Minggu, 19 Mei 2019

Perspektif Negara Taiwan Legalitaskan Hubungan Sesama Jenis


"Jika gunting ketemu dengan gunting seperti tidak akan menghasilkan"

Negara Taiwan legalitaskan pernikahan sesama jenis; apa yang menjadi dasar pemikirannya, hal sederhana tersebut bisa kita lihat gerakan progresif warga masyarakat dengan dalih paling sederhana ingin memenuhi hak kebebasan dalam dirinya. Maka gerakan seperti itu masif di Taiwan, bukan tidak mungkin memiliki indikasi kepentingan umum.

Asumsi saya ialah mereka menuntut dengan dasar kalau yang ingin menikah dengan lawan jenis silahkan dan jika tidak ada masalah. Dari itu bisa kita ketahui bahwa pernikahan sejenis akan membuka mata lebih dalam lagi, bagi negara lain karena lebih banyak setiap negara tidak setuju dengan kebijakan ini; maka negara Taiwan menjadi salah satu dari negara yang berani deklarasikan tentang kebebasan (legalitas pernikahan sejenis).

Begitu pun jika melihat negara yang tidak setuju dengan sistem itu. Contoh saja Burunai dan Aceh Indonesia. Memiliki hukuman tertentu mengenai hal tersebut mengenai hukum.

Brunai akan melakukan hukuman mati bagi para warga negara melakukan hubungan sex sesama jenis. Hukuman tersebut menjadi ketentuan yang berlaku yang telah ditentukan.
Aceh Indonesia akan memberikan hukuman cambuk 100 kali, jika ditemukan seseorang melakukan hubungan sesama jenis hukum ini bernama Qanum Jinayat.
Sebuah pertimbangan yang dilakukan negara tersebut atau wilayah tersebut bukan tidak memberikan sebuah Toleransi terhadap ketidak wajaran dalam norma kemanusian; tidak ada tujuan Tuhan mencipta manusia berbeda jenis untuk berhungan dengan sejenis, contoh kecilnya gunting dengan kertas siang dengan malam, akan memiliki kerasian saling melengkapi. Dan hal itu akan menghasilkan.

Analoginya: ketika gunting bertemu gunting bukan akan mengasilkan potongan yang baik tapi malah merusak gunting itu sendiri.

Mengapa hanya dua manusia Adam dan Hawa saja Tuhan pertama kali diciptakan, nalar sederhana kita tahu, dan kita juga harus tahu mengenai tujuan itu, tidak lain untuk bisa mengahasilkan keturuan sebaagi khalifah di bumi.

Apakah Taiwan akan tidak sadar akan itu, bagiku sadar namun kesadaran itu kalah dengan keangkuahan, mengapa demikian. Karena dasar pemikiran yang bebas tanpa ada kontrol itu akan menjadi candu dalam peradapan manusia yang lahir dirinya sendiri dan paham akan dirinya dikoudrotkan memiliki kebebasan dalam bertindak dan atas membahagiakan dirinya.

Id, Ego, dan Superego dalam Psikologi Freud memberikan dampak cara pikira dalam diri manusia sebagai alat melihat nilai moral kehidulan individu manusia.

Namun hal itu masih dalam keadaan paling tidak ingin manusia menerima. Lalu manusia seperti apa yang akan menjadikan kita sebagai manusia yang beragama atau beretika terhadap diri kita?, perihal itu ada dalam aturan dan ada dalam jiwa manusia tidak hanya berdamai dengan sebuah keadaan namun lebih tepatnya menyesali yang telah diwarnai oleh sesama jenis; nikmat apa yang akan dirasa jika itu terjadi pada kita sesama jenis.

Hari ini legelitas akan menjadi kualitas manusia sebagai pembela bagi orang-orang Negara Taiwan yang satu mashab tetang satu jenis bisa membangun hasrat.

