Sabtu, 14 Desember 2019

Mengulas Buku The Outsider Karya Albert Camus


Seorang Pekerja atau Intelektual; Le Mythe de Sisyphe




Mengulas Buku  
Judul: The Outsider
Penulis: Albert Camus
Penerjemah: Natalia Trijaji
Terbit pertama: 1955
Cetakan di Indonesia: Ecosystem 2017
Halaman: 164
Isbn: 978-602-1527-53-5


Albert Camus lahir di Aljazair pada 1913. Masa lalu yang gelap kan menjadikanlebih bisa menata hidup dengan baik dengan cara berbeda, walau absurdis. Keadaanya Albert Camus, sangat memiriskan masa kecilnya. Sehingga pergi ke Paris untuk berkerja disurat kabar Paris Soir sebelum kembali ke Aljazair. Karya pertamanya yang penting, L’Etranger (The Outsider) dan esai panjang Le Mythe de Sisyphe (The Myth of Sisyphus), diterbitkan ketika kembali ke Paris. Tahun 1941 masuk menjadi anggota perlawanan ketika pendudukan Prancis oleh Jerman. Ia menyumbangkan tulisan di untuk surat kabar bawah tanah Combat yang didirikannya. Setelah perang ia mengabadikan diri untuk menulis dan memperleh reputasi Internasional berkat buku-buku karyanya seperti La Peste (The Plague) pada 1947, Les Justes (The Just) pada 1949 dan La Chute (The Fall) pada 1956. Di tahun 1950-an memperbarui minatnya pada teater, menulis dan menyutradarai adaptasi karya William Faulkner yaitu requiem for a Nun dan the possessed karya Dostoyevsky, mendapat hadiah Nobel untuk bintang sastra pada 1957. Novel terakhirnya Le Premier Homme (The First Man) belum selesai ketika ia meninggal akibat kecelakaan di jalan pada 1960. Karyanya telah diterjemahkan lebih dari 30 negara. Filsuf dan penulis Sartre memberikan penghormatan pada Camus dalam obituarinya, “Albert Camus tak akan pernah bisa berhenti menjadi salah satu kekuatan penting dalam domain budaya kita, juga dalam mewakili, dengan caranya, sejarah Perancis dan abad ini. 

Dalam buku The Outsider sang pemberontak 2017. Karya Albet Camus akan menjadi bukti jelas dengan karya-karyanya, terkhusus pada The Outsider memberikan anggapan jelas bahwa hasil pemikiran merupakan representasi yang dituangkan dalam karyanya. Dan semua orang akan memiliki pandangan pada Albert Camus dengan membaca karya-karyanya, sebagai orang absurdisme. Pada roman yang ditulisnya ini memberikan dasar pemikiran netral dan putih, menjadi bagian dari masa lampau. Bahawa Sartre mengatakan bahwa ia “memberikan kesan tersendiri di setiap kalimat. Gaya penulisannya menambahkan kesan kesendirian sang karakter dalam mengahdapi keseharian (dunia) dan dirinya sendiri.” Dan akan memberikan pandangan secara liberal, rasional, dan kejutan. Dalam kehidupan sehari-hari dalam menjalani hidup. Bahwa manusia tidak hanya menjaga moral, tapi Albert Camus bisa memberikan sebuah pandangan moral, dengan cara hidup dan kehidupan sederhan begitu rill.

Albert Camus dalam memaparkan kehidupan begitu rumit dengan ke-absurdan sangat sederhana dan bisa dengan mudah dicerna. Bagaimana seorang anak kehilangan seorang ibu begitu disayangi, bahkan belum pernah membalas budinya, karena sakit dititipkan ke panti asuhan. Bagaimana tidak merasa terpukul dan merasakan kehilangan serta depresi mendengarkan ibunya meninggal pada saat ia bekerja. Ia bekerja karena merasa masa tua seorang ibu harus dirwat dengan baik, dengan begitu susahnya dalam hidup hingga harus dititipkan ke pantiasuhaun Wreda, kepalangan hidup dirasakan merawat ibunya tidak bisa, lantaran tolok ukur membahagiakan dengan adanya harta bukan hanya keinginan;“Aku merasa seolah-olah ia menyalahkan diriku atas sesuatu, maka mulai kujelaskan. Tapi ia menyala. “Anda tak perlu membenarkan diri, anakku. Sudah saya baca berkas ibu anda. Anda tak mampu mengurusnya dengan layak. Ia butuh perawat. Penghasilan Anda tak mencukupi. Dengan pertimbangan banyak hal, ia lebih bahagia di sini.” Ku jawab, (hal.3)

Hidupnya merasa sudah mengalami tekanan. Pada saat mendapat tekanan batin, semua pemikiran normal manusia terkadang tidak dapat dipungkuri tidak bisa optimal. Dalam pemikiran jernih manusia bisa memikirkan hal baik dan buruk, jelek dan buruk, tua dan muda. Sangat rapi dalam berpikir. Namun tidak akan bisa menjadi normal ketika manusia mendapatkan sebuah kejolak bersebarangan dengan harapan diri manusia. Ketika kondisi melelahkan bisa saja manusia seperti Gregor Samsa seorang manusia yang berubah menjadi seekor kecoa, dengan cara tiba-tiba berubah, hal itu telah ditulis dalam Metamorfosis karya Franz Kafka.  Ketika kondisi paling rumit dan sulit manusia sebagai makhluk pekerja keras akan senantiasa merasakan lelah dalam kondisi seperti itu manusia akan merasakan hidup tidak normal, seharusnya baik menjadi tidak baik, seharusnya berkualitas menjadi tidak berkualitas, hal itu dapat dirasakan manusia paling normal, maka absurdutas menjadi kualitas manusia hidup, ketika dalam kondisi apapun menjadi manusia semestinya memahami fungsi“Aku ingin merokok di depan jenazah ibu sebagai hari terakhir melihatnya.” (hal.25)

Penulisan roman ini sangat menarik menceritakan sebuah dinamika hidup dari manusia dari 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9,10, dan kembali pada 0 (nol). Bukan sekedar batin dari tokoh melainkan menceritakan abusurditas mengenai kematian. Kematian manusia seharusnya dipahami dengan begitu menyenangkan dan penuh dengan kenikmatan hidup, bagi manusia, perlu dirayakan, mengapa? karena setiap manusia meninggal tidak akan kembali  ke dunia lagi, walaupun ada yang kembali tentu itu kebetulan. Manusia ketika sudah tiada akan merasakan kemerdekaan hak, kebebasan manusia telah berakhir. Dunia baru akan tiba masuk pada tahap hidup ke-tiga alam berzah. Namun,  setiap apa yang hilang menyisakan kenangan bagi yang mersakan akan merasakan kehilangan; fimily yang tua, muda, merasakan. Kehilangan merupakan kewajiban untuk di dunia namun semua kenangan akan menjadi harapan manusia untuk selalu tetap hidup dan suaranya akan lebih nyaring dari dalam kubur.

Albert Camus menawarkan pandangan sederhana dalam perspektif mengenai manusia yang meninggal. Meninggal menjadi hal paling wajar apalagi dengan umur yang telah tua, menjadi sesuatu kehilangan paling normal, bahkan  dengan begitu saking tua renta sakit-sakitan, terkadang manusia menunggu dan berdoa segera saja berakhir hidupnya si tua renta daripada merepotkan yang masih hidup” terkadang akan ditemui di masyarakat kini dan dulu.

