Kamis, 16 Mei 2019

Sisi Lain Seni Mencintai Erich Fromm

foto:Akhmad

Mencintai Nama

"Ketulusan tak bisa diukur dengan kata-kata apalagi identitas maka asal usul hanya arah kecil kerja naluri"

Aku mencari seseorang yang tidak aku tahu bentuknya. Rasanya hanya ada dihati tapi hatinya tidak tahu bentuknya lagi. Apakah itu manusia atau bukan, tapi itu representasi lain dari manusia yang sempurna. Laki-laki sebagai arti perempuan sebagai pemerhati. 

Ia berjalan hanya dengan motivasi nama, berkeringat karena nama, berjabat hanya dengan nama. Suasana yang ada tidak ada yang sangsi kecuali nama yang masih belum menemukan aksara. Aksara yang pantas untuk dituliskan menggunakan rumus yang pantas memperjelas nama. Dari mana datangnya aksara kalau tidak mencerna huruf abjad bahasa Indonesia.

Dalam bukunya Erich Fromm berjudul Seni Mencintai halaman 60-61 menuliskan tentang mencintai, bahwa dalam mencintai memberi lebih menyenangkan, mengembirakan, daripada menerima; mencintai, bahkan jadi lenih penting daripada dicintai. Dengan mencintai dia telah meninggalkan sel penjara kesendirian dan isolasi yang membentuk oleh kondisi narsisme dan egosentrisme. 

Perjalanan telah dimualai gemilang masa depan masih belum terpancar; sebuah peradapan hanya persoalan kesandung pada batu kecil, hal yang sudah menjadi sesuatu peristiwa biasa, bahagia bukan sekedar menemukan siapa yang punya setiap pujian dan pujaan melain cara dan kehidupan yang bisa diterima oleh diri dan atas nama itu mencintai tak sia-sia.

"Mencintai nama bukan hanya sekedar memikirkan makna, tapi bahagia yang mampu diterima dengan cara"

***
Di jalan raya menuju kesunyian berbelok kiri menunju lurus ke arah kesetian. Nama yang dicintai menyelimuti hati. Ego, superego, dan Id terkombinasi dengan kesunyian paling damai. Langkah terus melawan arus angin hanya kuat dengan ingin. Membawa kata yang ada dalam jiwa dengan dukungan buku yang dibaca; negara kecil terbangun kemerdeaannya lantaran bacanya masih tertanam rapi.
Sampai mana akan berhenti berhadapan dengan naluri dan tidak hidup dengan cacimaki.

Rialitas sosial manusia terkadang akan senantiasa buta. Tidak tahu apa-apa tentang kehidupan lain selain satu identitas yang dianggap paling utama merasa dan yang lain ngungsi; cinta pada satu sisi nama tidak hanya mengerban tentang dirinya sendiri kadang lupa pada siapa pencipta (Bucin) dalam kata singkatan sekarang kita kenal, bahwa kata itu menjadi dasar pemikiran bahwa dalam selogan itu sebuah pembunuhan karakter mencintai.

Lahirnya arah pemikiran baru. kita membuka cara baru ketika semua merasa cinta sosialisme lebih berkualitas daripada cinta yang individualis. Slogannya mengenai cinta seorang sosialis tidak hanya pada satu sisi tapi lebih banyak membagi cintanya dengan kemaslahatan ummah, beda dengan non-sosiali mencintai hanya pada satu objek. Arah pemikiran itu sedikit radikal. 

Realitas sosial akan memperjelas apa yang tidak jelas. Langkah tentang tanpa nama yang abtraks akan berbuka dalam awal sederhana yaitu langkah jejak kaki yang sangat jelas. Jejak kaki itu seperti sebagai tanda ada jejak kaki sebelumnya ada kehidupan menuju ke suatu tujuan jalan. Dari itu mencintai nama akan tetap berglfungsi bukan hanya kebingungan yang tak membangun pemikiran kita.

Jejak kaki sebagai langkah awal untuk menyeberangi ke daerah lain yang belum usai ada dalam diri. Mencari tarian yang tanpa nama dengan musik dansa; ketika semua bahagia kita ada di dalamnya fungsi manusia seperti memiliki dampak bahwa kudrot tantang rasa. Menjelma terus tanpa nama tapi tetap bekerja atas segala rasa dan menanggung setiap peristiwa peradapan dunia.