Semoga yang masih bertahan masih menahan; menahan apa yang ada dalam godaan sebab lawan jenis lebih menyimpan kebenaran daripa sejenis dipersatukan. Kebebasan itu bukan kebebasan hak yang bisa dipertanjunggjawabkan tidak selaras apa yang diucapakan Abram Maslow.

Akhmad 2019

Sabtu, 18 Mei 2019

Cerita Penjual Kertas; Memaknai Teks

Cerita Seorang Penjual Kertas

Simbiosis mutualisme; saling menguntungkan saling merugikan. Hal ini akan dirasakan oleh seorang penjual kertas, kertas yang biasanya digemari orang bahkan ada yang tidak sama sekali, lantaran lebih suka melihat kertas-kertas di luar kertas itu. Beruntung sekali orang yang suka dengan kumpulan kertas itu, kumpulan kertas berisi kata-kata dan susunan kalimat.

Penjual bukan berbicara tentang maksud dari membuat teks: yang pernah dibaca oleh pemuda penjual kertas itu. Memaksa dari apa yang belum diketahui hal itu. Pemahaman sebagai cara manusia menemukan derita dan cerita dari hasil teks, setiap tulisan itu akan menjadi sesuatu menggebu ketika memaksa diri untuk menderita dengan apa yang diderita dalam cerita manusia atau bukan manusia tapi ada rasa.

Kehidupan yang realistis menjadi pesimis dan sinis mengkap dalam teks yang tidak mampu membenturkan diri pada naluri. Semua sesuatu yang terekam kadang terancam dalam macam-macam kehidupan, yang tidak bisa membaca dunia maka perlu mengambil buku, dan mencari sesuatu. 

Dalam setiap kisah kasih yang ditangkap dalam teks terkumpul pada kertas-kertas itu tidak ada batas; melampaui batas transenden menerima logika kecuali naluri metafisika.

Embun pagi berelegi prasasti peristiwa sudah berada dalam jiwa. Memaksa pembaca membuka hati kecil melalui jendela, yang setiap pagi horden terbuka tapi jendela belum ada ada angin masuk, kecuali nenek melepas kunci dan melaui engsel terbuka sedikit mengintip matahari, lalu angin ikut masuk bersamaan dengan matahari. Apalagi yang harus kita cari ketika memaksa membaca rasa.

Berjalan jauh penjual kertas berbincang tantang banyak hal, buku dan perebutan tanah, serta tentang hak kehidupan manusia. Dialektika bersama dengan banyak orang; masyarakat, mahasiswa, dan para pemulung yang memiliki transenden melalui logika, naluri diterima. Secara objektiv otak yang aktiv membuka masa kreatif manusia. Secara subjektif relatif subversif diri.

Penjual kertas hanya memiliki kegemaran, kemalasan hanya menjadi alasan bagi yang tak ingin berjalan. Kebekuan sebagai pengakuan akan mendorong Psikologi diri, mencari jati diri memadukan antara psikis mistis lahir tanpa disadari lambat laun menghadiri naluri yang bukan hanya ada dalam diri.

***

Penjual kertas hanya ingin melampaui batas-batas. Bukan yang ada dalam kehidupan mereka berada dalam kemerdekaan. Kemerdekaan seperti apa? yang masih bisa dipaksa membuka, ruang kosong untuk terisi hati dengan banyaknya teks.

Penjual bukan hanya ingin merdeka tapi juga ingin memenuhi apa yang ada dalam diri keluarganya. Keluarga sebagai kekuatan ia, keluar dari zona nyaman memilih pada zaman aman bukan sebuah perubahan dalam keluarga, dengan motivasi itu ada sesuatu dalam perjuangan, karena langkah masih dihantui keinginan. 

"Aku sebagai penjual kertas berharap kertas ini bisa diisi oleh beberapa tulisan entah wacana atau cerita tentang makna dari setiap peristiwa yang diterima oleh logika bukan hanya derita".