Hal tersebutdisebabkan sering kali, tua renta sudah terserang penyakit dikarenakan daya tubuh tidak sehat lagi. Banyak masalah tubuh lainnya,  Meninggal di tempat biasa ketika menjalani hidup tenang, nyaman, tempat tersebut Panti Asuhan. Masyarakat seharusnya mengambil hikmah dari cerita Albert Camus yang absurd, sadar akan semua kejadian tidak memiliki nilai negativ seharusnya positiv dengan kematian. Ketiadaan tidak perlu dinilai oleh manusia yang masih hidup, mau kremasi, kubur, atau letakkan di pohon. Manusia tidak ada hak menilainya baik dan buruknya kematian. “Ibu yang meninggal berada di Panti Asuhan dengan umur 64 tahun, dan meninggalnya seseorang bukan diamati dari ideologi, agama, dan tempat tinggal”.(hal 21)

***

The Outsider sang pemberontak roman bukan hanya menceritakan kehidupan begitu tragis, melainkan kisah hidup seseorang setelahnya menemukan kesunyian selalu merasakan keramaian. Sebab dalam dirinya akan tetap seperti halnya manusia pada umumnya tanpa ada masalah. Absurditas menyatu pada tokoh-tokoh yang tidak ditutupi akan semua dunia begitu rapi dalam menjalani hidup, keteraturan dan ketergantungan yang seharusnya dituntut padanya tidak menjadi masalah besar akan semua itu, asal bisa tetap berjalan hidup tanpa berpikir rapi. Eksistensialis dan esensialis tidak akan menjadi absolut dalam dunia, kebenaran hanya ada dalam diri dan kekacauan, kesangsian  hanya di dalam asumsi.  

Dalam buku ini juga menceritakan seorang penerima nobel sastra pemenang penghargaan Albert Camus. Pada 10 Desember 1957. Dalam pidato kebudayaan menyampaikan beberapa perjalanan yang selalu pertanyaannya. Pada saat pidato kebudayaan setelah dikabarkan bahwa menerima penghargaan. Dalam pidatoyang begitu bijak dengan membuka bahwa kesadaran seseorag seniman perlu adanya pengakuan dan diakui oleh manusia lainya. Jiwa merendah untuk menunjukkan bahwa penghargaan itu pantas akan dirinya, dengan pertimbangan bahwa semua kelebihan setiap kerja manusia disesuaikan penghargaannya, dengan kerja-kerja kebudayaanya dalam berseni.“Seniman menyatu dirinya dengan yang lain, di tengah keindahan yang tidak bisa dia lakuakan dan lingkungn yang tidak dapat dilepaskan darinya. Itulah sebabnya seniman sejati tidak mencemooh apa-apa: mereka berkewajiban untuk mengerti daripada menilai. Dan jika mereka harus berpihak di dunia ini, mereka mungkin hanya berpihak pada masyarakat, di mana menurut kata-kata hebat Nietsche, ‘ bukan hakim tapi pencipta akan memerintah, apakah dia seorang pekerja atau intelektual” (hal 155)

The Outsider dalam tokoh Merusault sebagai seorang pria tanpa pretansi heroik, rela mati demi kebenaran. Dan tokoh tersebut merepresentasikan Kristus yang sepantasnya kita terima. Akan dipahami setelah penjelasan ini bahwa saya katakan ini tanpa maksud menghujat melainkan semata-mata dengan cinta yang mungkin ironis, yang berhak dirasakan seorang seniman terhadap tokoh ciptaanya. Albert Camus 8, Januari 1955.



Akhmad Mustaqim  2019


Kamis, 05 Desember 2019

Resensi Buku Manurung 13 Pertanyaan untuk 3 Nama Karya Faisal Oddang



Kematian Sakti, Melahirkan Keramaian Panjang




Judul: Manurung 13 pertanyaan untuk 3 nama
Penulis: Faisal Oddang
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 2017
Halaman: 125
Isbn: 9786020376813


Manurung menyisakan pertanyaan di masa kini dan masa depan. Lalu apa yang lebih arif dari masa lalu, jika bukan waktu yang menjadikan abu dan menyisakan debu. Dan setiap peristiwa masa lalu, yang terjadi dalam kehidupan, akan menimbulkan pertanyaan besar. Kala merasa selalu ingin tahu, yang menggebu rasa itu. Begitulah manusia, namun tidak semua sama. Dalam tradisi pengetahuan ilmiah, pertanyaan yang bagus memiliki nilai sangat tinggi. Pertanyaan akan memberikan langkah tuk menemukan sebuah emas di dasar lautan, lalu ada cara-cara untuk masuk ke dasar itu mampu dilaluinya, sebab akan menggugah rasa tidur atau sekedar istirahat panjang menikmati rebahan.

Epos Mahabarata begitu fenomenal ada pada perang beratayuda. Semua orang ketika mendengar perang tersebut, selalu ingat pada para Pandawa dan Kurawa, walau yang tak kalah penting ada Krisna dan Sengkuni. Namun modernisasi hari ini semua cerita itu bisa ditemukan dengan beberapa versi, bahkan tidak hanya bentuk teks (buku), namun juga ada visual (tradisi lisan, dan flim), yang tokoh serta semuanya direprentasikan oleh para pegiat karya serta bisa berkarya. 

Dalam buku Manurung 13 Pertanyaan Untuk 3 Nama (2017) karya Faisal Oddang buku karya sastra berupa puisi, namun bukan sekedar puisi yang lebih dikenal dengan memberi nilai esetetik, melainkan puisi memiliki kekuatan narasi begitu memukau sebab serasa asing ketika dibaca, puisi tersebut berisi mengenai pertanyaan-pertanyaan terhadap 3 nama, yang tidak akan lekang oleh waktu, akan selalu dikenal oleh masyarakat Bugis, sebab La Galego bukan suatu yang baru. Pada pengantar Manurung ditulis Faisal Oddang mengatakan. Bahwa Jhon Leyden menempatkan sebagai representasi dari sastra Bugis yang mengandalkan irama dalam bukunya on the Languages and Literature of the Indone Chinese Nations (1808, setelah Leyden , selanjutnya ada Thomas Stamford Raffles dalam The History of Java (1817), di tahun 1820. Jhon Crawfurd meski tidak secara langsung menyebut La Galigo. Faisal Oddang memposisikan dirinya sebagai orang yang cinta akan budaya sendiri, namun tidak memahaminya asal usul akan kepastian mengenai La Galigo.

13 pertanyaan dengan 3 nama Faisal ingin nyampaikan dalam bentuk puisi, dalam 3 tersebut terdiri dari Datu Palinge, Sawerigading, dan La Galigo. 13 pertanyaan dibagi ke setiap nama yang telah disebut. Lima pertanyaan ke Datu Palange, Sawerigading lima pertanyaan, dan La Galigo tiga pertanyaan. Dari semua dirayakan dalam puisi berjudul Manurung. Yang berkisah bahwa dari 3 nama tersebut akan selalu hidup dalam kehidupan. “Cerita-cerita tentang kalian terus disampaikan dari waktu ke waktu semua sibuk membicarakan istana, pesta, perang, sabung ayam-tak ada kami di sana, kami hanya muncul ketika kalian butuh seorang sebagai tumbal untuk kesenangan yang kalian inginkan. Kalian butuh budak entah di dia kate entah albino, orosada atau orekelling (bait 12. Hal.21).

***

Pada pengantarnya Faisal Oddang memberi gambaran mengenai tokoh-tokoh yang dilontarkan pertanyaan dimulai dari Datu Palinge, ia istri dari Datu Patotoe. Sang Penguasa Dunia Atas (Botting Langi) yang mengirim Batara Guru, anaknya, untuk mengisi Dunia Tengah (Ale Kawa) yang kemudian berpasangan dengan perempuan dari Dunia Bawah (Buri Liu). Selanjutnya ada Sawaragading keturunan ketiga dari Dunia Tengah yang perannya cukup penting dalam La Galigo. Dan yang ketiga, La Galigo, putra Sawerigading. Ketiga tokoh yang diberi pertanyaan dalam buku ini memiliki darah manurung. R. A. Kern menjelaskan bahwa manuung secara harfiah berarti “turun ke bawah” lebih luasnya lagi, bahwa manurung berarti orang-orang atau benda-benda yang turun dari langit. Pada akhirnya Manurung kini tiba dalam bentuknya yang lain-ia bentuk pertanyaan dibentuk dalam puisi.

