Sabtu, 09 Oktober 2021

CATATAN DAN PEMBACAAN

 PERTEMUAN MEDAN MEMBACA SABTU 09, OKT 2021

Buku yang dibincangkan, pengambilan foto: Cak Pendek 


Moderator: Enda (Amo)

Pembukaan yang sederhana. Kurang lebih rangkuman selain berdoa masing-masing. Kita berkumpul bertujuan, pertemuan ini jadi awal baik untuk kita semua, berharap awal baik jadi titik akhir baik. 


Buku: LOLITA karya Vladmir Nabokov 
Pengulas: Mbak Fafa 

Seorang kawan perempuan memulai presentasi buku yang dibaca. Setelah dibuka oleh moderator. Secara bergilir ke arah kiri, kita membuka dengan "bismillah". Lalu memulainya. 


Mula-mula dibuka, dengan presentasi novel LOLITA karya Vladimir Nabokov, karya terjemahan. Novel fiksi jenis novel itu, berksah tentang seorang pidovil. Unik dan tak menyangkanya, pidofil tersebut seorang profesor. Kisah tersebut memiliki plot mundur awal mula pembukaannya. 

Namanya Hamburg, ia seorang profesor. Secara pribadi ia itu suka dengan tokoh anak bernama Lolita. Sebagaimana mestinya orang suka (punya hasrat) akan selalu punya cara untuk mendekati. Bagaimana bisa dekat dan bisa berkomunikasi dengannya. Itulah narasi umum di dunia realitas. 

Pada saat remaja Lolita merasa sudah suka dengan Hamburg, karena sudah keterbiasaan dilakukan seorang yang suka. Dan ia pun, dapat dikatakan suka dengan seorang ayahnya sendiri, nantinya. Lantaran punya hasrat yang memang menjadi manusia normal. Sehingga seorang Hamburg menyukai anak sendiri. 

Keberhasilan Hamburg itu, ketika ia menikahi ibu dari Lolita dengan niat mendekati anaknya. Mungkin perilaku licik tersebut seperti di film Indosiar televisi di Indonesia, yang berkisah seorang, kalau tidak ibunya yang jahat, ibunya. Pengisahan tersebut sering kita tebak. Namun berbeda dengan  kisah tersebut, kalau kita bisa mempelajari secara cermat. Bahwa kehidupan profesor yang dibentuk oleh letak geografis. Bahkan sudah sejak kecil, ia sudah jadi korban pelecehan seksual. Latar belakang tersebut menjadi referensi kuat: asumsi ke Hamburg. 

Suatu ketika itu, ibu Lolita curiga dan khawatir ke anaknya atas sikap ayahnya. Seorang ibu yang membawa Lolita ke tempat Camp untuk mengamankan atau agar lebih fokus pada saat pergi keluar kota. Terbesit khawatir dengan suaminya yang melakukan hal tidak diharapkan oleh ibunya. Khawatiran itu kuat, nama ibu Lolita, bernama Hans. 

Profesor yang memang punya kesukaan terhadap anak kecil. Sejak kecil Lolita disukai. Usaha untuk dapat berhubungan intim melakukan usaha-usaha kotor. Langkah paling bejat yaitu menikahi ibunya dulu, lalu melakukan hal bejat ke anak tirinya. Menikahlah mereka. 

Saat Lolita remaja,  sudah jelas ia sebagai anak remaja yang memiliki hormon tinggi, itu dimanfaatkan oleh Hamburg. Saat remaja yang sangat kadang butuh dengan hubungan intim, suatu ketika ada kesempatan seorang ayah yang bejat, itu. 

Hamburg melakukan sesuatu yang bejat itu, saat sudah melakukan pembunuhan ke ibu Lolita. Ia menjadi profesor yang sangat licik pada saat itu. Karena pembunuhan dilakukan  dengan motif yang tidak dapat dicurigai orang. Dikabari meninggal lantaran penyakit jantung. Selama bertahun-tahun mereka berhubungan intim layaknya suami istri. Meskipun awal mula Lolita melakukan penolakan. Akan tetapi, lama-kelamaan melakukan karena sama-sama suka karena saling membutuhkan. 


Buku; Kebudayaan Budaya Pasca 1965 karya Wijaya Herlambang 
Pengulas: Cak Pendek 

Buku tersebut mengungkap tragedi kebudayaan 65 yang sangat kelam. Bahkan, dapat dikatakan tidak ada dalam sejarah di luar negara Indonesia. Kecuali budaya punya pengaruh dalam membuat masyarakat sadar. Atau Wijaya Herlambang di dalam pengantar buku mengatakan "Ideologi kelas negara yang dominan." 

Awal mula buku tersebut membuka dengan pintu sejarah kelam Indonesia, yaitu tragedi 65 yanv disinyalir kalau sudah ada kaitannya dengan perencanaan pihak CIA Amerika. Ditandai dengan awal mula dilakukannya, konferensi agen CIA bernama CCF di Berlin di tahun 1950, disebut dengan Association Cultural Freedom. 

Di 1966 itu, menyambung dengan sastrawan sekaligus wartawan Mochtar Lubis yang melakukan afiliasi untuk kepentingan kebudayaan. Misi CCF untuk melepaskan paham atau menghapus ideologi komunis di Indonesia khususnya. Jalur itu, dapat dikatakan kalau peran kebudayaan begitu kuat. 