Akhmad 2019

Jumat, 17 Mei 2019

Bahasa dan Sastra: Mengajarkan Bercerita dan Berkarya

Foto:Akhmad

Bahasa dan Sastra

"Bahasa mengajarkan kita bercerita dan sastra mengajarkan berkarya"
Istilah tersebut bentuk perspektif subjektif penulis. Mengambarkan setiap peristiwa dan menceritakan segala peristiwa dengan cara sederhana kita apa yang ditangkap.
Bahasa sebagai alat bercerita manusia selain alat komunikasi. Ketika manusia sudah menceritakan akan lebih tenang dalam menghadapi masalah hal itu sebenarnya subjektif.

Seno Gumira Adjidarma pernah menulis tentang seorang Penulis seorang yang senantiasa pandai menangkap peristiwa untuk ditulisnya.

Hal tersebut sebagai dasar manusia jika kita pandai menangkap peristiwa menangkap peristiwa dalam sekala besar atau kecil maka mencobalah menulis dengan seperti itu akan merasakan bahwa hal penting dalam hidup yang kecil akan dijadikan sebuah harga, harga manusia dalam memaknai kemanusian (hablumminans) atau bisa lebih membangun rasa humanis lebih tinggi. Hal itu Perspektif dari rasa kemanusian, namun kita juga perlu tahu dampak baik dari kegemaran mencintai bahasa akan senantiasa mempererarat jiwa nasionalis kita bernegara.

Menulis akan selalu berkaitan dengan bahasa; setiap menulis akan selalu menemukan peristiwa bahasa menyusun kata, menjadi frasa, menjadi sebuah klausa, dan kalimat serta paragraf bersambung. Hal itu akan dirasakan oleh penulis menumukan peristiwa cinta pada bahasa, khususnya kita orang Indonesia bahasa Indonesia menjadi pertemuan paling sakral untuk menangkap diksi hasil dari kajian jiwa serta bendahara jiwa kala menjalanlan sebuah narasi dan cerita dalam teks itu.
Bagaimana katika ada sebuah peristiwa penulis itu menghasilkan sebuah teks dan tidak memahami apa yang ditulis dan hal itu mendapat pertangungjawaban tentang makna, karena pembaca hanya paham tentang apa yang dibaca (aku dalam teks)

Rolan Bartes seorang peneliti sastra dari Prancis pernah mendeklarasikan pada tahun 1960 bahwa kematian seorang penulis ketika karyanya sudah selesai maka karya sudah melanglang buana dalam diri pembaca dan siapa yang membacanya. Lenyapnya penulis ketika karyanya sudah dibaca.

Lye (2001) memperkuat mengenai pengaran telah mati. Contoh Willian Faulkner dia menghasilkan buku As I Lay Dying: karya itu tidak dapat dkbantah lagi. Tetapi dalam kaitan interpretasi, seorang kritikus bekerja sesuai dengan kesadaran bahwa Faulkner sudah tidak mengawasi kala kritis mencoba mengintrepetasi dan menulisnya. Ia bebas mengahadapi teks seolah-oleh pemgarang sudah tidak ada, dengan seperti itu akan melakukan kebebasan ketika membaca. Lebih jauh lagi apakah pengarang akan tahu dengan apa yang ditulisnya ketika karya telah dibaca? Dan ketika interpretasi pembaca beda ketika ditanyakan sedangkan apa yang diterma pembaca adalah teks yang mencipta makna dalam teks itu bukan bahasa mencipta teks. Dan jika pertanyaan ada pada pengarang kita tidak perlu percaya kepadanya apa yang kita tanyakan itu. Untuk apa kita menurut padanya seorang kritikus tidak ada fungsinya katika hanya mempercayainya.

Persembahan pembaca dan penulis bagaimana karya bisa memberi fungsi pada dirinya. Penulis tak ada niat apa-apa kecuali mencoba membongkar realitas sosial untuk bisa dipahami pembaca bahwa dalam Objek pembaca bukan tujuan utama yang utama tetap pada keberpihakan jiwa bisa menampung ide kepada siapa teks dipersebahkan untuk bisa dirasakan mengenai ide yang dihidupkan; ketika ide menyatu pada pembaca akan tercipta kehidupan baru.