Pertanyaan kepada Datu Palinge dalam puisi Manurung; 1, di bumi, ketika anakamu sebagai hamba setelah suami benar-benar menjadi Tuhan. Kesedihan macam yang telah kausembunyikan di dadamu?,2. Sudahkah kauajarkan kepadanya tentang wajah Kesedian yang kelak datang kepadanya setelah da seesai menciptakan Bumi dan isisnya?, 3. Ada yang kaupahami tentang Keseian dan seseorang yang terasing karena kekuasaan?, 4. Seseorang perempuan datang dari bawah laut, cukupkah itu bagimu untuk mengganti segala yang hilang dari dari Batara Guru?, 5. Ketiak cucumu mati lalu memakannya dan kau tak menegur mereka?. 

Sesuatu yang dipertanyakan akan memberikan pertanyaan besar, mengungkap-ungkap beberaa mesteri. Apalagi berkaitan dengan peninggalan manusia dianggap sakral, dengan beberapa bukti pada literature yang telah berserakan membicarakan La Galigo dalam teks sejarah telah ada. Faisal menyajikan dalam bentuk teks puisi memiliki kekauatan narasi sebagai bukti dalam menyajikan segela manusia berhubungan dengan dirinya dan tuhannya, serta teks puisi mempetajam dengan sebuah sifat dan kondisi yang menjadi pertanyaannya. 
Teks dan konteks dalam puisi mengenai pertanyaan kepada Datu Palinge dalam puisi berjudul “ Di Bumi, ketika anakmu terasing sebagai hamba setelah suamimu benar-benar menjadi Tuhan, kesedihan macam apa yang telah kamusembunyikan di dadamu?, “apalah arti Tuhan bila tak ada manusia yang menyembah?” langit sungguh riuh tetapi suamimu bersedih atas nama sepi-sesorang yang ia percaya telah melubangi hatinya dengan pertanyaan yang susah payah ia jawab. (bait. 1. Hal.27)

Sebuah keharusan manusia memahami tentang kematian dalam hidup. Minimal mengetahui nama dari kematian itu sendiri, jika perlu mengenal kematian lalu menjadikan bagian dari hidupnya selayaknya pacar jangan sampai jomblo dengan kematian.  Ketika bisa menjadikan bagiannya akan senantiasa mempersembahkan pada dunia untuk bisa memberi nilai guna. Selayaknya Datu Palinge selama hidup. Pada bait puisi Faisal menusliskan”Menusia harus mengenalnya meski tidak pernah Kematian mengulurkan tangan untuk dijabat atau mengucapkan nama untuk dikenang. Sama sekali tak pernah.(bait.26.hal.64)

***

Adakah penyesalah dalam hidup Sawerigading, ketika dilontarkan lima pertanyaan bentuk puisi. Bahwa ketika semasa hidup hanya bisa tersenyum bersama dengan keindahan alam semesta? , memakan, makananan enak di bumi, mencintai dengan begitu agresif,  ketika dalam sadarnya setiap langkah hidupnya masih belum bisa mengenali dirinya sendiri. Kenal memahami serta mencari ketidak lengkapan untuk melengkapinya. 1. Apakah kau menatap sepasang matanya sebelum cinta membuatu budat dan bahan tak mampu melihat dirimu sendiri?, 2. Apa yang kaukenang dari tubuh-tubuh tak bersalah yang kausiksa dan kaubunuh demi berahi dan selangkanganmu yang basa?, 3. Masihkah kaukenanli amis lumuran darah budak di batang pohon Welenreng itu?, 4. Bagaiamana ungkin kau berbahagia dengan We Cubai jika cinta telah kaucurangi, telah kaurebut dengan dusta-dengan menciptakan suangai darah dari leher orang-orang tak bersalah yang kautebas?, 5. Masih bisakah kau tersenyum jika kelak mengenang sejumlah perang yang telah kaulalui?.
Apa yang akan disesali dalam peristiwa besar semasa hidup? Pertanyaan akan dibalas dengan pertanyaan. Bahwa penyesalan ketika hidup, pasca-kehidupan. ketika hanya bisa memandangi bumi dan isinya, merasakan bahwa memiliki dan sebagai manusia hanya bisa memakan serta membuat tumbuhan tambah subur, dan itu hanya untuk dinikamati sendiri. Apa harus segera tiada meninggalkan dunia? Dan pertanyaan itu masih bisa menjadi sumber pengetahuan baru dan besar dalam kehidupan di modernisasi ini. Jika dibenturkan. Bahwa apa yang hilang tentunya akan menjadi keinginan besar untuk menemukan sebuah kebahagiaan. Hanya bahasa lisan dan tulis menjadi pertaruhan hari ini, kedua ini masih menjadi permasalahan tersendiri dalam menghadapi enaknya rebahan yang tak ada bumbunya terasa nikmat. Ketika itu masih dinikmati tidak akan menemukan diri sendiri.

“Apakah kau menatap sepasang matanya sebelum cinta membuatmu buta dan bahkan tak mampu melihat dirimu sendiri?,
Waktumu telah tiba, matahari yang terbit dan matahari terbenam bukan hanya memindahkan peristiwa, diam-diam malam mencapkakan satu demi satu perkara yang kaumiliki, termasuk sisa hidupmu.
“siapa yang telah menyembunyikannya dariku?”
Pitotoe menciptakan cermin untukm di tubuh seorang perempuan, kau tak ingin menkahi dirmu sendiri, kau percaya bahwa surga tak pernah jauh darimu, bukan di Langit atau di Bawah laut. (hal.73)

***

Tokoh ketiga termasuk yang terpenting dalam karya sastra puisi berjudul Manurung ini. La Galigo hanya terbagi tiga pertanyaan. Namun tidak kalah mesterinya; 1. Untuk kematian-kematian yang menjemput hidupmu yang baru, perkabungan macam apa yang telah kaulakukan, 2. Siapa yang telah mengajarimu bertahan hidup tanpa cinta dari seorang ibu, ibu yang justru ingin menjadikanmu umpan ikan-ikan yang kelaparan?, 3. Kenapa kau, dan dua orang sebelum dirimu tidak juga menjawab pertanyaanku? Apakah menuntut kebenaran melaui sejumlah pertanyaan hanya akan berakhir dengan pertanyaan itu sendiri?.

Sebuah pertanyaan sebelum-sebelumnya itu hanya menjadi pertanyaan pula, namun tetaplah sebuah 
pertanyaan dalam intelektual sebuah kegegelisahan pribadi atau semua orang yang belum bisa memahami hal-hal tertentu, peninggalan hanya menjadi kenangan dan peritiwa besar ketika bahasa hanya menjadi alat dan lisan sebagai penyampai. Dan puisi sebuah pertanyaan ulang untuk menemukan pencerahan, namun teks sebagai alat atau pisau analisis menemukan jawaban. Kebenaran dan kebingungan diciptakan agar semua orang merasakan keduanya. Kebenaran menjawab setiap perkara, dan kebingunan akan menjawab sebuah skeptis. Keduanya aka nada pada semua prasasti yang ada; La Galigo dilontarkan pertanyaan dalambentuk puisi;