Ia adalah Kans, yang bekerja sama dengan kebudayaan di Indonesia bernama Manikebu. Tokoh di dalamnya yaitu Gunawan Muhammad, ditandai awal mula ia menerjemahkan buku Albert Camus. Agar budaya baca orang Indonesia beralih ke arah-arah memikirkan tentang hidup, tidak lagi mengingat tragedi 65 dan korban para partisipan PKI saat itu. Hal itu dilakukan lantaran mendapat banyak uang dari CCF. 

Adapun Mochtar Lubis menganggap, bahwa perkembangan 65 itu, sebagai awal mula modernisasi. Sudah jangan berbicara apa yang sudah terjadi perlu menatap ke depan masa depan Indonesia. Banyak di buku-buku terbitan masa itu, penerbit Yayasan Obor menerbitkan buku fokus menerbitkan karya yang moralitas. Menerbitkan karya-karya yang punya substansi buku berisi tentang kisah yang relevan dan umum, dan tujuan untuk menutup kisah-kisah yang merugikan korban 65. 

Setelah 65 itu, Manikebu dengan pasa intelektualnya, menuliskan karya-karya sastra berupa kepentingan untuk kemanusiaan. Tanpa memikirkan apa yang terjadi di masa lalu, sudah waktunya menatap ke depan tentang Indonesia lebih baik. Kurang lebih narasinya begitu dikembangkan dalam semangat sastra tolong Manikebu. 

Kasus terbesar dalam budaya Indonesia yaitu ketika mendapatkan modal besar dari filantropi dari USA. Campur aduk budaya dan politik bersamaan. Dalang tersebut ada pada pembentukan awal mula yang paling menonjol yaitu, pembuatannya Utan Kayu dan Salihara. Tanpa ragu Wijaya Herlambang mengatakan kalau keduanya merupakan komunitas "Salihara sampah" 

Gunawan Muhammad dengan kawan-kawan di masa itu, dapat besar dana. Berdirinya Utan Kayu dan Salihara. Yang akhir ini masih ada terus berkembang transformasi. Lepas atau tidak sampai akhir ini masih eksis tentu dengan haluan ideologi masih buram. 

Kekerasan kebudayaan Herlambang Wijaya mengatakan kalau "Salihara Sampah" saat itu, ada juga kejadian ganjal. Hanya ada  di Indoensia terjadi film dijadikan novel. Umumnya itu karya sastra novel jadi film. Begitu tidak begitu mengasyikkan didengar di telinga. Bahwa tujuan tersebut sangat diambang kepentingan sangat besar untuk pengaburan sejarah. 

Adapun karya sastra yang menjadi tandingan karya-karya yang diterbitkannya Obor, yang karya sastra yang berisi kewajaran korban PKI. Lahir novel "September" kontra terhadap Manikebu yang menulis dengan pola-pola pemakluman terhadap korban pembantaian PKI. Novel tersebut sangat menolak karya yang ditulis orang-orang Manikebu. 

Disampaikan kalau Gunawan Muhammad, sosok paling berpengaruh di Indonesia dibidang kebudayaan. Khusus dalam polemik kebudayaan. Bahkan di luar negeri Gunawan Muhammad sangat dikenal. Dibuktikan pada saat pelantikan presiden Obama, diundang. Salah satu sastrawan diundang di acara pelantikan hanya, dia. 

Negara semakin memberi batas terhadap masyarakat. Pada tahun 1994 Tempo dibredel. Setelah itu mendirikan AJI. Bahkan disinyalir kontra terhadap pemerintah. Secara prinsip ia seorang pandangan liberal. Gunawan Muhammad juga dekat dengan filantropi di luar negeri. Arah Gunawan Muhammad sudah tidak lagi jelas, awal mula pro pemerintah, setelah itu kontra. Bahkan sudah mendukung kelompok kiri. Ada narasi enak didengar tapi lebih klise, bahwa sikap tersebut dapat dikatakan: penebusan dosa di masa lalu. 

Kesimpulan buku sejarah tersebut sebuah upaya membuka tabir kekerasan budaya pasca 1965. Dalam hal tersebut, sebuah balas dendam pemerintah di setiap zaman yang berperan di bidang kebudayaan seperti; Lekra dan Manikebu. Masa Soekarno Orde lama Lekra berjaya, Manikebu menderita, lantaran banyak dari partisipan mengalami ketidakadilan (dipenjara, karyanya di bredel dll.) Begitupun sebaliknya masa Soeharto di Orde Baru, dialami oleh Lekra. Begitulah. 


Buku: Breaking The Spell penulis Daniel C Dennett 
Agama sebagai fenomena alam 
Penulas: Mas Kukuh 

Agama tidak menjadi ranah penelitian. Mengapa tidak diadakan penelitian akan hal agama. 

Buku tersebut ditulis seorang tokoh atheis--yang begitu menyuarakan dan memberikan pandang orang beragama itu dapat dibuktikan secara sains, dan dapat dinalar secara logi. 

Buku tersebut dibuka dengan sejarah awal munculnya agama, atau dikenal dengan porto agama yang hingga sekarang masih eksis sebagai percayaan. Kepercayaan kepada kepercayan. 