***
Sastra ialah bentuk lain dari kebudayaan tapi esensi sastra akan selalu memberikan keindahan. Kebudayaan ciptaan manusia sastra sebagai alat manusia mencipta sebagai nama (seandainya tidak ada nama sastra akan diberi nama "karya keindahan") hasil dari proses dinamika manusia berinteraksi. Sastra sebagai jenis tulisan yang memilik arti atau keindahan dalam pengertian secara harfianya berasal bahasa sansekerta "sastra" menjadi "kesusataraan", beratikan teks mengandung intruksi atau pedoman. Makna lain dikenal dalam bahasa Indonesia " Kesusataraan: keindahan tertentu".
Maka sastrawan, penulis, novelis, cerpenis, dan bahkan esay-is akan selalu berusaha membaca sebagai pondasi untuk mencapai kedua hal di atas itu.

Pada akhirnya masyarakat tidak mau tahu apa asasl usul bahasa dan sastra mereka hanya ingin menerima teks apa yang telah dicipta seorang penulis. Serta menginterpretasi karya untuk menemukan makna, dan walau pada akhirnya kalau pembaca tidak menemukan makna dari teks maknai sendiri karena pembaca harus lebih cerdas dari penulis. Jangan hanya membaca sambil memasukkan tangan pada saku dan geleleng ketika tahu ketidak penulis disalahkan.

Mari mengaji dibulan suci agar kepeduliannya tidak hanya menimbulkan caci maki media masa sudah berjiwa suci setiap mau buka puasa status kolak dengan selogan "berbukalah dengan yang manis-manis" selogan ini tidak akan diterima bagi yang memiliki penyakit kencing manis. Ramadan apa yang kau dapat, menangkap dari ramadan kenangan mokel hanya ingin merokok tapi tidak makan: jika dituliskan apa yang bernilai dalam bahasa dan satra inilah kedua ilmu saling berkesinambungan.


Akhmad 2019

Kamis, 16 Mei 2019

Sisi Lain Seni Mencintai Erich Fromm

foto:Akhmad

Mencintai Nama

"Ketulusan tak bisa diukur dengan kata-kata apalagi identitas maka asal usul hanya arah kecil kerja naluri"

Aku mencari seseorang yang tidak aku tahu bentuknya. Rasanya hanya ada dihati tapi hatinya tidak tahu bentuknya lagi. Apakah itu manusia atau bukan, tapi itu representasi lain dari manusia yang sempurna. Laki-laki sebagai arti perempuan sebagai pemerhati. 

Ia berjalan hanya dengan motivasi nama, berkeringat karena nama, berjabat hanya dengan nama. Suasana yang ada tidak ada yang sangsi kecuali nama yang masih belum menemukan aksara. Aksara yang pantas untuk dituliskan menggunakan rumus yang pantas memperjelas nama. Dari mana datangnya aksara kalau tidak mencerna huruf abjad bahasa Indonesia.

Dalam bukunya Erich Fromm berjudul Seni Mencintai halaman 60-61 menuliskan tentang mencintai, bahwa dalam mencintai memberi lebih menyenangkan, mengembirakan, daripada menerima; mencintai, bahkan jadi lenih penting daripada dicintai. Dengan mencintai dia telah meninggalkan sel penjara kesendirian dan isolasi yang membentuk oleh kondisi narsisme dan egosentrisme. 

Perjalanan telah dimualai gemilang masa depan masih belum terpancar; sebuah peradapan hanya persoalan kesandung pada batu kecil, hal yang sudah menjadi sesuatu peristiwa biasa, bahagia bukan sekedar menemukan siapa yang punya setiap pujian dan pujaan melain cara dan kehidupan yang bisa diterima oleh diri dan atas nama itu mencintai tak sia-sia.

