/mahasiswa, mengaktualisasikan sebuah ispirasi yang berisi untuk menyadarkan dan menginngatkan, para manusia yang ada di atas dengan apa yang dikerjakan olehnya. untuk menyampaikan kebutuhan rakyat, atau menyuarakan harapan rakyat.
Namun kadang enggan mahasiswa untuk mendengarkan suara rakyat terlebih dahulu untuk menemukan problekamatika di masyrakat, bukan hanya tanpa kurang jelas dan aksi mereka hanya bicara kepentingan. Maka kearifan mahasiswa dituntut dalam tindakan yang solutif, sehingga tidak hanya objektif mengharamkan sebuah dogma dengan stigma tidak dapat dipertanggungjawabkan. Seharusnya ada beberapa tahapan terlebih dahulu dalam mensiasati apa yang terjadi dan melakukan refleksi serta renungan terlebih dahulu dalam diri pemuda.
Dalam Indoprogres.com tulisan Linda Cristianty Pada suatu hari, di tahun 1994, di tengah aksi buruh dan mahasiswa, mendengar seseorang mengucapkan “Sumpah Rakyat”. Bunyinya seperti ini:
Satu, Kami putra-putri Indonesia, mengaku bertanah air satu,
tanah air tanpa penindasan.
Dua, Kami putra-putri Indonesia, mengaku berbangsa satu,
bangsa yang gandrung pada keadilan.
Tiga, Kami putra-putri Indonesia, berbahasa satu,
bahasa kebenaran.
Banyak cara untuk mencintai Indonesia dan memikirkan rakyat jelata, apa yang dibawa dengan cita-cita bangsa keharmonisan dari Gotong Royong para generasi bangsa untuk membentuk melestarikan apa yang ada di Indonesia dengan cara para pemuda yang memberla dan bercita-cita revolusioner, asalkan jangan sampai melalui radikal, apalagi extreme revolusi, yang ada merugikan, karena evolusi diri lebih efektif untuk membantu Indonesia lebih baik.
Kitika ada eksistensi maka tidak lepas dari esensi, sehingga eksistensi adalah wujud substansi dari esensi, sehingga esensi apa yang ada dalam kehidupan yang nyata, jelas oleh kesat mata manusia. Esensi ada di dalam keberadaan yang nyata, dari apa yang terjadi dalam dunia yang nyata, serta bentuk dari sebuah cita-cita dengan cara yang berada di dunia, di dalam apa yang ada untuk memanusiakan manusia (Dehumanisme). 

