Selasa, 09 Juli 2019

Lokalitas Karya Raudal Tanjung Banua


gambar:Antonsusanto/Kompas

Cerpen Terbaik Kompas 2019 Raudal Tanjung Benua berjudul Aroma Doa Bilal Jawad

Cerpen ini merupakan karya yang dapat anugerah terpilih cerpen terbaik versi Kompas. Pengumuman yang beberapa hari lalu telah ditetapkan. Raudal Tanjung menyabet penghargaan pemenang versi Kompas nomor satu dan diposisi dua ada Penulis asal Makasar Faisal Oddang.

Kajian ini akan mendalam cerpen karya penulis yang juga aktiv menuliskan karya di media massa. Apakah akan ada pembeda karya yang di media dengan yang tidak. "Tentu beda", sebab yang paling sederhana pembeda dari kata yang dibatasi oleh redaksi, tentunya akan diberi batasan dalam mengesplorasi cerita.

Dalam dunia cerpenis atau Kesusastraan di Indonesia karya mereka tidak asing bagi kita, di media atau di luar media. Karya yang memiliki kelebihan dan kekurangan,  dengan perspektif penilaian tersendiri. Namun pada pembahasan kajian rutinan setiap Senin di 'mengaji kata' kali ini kita membahas karya Raudal Tanjung Benua terlebih dulu, bukan pilih kasih dan membedakan karya terbaik dan yang tidak, tentunya hanya ingin mengawal kali ini dengan karya tersebut, dan untuk selanjutnya akan bahasa punya Faisal Oddang.

Karya yang berjudul 'Aroma Doa Bilal Jawad' hasil pembacaan ini, merupakan karya paling kesekian banyak karya Raudal, walau tidak begitu banyak saya baca salah satunya pernah baca 'Carita Kecil tentang Jalan Masa Kecilku' dalam Kumcer terbaik Tempo 2017. Sebenarnya tidak asing ketika seorang Raudal menulis tentang lokalitas.

Karya dibuka dengan sebuah narasi yang begitu memukau di paragraf awal berbunyi: "Apakah doa punya aroma? Setiap kali pertanyaan ini datang menggoda, aku akan teringat seorang tukang doa yang setia di masa kecilku. Entah mengapa, tiap kali mengingatnya, lafaz doa serasa bangkit bersama aroma yang membubung dari hidung ke dalam batin".

Paragraf kedua bercerita tentang sosok tokoh, yang dijelaskan dengan tokoh memiliki peran aktiv di masyarakat sebagai seorang pendoa. Dan memiliki  kedudukan posisi paling sentral dalam menghidupkan penceritaan dalam cerpen Ini. Dan sekaligus bisa menjadi seorang penggerak cerita, meminjam bahasanya Mario Vargas Ilosa paling sentral narator yang menghidupkan narasi dan sebagai penjaga cerita.

Cerita yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari diangkat dalam cerpen Ini, tidak lain tidak bukan mengenai seorang tokoh masyarakat yang menjadi seorang pendoa. Cerita ini menjadi aroma baru bagi yang hidup di kota, bagi yang hidup di pedesaan tidak akan menjadi hal baru karena hal tersebut sangat dekat khususnya bagi kuam yang suka membakar kemenyan setiap malam jumat, dan mempercayai dengan makhluk yang sudah meninggal masih ada di dalam kehidupan kita walau tidak kesat mata.

Namanya 'arebbe' dalam Bahasa Indonesia sesaji yang dikhususkan pada arwah yang sudah meninggal, namun tidak hanya menyajikan tapi juga diiringi dengan doa-doa yang begitu baik, bagi islam yang merokok dan sholat shubuh gunakan kunut, bagi yang tidak mungkin hal tersebut menjadi asing. Cerita yang ada di masyarakat sangat kental ini tidak hanya ada dalam suatu daerah tertentu, bukan hanya ada di Madura, Jawa, Makasar, Kalimantan, dll. Digambarkan oleh Raudal tidak hanya pada sebuah wilayah tertentu namun ini menjadi hal lama tapi sekarang seperti baru bagi kehidupan sekarang, bagi yang mengenal namanya 'Rebbe'. Namun rebbe berbeda dengan sesaji yang biasanya diletakkan di tempat-tempat angker yang dipercayai oleh masyarakat tempat ada penunggu di sebuah pohon besar, rumah kosong, dan bahkan laut selatan terkenal dengan penunggunya.

'Rebbe', akan disandingkan dengan doa tujuan yang mulia bedampak kebajikan, tidak ada keburukan. Nilai kebaikan akan terpancar melalui doa sebagai dasar manusia berbicara dengan sebuah nilai akan materialnya. Esensi darinya ada pada metafisika lokalitas pengangkatan tentang doa seorang Jawad dititahkan oleh masyarakat diakui, bukan mengakui.

Tokoh seorang jawad bentuk representasi dari kehidupan tokoh masyarakat yang senantiasa mengabdikan diri pada rakyat yang mengambri doanya. Hal ini dibuktikan pada paragraf ke-2, dalam teksnya berbunyi "Iya setia mendatangi kami pada hari baik bulan baik". Kepercayaan itu dijaga olehnya sehingga ia diberi kepercayaan titah sebagai pendoa di kampung.

***

Kritik dari kehidupan sekarang ketika mencoba dalami titimangsa dari cerita ini, merupakan kritik terhadap hal sepele yang akhir-akhir ini tidak digunakan lagi di lingkungan kita. Realitas menjadi kekuatan di era sekarang sehingga logika menjadi penentu hakim paling bijaksana, hal itu tidak akan ada dalam cerita ini secara gamblang menemukan meterialnya kecuali praktik kemanusian atas pemberian kepada Bilal Jawad bentuk hidangan kepada orang yang berdoa. Jika menelisik lebih dalam bentuk paling segnifikan hanya terletak pada silaturohmi mengenai kedekatan masyarakat dengan para kiyai yang tidak memiliki sekat begitu tinggi stratanya.

Kiritikan yang kedua Raudal Tanjung Banua ada pada era modernisasi, mengenai kiayi-kiyai yang baru dibuat bahkan ditokohkan oleh banyak orang mengenai kemampuan menguasai hadist dan popular. Namu tidak melihat apa yang menjadika dirinya seorang kiyai atas titah rakyat atau dari Youtube yang banyak mengikuti atau pemutaran ceramahnya begitu banyak yang menonton, hal itu menjadi hal kebajikan dalam konteks paling sederhana, dalam konteks mahiran dan orang-orang dulu mengutakan tirakat begitu serius sehingga bukan hanya kemampuan berdakwah dengan menebarkan kebaikan, namun juga dengan spritualitas tingkatan beragama menjadi baromiter ada dalam jiwa besar yang bijaksana. Memahami agama islam bukan hanya terletak pada syariat yang bisa dikatakan bentuk dasar agama Islam. Namun kita kenal yang namanya empat tingkatan: 1. Syariat, 2. Tarikat, 3. Hakikat, dan 4. Ma'rifat. Sehingga dalam praktik beragama memiliki kelihaian menjadikan setiap moment bukan gerak dirinya. Hal ini dibuktikan dengan seorang Bilal Jawad selalu membawa keminyan karena dalam narinya mengatakan selalu mengantisipasi ketika tuan rumah lupa akan membakar pewangian ia membakarnya sendiri apa yang dibawa itu (kemenyan). Bagi saya itu bentuk dari seorang tokoh Bilal Jawad.