"Mencintai nama bukan hanya sekedar memikirkan makna, tapi bahagia yang mampu diterima dengan cara"

***
Di jalan raya menuju kesunyian berbelok kiri menunju lurus ke arah kesetian. Nama yang dicintai menyelimuti hati. Ego, superego, dan Id terkombinasi dengan kesunyian paling damai. Langkah terus melawan arus angin hanya kuat dengan ingin. Membawa kata yang ada dalam jiwa dengan dukungan buku yang dibaca; negara kecil terbangun kemerdeaannya lantaran bacanya masih tertanam rapi.
Sampai mana akan berhenti berhadapan dengan naluri dan tidak hidup dengan cacimaki.

Rialitas sosial manusia terkadang akan senantiasa buta. Tidak tahu apa-apa tentang kehidupan lain selain satu identitas yang dianggap paling utama merasa dan yang lain ngungsi; cinta pada satu sisi nama tidak hanya mengerban tentang dirinya sendiri kadang lupa pada siapa pencipta (Bucin) dalam kata singkatan sekarang kita kenal, bahwa kata itu menjadi dasar pemikiran bahwa dalam selogan itu sebuah pembunuhan karakter mencintai.

Lahirnya arah pemikiran baru. kita membuka cara baru ketika semua merasa cinta sosialisme lebih berkualitas daripada cinta yang individualis. Slogannya mengenai cinta seorang sosialis tidak hanya pada satu sisi tapi lebih banyak membagi cintanya dengan kemaslahatan ummah, beda dengan non-sosiali mencintai hanya pada satu objek. Arah pemikiran itu sedikit radikal. 

Realitas sosial akan memperjelas apa yang tidak jelas. Langkah tentang tanpa nama yang abtraks akan berbuka dalam awal sederhana yaitu langkah jejak kaki yang sangat jelas. Jejak kaki itu seperti sebagai tanda ada jejak kaki sebelumnya ada kehidupan menuju ke suatu tujuan jalan. Dari itu mencintai nama akan tetap berglfungsi bukan hanya kebingungan yang tak membangun pemikiran kita.

Jejak kaki sebagai langkah awal untuk menyeberangi ke daerah lain yang belum usai ada dalam diri. Mencari tarian yang tanpa nama dengan musik dansa; ketika semua bahagia kita ada di dalamnya fungsi manusia seperti memiliki dampak bahwa kudrot tantang rasa. Menjelma terus tanpa nama tapi tetap bekerja atas segala rasa dan menanggung setiap peristiwa peradapan dunia.

Selamat menunaikan ibadah cinta pada tanpa nama tapi menyimpan makna.

Akhmad 2019

Rabu, 15 Mei 2019

Pengulas Pemuja Berhala

foto:akhmad

Reviu buku Pemuja Berhala; representasi diri pembaca

Representasi dari seorang Penulis seorang yang senantiasa kuat seperti halnya terancang dalam rekam jejak dirinya. Seorang penulis mentitahkan dirinya dalam mencipta teks dalam bentuk cerita panjang yang lugas, sebuah kekuatan dan keberanian besar membagi dan menelanjangi dirinya. Mencoba membuka hidup baru dengan mengembalikan kehidupan masa lalu yang kini hidup kembali, dan hidup di lain zaman yang tidak lain pembaca hari ini.

Buku Pemuja Berhala sebuah kekuatan diri seorang penulis melawan dirinya. Membuka diri menghidupkan dirinya pada sisi lain, bukan sekedar sebagai tokoh fiksi, yang speritualistis, gemar baca, serta mendalami kearifan ajaran Nahdatul Ulama (NU). Sosok dirinya dalam cerita sebagai bentuk lain dirinya adalah seorang muslim taat dan rajin cinta terhadap budaya.

Kehidupan dalam dirinya menjadi potret pernah berada di kampus hijau, kental dengan sebuah organisasi pergerakan yang dominan dan masif. Sebutan Rujak Smart itu menjadi sebutan ciri di pergerakan. Melatari setiap dinamika percintaan serta pertarungan egosentris masih kuat ruang dialektika dimasa dulu begitu militan seorang aktivis kampus begitu getol melakukan praktik-praktik sebagaimana fungsi mahasiswa.