Sabtu, 11 November 2017

Artikel Dunia Dalam Lipatan



DUNIA DALAM LIPATAN
gambar: Jurnalkita

Hidup di bumi sebenarnya ketika semakin tau dan semakin pintar, tidak ada apa-apanya seharusnya merasa semakin kerdil, tidak harus dengan sombong karena yang diketahui belum tentu betul, senyampang dunia masih berputar tak akan ada kebenaran yang tetap, hari ini benar belum tentu esok, itulah kebenaran dunia hanya paradigma setiap individu yang berhak memberikan sebuah kebenaran. “mata hati punya kemampuan 70 kali lebih besar untuk melihat kebenaran dari pada indra pengelihatan (Jalaluddin Rumi penyair sufi 1207-1273)
            Semudah apa ketika melangkah, sangat mudah menjalani hidup, bukan sulitnya untuk mengubah namun sulitnya untuk melakukan suatu tindakan ketika dunia telah memberikan arah hidup yang meyakinkan, maka manusialah yang bisa memanfaatkan. Namun hal ini kadang yang menjadi tidak sadaranya, sejauh mana mata memandang maka seluas itulah dunia di zaman yang semakin sekarang ini semakin sempit, mengubah paradigma kehidupan abtrak semua itu kembali kepada diri setiap individu. Hal ini yang menjadi pertanyaan mampukah ketika dunia ada di dalam lipatan.
Sehingga hal yang sulit menjadi mudah sebagai manusia intelektual mampu memanfaatkan dalam mengaplikasikan di dunia yang sudah ada ditangan kiri, ketika sudah bisa mengendalikan maka sejarah-sejarah baru akan segera dirasakan, semua itu ada pada tangan orang mampu berpikir yang kritis terhap lingkungan sosialistis, dan mampu membaca keadaan dunia. Bahwa pada nyatanya ada yang mengatakan dunia sekarang tanpa batas borderless world. Sehingga semuanya telah sadar bergerak tanpa mesin terasa dunia sempit katanya, sangat fatal ketika menutup mata untuk tidak membuka pancaindra yang telah digenggam. Bukan hanya menikmati sebagai fasilitas hanya menjadi eksistensi, dunia bukan tempat berkopetisi, namun untuk hidup berkolaborasi jika manusia dahulu hanya butuh sandang, pangan, gedong, akan tetapi sangat berbeda dengan sekarang bahwa mesin bagian dari kebutuhan hidup manusia yang sangat sentral.
            Diera modernisation ini sangat mudah untuk mengubah hidup yang akan meyakinkan  fasilitas kehidupan sudah lengkap tanpa mencari telah ada dan merasa kalau hidup di zaman ini ada dua dunia. Pertama dunia nyata yang kedua dunia maya, ketika diamati terjadi ketika bangun dari tidur tidak menutup kemungkinan yang ditengok dunia satunya (Gaway), di situlah kadang menggap ada dunia lain, selain dunia nyata yang ada di kehidupanya, dan itu di anggap bagian dari kehidupannya. ada di dalamnya yang selalu menjadi perhatiaan setiap yang pengguna gaway. Bahkan ada yang mengatakan kehidupan ini tanpa gaway dunia sempit sempit. Hal ini yang menjadi bukti terutama di Indonesia, jumlah sambungan Internet Indonesia saat ini memiliki 47 juta pengguna, dan bagi pengguna ponsel, ada 270 juta pengguna, terutama di DKI paling banyak 1,8 Gaway perorang, ( Riset Menkominfo,2014).
Dengan mengamati apa yang telah ada disekitar sangat pesat dalam pengguna gaway terutama di Indonesia, ini sebuah bukti dari kemajuan zaman dan menjadi ancaman kepada regenerasi bangsa yang hanya bisa menikmati tanpa memanfaatkan. Kadang juga menjadikan regenerasi yang manja tanpa untuk mencintai sebuah proses perjalanan hidup, karena dengan gaway yang memudahkan gaya hidupnya. Kadang juga dengan perkembangan zaman yang hampir kecangihan di era ini melupakan leluhur yang harus di lestarikan seperti budaya pemuda sekarang hanya memikirkan perkembangan zaman yang ingin akan membantu untuk memperbaiki hidupnya. Bagaimana ingin melestarikan budaya terlalu banyak kesibukan dan tanpa disadari kalau kebutuhan hidupnya ada di dalam genggamannya, dalam genggamnya yang selalu menjadi surga dunianya, kalau di surga ketika dalam hati hanya berkenginan maka langsunglah datang, karena setiap keinginangan bisa di akses melalui gaway yang digenggamnya .
Bagaimana dapat mengubah hidupnya kalau gaya hidup yang enak tidak diubah. Sesuatu yang nihil keti dengan sebaik mungkin.  lama mengecek dunia yang satunya, karena menggap kalau hidup telah memiliki dua dunia, yang pertama digaway, ketika tidak pernah membaca dan menganalisis apa yang ada dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Menurut Filsuf Eropa Basel Friedrich Wilhelm Nietzsche dalam buku filsafatnya “bahwa jangan biarkan Tuhan mati di zaman modern”. Bahwa zaman yang canggih ini tidak lepas dari campur tangan Tuhan. dalam hati pembaca mungkin akan bertanya dengan kutipakan kata-kata di atas. Pikiran logika saja tidak mudah menganalisis, maka renungkanlah. Beberapa lama untuk menumakan makna tersebut dalam kehidupan yang sangat luas Tuhan berperan tidak lepas, bahkan tidak menutup kemungkinan semua yang ada untuk manusia, agar dapat mensyukuri bahwa semua yang ada itu ada yang mengadakan.
Akan tetapi paradigma kita dalam mendalami semua itu buta untuk memandang semua yang ada, bahkan kecanggihan yang ada digenggaman kita kadang hanya menjerumuskan, bahkan menganggap Tuhan sudah tiada dizaman modern.
            Kemudahan dalam hidup sekarang memberikan dua bersyukur ketika diberikan sebuah Berbicara dunia yang ada di dalam lipatan seharusnya pikiran kita semua refleksi kepada diri sendiri karena itu semua tidak jauh dari kehidupan sekarang, menjadi orang lebih peka dan kritis dengan keadaan, lingkungan, maka berpikirlah sejenak dengan apa yang ada dibenak kita yang konkrit, bukalah naluri untuk merasakan apa yang didekat kita tapi kadang menyombongkan diri untuk tidak merasakan, dalam KUHP kesalahan yang fatal ketika orang salah masih tidak merasakan kesalahan, maka renngkan pada bangun tidur kita tidak menutup kemungkinan kalau yang pertama dicari saat bangun tidur mencari yaitu dunia keduanya, yang dianggap lebih jelas dan banga dengan apa yang ada di dunia yang satunya (gaway, sebagian hidupnya ada di dunia yang penuh menjanjikan katanya, bukan hal itu ibarat dua mata pisau, ketika pisau yang satu ini ada ditangan dapur (koki), maka pisau itu akan sangat berpengaruh besar manfaatnya, namun mata pisau yang satunya ketika ada ditangan orang yang tidak tepat (penjahat), maka pisau itu menjadi yang paling berbahaya. Hal inilah yang menjadi refleksi kita untuk menghadapi hukum dunia bagaimana dunia itu hanya satu, dan “gaway”, bukanlah dunia, itu hanya bagian dari dunia (fasilitas) dan juga bukan tuhan kedua yang dapat menjawab setiap pertanyaan yang kadang semua kesulitan dipertanyakan gaway kita.
            Hal ini Akan lebih mudah menjelajahi dunia, hanya dengan genggaman tangan kiri, tanpa berjalan, maka dunia sudah ada di dalam lipatan tangan kiri, akan dapat menelusuri dengan luas, sangat mudah dan instan  menjani hidup sekarang, berbeda dengan zaman yang masih jauh dari dunia yang ada di dalam lipatan, era yang di mana tahun 1987, yang masih gila dalam memipikan sebuah menjelajahi dunia.  Renungan kembali apa yang telah ada pada di depan kita, yang sangat miris apakah akan bertindak untuk menjelahi dunia dengan apa yang sudah ada yaitu fasilitas yang ada ditangan kita semua, untuk berjalan merangkak sehingga berdiri sendiri akan lebih mudah di zaman sekarang ini, melangkah jauh ke seluruh dunia tidak ada yang tidak mungkin bila yakin dan akan berusaha untuk meluangkan waktunya untuk masuk dalam dunia dalam lipatan yang kadang kita pandang sangat sempit, rengungan ini membuka ketika kerugian terbesar ketika kita tidak mau untuk masuk dalam dunia yang telah dapat kita jelajahi semudah mungkin, untuk memperluas kompetensi dengan fasilitas yang ada gaway.
            Fakta yang sangat ril dunia yang mudah ini menjadikan musibah terbesar ketika yang ada itu masih belum dapat difungsikan dengan baik dan menjauhkan langkah dari yang nyata, nyata dalam menysukuri jika Tuhan telah banyak memberikan banyak fasilitas kepada manusia, sehingga tidak menutup kemungkinan Tuhan itu mati dalam zaman modernisation ini, bagi yang lupa dengan dasar-dasarnya hidup. Ketika sudah merasa nyaman dengan keadaan yang nyaman, maka lupa dengan apa yang menjadi kewajiban, sehingga jiwa yang menjauhkan dengan jiwa yang mandiri, bahkan jiwa yang seharusnya tidak keluar diri manusia (akan manja dengan yang harus bisa sendiri), mangapa mengatakan “manja”, ketika semua kepentingan hidup ada di dalam genggaman, maka sudah tidak lagi memiliki jiwa mandiri dan berusaha untuk mensyukuri sebuah proses, karena sebagian manusia sekarang lebih banyak suka dengan yang siap jadi (instan), dalam melakukan aktivitas gaway salah satu andalan manusia zaman sekarang contoh kecilnya, belanja daring, dan setiap pembelian yang semua sangat lengkap sudah tersedia di dalam lipatan, sehingga ketidak sadaran doktrine menjadi seorang yang ingin selalu mudah dalam menjalani hidup, sedangkan kemudahan itu akan lebih menjerumus pada ke zona yang mencelakakan karena akan lebih mudah menjalani hidup di dunia, sedangkang dunia tidak semudah yang ada dibenak, sedangkan tidak ada di dunia manapun, sebuah pencapaian yang berkelas itu akan dicapai dengan secara instan, sehingga harus melewati kudrot Tuhan yang paling berkesan di dalam sebuah pencapaian itu adalah sebuah prosesnya.