Selamat menunaikan ibadah cinta pada tanpa nama tapi menyimpan makna.

Akhmad 2019

Rabu, 15 Mei 2019

Pengulas Pemuja Berhala

foto:akhmad

Reviu buku Pemuja Berhala; representasi diri pembaca

Representasi dari seorang Penulis seorang yang senantiasa kuat seperti halnya terancang dalam rekam jejak dirinya. Seorang penulis mentitahkan dirinya dalam mencipta teks dalam bentuk cerita panjang yang lugas, sebuah kekuatan dan keberanian besar membagi dan menelanjangi dirinya. Mencoba membuka hidup baru dengan mengembalikan kehidupan masa lalu yang kini hidup kembali, dan hidup di lain zaman yang tidak lain pembaca hari ini.

Buku Pemuja Berhala sebuah kekuatan diri seorang penulis melawan dirinya. Membuka diri menghidupkan dirinya pada sisi lain, bukan sekedar sebagai tokoh fiksi, yang speritualistis, gemar baca, serta mendalami kearifan ajaran Nahdatul Ulama (NU). Sosok dirinya dalam cerita sebagai bentuk lain dirinya adalah seorang muslim taat dan rajin cinta terhadap budaya.

Kehidupan dalam dirinya menjadi potret pernah berada di kampus hijau, kental dengan sebuah organisasi pergerakan yang dominan dan masif. Sebutan Rujak Smart itu menjadi sebutan ciri di pergerakan. Melatari setiap dinamika percintaan serta pertarungan egosentris masih kuat ruang dialektika dimasa dulu begitu militan seorang aktivis kampus begitu getol melakukan praktik-praktik sebagaimana fungsi mahasiswa.

Novel menceritakan beberapa Fenomena masa lalu yang seperti manjadi kehausan sejarah dulu dan relevansi miltansi sebagai suntikan baru pada generasi sekarang. Refleksi diri perlu, sebagai arah pemikir, perjuang, dan ketekunan dalam keseriusan.

Sepertinya kontaminasi dunia maya masih minim, sehingga dalam karya itu masuk ke jiwa zaman; jiwa zaman dalam bahasa Jerman Zaetgaes yang dicetuskan G.W. Heggel. Jika berbicara waktu lempau hanya tersisa dalam cerita-cerita yang suka merekam peristiwa telah tiada dalam ingantan tapi anak pena sebagai penemu sejarah baru pada peradapan sebagaimana aku pembaca sebagai pengingat masa lalu dan belajar pada yang belum kita tahu. Dari dinamika, suasana cinta masa dulu, romantisme serta mistik menjadi hal antik.

Dalam ruang paling senggang. Pemuja Berhala membuka cari baru tentang kemanusian meliputi cinta cita-cita manusia yang membuka Cakrawala cawadimuka manusia memahami peradapan baru dan bisa diterima oleh jiwa manusia. Love is wisdom pada kedamaian paling dalam memahami cita rasa manusia dan manusia pada Tuhan.

Buku yang ditulis Dimas Midzi representasi manusia yang memiliki kudrot bergerak sebagaimana mungkin dan tidak mungkin merajai jiwa manusia saya sebagai pembaca menerima setiap ruang arah pemikiranny mulai dari percintaan kepada Tuhan, kepada manusia serta kepada jiwa yang senantiasa menghamba pada kedamaian jiwa serta menerima sebagai bukti setiap sisi ada rasa dalam jiwa manusia yang tidak asing atas diriku tentang semua isi cerita dalamnya, seperti berdamai dengan keadaaku dan tokoh Eros representasi hidupku masa sekarang.

Akhmad 2019

Selasa, 14 Mei 2019

Perkenalan Afrizal Malna dalam Esay-Esay


foto:akhmad

Perkenalan Afrizal Malna: kumpulan Esay Masa Kini dan Sesuatu Indonesia

Pemuda makhluk kecil bercita-cita besar dengan gembira membaca walau terkadang yang dibaca tidak dapat dipahami. Apapun yang dialami sekarang dianggap hanya sebagai bagian dari hidup indah baginya. Kegemaran dalam membaca tidak lepas kebegemaran juga menulis.