Novel menceritakan beberapa Fenomena masa lalu yang seperti manjadi kehausan sejarah dulu dan relevansi miltansi sebagai suntikan baru pada generasi sekarang. Refleksi diri perlu, sebagai arah pemikir, perjuang, dan ketekunan dalam keseriusan.

Sepertinya kontaminasi dunia maya masih minim, sehingga dalam karya itu masuk ke jiwa zaman; jiwa zaman dalam bahasa Jerman Zaetgaes yang dicetuskan G.W. Heggel. Jika berbicara waktu lempau hanya tersisa dalam cerita-cerita yang suka merekam peristiwa telah tiada dalam ingantan tapi anak pena sebagai penemu sejarah baru pada peradapan sebagaimana aku pembaca sebagai pengingat masa lalu dan belajar pada yang belum kita tahu. Dari dinamika, suasana cinta masa dulu, romantisme serta mistik menjadi hal antik.

Dalam ruang paling senggang. Pemuja Berhala membuka cari baru tentang kemanusian meliputi cinta cita-cita manusia yang membuka Cakrawala cawadimuka manusia memahami peradapan baru dan bisa diterima oleh jiwa manusia. Love is wisdom pada kedamaian paling dalam memahami cita rasa manusia dan manusia pada Tuhan.

Buku yang ditulis Dimas Midzi representasi manusia yang memiliki kudrot bergerak sebagaimana mungkin dan tidak mungkin merajai jiwa manusia saya sebagai pembaca menerima setiap ruang arah pemikiranny mulai dari percintaan kepada Tuhan, kepada manusia serta kepada jiwa yang senantiasa menghamba pada kedamaian jiwa serta menerima sebagai bukti setiap sisi ada rasa dalam jiwa manusia yang tidak asing atas diriku tentang semua isi cerita dalamnya, seperti berdamai dengan keadaaku dan tokoh Eros representasi hidupku masa sekarang.

Akhmad 2019

Selasa, 14 Mei 2019

Perkenalan Afrizal Malna dalam Esay-Esay


foto:akhmad

Perkenalan Afrizal Malna: kumpulan Esay Masa Kini dan Sesuatu Indonesia

Pemuda makhluk kecil bercita-cita besar dengan gembira membaca walau terkadang yang dibaca tidak dapat dipahami. Apapun yang dialami sekarang dianggap hanya sebagai bagian dari hidup indah baginya. Kegemaran dalam membaca tidak lepas kebegemaran juga menulis.

Semua impiannya dalam mencapai bacaan yang baik dan bisa memahami sangat banyak cara dilakukan; salah duanya dengan menuliskan ulang bagian dari hal yang begitu penting, mulai dari menyiapkan buku kecil catatan, dan polpen di sakunya. Apa yang dilakukan itu sebagai bentuk keinginan mencapai keinginan sederhana bisa menulis dan membaca memahami beberapa buku tidak lain, meminjam apa yang dituliskan Tan Malaka pengetahuan tujuannya  bisa memperluas, mempertajam, dan memperhalus perasaannya.

Sore itu pergi ke Mapanda nama singkatan Maijen Panjaitan Dalam. Di situ tempat gudanh buku pelangi sastra Malang. Tempat mengambil buku kala teman-teman pesan buku kepadanya. Setelah sampai di sana ada teman baru yang baik kepadanya, baik karena ia selalu menawarkan hal baru dalam memahami hal. Contoh sederhananya mulai dari buku, isi buku yang banyak dapat cerita darinya. Kala itu disodorkanlah buku Afrizal Malna dan pada itu pula ia membaca buku Itu, buku Afrizal yang pemuda baca itu adalah kumpulam puisi berjudul orkestra hujan.
Singkat cerita kala hari setelah dari Mapanda satu hari yang lalu. Lelaki berjaket coklat yang sudah memiliki satu anak dan begitu gemar baca. Dia menghubungi pemuda itu dengan via WA mungkin karena kebutuhan ekonomis ia menawarkan buku yang lalu dibaca pemuda itu, dengan bunyi dalam pesan itu: mas jika mau beli buku Afrizal Malna dengan judul Pada Batas Setiap Masakini dan Sesuatu Indonesia kamu bisa beli punya saya dengan harga 100rb.