Adagium Dennett, orang yang beragama sangat sedikit percaya tuhan, dibuktikan ketika ada orang meninggal dan orang itu menangis, padahal makhluk yang kembali kepada Tuhannya. Tapi mengapa orang sedih. Padahal harus senang, sebab manusia dari Tuhan kembali ke Allah. 

Tawaran penulis buku tersebut. Bahwa agama itu perlu diteliti. Mulai dari doa dibuktikan secara Saintifik atau ilmiah. Inilah yang menjadi narasi kuata penulis. Bahwa kepercayaan yang percaya pada kepercayaan. Dan inilah dari agama manapun tidak ada orang yang meneliti agama. 

Pada sub-bab dua, bahasa "Sains dan Agama," kalau agama semestinya diteliti secara sains. Bahwa agama perlu dibuktikan secara sains. Steven J. Code. Diambil dari kutipan buku tersebut. Ia tokoh yang sebelumnya menjadi atheis. 

Agama rakyat (porto agama) munculnya dengan kebiasaan masyarakat yang menjadi keyakinan kuat. Secara prototype bahwa agama adalah narasi atau masyarakat punya kelebihan bahasa. Sehingga dengan bahasa itu agama menjadi sebuah kekuatan melekat dalam diri. Sehingga dari dulu hingga sekarang hanya bahasa itu menjadi kelebihan manusia, khususnya dalam mempercayai agama. 

Pada sub-bab tiga, yaitu "Evolusi Agama," Efek dan lahirnya agama. Bahwa praktik dan keyakinan sudah ada dari zaman dulu. Dengan bahasa manusia bisa menarasikan agama. Untuk membuat satu pandangan ternyata pada agama. Sehingga kompleks. Sehingga jadi eksis hingga kini. 

Agama, yang punya hanya manusia karena manusia yang memiliki bahasa. Agama dapat berfungsi perdamaian. Penciptaan sebagai kelompok. Karena bahasa itu manusia bisa menyalurkan idenya, bahkan dijadikan alat paling efektif untuk manusia percaya kepada Tuhan. 

Agama sebagai usaha pengetahuan. Agama sebagai pilihan seorang.  Teori Richard Dawkin, sel yang ada didalam diri yaitu hasrat menjadi hidup abadi. Sel ingin hidup abadi. Mim: pikiran seperti pikiran yang ada di dalam diri manusia. Sehingga mim, menjadi tawaran kepada manusia untuk tetap bertahan secara berevolusi hingga sekarang: selalu ada regenerasi. 

Pada sub-ampat "Manusia dan Moral." Mengutip dari injil, bahwa agama memberikan narasi kepada orang yang selalu baik. Kutipan Richard Dawkin, bahwa nun jauh di sana yang abadi. Bahwa agama tidak suci saja melainkan juga hal buruk. Jadi, agama bukan hanya dijadikan hal baik saja, ada pula dalam perspektif lain buruk. Tidak saklek bahwa kebenarannya. 

Kebenaran agama akan bertolak belakang dengan kebenaran yang berlaku di budaya. Contoh kalau dalam Agama Islam orang mencuri perlu dipotong tangan. Tapi, tidak berlaku di Indonesia yang punya budaya berbeda. Kalau itu diterapkan tidak cocok, karena budaya sangat beragam. Pengakuan tentang apa yang dilakukan  oleh manusia memilih dengan spirit: humanis, demokrasi, dan liberal. 

Bahwa kejadian fenomena alam agama. Sehingga agama ada dibuktikan dengan sains. Orang baik tidak dari agama, agama tidak hanya melahirkan orang baik. Begitulah dasar seorang Dennett. 

Dalam diri manusia ada Altruis, diartikan suatu hal yang mempunyai semangat secara natural dalam diri manusia. Sikap empati sudah melekat dalam diri ini secara natural. Makhluk yang punya altruisme akan bertahan lama di bumi. Contoh adalah spesies manusia yang hingga kini masih eksis. Paling lama di bumi daripada spesies makhluk lain.

Kamis, 30 September 2021

SEPTEMBER DAN HAL-HAL LAIN

September bulan yang mungkin para aktivis yang belum merasakan kehidupan realistis akan merasakan hidup gelap di negeri ini. Semua teman-teman yang punya semangat akan perjuangan mengingat sejarah gelap, merasakan kehilangan. Sehingga bulan september ini jadi momen mengesankan untuk direfleksikan. 


Membaca sejarah sama halnya mengingat tahun-tahun kejadian hidup seorang di masa lalu. 30, September selalu dikaitkan dengan hari kesaktian Pancasila, sebagaimana mestinya masyarakat Indonesia dianjurkan untuk menaikkan bendera setengah tiang. Pada tanggal 1 Oktober dinaikkan  secara sempurna. Sehingga masyarakat akan mengetahui hari kesaktian Pancasila. 


Dari sisi lain para aktivis akan mengingat dari sisi gelap bulan di bulan September, Mulai dari tragedi pembantaian 1965-1966, tragedi Tanjung Priok 1984, tragedi Semanggi II 1999, Pembunuhan Munir 2004, hingga brutalitas aparat dalam aksi Reformasi Dikorupsi yang baru saja terjadi 2019 lalu. Peristiwa yang terjadi di Bulan September tersebut kemudian oleh Kontras disebut sebagai September Hitam. 