Semua impiannya dalam mencapai bacaan yang baik dan bisa memahami sangat banyak cara dilakukan; salah duanya dengan menuliskan ulang bagian dari hal yang begitu penting, mulai dari menyiapkan buku kecil catatan, dan polpen di sakunya. Apa yang dilakukan itu sebagai bentuk keinginan mencapai keinginan sederhana bisa menulis dan membaca memahami beberapa buku tidak lain, meminjam apa yang dituliskan Tan Malaka pengetahuan tujuannya  bisa memperluas, mempertajam, dan memperhalus perasaannya.

Sore itu pergi ke Mapanda nama singkatan Maijen Panjaitan Dalam. Di situ tempat gudanh buku pelangi sastra Malang. Tempat mengambil buku kala teman-teman pesan buku kepadanya. Setelah sampai di sana ada teman baru yang baik kepadanya, baik karena ia selalu menawarkan hal baru dalam memahami hal. Contoh sederhananya mulai dari buku, isi buku yang banyak dapat cerita darinya. Kala itu disodorkanlah buku Afrizal Malna dan pada itu pula ia membaca buku Itu, buku Afrizal yang pemuda baca itu adalah kumpulam puisi berjudul orkestra hujan.
Singkat cerita kala hari setelah dari Mapanda satu hari yang lalu. Lelaki berjaket coklat yang sudah memiliki satu anak dan begitu gemar baca. Dia menghubungi pemuda itu dengan via WA mungkin karena kebutuhan ekonomis ia menawarkan buku yang lalu dibaca pemuda itu, dengan bunyi dalam pesan itu: mas jika mau beli buku Afrizal Malna dengan judul Pada Batas Setiap Masakini dan Sesuatu Indonesia kamu bisa beli punya saya dengan harga 100rb.

Tawaran itu menjadi pemuda itu berpikir tentang dunia pembacaannya yang harus lebih serius membaca karya orang hebat Afrizal Malna. Balasan dari pemuda itu bisa saya ambil kala sudah ada uang, tanpa tidak memperpanjang pembahasan asalkan jelas dia menjawab santai mas ambil aja uangnya santai, pemuda itu berpikir kembali apakah itu salah dua dari ia menebarkan jiwa baca pada kita.

Setelah membaca karya Afrizal Malna dengan judul buku yang lumayan tebal 580 halaman. Buku esay itu  membukaku mengenai makna dan arti dari dunia kesusataraan yang meliputi dunia perpuisian serta pereodesasi sastra di Indonesia. Afrizal Malna yang begitu rinci bahasan dalam esay-esaynya pada sastrawan di Indonesia serta banyak pesan-pesan terhadap kepenulis pemula secara tersirat dalam berkarya.

Dalam berjalannya waktu akhir-akhir ini saya sering dan mencoba mengistiqomahkan walaupun tidak pernah istiqomah; membaca esay direkam salah satu cara membaca yang bisa lebih giat baca. Merekam dan dikirim di unggah ke soundcloud salah dua cara meningkatkan baca mungkin saja sudah terlalu banyak orang-orang gemar dalam bentuk foto dan video diuggah di youtube dan Ig, saya mencoba cara baru mendokumentasikan sesuatu bukan berbentuk gambar tapi bentuk suara yang nantinya akan menjadi warna baru seperti halnya radio yang tren pada tahun 1980 an. Namun ini bukan radio melainkan rekaman yang terekam oleh geogle aplikasinya bernama sounclud.

Kepada mas Musawwir terima kasih buku yang rela dihutangkan 13, April 2019 dan kini sudah bisa melunasi.
Selamat membaca.

Akhmad 2019

Senin, 13 Mei 2019

Baca Membuat Lupa Luka

foto: akhmad

Toreh Maos: Baca Gratis

Toreh maos dalam bahasa Indonesia memiliki artian mari membaca. Dengan adanya wahanya baca ini bertujuan memfasilitasi setiap mahasiswa yang gemar membaca. Ada yang ingin baca tapi tidak ada buku.
Sebenarnya dalam dunia literer banyak cara untuk bisa mau baca sangat mudah hanya cukup dengan menyediakan internet dan kuota tak terbatas pada saat itu pula kita bisa mendapatkan buku apa yang ingin dibaca, karena setiap buku akan dibaca sudab ada di dunia maya (di internet) sudah banyak tersedia hanya bagaimana kita memanfaatkannya dan membacanya.