            Dunia dalam lipatan, mengingat dengan kata-kata yang pernah diucapkan orang tua kuno bahwa akan ada dunia sauatu saat dizaman akhir nantinya akan ada masa yaitu masa yang paling mudah dan gampang, tidak ada masa sulit pada semuanya mudah, dan sempat megatakan tahun 2000 dan selanjutnya adalah tahun harapan kaum manusia, yang mana sekarng tibalah tahun yang telah ditunggu bahwa pekerjaan yang dilakukan bertumpu pada mesin, sampai-sampai ada perkataan tidak akan bisa hidup tanpa mesin itu telah menjadi bagian hidup di era manusia, manusia zaman sekarang, namun hal ini bukanlah tumpuhan semua kembalikan pada kita apa yang menjadi manfaat jangan sampai kudrot manusia dirubah oleh perkembangan zaman, jiwa mandiri dengan proses yang pasti tanpa meninggalkan pola pikir orang kuno, mesin dan gaway jangan samapai jiwa kita dikuasai, manusia yang harus mampu menguasi, marilah mulai dari sekarang renungkan pikirkanlah masa yang akan datang dari sekarang, untuk mengontrol pola hidup yang manja, tanpa memikirkan yang ada sebelah kita, kadang jiwa sosial kita terkikis ketika kehidupannya terbelah menjadi dua. (*)


Penulis: 
Akhmad 
Penulis Buku Antologi Geriliya Deraian Sajak-sajak 
Mahasiswa Universitas Islam Malang 
Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia 
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Kamis, 09 November 2017

Puisi Refleksi Para Pahlawan



gambar malixscjdw.wordpres.com
 
Haayy Bung Karno Bapak Revolusi Indonesia... Dengan bangga kita semua.
Heeyy Bung Hatta Bapak Demokrasi kita... Dengan bangga kita.
Rovolusi-revolusi disuarakan, dengan bangga, kau pemuda membawa bendera.
Hay Syahrir, Tan Malaka, Suderman, kau angkat segala gelanggang pemikirannya demi kemerdekaan I-N-D-O-N-E-S-I-A.
Kau bentuk metode dengan membenturkan pikirannya, untuk mengusir penjajahan kolonial, yang bengis dan sadis. Dengan sadis maka lahirlah tragedi kemerdekaan cita-cita kita.
Harus kita aminin bersama kembali...
Lagi-lagi Bung Tomo, yang membukakan hati pemuda Surabaya, Madura, serta Jawa lainnya, bagaimana mempertahankan kibaran bendera merah putih, untuk tetap berkibar dengan memebakar semangat muda mengusir Inggris, yang diancam pemuda Surabaya menyerahkan senjatanya.
Bahkan dengan linggis-linggis keberanian serta ketaqwaan, bahwa kemerdekaan Indonesia tidak boleh diganggu gugat, yang mengguggat akad perang tak akan ditolak. Dengan memabakar semangat merdeka Indonesia...  disuarakan Allohuakbar 3x.
Pada saat kelam 1928 lamanya. Telah ada pembentukan pemuda intelektual yang dipelopori oleh M. Yamin dan kawan-kawan. Melakukan Diskursus-diskursus untuk, menjadikan Nusantara... sebagai sebutan I-N-D-O-N-E-S-I-A. Sebagai lahairnya bangsa kita, Indonesia dan bahasa kita, Bahasa Indonesia.
Biarlah Belanda tak menganggap Indonesia ada, bahwa mereka tetap menganggap Hindia Belanda yang kaya raya, dengan bangga Belanda mempatri jika Indonesia dikuasi Belanda.
Refleksi kita...
Beberapa kesadaran kita Bangsa Indonesia jika Kapitaslis yang bengis, bertopeng Feodalis untuk bisa membinasakan Indonesia dengan mengukir otak-otak kita dengan upah-upah. Sehingga Imprealisme lahir dalam diri mereka memaksakan anak-anak bangsa kita, tetap menjadi budak-budak mereka hingga lupa dengan merdeka.
Kelahiran Revolusi Indonesia....
Jika 1945 lahir sebagai Negara Indonesia yang merdeka, Revolusi Jihat diteriak oleh Kiyai Hasim Ass’ary dengan pengorbanan darah-darah mengalir mengarah pada banteng-banteng Indonesia merdeka... bahwa kita sebagai manusia harus merdeka sebagai manusia dilahirkan dengan kemerdekaan yang mutlak.
Lahirlah kaum intelektualitas dengan sebutan Mahasiswa.
Salam Mahasiswa...
Hay pemuda-pemuda yang berada di gedung-gedung tinggi. dengan fasilitas, kertas-kertas berharga, setelah kau pahami sejarah mereka yang telah mendahului kita, kau tak mungkin seperti mereka Bung Hatta, Tan Malaka, Suderman, Sukarno dari penjara-penjara mengaji penderitaan rakyat, bagaimana Indonesia tanpa kemerdekaan.
 Maka jikalau kau hanya mementingkan kualitas integgritas diri, dengan kebobbrokan-kebobbroakan alamamater kita, sebagai insan manusia yang dianggap intelektual sebagai mahasiswa, tanpa bergerak mengajak masyarakat mengangkat martabat pentingnya pendidikan.
Maka Aristoteles dan Plato tidak akan terpatri dalam jiwa-jiwa pemikiran kita, jika peradapan manusia masih berkiblat pada eropa. Padahal senja telah bersinar lagi, pantang pemuda menerima nasibnya, dengan bahagia apa adanya, padahal dengan darma-darma Indonesia pemuda akan bisa keluar dari nasibnya untuk merdeka.
Kelahiran Pahlawan baru...
Maka, akan jadi apa Indonesia, jika kau pemuda berbahagia tanpa ada persembahan kebebasan diri, tanpa menjadikan dirinya pada bagian Indonesia.
Jangan kau diam jika kau tak ingin dijadikan garam, bergeraklah agar kau menjadi manusia yang menemukan kemerdekaan negeri sendiri dan kemerdekaan negeri Indonesia. Jangan kau mati muda, lantaran kau menjadi pemuda tak berharga, dalam perguran tinggi. Maka berbanggalah dengan bahagia mati tua bermakna untuk kita dan Indonesia.
Salam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia...