Dari sisi lain secara subjektif tidak ada yang mengesankan di bulan September 2021 ini. Semua seperti sebuah kehidupan tanpa perubahan signifikan bagi saya. Sebab kehidupan yang begitu rentan dan banyak jadi tanggung jawab: belum terjawab secara jelas. Semua target masih berserakan tanpa kejelasan, kapan segera selesai. Sepertinya, tak perlu mencapai semua untuk selesai mustahil, minimal kehidupan lebih tenang. Itulah cita-cita sederhana diri kita setiap bulannya. 


Namun, hidup bukan tentang diri sendiri saja, tapi kehidupan perlu memberi kontribusi ke kehidupan orang lain, berbicara tentang manfaat dan cinta pada semua, tanpa membenci. Mungkin itulah bagian perjalan hidup seorang yang tidak hanya tentang manfaat dan cinta, tapi tentang kenyamanan dan ketenangan yang dapat diciptakan dan dirasakan bersama-sama, kecuali diselimuti rasa benci. 


September di akhir bulan ini telah banyak dilakukan oleh saya. Mengenai proses selama sebulan melatih konsistensi hidup. Mulai dari menulis membaca serta mencari solusi hidup; baik yang sekiranya berbiak. Hal ini tentu menjadi jalan hidup paling ideal secara subjektif, menikmati tanpa ada yang dibenci. 


Dilema yang dirasa sangat sempurna, sebab masih saja penuh banyak tanya. Bagaimana manajemen serta mengatur hidup untuk bekerja ini. Sebenarnya hidup ini perlu mengukur kebutuhan  dan keinginan diri, ini. Di antara yang berfungsi pada diri perlu diperjuangkan dan ini masih mengambang serta mencari jalan paling baik versi sendiri. 


Catatan setiap hari hanya beberapa hal saja dapat dilakukan.  Ada yang maksimal, tapi juga tidak. Hal tersebut selalu berulang-ulang terjadi dan diri sendiri selalu mencari sumber menemukan solusi, di sebelah mana ini benang merah: pencapaian diri. 


Adapun selalu ada cara serta pencarian dari proses belajar, dan selalu meniti point-point hidup paling pantas diperjuangkan serta dikorbankan. Tentang waktu yang sia-sia berjalan tanpa punya nilai paling bernilai bagi orang lain. Hanya sekedar kalau perjalanan hanya punya pengalaman bukan keuntungan yang dapat dinikmati oleh jalan panjang. 


Namun, saat berjalan tidak semua langkah ini dikaitkan dengan hubungan orang lain. Boleh saja mengambil inspirasi, tapi tidak perlu merasa iri. Karena kurang lebih dari mereka dan kita punya porsi berbeda-beda, yang perlu dibangun dalam diri kita yaitu logika syukur serta logika pikir--yang pantas tolok ukur kita--bahwa semua orang punya kehidupan berbeda-beda, dan itu seperti memiliki kelas, sendiri-sendiri. Dan sebagai orang yang paham mengukur ujian setiap masing-masing manusia. Mungkin. 


Selamat datang Oktober 2021.


Rabu, 29 September 2021

PEREMPUAN DAN CITA-CITA

 

"Perempuan yang kuat dengan cita-cita dan mempertahankan  apa yang dijaga, jadi sosok mulia: menjaga apa yang perlu dijaga" 

Saya tertarik mereview film Nurbaya ini dari pandangan perempuan yang begitu kental dengan nilai-nilai patriarki. Nurbaya khususnya. Perempuan yang punya semangat cita-cita luar biasa, tapi hanya jadi perempuan bercita-cita: tidak biasa. 

Jika ditarik benang merah dari itu, yang begitu pekat mempertahankan untuk terus menulis dan bercita-cita akan kebebasan dari konstruksi sosial-perempuan tetap menjadi sosok lemah, ketimbang pria. Perempuan yang ingin selalu punya semangat dalam membela hak diri dan pendidikan. Dan semangat ingin berkontribusi di kehidupan intelektual, seperti dilakukan oleh RA. Kartini. 

Mengambil potret, jawaban Nurbaya ketika ditanya oleh orang perihal pernikahan. Persis seperti apa yang biasa dilakukan saya di masyarakat; sambil tersenyum dengan bahasa tubuh yang lain, selalu begitu. Paling relevan yaitu ketika ditanya tidak terlalu panjang menjawab. Karena, ia meyakini kalau akan dijawab akan  terus punya pandangan berbeda. Dan terus berdebat tanpa menemukan solusi. 

Hal tersebut, mengajarkan kita pada satu personal. Yang tidak dipungkiri urusan kedua hal, perempuan menikah dan punya cita-cita. Begitulah selalu ada narasi yang membangun citra perempuan dari masa ke masa, berlaku dan selalu ada di masyarakat. 

Namun, pada abad 21 ini, hanya dapat dihitung jari memandang hal tersebut di masyarakat. Walaupun pandangan ini sangat sempit--dan seperti menghakimi perspektif ini. Akan tetapi, menjadi pandangan langka seorang perempuan membaca dan menulis terus memberikan kontribusi pada kehidupan manusia. 

Film ini, memberi refleksi pada satu hal paling relevan kalau ada satu perempuan mempertahankan apa yang dicita-citakan. Dan itu melawan konstruksi sosial. Maka akan ada hal yang perlu dikorbankan, yaitu perasaan kepada pasangannya. Namun, suatu ketika nanti akan tetap bertahankah kondisi tersebut; keadaan, kebutuhan, dan lingkungan, yang membentuk. 