Desir angin menyelimuti penjaga buku: rupanya pengunjung hari ini (13/05/2019) lebih banyak dari awal sebelumnya pada tgl (26/04/2019) yang tercatat hanya 14 pengunjung, adapun beberapa yang tercatat 19 pengunjung hari ini, pengunjung terdiri dari mahasiswa, namun bukan hanya mahasiswa tapi juga ada seorang dosen dan para pekerja bangunan.

Tempat yang biasanya juga di depan Gasebo FKIP Unisma gedung C Usman Bin Affan. Hari ini sementara pindah di depan Fakultas Ekonomi, tepatnya di Gasebo juga. Adanya perpindahan ini tidak lain bukan keinginan yang biasa jaga melainkan ada ajakan dari salah dua teman Organisasi katanya bazar sebagai tujuan menebarkan jiwa baca yang giat. Ketika Sudah tiba dan buku telah dibeberkan diletakkan di gasebo, kerumunan manusia sebut saja orang tua terdiri pekerja di dalam kampus.

Pada awalnya pekerja proyek itu membaca judul buku. Salah satunya karya dari Prof. Yusraf Amir Piliang memgenai dunia dilipat. Bapak itu menanyakan isi dari buku kepada pengajaga bawa buku.
"Apa isi dari judul iki le?"
"Yang mana pak?"
"Seng ini le, setau saya kalau isi dari buku ini menceritakan tentang perkembangan elektronik".
" Enggeh, benar pak, tapi selain itu juga menceritakan tentang perkembangan zaman, dan potret kehidupan sekarang yang telah ditulis di tahun1982.

Angin mendesir kencang, seseorang yang ditunggu tidak datang. Angin terasa dingin, wajah-wajah manusia menjelma kata. Diharapkan oleh naluri kehilangan bentuk lain dari keinginan. Matahari masih belum menyapa kulit lantaran masih ada diding bangunan hijau bernama Fakultas Ekonomi. Dibawah andang-andang berbentuk payung putih bertiang biru.

Suara di depan Universitas banyak bagaikan kicauan barung muda membawa luka; luka yang tak bisa dila'bani oleh hati yang damai. Suara mahasiswa suara para membela, ada yang mendamba ada pula yang menghamba, mendamda dengan tidak berdamai dengan diri sendiri maka harus bergerak, yang menghamba akan mengabdi pada diri yang damai tanpa harus bergerak, bahkan ada yang paling mulia yaitu mendoa.

Bagiku mereka yang memiliki naluri jiwanya terpatri bahwa dengan masa akan bisa membawa sebuah perubahan. Perubahan hak sebagai mahasiswa bahwa dalam mahasiswa ada statuta rema harus segera diturunkan agar mahasiswa memiliki landasan, itulah dasar mereka bisa jelas. Dalam sisi lain ada pembahasan yang tidak tuntas tidak ada jalan yang jelas atas aksi mahasiswa mengapa demikian luka ia salah alamat membawa ke dokternya, ia sakit gigi bawa ke dokter hewan. Konflik tentang statuta dan kerja dari (BEM-U)Badan Eksekutiv Mahasiswa Universitas.

Salah satu mahasiswa yang duduk satu bangku bercerita sebab dan kronlogi serta tuntutannya para demonstran. Ia berkata kalau yang mengurus statuta bukan BEM, tapi Dewan Perwakilan Mahasiswa bisa dikatakan kalau aksi salah alamat.

Buku telah berkeringat bunyi bukaan buku belum tidak ada mampir pada telinga. Orang-orang yang ditunggu akhirnya datang khususnya yang menjadi istimewa. Kegelisahan menyapa sangat akrab, hati tidak berdai dengan ini semua. Buku-buku yang tadinya masih suci sudah tidak lagi dibuka ditutup diletakkan (D3).

"Kebaikan tidak akan bergerak sendiri mencipta kala semua hanya ingin mencerna dan diterima"

Wahana baca akan mebuka ruang diri ketika semua bisa berdamai dengan diri:  bahwa suksesnya dari kegiatan seperti ini tidak lain tidak bukan secara individual bisa membaca dengan maksimal selain memberikan sebuah virus positif pada kehidupan yang enggan dan tidak paham tentang makna dari membaca memiliki dampak luar biasa. Pada tulisan sebelumnya sudab disindir mengenai membaca bisa membuat lupa luka; lupa akan semua yang menjadi kerisauan diri.