“Untuk kematian-kematian yang menjemput hidupmu yang baru, perkabungan macam apa yang telah kaulakukan?” (hal.109)
Semua terlahir ke dunia di langit Tuhan hanya memberikan sebuah fasilitas. Kebutuhan manusia telah diberikan. Dan manusia ketika melahirkan tidak campur  tangan-Nya. Sampai kematian hanya menentukkannya, bagaimana hidup bisa menentukan pada pencipta padadal manusia itu sendiri akan mengurusi semua kelahiran, kehidupan, dan kematian. Apa akan menyalahkan Pencipta yang rata-rata ada, belum tentu benar dan belum tentu salah. Namun apakah akan memberikan penderitaan kepada orang lan, terkhusus pada orang tua sendiri, sanak keluarga, dan apakah akan memberikan sebuah kerugian kepada orang-orang disekelilingnya.
“Tak ada kettuban yang pecah, bahkan setelah ibumu bosan mendengar talu lesung yang datang dari arah Mario.
Yang pecah hanya langit, pecah seperti rekah bunga anggrek berwarna abu-abu, sebelum kelopaknya tanggal satu demi satu.
Kau menyiksa ibumu dengan rasa sakit yang tak mampu ia tanggung,
Langit tidak terlalu campur tangan  untuk rasa sakit meski sejumlah hadiah dikirim untuk menawarnya.
Meski telah mereka kirim paying untuk tadungmu.
Budak-budak kate dan albino disembelih sebagai tumbal agar gumpal darah di selangkangan ibumu mencair dan mengalir. (hal. 109)

Faisal Oddang  muda dengan karya-karya lokalitas sangat memukau, dan semoga terus membuat khasanah sastra lebih berwarna bagi orang-orang yang non-sastra yang beranggapan bawah sastra bukan hanya sekedar fikif, imajinatif, dan bahkan berbaur milankolis. Kehadiran sastra memberikan kategori sastra serius sebab bersentuhan dengan fakta, cerita epos, dan sejarah. Detail dalam penyampaian, membuat deskripsi serta narasi yang dibangun begitu serius. Karya Manurung ini butuh ketekunan membaca, teliti, dan mencari makna diksi tidak familiyar, serta memaknai bait setiap-bait untuk menemukan intiasari dari karya sastra puisi berisis 13 pertanyaan untuk 3 nama. Puisi ini bukan sekedar membicarakan ideal yang berada di daerah penulis, yaitu Bugis dan sekitarnya, akan tetapi memberikan sebuah tawaran pengetahuan kontekstual.

  


Akhmad Mustqim 2019

Rabu, 04 Desember 2019

Resensi Buku Kubah Karya Ahmad Tohari




Rekonsiliasi Stigma Kebenaran Subjektif 1965



Resensi Buku
Judul: Kubah
Penulis: KH. Ahmad Tohari
Penerbit: Gramedia
Tahun terbit: 1995 terbit ulang 2017
Halaman: 211
Isbn: 978-979-22-8774-5

Dalam sejarah sudah jelas bahwa ideologi komunisme dan pelakunya di Indonesia akan dilarang keras. Namun ada yang menarik dari peran seorang kiyai. Memang seharusnya mengalami perlakuan tidak sewajarnya dalam masyarakat. Kesalahan manusia akan selalu ada sebab itu bisa dikatakan bagian dari kudrot. Maka akan  melahirkan sebuah pandangan bahwa hidup manusia ditentukan oleh pancaidera lihat dan masuk pada logika, dan kadang menjadi dogma kuat dalam berpikir, berbicara, dan bertindak.

Pada tahun 1965 tentunya warga Negara Indonesia dengan sejarah panjang penuh mesteri ketika dicari kebenaran dan kesalahanya. Namun, sebuah kesalahan dan kebenaran di dunia tentunya memiliki sifat relative sebab kita sebagai makhluk hidup. Apa akan narasi panjang tidak akan berkesudahan ketika mencari benar dan  salah di dunia, terlalu sangat rapi ketika itu menjadi dasar berpikir. Kesalahan tentunya memiliki justifikasi tidak baik dari segi moral agama, sosial, dan bahkan Negara. Karya sastra yang bersentuhan dengan sejarah tentunya akan menimbulkan perspetif subjektif dalam memaknai realita di masa lampau.

Dalam novel berjudul Kubah ini merupakan novel terbaik pada tahun 1981 Yayasan Buku Utama Kementrian P & K. sudah diterbitkan dalam bahasa Jepang. Tertulis di depan cover bahwa pada awalnya novel ini merupkan novel ketiga yang dibaca dengan satu penulis. Bernama Ahmad Tohari, karya sebelumnya berjudul Lingkar Tanah dan Lingkar Air, keduanya Di Kaki Bukit Cibalak, dan banyak karya lainnya yang nanti saya coba baca lagi, senagaja tidak disebutkan karya-karya lainya. Dan buku berjudul Kubah ini ingin diresensi/diulas sesuai hasil apa yang ditangkap dalam teks.
Buku Kubah pada awalnya ingin  diletakkan ”tidak akan saya baca ini membosankan”, bagiku memiliki karkter berbeda, dan sempat berpikir apa karena suasana individu pembaca seperti saya, disebakan karena membaca di tempat beda-beda, walau buku tersebut telah dibaca dua  kali masih merasa kurang memahami begitu detail dalam isinya, makanya dengan ini mencoba memberanikan diri untuk memahami narasinya serta deskrptifnya dengan mengulas. Pada novel ini Ahmad Tohari narasi serta gaya bercerita berbeda dengan novel sebelumnya pernah dibaca.

Namun pembuka dalam novel ini memang disetiap bab memukau. Pada novel ini memiliki 10 bab. Tapi tidak semua akan dipaparkan mungkin dengan memberikan kata kunci dengan pilihan dalam beberapa bab dan diambil dari beberapa paragraf atau lebih kecil kalimat. Agar nilai kesabaran, kekuatan, dan kesadaran. Sebagai mantan tahanan politik (Tapol) akan mengalami stuasi di marjinalkan, dan masyarakat memiliki stigma seorang komunis. Dan dalam hidupnya Karman akan merasakan itu. Kalau tidak kuat dengan semua makian serta perkataan atau lebih tepatnya anggapan lebih daripada anjing kepadanya, batinya akan mengalami depresi sosial. “Dan  anehnya perubahan yang tampak merata di depan mata itu membuat Karman merasa makin terasing. Akan jelaskan ada garis pemisah dengan dirinya dan alam sekitar. Ia merasa tidak menjadi bbagian dari bumi lingkungan yang sedang dipiaknya.” (hal 7)

Perasaan yang menyelumutinya bahwa akan dirinya begitu kecil dihapan orang-orang. Dan bahkan merasakan bahwa dirinya lebih kecil daripa semut. Bagaimana psikologis terserang dengan begitu kejam kontruksi sosial, yang disitu ada kehidupan masyarakat. Beranekaragam dalam berpikir, ada yang simpati dan empati, bahkan ada yang apatis akan hal tersebut; apa yang dirasakan seorang mantan tapol yang diasingkan ke Pulau Buru selama 12 tahun, wajar ketika semua orang akan menganggap asing. Kemungkinan yang sepantaran nya Karman sudah meninggal, berpindah tempat dari kampung halamanya, bahkan seorang perempuan yang telah dipahami selangkangannya, serta kehormatan perempuan tersebut beri jalan oleh Karman dengan ciptaan Tuhan pada laki-laki, perempuan yang bernama Marni dihalalkan (istrinya) sebelum diasingkan ke Pulau Buru, bahkan  telah memiliki anak dua bernama Rodio dan Tini. Ditinggalkan pada saat berumur tujuh tahun. Ketika telah tiba di tempat dulu awal pertama tinggal semuanya tiada, dan informasi dari teman-temannya bahwa istrinya telah menikah kembali. Karman dengan berat hati menghalkan itu semua terjadi, namun apalah daya dengan kesadaran begitu tinggi akan semua hidup, gelap hari ini. Gara-gara partai yang telah diikuti. Tekanan batin begitu sangat menyedihkan, ketika bertemu Kapten Somad bercerita semua dengan kondisi dirnya dan kondisi keluarganya oleh kapten tersebut diceritakan. “Tanpa diobati, kekosongan hati akan menghilangkan segala macam cita rasa hidup. Dengan senang hati aku mengobati aku akan mengobatimu sebisa-bisaku. Namun aku kwatir syaratku syaratnya terlalu sulit kau terima. Bagaimana?. Bahwa Kapten Somad memberikan tiada obat paling bisa menyembuhkan melainkan dirinya sendiri dengan kepercayaan, kepercayaan dirinya.” (hal.25)