Akhmad 2019
Gasebo FKIP Unisma diskusi rutinan 'mengaji kata' setiap Senin. Mari diskusikan karena ini bukan menjadi pemahaman utama yang dibenarkan.

Sabtu, 06 Juli 2019

Kausalitas Raymond Carver Meninggal

foto:Kpg

Novela berjudul 'Raymond Carver Terkubur Mie Instan' menceritakan sebuah sejarah yang dikaitan dengan Mie. Yang beperan didalamnya  sebagai penghidup narasi ialah  tokoh 'kamu', yang serbatahu. Raymond ialah seorang cerpenis dari Amerika.

Dalam kutipan buku yang ada di belakang cover.

'Raymond Carver ditemukan meninggal dalam keadaan telanjang. Dia terkudmbur Mi instan di salah satu kamar Iowa Hose di Iowa City. Tiga puluh tahun setelah kejadian itu, Ray-seperti kebanyakan orang memanggilnya-diberitakan meninggal karena kanker paru-paru, tepatnya pada hari kedua bulan Agustus tahun 1988, namun Itu palsu.'

Novela yang ditulis Faisal Oddang memiliki ciri, bahwa narasi serta kesederhanaan tentang banyak hal pada saat di Iowa direkam dengan sederhana. Namun memiliki nilai estetika pencerita. Dan salah satu pembaca berpendapat pada saat diskusi, ia berpendapat "Membaca buku Raymond... Ini, seperti dipaksa untuk mengikuti pertanyaan yang jawabnya ada di belakang cerita." hal itu bisa dikatakan sebuah penerapan suspensi serta hukum kausualitas dalam penulisannya.

Bukunya yang dibuka dengan quotes "Kehidupan dan Kenyataan Sebuah Omong Kosong". Hal itu memberi sebuah gambaran bahwa kehidupan bukan hanya tentang kenyataan atau kehidupan, namun sebuah perjuangan yang ada dalam realita.
Bagaimana kehidupan ada yang sedih ada pula senang hal sebuah dinamika

A. Teeuw (2003: 151-285) menjelaskan bahwa sastra itu dapat dilihat dari dua segi, yaitu dari segi bahasa dan segi seni. Sebagai seni bahasa, sastra dapat didekati melalui aspek kebahasaan dan pertentangannya dengan pemakaian bahasa dalam bentuk lain, sedangkan sebagai suatu karya seni, Sastra dapat didekati dengan aspek keseniyannya.
Dalam sastra ada dua unsur utama, yaitu; 'isi' dan kedua 'bentuk'.

Isi, yaitu sesuatu yang merupakan gagasan/pikiran, perasaan, pengalaman, ide, semangat, dan tanggapan terhadap lingkungan kehidupan sosial yang ingin disampaikan pengarang terhadap pembaca.

Bentuk, yaitu media ekspresi yang berbentuk seni sastra, yang pada umumnya bermediumkan bahasa unsur yang mendukung totalitas makna yang terkandung di dalamnya.

foto: akhmad

Dari pemahaman pembacaan Novela ini hal yang menarik ada pada ketangkasan seorang penulis mengahadirkan cerita memukau dari fiksi autobiografi Raymond Carver Terkubur Mie Instan di Iowa. Diakaitkan dengan Mie hal ini bisa diinterpretasikan bahwa kesederhanaan dari makanan yang paling berada di tengah yaitu Mi. Mulai dari orang kaya hingga miskin pasti akan pernah mememakan Mi, khsusnya bagi orang di Indonesia.

Raymond Carver yang mati di Iowa Faisal Oddang mampu mengait dengan sebab kematiannya dengan Mi, bahwa ia meninggal dalam keadaan paling sederhana. Terkubur dalam Mie Instan, meninggal dalam keadaan paling sederhana jika difsirkan 'terkubur dengan mie' jika metafor Itu dimaknai.

Interpretasi di atas hanya bentuk paling sederhana yang saya mencoba melakukan menemukan makna sebagai pembaca, masih belum memiliki dasar teori lengkap. Pisau analisis yang digunakan hanya pada keterangan teks, serta dapat dari cerita langsung penulisnya Faisal Oddang, hasil Bacaan Shopia Mega, dan Wawan Eko Yuliayanto sebagai penerjemah. Tulisan ini hanya usalasan sederhana dari hasil diskusi bersama.


foto: wifipidia
Raymond Carver (1938-1988) adalah dewa cerpen Amerika yang terus dipuja hingga setelah kematiannya. ... What We Talk About When We Talk About Love ini berisi kumpulan cerita pendek dari penulis yang disebut-sebut sebagai dewa cerpen Amerika.

#Pengulas; Akhmad 2019

Tempat Di Kalimetro bincang Raymond Carver Terkubur dengan Mie Instan dengan Penulisnya Faisal Oddang, Buktuber Malang Shopia Mega, dan Penerjemah dan Penulis Wawan Eko Yuliyanto.

Kamis, 04 Juli 2019

Musim Panas di Aljazaer The Sea Close By

foto:huawei


Cinta yang kami bagi dengan sebuah kota adalah selalu tentang cinta yang rasahasia. Kota-kota tua seperti  Paris, Praha dan bahkan Florence, tertutup pada diri mereka sendiri dan karenanya membatasi dunia. Yang hanya milik mereka. Tetapi orang Aljazair (bersama dengan tempat-tempat istemewa lainnya seperti kota dekat laut). Terbuka kearah langit seperti sebuah muara atau luka yang menganga. Di Aljazair salah satu tempat yang begitu dicintai adalah: laut di ujung setiap jalan, cahaya dari sinar matahari pada jam-am tertentu keindahan berbagai ras. Dan seperti biasa, adalah pelbagai aroma rahasia yang ditawarkan. Di Paris akan sangat mungkin kita merindukan ruang dan suara kepakan sayap dari burung yang menghindar. Di sini, paling tidak, manusia bersukacita dalam setiap keinginan dan, tentu saja keinginannya, akhirnya bisa menilai apa yang menjadi miliknya.  


Pada bab ini, ketika membaca paragraf awal, lalu melihat judul. Dalam benak, mungkin langsung berpikir, tidak lain tidak bukan, interpretasi teks Albert Camus menceritakan tanah kelahirannya. Kota kelahiran yang dicintai akan selalu ada dalam ingatannya. Hal itu dibuktikan dengan narasinya.  Cinta yang kami bagi dengan sebuah kota adalah selalu tentang cinta yang rahasia. Kota-kota tua seperti Paris, Praha, dan Florense, tertutup pada diri mereka sendiri dan karena membatasi dunia yang hanya milik mereka. Narasi tersebut akan menjadi bukti bahwa rasa kerinduan terhadap kota kelahirannya tersebut memperjelas bahwa, dua tempat atau lebih olehnya di tempati, tempat tersebut sama-sama menjadi tempat paling dikenang, namun tetap kota kelahiran menjadi cinta utama.


Pada jdul "Aljasaer Musim Panas". Bahwa Negara tersebut merupakan kota kelahiran. Memiliki cerita begitu mengerikan dan mengesankan baginya. Karya Fiksi autobiografi Albert Camus yang begitu memukau, sangat membuka kerangka berpikir. Kita yang berkumpul ini merupakan pemula mengenali karyanya, yang absurdisme menjadi ciri pada karyanya. Teks yang begitu kaya dengan metafor akan membuka ruang interpretasi yang bagitu kaya, dengan cara-cara sederhana untuk menemukan makna.