Tawaran itu menjadi pemuda itu berpikir tentang dunia pembacaannya yang harus lebih serius membaca karya orang hebat Afrizal Malna. Balasan dari pemuda itu bisa saya ambil kala sudah ada uang, tanpa tidak memperpanjang pembahasan asalkan jelas dia menjawab santai mas ambil aja uangnya santai, pemuda itu berpikir kembali apakah itu salah dua dari ia menebarkan jiwa baca pada kita.

Setelah membaca karya Afrizal Malna dengan judul buku yang lumayan tebal 580 halaman. Buku esay itu  membukaku mengenai makna dan arti dari dunia kesusataraan yang meliputi dunia perpuisian serta pereodesasi sastra di Indonesia. Afrizal Malna yang begitu rinci bahasan dalam esay-esaynya pada sastrawan di Indonesia serta banyak pesan-pesan terhadap kepenulis pemula secara tersirat dalam berkarya.

Dalam berjalannya waktu akhir-akhir ini saya sering dan mencoba mengistiqomahkan walaupun tidak pernah istiqomah; membaca esay direkam salah satu cara membaca yang bisa lebih giat baca. Merekam dan dikirim di unggah ke soundcloud salah dua cara meningkatkan baca mungkin saja sudah terlalu banyak orang-orang gemar dalam bentuk foto dan video diuggah di youtube dan Ig, saya mencoba cara baru mendokumentasikan sesuatu bukan berbentuk gambar tapi bentuk suara yang nantinya akan menjadi warna baru seperti halnya radio yang tren pada tahun 1980 an. Namun ini bukan radio melainkan rekaman yang terekam oleh geogle aplikasinya bernama sounclud.

Kepada mas Musawwir terima kasih buku yang rela dihutangkan 13, April 2019 dan kini sudah bisa melunasi.
Selamat membaca.

Akhmad 2019

Senin, 13 Mei 2019

Baca Membuat Lupa Luka

foto: akhmad

Toreh Maos: Baca Gratis

Toreh maos dalam bahasa Indonesia memiliki artian mari membaca. Dengan adanya wahanya baca ini bertujuan memfasilitasi setiap mahasiswa yang gemar membaca. Ada yang ingin baca tapi tidak ada buku.
Sebenarnya dalam dunia literer banyak cara untuk bisa mau baca sangat mudah hanya cukup dengan menyediakan internet dan kuota tak terbatas pada saat itu pula kita bisa mendapatkan buku apa yang ingin dibaca, karena setiap buku akan dibaca sudab ada di dunia maya (di internet) sudah banyak tersedia hanya bagaimana kita memanfaatkannya dan membacanya.

Desir angin menyelimuti penjaga buku: rupanya pengunjung hari ini (13/05/2019) lebih banyak dari awal sebelumnya pada tgl (26/04/2019) yang tercatat hanya 14 pengunjung, adapun beberapa yang tercatat 19 pengunjung hari ini, pengunjung terdiri dari mahasiswa, namun bukan hanya mahasiswa tapi juga ada seorang dosen dan para pekerja bangunan.

Tempat yang biasanya juga di depan Gasebo FKIP Unisma gedung C Usman Bin Affan. Hari ini sementara pindah di depan Fakultas Ekonomi, tepatnya di Gasebo juga. Adanya perpindahan ini tidak lain bukan keinginan yang biasa jaga melainkan ada ajakan dari salah dua teman Organisasi katanya bazar sebagai tujuan menebarkan jiwa baca yang giat. Ketika Sudah tiba dan buku telah dibeberkan diletakkan di gasebo, kerumunan manusia sebut saja orang tua terdiri pekerja di dalam kampus.