Bagi yang suka baca mungkin jangan dianggap tidak ingin merasakan luka, namun lebih tepatnya luka hanya menjadi ajaran dan perdamaian akan dirinya intinya bisa menyikapi. Menyikapi bukan tentang dewasa tapi merasa akan siapa fungsi dan posisi kita. Kalau mengacu sebagai mahasiswa banyak cara kita membuka; membuka rasa menutup luka dengan apa yang ada pada jiwa mereka.
Semoga saja panjang umur bagi para pembaca bagi kau yang tidak ingin mati muda.

Akhmad 2019

Minggu, 12 Mei 2019

Fragmen Membaca; Toreh Maos

Foto.M.Charis Hidayat

Fragmen Membaca: Toreh Maos

Kita buka baca gratis memiliki tujuan tidak lain tidak bukan untuk membuka jalan baru pada penggemar baca, yang tidak atau yang belum bisa membaca dunia dengan detail kita dianjurkan baca buku.

Milan Kundera novelis Rusia pernah menuliskan untuk menghancurkan sebuah negara sangat mudah hancurkan saja buku-bukunya, maka negara akan hancur.

Membaca membuat lupa luka; luka yang pernah dilakukan mantan atau luka atas menemukan hidup yang tidak sejalan atau tidak sesuai dengan harapan. Bagi yang sering luka dan melukai bacaannya masih perlu ditingkatkan agar luka segera lupa dan tidak melukai karena lupa untuk memikirkan melukai sebab rasa itu dicerna apa yang akan diharapkan pembaca perlu lebih rajin buka mata dan hati menerima beberapa bacaan seperti baca koran, novel, biografi, sejarah, dan filsafat.

Adapun beberapa salah duanya luka hati obatnya baca, baca lingkungan, baca harapan dan terakhir baca AlQur'an atau baca buku. Dalam Al-Qur'an iqrok menjadi anjuran dan surat pertama kali turun itu, sebagai bukti bahwa pentingnya baca, bukan sekedar baca Al-Quran, kitab, dan buku, tapi juga baca diri, keadan, kehidupan. Tentunya ada hal yang paling digemari dari salah duanya itu untuk membuka diri menerima apa yang harus diterima oleh diri; hingga tidak lepas dari esensi membaca, yaitu; membuka, mencerna, mendengar, dan mengamalkan.

Kreteria rekomendasi bacaan saat mengalami ketidak tahuaan tentang hidup; pertama kita perlu baca sejarah, selanjutnya ketika kegelisahan dengan mantan baca buku Madilog, dan ketika bingung dengan arah aalurnya politik kembalikanlah ke rakyat. Mungkin yang luka akan mantannya segera lupa, dan mengingat apa yang dibaca.

Jika dilihat dari otak kira kita bekerja sebagai pengingat kuat yang ada pada masalalu, ketika diisi dengan baca otak kiri akan berkerja dan akan terkontaminasi dengan apa yang diterima dalam naluri apa yang dibaca dan otak kiri sibuk menerima apa yang telah masuk hingga akan cenderung melupakan semua, kecuali teks yang diterima menghasilkan bahasa dan bermakna.

***
Fragmen tujuan buka teman baca;
Angin akan terus berdesir salagi rasa masih ada janji memahami
Angin yang lain tidak tahu mungkin saja peristiwa masih belum dirasa
tumpukan kertas berisi kata dan kalimat sempurna, anak kalimat bertemu dengan induk kalimat. Konjunsi telah memiliki arti lengkap pada kalimat selanjutnya: menunduk memahami teks adalah kerja manusia akan menemukan peristiwa bahasa, bisa menerima atau bisa juga tidak walau refrensi dalam lambang jelas; bermakna

Tulisan ini adalah fragmen
yang dibuka oleh beberapa shabat perjuangan menemukan peristiwa makna pada teks dalam kehidupan dan pada buku.
Ada: Rudi Harikusuma, M.Charis Hidayat, dan Dani Alfian.

berangkat kosong pulang kosong bukan kehidupan manusia: minimal pulang tidak kosong walau keburukan atau paling berarti berupa oleh-oleh kebaikan,
kala semua lupa akan semuanya yang menjelma makna tak akan abadi maka peristiwa abadi dalam bentuk Satu kata berawalan (A), Azimatku

Masuk pada fragmen 29/04/2019 Senin kemarin.
Kegiatan ini diberi nama gratis baca ini akan dibuka setiap hari Senin di depan Gasebo FKIP gedung C Unisma. Tujuan ini tidak lain tidak bukan bertujuan tentang esensi kemanusiaan dan siapa pencinta sebenarnya.