Adapun, pada momen si Samsul memberikan kabar ke Nurbaya. Kalau Dia mendapat beasiswa ke Belanda, yang dibangun dan punya pandangan yang sama--punya cita-cita mulia. Saat kabar disampaikan ke Nurbaya, disitu terlihat sikap perempuan berpengetahuan dan selalu berpikir positif dan hidup. Terlihat kalau bukan perempuan yang-menye-menye- dalam bahasa gaul sekarang. Dia malah memberikan dukungan yang kuat. Begitulah pengetahuan bekerja dalam diri selalu optimis dan mampu menerima serta tidak ada tendensi dari setiap kejadian. Apalagi yang masih belum terjadi: terus melangkah. 

Saya belum lihat yang lain, jadi belum bisa komentar. Kalau ada, nanti akan dicoba resensi film tersebut. Sebab cerita masih penuh tanda tanya: nanti kisah selanjutnya. Mungkin.


Selasa, 28 September 2021

HIDALGO DAN IBNU HAJAR

  "Kisah-kisah yang belum selesai dan motivasi belajar 'mengingat kisah dulu' perlu terus dipompa agarmenimbang-nimbang--kedepan terus berjuang." 

Kisah perjalanan kuliahku, yang begini-begini saja, pinter tidak, saya teringat dengan kisah pada saat masa sekolah madrasah beberapa tahun lalu, tepatnya di desa kecil saya. Tidak kenal buku-buku yang katanya bagus atau tidak. Saya Pernah menemukan kisah dari seorang tokoh Hidalgo dalam kisah salah satu tokoh novel Don Quijote dari La Mancha (1) karya Miguel D Cervantes. Tokoh tersebut memiliki kekeringan otak tanpa harus seperti apa harus melangkah akan memandang hidup dengan dasar apa bisa menemukan hidup ideal. 

Dengan itu, teringat dengan kisah seorang Ibnu Hajar waktu sekolah madrasah dulu diceritakan kisah tersebut. Ibnu Hajar salah seorang santri semasa di pesantren tidak bisa apa-apa (tolot, bodoh, gedeng, nolspot) kompleks pokoknya akan hal itu, jangankan baca kitab atau baca Al-Quran sama halnya santri lainnya, tidak tahu (tidak bisa membaca dll). 

Adapun suatu waktu putus asa hingga pada suatu masa ia harus merasa paling tidak bisa, lalu memutuskan untuk pulang (kabur dari pesantren tanpa sepengetahuan) Di tengah perjalanan tersebut Ibnu Hajar dikejutkan dengan temuan aneh tapi nyata. Ketika melihat batu keras diteteskan air dari sisa air hujan hingga bolong saking terus-menerusnya batu itu bolong, (dalam versi cerita lain hancur batu tersebut). Ketika itu, si Ibnu tersebut mendapatkan hidayah dan mulai tafakkaru (berpikir sejenak), kalau semua kejadian tersebut bukan semerta merta hanya tiba-tiba atau dengan tidak sengaja (berpikir akan kejadian air yang membuat batu itu hancur atau berlobang). Semua harus dilakukan dengan kerja keras, sehingga hemat saya berasumsi kalau untuk menjadi berkualitas manusia harus keras dalam melakukan sesuatu. 

Ibnu Hajar mengurungkan niat untuk pulang lalu kembali ke pesantren di mana ia harus belajar kembali dengan serius (sungguh-sungguh, lalu ia memang berhasil dalam kisah singkatnya, ia bahkan bisa membaca kitab dengan kondisi kitab terbalik. Saking pahamnya dan alim. Otak kering akan seperti apa yang telah Tuhan berikan pada manusia. Apa yang telah dianugerahkan seperti tong kosong harus mengisi tong itu dengan air. Begitupun, untuk mengisi tong tersebut harus memilihnya airnya. 

Dari kisah di atas dapat bisa mengambil pelajaran berkelas. Dari kedua tokoh yang punya semangat sama dalam hidup mereka. Bagaimana kita menjadi makhluk hidup yang semestinya terus berproses belajar sepanjang masa sambil menikmatinya. 

Selaras dengan narasi kuat di lingkungan pendidikan hari ini--belajar seumur hidup--terus disuarakan. Harapan tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa hidup perlu menentukan pelajaran yang dapat dipelajari dan mampu dilalui: baik atau buruk ditentukan oleh diri sendiri mengambil keputusan. 

Adapun sosok yang terus belajar akan punya nilai paling dalam--untuk hal kehidupan yang tidak krusial. Bagaimana mungkin seorang bisa membaca dan mengenal diri kalau sibuk dengan di luar diri. Langkah-langkah sulit seorang untuk membuka peluang akan jadi manusia utuh, tumbuh bersama sesuai harapannya. Menatap sambil meratap minta pengunjuk jalan paling tepat serta baik. Seorang bisa karena terbiasa atau sekedar menata setiap keinginannya. Dan dengan logika serta rasa ingin belajar tersebut dapat menuntut hasil. Mungkin.