Sikap nasonalisme Albert Camus dalam bab ini sangat begitu  jelas. Yang menjungjung tinggi terhadap negara kelahirannya. Walaupun merasakan hidup yang tidak beitu beruntung dan kekecewaan terhadap hidupnya dan beranggaan negara tidak memberi dampak pada kehidupannya. Tulisan ini merupakan represntasi darinya. Dalam tulisannya ia mengnganggap bahwa negara ini tidak memiliki pelajaran untuk diajarkan. Hal itu bentuk kekecewaan terhadap negara kelahirannya sendiri.

Dalam perjalanan panjangnya ia tetap memiliki rasa cinta atas kehidupan.  Hidup yang begitu memilukan. Merasakan hanya untuk menunjukkan bahwa hidup butuh perjalanan panjang. Mengubah untuk memutuskan hijrah sebagai cara paling baik baginya. Ingat dengan salah satu puisi Soe Hok Gie pada salah satu sajaknya yang berbunyi.
"Nasib terbaik tidak pernah dilahirkan walau dilahirkan mati muda yang tersial berumur tua", walau ini salah satu kutipan tulisan dari salah satu Filsuf Yunani, oleh Soe dikaitkan dengan puisinya.

'Cinta tanah kelahiran harus'. Ia yang merasakan kehidupan yang sangat kejam seburuk apapun. Ia menjelaskan tanah kelahiran yang keras dan ia seorang yang sangat detail dalam menarasikan cerita. Tanah kelahiran yang begitu keras ketika ia menjalani hidup. Katika menelusuri latar belakang yang di tempati. Albert Camus menjadi yatim piatu ketika ayahnya meninggal pada saat berumur 1 tahun.

Kondiris Negara Aljazaer pada masa itu, dalam kondisi yang belum maju atau optimal. Masih pada paragraf awal dikalimat kedua yang berbunyi: tetapi orang-orang Aljazaer (bersama dengan tempat-tempat istimewa lainnya kota dekat laut) terbuka ke arah langit sebuah mauara atau luka yang menganga. Ketika teks Itu diinterpretasikan secara subjektif. Hidup di tanah kelahiran yang dekat dengan laut menjadi tempat pulang paling istimewa.

Lokalitas dalam karya ini representasi dari seorang yang merindukan kota kelahirannya. Ketika kerinduan dari seorang yang keluar dari wilayah sendiri akan dirasakan oleh banyak orang. Terkadang akan terbawa pada sebuah karyanya. Contoh sederhananya Albert Camus seperti selalu membawa secara tersirat ataupun tersurat menarasikan setiap karya yang senantiasa membawa latar belakang hidupnya. Sehingga yang terjadi di masa lalu akan menjadi sejarah baru untuk untuk hari ini. Menceritakan yang sangat detail menganai Kota Aljazair.

***

Karya fiksi autobiografi akan menjadi hal yang menarik. Menceritakan dengan cara paling sederhana dibungkus dengan sastra. Mampu memberi nilai-nilai edukasi pada para pembaca.Hal paling memukau ia bukan hanya menceritakan tentang dirinya, namun ketika membaca akan membuka dunia baru dari pembaca. kelihaian itu yang dipersembahkan seorang Albert Camus.

Katika mendalami hasil karya sastranya. Albert Camus seorang penulis bisa dikenal dengan karya yang absurdisme. Dalam memahami maka perlu mendalami teks yang ditulis dan latar belakangnya sebagai cara untuk mengkritisi dan menganalisis. Pada karya yang berjudul The Sea Close By di dalam buku yang diterjemahkan oleh Dias P. Samsoerizal dan Doni Ahmadi. Di dalam buku yang terbaru terdapat tiga bab teks fiksi yang diterjemahkan dan masuk pada fiksi autobiografi. Bab ada yang berisi tentang pidato penerimaan nobel. Kajian Senin yang diselenggarakan oleh kumpulan mahasiswa penyuka literasi. Maka bab tigatidak akan dibahas lagi disepakati untuk ganti buku, dan akan kembali ke karya sastra Indonesia di pertemuan akan datang.


Akhmad 2019
Reviu hasil diskusi Senin Buku Albert Camus The Sea Close By Bab II judul Musim Panas di Aljasaer


Minggu, 30 Juni 2019

Percakapan di Kota Dingin


Puisi kota dingin

terkadang aku bermimpi ingin menjadi awan yang putih tinggi di atas kepala tak memiliki sandaran tapi tetap ada
terkadang aku ingin seperti batu yang di lempar dan diinjak tak tahu menahu rasa sakitnya; bahkan ingin menjadi batu yang di lempar ke laut menyelam dan bernaung di dasar hingga tak tahu desir angin di atas dasar sungai; diam berdamai bersemai berkembang

terkadang tidak memiliki mimpi apapun; kecuali menikmati dingin lalu menanyakan hukum apa yang paling damai menanggapi yang terjadi; kesepian yang ramai damai atau keramaian yang semai menanyakan kedamaian

berdamai dengan dingin dan menanyakan dengan arif tidak hanya diam.

***
Saya pernah berbicara tentang banyak hal dengan teman baru sebut saja namanya Usman. Ia Mahasiswa yang selalu menanyakan sesuatu padaku, sehingga dengan seperti itu akan sering kali membuatku membuka buku. Saya pernah dengan seorang ilmuan Albert Eisten, ia bukan penjual kopi di samping kampus. Ia pernah menuliskan, lebih baik banyak hal dipertanyakan kepadanya, agar kau menjadi manusia yang selalu menggali. Dari seperti itu sepertinya aku sebagai teman barunya mencoba mencari tahu apa yang sesuai bisa dijawab. Lebih postifnya secara tidak sadar menuntutku bisa buka buku, walauku tidak terlalu banyak buku, tapi ada buku, tapi masih banyak yang belum dibaca dan masih begitu rapi di rak buku hehe.

Mula-mula membicarakan hal receh saling menanyakan tentang 'dingin'. Mengapa akhir-akhir ini kota begitu dingin. Tempat kita menimbah ilmu kata orang-orang bijak. Kita sama-sama menjadi warga pendatang ke kota Pendidikan dan sebutan lain juga kota dingin.

Pada akhir kuliah tepatnya kuliah Itu hari jumat. Kita kuliah bersama berganung di kelasnya. Kita tidak terlalu rajin dan juga terlalu sering menitip absen. Saat saya tersenyum di dalam kelas C303 tepatnya. Ada yang ingin ku senyumkan sebenarnya dan berharap senyumnya juga darinya. Seorang dosen yang kadang membuatku bosen memberi pembalajaran tentang sastra namun tidak terlalu memberi dedikasi yang detail tentang Sastra. Kadang sekedar teori, bagi saya dan yang lain pasti juga merasakan kebosasanan, mungkin perlu juga ada evaluasi atas dirinya yang harus meminta kepada mahasiswa dan mahasiswi. Sebagaimana kita saling merasakan kenyamanan, bukan sekedar menunggu kosioner atau angket dari Fakultas yang diberikan biasa setelah ujian selesai. Secara pribadi hal itu kurang efektif.