***
Perasaan bemula awal Karman jatuh cinta pada Rafiah, anak dari Haji Bakir. Mengalami pola pikir yang radikal akan anggapan semua keputusannya, dan merasakan dirinya bahwa orang tdak punya tidak akan ditermima melamarnya, berbeda dengan Abdul Rahman memiliki batu akik sekotak besar (lebih kaya darinya). Itu pikiran jelek Karman akan anggapan strata akan dirinya bahwa marasa kalau yang bermodal akan lebih berkuasa. Margo dan Triman menghasutnya untuk memberikan doktrinisasi Karman kalau orang berkuasa karena harta akan menindasnya, sehingga Karman mengikuti apa kata temanya. Hasutan yang tebal, “Mereka, orang-orang kaya, adalah kaum menindas yang secara historis selalu mempertahankan kelestarian kelasnya.” (hal.102).
Semua sudah dilalui oleh Karman sadar akan semua tindakannya yang tidak baik dalam mengikuti partai. Partai Komunis Indonesia (PKI). Kesadaran Karman akan semua asal-muasalnya, jiwanya terbakar oleh apa yang telah dikatakan kedua temannya. Berani melawan dengan perkataan kepada Haji Bakir seorang dihormatinya. “Karman pun mulai berani berterus terang meniggalkan masjid, meninggalkan peribadatan. Bahkan tentang agama, Karman telah pandai mengutip kata-kata Margo, bahwa agama adalah candu untuk bius kaum tertindas.” (hal.103)

Buku merupakan karya sastra berupa novel. Menceritakan seorang Karman seorang desa Pagaten. Seorang pemuda yang mengamalami distras akan gurunya karena merasa seorang berkuasa akan senantiasa memperlakukan masyarakat kecil sewing-wenang. Karman pada mulanya seorang takdim, namun dengan hasutan untuk mengukuti ajaran tidak sejalan dengan ajaran agama hingga menolak, dan bahkan Karman ditangkap diasingkan ke Pulau Buru. Dalam novel ini menggunakan alur mundur dibukan dengan kronologi konflik di bab pertama, dan selanjutnya menceritakan sebab musababnya Karman mengalami hidup yang begitu menyedihkan. Diakhir hidupnya pada bab sepuluh, pada tahun 1977 Karman di jempu oleh Tini anaknya dan Jabir, selama dua belas tahun tidak bertemu. Di bab terakhir Karman meminta maaf kepada Haji Bakir telah disakiti, dan menebusnya dengan  membetulkan kubah masjid, dengan keahlian selama di Pulau Buru. Sehingga masyrakat menermi Karman sebagai manusia seperti biasanya karena ketulusan ingin kembali ke jalan benar.
“Dan Karman merasakan kebersamaan kembali melihat jalan kebersamaan dan kesetaraan dalam pergaulan yang hingga hari-hari kemarin terasa mengucilkan dirinya, oh Kubah yang sederhana itu! Dalam kebisuan, mahkota masjid it uterus mengumandangkan janji akan memberikan hak asasi kepada setiap manusia yang sadar akan kemanusiaanya. Dan Karman merasa tidak terkecuali”. (hal.211).


Akhmad Mustaqim 2019

Minggu, 01 Desember 2019

Milankolis



Aku masih sadar dengan keramian yang dianggap sunyi; bahkan dalam keseharian tidak pernah telat ada perhatian berkelimangan, mulai dari pagi yang bisa bangun dan menghirup udara pagi, hingga siang bisa bertemu dengan orang pencinta buku di perpustakaan dan bahkan di tempat biasa menjaga buku, paling berkesan ketika ada menawarkan dan memberikan saran atas bacaan. Dan hingga sore tepat biasa berjalan dari tempat tinggal (kos) mulai dari Bu Kos memperhatikan kala keluar kos, bahkan lebih perhatian kala waktu bayar tiba biasanya tidak pernah lupa. Namun, bukan itu yang pula yang harus di syukuri dengan banyaknya teman di jalan ketika bertemu dengan bapak-bapak pemulung sampah di dekat kuburan, dengan senyuman ceria menyapa. Bahkan ketika tiba di tempat biasa kerja bertemu lagi dengan bapak Jukir biasa ngopi dan bicara banyak hal ngawur bercerita tapi lucu, dan teman patner kerja biasa diskusi di dapur biasa buat makan untuk pembeli, dan ngaduk kopi denganya sambil berdikusi mencari apa yang belum kita pahami, mulai dari mata kuliah,  tugas, dan buku yang dibacanya. Setelah semua itu usai dengan kerutinitassan begitu padat seperti halnya waktu yang memperhatikan kalau sudah tiba saatnya kamu bisa merasakan keramaian dengan begitu mempertimbangkan kesunyian menemukan diri ini.

Waktu seperti petir dan gledek bersamaan. Seperti tiba-tiba datang dan pergi, ketika sadar ternyata senja belum bisa diterima hanya saja persembahan dengan begitu ramai bersama kehidupan kadang memilukan kadang mengairahkan, mingkin itulah yang dinamakan sebuah kewajaran hidup; tertawa dengan sendiri mencaci diri sendiri.

Apa yang telah dilewati masih saja belum pernah mempersembahkan pada waktu yang pas dengan nilai dan estetika yang bernostalgia bersama waktu, kadang hanya sia-sia tapa ada hal yang berguna. Setidaknya dalam sisa waktu dapat memiliki jalan paling terang bagi kehidupan masa akan datang. Bekerja bukan untuk hasil waktu dekat, akan tetapi dalam jangka panjang. Dan keluarga, teman, dan sanak family serta nusa dan bangsa akan merasakannya.

Kamis, 14 November 2019

Pesan Air Pada Gersang

Gambar: Deri S.

Pesan Air Pada Gersang

Pesan di acara sebelum acara dimulai. Perbincangan malam jumat magrib tadi sesat memgingat nenek moyang yang hilang dan isi rumah dikirimkan doa bagi yang biasa. Pak Tabrani dosen yang getol menghubungi untuk menanyakan acara.

Pertemuan formal ini membuatku tahu bahwa pembahasan ringan, dan karenga kering kerongkang pengetahuan dan pengalaman kepada keinginan menulis, dan ketika ini ditulis saya beri nama "Pesan Air pada Gersang" menarik artinya bahwa air akan senantiasa membuat tanah gersang menjadi dingin, begitupun beliau selaku orang yang lebih bisa dan paham tentang banyak hal memberikan petuah terarah.

"Apapun yang dihasilkan dari menulis manusia itu tidak menjadi pengecut. Karena sejeleknya orang menulis tak akan ada pengecut darinya."
Ucapan dari dosen Pak Tabrani ini mengisaratkan kalau bisa terus menulis. Apapun tulis karena tidak mungkin memiliki sebuah nilai kehidupan ketika ada kehilanganmu tiada. Hanya menulis paling sederhana Itu manusia memiliki nilai jejak hidupnya tidak hanya sia-sia.