Setelah melakukan hal maka apa yang dirasa dan bisa diberi apa oleh manusia lain; hadiah pujian bukan menjadi tujuan, kalau ada yang muji sembur aja pakai abu karena itu akan menjerumus kita pada dunia kesombongan. Hal itu akan menjadi momok bagi kehidupan yang tidak sejalan dengan dunia literer.
"Membaca bertujan memperhalus perasaan, mempertajam wawasan, dan menemukan kemerdekaan dalam diri yang diitervensi oleh bacaanya"

Melakukan hal seperti ini memiliki keuntungan bagi diri kita sendiri: hal sederhana memahami judul buku walau tidak terlalu baca isi bukunya. Karena hal itu salah satu praktik-praktik intelektual yang dilakukan oleh para orang-orang besar berjiwa kemanusian dan ketuhanan tinggi.
Meminjam istilah apa yang telah ditulis oleh Francis Bacon (1561-1626) beberapa buku harus dicicipi, beberapa harus ditelan, dan beberapa lagi dikunyah dan dicerna.
Hal terbut memberikan artian bahwa dalam membaca kita harus bisa mengambil intisari dari kebutuhan kita, tidak harus semua dibaca dan dicerna tapi lebih tepatnya menyesuaikan kebutuhannya. Analoginya seperti hal seorang petani tidak akan butuh baca buku Marxis, Madilog, dan buku Ekonomi Kerakyatan. Yang berbicara tentang tatanan sosial dan masyarakat, seorang petani hanya perlu buku yang berisika tentang bercocok tanam yang baik seperti apa dan mendapatkan hasil lebih banyak ketika menggunakan pupuk A dan akan lebih kecil hasilnya kala menggunakan pupuk B.

Dinamika itu akan memahami bedanya mencangkul dan akan memfasilitasi cangkul: kita serasa beruntung dan bisa saja Tuhan telah memberikan jalan kepada ketika untuk bisa lebih berguna pada manusia yang tidak sekolah seperti kita. Kita mahasiswa banyak sebutan pada kita salah duanya yang kita kenal agent off change, agent off control, dsb. Hal itu seperti halnya kita mahasiswa punya banyak beban moral. Keberuntungan kita itu masih bisa belajar mengejar apa yang akan diaharapkan di depan kita. Maka dengan membaca akan dikenalkan apa yang bisa membuka cara-cara baru, bukan sekedar berpangku pada cara yang lalu.

Membaca adalah memiliki tujuan baru tanpa mengurangi kebaikan yang dulu yang masih berlaku hari ini. Membaca belajar sejarah untuk memahami arah ketika dimasa lalu ada hal yang sama dengan hari ini bisa saja bisa dibenturkan dengan sekarang yang mungkin saja masih bisa diterima oleh apa yang bisa menyelesaikan. Dan bisa menjadi refleksi dari berapa yang ada di masa depan kita.

Dalam diri manfaat baca juga akan cepat melupakan luka, luka terhadap cinta, akan lupa akan mantan hehe Karena dalam membaca akan ada pertarungan dan pertukaran logika dan naluri yang dirasa akan menjadi dialog panjang dalam diri dari apa yang diterima oleh logika dan naluri dari objek yang dibaca. Membaca ialah cara paling istemewa bagi para pemuja kesepian.

Katika buku sudah tidak ada yang mau dibaca, mari datang ke tempat kita ditoreh maos di gasebo depan gedung C FKIP Unisma. Setiap Senin membuka wahana baca, jika ada yang cocok bisa beli buku juga ada. Mari baca agar kita mengerti arti merdeka dalam jiwa.