Surabaya, 2017

Selasa, 07 November 2017

Diskursus Malam

Gambar Darkness
Bisikan malam yang tajam mengancam pada ruang kosong segi empat tempat yang sangat pengap.
Ada Orang yang merindukan anugerah karena merasa gerah
Ada Orang yang nyaman dengan tenang mengenang malam pada jurang-jurang kegelapan.
Sedangkan Tan Malaka Pernah Menuliskan (4T)Terbentur, Terbentur, Terbentur, Terbentuk.
Masih kah ada yang merindukan fajar dengan tenang tidur telelap pada mimpi seorang Plato dan Aristoteles mencinta-citakan dunia dengan rasionalis dan Idealis tanpa ada membenturkan dirinya pada dunia yang fana, sehingga dunia akan menjanjikan keberadaan pada ketiadaan mereka yang terbentur.
Akan tetapi nirwana akan tetap pada semesta yang memiliki kata 'KUN", Manusia hanya statnan ada pada kata "ikhtiar", karena semuanya tidak menjanjikan apa-apa manusia kecil hanya ada pada kebenaranian untuk memiliki sejarah yang mengarah pada kesucian yang tidak hanya ada pada dirinya, karena dirinya hanya menemukan kepastian dalam diskursus dengan negerinya sendiri, untuk selalu menghadari menemukan kematian dalam kehidupan, serta senantiasa merasakan kematian dalam kehidupan.
Dunia hanya indah dirasa saat berkasih dengan kekasih yang ada di dalam jiwa manusia-manusia.
Alam semakin malam semakin gelap, gemerlap bintang telah tak sedap dikelopak mata yang kusam terasa muram, hanya ada kawaijen yang berdusta pada malam, jika hanya ada disaat siang yang terang.
Malam ini semakin menentang dalang yang menciptakan malam goresan pena terus menanyakan kemanakah naskah-naskah yang telah tersusun disetiap kata, menjadi frase, kluasa, serta kalimat dan wacana dalam bahasa selalu memaksa untuk bisa menjadi susunan kata yang memiliki mata serta melihat pada saat kegelapan nanti saat telah mati telah menghampiri, akan tetapi berharap ciri-ciri tetap menari dalam jiwa-jiwa manusia yang enggan mati muda. 

Minggu, 24 September 2017

Catatan Pemuda Terang yang Mendung

Terang yang Mendung
sumber:besyukur.com


Hari ini adalah kehampaanku dalam hari yang sepi
Aku tak merasakan kematian adalah kecelakaanku, yang aku temukan kematian-kematianku
Nyaris dalam keberadaanku.
Langit terasa terang benderang bukan hanya aku, kamu yang ada, dan merasa hari ini.
Semuanya terkombinasi pada satu bahasa semuanya ketidak pastian.
Di meja dan di kamar,
Buku-buku bertubrukan, dihapanku, akan tetapi tiada guna aku masih merana akan semua.
Aku mencoba memecahkan isi buku tuk menebus kegelisahanku
Yang aku temukan hanya rasa Hermeniutika dan estetika dalam realita.
Membuka dan membaca rasanya membosankan dan sangat memalaskan,
Namun sebuah tuntutan isvestasi dan cinta adalah prestasi.
Ketika aku melihat alam yang sangat suram, muram dalam sunyi, tiada estetika yang bermakna.
Aku datang dengan dusta yang lebih bahagia.
Setelah aku telusuri setiap jalan, kebahagiannya lebih berharga, dariku yang mampu berkarya dengan keadaan yang lebih ada.
Aku rasuki dirinya, akan aku samakan dirinya, dalam keseharian ini, yang hakiki kita sama, akan kudrod dalam kematian kita.
Jika tirakat hari ini bisa adalah bahasa dalam pendirian pondasi untuk nanti, yang tak kita ketahui, akan seperti apa nanti.
Hidup adalah mesteri tentang siapa yang akan menanti dan apa yang terjadi, tentang tirakat hati dalam keberanian hidup.
Hari ini berbahagialah yang mati muda
Celakalah yang berumur tua
Tanpa merasa mereka yang diderita.
Hari ini terasa suram dan gelap, sunyi.
Hanya keberanian bermimpi yang akan mati di dunia yang tiada, akan kembali pada ketiadaan.
Aku hanya melihat mereka menderita dihari ini
Yang meresahkan, dalam ketidak harapan, bahwa akan selalu ada penderitaan hari ini di sepanjang masa.
Makhuk kecil mati dengan raga yang kecil, dikenang akan manusia besar, tentang hidup.