Pada awalnya pekerja proyek itu membaca judul buku. Salah satunya karya dari Prof. Yusraf Amir Piliang memgenai dunia dilipat. Bapak itu menanyakan isi dari buku kepada pengajaga bawa buku.
"Apa isi dari judul iki le?"
"Yang mana pak?"
"Seng ini le, setau saya kalau isi dari buku ini menceritakan tentang perkembangan elektronik".
" Enggeh, benar pak, tapi selain itu juga menceritakan tentang perkembangan zaman, dan potret kehidupan sekarang yang telah ditulis di tahun1982.

Angin mendesir kencang, seseorang yang ditunggu tidak datang. Angin terasa dingin, wajah-wajah manusia menjelma kata. Diharapkan oleh naluri kehilangan bentuk lain dari keinginan. Matahari masih belum menyapa kulit lantaran masih ada diding bangunan hijau bernama Fakultas Ekonomi. Dibawah andang-andang berbentuk payung putih bertiang biru.

Suara di depan Universitas banyak bagaikan kicauan barung muda membawa luka; luka yang tak bisa dila'bani oleh hati yang damai. Suara mahasiswa suara para membela, ada yang mendamba ada pula yang menghamba, mendamda dengan tidak berdamai dengan diri sendiri maka harus bergerak, yang menghamba akan mengabdi pada diri yang damai tanpa harus bergerak, bahkan ada yang paling mulia yaitu mendoa.

Bagiku mereka yang memiliki naluri jiwanya terpatri bahwa dengan masa akan bisa membawa sebuah perubahan. Perubahan hak sebagai mahasiswa bahwa dalam mahasiswa ada statuta rema harus segera diturunkan agar mahasiswa memiliki landasan, itulah dasar mereka bisa jelas. Dalam sisi lain ada pembahasan yang tidak tuntas tidak ada jalan yang jelas atas aksi mahasiswa mengapa demikian luka ia salah alamat membawa ke dokternya, ia sakit gigi bawa ke dokter hewan. Konflik tentang statuta dan kerja dari (BEM-U)Badan Eksekutiv Mahasiswa Universitas.

Salah satu mahasiswa yang duduk satu bangku bercerita sebab dan kronlogi serta tuntutannya para demonstran. Ia berkata kalau yang mengurus statuta bukan BEM, tapi Dewan Perwakilan Mahasiswa bisa dikatakan kalau aksi salah alamat.

Buku telah berkeringat bunyi bukaan buku belum tidak ada mampir pada telinga. Orang-orang yang ditunggu akhirnya datang khususnya yang menjadi istimewa. Kegelisahan menyapa sangat akrab, hati tidak berdai dengan ini semua. Buku-buku yang tadinya masih suci sudah tidak lagi dibuka ditutup diletakkan (D3).

"Kebaikan tidak akan bergerak sendiri mencipta kala semua hanya ingin mencerna dan diterima"

Wahana baca akan mebuka ruang diri ketika semua bisa berdamai dengan diri:  bahwa suksesnya dari kegiatan seperti ini tidak lain tidak bukan secara individual bisa membaca dengan maksimal selain memberikan sebuah virus positif pada kehidupan yang enggan dan tidak paham tentang makna dari membaca memiliki dampak luar biasa. Pada tulisan sebelumnya sudab disindir mengenai membaca bisa membuat lupa luka; lupa akan semua yang menjadi kerisauan diri.

Bagi yang suka baca mungkin jangan dianggap tidak ingin merasakan luka, namun lebih tepatnya luka hanya menjadi ajaran dan perdamaian akan dirinya intinya bisa menyikapi. Menyikapi bukan tentang dewasa tapi merasa akan siapa fungsi dan posisi kita. Kalau mengacu sebagai mahasiswa banyak cara kita membuka; membuka rasa menutup luka dengan apa yang ada pada jiwa mereka.
Semoga saja panjang umur bagi para pembaca bagi kau yang tidak ingin mati muda.

Akhmad 2019