Ketika acara akan dimulai, dari siang seorang dosen bernama Akhmad Tabrani, kebetulan nama awalnya mirip denganku. Beberapa hari lalu tidak hanya menjadi teman bicara namun sekaligus dosen pembimbingku. Dia seorang dosen yang sangat mudah dihubungi dan bahkan sering mebawarkan diri untuk shering-shering di luar mata kuliah pada biasanya ditempuh dalam kelas. Kali ini beliau menjadi pembicara diacara Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dalam singkatnya (HMJ-PBSI). Dengan topik "Sastra dan Politik Diera Reformasi"

Hari selesa biasa saya dengan Dani, Deri, Muhti, dan teman biasanya di lapak baca gratis datang. Beliau datang ke tempat lapak baca gratis yang kami gelar, biasa pada umumnya seorang dosen menghampiri Mahasiswa (i) semuanya bersalaman, lalu duduk bersamaan dengan kami. Menanyakan banyak hal mengenai apa yang telah diselengarakan ini baca gratis lalu namanya apa pertama dipertanyakan. "Gerilya Literasi" secara bersamaan. Lalu menghubungi salah satu mahasiswa untuk segera mengambil kertas UTS (Ujian Tengah Semester).
Pembicaraan berlanjut serta bapaknya meminta foto di tempat baca tersebut. Dengan sedikit berkata dengan pencitraan kalau memegang buku lalu meminta foto. Hal yang wajar seorang dosen ngobrol-ngobrol di tempat baca tapi tidak bicara tentang buku mungkin berasa akan ada anggappan tidak baik. Dan ia seorang publik figur dalam kalangan Kampus. Itu saja asumsinya.

Setelah panjang lebar bicara tentang banyak hal, membuka pertanyaan baru mengenai apa yang akan dibicarakan tentang tema teman-teman telah tentukan mengenai Sastra dan Politik Diera Reformasi. Disampaikan olehnya sebagai mukoddimah ia hanya berkata kalau besok yang akan disampaikan mengenai penyair harus bisa menulis puisi panfelt. Dan paling bisa menulis Rembulan dan Anggur itu yang akan disampaikan olehnya.
***
Dalam perkataan itu saya asumsikan bahwa dalam dunia penyairan. Kita harus bisa menyuarakan sebuah kesunyian yang hak yang berkaitan dengan manusia lainnya.

Dan beliaunya berkata kembali mengenai kesukaan di tempat ini "Kalian suka di sini Bapak tahu, kalian senang karena kalian  orang-orang yang kesepian (dalam kata sindiran kaum) dan jiwa-jiwa para penyair seperti kalian-kalian ini, suka kesepian" ucapnya. Semua gaduh membicarakan ha-hal romantisme dan saling pandang karena paham di antara kita hanya ada satu anak yang memiliki pasangan Deri.

Penyair memang harus kesepian karena akan melahirkan banyak karya nantinya. Kesepian yang disengaja atau tidak disengaja, kedua hal memiliki arti berbeda ada yang mencari ada pula yang menemukan. Dalam proses penyair menemukan akan senantiasa menelesik jurang-jurang transendensi pada manusia, jika ditemukan akan seperti hal menemukan uang akan bahagia jika dalam keadaan tidak pegang uang, betapa senangnya penyair dalam mencipta karya kurang lebih seperti itu, prosesnya.

Kesepian akan senantiasa memberikan kebebasan dalam berpikir dan bergerak. Bergerak merupakan sebuah representasi dari hasil berpikir manusia untuk bicara kemanusian. Penyair hanya membuat kata-kata sebagai persembahan ke dunia dan pada manusia. Tapi itulah tugas penyair hadir dalam jiwa-jiwa kosong dan memyuarakan yang sunyi sebagai bukti dalam diri ada yang diri pantas untuk dipahami dan dimengerti. Itulah penyair, membuka dunia melalui kata-katanya. Dan kata-kata itu yang bisa membuka.

Melanjutkan cerita bahwa proses puisinya Joko Pinurbo, D. Zawawi Imron,  Gus Mus, Rendra, dan Wiji Tukul. Mereka para penyair yang tidak hanya romansa namuan ada hal di luar logika tercipta tanpa menyudutkan siapa-siapa kecuali mereka merasa dengan makna dari puisi yang dibuat oleh para penyair tersebut.

Mereka juga menulis puisi milankosis namum juga menulis tentang puisi panflet. Yang kita tahu Ws. Rendra dengan puisi milankoslisnya mengenai berjudul "Kangen" dibacakan oleh beliau, dan berkata siapa yang menyangka akan ada puisi panflet begitu memukau ditulis Rendra. Dengan judul "Sajak Pertemuan Mahasiswa" merupakan puisi katigori puisi panfletnya, ada Wiji Tukul pula dengan label dirinya juga sebagai aktivis lingkungan, puisinya yang keras akan datang pada dirinya berapi berkeringat." Ujarnya.

Langit semakin mendung dan matahari dengan titahnya akan mengakhiri sebab gelap menunggu, sedangkan petang akan segera menyambutnya. Lapak baca hari Selasa 12/11/2019 segera akhiri sebab sudah tidak kondusif. Pak Tabrani sudah pulang sedangkan kita ber-4 akan segera bergeser untuk kerja ada pula istirahat karena dari 07:20 sampai 15:45 Wib.
Para Mahasiswa (i) mundar mandir bersegera mengosongkan Kampus. Terbukti malam sudah akan tiba, sedangkan sholat Ashar belum.



Akhmad Mustaqim 2019
Cerita bersama dengan Pak Tabrani Dosen PBSI, berkunjung di Gerilya Literasi.


Jumat, 08 November 2019

Gincu Merah



Merah itu mempesona pagi begitu segar angin menelusuri remang-remang di dalam pori-pori. Dalam ingatan ada warna merah dalam otak. Kebugaran ada dalam jiwa. Dingin itu membuka jiwa raga memaksa rupa itu berbahaya.
Pembuatan gincu yang masih belum bisa dipoles ke bibir. Ternyata bibir masih saja pecah-pecah dan suaranya masih saja bisa terdengar sempurna. Pertanyaan manusia itu perihal gincu masih tidak memiliki pengaruh pada ketajaman lidah hitamnya, sepertinya gincu merah hanya memberikan keindahan keanggunan.
Apa yang paling tajam dari mulut seorang perempuan. Manisnya ketika berbicara, atau ketika tersenyum setelah sholat dengan mengenakan mukennak putih. Padahal dalam otak dan hatinya tidak memiliki apapun kecuali rasa yang masih suci kecuali pertemuan itu di tengah malam. Perempuan itu terbangun melawan dingin berdiskusi melaui puisi yang terlahir pada saat itu pula. Dan menanyakan dari mana datangnya puisi, pada saat ilham mengampiri, lalu gincu itu sudah tidak berarti kecuali yang mengenai  bibir.
Jika aku seorang perempuan mungkin saja aku juga ingin punya gincu, gincu yang berwarna merah mungkkin yang begitu umum di Negara kita, kalau di luar negeri banyak aneka warna itu. Dan aku sempat pernah bercerita pada diriku sendiri pada saat angin tengah malam menelusuri jiwa yang kosong. Diskusi itu membuka bahwa tanpa gincu aku juga bisa berbicara.