Malang, 24 September 2017

Sabtu, 23 September 2017

Cerpen Dari Santri Untuk Bangsa

Dari Santri Untuk Bangsa
kehidupan.santri


Setiap waktu telah saya lalaui tanpa kusadari dan tanpa terasa sudah beberapa tahun hidup dikalangan pesantren pahit manis telah saya rasakan kalau saya hitung banyak pahit yang saya rasakan selama saya di pesantren karena kehidupan yang menurutku itu diluar sangat baik setelah beberapa saya ada di pesantren banyak pelajaran hidup yang saya rasakan sebelumnya, pelajaran hidup yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-haripun tidak bisa saya nikmati sebelum saya masuk ke pesantren, namun setelah aku putuskan oleh orang tua untuk hidup di pesantren disini saya banyak belajar banyak hal, mulai dari mandiri dan dilatih untuk bertanggungjawab untuk mematuhi semua aturan yang ada di dalam pesantren ini hal yang kecil yang sangat tidak saya rasakan adalah kedisiplinan untuk memint waktu, karena waktu adalah susuatu yang tak berbentuk namun itu semua terasa ketika waktu yang kita sia-siakan terlewati.
Perasaan bosan, jenuh, mala itu sudah melekat dalam diri manusia, terutama pada saya beberapa lama saya harus bertahan di tempat yang menurut orang indah seperti lautan dan gunung keindahan yang terpancar dari jarak jauh, namun saat mendaki gunning banyak hal yang ditemukan ketika melalui gunung yang begitu indah saat dari kejauan. Ketika melintasi gunung tersebut maka di dalamnya banyak duri-duri dan batu, binatang buas, yang jinakpun kita temukan saat ada di dalam gunung, keindahan hanya untuk orang lain nanum saya sangat bangga walaupun saya harus menjalankan hidup di pesantren dengan tidak begitu megah masih banyak orang di luar sana yang ingin bermmimpi seperti saya di sini, mengaji bersama kiayi dan teman-teman yang berbeda pendapat namun semua yang bertujuan dipesantren ini menuntut ilmu untuk membuang kebodohan yang ada dalam diri saya, dan tidak pernah lupa kalau berokahnya pondok, sang kiyai, beserta teman-temanku yang sangat saya harapkan ketika nanti saya keluar dari pesantren ini.
Tempat yang sederhana ini banyak hal yang tak dapat saya lupakan karena saya menjalani ini penuh pengorbanan dan perhitungan besar saat saya melangkah apa yang menjadi pilihan saya memperluas pengetahuan tentang Islam untuk bekal akhirat nanati, tujuan orang tua saya sangat sederhana kalau menjadi santri jadilah santri yang mengerti dan jangan mengejar kepintaran, dekatilah kiayinya untuk mengambri berokahnya, pintar belum tentu dapat memahami, memahami belum tentu diterima passinya oleh orang lain, kalau bisa membaca lingkungan hidup yang ada di sekitarnya, paling bijaknya manusia ketika manusia yang satu dapat memahami manusia yang lainnya, setidaknya kita menjadi lilin walaupun hanya menyinari kegegelapan di tempat yang tertentu. Hidup akan terasa nyaman ketika kita menjalani dengan rasa lapang tanpa tekanan, saya tidak merasa lama walaupun saya disini tidak mendapatkan pengetahuan yang banayak membaca kitab kuningpun tidak bisa memahamipun, saya hanya mendengarkan ketika ada yang kiayi dan teman-teman membaca kitab bersama, karena saya ingat dengan yang Alloh perintahkan pada setiap manusia bahwa Alloh tidak mengharapakan kepintaran namun yang diharapan kesungguhan untuk menuntuut ilmu, carilah ilmu kalau di negaranya sendiri tidak ada maka carilah Negara seberang yaitu China. Kata itu yang mendorong saya walaupun tidak tau saya berusaha untuk ikut berbaur dengan orang yang bisa membaca kitab kuning dan menyimak apa yang menjadi perbincangan mereka, belajar pada ibnu hajar manusia yang paling bodoh katanya walaupun pada dasarnya kemampuan manusia ada yang gampang menerima pelajaran ada pula yang sulit untuk menangkap apa yang dipelajari, namun semua itu semua bukan masalah kepintaran dan kecerdasaan yang dimiliki setiap individu manusia, aku berpendapat aku belum mendapatkan anugrah dari Tuhan hatiku belum di bukakan, sedangkan Ibnu Hajar belajar pada batu yang tertes air hingga berlobang. Senja sudah terpancar indah dari ufuk barat mentari sudah saatnya tidur, malam ini sudah waktunya kiayi Lutfi kultum mutiara hikmah bersama.
“Kalian santri jika kelak menjadi pemimpin berpedoman ke Al-Qur’an dan Hadist, jangan hanya kamu pintar membaca kitab setelah kamu keluar jadilah kamu pembaca yang arif dan kritis untuk membaca keadaan dunia ini, bukalah jiwa kalian dari sekarang, jadilah kalian semua penerus islam yang berguna bagi nusa dan bangsa. Bukannya kurang orang pintar negaeri ini, dan tidak juga kurang orang yang tidak membaca yang terjadi semuanya nyata, namun ingat berikhtiar dan mampulah menjadi santri yang bermanfaat bagi orang lain, terutama kepada dirinya sendiri, ikutilah kata Al-Qur’an dan Hadist, untuk Anak-anak ku hati-hati ini zaman sudah mendekati akhir ke atas Tahun 2000, kalian akan melihat perkembangan dunia sehingga apa yang kamu dapatkan dari sini kalian kembangkan, karena kalianlah yang menjadi penerus Bangsa, yai sudah tua hanya dapat menyampaikan ini kepada kalian.saya akhir pengajian ini saya berharap kita selalu berada dilindungan Alloh semua, dan saya bisa mengingatkan kalian dan untuk saya sendiri, semoga saja. Umur harasia Alloh SWT.
“Enggeh yai, amien yarobbal alamin.
Kultum berjalan dengan lancar untuk kultum yang sekian ini, batuk yang di derita kiyai Lutfi sudah membuat saya dan santri yang lain kwatir akan keadaannya yang semakin hari mahkota putih yang semakin merata, saya berharap saja yang terbaik ututuknya atas keputusan Tuhan,  
Pesantren ini wadah saya untuk menuntut ilmu, untuk bekal akhirat dan dunia entah kenapa saya ingin mematangkan pengetahuan untuk menjadi santri karena teringat dengan riwayat Indonesia terbangun dari tidurnya ketika HOS Tjokroaminoto pada Tahun 1907 yang memondasikan Indonesia ini dengan Agama Islam, pada awalnya dibentuk dari organisasi Serikat Islam (SI), kalau Negara kuat karena Islam, berpondasi islam saya berpikir jiwa suatu bangsa yang ingin membangun Negara yang adil, serta makmur seorang yang meminpin harus matang pula keislamannya, tidak hanya matang dalam bidang sosiolimenya saja, namun kematangan itu harus perpondasi dengan Agama, tempat yang paling strategis dalam mematangkan Agama adalah pesantren. Cita-cita akan membangun Negara dengan pondasi diri kita pribadi sehingga jiwa sosialisme berpondasi Agama Islam akan menciptakan sebuah Negara akan menjadi Negara yang akan disigani tanpa menakit-nakuti, dan menyakiti.
Tiada seorang yang dapat mengukur waktu dengan pola pikir, tiada pula melihat berjlannya waktu, hanya cara dan bagaimana untuk menikmati waktu yang ada untuk lebih berarti karena hidup satu kali jadikan yang satu kali ini yang berarti. Tanpa saya sadari beberapa Tahun telah saya lewati sudah hampir Tujuh Tahun seandaiya umur sudah waktunya masuk ke Sekolah Dasar (SD), saat itu pula saya berpikir untuk boyong dipesantren walaupun saya belum mateng dipesantren namun saya harus menjelajahi pengalaman di luar pesantren, tidak akan mungkin dapat berperan di masyarakat kalau saya tetap ada di dalam pesantren saya harus menunjukkan pada masyarakat bahwa setelah saya mondok berguna baginya, karena berguna bagi orang lain sebagian dari cita-cita saya. Saya mempunyai teman di pesantren yang hidup bersama terus manis pahit, bahkan ibarat makanan satu piring jadi dua, kalau dia lapar saya harus lapar.
“Sam, Tahun ini saya harus boyong dari pesantren ini. !”
“Serius kamu, berhenti karena alasan apa Maja, ?” Masalah biaya tah, apa sudah pintar kamu hehe.
“Tidak reski itu saya percaya pada yang di atas, sudah bosan saya di pondok ini daripada saya melakukan sesuatu ini tanpa keikhlasan, pintar sih dereng Samsul. Hehe
“Iya gak apa-apa kalau memang seperti itu keputusanmu, aku hanya berdoa yang terbaik untuk kamu bisa mendapatkan berokah pondok dan kiyai terutama aku hehe. !”
“Hehe Kamu ada berokahnya tah, Iya amien yarobbelalamin Sam hanya doa-doa kamu dan kiyai dan orang empati pada saya yang saya harapkan Alloh mengabulkan semua doa-doanya, sehingga apa yang terbaik pada saya menghampiri setelah saya boyong. !:
“Iya amin-amin, sebelum berhenti teraktir ya nanti masakin aku selama satu minggu ini hehe. !”
“Pintar kamu sam, Iya siap saya akan teraktir. !”