Senyum mahasiswi yang kedua waktu itu mengnatkanku kembali apalagi pas ingin menulis tentang hasil diskusi ini. Ia berkerdung coklat dan berparas sawo mateng. Seperti tidak ada kekosongan pada dirinya. Usman bergumam terus,

"Saya hanya berkata kalau itu sudah ada yang punya, weslah jangan mikirkan itu kita fokus saja dengan kuliah dulu!".
"Kita juga harus memikirkan diri kita juga untuk bisa membagi rasa pada sesama agar kita juga bisa berguna, kalau dia punya pacar kan kita hanya mencintai dan itu tidak harus memiliki memuliakan paling penting dalam cinta, agar kesucian wanita itu tetap terjaga, walau ia tidak mampu menjaga kita". Sangat bijaksana Usman menjawab.
" Siap benar memang. Memang kita jangan terlalu ekstrime ya, idealis kita juga harus dijaga karena kadang wanita tidak mengerti perjuangan kita, bukan ia mendukung, tapi kadang menjadi penghalang. Ektrimnya lagi mengubur setiap masa depan kita, tanpa disadari kita disibukan dengan satu perempuan, padahal rasa kita jangan hanya disitakan pada satu saja, kita mahluk sosial harus bisa membagi rasa cinta kita pada teman, orang pinggir jalan, pengemis, dan orang-orang yang membutuhkan kita hehe". Maja tersenyum dan merangkul Usman dari belakang.

Langkah menuju ngopi sudah mampir sampai. Gini giliran saya mentraktirnya. Pesan kopi dua dan gorengan 6biji. Kebersamaan terbentuk dengan dua kopi dan gorengan yang tidak dusta diantar kita. Seandainya ada luka hati hanya dengan secangkir kopi dan gorengan akan terobati. Kopi membuka kita untuk berbicara tentang hal kecil, dingin di kota Malang. Kota yang sebenarnya Sudah tidak bisa dibahas lagi apa lagi dipermasalahkan. Mungkin lebih baik membicarakan kausalitas alam kalau di Sastra ada hukum kausalitas sastra. Di Malang dingin tidak wajar hal ini menandakan akan ada Mahasiswa(i), baru masuk ke Malang. Asumsi saya bahwa alam memperkenalkan bahwa inilah kota Malang yang juga dingin, dan juga harus hati-hati sebagai pendatang baru berhuni di kota Malang 'Selamat datang'. Perkenalan seperti akan menjadi hal yang sakral tanpa harus bersentuhan langsung, kecuali dengan rasa akan lebih manis.

***
Sebuah pembicaraan akan lebih luas kala semua mata saling bertatap dalam satu atap dalam diskusi di temani kopi. Maja yang sebenarnya tidak biasa ngopi walau seorang pekerja kopi sebut saja barista kalau malam. Mahasiswa kalau siang. Barista itu pekerja kopi ya, tahunya ngaduk kopi. Sebanarnya agar kedengaran agak keren saja 'barista'. Ia menanyakan tentang ektrim kanan dan ektrim kiri. Seperti Usman test Maja, yang memang dia tidak begitu tahu, walau kadang hanya menjawab ngawur dan diterima juga lucunya.

"Apa bedanya ekstrim kiri dan kanan, sepaham Abang?" Usman lontar pertanyaan ke Maja.
"Ektrim kanan dan kiri sebenarnya dalam kehidupan kita tidak, memang kanan dan kiri itu sebuah belok kanan dan belok kiri kok, masih ada istilah seperti itu. Zaman dulu Nenek, Kakek, dan para pendiri bangsa yang kolot tidak tahu tentang itu, sekarang aja orang-orang pinter dan memberi bahkan membuat sebuah krangka berpikir yang begitu sempit bagiku, tanpa disadari membuat dikotomi kelompok sendiri, walau padahal tidak ada. Ektrim kalau dalam arti umum melalui batas yang umum, untuk menjadi tidak umum. Esktrim kiri terlalu sosialis sehingga kadang tidak bisa dikontrol menjadi ateis, karena akan senantiasa memperhatikan dunia secara gamblang dan rasionalitas serta melahirkan sebuah pola pikir moralitas yang sangat sempit hanya paham kebaikan Yang tanpak dan keburukan yang tanpak. Sosial juga penting,  tapi tidak lupa akan bentuk lain dari yang tidak tanpak itu sendiri, yang diistilahkan ektrim kanan itu sepemahaman saya, ekstrim kanan selalu berpatokan pada Agama yang tidak membuka diri untuk memperluas ajaran Agama dengan cara baru yang mudah diterima oleh masyarakat. Sehingga menjadi konservatif. Logika tidak digunakan sebagai jalan paling baik untuk merelevansikan ajaran Agama mudah diterima, sehingga kreatifitas beragama menjadi jalan baik dalam peradapan kehidupan. Hablumminanas dan hablumnialloh harus seimbang, semua yang berlebihan tidak baik hehe". Begitu panjang penjelasan Maja dengan ragu ia menjawab.

Semua yang dilakukan kala diskusi siang itu membuka diri lebih luas tentang pemahaman dan pengalaman, tentang beragama yang seperti apa harus memposisikan. Fungsi beragama sebagai bukti menyusun peristiwa dan bisa memperbaiki hal yang tidak baik. Agama sebagai landasan hidup dengan baik yang diajarkan banyak hukum sebabagai bukti hidup yang baik memenuhi aturan yang ditentukan, dan bisa memahami segala sesuatu dengan konteks. Dan pengetahuan sebagai menjadi makhluk hidup di dalam diri kita.

Cerita sudah berakhir. Mungkin bisa kembali ke Air laut yang berfungsi bagi ikan dan batu krikil menyelam menghilangkan  diri dari tuk tidak diinjak dan angin yang tak dirasa olehnya; hal itu menghilangkan dari kudrotnya dan lari dari yang mencarinya butuh padanya.

Akhmad 2019
Tulisan cerita pendek ini rangkuman diskusi di warung kopi belakang Pascasarjana Unisma.

Sabtu, 29 Juni 2019

Kenapa Ngopi Pagi "Usman"

foto: huawei

"Kopi dicipta Tuhan sebagai penyambung, pengikat, dan pembuka Persaudaraan, bahkan juga pengobat luka paling berarti bagi para kaum jomblo. Kopi sebagai teman sepi dan sebagai obat sepi."

"Ayo ngopi Bang. Aku merasa malu karena tulisanku dibahas di depan kelas, mata kuliah ini membingungkan disuruh buat cerita malah tidak diberi kebebasan, kita kan masih belajar!"
"Ayo, ngopi di mana?, sudahlah ia memang dosen yang kurang mendalami Sastra, bersyukur toh tulisanmu dibahas dan bisa tahu letak keselahanya."
"Kantin ajalah Bang, gimana?"
"Ehh, jangan di kantin terlalu ramai, di belakang Pascasarjana, tempat ngopinya orang kecil, harganya juga tidak mahal hehe,"
"Oke,,, ayo. Gimana pendapat Abang dosen tadi itu, yang gondol." sambil berjalan menuju ke belakang yang namanya kecewa Usman bergumam terus, seperti sudah tertempel dalam hatinya, diwajah Bapak Dosen itu ada silang merah.
"Sudahlah Man, ia itu dosen bahasa tidak terlalu tahu tentang Sastra bermaklumlah, karena kita ini mahasiswa dan kita harus tahu pula kita ini murid, boleh tidak suka tapi jangan sampai berlarutlah membenci, terpenting kita ngopi sekarang." bahasa yang mencoba dingin tidak terlalu lama membenci. Sambil senyum Maja padanya.