Senin, 27 September 2021

PESANTREN, SEMINARI DAN SASTRA

 

Beberapa hari lalu di akun facebook ramai membahas sastra pesantren. Keramaian di laman terus membuatku berpikir walaupun tidak tahu dan tidak bisa ngapain-ngapain. Pertanyaannya "sastra pesantren itu ada apa tidak?" Kok, para golongan tua akhir-akhir ini membahas itu, saling sahut menyahut melalui tulisan pendek maupun panjang. Mereka selalu meramaikan dan membuat hati berpikir. Andai berirama enak akan baik di telinga, sangat asik serta membuat tenang. 

Sebagai ihwal awam dan baru kemarin sore tahu sastra, yang terseok-seok masih berusaha memahami relung-relung untuk mendalami. Dengan membaca, diskusi, atau mendengar berita di media sosial, di spotify, dan youtube. Dari para pegiat yang dianggap sudah di luar kepala mengenai dunia sastra. Bahkan yang masih saja amatiran menjelaskan, didengarkan. Namun, tidak semua yang didengar direkam lalu disimpan dalam ingatan. Ternyata mereka berbicara ada yang layaknya manusia bisa, perlu disaring sebelum dapat share. 

Dalam hal ini, penulis tidak ingin memberikan pandangan yang benar-benar benar, atau membenarkan. Tapi, ini sebagai usaha spesifik sastra pesantren seperti apa yang menjadi fokus pembahasan. Tentu, hal tersebut perlu diluruskan bila itu perlu agar tidak ada kesangsian bagi yang awam atau sudah berpengalaman. 

Pembahasan akan berfokus pada sebuah pandangan umum. Bahwa setiap karya sastra akan punya genre yang dibentuk oleh khalayak umum--yang disepakati. Kalaupun akan ada punya pandangan lain agar menyempurnakan yang telah ada (umum). Itu bagian dari proses kesusastraan. Siapa yang menemukan atau yang memulai akan jadi orang diperhitungkan oleh para penikmat sastra atau yang punya kebijakan mengakui karya, lalu disebut ia sebagai sastrawan. Ya, minimal sastrawan bagi dirinya sendiri yang berkarya tidak untuk dikenalkan dan dikenang, cukup di lingkungan bernilai: baik dan karyanya. 

Secara proses, sastra pesantren memiliki proses yang sama, atau sama dengan seorang non-pesantren menggarap atau membuat karya sastra dengan cara-cara umum, prosesnya. Dengan membaca, diskusi, banyak cari pengalaman, banyak ngopi, dan merenungi sesuatu di ruang sepi, itu sama saja. Yang jelas tidak hanya menjadi seorang suci yang tahu banyak hal, berada di menara gading.

Majalah Tempo 2013, dalam liputan khusus Sastra Religi berjudul "Pada Mulanya Kata". Liputan panjang tersebut menguraikan beberapa kehidupan sastrawan yang lahir dari pesantren. Namun, tidak hanya dari pesantren yang diangkat melainkan juga sastrawan yang lahir dari Seminari--yang mana, keduanya melakukan proses serta cara-cara 'nyaris' sama." "Pesantren dan Seminari tidak hanya melahirkan kyai dan pastor yang pandai berkhotbah serta bergiat mengurusi dakwah dan tanah misi. Dari sana, lahir pula sejumlah sastrawan yang memperkaya khazanah sastra Indonesia." 

Sastra pesantren dalam hemat penulis hanya wadah penampungan ilmu, sebagaimana sekolah tempat belajar banyak orang. Tidak punya nilai kalau penghuni sekolah tak mencerminkan manusia terdidik. Begitupun di Seminari. Bahwa sastra tetap sebagai alatnya, alat yang dapat menyampaikan sesuatu--dari gagasan, nilai, dan tujuan. Sastra sebagai lapis dari ketiganya. Hal ini dapat dipandang kalau isi dalam karya sastra sastra membawa semangat apa. Penulis yang ingin bawa semangat nilai agama, nilai budaya, HAM, sejarah, dan nilai-nilai lokal, atau sekadar membagi kisah tragis atau senang kehidupan orang lain atau diri sendiri dan banyak lagi. Setiap penulis akan membawa semangat berbeda-beda dalam berkarya, khususnya karya sastra. 

Adapun, tokoh-tokoh sastra yang pernah mencicipi atau menikmati dunia Pesantren dan Seminari. Bahkan sastrawan yang diperhitungkan di Indonesia, lahir dari lembaga pendidikan keagamaan. Dari Seminari ada, Jokpin, Romo Mangun, Remy Suka di, Mario F. Kawi, serta pastor Leo Kleden, SVD adalah sederet sastrawan dengan latar belakang yang sama. Dari Pesantren, mengenal Mustofa Bisri (Gus Mus), Zawawi Imron, dan Acep Zamzam Noor, beserta Abidah El Khalieqy dan Ahmad Fuadi dari generasi baru. Tempo (hal 51, 2013). 

Mereka, pada dasarnya manusia yang pada umumnya, sama. Memakan, meminum, serta berak. Namun, mereka punya semangat besar berkarya di bidang kesusastraan. Hingga pada akhirnya dapat diakui dalam karya atau secara kepribadiannya--yang bisa membawa semangat berbeda-beda--dan sastra seperti wadah netral tanpa tendensi. Atau tidak membuat chaos dengan saling membenarkan karya sastra. DAN sastra memang tidak memiliki agama, kecuali yang penulis karya sastra punya keyakinan.