Sudah saatnya saya harus boyong dan kembali ke kampong halaman, namun beberapa hari setelah saya pulang meninggalkan tempat tinggal saya sendiri untuk bertemu dengan Ibu, kabur dari kampung halaman, dan belajar hidup pada alam dan relita dunia dengan hijrah dan membaca.

Cerita Perjalanan Terjebak Di Kota Penuh Cerita

http://www.fotokritik.com/1214008/yalniz-adam
Terjebak Di Kota Penuh Cerita

Teringat pada masa yang telah terlewati kadang aku berpikir dan harus percaya pada Tuhan yang telah takdirkan padaku, kadang juga sebaliknya karena sudah jalan dan tuhan merahasiakan semua takdir keindahan dan ketidak baikan pada setiap manusia yang telah terjadi pada setiap manusia terutama pada aku yang telah aku rasakan semerta-merta semua itu Tuhan yang rencanakan, sebagai manusia aku hanya ikhtiar dan menjalankan apa yang menjadi impianku, walaupun kadang jauh dari kekhilafan saat melangkah, entah kelak itu indah atau tidak aku hanya berusaha dan mencoba untuk menjalankan semua itu sesuai mimpi dikehidupan yang nyata bukan mimpi saat mata terlelap mimpi dikehidupan yang nyata penuh dengan perhitungan untuk melangkah, masalah mimpi itu akan menjadi nyata, aku akan pesrahkaan saja semuanya kepada yang Khalik, karena hanya Ialah yang maha mengetahui catatan Lauhil Mahfud, apa yang terjadi sekarang biarkan aku hadapi sekarang.
Kadang saat aku renungkan kembali pada terjadi padaku pada saat malam bersejarah dalam hidupku sebelum mentari terbenam di ufuk barat pada malam jum'at legi (jum'at manis) pahit manis yang aku rasakan, gelisah dalam hati mencari sebuah mimpi yang diimpikan, teringat janji yang pernah yang diucapkan seorang Bapak dua tahun yang lalu, jikalau sudah lulus sekolahnya nanti kamu akan aku berikan alamat Ibu mu, setelah tiba saatnya aku coba menanyakan semua yang pernah diucapkan olehnya, setelah aku bertanya ternyata jawabnya itu hanya membuat aku tergores hati, jawaban yang tidak rialistis dan logika tidak mampu memberikan makna. Bapak sudah lupa tidak tau Rumaah Ibu kamu nak, dalam hati aku berkata kasar kenapa harus dinikahi kalau memang tidak tau Alamat Ibu yang tidak jelas, sebagai anak hanya diam saja setelah ada ucapan dari orang tua yang membuat hati teriris.
Suasana gelap senja di ufuk barat sudah tidak memberikan cahaya indah dan gelapnya malam sudah terasa lebih gelap daripada hati yang aku rasakan mendengarkan sebuah argumen dari Bapak yang pernah memberikan harapa untuk bisa bertemu dengan seorang yang telah mengantarkan aku ke bumi. Pikiran sudah tidak mampu berpikir panjang bertepatan senja terbenam aku harus meniggalkan Rumah yang sudah berapa tahun udara segarnya yang membuatku seperti saat ini tumbuh dengan keadaan sehat dan seorang Nenek yang sudah bermahkota putih yang membesarkan aku hingga kini aku dewasa, hanya dalam hati tegores untuk segera jauh bersamanya dan aku harus bergeriliya untuk batin yang sangat delima akan kemana aku memikirkan untuk menemukan apa yang menjadi sebuah impianku yang nyata,  hanya tekad yang harus aku lakukan untuk mengubah semua apa yang aku impikan untuk menjadi nyata dan mengharapkan Tuhan selalu memberikan secercah cahaya kepadaku, agar setiap jalan yang aku lakukan ini tidak berakhir dengan sia-sia dan Tuhan yang Maha tau akan memberikan yang terbaik untuk langkahku yang salah untuk dengan niat yang baik.
Aku harus melangkah jauh dengan meninggalkan kecemasan yang berharap berbuah kelancaran dalam langkahku untuk bisa mengetahui wajah dari seorang yang telah mengantarkan aku ke Dunia ini untuk mengarapkan doa-doa yang sakti dari seorang Ibu, yang mengubah Dunia gelap selamanya, dan berubah menjadi terang selamanya denganya seorang “IBU”. Langkah sudah menuju jauh aku sudah sampai ke seperempat jalan tujuan yang ada, tapi alamat tidak ada, temanpun tak ada yang menemani kata hati yang sangat ingin mengetahui seorang yang mempunyai doa yang lebih cepat ijabah oleh Tuhan “Ibu”, tiba aku ke tempat yang biasa aku tempati yaitu Pelabuahan Kamal Bangkalan Madura, sangat indah pada malam itu suasana yang dihiasi oleh kerlap-kerlip lampu kapal dan lampu panjang yang menjulang indah lampu Suramadu yang menggabungkan antara Surabaya dan Madura sangat indah dipandang, sehingga kerlap-kerlip lampu Surabaya yang sangat indah menghiburku pada malam itu, namun itu semua tidak sesuai dengan keadaan hati sehingga tidak menerimanya seperti malam-malam sebelumnya, sekarang keindahan itu tidak berhasil membuat aku tersenyum, yang biasanya tempat ini menjadi penghilang penat yang aku rasakan, saa itu keindahan hilang tergantikan delima hati dan wajah seorang Ibu terpancar jelas diantara cahaya gemerlap lampu yang indah, yang membuka hati bertanya kemana aku harus melangkah, setelah ini kaki mdmpunyai langkah tujuan, yang tidak mempunyai tujuan dan alamat yang konkrit, hanya Kota Cilacap yang aku ingat kalau tempat tinggal seorang Ibu yang sangat aku rindukan yang keberadaanya ada tanpa kepastian, suasana hati tak tergantikan delima hati dan wajah seorang Ibu terpancar jelas diantara cahaya gemerlap lampu yang indah malam itu, yang membuka hati bertanya kemana aku harus melangkah setelah langkah tujuan ini tidak mempunyai tujuan dan alamat yang pasti, hanya kota yang aku tahu, dari seorang Ibu yang sangat aku rindukan doa-doanya, dan mencoba membuka tabir rahasia Tuhan yang ghaib tanpa aku ketahui kepastiaanya hanya dengan Ikhtiar yang aku perjuangkan. Bergeriliya dengan keyakinan gigih ingat dengan Firman Alloh SWT. Manjeddeh wejedeh aku hanya yakin dengan kelimat itu, untuk menguatkan hatiku melangkah.