Kuliah sudah selesai ternyata ada yang berkensan, ketika berbicara tentang koreksi tulisan seorang mahasiswa bernama Usman. Mata kuliah yang mengajarkan kita kewirausahaan. Kadang kalau dipikirkan ada kejanggalan dengan mata kuliah yang satu ini, namun namanya juga sistem sebagai mahasiswa mengikuti saja alur asal berdampak kebaikan. Semua mahasiswa dan mahasiswi sudah berpencar tentunya ada yang mencari makan ada pula yang pulang. Kita berdua berbeda karena untuk mereda kedaan Usma emosi ngopi itu satu-satunya cara, Yang mungkin bisa membuat mendingan ataupun tidak sama sekali memberi efek.

Dari wajah yang tadi terlihat ketika menolek berbicara dengan temannya mahasiswi itu seperti tidak kosong memandangku, begitu pun sebaliknya. Usman berkata itu. Semua asumsi sudah melampaui batas imajinasi, mahasiswi itu seperti ada yang aneh, keluar lagi dal ingatannya dan hilang ketika kopi sudah di pesan dan memulai menyeruputnya.

"Enaaakkk, hanya seperti ini buatku lebih tenang." Senyum sambil memandang Maja.
Dari raut wajahnya terpancar sudah tidak ada rasa benci, kepada dosen tadi itu. Dan seperti biasa kembali lagi meminta pendapat kepada Maja. Ketika di depan tadi itu di permasalahkan, menapa bukan punya Maja. Maja merasa beruntung karena pas dikoreksi laptopnya tidak bisa menyambungkan ke proyektor. Dengan sruputan kopi dan gorengan itu dikira akan lupa akan semua, karena sadar kalau kopi dan gorengan sebagai teman paling setia dalal perut untung pengganjal. Berharap juga Usman lupa karena kopi dan gorengan merayu kita untuk meghilangkan rasa, kecuali rasa benci masih belum berdamai.

Butuh beberapa lama untuk bisa menghilangkan rasa benci Usman. Maja mencari cara, terik matahari karena waktu telah menunjuk pada pukul 9:46Wib. Atab langit di bawah bumi seperti tempat ini sangat begitu sempit. Duduk sambil berdiri di dapan roling dor toko sebelah, berdiri sambil berdiskusi mengiringi. Dari mana datangnya ide, tentunya dari Usman juga, walau emosi tapi selalu membuka diri untuk ada pembahasan ketika sudah ngopi. Kebiasaan itu seperti telah menjadi tradisi Ia yang memang banyak teman kontrakannya gemar berdiskusi dan membaca buku.
"Bagaimana pendapat Abang, tentang kebebasan Sastra?"
"Kebebasan Sastra ada pada pembaca dan pengaran atau penulis."
"Pendapat Abang bagaimana dengan Sastra yang dibatasi, seperti tadi kita suruh bercerita tapi cerita kita dibatasi dengan syarat-syarat tertentu, bahasa harus baku, baik, logis ddl. Lalu di mana kebebasan Sastra."
"Kekebasan itu, kalau ngutip apa yang istilahkan Kall Mark, kebebasan itu kebebasan yang harus kreatif, bukan kebebasan tanpa dasar dan tidak melakukan apa-apa, intinya kita bebes tapi juga bisa melakukan apa yang bermanfaat, itu istilah Mark. Mengenai tentang Sastra yang bebas, kita kaitkan pula Sastra memang bebes tapi harus memahami konteks kebebasan itu, keliaran berpikir positif atau negativ itu harus kita tahu. Dalam berpikir kita sangat boleh bebas, kebebasan berpikir terletak pada mana hasil kita melakukan atau menciptakan, kalau kita bahas Sastra kita luaskan dulu krangka berpikir, dalam berbarka kita bebas tapi hal itu kita harus tahu hukum kausalitas, sehingga ketika itu bisa diketahui maka akan lahirlah estetika yang terlahir dari esensi Sastra itu sendiri. Itu kita bahas kebebasan dalam Sastra, kita harus paham ranah apa yang menjadi relevansi hasil pemikiran kita ketika menjadi karya dan dibaca. Dalam Sastra juga kenal namanya struktur karena membahas tentang teks sangat sulit untuk bisa menceritakan melalui teks karena butuh memahami banyak kata agar terpadunya logis, maka kita perlu namanya bagaimana bisa menyusun kata menjadi frasa, klausa, dan kalimat panjang sehingga melebihi dari tiga kaliamat dan itu sah akan menjadi paragraf. Semua orang bisa berbicara cerita dengan penguasaan retorik yang baik akan bisa diterima oleh pendengar. Beda dengan menceritakan sebuah peristiwa melalui teks. Perlu penguasaan ilmu bahasa setidaknya paham menyusun kalimat sederhana dan menjadi kalimat panjang sebagai deskrripsi cerita, sehingga ada narasi yang suspensinya sangat membuat pembaca tidak hanya menangkap makna tapi bisa menemukan kata yang dianggap istimewa. Dan menjadi masalah ketika tadi dosen itu bahas tentang batasan menulis cerpen yang masih bahasanya dibatasi, kita sadar semua karya sastra malah lebih bebas tapi bebas dalam sturuktur penyusunan kata dan bahasa yang digunakan kita itu harus memperhatikan juga, agar apa yang ingin kita tulis mudah dipahami dan diterima oleh pembaca. Bagaimana kita bisa menjadi penulis hebat ketika kita tidak bisa menguasai penyusunan kata, itu yang kadang menjadi masalah kita yang ada dalam diri terkadang itu masalah tidak dianggap masalah, tapi kita ingin tahu ketika disalahkan tidak mau, bagaimana akan menjadi seorang yang bisa, kalau kebisaannya (kemampuan) tidak bisa diterima oleh banyak orang. Tetap kaidah kepenulisan dalam cerita digunakan agar ide cemerlang kita bisa diterima apa yang kita maksud pada karya kita, gitu Man."
"Iya Bang, tapi dengan seperti tadi itu aku donw, merasa malu." Dengan termangu sambil menghisap rokok Usman lebih tenag.

Wajah itu sudah hilang kencian melebur dalam kata dan bahasa panjang. Kopi serta rokok itu emosi seperti melabur ke dalam lalu hilang seperti kosong. Gorengan yang masih hangat sudah mendingin cerita panjang dari Maja seperti sedikit menunda. Dari mana datangnya inspirasi, kopi yang pahit atau rokok dengan asap putih yang mengebul lalu menghampiri otak keluar menjadi ide, lalu mencipta sebuah sesuatu yang berguna, guna dinikmati keindahannya atau sebaliknya. Semua bukan kita yang merasa tapi mereka yang mencipta makna tentang manusia, bahkan kita atau saya ini.