Pada dasarnya esensi sastra dan bahasa tidak dapat dipisahkan. Sebab bahasa menjadi media sastra, sastra menjadi pembalut dari ide dan bahasa jadi alat pembeda (representasi) mencipta keindahan. Hal tersebut selalu jadi kelebihan karya sastra. Maka, bahasa dalam karya sastra selalu membuat manusia hidup seperti tak punya agama tapi punya Tuhan. Seperti seorang bocah yang iman kepada Pencipta alam, yang mendahului alam semesta ini, diyakininya. 

Manusia jenis tersebut termasuk manusia yang gandrung akan keindahan bukan perkelahian dan perpecahan. Mengupas puisi Soe Hok Gie (1961) "aku tak ingin berbicara tentang nilai dan cinta, melainkan tentang keindahan," kurang lebih demikian kutipannya. Interpretasi makna tersebut punya kekuatan nilai puncak dari hidup manusia dapat mencapai ma'rifat keindahan. 

Kalau dicermati manusia yang menggemari sastra yang lahir dari Pesantren dan Seminari, secara laku ataupun karya selalu bersentuhan dengan hati. Terkontaminasi pada ideologi atau agama yang digandrungi--yang diamati sebagai keyakinan akan membawa keselamatan. Makrifat indah dalam hidup Tuhan. Sastra sebagai jalan penyatuan bermula dsri kata. Mungkin. 


Minggu, 26 September 2021

MANUSIA

Seorang Narcissus yang tergila-gila dengan  dirinya sendiri. Jatuh cinta pada dirinya yang pada akhirnya ia dihukum karena kesombongan sendiri yang pada akhirnya terpeleset jatuh, lalu meninggal. 

Ada seorang yang sangat percaya diri dengan kemampuannya, pada akhirnya tidak percaya dengan orang lain. Terkadang. Ini seringkali kita temukan di dunia nyata bahkan dekat dari kehidupan. Sehingga hidup bersosial atau sekedar hidup tanpa memikirkan orang lain terjadi. 


Puisi berjudul "Kangen" karya WS Rendra. Pada bait pertama yang berbunyi "kau tak akan mengerti/bagaimana/ kesepianku /menghadapi kemerdekaan tanpa cinta." Kutipan tersebut memberi gambaran bahwa manusia tidak akan mampu hidup sendiri. Butuh cinta dengan makhluk lain, terutama Tuhan. Mungkin demikian interpretasi teks puisi tersebut. 


Sebuah objek manusia memaknai hidup dan kehidupan yang tidak dapat digerakkan oleh diri sendiri saja. Sebab makhluk dicipta secara hidup bersosial (zonpoliticum). Sehingga tidak ada yang bisa bertahan di muka bumi sendiri, apalagi tanpa cinta. 


Secara esensial hidup manusia butuh cinta. Sebab biologis manusia secara kodrati perlu itu. Begitulah hidup yang secara otomatis koneksi manusia punya kebutuhan akan hal tersebut pasa hasrat. Salah satu filsuf bernama Schopenhauer menjadi misoginis bukan karena tidak ingin dicintai, ia dikenal misoginis, bersikap demikian karena mengalami hidup tragis 'ditinggal pas sayang-sayangnya' oleh pasangannya. 


Pelajaran yang dapat diambil dari pelajaran seorang tokoh di atas bahwa pada dasarnya manusia dibenturkan dengan hasrat: kebutuhan. Kebutuhan yang melekat dalam diri dan menjadikan diri manusia mandiri secara pemikiran tapi tidak secara tindakan, sebab manusia secara tidak langsung karena diberikan hasrat kebutuhan, bukan lagi keinginan yang dapat dikatakan semata-mata. 


Kita akan mengenal di masyarakat umum seorang menjadi asing. Asing yang dapat dikatakan ini menjadi masyarakat tidak pasif atau keberadaannya dipertanyakan. Kondisi seperti ini menjadi persoalan sebab menjadi persoalan, walaupun hidup pilihan: mau jadi pribadi bersosial atau jadi pribadi individual. Jika dipandang secara psikologis tidak menjadi masalah makhluk (manusia seperti itu). 


Namun, hidup bukan tentang penyempurnaan; id, ego, dan superego. Psikis yang terpisah tapi berinteraksi. Konsep ini dirumuskan oleh Sigmund Freud. Bahwa manusia akan memiliki poros yang seimbang jika ketiganya dapat dikerjakan secara maksimal. Dan ini tidak keluar konteks kebutuhan esensial dan eksistensial manusia, di masyarakat: sosial maupun individual.


Jika memandang secara eksistensi manusia, dapat dikaitkan dengan buku berjudul Modern Times: Selected Non-Fiction penulis Jeans Paul Sartre 2002, dalam pembahasan mengenai hasrat, bahwa hasrat adalah kesadaran, karena hasrat hanya bisa eksis sebagai suatu kesadaran non posisional dari hasrat itu sendiri. Manusia eksis dibentuk dari dalam diri kesadaran--yang menjadikan keinginan. 


Dalam tataran sosial, manusia tidak dapat menjadi asing dari kehidupan. Sebab manusia satu akan butuh dengan yang lain. Namun perihal kebaikan yang ditawarkan kepada makhluk lain tentu berbeda-beda, jika kebaikan manusia satu bisa dengan bahagia senyuman. Tapi, berbeda dengan yang introvert hanya sibuk dengan manfaat bagian dirinya. Mungkin.