Angin menemaniku dan tontonan indah yang ombak saksikan ketika aku melamun dan menatap cahaya gemerlap lampu yang indah dengan kekosongan hati yang sangat sunyi dan sepi, walaupun kapal dan manusia mondar-mandir di belakangku tiada yang membuat aku nyaman dengan dengan keadaanku pada saat itu. Namun aku tetap merakasakan kesepian, ketika aku dikirimkan seorang teman wanita yang pada saat itu ia berjalan dengan temannya yang kebetulan wanita yang malam-malam itu mengenakan kebaya batik berjalan di belakangku dan menghampiri kesendirianku yang sangat sunyi aku rasakan, tiba-tiba ada wanita itu kekasih dari shabatku melangkah dengan rasa ragu mendekatiku untuk bertanya kalau aku ini adalah teman dari kekasihnya, aku pun segera menoleh ke arah yang menanyakan aku, langsung aku ingat kalau wanita yang masih sekolah SMKF kalau itu pasangan shabatku, aku segera menyuruh ia duduk, dan ia pun tidak menolak tawaranku, setelah aku tawarkan ia duduk temannya itu mengajak pulang dan ia mengatakan pulang terlebih dahulu, karena ia merasa ada teman dari shabatnya yang sendiri yaitu aku, dia mengajak aku ngobrol menanyakan beberapa pertanyaan karena tidak wajar aku anak Desa ada di Pelabuhan Kota,  malam sudah larut kapal sudah banyak tidak melaju, ia setia menemaniku yang kesendiriannya awalnya sunyi, sepi, dan delima dengan tujuannya ke Kota Cilacap tempat yang aku tuju, disitulah aku merasa kalau Tuhan memberikan jalan kepadaku pelantara dari kekasih shabatku. Cerita sudah panjang lebar waktu sudah tidak terlihat dan terasa karena asyik bercerita, karena banyak pertanyaan yang di lontarkan oleh wanita yang meghampiriku, menunjukan pukul 00:16 WIB.
Sehingga delima itu terbuka oleh banyak saran yang ia lontarkan padaku pahit manis yang wanita katakana seumuran 19 Thn itu, membuka naluri aku untuk berpikir yang logis dan realistis dengan tindakan yang aku laukan ini, langkah yang jauh dari kepastian untuk mengelilingi Kota Cilacap dengan kaki saja tanpa tujuan yang pasti tidak akan menjanjikan sebuah hasil yang manis. Wanita itu membuka cayaha kecil, untuk aku dapat berpikir yang sangat baik untuk langkahku yang harus penuh dengan perhitungan.
Aku hanya mengikuti saranya yang aku pikir itu baik, kata-kata yang aku ingat darinya, melangkah itu harus pasti, karena ini kehidupan nyata, bukan hanya mimpi yang indah saat tidur, jadi butuh perhitungan agar tidak menyia-nyiakan umur kamu, hingga saatnya kamu nanti sampai ke impianmu yang nyata, kamu tidak akan pasti mendapatkan apa yang kamu lakukan, kalau kamu memaksa perjalananmu ini yang tidak penuh perhitungan, yakin waktu akan terbuang sia-sia, dan tidak akan menemukan titik terang, waktu sulit yang akan menjawaban perjalananmu.
Semua saran aku pikirkan menggunakan logika semua itu benar setelah aku pikirkan menggunakan naluri dan itu berhasil membuka naluriku untuk berpikir secara logis, saat itu pula aku putuskan aku tinggal di Kota aku sendiri untuk mengumpulkan uang setelah terkumpul aku harus menanyakan kembali pada Bapak, berharap bisa diberikan alamatnya, setealah uang terkumpul dan bertemu dengan mama. Sejak malam itu juga aku memulai mekirkan bagaimana aku bertahan hidup di Kota sendiri, walau Kota sendiri namun aku belum banyak tempat yang aku ketahui di Kota sendiri yang penuh cerita, hanya Pelabuhan Kamal yang menurutku tempat paling membuat aku tenang dan nyaman. Setelah wanita itu memberikan saran ia sangat mempuyai rasa empati padaku, sehingga ia hendak mencari tampungan sementara untuk tempat tinggal aku.
Namun malam itu aku ditemani hingga mentari terbit, sangat aku berterima kasih aku kepada Tuhan karena telah mengirimkan seorang yang akan menjadi penolongku saat aku tidak sadar, namun keputusan sudah bulat tidak akan aku pulang sebelum aku ketemu Ibu kandung aku, itu yang telah aku tuliskan dalam isi surat yang aku tinggalkan di Rumah, biarkan kalau sudah ada uang aku menghubungi kembali Bapak untuk meminta alamat yang dapat membuka impianku bertemu Ibu.
Aku memutuskan untuk mencari kost untuk sementara di Kota ini, hp sudah aku matikan untuk menghilangkan jejak dan biar aku tidak kepikiran ketika ada orang yang memberikan kabar padaku, aku hanya pasrah kepada Alloh semoga semuanya baik-baiknya terutama pada Nenek aku yang sangat dikwatirkan karena faktor usia yang sudah mengkwatirkan. Setelah aku putuskan untuk kost aku mencari pekerjaan dan akan aku usahakan tidak selalu merepotkan wanita yang telah membantu aku, waktu sudah berjalan lama uang yang aku punya sudah tidak akan bertahan lama untuk berthan hidup, 1 bln, sudah aku lalui di kost, soal pekerjaan Tuhan belum menjawab doa-doaku. Aku harus lebih keras untuk mencari pekerjaan yang terpenting aku dapat bekerja yang halal aku akan kerjakan, namun mencari pekerjaan itu tidak semudah membalikan telapak tangan, memang banyak pekerjaan namun yang pas dengan diri kita itu yang sulit untuk di dapatkan, teringat dengan kenyataan yang aku lihat mugkin si tukang becak yang aku lihat tidak pernah punya cita-cita menjadi tukang becak, kalau tidak  karena kebutuhan dan keadaan yang memaksakan ia harus menjalankan apa yang menjadi penyambung hidupnya, aku melihatnya kenyaaatn itu semua batin aku berdialog dengan diriku sendiri, apakah