***
Dosen bahasa dan Sastra Indonesia seharusnya bisa lebih bijaksana. Bijaksana memberikan penilaian sebagaimana tidak bisa menyinggung hati dan mencipta luka, seperti halnya yang terjadi pada teman saya. Walaupu aku sadar kalau semua itu tidak patut juga meyalahkan dosen, mahasiswa pun perlu kita ketahui tidak semena-mena mejustifikasi, sebagai mahasiswa bahasa Sastra juga bisa lebih peka seharusnya karena sudah banyak membaca karya sastra. Tapi maklumi juga kita jiwa muda cara pandang berpikir seperti masih berapi-api memaknai tentang apa yang terjadi hanya rasio menghakimi dan coba menyelesaikan, naluri seperti jauh dari teman-teman Sastra.

Banyak dari teman Sastra namun ia hanya sebutan saja. Karena ketika bicara tentang sastra tidak bwrtanggungjawab atas dirinya. Buku Sastra yang seharusnya dibaca seperti sudah tidak diharaukan. Maka dosen yang selalu menganjurkan baca buku sesuai dengan kebutuhan kita, bagiku dosen terbaik. Apalagi ada yang sampe memberikan bukunya. Dosen itu sangat mendedikasi. Ketika Sastra sudah tidak disampaikan dengan baik oleh dosen kita, maka perlu kita membuka diri dengan membaca sendiri.

"Banyak teman Sastra tapi meninggalkan Sastra, contohnya ia tidak mau membaca karya Sastra, jan

Jangankan buku teori kadang karya sastra sedikit yang masih kita punya.

***

Usman kembali lagi membuat pertanyaan kepada Maja. Mahasiswa semester IV dan Maja yang tergabung di kelasnya karena harus mengulangnya, ia juga merendahkan kakak tingkat yang mengulang mata kuliah, menggap bahwa ia orang paling tidak baik. Walau nyata bisa dikatakan iya, tapi  tidak juga harus kita benarkan. Maja berpikir mengapa Usman mengajak ngopi ternyata ia ingin mengetahui latar belakangnya. Karena ia sendiri aktiv di Organisasi Ektra Kampus (Omek), ternyata ia juga kader terpenguruh di dalamnya. Serta teman-temannya juga menjadi kebanggaan Maja dalam pemikiraannya, serta kuatnya menekuni literasi baca tulisanya. Maja seperti tidak ada batasannya dalam menimbah air di sumur orang manapun asal itu air keluar dari sumber yang tidak bahasmya dan terutama jelas. Tidak segan untuk meminumnya jika membuat ia tidak haus. Sebab segala sumber dari segala sumber dari yang Satu. Kita manusia yang memiliki jiwa dan bisa membuka segala cakrawala dunia.

Ia menbuka pertanyaan lagi kepa Maja. Asumsi atas bukan fakta tapi masih asumsi tapi patut kita anggap postif karena hanya menyebutkan lembaga tanpa mencemari. Usman membuka dengan pertanyaan.
"Mengapa Abang suka Sastra?"
"Sastra ialah kehidupan yang memang harus kita pahami dan kita pelajari, mungkin kita bisa mengemas pemikiran kita, pengetahuan kita dengan puisi, Cerpen, Novel, Prosa, tembang, dan kesiaan lainnya. Tidak lain tidak bukan sebagai kebutuhan manusia dan bisa difungsikan manusia sesuai kebutuhannya, ketika kita paham Sastra akan menemukan tiga hal, pengetahuan, pengalaman, sejarah, kepakaan, dan keindahan."



Akhmad 2019.
Tempat Unisma, Warung Kopi Ploretar.

Tulisan ini hasil dari diskusi dengan salah satu teman dari Kalimantan Kayong. Saya jadikan cerita pendek.

Rabu, 26 Juni 2019

Wawancara Toreh Maos

foto: huawei


Toreh Maos dalam bahasa Indonesia silahkan membaca. Pada tgl 24, Juni 2019. Setiap pagi saya membuka wahana baca sesuai dengan apa yang dilakukan setiap Senin. Membawa buku kurang lebih dari 50 judul buku, ada yang dikhususkan pada pembaca, peminjaman, dan bahkan khusus buku yang akan dijual. Di tempat biasa Gasebo depan FKIP Unisma, di mana menjado sorot matahari dan keramaian mahasiswa lewat khusus mahasiswa fan mahasiswi FKIP.

Kegiatan ini tidak lain dan tidak bukan untuk lebih mengenalkan dunia literasi, di ruang-ruang akademik yang pasti sudah memahami pentingnya literasi, serta mencoba mewadahi mahasiswa yang ingin membaca, dengan seperti berharap bisa membuka diri, bahwa cara pandang mahasiswa mengenai literasi. Asumsi saya kultur di Unisma gerakan seperti ini belum ada, maka Ini salah dua dari inisitif, bahwa kegelisahan individu yang sekiranya bisa menjadi hal positif dalam gerakan literasi. Yang memiliki fungsi  secara umum mengenai kepentingan bersama.

Hari ini, mahasiswa dari jurusan yang sama, bahkan ada mata kuliah yang bersama dengan mereka. Kelaa itu, Kelas IV D Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Mereka datang ber-enam lalu mewawancarai saya sebagai penjaga kegiatan non formal "baca gratis toreh maos". Kedatangan mereka bertujuan untuk memenuhi kewajiban tugas akhir mata kuliah jurnalistik yang katanya harus membuat majalah, wawancara Ini bertujuan untuk menjadi berita di majalah mereka. Dengan keadaan yang tidak siap dan sebenarnya harus siap, mereka menanyakan secara bergantian dengan list pertanyaan yang begitu panjang sepertinya. Bayangan saya orang berenam itu kalau menanyakan semua pasti sangat panjang, mereka memulai.

" Apa tujuan anda buka baca gratis seperti ini?"
"Tujuan ini, sebenarnya pada pukul 8 tadi ada mahasiswa menanyakan hal yang sama dengan pertanyaan ini ke saya. Dan saya akan menjawab dengan jawaban yang persis, bahwa tujuan dari kegiatan baca gratis ini, tidak lain tidak bukan hanya ingin memperkenalkan dunia literasi di dunia Kampus, kalau bicara efektif tidak begitu efektif kegiatan seperti ini namun inisiatif seperti ini akan cenderung pada pengenalan dan bertujuan dengan seperti ini ada kesadaran dari ruang akademik bahwa tidak hanya bertumpu pada intelektual berbicara tapi juga perlu pembicaraan yang memiliki dasar, mungkin dengan seperti ini sesuai dengan keinginan teman-teman mahasiswa, pertegas lagi hanya ingin memperkenalkan dunia literasi bahwa kegiatan baca itu penting, dan bisa menjadi alternatif ke perpustakaan, ketika malas belajar di dalam ruang siapa tahu ingin baca di luar dengan menghirup udara dan sambil berdiskusi bersama teman".
" Apa yang akan menjadi motivasi anda?"
"Saya hanya berangkat dari kegelisahan pribadi, dan ini sebenarnya salah satu gerakan kedua di kampung saya juga ada Perpus Mini yang dialokasikan ke sekolah yang tidak memiliki fasilitas buku, dengan seperti itu saya dan teman di kampung membukanya untuk di Sekolah Menengah Pertama (SMP swasta). Kalau di sini ini sebenarnya hanya ingin menumbuhkan minat baca mahasiswa khususnya saya pribadi, dengan seperti ini saya juga termotivasi untuk bisa baca juga, dan setiap kegiatan seperti ini dibuka bisa membaca satu Buku dan itu bisa saya selesaikan dalam satu hari itu, dan memilih buku fiksi yang halamannya kurang lebih 100 hehe yang tipis"
"Dari mana dapatkan buku ini?"
"Buku ini, buku koleksi sendiri sebenarnya yang sudah dibuka dan yang dipinjamkan, untuk yang plastikan itu saya belum dibuka itu membawa dari Pelangi Sastra Malang penerbit dan ia juga jual buku, siapa tahu ada yang akan membelinya, dan walaupun belum pernah ada yang membelinya kecuali mereka membeli di luar kegiatan ini Hehe"
"Apa yang menjadi keseulitan anda?"
"Kesulitanya sepertinya tidak ada, kecuali memang harus ekstra kala saya harus mempersiapkan ini dengan sendiri, walau pada intinya Toreh Maos ini tidak hanya saya tapi teman lainnya pada memiliki kesibukan masing-masing, sehingga kesulitanya ketika ada yang kelupaan.