Sabtu, 25 September 2021

GELAS, MUSIK, DAN NILAI-NILAI ETIK


Orang akan selalu meratapi luka, bahkan sering merayakan luka dengan kesedihan berlebihan. Bersama atau sendiri selalu jadi momen selalu terbesit di ingatannya. Berbeda dengan kondisi rasa bahagia akan dirayakan sendiri, tanpa berbagi. Kecuali bahagia yang dititipi oleh orang lain, untuknya. 

Manusia selalu mengingat-ingat luka dan derita yang menimpa. Coba saja diperhatikan pada saat kaya dan sukses, selalu aja berkata "kamu hanya tahu kondisi sekarang, tapi tidak melihat masa lalu--yang penuh dengan luka-luka, dan kini beruntung." Perkataan tersebut menunjukkan kalau derita selalu diingat, melekat dalam ingatan bahkan dalam. 

Mengingat dengan lirik lagu, "aku yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu ditendang sekarang disayang, dulu ku tak diperhitungkan sekarang diperhatikan" lagu yang dibawakan oleh Tegar Septian 2013, pengamen yang famess sehingga jadi artis, dadakan. Lagu itu, yang aposteriori dirasa oleh pengamen bocah sekarang terkenal dan sudah tak kenal jalan-jalan pinggir jalan mengharap uang receh seribuan, atau uang dua ribuan, dikasih karena malu kalau tidak memberi lantaran sedang bersama pasangannya. 

Kesedihan juga dipotret oleh film "Ada Apa Dengan Cinta" yang dibintangi oleh Dian Sastrowardoyo (Cinta) dan Nicholas Saputra (Rangga). Film tersebut menampilkan kisah remaja yang dimabuk cinta, dimasa gejolak romance berapi-api. Latar film di Jakarta genre; masa SMA. 

Film yang alur cerita sangat membuat pelbagai masyarakat khusus anak muda merasa penasaran. Sebab sosok Rangga yang sangat cool dan suka baca, pendiam. Jadi, idola banyak orang di luar film maupun di dalam film. Sedangkan Cinta yang tipe orang Jakarta gaul--yang sebagai perempuan manis, cantik, dan kaya. Sehingga film tersebut menampilkan sosok bahagia, sedangkan harus merasakan kesedihan karena temannya bernama Alya broken home, Cinta sebagai orang yang peduli ikut merasakan penderitaannya. 

Suatu perjalan panjang, Cinta dan Rangga sudah tidak seperti kucing dan tikus. Mereka dekat bahkan sudah saling kenal dan akrab. Sehingga suatu ketika Rangga mengajak ke toko buku loakan di daerah JL. Kwitang, Jakarta, toko "Restu," disitu mereka bercanda sambil memilih-milih buku lawasan. Adegan film di sana waktu Cinta sebel dan harus pulang lebih dulu, Rangga tidak mengantarkan. Tapi, di sekolah mereka harus bertemu kembali seperti seorang biasa anak SMA. 

Suatu ketika, mereka pergi ke salah satu kafe yang ada live musiknya. Itu puncak kesedihan tergambar dari seorang perempuan. Saat puisi membacakan puisi. Di atas panggung, ia membacakan puisi kurang lebih potongan puisinya, "Ku lari ke hutan kemudian menyanyiku/Ku lari ke pantai kemudian teriakku/Sepi... sepi dan sendiri aku benci/Ingin bingar aku mau di pasar/Bosan aku dengan penat/Enyah saja kau pekat/Seperti berjelaga jika ku sendiri/Pecahkan saja gelasnya biar ramai/Biar mengaduh sampai gaduh/Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang ditembok keraton putih/Kenapa tidak kau goyangkan saja loncengnya biar terdera/Atau aku harus lari kehutan/Belok ke pantai?

Dalam film Rangga tersentak diam. Kesedihan menyelimuti. Mengapa setiap pencarian, pelarian, lalu membuat sebuah luka lebih besar lagi dengan tergambar dalam potongan bait puisi "pecahkan saja gelasnya biar ramai,"--bukti, bahwa kesedihan identik perlu dirayakan secara bersama. Apa mungkin kesedihan perempuan yang tidak mampu menahan sendiri butuh orang lain. Dan seperti itulah potret eksploitasi perempuan terjadi, identik sosok minye-minye. 

Miss Uun, mengatakan kalau lagu atau puisi yang ada kata "gelas" selalu identik dengan perempuan yang sedih, ini jadi kecenderungan perempuan sedih: terus. Padahal tidak demikian, tapi gelas selalu dekat dan jadi atribut luka. Pendapat ini disampaikan saat mengikuti diskusi Surawung ke-9, bersama Bandung Mawardi. 

Gelas, dikaji dari bentuk serta secara fungsi, bahwa gelas sebagai wadah kopi, teh, dan bahkan  air. Di zaman sekarang gelas tidak terlalu dipakai untuk kegiatan kenduri, tahlil, dan perkumpulan warga. Ternyata sudah berkurang. Karena adanya air mineral kemasan; berganti air. 

Pergeseran kebudayaan tersebut jadi sangat tidak baik. Karena secara tidak langsung tuan rumah lebih simpel menjamu tamu. Tapi, bisa saja mempermudah manusia bertamu atau hidup tidak perlu repot-repot. Namun, ada nilai yang kurang dalam kehidupan berdampingan kita. Rasa menghargai berkurang. Mungkin.