***
Penggunaan bahasa sederhana paling dipahami
Aku pernah pergi keluar rumah tanpa gincu, perasaanku masih saja dalam keadaan paling tenang, namun diirku memkirkan perasaan orang lain tentang diriku lalu apa yang paling dikwatirkan. Bahasa. Bahasa yang begitu takut
Persoalan hati dengan dirinya sendiri. Tentang gincu yang sering dibawa tapi tidak pernah digunakan pada saat keluar rumah, bagaimana seorang perempuan tidak menggunakan bukan anti, apa Karena ia memiliki jiwa. Bahwa tidak ada dalam diri bukan sekedar gincu menjadi perempuan sesuatu. Sesuatu yang paling berarti.
Pada awal perjalananku di tahun 1987 an. Perempuan sepertiku tidak pernah menjadi impian lelaki karena aku benar-benar orang pribumi tanpa gincu, walau pun ada gincu pada saat itu menjadikan abu tanpa memiliki fungsi. Mengabdi pada nilai-nilai pribumi tidak yang memiliki produk gincu hingga waktu itu aku berdoa meminta kepada Tuhan kalau di negeri ini ingin ada pabrik gincu.
Beberapa tahun sudah, aku hidup tanpa gincu. Bicaraku masih saja lancar tidak ada masalah dengan diriku. Bagaimana orang-orang laki-laki sangat tulus mencintaiku, bukan hanya gincu yang dipuleskan ke bibirku yang sebenarnya agak tidak dibagus kalau dipandang, tapi namanya juga pemberian Tuhan harus disyukuri seandainya buatan manusia yakin akan banyak yang protes bagi kaum yang suka nyiyir bagi kaum elit politik tentunya bisa dikatakan lihai mengkritik.
Di tahun 2019 mulai dari kampanye pemilihan presiden banyak juga yang memakai gincu yang sangat merah menyeramkan. Ketika lisannya bersuara dan berkata serasa tidak ada yang paling salah semua serasa lurus, untuk saja suara tidak ada bentuknya tapi kenapa Tuhan menciptakan begitu tajam. Bahkan ada pribahasa jawa ‘suaramu adalah harimaumu’, mungkin itu termasuk kaum penganut dan pemilik gincu. Bagi yang pandai menyimpan gincunya dirasa ada juga yang akan nyinyirin, dikatakan orang yang apatislah tidak kritislah. Lagi-lagi gincu itu yang memoles bibir dan kadang dari lisan manusia mengeluarkan madu dan racun.
Tahun 2019 keos gara-gara gincu yang tidak pandai menyimpannya. Semua serasa merasa lebih cantik lebih lembut bahkan lebih ekstrim lagi merasa paling tidak ada yang salah warna, semua warna yang di bibir dianggap warna paling benar-benar merah. Padahal gincu itu harus disimpan dengan baik seperti pencak silat. Mengeluarkan jurus ketika memang darurat.
***
Aku seandainya menjadi gincu, bermimpi bukan hanya dipakai oleh Sahrini, Chelsea Islan, dan Ayunda. Mereka tidak pakai gincu pun sudah laku suaranya. Aku ingin gincu ini ketika membuat mempesona dipakai oleh orang-orang yang terpencil tidak memiliki hak untuk bersuara tajam. Namun apalah daya mereka kadang juga tidak bisa membersihkan bibirnya dulu kalau memakainya. Seharusnya dibersihkan dengan ilmu pengetahuan dengan membasahi bibirnya dengan buku, buku yang sesuai dengan bidangnya terpenting bisa membuka cakrawala bukan hanya bisa bicara. Kwatirku seperti itu, aku sebagai gincu tidak ingin dimanfaatkan untuk nipu. Aku teringat dengan bapak republik kita yang sudah tiada namun walau sudah tiada suaranya lebih keras dari dalam kuburannya karena bukunya. Walau tidak pernah menggunakan gincu di tahun 1926 ia menjadi tokoh berpengaruh di Indonesia. Tapi memang tidak menggunakan gincu karena dia lelaki yang kaku kalau pake gincu tidak tahan menahan tawaku ketika aku ada di bibirnya hehe.
Di tahun-tahun berikutnya ada Soe Hok Gie. Seperti ia juga kerap memanfaatkanku ,untuk merendahkan teman-teman seperjuangan untuk mengirimkan gincu dengan seperangkat alat kecantikan perempuan, mungkin semuanya akan paham maksudnya. Tapi ia juga pernah menggunakan gincu sebagai alat penyambung lidah rakyat ketika semua orang tidak menemukan arah jalannya revolusi di negeri ini. Soe julukannya seorang domonstran kritis, tajam, jujur dan berlandasan. Ia memoleskan setiap warna gincu ke bibir-bibir mahasiswa yang pada itu memiliki kegelisahan bersama akan ketidak selarasan pemerintahan pada masa itu sebutlah pada orde lama. Soe dan teman-temannya memoleskan warna merah gincu yang menyeramkan itu kepada mereka hingga namanya dikenang dan tahunnya menjadi sejarah yang sulit dilupakan. Berterima kasihlah ke Gincu.
Di tahun selanjutnya ada pula yang menggunakan jasa gincu. Aku sebagai gincu yang hanya digunakan untuk dimanfaatkan tidak pernah bermasalah. Karena semua memiliki pertanggungjawaban. Pada tahun 1995 perjuangannya menggunakan gincu dengan puisi-puisi yang dibacanya seperti menjadi ancaman dan samapai puncak tahun 1998 yang Hilang. Namanya Wiji Tukul. Sebagai gincu hanya mendoakan semoga tenang di alam sana. Aku berterima kasih telah memperlakukanku sebagaimana membela kebenaran tidak hanya dipoleskan ke bibir yang mencipta suara menyeramkan bagi tetangga sebelah dan membuat risihi.
***
Soekarno dan Hitler dalam sejarah ia menjadi seorang retorik terbaik di dunia dalam kajian bahasa Indonesia. Aku juga pernah berjumpa dengannya, di tahun-tahun sebelumnya kenal dengan seorang tokoh Saerekat Islam (SI), Umar Said Cokroaminoto yang tidak diragukan lagi menggunakan gincu dan tidak seperti ada terompet malaikat isrofil menggelegar menguncang dunia kala bepidato.
Mereka para ahli pembicara yang tidak hanya bicara. Apalagi dengan penggunaan gincu. Walau tidak akan semuanya benar, tapi lebih banyak benarnya. Gincu sebagai penyempurna kebaikan dan bisa sebaliknya. Aku berkata pada temanku yang bedak sangat sering digunakan oleh kaum hawa apalagi sekarang diera modern ini nyaris tidak ada yang tidak menggunakan.
“Aku hanya digunakan ketika perempuan itu pergi kekondangan”
“Aku tidak hanya itu, ketika ke pasarpun aku digunakan, walau kadang gak kuat dengan bau pasar tapi bahasa pasar walau kasar masih memiliki dasar, apalagi pada saat tawar menawar”.
“Enak juga jadi bedak, kenapa tidak banyak di pasar tidak menggunakan gincu?”
“Gincu itu mahal, biasanya hanya digunakan orang-orang yang ingin mengelabui, membuat pesona, di pasar kalau pakai gincu akan menjadi pembicaraan yang melebar menjadi sepasar hehe”
“Pantesan, banyak yang menggunakanku orang-orang elit politik yang suka berbicara”.
“Harus bersyukur masih bisa digunakan daripa tidak.!”
“iya sih, apa mereka bingung jika tanpa aku?”
“Antara bingung dan tidak, bingungnya tidak bisa membuat mempesona dengan warna dibirinya manusia tidak akan mempesona, tapi tidaknya semua orang akan lebih tanpak apadanya, tidak ada yang menipu melalui kata-kata”.
Jika semua hanya bisa berkata-kata tanpa gincu mengapa masih digunakan aku. Karena diriku jika ingin memperotes pengguna gincu yang keakuannya tidak melebur jadi abu, dan seharusnya pemakai gincu sadar akan dirinya bahwa hanya yang terbuat dari abu dan harus sadar akan semua itu tidak perlu besar akunya.
Aku ingin jadi gincu yang berguna bukan yang berbahaya. Warna tercipta agar bisa menjadi cahaya estetika.



Akhmad Mustaqim 2019

Lahir di Bangkalan. Mahasiswa jurusan Penddikan bahasa dan sastra Indonesia Semester VI,Universitas Islam Malang (UNISMA). Menulis antologi puisi berjudul Geriliya (Java,Creative 2017).