Ketika ada yang lupa di kos, seperti sekarang tulisan "baca gratis" lupa dan untuk mengembalnya jauh, karena saya juga tidak ada motor terpaksa harus menempuh jalan kaki, sisanya terkendala dengan rutinitas kuliah yang masih banyak saya tempuh semester ini".
"Apa harapan anda dengan kegiatan ini, kalau kita tahu kan kegiatan ini juga menyita banyak kesibukan anda, mulai waktu dan sebenarnya kalau dilihat kegiatan ini hanya menjadi pertontonan kurang elok bagi mahasiswa lain, ini asumsi?"
"Saya berharap Ini akan ada regenerasi penerus kegiatan seperti ini, dari kalian juga saya berharap ada, Khususnya Usman dan Robi hehe. Iya kadang saya berpikir itu juga, saya merasa Kalau kegiatan ini akan memiliki dampak negativ bagi yang memiliki Perspektif kalau kegiatan ini menjadi ladang usaha saya, hal ini presepsi yang salah. Jika berbicara material dan keuntungan, malah saya sangat rugi dengan meminjamkan buku yang masih banyak dibalikan."
"Mengapa anda masih bertahan?"
"Hal seperti ini, menurut saya pilihan progratif tapi kekuatan saya ada pada ketidak pahaman tentang semua hal, maka saya melakukan semua dengan sebuah keinginan walau kadang lahir dari keadaanku".
" Mungkin, ini akan saya tanyakan kepada anda, karena anda sudah punya buku, bagi cerita tentang menulis, mengapa kamu menulis? "
"Saya hanya mencoba untuk menjawab tentang menulis, dan saya mencoba untuk membalikkan pertanyaan, ini saya ganti dengan mengapa anda sudah menulis?, saya hanya bilang semua yang saya lakukan merupakan sebuah proses, proses belajar. Menulis proses paling membosankan dan kedang kehilangan inspirasi, hingga lebih tepatnya bagaimana memulai dan motivasinya apa, saya akan menjawab saya menulis karena tidak tahu, seandainya tahu tidak akan menulis, karena Menulis bukan kewajiban itu hanya membaca, menulis bonus aja".
"Buku apa saja yang telah ditulis?"
"Sangat malu ketika menjawab hal ini, karena masih belum pantas dipanggil penulis, karena masih saja belajar menulis".
" Pesan kepada kita mahasiswa untuk bisa gemar baca".
"Pertama kita harus tahu kenapa kita harus baca. Selain kita dituntut oleh Tuhan membaca, fungsi membaca itu seperti apa memberi fungsi apa, apakah itu sebagai kebutuhan, maka harus kita tahu membaca kebutuhan, karena membaca akan memiliki tuga tujuan, pertama memperluas pengetahuan, mempertajam pandangan, dan memperhalus perasaan. Kita bisa bicara namun apa arti bicara kita kalau kita tidak mengabadikan kata yang bisa memberi sebuah pandangan di masa akan datang, bacalah apa yang paling disukai dulu sesuaikan dengan kebutuhan kita, minimal selaras dengan disiplin ilmu yang ditekuni".

Ditutup sesuai permintaan dengan memberikan motivasi bagaimana bisa gemar baca. Literasi sebuah proses baca dan tulis yang akan menjadi perkanalan diri manusia memahami sebuah peristiwa, pengetahuan, dan sejarah. Senyum dari banyak orang itu melihat ada sesuatu berharga darinya, dari mana datangnya kehidupan mereka dan pikiran mereka dan doa kebaikan akan kebajikan semoga menjadi peristiwa paling berharga dalam kenang dan mengertikan saat hening, bahwa kita ini adalah denyut perubahan kata Mochtar Lubis.

Wawancara ini akan menjadi cerita paling berharga ketika suatu saat akan dibaca lagi, entah tahun ini dan tahun akan datang dan seterusnya.

Akhmad 2019

Selasa, 25 Juni 2019

Mengaji Kata The Sea Close By

foto:huawei

The Sea Close By
karya Albert Camus

Mengaji kata karya Albert Camus di Bab I dengan judul "The Sea Close By" dalam bahasa Indonesia "Laut yang Begitu Dekat". Karya yang menjadi bahan diskusi awal kegiatan membaca. Pembahasan karya yang cukup membingungkan menginterpretasikan.  Pada awalnya saya mencoba membuka cakrawala transenden yang ada dalam diri dengan mencatat ulang isi The Sea Close By. Setelah dibuka, membaca berulang tapi tetap masih bingung. Karya yang masih tanda tanya: sebab tawaran karya absurdisme masih asing dalam otak saya. Karena masih hanya mengenal karya absurdisme di Indonesia, yang dikenalkan oleh beberapa karyanya Danarto, Budi Darma, dan Afrizal Malna, yang asumsi saya mereka masuk pada gaya absurdisme, sehingga bendahara berpikir saya bisa dikatakan masih sangat krisis. Hasil dari bacaan karya yang pernah dikenal saya, belum bisa menjadi dasar untuk memahami karya Albert Camus yang ini, dan belum bisa membuka kebingungan dalam diri, secuil pun saya belum bisa memberi gambaran maksud atau makna dari yang Albert Camus tulis ini, tapi, masih begitu banyak kesangsian berpikir.

Dalam otak saya, dan otak mahasiwa yang ikut mengaji kata Ini, nyaris, sempurna seharian duduk di Gasebo depan FKIP dari pukul 7-15:30 an, bukan sekedar duduk tapi juga berdiskusi, di sini setiap Senin membuka baca gratis. Mereka yang setia seharian menemani mungkin masih lelah karena secara tidak sadar telah memforsir otak dan naluri, hingga blenk,,, untuk memahami teks sastra "The Sea Close By" masih menanyakan tentang banyak hal dalam otak ada yang terpaku pada makna ombak, laut, dan lainnya. Yang masih tersenyum penuh tanda tanya. Dari keseharian kita ada yang hanya sekedar memandang buku dan ada pula yang membacanya. Para mata mahasiswa lain banyak lewat depan kita, kita yang sedang berkumpul. Mereka sambil menyoroti tumpukan buku di gazebo di hadapan kita, saya melihat dalam kepala mereka ada hewan hidup, mungkin jika dilihat dari dekat berupa kambing, kalau jauh abtraks, dan ada yang berupa kucing, dan ada pula yang bertengger di atasnya itu berupa ayam, Bagi kaum nyinyir yang berdasar dangkal didalam dirinya berpikir apa yang baik dari kegiatan kita.