Akhmad 2019

Sabtu, 11 Mei 2019

Cerita Seorang Penulis dan Pengemis



Menulis dan Mengemis

Gus Dur pernah berkata dalam fatwanya tingkat manusia itu ada tiga tahapan. Pertama manusia berada ditahapan paling rendah yaitu tingkatnya ada di Oral, kedua mendengar, ketiga menulis. Pada tahapan manusia ini memiliki kecenderungan harus memahami tingkatan ini mengukur refleksi diri. Evaluasi diri bahwa dasar manusia hidup dan manusia memfungsikan dirinya, bukan sekedar berada pada tahapan satu dan dua.
Tahapan ketiga ini akan menjadi tahapan paling akhir sebab manusia akan senantiasa mencipta; dari berbicara dan mendengar semua itu akan terangkum dan bisa mencipta sebauah dampak estetika pada manusia.

Dalam filsafat ilmu kita mengenal mulai dari Epistimologi, Ontologi, dan Aksiologi. Hal itu akan menjadi tujuan manusia terakhir tanpa disadari untuk bisa membuka ruang baru. Hingga memperhatikan sebuah evolusi yang tidak hanya memiliki dasar target tentang kebaikan dan memperhatikan nilai guna, namun di sini penulis berbicara tentang estetika.

Ketika semua hasil tercipta, menerima dari semua akan jadi harga sampai mana peristiwa dijadikan kesan: berharga manusia bukan akhir tujuan akhir, evolusi akan selalu bertahap mencipta sebuah revolusi, paling sederhana dalam diri mencipta, membuka cara baru dari sebuah realita yang nanti akan dijadikan kisah berharga cata-cara memberi nilai rasa kemamusian, hewan, dan Tuhan.

"Kegagalanku ketika tulisan belum selesai dari tujuannya"

Menulis kegiatan melukiskan, merekam sesuatu, menangkap apa yang ada dalam pengap, menghasil teks. Dari sisi lain menulis juga salah memasukkan naluri pada naluri kehidupan lain untuk memahami siapa dia dan masuk pada diri. Menulis meminjam apa yang ditulis Franz Kafka manulis merupakan ketegangan anatara menemui bahasa dan menemukan bahasa.
Bahkan dalam prosesnya menulis seperti halnya pengemis, mencari-cari sisa para manusia berharga. Jika uang berharga, tapi pengemis bukan sekedar mengukur adanya uang, mengukir adanya kepuasaan diri dan mencaci orang-orang yang tak bersimpati dan empati.

Tujuan dari mengemis mengikiskan grimis yang teriris. Rasa akan lebih tajam pada memahami menerjemahkan hidup. Menghirup udara didunia buta nostalgia hanya tersandar pada nuansa, pasrah menjadi arah arwah para dewa berbahasa.

Menulis dan mengemis akan memiliki cara melakukan praktik yang nyaris sempurna. Menghasilkan rasa tujuan utama dan memadukan. Pengemis mengumpulkan harga menjadikan kebutuhan diri agar mengalir kekuatan. Mencari sebuah apa yang ditampa agar bahagia. Menulis menemukan sabab kebahagian dengan sebutan luka bahagia. Membuka untuk membagi luka yang melahirkan bahagia.

Menulis sebagai akhir membagi rasa. Memberikan sebuah peristiwa dengan bahagia teks seorang penulis memberikan garis. Menebarkan estetika dari hasil oral dan mendengar. Bahagia menemukan luka dirasakan menceritakan dalam teks dan pembaca membuka bahasa pada yang diterima.

"Yang abadi bukan puisi, yang terjadi pada puisi"

Akhmad 2019

Jumat, 10 Mei 2019

Perempuan Pengoceh di Bulan Suci: Realisme Magis


Foto:Akhmad/buku ini salah satu karya realisme magis

Pertanyaan; Realisme Magis

Suasana kelas yang begitu pengap. Baju putih berkicau seperti burung paksi keluarnya seperti mentari bercahaya dikegelapan. Mahasiswa mengembara dalam dara pikirannya memaksa dibulan suci. Mengerti hati para caci maki dihati perempuan pengoceh tentang cerpen di depan. Ditekan dengan lancarnya air mengalir dari air liurnya pada kata-katanya. Proses kreatif dibahasakan bukan dipraktikkan.