Kamis, 07 November 2019

Penerimaan Mahasiswa Berprestasi

Foto:Meyazkiya


Mula-mula awal masuk ke dalam gedung pelepasan wisuda angkatan. Sebelumnya ada yang bertanya kepadaku. akan hal prestasi pada saat itu pula, saya berpikir tentang prestasi, pernah ditanya mengenai prestasi tak ada yang perlu dibanggakan diri sendiri dan dibanggakan oleh orang lain, apalagi dibanggakan Kampus. Sepertinya tidak perlu karena masih belum pernah melakukan apa-apa, pernah melakukan sesuatu seandainya itu bisa diterima di PIMNAS, yaitu Pekan Karya Mahasiswa (PKM) yang meliputi karya ilmiah, jika memang diterima patut kita banggakan. Namu jawabku padanya, pernah mengikuti namun itu karena tuntutan Beasiswa. Dan maafku padanya tersampaikan bahwa jika ada informasi berlebihan menganai diri saya, segera dihapus, ini akan saya informasikan dengan apa yang lakukan sebagai proses. Ketika pertanyaan terus dipertanyakan oleh Wakil Dekan (WD lll) Tiga namanya Hamidin. Bahwa dalam proses memang dilakukan selama kuliah, hanya bagian dari sepanjang jalan kuliah. Ketika Bapak WD III itu menanyakan judul buku yang pernah ditulis, sekilas menjawab dengan cara lain bukan judul buku disebutkan, tapi proses penerbitan. Berbunyi: 'mohon maaf Pak bukan ingin menggurui yang harus diketahui dari proses saya, memang bentul menulis buku, namun bagi semua Mahasiswa (i) semua bisa dilakukan, hanya tidak ada kesempatan saja. Karena dalam penerbitan ada 2 katigori 1. Penerbit indie, 2. Penerbit mayor, kedua tersebut memiliki perbedaan yang signifikan. Kalau buku yang saya terbitkan masuk pada ketigori terbitkan indie. Di toko buku tidak akan ditemukan, namun secara legalitas diakui, dan buku tersebut berjudul 'Gerilya' Kumpulan puisi. Dan ada buku selain itu namun belum diterbitkan karena buku tersebut masih belum pantas, tujuannya dijadikan buku untuk menyimpanan ide saja Pak, ada empat judul Cerpen, Puisi, dan Kumpulan opini. Yang kini masih dalam tahap penerbitan judulnya 'Idealisme Tanpa Batas' pengantar sudah dari Pak Rektor Unisma. Hanya itu yang bisa diberikan informasi mengenai saya Pak, tidak ada yang pantas untuk dibanggakan, semua hanya sebagai proses.

Pertanyaan itu datang lagi, 'Apa kamu membuka gerakan Literasi di Kampus?'. Kalau itu memang benar kami lakukan sejak Januari akhir hingga Sekarang. Gerakan Literasi ini dilakukan sebagai bentuk memperkenalkan dunia baca yang menjadi alternatif ketika Mahasiswa malas ke Perpustakaan pusat, dan bisa dikatakan ini bentuk wadah baca Mahasiswa (i) duduk santai sambil Membaca. Gerilya Literasi dilaksanakan setiap hari Selasa di Gasebo gedung FKIP-Unisma. Kegiatan literasi ini bisa dikatakan sudah efektif karena setiap melakukan lapak baca selalu ada transaksi peminjaman buku, kurang lebih 5-9 judul buku dipinjam oleh Mahasiswa (i). Dan kadang kalau saya diminta untuk dijadikan pembicara dibutuhkan diundang sebagai pembicara. Salah satu kegiatan yang dilakukan pada 2018 menjadi pembicara di Universitas Brawijaya (UB-Malang), Fakultas Kedokteran, dengan teman 'Literasi Sebagai Kesehatan Psikologis', di UKMP-UM bicara tentang 'Biografi Habibie, dan di UMM-Malang bicara tentang 'Sejarah Pers Indonesia' dan di Kampus Al-Qolam. Itu semua merupakan salah dua dari proses dilakukan, bukan karena bisa atau ada pengalaman melainkan sebuah diskusi tukar tepat kepada berbagi mereka.  Mungkin itu saja informasinya jika ada yang berlebihan itu tidak benar Pak. Ucapku dalam pesannya.

Pukul 14:00 Wib, datanglah undangan dikirim. Namun saya mempertanyakan kembali tentang undangan, dengan bahasa 'apakah tidak salah undangan diberikan ke saya, saya wisuda masih tahun depan?' ucapku melalui pesan WA. Balasanya 'datang saja cong itu khusus Mahasiswa yang memiliki inovasi' balsdnya dari wakil dekat III itu. 'Enggeh pak jika itu maksud bapak, semoga amanah dan bisa lebih baik lagi dan tidak sombong'. Ucapku dalam balas pesannya.

***

Diundangan tertulis pukul 18:30 sudah di tempat wisuda. Dalam benak bertanya-tanya apa yang akan diberikan dan apa yang akan disampaikan, pertanyaan itu didalam tidur dipertanyakan. Asumsi mungkin akan ada sedikit dan akan menjadi pembicara pada saat resepsi pelepasan wisuda 2018/2019 dan isi wisuda tersebut lebih banyak satu angkatan masuk kuliah, dan saya probadi belum lulus. Tidak ada yang dapat dipersiapkan kalau tidak hanya ingin membagi pengalaman kepada mereka tentang proses, dan kelulusan ini tidak menjadi final studi kita, melainkan ini awal dari studi kita yang sebenarnya. Karena akan lebih banyak bersentuhan dengan masyarakat, itu dibenak saya jika memang ada yang harus disampaikan.

Dan ketika sudah berada di tempat. Pertanyaan yang dilontarkan kepada teman-teman satu angkatan aneh-aneh, mulai dari ada apa datang ke acara Ini, ada yang ngejek ingin makan dan mau liputan, karena latar belakang aktivis di lembaga pers Mahasiswa. Semua pertanyaan ditampung dikumpulkan jadi satu kalau saya datang karena disuruh nyuci kotoran piring dsb. Hal itu disampaikan kepada setiap yang bertanya, sempat ketika ditanya oleh panitia di depan pintu tidak boleh masuk ke dalam lantaran undangan berbeda dan tidak ada, hanya menjawab kami disuruh WD III ke sini. Lalu kamu disuruh masuk.

Datanglah ke acara yang telah dilaksanskan, oleh pihak penitia wisuda. Ketika disebut nama untuk naik ke atas panggung dengan predikat Mahasiswa berprestasi, ketika berada di atas, teringat dengan tulisan Nietzsche yang mengiang-ngiang pada bulan itu pada saat baca 'The Outsider' dikutip oleh pemenang penghargaan dikutip ketika  Albert Camus pada saat berpidato dalam penerimaan pemghargaan nobel sastra dalam the outsider "Bukan hakim tapi pencipta akan menerintah, apakah dia seorang pekerja atau intelektual." hal itu menjadi pertanyaan besar, tanggungjawab besar pula. Apa yang bisa dilakukan dengan beban penghargaan.

Bersama dengan teman bernama Febi Akbar Rizky Mahasiswa Bahasa Inggris sementara saya Bahasa Indonesia. Teman selaku diskusi tentang tulisan dan dunia Literasi serta isu sosial yanh terjadi. Yang kadang selesai di tempat dan di luar tempat ketika belum selesai. Seorang santri yang selalu ingin berbagi. Dia pandai beretorika dan giat ingin menjadi penulis besar pula, sehingga buku pertama yang saya edit dan diterbitkan oleh perbit indie. Dan situ kita bercanda di tas panggung, dan berkata 'kita belum lulus, apa yang bisa dilakukan kita nanti atas beban baru kita ini' semua itu seperti mampi berdada di atas tapi tidak lulus padahal di bawah ada teman satu angkatan kuliah. Sudah lulus sedangkan kita masih saja dalam kondisi belum apa-apa.

Dan berharap bisa lebih baik dari sebelumnya.

Akhmad Mustaqim 2019
Penghargaan Mahasiswa berprestasi kepada saya dan teman.