aku akan seperti mereka sambil hati menjerit teteskan air mata, betapa kerasnya hidup ini, betapa hidup ini tak seindah merangkai mimpi, ini hidup di luar ingin bertahan hidup, betapa tak pernah aku pikirkan ini terjadi padaku, namun itu semua aku bersyukur karena dengan seperti ini banyak pelajaran hidup yang dekat dengan kehidupan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Setelah 1 bln lebih 6hari, Tuhan memeluk doa-doaku dari situlah aku mendapatkan panggilan dari PT. Sales dan aku langsung di ajak untuk bekerja pada saat itu hati senang pertama kerja dengan keadaan yang mendesak, tidak pernah berpikir panjang yang peting kerja ini dapat membantuku untuk bertahan hidup, itu sudah anugrah dari Alloh sudah lebih dari cukup yang harus aku syukuri, walaupun kerja menjadi sales katanya kerjaan yang paling rendah utuk kalangan orang yang mempuyai ijasah SMA atau dikalangan orang-orang Akadimisi, namun semua pekerjaan itu baik asalkan halal, tidak merugikan orang lain. Awal kerja aku sangat senang karena kerja pertama yang aku jalani ini perkerjaan yang sangat menyenangkan, karena pekerjaannya itu jalan-jalan tapi bekerja mendapatkan uang, pertama kerja kebetulan tempat yang harus aku singgahi dari rumah ke rumah itu Desa Tanjung Piring yang terletak di pesisir pantai, kebetulan ada tempat wisata juga yang lebih dikenal sebutan Mercusuar menara yang indah, tapi aku baru mengetahui menara itu walaupun terletak di kota sendiri, tapi wajar aku tidak tahu karena pusat kota ini jauh dengan rumahku, yang terletak ada di pedesaan. Ternyata tempat dan menara tertua di Kota Bangkalan Mercusuar yang tingginya dengan 115m yang dibangun pada zaman Belanda Z.M Willem III,  Tahun 1879 yang terletak di pesisir Tanjung Piring sungai yang lurus dengan Kota Gersik itu mempunyai banyak mistik, konon yang paling nyata kalau punya hubungan atau pacaran jangan bersama-bersama pergi ke tempat itu apalagi mengikuti trend zamannya sekarang berselfi dengan pasanganya pergi ke tempat tersebut, tidak akan lama hubungannya tersebut ada masalah yang berbuah putus. Banyak mistik itu membuktikan, yang dialami oleh teman wanita yang membantu aku ia bersamaan dengan kekasihnya beberapa bulan yang lalu bersama pasanganya pergi ke Mercusuar tersebut, setalah dapat 1bln, mereka bertengkar sampai tidak menemukan solusi yang dapat meredekan keduanya untuk menemukan solusi mempertahankan hubungannya, sehingga mereka harus memutuskan hubungan yang sudah dibina selama 1 setengah tahun. Itu yang sangat nyata mistik di tempat itu, dan banyak juga  bukti nyata selain itu, yang membutikan bahwa tempat wisata sederhana itu sangat tidak ingin didekati hal-hal yang berbaur maksiat.
Waktu sudah tidak terasa kejanuhan dan manis pahit aku lalui selama ini, Setalah aku bekerja dapat 7bln, di kota sendiri namun keberadaan tidak ada yang mengetahui, aku sudah menghubungi keluarga tapi ternyata semua itu tidak sesuai dengan harapan uang terkumpul, namun alamat tetap saja keluarga terutama Bapak mempertahankan tidak memberitahuakan, dan ia memberikan alamat Ibu kalau aku sudah pulang. Akupun segera berpikir untuk pulang dan entah kenapa aku kepikiran kalau aku ini orang yang sangat lack of education (kurang pendidikan) sehingga Tuhan merencanakan berbeda dengan impianku, Alloh membukakan hatiku untuk berencana untuk berkuliah agar menimba ilmu pendidikan dan tidak mengulang sejarah yang telah aku rasakan, aku didik oleh orang yang tidak berpendidikan tinggi, hanya pendidikan islam yang diajarkan pada aku, darisitulah aku harus mengukir sejarah baru untuk masa yang akan datang, yaitu kepada anak-anak ku jangan sampai merasakan apa yang aku rasakan ini terulang kembali, dengan cara aku harus mempunyai pendidikan yang lebih untuk mendidik anak-anakku kelak, karena anak yang baik akan datang dari keluarga yang mempunyai pendidikan yang baik pula.
Alhamdulila aku sudah mendaftarkan diri Universitas tanpa sepengetahuan keluarga setelah itu aku pulang, aku sangat bersyukur karena Tuhan memberikan aku kesempatan untuk melanjutkan sekolah lagi ke jenjang lebih tinggi tanpa aku rencanakan, aku juga ingat dengan niatku waktu sekolah kalau aku harus ketemu dengan Ibu kandungku kalau tidak dengan keadaan bekerja, dalam keadaan aku mengeyam pindidikan (Sekolah) puji syukur kepada-NYA walaupun belum bertemu Ibu di Tahun ini, mungkin Tahun-tahun yang akan datang, karena rencana Tuhan lebih indah daripada apa yang aku rencanakan, karena hanya Ialah yang maha mengetahui apa yang sebelumnya dan sesudahnya terjadi pada yang terbaik dan juga yang terburuk untuk seluruh manusia.
Alhadulilah sekarang aku dapat Berkuliah walaupun belum dapat bertemu dengan Ibu kandungku dalam waktu dekat ini, namun aku harap Alloh membuka semua tabir rahasia yang sangat aku rindukan cahayanya dari seorang Ibu, Tuhan embanlah doaku dengan cahayamu agar aku merasakan kado dari surgamu Tuhan yaitu seorang ’IBU”  biar bukan hanya nama yang aku hafal disetiap doaku, wajahnya yang seperti apa yang aku rindukan, kenyataan ini aku tulis untukmu Ibu yang aku jalani semoga engkau mengetahui perjuangan ini, kalau perjuangan ini masih belum berarti untukmu biarkan sejarah yang membuktikan, kalau memang Ibu berusaha ingin melupakan aku, biarkan aku yang berusaha untuk menemukanmu dan memohon maaf atas semua salah dari Bapak dan Keluargaku dan aku berharap doamu Ibu. (Miss you mom)