Dingin bersandar dipundak saya, dan batu masih di bawah kaki bangunan intelektual yang hanya sebuah nama. Walau kadang itu dipercaya oleh semua.

Membaca fiksi autobiografi menurut pendapat penerjemahnya. Tulisan Albert Camus dengan gaya yang bagitu baru, baru bagi saya karena baru pertama kali baca karyanya. Mungkin karena baru tahu dan bersyukur serta berterima kasih pula kepada penerbit Pelangi Sastra Malang (PSM), khusunya Mas Dandy yang merekomendasikan mengaji kata karya Albert Camus yang diterjemahkan oleh Dias P. Sasoerizal dan Doni Ahmadi. Berkah itu, bisa membuka sedikit cakrawala yang masih belum dewasa atas dunia kesusastraan, khususnya kesusastraan di Indonesia.

Pada saat diskusi saya mencoba menangkap apa yang Mas Dandy katakan "Sastra Indonesia termasuk telat masuk dalam disiplin ilmu serta dikaji di ruang umum". Hal itu membuktikan bahwa adanya keterlambatan berpikir untuk memahami budaya pribumi yang kaya sengan kesenian serta peradan. Sehingga masih mengekor pada eropa yang sudah menjadi peradapan luar biasa di nergaranya. Hal tersebut tercipta dikotomi dalam memberi makna pada sebuah karya sastra. Pakem kesusastraan atas kelahiran dari negeri sendiri d
masih dipertanyakan.

Sebenarnya dalam ranah menemukan makna pada karya sastra berupa teks, kita akan semakin jauh menemukannya, sebab seorang penulis hanya mempersembahkan teks yang tidak memiliki suprasegmental. Dan makna akan dicipta oleh para pembaca sebagai bentuk apresiasi pembaca sastra, hal itu menurut apa yang dikatakan oleh Budi Darma dalam bukunya Honorium.

Masuk pada The Sea Close By lebih dalam menelusuri teks:

Dalam paragraf pertama di halaman satu. Pembukaan yang memukau pembaca, sekaligus memberikan gambaran besar pada kalimat awal untuk mempermudah menemukan suatu gambaran awal akan isi dari pikiran Albert Camus yang akan ditunaikan dalam teks. Dan teks tersebut menunjukkan bahwa akan menceritakan tentang dirinya dengan media sastra yang difiksikan. Bisa dikatakan prosa lirik kata Mas Dandy disela diskusi ia berpendapat.

Pembahasaan awal ada pengakuan yang dibuktikan dengan kata " Aku" diawal kalimat pertama. Pada awal diskusi, karya ini diasumsikan sebagai karya fiksi cerpen. Mas Aan yang paling setuju dengan dasar-dasar yang ada dalam pemahamannya. Sedangkan saya sendiri menganggap esai. Dan teman-teman lain menganggap cerita perjalanan. Namun kedua ini menjadi pembahasan paling kuat hingga dipertahankan sehingga pada awal pembukaan diskusi penuh dengan kebingungan, diskusi masih dilanjutkan. Pembacaan pada Bab I telah dimulai.


"Aku tumbuh besar dan karib bersama laut serta kemelaratan yang menyelubungi, sampai suatu Ketika, aku kehilangan laut, lalu menemukan semua kemewahan abu-abu l, dan kemelaratan itu tak terlihat lagi. Sejak itu, aku menunggu. Aku menunggu untuk menunggu ramang-remang kehidupan di atas perahu, seperti dulu, pada hari-hari biasanya. Aku menunggu dengan sabar, dengan takzim, dengan segala kekuatanku".
Pembacaan telah usai masuk pada pendapat masing-masing menangkap makna yang satu persatu atau menginterpretasikan menggabungkan makna dari paragraf ke paragraf selanjutya.

Lagi-lagi ada pada teks Albert Camus yang memiliki kesulitan menemukan makna yang gamblang. Sebab hanya dengan teks Itu bisa membuka makna, selain itu akan begitu jauh menemukan nya. Penggunaan metafor yang begitu memukau otak dikoyak-koyak, ternyata sangat menarik mempersembahkan autobiografi yang tidak membosankan bahkan lebih memperdalam pemahaman. Pengemasan cerita dijadikan fiksi autobiografi, Itulah kelebihan dunia kesusastraan. Seandainya secara terang-terangan dalam memaparkan cerita dirinya mungkin sangat membosankan. Dan mungkin tidak akan bisa memperdalam isi dalam karya tersebut. Dengan media sastra tentunya lebih menarik.  Interpretasi labih kaya. Kalau tidak, akan cenderung membosankan. Seandainya Hillen Killer, dan Nabi Nuh yang ada dalam perut ikan Nun itu diceritakan secara konkret masih relevan karena sangat menginspirasi hidupnya, maka menceritakan dengan bahasa paling biasa akan tetap diterima oleh banyak orang karena sangat menginspirasi.

Sebelum membahas karya Albert Camus ini, alangkah baiknya mengetahui latar belakang Albert Camus sehingga akan lebih mudah memahami karyanya. Albert Camus penulis yang juga masuk pada golongan eksistensialis Prancis bersama dengan penulis Jeans Paul Sartre arah pemikirannya. Sehingga dalam memahami karyanya perlu memahami filsafatnya.

Pada bab I yang paling diingat tentang bagaimana Albert memberikan pandangan tentang hidup di laut, mengerikan tapi ketika mampu menyelam ke dalam dasar, maka akan mendapatkan kebagiaan. Maka dalam pembahasannya Albert Camus menceritakan bahwa hidup butuh pengabdian atas sebuah perjuangan yang kadang kemewahan yang abu-abu serta kemelaratan menyelubungi tumbuh besar bersama laut. Kehilangan laut yang dikamaksud bisa memiliki arti, kesedihan dan kebagian akan hilang dan kadang datang lagi kalau kita cermati mendekte hidup ini. Ketika remang-remang kehidupan di atas perahu, hanya dengan takzim dengan segala kekuatan itulah manusia akan membuka sebuah transenden.
Dan interpretasi karya Albert Camus bisa dipahami dengan pendekatan filsafat, bahasa, dan Sastra.

Albert Camus bisa dikatakan karya-karyanya merupakan representasi dari yang pernah ditulisnya esai Miste Sisipus: dalam mitedologi Yunani bahwa seorang raja yang dikutut untuk mendorong batu dari atas turun ke bawah lalu mendorong lagi terus menerus sepanjang hidupnya secara berulang-ulang, sebuah kesetiaan atas dirinya untuk menebus dosa dikutuk mendorong batu. Hal ini Albert Camus membuktikan dengan gaya hidupnya dan begitu karyanya.

Pada paragraf terakhir Bab I The Sea Close By Albert Camus menuliskan: Aku selalu merasakan bahwa aku tinggal di dalam ombak yang tinggi, tempat di mana ancaman, pada inti sebuah kebahagian yang transenden.

kata "Laut" sebuah metafor abstrak akan memiliki interpretasi luas dan saya berasumsi kalau laut diartikan tubuh kita ini seperti laut ketika kita bisa memahami gelombangnya dan menyelami ke dalam akan ada transenden lahir begitu berharga. 


#Akhmad
Mengaji Kata 25, Juni 2019
Gasebo FKIP Unisma
Diskusi pertama