Lontaran kata seperti angin yang menembus hatinya perempuan yang seperti halnya metologi Yunani sisipus. Hati diselimuti patri perjalanan. Hasrat melampaui batas-batas pikirannya cekcok hati dengan logika membuka rasa, rasa benci pada mahasiswa yang bertanya.
"Apa yang membedakan antara cerpen realisme, surualisme, dan absurdisme?"
"Realisme sesuatu yang diangkat secara rill dalam kehidupan di sosial, seperti contoh novel Pramodeya AT bejudul Tragedi Banten Selatan" dan contoh yang Surialisme karyanya Danarto Melati di Sayap Jibril, dan yang terakhir bahas tentang Absurdisme yang dibuat contoh cerpen jalan tegak lurus karya Iwan Simatupang".
Ucap dalam presentasinya dengan pengetahuannya yang disampaikan kedua perempuan di depan.
Jawaban itu menutuprasa malunya. Pembantaian habis-habisan kepadanya yang dilakukan oleh seorang yang punya kuasa di ruang kelas C303 dengan mengatur semua seperti halnya dewa mengutuk raja mendorong batu ke atas bukit tinggi dan menurunkan ke bawah dengan mendorongnya pula, kutukan ini istilah dengan miste sisipus.

Matahari tersapu redup horden jendela membawa tanya: bahwa terang matahari diselimuti awan putih menjadi perih hingga memerah seperti akan tiba reinkarnasi matahari. Gelap akan tiba sebelum total matahari diselumuti oleh sari-sari malam. Akhir kuliah telah akan berakhir pertanyaan dibuka kembali, tapi lontaran itu hanya pengusa itu menanyakan kembali kepada air yang masih mengeruh.

"Apa akan ada pertanyaan lagi, sebelum kita akhiri?"
Pemuda duduk santai dengan berbaju coklat mengangkat tangan, dan bertanya.
"Apa ada kaitannya pembahasan hari ini dengan realisme magis Pak?"
"Tentunya ini ada, tapi karya realisme berkaitan dengan fakta dan berkaitan dengan pola pikir logika dan magis dengan mitos budaya atau bisa saja kaitan kebiasaan yang menjadi  kebudayaan. Pembicaraan disambung lagi mengenai kebudayaan yang ada di Indonesia, mengenai asumsi dokrinisasi pada istilah hantu salah satunya berada pada anggapan adanya hantu; di Indonesia menu kok beberapa hantu yang dikenal seperti pocong, gendrowo, dan tuyul, sedangkan hantu di luar negeri ambil contoh di China ada Jiang Shi, di Mesir ada Mumi, di Rumania ada Drakula, di USA ada Zombi. Semua mitos di atas menjadi kebudayaan yang mendokrinisasi kita sebagai generasi paham akan itu.

Hal tersebut tidak lain tidak bukan; lahir dari banyaknya hasil anak tinta mengembara dalam diri manusia, mengalir pada otak dan naluri mamusia, hingga terbentuklah mitos tanpa disadari walau pada bentuk asli tidak dapat dibuktikan dengan sains secara signifikan tidak ada namun logika menerima, dan dalam raga membuka kepercayaan adanya hantu yang dibentuk oleh tradisi baca manusia yang masih ada.

Dalam suasana kuliah yang sudah tidak menjadi semangat bersama pertanyaan tentang Realisme Magis itu menjadi petaka bagi para mahasiswa yang benci akan pemahaman baru, atau memang membeci dengan tugas, dalam hati salah satu mahasiswa berkata mengapa masih kuliah kalau tidak mau tahu tentang pengetahuan. Bukannya pengetahuan intisari dari adanya kita semua duduk di ruang C0303 yang setiap hari pengap dan ada susu putih mengalir dari para sumber.

Salah satu mahasiwi langsung berkata
"Ini gara-gara pertanyaanmu itu, kita mendapatkan tugas baru menbuat cerpen yang beraliran realisme magis"
Penyesalan dan merasa malu ia; lalu berpikir tugas itu dikawatirkan akan semua bisa dan sabagai penanya juga tidak tahu menahu bahkan tidak bertanya karena tidak tahu.
Perkataan terakhir menutup akhir kuliah dari sang penguasa selama durasi 70menit dengan Sks.

Akhmad 2019